Suara jangkrik dan suhu yang panas di malam yang masih nampak cerah menemani mereka yang masih terdiam. Detik berikutnya mata Sakura membulat, perempuan itu tanpa sadar membuka mulutnya terkejut saat Gaara kembali bersuara.

"Ikutlah ke Suna denganku. Aku menjamin keamananmu."

Untuk sesaat, Sakura kehilangan kata-kata. Perempuan itu mengerutkan kening, terlihat ragu. "A-ano, kenapa kau...?"

Tangan kanan pangeran dari Suna itu kini berpindah ke atas kepala merah muda milik Sakura, menepuknya pelan, "Tak usah kau pikirkan, yang jelas, aku akan menunggu jawabanmu."

Lalu laki-laki bermarga Rei yang tadi menepuk kepalanya membalikkan badannya meninggalkan Haruno Sakura yang masih termangu di tempat.


.

.

.

Disclaimer: All of the characters and NARUTO itself are Masashi Kishimoto'sbut the story is purely mine.

Warning: AU, plot rush, many undeteccable typo(s), OoC, menyalahi aturan, etc. Jauh dari kata sempurna ;)

.

.

Watashi no Otto wa Dare desuka?

私の夫は誰ですか.

Who is My Husband?

.

.

.


Uchiha Sasuke memerhatikan ponsel touch yang sudah hampir tiga puluh jam menginap di Istana Kekaisaran. Well, hari ini ia akan bertemu dengan gadis itu. Ia akan bertemu dengannya, Haruno Sakura.

Lantas, bagaimana perkembangan dirinya? Untuk saat ini mereka masih memimpin. Pangeran itu masih belum bisa berbuat banyak tapi setidaknya untuk saat ini dia berhasil menjauhkan Haruno Sakura dari jangkauan istana.

Setidaknya ia masih bisa mempertahankan status istri sah milik Sakura. Memangnya kenapa juga dia harus mempertahankan ikatan mereka? Sasuke sendiri tak mengerti. Yang ia tahu, dia tidak mau ada satu pun orang yang menggantikan posisi gadis itu. Nyaman? Ya, sangat. Mungkin kira-kira beginilah saat ini perasaannya, nyaman. Benarkah itu, sekedar nyaman?

Ia tak tahu. Yang jelas ia hanya ingin menyimpan perempuan itu agar tetap berada di sisinya. Egois? Ya, mungkin.

Sasuke berjalan santai melewati lorong istana sambil sesekali membalas ojigi para dayang atau staff istana dengan sedikit anggukan.

Alisnya sedikit tertaut begitu pemandangan calon istri barunya menyambut Sasuke di depan pintu utama istana.

"Jangan menatapku begitu. Ini bukan keinginanku, Yang Mulia," ucapnya pelan. Dalam hati Temari mengutuk tatapan Uchiha Sasuke dengan beberapa sumpah serapah.

Salahkan keluarganya yang masih mengotot untuk menjodohkannya dengan laki-laki ini. Astaga, bahkan Sasuke adalah suami kouhai-nya. Lalu bagaimana dengan pacarnya? Bagaimana dengan nasibnya? Temari hanya bisa pasrah.

"Hn," jawab pangeran itu tak acuh sembari memasuki Toyota Century Royal hitam yang pintunya sudah dibukakan oleh seorang pengawal.

Temari menghela napas, "Ck," decihnya pelan lalu menyusul pangeran menyebalkan itu.

Dapat ditebak atmosfer dalam mobil yang gadis pirang kuncir empat itu tidak mengenakkan. Bahkan sesekali saja dapat Temari lihat sang supir mengamati mereka lewat kaca spion.

Gadis Sekolah Menengah Atas itu jenuh. Ia pun menarik penutup yang membatasi passenger seat dengan kursi tengah.

"Yang Mulia, kau bilang istrimu itu kouhai-ku, 'kan?" tanyanya memulai perbincangan. Masalahnya ia baru mengingat sesuatu. Lagipula ini momen yang tepat untuk mengatakannya.

Sasuke menoleh sekilas, ia hanya mengangkat sedikit alisnya yang membuat Temari ingin meninju mukanya. Untung saja dia pangeran, kalau bukan ...

"Biar terlihat polos, Sakura itu terkenal," ia memberi jeda sebentar, menelisik perubahan wajah papan milik Uchiha Sasuke.

"Maksudmu?"

Berhasil. Bahkan pemuda itu sampai melontarkan kata tanya.

"Di klub kyudo, dia banyak penggemar. Adikku pun sepertinya menaruh hati padanya. Maksudku tentu saja aku menyuruhmu untuk mempertahankan dia."

...

Jeda sejenak.

Jadi, apa ini deklarasi perang?

"Aku sedang melakukannya. Lagipula semua akan baik-baik saja kalau kau tak datang."


.

;;;;;

.


"Hei, Jidat, kau yakin akan baik-baik saja?"

Cengiran lima jari Sakura berikan sebagai bentuk responnya atas pertanyaan sahabatnya. "Tentu saja, aku tak mau sampai absen sekolah," jawab gadis itu. Kalau dia tidak sekolah bagaimana ia bisa bertemu dengan Sasuke?

Ino memutar kelereng matanya, "Yeah, terserah. Kita sudah di sekolah dan mustahil untukmu kembali ke rumahku," ia menggantungkan tas sekolahnya di sisi meja, "omong-omong ... bukankah akan lebih baik kalau kau menerima tawaran Gaara?"

Gadis itu menelan ludahnya, membasahi tenggorokannya yang terasa kering, "Benarkah begitu? Sejujurnya saja aku ingin tapi—"

"—Iya, Yang Mulia ke sini dengan Temari-senpai! Itu lho, yang dari negara tetangga."

Suara salah satu teman sekelasnya berhasil menghentikan ucapan Sakura. Dia saling melempar tatapan aneh bersirat jutaan makna dengan Ino.

"Ah, sudah kuduga kalau mereka akan bersama. Coba pikirkan, untuk apa Temari-senpai bersekolah di sini kalau bukan sudah direncanakan?"

Sakura hanya dapat menunduk dan duduk terdiam mendengarkan acara bergosip teman-temannya. Ia adalah seorang istri yang statusnya disembunyikan dari publik. Ia tak memiliki kuasa untuk berbuat apa-apa.

"Memang, ya, keluarga royal seperti mereka hanya akan menjalin hubungan dengan sesamanya. Apa yang bisa kita harapkan?"

Selanjutnya Sakura tidak lagi mendengarkan konversasi teman-temannya. Dia sibuk berkelana dalam dunia barunya. Ia menenggelamkan wajahnya di antara tangan yang dilipat.

Apa dia memang tak pantas untuk seorang Uchiha Sasuke?

Air matanya tumpah untuk ke sekian kalinya. Dadanya terasa sesak. Bahunya bergetar naik turun. Haruskah ia menyerah sekarang...? Atau menerima tawaran Rei Gaara, mungkin?

Saat ini kepalanya benar-benar terasa penuh. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Keputusan yang nantinya dikonversi dalam bentuk tindakan akan mengantarkannya pada satu di antara dua; bertahan atau akhiri semuanya?

Jujur, ia sendiri sudah mulai mencapai batasnya. Ia lelah menahan semuanya sendirian. Tentu saja jika ditanya keinginan terbesarnya, ia sangat ingin bertahan dengan laki-laki itu. Namun, kalau takdir sudah digariskan, makhluk fana sepertinya bisa apa?

Mau sampai kapan ia harus dikejar-kejar seperti ini? Mau sampai kapan ia hanya diam di sini tanpa melakukan tindakan berarti? Kalau ia tetap diam dan menunggu maka ia tak akan bisa melangkah ke depan. Akan selamanya seperti ini.

"Ino," panggil Sakura dengan suara yang sedikit parau.

Sahabatnya yang tadi sedang mengelus pelan bahu Sakura guna menenangkan gadis itu pun memindahkan atensinya, "Iya?" Perasaan Ino berkata bahwa ini pertanda buruk. Sakura bahkan memanggilnya menggunakan nama, bukan julukan biasanya.

"Aku akan menghadapi mereka. Pulang sekolah nanti, aku akan pergi ke istana."


.

;;;;;

.


Rencananya, laki-laki yang berstatus sebagai pangeran di negeri ini akan menemui istrinya sesegera mungkin. Amat disayangkan, nyatanya ia malah harus tertahan bersama dengan calon istri barunya dan pacarnya. Matahari sudah tinggi, musim panas yang menyiksa ditambah keadaan yang rumit. Sempurna.

"Kita buat ini cepat." Sasuke menyilangkan lengan di atas dada, "Kau harus memilih, keluarga atau pacarmu?"

Sebaris pertanyaan penuh makna terlontar begitu saja dari mulut Uchiha yang satu ini. Temari terdiam sejenak, bobot dari pertanyaan barusan ... terlalu berat. Ia memang harus bisa memilih di antara dua.

Jika ia memilih opsi pertama, ia akan mendapatkan tahtanya dan posisinya di keluarga kerajaan akan aman. Namun, untuk mendapatkan itu, banyak orang yang harus terluka. Ia harus menikahi Sasuke dan ia akan menyakiti Sakura juga Shikamaru. Kalau ia memilih opsi kedua maka ia berhasil meminimalisir daftar orang yang harus terluka karenanya. Tapi harga yang harus ia bayar adalah ... keluarga dan tahtanya. Ia tak lagi akan mendapat pengakuan dari kerajaan. Namanya akan dicoret, ia harus angkat kaki dari istana.

Baik opsi pertama maupun kedua terasa berat. Tapi jika ia membiarkan semuanya berjalan begitu saja ... Temari bisa kehilangan semuanya. Temari bisa kehilangan kebahagiaan dan juga cintanya. Perempuan berambut pirang itu menelan ludah, udara yang ia hirup terasa berat, "Aku..."

"Menikahlah. Jangan paksakan dirimu sendiri." Shikamaru menyela saat Temari akan mengutarakan pilihannya. Ia pun tak sanggup kalau harus melihat perempuan yang ia sayangi harus menderita hanya karena dirinya. Perempuan itu masih muda, jalannya masih panjang. Ia tak bisa menghambat masa depan Temari.

Refleks, Uchiha Sasuke berdecak pelan. Ia kesal. Apa mereka melupakan eksistensi dirinya? Mereka harus ingat, bahwa posisi Sasuke sendiri di sini adalah untuk mempertahankan Sakura juga. Menikah dengan putri yang satu itu adalah opsi paling terakhir yang akan ia ambil. Ketika harapan sudah pupus maka ia baru akan menjatuhkan pilihan ke sana.

Sudah sejak dahulu ayahnya berkata bahwa ia tak bisa berbuat sesuka hatinya. Ia menuruti semua ucapan ayahnya. Kata ayahnya, setiap perilakunya bukan untuknya. Ia hidup bukan untuk dirinya. Ia hidup untuk negara. Mungkin laki-laki ini pun mulai mencapai titik jenuhnya. Kenapa di saat hatinya sudah nyaman bersama Sakura, kehendak istana malah kian kejam?

"Tapi aku tak mau menikahinya." Bagai sebilah pisau, kata itu terucap dari mulut Sasuke.

Temari menarik napas, ia merotasikan irisnya. "Aku mengerti. Ini memang berat dan sepertinya memang aku yang harus bertindak." Perempuan itu menggigit bibirnya.

Ia harus rela lepas dari segala jerat istana. Ia harus mampu. Demi dirinya, untuk dirinya, bukan lagi untuk orang lain atau negaranya.

"Aku akan bilang pada ayah bahwa adikku harus naik tahta. Aku siap ditendang dari sangkar emas."


.

;;;;;

.


Sakura hanya mampu memainkan kedua jarinya sembari memakukan netra giok miliknya ke bawah. Jantungnya bergemuruh tak nyaman sembari menunggu Yang Mulia menghampirinya. Saat ini ia berada dalam istana, di sebuah ruangan megah yang ia sendiri tak tahu gunanya.

Ruangan ini didominasi warna cokelat dan emas, lampu kristal gigantik diletakkan di sentral. Ia sedang duduk di sebuah kursi fluffy berpola burung-burung yang sedang berterbangan. Ia menghela napas. Ia sendiri tak pernah menyangka akan menggali kuburnya sendiri.

Lantas apa gunanya ia lari dari rumah? Apa gunanya ia sembunyi dari para bodyguard? Karena pada akhirnya, ia sendiri lah yang menampakkan diri di sini.

Tadi saat pelajaran sedang berlangsung, pikiran Sakura menyelam dalam. Ia mencari solusi atas masalahnya ini. Ia rasa ... ini adalah pilihan terbaik. Bahkan sampai sekarang pun, suaminya belum memberinya kabar. Pasti masalah ini serumit itu, ya? Sampai suaminya saja kehilangan waktu untuk sekedar menemuinya dan memberikan kabar. Mendengar pendapat teman-temannya di kelas tadi juga menambah poin untuk Sakura membuat keputusan ini.

Nyatanya, negaranya akan lebih untung jika menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Negeri Pasir sana. Para Kunaichou—Biro Rumah Tangga Kekaisaran—bukan lah sekelompok orang yang sembarangan dipilih untuk mengurus rumah tangga istana. Tentunya mereka memiliki maksud dari setiap langkah yang diambil. Termasuk yang satu ini. Maka dari itu Sakura melancarkan aksi nekat. Hatinya sangat terluka tapi daripada posisinya harus terus begini....

Perempuan yang masih lengkap dengan seragam sekolah musim panasnya langsung berdiri dan memberikan ojigi sembilan puluh derajatnya tatkala kedatangan Yang Mulia Ratu diberitahukan. Sentuhan halus pada bahu yang diberikan oleh Yang Mulia membuatnya secara refleks menatap wanita yang memiliki peranan penting untuk negeri ini.

Seulas senyum Mikoto sunggingkan untuk perempuan di hadapannya. Ini merupakan kali pertama mereka bertemu langsung secara face to face. Ia duduk di kursi sebelah gadis itu kemudian mempersilakan Haruno Sakura untuk turut duduk.

"Sudah lama aku tidak melihatmu secara langsung. Terakhir kali ... saat pernikahanmu, ya?" Lagi-lagi Mikoto menghiasi wajahnya dengan senyuman manis tapi nampak anggun.

Jujur, tiba-tiba saja Sakura merasa kecil. Baru bertemu langsung begini saja tiba-tiba ia merasa tak pantas. Aura wanita ini terlalu bersinar, dan dirinya bukanlah seseorang yang tepat untuk tinggal di sini. Perempuan itu menelan ludahnya, berusaha menangkal pikiran-pikiran aneh yang masuk ke dalam kepala.

"A-ah, iya. Benar, Yang Mulia."

Lalu kemudian pendar dari iris onyx Mikoto berubah sendu, ia membuka topik utama kali ini. "Jadi ... pertama-tama, kami dari pihak Istana ingin meminta maaf padamu dan keluargamu. Jujur, ini bukan keinginanku untuk bertindak seenaknya seperti ini." Wanita yang rupa ayunya masih nampak meski usianya terus berjalan ini merendahkan suaranya. Ia merasa bersalah.

Sakura menggigit mukosa bibirnya, matanya mulai berkaca-kaca, "Aku mengerti, Yang Mulia. Awalnya, aku tak bisa menerimanya. Jujur saja, menikah di usia muda sudah sulit untukku. Apalagi kondisi aneh–menikah dengan penutup mata—itu harus ditaati. Lalu sekarang ... kalian membuatku menjadi janda di usia ini. Aku bahkan belum dua puluh, demi Tuhan." Tanpa sadar mulutnya terus memproduksi kata demi kata.

Mikoto menarik sudut bibirnya sedikit, ia mendekati perempuan yang sempat menjadi menantu tidak resminya. Direngkuhnya gadis yang tiba-tiba saja terlihat rapuh, dielusnya kepala merah muda Sakura. "Begini, Sakura. Pikirkan dirimu jika berada di posisi, Putri Temari." Jemari wanita itu masih menari di atas surai-surai merah muda, ia melanjutkan kalimatnya, "Dulu aku berada di posisi yang sama dengannya. Istana adalah tempat yang kejam, Sayang."

Sedangkan Haruno Sakura masih meresapi kata demi kata yang terlantun dari wanita yang merupakan ibu dari laki-laki yang dicintainya. Bahunya naik turun, napasnya tak stabil karena tiba-tiba saja ia mengeluarkan segala yang telah tertahan beberapa hari terakhir ini. Lalu Yang Mulia Ratu datang dan mulai membahas hal tabu tersebut. Pertahanan Sakura jebol seketika.

"Bayangkan jika kau harus kehilangan pengakuan dari keluargamu sendiri. Bayangkan jika kau harus keluar dari tempat yang selama hidupmu tak pernah kau tinggalkan sejak dulu. Bayangkan rasa sendiri itu..."

Mikoto menjabarkan pelan-pelan. Membayangkan hal seburuk itu terjadi pada dirinya sendiri ... ia tak mampu. Sekali lagi, istana adalah tempat yang kejam. Tak pernah ada kehidupan istana layaknya negeri dongeng. Semua itu hanyalah mitos.

"Sekali lagi, aku mengerti, Yang Mulia." Sakura melepaskan diri dari rengkuhan wanita terhormat itu. Wajahnya memerah, suaranya parau. "Maka dari itu, aku datang ke sini. Demi diriku, demi dia, dan demi semuanya." Perempuan itu menarik napas, "Pada akhirnya, ini memang harus berakhir."

"Aku benar-benar minta maaf, Sakura," cicit Uchiha Mikoto lagi. Rasanya sejuta kali ia meminta maaf pun, perasaan bersalahnya tak akan mampu mengembalikan keadaan seperti sedia kala.

"Ketua Kunaichou, Tuan Danzo telah datang, Yang Mulia!"

Suara pengawal yang terdengar lantang dari luar berhasil menginterupsi perbincangan empat mata antara Yang Mulia Ratu dan Haruno Sakura. Disusul dengan penampakan pria paruh baya yang kepala sampai matanya dillit perban dengan seberkas dokumen.

Shimura Danzo memberikan ojigi sembilan puluh derajat. "Selamat siang, Yang Mulia."

Mikoto menganggukkan kepalanya sedikit sebagai responsnya untuk membalas ojigi dari Danzo. Ekspresi wanita itu tak bermakna, terlihat datar. "Silakan."

"Terima kasih, Yang Mulia." Pria itu mendekati Sakura, "Begini, Nona—"

"—Dia masih berstatus sebagai istri dari Pangeran, Ketua Kunaichou," potong Mikoto cepat.

Pria itu meralat ucapannya dengan segera, "Maaf, maksudku, Yang Mulia. Begini, Anda harus menandatangani dokumen ini. Begitu Anda menandatangani ini maka hubunganmu dengan segala yang berhubungan dengan istana akan terputus. Tercantum juga beberapa kondisi yang harus kau jalani selepas perceraianmu dengan Yang Mulia Pangeran."

Tenggorokan Sakura tercekat. Mimpi indahnya harus berakhir secepat ini dan ia tak pernah menduganya. Ragu-ragu, ia mulai membuka dokumen perceraian tersebut. Pahit sekali rasanya, dokumen itu bagai sebuah kait yang menariknya secara paksa dari bahagianya. Ia harus berpisah dengan laki-laki itu, bukan sekedar satu atau dua hari melainkan ... selamanya.

Dengan gerakan yang lambat, dengan jemari yang sedikit bergetar ... akhirnya tandatangan ditorehkan di atas kertas. Mulai sekarang ia bukanlah siapa-siapa. Ia hanyalah ... Haruno Sakura. Pikirkan sisi positifnya, ia bebas dari belenggu istana.

Air mata lolos dari pelupuk matanya. Ia kembali terisak saat secara dramatis, kenangannya bersama Uchiha Sasuke yang dimulai dari pernikahan ajaibnya sampai saat ia bertemu dengan laki-laki itu terputar kembali dalam kepalanya. Perasaannya tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Jiwanya hancur, hatinya baru saja dikoyak luka yang dalam.

"Terima kasih, Yang Mulia, hiks. Terima kasih sudah memberikanku kesempatan untuk bertemu dengan anakmu. Terima kasih telah membiarkanku mencintainya meski itu sebentar..." Sakura mengulaskan senyumnya yang berlainan dengan matanya yang terus memproduksi air mata.

Refleks, sekali lagi Mikoto memeluk erat Haruno Sakura yang sangat rapuh. "Aku juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, Sakura. Terima kasih telah menanggung semuanya dengan baik. Tetaplah kuat, aku selalu mendukungmu dari sini." Tanpa sadar air matanya pun ikut menetes, lalu wanita itu menutupnya dengan menggoda Sakura jahil. "Aku akan bertanggungjawab soal jodohmu nanti, Sakura-chan. Jangan khawatir!"

Sakura yang masih menangis kini malah tertawa kecil. Sosok Uchiha Mikoto benar-benar menenangkannya. Ia bersyukur atas hal itu. Lalu setelah berpamitan dengan wanita itu, Sakura pun benar-benar undur diri dari istana. Ia ber-ojigi serendah-rendahnya dari hadapan Yang Mulia Ratu.

Danzo adalah orang yang bertanggungjawab untuk mengantar Sakura ke luar istana, laki-laki itu memberikan sebagian berkas dari dokumen perceraiannya tadi. "Ini, Yang Mulia. Kau harus membaca baik-baik hal-hal yang perlu kau patuhi setelah hubunganmu terputus dari istana."

Sakura menganggukkan kepalanya, "Aa, terima kasih," balasnya sembari memaksakan senyum.

"Hm. Yang Mulia, terima kasih atas kerjasamanya selama ini. Namun, amat disayangkan karena kau harus menghilang dari sini. Seperti yang tertera di dokumen, kau harus menghapus keberadaanmu dari istana, terutama dari hadapan Yang Mulia Pangeran. Pada akhirnya, perasaan cintamu tak akan membuat negeri ini makmur. Anda harus bangun, dan kembali pada kenyataan, Yang Mulia." Danzo memberikan speech penutup panjang lebar yang mengiris koyakan yang sudah tercipta dalam hati Sakura.

Dada Sakura semakin terasa sesak. Tenggorokannya semakin memberontak dan air matanya siap menghambur. Ia masih berusaha menahannya dengan baik, "Aa, tentu saja, Tuan. Aku akan menghilang dan terus bersembunyi. Kau tak perlu khawatir."

Danzo tersenyum sarkastis, merasa memenangkan sebuah pertandingan, "Terima kasih atas pengertiannya."

"Sama-sama, Tuan. Satu lagi, aku hanya akan sedikit memperingatkanmu bahwasannya roda akan selalu berputar. Kali ini Anda berada di atas tapi siapa yang tahu di hari selanjutnya aku datang bersama dengan karma sehingga membuat posisimu berada di bawah?" balas Sakura tak kalah sarkastis. Suaranya terdengar berat karena ia siap menumpahkan semuanya lagi. Tanpa bersopan ria lagi, Sakura segera melenggang pergi bersama dengan jutaan emosi yang bersiap untuk memberontak.

Kepalanya terasa kosong, ia merasa telah melakukan hal yang sangat bodoh. Ia melepaskan Sasuke yang mungkin saja masih memperjuangkannya. Ia memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Ia ... tak tahu lagi. Dadanya terasa amat sangat berat. Sasuke pasti marah jika tahu ia melakukan ini tanpa persetujuan laki-laki itu.

Ia memberhentikan sebuah taksi yang lewat begitu saja. "Tolong ke bandara, Pak." Kata-kata itu terucap begitu saja. Segala hal yang ia lakukan saat ini merupakan hasil dari rasa depresi dan kalutnya beberapa hari terakhir. Dalam taksi, ia menumpahkan segala perasaannya. Perempuan itu menangis tersedu-sedu sepanjang jalan, seolah ini adalah hari terakhirnya untuk menangis. Ia tak memedulikan sang supir yang hanya terheran menatapinya lewat kaca spion.

Ia menjeritkan kesedihannya seorang diri. Seperti kata Ketua Kunaichou tadi, ia harus bangun dari mimpinya dan kembali ke kenyataan. Terlalu lama berada dalam mimpi indah membuatnya terbang terlalu tinggi bersama jutaan angan. Dan saat tiba pada waktunya untuk bangun, kenyataan menamparnya telak.

Tak ada yang pernah menyangka bahwa Sakura akan bertindak sendirian. Karena hari-hari selanjutnya, langit musim panas mulai menyembunyikan sinarnya di balik musim gugur yang kelabu...

...diikuti dengan hilangnya Haruno Sakura bagai ditelan bumi.

.

.

.

.

.

tbc

.


a/n: Hai! *digebukmassa* :") lagi-lagi aku cuman bisa minta maaf atas keterlambatan update. Mohon maaf, kesibukan RL selalu menjadi-jadi dan aku nggak pintar buat mengatasi WB juga mencari waktu ;-; semoga feel-nya masih berasa meskipun rush, ya :")

Ah, maaf untuk chapter ini aku nggak menerima protes dalam bentuk apa pun. Sejak awal, ini plot yang ingin aku tulis hehe. Doakan aja yang terbaik buat SasuSaku, ya! X) Aku nggak sekejam itu kok, tenang aja, hehe.

Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas semua review, fave, follow, dan lainnya. Maaf nggak bisa bales satu-satu ;-; tapi semuanya sangaaat aku apresiasi. Terima kasih yang amat sangat banyak karena udah sabar buat menunggu :")

Sampai jumpa di next chapter, ya! Ditunggu jejaknya x) Terima kasih~~