"Hei, kau tak makan?" Hinata mengalihkan pandangannya pada Matsuri yang terlihat memperhatikannya, ia segera tersenyum menunjukan jika ia baik-baik saja dan kembali memainkan makanan dihadapannya.

"Ada masalah?"

"Ya?"

"Kau sedang memikirkan sesuatu?"

"Tidak. Aku hanya rindu ayah dan adiku."

"Oh..." Matsuri kembali makan dengan tenang sementara Hinata hanya diam. Kejadian semalam masih berputar-putar dikepalanya hanya saja bila semalam ia terus menangis, sekarang jangankan menangis mengingat kejadian itu malah membuat Hinata ingin tertawa. Ia merasa begitu bodoh karena menerima lamaran Sasuke saat itu. Kenyataannya Hinata selalu bersikap bodoh bukan karena ia mencintai Sasuke tapi karena ia merasa harus belajar mencintai suaminya, jika ia tahu Sasuke begitu tak menginginkannya, Hinata pasti takan membuang-buang waktu dengan menggoda Sasuke.

"Matsuri!" Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar rumah Matsuri. Matsuri diikuti Hinata segera keluar dan bertemu dengan seorang gadis berambut pink,"Sakura?" Hinata menatap gadis dihadapannya tak percaya gadis itupun balas menatapnya tak percaya.

"Hinata? Kau disini?"

"Um, kalian saling kenal?" Tanya Matsuri bingung, ia memperhatikan keduanya bergantian sambil menggigit tusuk gigi dimulutnya,"Dia teman sekolahku." Jawab Hinata senang, ia segera memeluk Sakura senang begitupun dengan Sakura.

"Oh... kebetulan sekali." Matsuri menggaruk pelipisnya sambil tersenyum aneh pada kedua temannya,"Kenapa? Sejak kapan kalian saling kenal?" Kali ini Sakura yang bertanya, mereka ngobrol sambil memasuki rumah Matsuri.

"Haha... bukan apa-apa." Matsuri tertawa canggung, ia bingung harus menjelaskan dari mana. Ia hendak mengatakan jika Hinata adalah istri Sasuke, tapi ia takut Sakura akan terluka,'Mereka benar-benar masih berhubungan?' Matsuri memutar matanya makin tak mengerti, ia ingat beberapa hari lalu ia melihat Sakura pergi bersama Sasuke, ia pun tahu hubungan Hinata dan Sasuke tak pernah baik sejak awal tapi ia tak habis fikir kenapa keduanya bisa berteman? ,'Istri dan pacar Sasuke berteman? Perselingkuhan bodoh macam apa itu?' Fikir Matsuri iba. Ia tak tahu siapa yang harus ia kasihani dari kedua wanita dihadapannya.

"Kenapa Sakura-chan disini?"

"Kau sendiri?"

"Um, sebenarnya aku sudah menikah dan sekarang tinggal disini bersama suamiku."

"Disini?"

"Ya, disamping rumah matsuri."

"Dia istri Sasuke." Matsuri datang sambil membawa nampan berisi tiga gelas air. Ia segera duduk diantara Hinata dan bisa melihat raut kaget Sakura membuatnya merasa bersalah untuk beberapa lama,"Benarkah?"

"Ya."

...

...

...

"Baru pulang? Maaf tadi aku mandi." Sasuke tersenyum kecil melihat Hinata keluar dari kamar mandi hanya dengan sehelai handuk,"Aku ingin makan." Ucapnya sambil memalingkan wajah. Sasuke segera keluar dari kamar, ia merasa semakin hari ia semakin kesulitan mengendalikan keinginannya dan satu-satunya cara agar tak terjadi apapun hanya dengan menjauhi Hinata.

"Aku kira kau marah..." Sasuke membuka percakapan sambil memperhatikan Hinata memasak dari jarak yang tak terlalu jauh. Mendengar pendapat Sasuke, Hinata tersenyum kecil,"Aku tidak marah.."

"Kenapa?"

"Karena aku wanita yang baik." Jawab Hinata dengan nada bercanda berusaha menutupi perasaannya,"Apa kau tak terluka?" Tanya Sasuke sekali lagi. Hinata terdiam beberapa lama berusaha mencari jawaban yang tepat tanpa kebohongan,"Aku sangat terluka karena kau mengacuhkanku."

"Lalu kenapa kau diam saja?"

"Apa aku harus menangis tersedu-sedu sambil membuka pakaianmu?" Hinata tertawa kecil menyadari jika ucapannya terlalu kasar dan pulgar. Ia menghidangkan nasi dan beberapa lauk kesukaan Sasuke dimeja makan, meski Hinata tak mencintai Sasuke setidaknya ia tahu bagaimana ia harus memperlakukan suaminya,"Aku akan mengikuti kemauanmu. Saling diam terlalu menyulitkan untuku. Mungkin aku memang terlalu buruk dimatamu jadi aku takan meminta penjelasan apapun kenapa kau mengabaikanku." Jelas Hinata seraya mendudukan tubuhnya didepan Sasuke yang tengah menyantap makan malamnya.

"Aku tidak mengabaikanmu." Bisik Sasuke menghentikan kegiatannya sebentar,"Ya?"

"Hmm.. Aku tak pernah mengabaikanmu kau juga gadis yang sempurna dimataku, tapi..." Hinata menatap mata Sasuke dalam penasaran dengan apa yang hendak Sasuke katakan padanya. Tiba-tiba jantungnya berdebar-debar cemas, ia takut Sasuke mengatakan jika ia menyukai wanita lain atau kata apapun yang bisa makin melukainya.

"Kau dan Itachi aku benar-benar tak bisa mengabaikannya untuk saat ini, bukan karena aku tak menyukaimu. Aku pria normal, melihat wanita secantik dirimu aku langsung menyukaimu sejak pertama kita bertemu. Aku... hanya butuh waktu, bagaimanapun aku benar-benar merasa bersalah telah menikahi kekasih kakaku sendiri." Sasuke menunduk tak ingin menatap Hinata karena malu, tanpa ia sadari ia baru saja menyatakan perasaannya pada Hinata.

...

...

...

"Sakura?" Sasuke hampir tersedak ludahnya sendiri saat ia melihat Sakura telah berdiri didepan pintu rumahnya. Sakura menunduk sambil tersenyum,"Aku ingin bertemu Hinata."

"Hinata?"

"Kenapa kau kaget sekali? Dia temanku sejak kecil jadi aku ingin menemuinya." Jelas Sakura agar terganggu dengan tatapan curiga Sasuke. Tanpa diijinkan Sakura langsung memasuki rumah Sasuke. Ia mengedarkan matanya ketiap sudut rumah tersebut lalu berbalik menatap Sasuke,"Kau tenang saja, aku takan membicarakan apapun tentang hubungan kita." Ucapnya berusaha memasang tampang seceria mungkin,'Harusnya aku yang tinggal disini.' Fikir Sakura kecewa begitu melihat Hinata keluar dari kamarnya.

"Sakura?"

"Hai. Aku penasaran dengan suamimu, jadi aku kesini." Goda Sakura sambil tertawa yang langsung dibalas kikikan geli Hinata. Sakura masih seceria dan blak-blakan seperti saat terakhir kali mereka bertemu,"Duduklah, aku akan membuatkan minum."

"Ya." Sakura dan Sasuke memperhatikan Hinata yang mulai menghilang dibelokan menuju dapur, setelah yakin Hinata pergi keduanya saling bertatapan,"Aku tak tahu kalian berteman."

...

"Kudengar pria sering kesulitan melupakan cinta pertama mereka." Ucap Sakura sambil mengedikan bahu membalas tatapan tajam Sasuke yang terlihat tak suka. Hinata mengadah penasaran,"Benarkah?" Tanyanya tertarik. Sakurapun tersenyum merasa Hinata telah masuk kedalam perangkapnya,"Jadi siapa cinta pertamamu?" Tanya Sakura pada Sasuke yang langsung terbatuk-batuk bingung,'Aku memang takan bicara apapun, karena kau yang akan bicara sendiri pada Hinata.'

"Cinta pertama hanya masalalu, untuk apa mengungkit hal yang sudah berlalu?" Jawab Sasuke berusaha mencari alasan, Hinata tersenyum lega mendengar ucapan Sasuke tak menyadari jika suasana mulai tak nyaman,"Benarkah? Bukannya cinta pertama laki-laki adalah cinta abadi?"

"Ibu, dia cinta pertamaku." Ucap Sasuke baru terpikir. Sakura membulatkan matanya karena kalah bermain kata, tapi ia masih tak habis akal,"Kapan terakhir kali kau tidur dengan orang yang paling kau cintai?"

BRAKK

"Kau tak perlu menanyakan itu Sakura-chan." Hinata bangkit dari tempat duduknya dan tanpa sengaja menyenggol piring hingga terjatuh kelantai dan pecah.

"Kau terluka? Kenapa kau ceroboh sekali!" Bentak Sasuke sambil mendekati Hinata khawatir. Hinata segera menunduk merasa bersalah, wajahnya memerah malu bercampur kaget dan takut,"Kau terluka."

"Hentikan Sasuke!" Teriak Sakura akhirnya tak tahan melihat sikap Sasuke yang begitu mempedulikan Hinata seolah tak menganggapnya ada."Kau?"

"Kau puas sekarang? Bukankah dia temanmu? Kenapa kau seperti ini?" Cecar Sasuke marah. Ia hampir menampar Sakura jika Hinata tak mencegahnya,"Sebenarnya kalian kenapa?" Tanya Hinata bingung. ia merasa ada yang aneh, tapi ia tak tahu apa. Hinata menatap Sasuke dan Sakura bergantian meminta penjelasan tapi Sasuke malah mendecak dengan wajah kesal sementara Sakura memalingkan wajahnya tak ingin bicara.

"Kau tahu kan Sasuke terpaksa menikahimu?" Hinata tertegun mendengar sindiran Sakura padanya,"Apa maksudmu?" Bisik Hinata dengan suara parau. Tubuhnya bergetar menahan tangis yang malah membuat Sakura makin puas,"Kau tahu siapa cinta pertama Sasuke? Itu aku Hinata!"

"Kenapa bercanda seperti ini? Aku tahu Sasuke tak menyukaiku, tapi kau..."

"Kau tak percaya? Sudah lima tahun kami pacaran dan hampir menikah. Hubungan kami baik-baik saja sebelum kau datang tapi kenapa tiba-tiba kau masuk kekehidupan kami dan merusak semuanya?"

PLAKK

"SASUKE!"

"Kau gila? Jadi ini yang ingin kau lakukan pada teman kecilmu?" Bentak Sasuke. Untuk pertama kalinya ia merasa begitu membenci Sakura dan kali ini ia benar-benar menampar gadis cantik itu,"Ya, kau benar ini yang ingin kulakukan pada istrimu sejak dulu!"

"Sakura-chan?" Sakura mengalihkan tatapannya pada Hinata sambil tersenyum meremehkan.

"Kenapa? Kau tidak berfikir jika aku benar-benar menyukaimu kan? Aku membencimu, sangat membencimu dan Sasuke hanya alasan agar aku bisa melampiaskan kebencianku padamu yang telah kusimpan sejak kita kecil."

"Kenapa?" Hinata menunduk menyembunyikan tangisannya,"Karena kau gadis lemah semua orang berebut agar bisa melindungimu, karena kau cantik semua laki-laki selalu ada dibawah kakimu, dan karena kau kaya kau bisa berbuat baik sesukamu. Aku benci orang sepertimu yang selalu memasang wajah so baik dan seolah tanpa dosa! Aku benci orang lemah sepertimu yang selalu memiliki segalanya, aku muak melihatmu dan cara hidupmu yang begitu mudah seolah kau malaikat baik hati padahal sebenarnya yang bisa kau lakukan hanya merepotkan orang lain dan merebut kebahagiaan mereka!" Hinata memejamkan matanya erat seraya menutup telinganya rapat-rapat dengan kedua telapak tangannya. Hinata baru saja mendengar pendapat Sakura tentang dirinya dan ia benci mengakui jika ucapan Sakura memang benar,"Cukup, kumohon cukup..." Lirih Hinata. Tubuhnya terjatuh kelantai membuat Sasuke menatapnya nanar,"Hentikan Sakura, kau keterlaluan..." Bela Sasuke dengan suara lebih pelan kali ini.

"Kenapa? Kau menangis karena sadar ucapanku benar?" Sakura mengabaikan Sasuke, ia menarik lengan baju Hinata hingga sobek. Sakura menunggu Sasuke selama hampir tiga tahun hingga pemuda itu jadi miliknya, tak pernah sekalipun ia berfikir usahanya akan berakhir sia-sia setelah semua yang dirinya lakukan demi Sasuke,"Jika dunia ini tak begitu kejam padaku, akupun bisa bersikap baik sepertimu. Aku juga bisa menjadi malaikat tanpa sayap seperti yang selalu kau lakukan." Hinata menyingkirkan tangan Sakura kasar dari tangannya,"Hentikan Sakura, kau juga membuatku muak." Marah Hinata akhirnya.

"Jadi ini sikap aslimu?" Sindir Sakura sarkastik sementara Sasuke hanya diam, ia merasa menjadi laki-laki yang begitu tak berguna kali ini karena tak bisa menghentikan pertengkaran kedua wanita yang ada dihadapannya bahkan untuk bicarapun lidahnya terasa kelu.

"Ya."

"Baiklah, aku tak peduli. Kau ingin aku memohon? Aku akan melakukannya." Sakura bersimpuh dihadapan kaki Hinata,"Jika kau ingin aku menyesali perbuatanku kali ini, aku akan menyesalinya seumur hidupku." Lanjutnya dengan wajah datar, ia mendongakk menatap mata Hinata penuh harap,"Tapi kumohon lepaskan Sasuke. Aku mencintainya."

"Jangan seperti ini..."

"Kumohon. Kau bisa memiliki segalanya tapi jangan Sasuke. Kenapa kau tak melepaskan Sasuke, padahal kau sendiri tahu dia tak mencintaimu?"

"Kenapa kau membuatku terlihat begitu jahat? A-aku juga mencintai Sasuke..." Sasuke terbelalak tak percaya mendengar ucapan Hinata,"Maaf jika aku begitu egois, maaf jika sikapku membuatmu muak tapi aku benar-benar tak bisa melepaskan Sasuke, karena dia suamiku."

"Tapi dia tak mencintaimu!"

"Mungkin kau benar, mungkin sejak awal aku memang terlahir sebagai wanita jahat karena aku masih percaya jika Sasuke akan perlahan mencintaiku jika aku berusaha. Aku mohon jangan ganggu kami lagi, aku turut menyesal untukmu." Hinata berusaha bersikap sejahat mungkin, meski suaranya mulai terasa bergetar saat ia bicara.

"Kau jahat sekali..." Sakura berdiri seraya mengusap air mata dengan punggung tangannya.

"Kau tak perlu memaafkanku dan semua kesalahanku, kau bisa terus membenciku jika itu bisa membuatmu bertahan dengan luka yang kuukir dihatimu. Aku juga wanita sama sepertimu, akupun ingin memiliki Sasuke sepertimu. Meskipun akhirnya Sasuke tetap tak bisa membalas perasaanku aku takan menyesal karena aku berusaha mempertahankannya hingga akhir."

"Baiklah, semoga kalian bahagia dengan luka yang telah kalian buat." Sakura menatap Sasuke beberapa lama untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya Sakura melangkah meninggalkan kediaman Sasuke tanpa menatap Hinata, sahabat kecilnya. Hinata menatap punggung Sakura yang makin menjauh dari pandangannya, ia memejamkan matanya membuat bulir-bulir air matany terus mengalir keluar,'Aku benar-benar minta maaf karena telah begitu jahat pada kalian.' Fikir Hinata penuh rasa bersalah, ia menatap Sasuke yang ternyata juga tengah menatap kepergian Sakura membuat hatinya makin terluka. Ia baru saja menarik paksa Sasuke kepelukannya demi harga dirinya sendiri. Hinata bahkan tak yakin apa dia benar-benar mencintai Sasuke seperti yang ia katakan.

...

"ka Itachi." Sasuke menghentikan langkahnya.

"Apa mulai sekarang aku harus memanggilmu seperti itu?" Hinata menatap punggung Sasuke sambil menahan senyum terpaksa. Matanya mulai berkaca-kaca menahan marah dan kecewa.

"Cepat tidur."

"Kenapa tidak katakana saja sejak awal, semuanya karena Ka Itachi? Meskipun kau adalah adik ka Itachi, sekalipun aku tak pernah menganggap kalian sama. Aku mencintaimu, karena kau suamiku. Jika kau jelaskan sejak awal, setidaknya aku bisa mengerti kenapa kau selalu bersikap dingin padaku dan aku takan pernah mempermasalahkan kenapa poto wanita lain yang kau simpan. Setidaknya aku akan berusaha menatapmu hanya sebagai ka Itachi, jadi aku tak perlu terluka tiap kali menyadari tak pernah ada aku dihati Sasuke hiks hiks…."

"…" Sasuke hanya diam, tak ada yang ingin ia katakana.

"Apa aku terlihat bodoh? Aku gadis yang jahat dan bodoh, apa karena itu kalian memperlakukanku seperti ini?" Sasuke berjalan melewati Hinata tanpa menatapnya dengan raut datar, ia meninggalkan Hinata yang mulai menangis tersedu-sedu sendiri dikamar mereka.

"Kakak..." Hinata memeluk lutut dan menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya. Sudah hampir satu jam sejak Sasuke pergi dan Hinata masih tetap menangis,"Apa ini hukuman untuk wanita jahat sepertiku? Sekarang bagaimana? Apa yang harus kulakukan tanpamu? Jika pada akhirnya kakak hanya membebankan masalah padaku kenapa kakak harus membuatku begitu mencintaimu dulu? Kakak sengaja melakukannya, agar aku sadar betapa jahatnya aku?"

...

...

"Kau mau kemana?" Hinata berbalik menatap Sasuke bingung, ia tak tahu harus mengatakan apa. Yang ada difikirannya hanya meminta maaf dan pergi dengan tenang. Hinata tak suka keributan, ia hanya ingin semuanya berlalu dan tenggelam tanpa seorangpun tahu.

"Maaf." Bisiknya pelan. Ia menundukan kepalanya dalam, entah kesalahan apa yang telah Hinata lakukan ia hanya merasa telah menjadi penghalang untuk Sasuke,"Maaf, karena aku bodoh aku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak mengerti kenapa semuanya terasa begitu sulit dan menyesakan saat bersamamu. Eu... Aku tak mengerti apa yang tengah kubicarakan jadi kau tak perlu memikirkannya. Maaf..."

"Pergilah..."

"Ya?"

"Kau akan pergi kan? Mungkin harusnya kita tak memulainya." Sasuke berujar datar, untuk beberapa lama ia menatap Hinata tak bergeming Hinatapun balas menatapnya nanar,"B-baiklah." Hinata meninggalkan Sasuke yang makin tenggelam dalam pemikirannya sendiri.

...

...

...

"Astaga... kau mengusir istrimu?"

"Aku hanya mengatakan pergilah!" Bentak Sasuke kesal pada Sasori. Ia menghela nafas bosan, entah untuk kesberapa kalinya ia mengulang cerita bodohnya semalam pada Sasori. Kadang ia bingung kenapa ia selalu berteman dengan orang menjengkelkan seperti Sasori dan lebih membingungkan lagi karena dengan tampang bodoh Sasuke masih berharap jika Sasori bisa sedikit saja memahaminya.

"Aku bingung... Ck ck ck, bagaimanapun kata pergilah... adalah cara mengusir wanita yang paling kasar."

"Aku mengatakannya dengan lembut!"

"Baiklah baiklah... Kau mengusir istrimu secara halus." Sasori menggaruk pelipisnya bingung.

"Sudah kukatakan tak seperti itu!"

"Yang jelas Hinata pergi kan? Kau tak perlu membentaku!" Sasori menarik kerah kemeja Sasuke kasar karena kesal Sasukepun segera melepaskannya tak kalah kasar,"Kau seperti wanita."

"Apa kau bilang?"

"Huh... Apa aku salah?" Sasuke menyenderkan tubuhnya kekursi dan menutup sebagian wajah dengan punggung tangannya. Sasori menatap Sasuke beberapa lama lalu kembali memainkan ponsel ditangannya,"Setiap pagi kau menanyakan hal yang sama padaku."

"Apa?"

"Apa aku salah? Kau tidak sadar selalu mengatakan itu padaku?"

"Dia benar-benar pergi hanya karena aku memintanya." Sasori terkekeh mendengar alibi bodoh Sasuke,"Setiap pagi kau bertanya tapi tak mengharapkan jawabanku dan kau mengusir Hinata tapi tak ingin dia pergi. Kau pasti bercanda..."

"Kau tak menjemputnya?" Sasori bertanya sekali lagi. Sasuke membuka matanya pelan, ia menatap langit-langit rumah Sasori. Kepalanya terasa berputar-putar bila mengingat Hinata,"Dia akan pulang, jika dia mau."

"Apa dia seperti merpati?"

"Hn?"

"Hah, jika kau melepaskan merpati dari kandangnya dia takan kembali, kecuali kau benar-benar pemiliknya."

'Maaf aku terlalu bodoh untuk mengerti.' Ucapan Hinata kemarin malam kembali terngiang ditelinga Sasuke. Ia ingat apa yang Itachi katakan tentang Hinata padanya,'Kadang dia terlihat sangat bodoh.'

'Ya, kau memang bodoh. Kalau saja kau sedikit membujukku aku pasti telah berlutut dikakimu. Dasar bodoh, kenapa kau membuat semuanya jadi rumit?'

...

...

...

"Bagaimana hubunganmu dengan Sasuke? Itachi pasti senang karena adiknya menjagamu." Hinata tersenyum kecil mendengar penjelasan Deidara sahabat baik Itachi. Sudah sejak semalam ia tidur dirumah Itachi. Ia ingat saat mereka masih kuliah, ia tinggal dirumah itu bersama Itachi, Deidara, Shikamaru, Naruto, Gaara, Ino, Tayuya, dan Tenten. Meski mereka tak seangkatan mereka berteman dekat. Ia rindu saat-saat itu. Saat-saat dimana makan mi instan adalah kegiatan sakral bagi mereka, saat ia dan Ino masih bermusuhan dan bertengkar memperebutkan Gaara setiap waktu, saat ia dan Tayuya mengintip Tenten dikamar mandi untuk memastikan jika Tenten benar-benar seorang wanita, dan saat pertama kali Itachi menciumnya didepan semua teman-temannya.

"Tapi kenapa kau tak pulang? Apa kalian bertengkar?"

"Kukira rumah ini tak ditinggali lagi.." Ucap Hinata berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Sejak Gaara meninggal, tak ada yang pernah datang kesini lagi."

"Ternyata benar kau punya perasaan khusus pada kak Itachi haha,,,,"

"Haha... Mungkin benar, aku tinggal disini sejak aku dengar Itachi meninggal. Kau sedang mengalihkan pembicaraan?" Selidik Deidara menyadari jika bukan itu yang hendak ia bicarakan. Hinata menggeleng pelan, ia melihat potonya saat berdua bersama Deidara yang dipajang disudut tempat yang dulu menjadi kamarnya,"Hanya ingin bernostalgia."

"Oh..." Deidara tersenyum kecil. Dulu ia sangat membenci Hinata yang selalu memonopoli waktu Itachi sahabatnya dan karena itu pula teman-temannya menganggap Deidara menyukai Itachi.

"Mau makan sesuatu?" Deidara membuka kulkas dan berusaha mencari makanan apa saja yang bisa mereka makan dan menemukan sekotak es-krim yang ia beli kemarin, Deidara segera mengambil dua mangkuk kecil dan membawanya keruang tengah. Deidara menyalakan televisi dan menyetel video,"Itu kapan?"

"Saat kami menjahilimu diacara ospek."

"Astaga, mana mungkin itu aku?" Cibir Hinata malu melihat wajahnya penuh noda hitam arang karena dijahili oleh Ino dan Itachi, dua panitia yang paling jahil dan paling menyebalkan dimasanya.

...TBC...

Makasih buat xg udah baca dan review. Makasih juga buat xg udah ngasih saran dan keritikan, maaf kalau masih banyak kesalahan, karena chika masih baru masih banyak xg perlu diperbaiki (^.^)a