Revolution

by

purplekies

.

.

.

Translator:: Kim 'Nyx' Eunjung

Pair:: HunHan and the rest of EXO

Genre:: Angst & Romance

Warnings:: Rated M untuk adegan dewasa, tema yang berat, dan bahasanya. Yaoi/BL/boy x boy. Jika tidak suka jangan baca.

.

.

~ Hope ya like it ~

.

.

.

Kris menatap Luhan, terkejut dengan pertanyaannya. Luhan sendiri sama terkejutnya.

"Dari semua pertanyaan yang selalu ingin kau tanyakan, kau memilih itu?" Kris bertanya dan Luhan mengangguk pelan, lengannya masih memeluk pemuda itu dengan protektif.

Kris menatapnya. "Ya, dia akan baik-baik saja."

Luhan melihat Kris mengisyaratkan asistennya untuk masuk dan mereka mencoba membawa pemuda itu dari tangan Luhan.

"Tidak." Luhan memohon pada mereka.

"Jika kau tidak membiarkannya pergi maka dia tidak akan baik-baik saja." Kris menjelaskan dan setelah beberapa saat, Luhan akhirnya membiarkannya pergi dan dengan berat hati ia melihat pemuda itu dibawa pergi.

"Istirahatlah." Kata Kris. "Kami akan memberikan tes lain padamu besok."

Luhan bersyukur diberikan waktu untuk beristirahat namun ia tak begitu peduli pada perintah selanjutnya.

.

.

.

Beberapa hari selanjutnya, Luhan memberikan Kris kemajuan dan itu membuatnya senang. Ia melewati tes yang sama setiap harinya tanpa tahu mengapa ia perlu menjalani tes macam itu. Dan setiap hari, Luhan bisa menggerakkan bola-bola itu setiap inci.

Ia tidak tahu bagaimana ia bisa melakukannya. Tapi nyatanya ia memang bisa. Kris mengatakan padanya bahwa itu harus dilakukan dengan menggunakan emosinya.

Kris menjawab pertanyaan-pertanyaan Luhan setiap kali ia bisa menggerakkan bola itu. Tapi tidak semua jawaban dapat menjawab rasa ingin tahunya. Ia tahu ia sedang berada di sebuah fasilitas. Tapi Kris tidak mengatakan tepatnya di mana. Ia juga tahu ini sudah sekitar satu bulan sejak ia ditangkap. Tapi Kris tidak mengatakan tepatnya tanggal berapa. Luhan menanyakannya bagaimana keadaan pemuda itu dan Kris mengatakan padanya bahwa dia sedang dalam penyembuhan namun tak sepenuhnya mengatakan dia baik-baik saja.

Kris menjawab semua pertanyaan Luhan kecuali satu: sampai berapa lama dia akan menahan Luhan? Untuk yang ini Kris mengatakan dia tidak tahu.

Akhirnya, mereka berpikir Luhan mengalami kemajuan yang pesat hanya dalam tiga minggu. Luhan sendiri juga berpikir demikian. Sekarang ia bisa menggerakkan bola itu sejauh beberapa meter dan bisa membuat bola itu mengambang di udara. Ia masih belum mengerti bagaimana caranya melakukan itu tapi ia merasa puas karena bisa memberikan beberapa kemajuan pada Kris.

Kris dan Suho mengatakan padanya bahwa sekarang ia sudah bisa dipindahkan ke tempat yang lainnya berada. Beberapa minggu lalu mungkin ini akan membuatnya senang. Tapi sekarang, ia merasa cemas. Ia tidak menginginkan teman. Ia tidak ingin pindah. Satu-satunya orang yang ingin ia lihat adalah pemuda itu. Luhan takut dengan apa yang mungkin akan dipikirkan oleh yang lainnya. Ia mengklasifikasikan dirinya sebagai seorang yang freak. Mungkin lebih freak dari yang lainnya karena ia hanya bisa menggerakkan benda tanpa menyentuhnya.

Namun mereka tetap memindahkannya dan Luhan berjalan pelan dengan orang-orang bermasker bedah saat mereka mengantarnya ke ruangan lain.

Mereka membukakan pintunya dan ruangan itu gelap. Luhan melangkah dengan hati-hati dan pintu menutup di belakangnya, meninggalkan Luhan dalam kegelapan.

Tiba-tiba, suhu ruangan terasa dingin membeku dan Luhan memeluk dirinya sendiri, berharap semoga ia tidak mati di malam pertamanya di lingkungan yang baru ini.

.

.

.

Luhan terbangun saat seseorang mengelus rambutnya. Pada awalnya ia tak bergeming, menikmati sentuhan yang diberikan tangan itu kepadanya. Itu membuatnya hangat dan semua nyeri di tubuhnya seperti pergi menjauh. Namun kemudian ia menyadari bahwa dirinya baru saja dipindahkan bersama yang 'lainnya' dan Luhan bangun tiba-tiba, kemudian bertatap muka dengan dua orang pemuda.

Keduanya terlihat seumuran dengannya. Yang satunya memiliki rambut hitam dengan ekspresi lembut dan wajah yang tirus sementara yang lainnya memiliki rambut coklat dengan mata yang sipit.

Pemuda berwajah tirus menatapnya lembut, tangannya masih mengambang di udara dan ia tahu dialah yang sudah mengelus rambutnya sementara yang lainnya hanya menatapnya.

Luhan menjauh dari mereka, ketakutan.

"Tidak apa-apa." Pemuda berwajah tirus berkata padanya dan Luhan berhenti menjauh. Lama ia menatap mereka dan Luhan tahu itu tidaklah sopan. Namun ia masih belum terbiasa memiliki teman dan tidak terbiasa dengan sentuhan orang lain selain Kris, asistennya dan pemuda itu.

"Siapa kau?" Luhan bertanya perlahan dan sang pemuda berwajah tirus tersenyum.

"Aku Lay." Ia memperkenalkan dirinya sendiri dan mengisyaratkan ke pemuda yang lainnya. "Dan dia Xiumin."

Xiumin terus menatapnya dan Luhan menciut dibuatnya.

"H-hai." Kata Luhan. "Aku Luhan."

Lay mengangguk dan mengisyaratkan lantai tempatnya berbaring.

"Kau bisa memilih tempat yang lebih nyaman jika kau mau. Kupinjamkan kau matras milikku." Lay menjelaskan dan Luhan menggulung matras yang tadi ia gunakan berbaring dengan rapi.

"Terima kasih." Kata Luhan dan mengembalikannya pada Lay.

"Ada beberapa bantal di rak sebelah sana dan matras lain di sudutnya. Kau bisa menggunakannya untuk malam ini." Kata Lay.

Luhan mengangguk dan berterima kasih lagi. Sementara itu, Xiuman hanya mengamati mereka.

Luhan menyadari ruangan ini lebih besar dari kamarnya yang dulu. Semuanya berwarna putih dan terang. Sebuah dinding kaca memisahkan mereka dengan ruangan lainnya yang terlihat sama namun ruangan itu kosong.

"Berapa... berapa lama kalian berada di sini?" Luhan bertanya, ingin tahu lebih banyak tentang mereka.

"Aku tidak tahu." Jawab Lay. "Aku sudah berada di sini sejak lama. Tapi tidak tahu berapa lamanya." Lay menoleh pada Xiumin. "Xiumin telah berada di sini selama dua bulan."

Luhan menatap Xiumin dan melihatnya masih menatap Luhan.

Luhan bertanya-tanya apa yang salah dengannya saat kemudian pintu terbuka dan orang-orang bermasker bedah masuk ke dalam. Xiumin dengan instan segera berdiri melindungi Lay ketika Kris mengikuti mereka masuk.

Luhan melihat mereka, menduga dirinya akan dipanggil saat kemudian Kris mengisyaratkan Lay untuk ikut bersamanya. Xiumin tidak bergeming dari tempatnya dan Lay memegang bahunya.

"Tidak apa-apa." Lay berkata dengan nada yang meyakinkan, Luhan menyadari itu. "Aku akan kembali nanti."

Xiumin sedikit lebih tenang dan melangkah ke samping dan Lay mengikuti Kris serta asistennya keluar dari ruangan.

Sementara itu, Luhan mengamati bagaimana Lay tidak mengalami paksaan untuk mengikuti Kris, tak seperti mereka menangani Luhan.

"Apakah Lay pergi mengikuti mereka atas kemauannya sendiri?" Luhan menoleh untuk bertanya pada Xiumin tapi dia malah berjalan menjauh menuju sisi lain ruangan, meninggalkan Luhan sendiri bersama pikirannya.

.

.

.

Luhan terbangun tengah malam dan ia terlalu pusing untuk melihat siapa itu. Ia membiarkan dirinya digendong keluar dari ruangan kamarnya yang ia bagi bersama Lay dan Xiumin dan kemudian ia tak sadarkan diri.

Ia sadar lagi namun kali ini, ia tak bisa melihat. Gelap dan dingin. Ia masih merasa pusing dan saat ia akan kembali jatuh tertidur, sepasang tangan memeluk pinggangnya. Luhan membeku, menyadari ia tak mengenakan pakaian dan detak jantungnya mulai berdentum-dentum, takut seseorang akan memaksanya melakukan hal itu lagi.

"Berhenti, kumohon." Luhan berbisik dalam kegelapan dan tangan itu berhenti. Luhan mendengarkan dan menunggu tanda penolakan namun tak ada satupun. Tiba-tiba, sebuah tangan meraih wajahnya dan Luhan menutup matanya saat merasakan seseorang menciumnya dengan lembut.

Ini dia, Luhan pikir. Pemuda itu.

Luhan, merasa lega, menghela napas dalam ciumannya dan mendekat padanya. Dari mana saja kau? Pikirnya saat merasakan bibir pemuda itu di bibir miliknya. Apa yang terjadi padamu? Apa kau baik-baik saja?

Luhan tak menanyakannya secara langsung, terlalu fokus dan teralihkan oleh lidah pemuda itu di dalam mulutnya. Luhan melumatnya dengan tidak sabar, menarik rambutnya dan tangan pemuda itu bergerak perlahan ke atas bagian tubuh Luhan, menggodanya. Luhan melengkungkan punggungnya, menikmati sentuhan tangannya. Ia merindukannya. Ini. Kebersamaannya. Rasa dari sentuhannya dan kehangatannya.

Pemuda itu tak melakukan hal lain selain menyentuh dan menciumnya dan Luhan memeluk pinggangnya dan menggesekkan bagian bawah tubuh mereka. Pemuda itu, mengerti sinyal yang diberikan Luhan, menidurkan Luhan di tempat tidur dan perlahan mulai merenggangkan Luhan. Dengan lembut, ia mendorong dirinya memasuki Luhan. Luhan mendesis nyeri saat dia melakukannya. Ini sudah terlalu lama sejak terakhir kali mereka bersama dan pemuda itu berhenti.

"Tidak apa-apa." Luhan berbisik, mendekat ke telinganya dan pemuda itu bergerak pelan, dengan hati-hati menusuknya. Luhan mengerang nikmat setiap kali pemuda itu bergerak, tak melepaskan pelukannya pada pinggang pemuda itu. Ini terasa jauh lebih baik dari yang sebelumnya, pikir Luhan. Jauh lebih baik karena sekarang, ia tahu siapa dia. Ia tahu dia adalah pemuda itu.

Tapi Luhan menginginkan lebih dan menarik leher pemuda itu, menariknya lebih dekat, menyatukan bibir mereka dan saling melumat satu sama lain. Luhan mengharapkan sedikit saja cahaya agar ia bisa melihatnya, menatap matanya saat dia menusuk hole Luhan.

Dan ia berharap ia tahu siapa namanya. Sehingga ia tahu nama apa yang akan ia teriakkan nanti saat dirinya mencapai klimaks.

Luhan menaikkan kakinya, meletakkannya di sekeliling pinggang pemuda itu, memberikan akses yang lebih dalam. Luhan menyukai setiap tusukan lambat itu, menikmati waktu mereka bersama namun lambat laun, bergerak lebih cepat dan cepat lagi.

Luhan menggarukkan kuku-kukunya ke bagian belakang bahu pemuda itu, mencengkeramnya erat saat merasakan dirinya hampir meledak. Tapi ia tidak mau ini cepat berakhir, ia berusaha keras mengontrol dirinya. Ia ingin mencapai klimaks, tapi ia juga ingin memperpanjang momen ini karena ia tahu saat mereka selesai nanti, dia akan menghilang lagi. Dan ia tidak ingin dia pergi. Ia tidak ingin membiarkan pemuda itu pergi. Ia membutuhkannya untuk berada di sisinya. Keberadaannya. Kehangatannya.

Pada akhirnya Luhan tak bisa menahannya lagi dan ia membiarkan benihnya keluar, menggenang di tubuhnya dan ia memeluk pemuda itu selagi masa klimaksnya yang panjang juga keras terasa. Ia bisa merasakan cairannya sendiri di antara perut dan dada mereka dan setelah beberapa lama, pemuda itu mencapai klimaks di dalam dirinya. Luhan bisa mendengar napas mereka yang terengah-engah dan suara detakan jantung mereka. Luhan meletakkan tangannya di dadanya sendiri, merasakan detakan jantungnya sendiri dan pemuda itu berguling ke sampingnya.

Tapi Luhan menggenggam tangannya dan mereka berdua jatuh tertidur, saling menggenggam satu sama lain.

.

.

.

Luhan terbangun dan tak menemukan siapapun di sampingnya. Tidak seharusnya ia terkejut karena ia memang selalu terbangun sendirian. Tapi ia masih saja berharap ia akan terbangun di samping pemuda itu.

Luhan duduk dan melihat Lay dan Xiumin tertidur di salah satu sudut ruangan dan ia ingin tahu apakah mereka tahu kemana dirinya pergi semalam. Mungkin ia harus menanyakannya pada mereka, pikirnya saat kemudian pintu terbuka dan Luhan melihat asisten Kris masuk ke dalam.

Luhan mundur merapat ke dinding, tidak mau pergi dengan mereka tapi salah satu dari mereka mengatakan bahwa ini adalah jadwalnya untuk melakukan tes. Luhan menghela napas mengetahui mereka pasti akan memaksanya pergi jika ia tidak menurut, maka ia menyerah dan mengikuti mereka ke tempat tes.

Luhan bertemu dengan Suho ketika ia berjalan di sebuah koridor dan orang bermasker bedah berhenti berjalan ketika Suho bicara padanya.

"Bagaimana kabarmu?" Suho bertanya padanya dan Luhan terkejut. Kris tak pernah menanyakan keadaanya.

"Lebih baik." Jawab Luhan, mengakui bahwa ia memang merasa lebih baik. "Lebih baik dari terakhir kali kau melihatku."

Suho tersenyum padanya. "Bagus. Aku senang kau baik-baik saja."

Suho mengangguk pada orang bermasker bedah dan dengan segera kembali melanjutkan perjalanannya tanpa memberikan kesempatan pada Luhan untuk mengucapkan selamat tinggal.

Luhan memasuki tempat tes dan Kris sudah berada di sana, menunggunya bersama dengan secangkir kopi. Luhan menghirup wanginya, hampir melupakan bagaimana harumnya. Ini benar-benar sudah lama sekali sejak ia berada di sini, Luhan menyadarinya.

"Kau tidak akan melakukan tes pada mesin treadmill hari ini." Kris menjelaskan dan Luhan merasa lega dengan itu. "Tidak juga melemparkan benda ataupun menahan napasmu."

Lalu Luhan ingin tahu mengapa ia dibawa ke sini.

"Kau dibawa ke sini karena ada banyak hal yang harus dilakukan tapi aku tak bisa terus memantau tes-tes yang kau lakukan, maka kita lewatkan hal yang lainnya kecuali yang ini."

Luhan melihat Kris berbalik dan melemparkan sebuah bola padanya. Luhan menghentikan bola itu di udara dan dengan lembut meletakkannya kembali ke lantai.

Kris melihat semuanya dan tersenyum lebar.

"Kau ingin aku melakukan apa dengan bola ini?" Selain membuatnya bergerak, pikir Luhan.

"Lemparkan bola itu ke seberang ruangan." Kata Kris, kembali duduk di kursinya untuk menonton Luhan dan Luhan mulai berkonsentrasi.

Bola itu dengan mudah mengambang dan melayang ke arahnya dan Luhan mengamati beratnya dengan memegangnya. Bola ini lebih berat daripada bola yang lainnya.

"Gunakan tanganmu bila perlu." Kata Kris. "Tapi jangan menyentuhnya."

Luhan menghela napas namun ia merenggangkan lengannya dan bola itu menghampirinya. Bola itu mengambang di atas telapak tangannya dan menggesernya sedikit, memberikan kekuatan lebih karena bola itu tidak seringan biasanya.

Luhan menyesuaikan posisi berdirinya dan mengangkat bola itu ke kepalanya sebagaimana ia akan melemparkan bola baseball dan ia mengerahkan semuanya, melemparkan bola itu ke seberang ruangan. Tapi bola itu jatuh hanya beberapa inci darinya dan menggelinding di lantai.

Kris menatap bola itu menggelinding hingga ke ujung ruangan dan Luhan terus menundukkan kepalanya.

"Lagi." Kris menginstruksikannya, terdengar tidak terlalu senang.

Luhan berkonsentrasi membawa bola itu dan melakukannya lagi, membuat bola itu mengambang di telapak tangannya. Ia melakukan hal yang sama, melemparkan bola itu ke seberang ruangan tapi bola itu jatuh lagi dan menggelinding menjauh darinya.

Hening menyelimuti ruangan dan Luhan terlalu takut untuk bicara.

"Ada apa denganmu, 4-2-0?" Tanya Kris, menghela napas.

Luhan menatapnya. "Akan sedikit membantu jika kau memanggil nama asliku."

Kris menatapnya dan bersandar di kursinya. "Baiklah."

Dengan itu Luhan terkejut.

"Aku akan memanggil nama aslimu jika kau bisa melempar bola itu ke seberang ruangan. Bagaimana?" Kris bertanya dan Luhan mengangguk, akhirnya Kris mau berhenti memanggil Luhan dengan nomor eksperimennya.

Luhan mengambil bola itu dan mengangkatnya lagi. Kali ini, ia bisa merasakan tekanan berat dari bola itu pada bahunya dan ia meringis. Tapi ia tetap bersiap melemparnya dan saat ia melakukannya, bola itu masih saja jatuh ke lantai dan menggelinding menjauhinya.

Luhan menatap Kris dan sang dokter memijat keningnya.

"Aku tidak punya waktu seharian." Kris bergumam dan berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangan. Luhan melihatnya, takut dengan apa yang tengah ia pikirkan karena apapun yang Kris lakukan itu menakutinya setengah mati.

Kris berhenti ketika rasa penasaran mulai melahap Luhan dan Kris menatap Luhan lalu tersenyum lebar.

"Mungkin jika kami memberimu sedikit dorongan." Luhan mendengar Kris berkata dan matanya terbelalak ngeri dengan apapun itu yang Kris rencanakan.

"Tidak, tunggu, biarkan aku mencobanya lagi." Luhan mundur menjauh darinya namun asisten Kris telah memegang lengannya.

Kris mengabaikannya dan menuntunnya ke ruangan lain. Luhan gemetaran karena takut dengan apa yang akan dia lakukan dan ia hanya berdoa semoga Kris memberinya sesuatu yang mudah ditangani ketika asistennya mendorong Luhan ke dalam ruangan.

Luhan tersandung di dalam dan kehilangan pijakan. Ia menutup matanya dan menahan dirinya dari benturan namun tepat ketika ia terjatuh ke lantai, sepasang tangan memegang bahunya.

Luhan bergeming, jantungnya berdetak dengan liar dalam dadanya. Tangan ini, pikirnya. Adalah tangan yang memeluknya tadi malam... Luhan tahu ini dia. Ia sudah mulai terbiasa dengan pelukannya, memegangnya seperti ini. Ini dia.

Luhan perlahan menatapnya, ingin melihatnya dari dekat kali ini, ingin bicara padanya, menanyakan apapun. Untuk mengetahui keadaannya.

Luhan akhirnya menatapnya dan tercekat karena ini benar-benar dia. Pemuda itu. Pemuda yang memeluknya, yang bercinta dengannya, yang berbagi kenyamanan dan kehangatan yang pernah Luhan butuhkan. Pemuda rapuh yang Luhan rawat. Ini dia.

Namun ketika mata mereka bertemu, Luhan hanya bisa melihat pemuda ini kelihatan tidak begitu senang bisa bertemu dengannya.

.

.

.

( Kalian bisa baca cerita aslinya yang berbahasa inggris disini http: story/view/285621/revolution-action-angst-romance-exo-luhan-sehun-hunhan dari author hebat purpleskies : http: profile/view/240589 )

.

.

.

A/N:: aaaa... ralat-ralat! Nerjemahin itu ga terlalu asik. Apalagi di antara tugas yang menumpuk -_-

Waah, peningkatan pesat untuk angka reviewers *grin* tapi setelah dibaca lagi, ternyata ada beberapa pro-kontra /haseek/

Jadi gini, untuk readers yang bertanya apakah saya sudah meminta izin pada author asli, jawabannya adalah, iya. Saya sudah meminta izin secara langsung padanya. Dan sudah diberi izin langsung olehnya. Saya juga secara konstan memberinya link update-an fict ini. Jika tidak percaya anda boleh mengeceknya di profile sang author di AFF di alamat yang sudah saya tulis di atas. Jadi tolong jangan melihat saya seolah saya adalah orang tidak tahu malu yang seenaknya menerjemahkan fict milik orang lain. Saya juga seorang author jadi mengerti bagaimana rasanya.

Dan saya sangat-amat-betul-betul-sungguh berterima kasih pada yang sudah mereview :') saya cinta kalian :'D *tebar lope*

Btw, ada yang ngeh ini tanggal berapa? Haha, cuma nanya aja :P

Saya sedang sibuk, jadi belum bisa bales review satu-satu. Mungkin chapter depan saya bisa jawab pertanyaan anda semua :) Sekarang, minta review yang ini dulu, boleh?

Terima kasih~