Revolution

by

purplekies

.

.

.

Translator:: Kim 'Nyx' Eunjung

Pair:: HunHan and the rest of EXO

Genre:: Angst & Romance

Warnings:: Typo(s), Rated M untuk adegan dewasa, tema yang berat, dan bahasanya. Yaoi/BL/boy x boy. Jika tidak suka jangan baca.

.

.

~ Hope ya like it ~

.

.

.

Untuk bisa melupakan apa yang terjadi di kamarnya saat itu, Luhan menenggelamkan dirinya dalam tes-tes yang kini mereka sebut latihan. Entah untuk apa mereka dilatih, Luhan masih belum tahu. Ia bahkan sudah tidak peduli lagi. Selama ia bisa memberikan Suho dan Kris hasil yang diinginkan dan tak ada satupun yang terluka, ia tak masalah dengan itu.

Suatu hari, latihan mereka diubah menjadi saling melawan satu sama lain. Semua orang dikumpulkan di dalam anggar tempat Xiumin dan Luhan melawan makhluk alien tempo hari lalu, kini sedang diputuskan siapa yang akan bertarung lebih dulu. Sampai hari ini, Luhan masih belum tahu dari mana monster itu berasal dan ia merinding jika membayangkan apa yang akan terjadi kalau saja Sehun tidak datang tepat waktu.

Melihat ke sebuah kursi yang berada jauh darinya, ia melihat Sehun duduk di sana sedang menatap kosong pada dinding. Luhan tak tahu apa yang sedang dia pikirkan dan ia ingin tahu apakah dia pernah memikirkan tentang hari itu.

Sehun tidak pernah kembali ke kamar mereka lagi sekalipun. Atau mungkin dia sudah kembali tapi Luhan sedang tidak berada di dalam kamar bersamanya. Meski begitu ia melihatnya bersama Kai. Sepanjang waktu. Ia tak tahu apa yang mereka lakukan dan ia lebih memilih untuk tidak tahu. Namun lagi-lagi, Luhan tahu ia berbohong pada dirinya sendiri karena sebenarnya ia ingin tahu mengapa Sehun lebih memilih kehadiran Kai ketimbang dirinya.

Luhan terlempar keluar dari pikirannya ketika ia melihat Suho dan Kris mengambil tempat duduk di seberang mereka dan meminta Chanyeol dan Xiumin untuk maju ke tengah ruangan.

"Apa yang harus kami lakukan?" Chanyeol bertanya, berdiri di sana di tengah-tengah ruangan bersama Xiumin di hadapannya.

"Cukup saling melawan satu sama lain."

Jawaban Suho membuat Luhan menatap Lay dan ia memandangnya sedang menatap Xiumin dengan tatapan khawatir. Tapi Xiumin hanya tersenyum padanya, meyakinkannya bahwa dia akan baik-baik saja.

"Tak ada peraturan" Kris memberitahu mereka dengan senyum lebar. "Well, asal tidak saling membunuh."

Butuh beberapa waktu bagi Chanyeol dan Xiumin untuk memulai, tidak benar-benar tahu apa yang harus dilakukan. Suho melangkah maju dan membisikkan sesuatu pada Chanyeol untuk memulai pertarungan dan Xiumin menaikkan pertahanannya ketika Chanyeol merentangkan tangannya dengan tiba-tiba dan menembakkan api dari telapak tangannya ke arah Xiumin. Xiumin membungkuk dan berguling ke satu sisi, menghindari semua tembakannya.

"Aku benar-benar minta maaf." Chanyeol, berkata sementara sisanya dari mereka menonton, tertarik dengan bagaimana dia meminta maaf di tengah-tengah pertarungan. "Suho bilang padaku aku harus melakukannya atau kalau tidak Baekhyun—"

Xiumin tak menunggunya menyelesaikan kalimatnya alih-alih berlari menuju Chanyeol dan membekukan kakinya.

"Hey! Apa yang—"

Xiumin kemudian membekukan lengannya ke sisi tubuhnya agar dia tak bisa bergerak dan kemudian melangkah mundur untuk mengagumi hasil kerjanya.

"Tidak buruk." Kris berkata, mengangguk pada apa yang telah Xiumin lakukan namun Suho menyenggolnya.

"Tunggu saja."

Chanyeol hanya menyeringai pada Xiumin dan semua orang melihat es meleleh dengan cepat di lengannya kemudian di kakinya juga.

"Uh-oh." Xiumin berkata, matanya terbelalak dan Chanyeol tiba-tiba berlutut di hadapannya. Xiumin merentangkan tangannya membuat dinding es tebal untuk menghentikan Chanyeol namun pemuda itu membuat api di telapak tangannya dan melemparkannya ke dinding es, membuatnya meleleh.

"Dia semakin hebat." Kyungsoo berkomentar di samping Luhan dan ia mengangguk. "Juga semakin cepat."

Baekhyun di sisi lain hanya tersenyum pada Chanyeol dengan bangga.

Xiumin mengambil taktik baru dengan cara berputar sangat cepat dan menendang punggung Chanyeol. Luhan meringis ketika ia melihatnya terjatuh ke lantai tapi ia tahu tendangan itu tidak begitu sakit karena Xiumin juga tidak ingin menyakitinya.

Chanyeol beralih pada Xiumin dan menggenggam kakinya membuat celana yang dia kenakan menyala dalam kobaran api dan Xiumin mendengking.

"Baik! Baik!" Xiumin berseru, membekukan seluruh kakinya agar tak ikut terbakar. "Kau menang! Sekarang matikan apinya!"

Chanyeol tertawa dan menutup telapak tangannya, memadamkan api yang ada di tangannya. Dia kemudian melelehan es di kaki Xiumin dengan hati-hati dan membantu menariknya agar berdiri.

"Kerja bagus." Suho memberi mereka berdua ucapan selamat dan Chanyeol kelihatan berseri-seri. Namun Kris di sisi lain kelihatan sama sekali tidak suka akan hal ini dan Luhan menelan ludahnya, berharap dia takkan kehilangan kesabarannya.

Selanjutnya adalah Sehun dan Baekhyun dan Luhan melihat Baekhyun bertarung sama seperti ketika ia bermain bersama dengan Chanyeol. Dia terus membuat Sehun tak bisa melihat atau menarik cahaya dari penglihatannya, membuatnya meleset menyerang Baekhyun dengan hembusan anginnya. Namun akhirnya, setelah begitu banyak mencoba, Sehun berhasil menyerang Baekhyun dan dia membuatnya terbang membentur dinding. Tapi Sehun membuat bantalan angin di dinding itu agar Baekhyun selamat dari patah tulang punggung.

Yang terakhir untuk hari itu adalah Luhan dan Kai. Ketika ia melangkah ke tengah-tengah ruangan, Luhan kemudian merasa tak nyaman karena ia tidak tahu kekuatan macam apa yang dia miliki.

Aku seharusnya bertanya pada Lay, Luhan berpikir

Ketika mereka berkumpul di tengah-tengah, Kris berdiri di belakang Luhan dan menempatkan kedua tangannya di kedua bahu Luhan.

"Kai akan sedikit melakukan tipuan." Kris memulai dan Luhan benar-benar gugup.

"Mengapa dia harus melakukan itu?"

Ia mendengar Kris terkekeh di belakangnya. "Aku tidak akan memberitahumu untuk yang satu itu."

Luhan mengernyit.

"Tapi," Kris melanjutkan. "Karena kalian berdua tidak bisa benar-benar saling menyerang satu sama lain, aku hanya akan menyuruhmu satu hal."

Luhan menatap Kai di hadapannya yang sedang tersenyum jahil.

"Apa?"

Kris kemudian mendekat pada telinga Luhan dan berbisik, "tahan dia."

Luhan ingin tahu apa maksudnya ketika Kris kembali berjalan menuju tempat duduknya.

Menahannya? Luhan pikir. Bagaimana?

Luhan mendongak untuk menatap Kai saat kemudian ia menyadari dia sudah menghilang.

"Ahem."

Luhan berbalik dan melihat Kai sedang tersenyum lebar dan menyilangkan tangannya di dada tepat di hadapannya.

"Bagaimana kau—"

"Fokus, Luhan." Kris berkata dari sisi dan Luhan menatapnya dan mengangguk. Ia kembali beralih pada Kai dan melihatnya telah menghilang lagi dan ia melihat ke sekeliling untuk menemukan Kai yang kini telah berdiri di sisi lain area tempur.

Luhan berhenti sesaat ingin tahu apa yang bisa Kai lakukan. Terbang? Bagaimana mungkin dia bisa berada di sana dengan sangat cepat?

Mengamati kursi kecil di belakang Kai, Luhan membuat kursi itu melayang di udara. Ia tersenyum melihat Kai yang hanya menatapnya, tidak menyadari akan hal ini dan ia membuat kursi itu berayun untuk menyerangnya. Namun ketika ia melakukannya, Kai menghilang dan Luhan meleset.

Kemampuan tak terlihat? Luhan masih mengira-ngira dan tepat ketika ia memikirkan kemungkinan lainnya, Kai muncul di hadapannya, sangat dekat dengannya.

"Boo."

Luhan terlonjak ke belakang dalam keterkejutan dan terjatuh dengan punggung yang membentur lantai. Kai menyeringai padanya dan Luhan memandangnya horror. Tanpa menghabiskan waktu lagi, Luhan memaksa Kai untuk berhenti bergerak. Kai mengernyit namun dengan cepat ia menyelinap keluar dari 'genggaman' Luhan dan dia menghilang dan kembali muncul di tempat yang jauh darinya.

"Yang harus kau lakukan hanya cukup menahannya, Luhan." Kris menginstruksikan sementara Suho duduk di sana, terlihat sangat santai. "Hentikan pergerakannya sama seperti ketika kau menghentikan sebuah bola yang dilemparkan kepadamu."

Luhan memfokuskan diri pada Kai dan menemukan titik pasti yang bisa membuatnya tahu bagaimana mengontrol pergerakannya. Ia berkonsentrasi, memastikan dirinya bisa menahan Kai di lantai. Tapi setiap kali ia melakukannya, Kai terlihat bisa menduganya dan kemudian menghilang.

Ini berlangsung untuk beberapa saat, Luhan menghentikan Kai untuk kembali menghilang, menahannya namun Kai masih bisa berhasil melepaskan dirinya. Terus seperti itu sampai pertahanan Kai menurun, dia sedang melihat ke suatu tempat lain, hingga Luhan berhasil menahannya di lantai.

Kai memejamkan matanya, mencoba untuk bergerak. Luhan bisa merasakan dia memberontak, melawan cengkeraman Luhan. Ini seperti sedang menahan seekor hewan liar, memaksanya untuk diam namun hewan itu terus melawan.

"Kerja bagus, Luhan." Kris berkata, mengawasi Kai yang wajahnya berpeluh karena terus melawan. "Sekarang coba gerakkan dia ke arahmu—"

Segera setelah Kris mengatakan itu, Kai berputar dalam cengkeramannya dengan sangat kasar hingga Luhan merasa seolah kepalanya tersikut nyeri. Cengkeramannya pada Kai terlepas dan dia berhasil menghilang dan kembali muncul di dekat Suho, tangan di kedua lututnya dan terengah-engah.

"Hampir saja." Kris menggerutu dan Suho bertepuk tangan pada Luhan yang kini sedang duduk di lantai, kelelahan.

"Kurasa itu tadi sangat bagus. Dia menjadi semakin hebat, bukan begitu?" Suho berkata namun Kris hanya menghela napas.

"Kurasa." Kris menjawab namun Luhan tahu ia telah berhasil mengesankannya dan ia terus duduk di sana tersenyum lebar dalam hati.

Luhan menoleh pada Kai dan melihatnya sedang tersenyum padanya. Dia kemudian mengangguk padanya dan meskipun Luhan sangat tak menyukainya karena mengingat dia selalu bersama Sehun, ia mendapati dirinya balas tersenyum karena ia tahu bahwa ia dan Kai sudah melakukannya dengan sangat baik.

Dan Luhan harus mengakui apa yang Kai bisa lakukan itu mengagumkan.

Setelah Suho dan Kris memberikan mereka selamat, mereka diperintahkan untuk kembali ke tempat mereka dan Lay diberi tugas untuk menyembuhkan mereka semua. Karena Luhan tak memiliki sedikitpun luka lecet atau memar, ia duduk di samping Lay, melihatnya menggerakkan tangan di sekitar memar kecil di lengan Chanyeol dan luka bakar ringan di kaki Xiumin. Masih tampak mengagumkan baginya melihat semua orang menggunakan kekuatan mereka. Ia tidak setakut sebelumnya namun hal ini masih mencengangkannya akan apa yang bisa ia dan yang lainnya lakukan.

"Sehun?" Lay bertanya ketika ia telah selesai dan Luhan mencari Sehun di antara mereka semua. "Apa kau melihatnya?"

Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tak melihatnya di sini semenjak kita kembali."

Lay mengernyit. "Dia selalu menjauhkan diri. Sekarang bagaimana aku bisa menyembuhkannya?"

"Dia tidak terluka." Baekhyun memastikannya. "Aku tidak melakukan hal berlebihan yang bisa melukainya."

Luhan berdiri. "Aku akan mencarinya dan membawanya kembali."

Butuh beberapa waktu bagi Luhan untuk dapat menemukannya. Ia bahkan tidak yakin apakah ia benar ingin menemuinya sendiri karena memangnya apa yang akan ia katakan? Mereka tepatnya belum bicara satu sama lain setelah apa yang telah terjadi kala itu.

Luhan akhirnya menemukan Sehun berada di atap, duduk di pinggiran dan menatap semua yang ada di bawah.

Dia menoleh untuk melihat siapa yang datang dan saat matanya dan mata Luhan bertemu, dia memalingkan dirinya.

"Hey," Luhan memulai, perlahan merasa telah kalah lebih dulu.

Ia tidak tahu apakah ia benar harus menghampirinya. Maka ia bergeming di tempatnya, menunggu.

"Lay ingin tahu apa kau baik-baik saja." Luhan melanjutkan. "Dia sudah menyembuhkan yang lainnya yang terluka."

Masih belum ada respon dari Sehun dan Luhan menghela napas.

"Dengar, kita perlu bicara."

Sehun tiba-tiba berdiri dan Luhan melihatnya menghampiri pintu, bahkan tidak sedikitpun melirik Luhan. Marah karena diabaikan lagi, Luhan menutup pintu menggunakan kekuatannya. Pintu terbanting menutup di depan wajah Sehun dan ia menguncinya sementara dirinya bergeming di sana, menatap pintu itu.

Tangan Luhan terkepal di kedua sisi tubuhnya. Ini mulai menggelikan, pikirnya.

"Buka pintunya." Sehun berkata, suaranya dalam dengan punggung menghadap Luhan.

"Tidak." Luhan membantah. "Kita perlu bicara."

"Tidak, tak ada yang perlu dibicarakan." Sehun berkata.

"Ada apa denganmu?!" Luhan berteriak, menghampirinya. "Apa aku pernah melakukan sesuatu yang menyinggung perasaanmu? Karena jika benar aku pernah melakukannya, kumohon, katakan padaku karena aku mulai gila dan lelah diperlakukan seperti ini olehmu."

Sehun masih belum menatapnya.

"Suho memberitahuku bahwa kita adalah pasangan terikat." Luhan melanjutkan. "Aku masih belum bisa mengerti tepatnya apa itu tapi yang aku tahu adalah seharusnya kita saling membantu satu sama lain."

Luhan menghirup napasnya selagi berdiri di sana, menatap pada punggung Sehun dan berharap pesannya tersampaikan. Betapa ia ingin dia bicara, membantunya mengerti akan sesuatu hal, mengapa ia bisa berada di sini...

"Aku sudah cukup bingung dengan apa yang sedang kulakukan di sini. Para dokter tak memberitahuku apa-apa. Dan kau..."

Luhan membiarkan ketegangan terbentuk di kedua telapak tangannya.

"Aku bahkan baru saja mengenalmu." Luhan berbisik. "Tapi apa yang kau lakukan padaku... Efek yang kau berikan padaku..."

Luhan tak mengerti apa yang sedang terjadi di antara mereka dan untuk Sehun yang bahkan tidak mau peduli membuatnya semakin merasa frustasi. Ia tahu mereka tidak bisa terus seperti ini.

"Tidak ada yang ingin kubicarakan padamu."

Luhan mendongak ketika kata-kata itu meluncur dari bibir Sehun dan ia menatapnya.

"Benar." Luhan balas menjawab, tidak peduli lagi jika apa yang dikatakannya akan menyakitkan. "Benar. Karena kau egois dan kau hanya menginginkan kesenangan dan—"

Sehun meninju pintu dengan bunyi yang keras dan Luhan melihatnya menghirup napas dalam. Bahunya menegang dan Luhan tahu tangannya pasti sakit. Dia berbalik, matanya kelam dengan kemarahan.

"Kau tak tahu apa yang sedang kau bicarakan." Sehun memberitahunya, menghirup napas dalam-dalam.

Luhan menatapnya dan melihatnya gemetar. Ia tak mengatakan apapun dan hanya ingin Sehun mengeluarkan perasaannya. Memberitahunya semuanya.

"Kau tak tahu apa yang sedang kau bicarakan." Sehun mengulangi. "Kau pikir ini mudah? Kau pikir menghindarimu itu mudah? Kau pikir berada bersamamu itu mudah?"

Luhan menatapnya, terkejut.

"Pasangan terikat..." Kata Sehun dengan kelam. "Pasangan seharusnya bersama-sama. Tapi aku tak bisa melakukannya."

Luhan terlihat kaget mendengarnya.

"Kita tak bisa bersama. Kita bukan milik satu sama lain."

Kata-kata Sehun menampar Luhan dengan keras dan ia tidak tahu mengapa ia masih begitu terpengaruh oleh kata-katanya padahal pemuda ini, pemuda yang kelihatan rapuh ini hanyalah seseorang yang baru ia kenal.

"Kenapa?" Luhan bertanya, bahkan sampai harus mengumpulkan keberanian untuk menanyakannya.

Sehun mendongak menatapnya, matanya masih terlihat kelam namun Luhan bisa melihat di balik semua itu, dia lelah.

"Karena... kita berbeda."

Luhan tiba-tiba bingung. "Apa maksudnya?"

Sehun merendahkan kepalanya dan berbalik, kembali menghadap pada pintu.

"Mengapa tak kau tanyakan pada Lay?" Sehun berkata pelan. "Lagipula kalian berdua bicara sepanjang waktu."

Luhan masih kebingungan dan ketika ia menurunkan pertahanannya, Sehun membuka kunci pintu dan pergi meninggalkan atap.

.

.

.

Itu tadi adalah percakapan terpanjang yang pernah ia lakukan dengan Sehun, pikir Luhan sambil berjalan menuju ruang makan untuk mengambil segelas air. Ia kelelahan, baru saja kembali dari pertempuran melawan Kai dan kemudian ia dihadapkan pada masalah apapun itu yang baru saja Sehun katakan padanya. Ia juga kebingungan dan ia hanya menghela napas karena menjadi orang bingung belakang ini adalah sesuatu yang hanya bisa ia lakukan.

Luhan menuangkan segelas air untuk dirinya tepat ketika Kyungsoo masuk dan Luhan mengangguk padanya.

"Hey," Kyungsoo memulai, meraih gelas untuk dirinya sendiri. "Apa yang kau lakukan tadi di anggar itu sangat keren. Aku tidak tahu kau bisa mengontrol benda dengan pikiranmu."

Luhan tersenyum lemah padanya. "Thanks."

Kyungsoo menaikkan sebelah alisnya. "Kau baik-baik saja?"

Luhan mengangguk. "Yeah, hanya sedikit kelelahan."

Kyungsoo mengangkat satu tangannya untuk memberitahu Luhan agar tetap tinggal dan dia berjalan menuju sebuah lemari. Membukanya, Luhan melihat Kyungsoo mengeluarkan sebuah wadah kecil, menutup lemari itu dan kembali berjalan menuju Luhan.

"Ini. Kuharap ini bisa membantu." Kyungsoo berkata, membuka wadah itu dan Luhan mengintip ke dalamnya dan melihat kue cokelat chip.

"Kue?" Luhan mengambil satu, mengagumi makanan ringan itu. Kapan terakhir kali ia memakan kue?

Kyungsoo merona. "Yeah. Itu adalah makanan penenangku. Aku bertanya pada Suho apakah aku bisa membuat sesuatu di sini sama seperti yang biasa kulakukan saat di rumah. Dia berkata boleh dan dengan bahan-bahan yang telah kutemukan, aku berhasil membuat seloyang kecil kue. Meski begitu Chanyeol menghabiskan seloyang pertama dan Xiumin ikut bergabung bersamanya untuk mencuri loyang yang kedua. Sisanya berhasil aku simpan."

Luhan tergelak ketika ia mengambil gigitan pertama pada kuenya dan ia memejamkan matanya ketika rasa cokelat memenuhi indera perasanya.

"Ini sangat enak." Luhan memberi komentar dan Kyungsoo berseri.

"Terima kasih."

"Tidak, terima kasih." Luhan berkata. "Ini benar-benar sudah sangat lama sejak terakhir kali aku memakan kue cokelat chip."

Kyungsoo tersenyum padanya dan Luhan lanjut memakan kuenya. Ketika ia selesai, Luhan beralih pada Kyungsoo untuk bertanya apalagi yang bisa dia masak ketika ia melihat Kyungsoo sedang melihat keluar jendela, teralihkan.

Luhan mengalihkan pandangannya untuk melihat apa yang dia lihat dan melihat Sehun dan Kai sedang berjalan bersama, bersisian. Kelihatannya mereka sedang dalam pembicaraan yang serius lagi dan Luhan menghela napas diam-diam, mencoba melupakan insiden di atap.

Di sampingnya Kyungsoo menghela napas panjang dan Luhan beralih padanya, melupakan masalahnya sendiri ketika ia melihat Kyungsoo menunduk menatap lantai.

"Kau baik-baik saja?" Luhan bertanya dan Kyungsoo mendongak menatapnya dengan mata lebar.

"Apa?"

"Kau baik-baik saja?" Luhan bertanya lagi. "Kau kelihatannya... kelelahan juga."

"Oh." Kyungsoo menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum padanya. "Aku baik-baik saja. Aku hanya..."

Luhan mendengar suara Kyungsoo terputus dan ia menatap keluar lagi untuk melihat Sehun dan Kai berjalan bersama. Luhan kemudian menatap pada Kyungsoo dan melihatnya sedang menatap ke arah yang sama.

"Apa kau..." Luhan memulai dan Kyungsoo menatapnya. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk ikut campur tapi apakah Kai adalah pasangan terikatmu?"

Kyungsoo menatap Luhan untuk waktu yang lama dan Luhan berpikir mungkin ia sudah menyinggungnya. Namun kemudian Kyungsoo menggelengkan kepalanya dan menjawab.

"Bukan. Kai bukanlah pasanganku." Kyungsoo memberitahunya dengan pelan. "Aku belum diberikan pasangan."

Luhan mengangguk. "Oh."

Tapi Luhan tak bisa berbuat apapun selain berpikir bahkan Kyungsoo menyukai Kai.

Luhan berterima kasih pada Kyungsoo atas kue dan kebersamaannya dan kembali menuju kamarnya untuk tidur. Memang sedikit lebih awal tapi ia sangat membutuhkan istirahat setelah apa yang ia dan Kai lakukan ternyata sangat melelahkan. Namun ketika ia berjalan menuju kamarnya, Luhan melihat Lay berada di taman lagi, berbaring di atas rumput dan hanya menatap langit. Langit buatan, Luhan mengoreksi dirinya sendiri sambil berjalan menghampiri Lay.

"Hey."

Lay membuka matanya dan melihat Luhan yang sedang menatapnya dari atas dan Lay tersenyum.

"Hey."

Luhan mengambil tempat di samping Lay namun alih-alih berbaring di sampingnya, Luhan malah duduk, menekuk lututnya dan memeluknya erat ke dadanya.

"Ada apa?" Lay bertanya padanya dan Luhan menatap pada langit. Langit buatan.

"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?"

"Itu kau sudah bertanya." Lay terkekeh. "Tapi tentu, tanyakanlah."

Luhan berhenti untuk sesaat, memikirkan apa yang harus dikatakan ketika ia sendiri memutuskan untuk menentangnya dan hanya menerima apa yang ingin ia ketahui.

"Apa kita semua berbeda?"

Pertanyaan Luhan membuat Lay menatapnya.

"Apa maksudmu?" Lay bertanya. "Karena, iya kita memang berbeda. Seperti bagaimana aku bisa menyembuhkan dan kau bisa menggerakkan benda dengan pikiranmu..."

"Bukan, bukan." Luhan menggelengkan kepalanya. "Maksudku kita."

Lay terus menatapnya.

"Kau, aku, Xiumin..." Luhan melanjutkan. "Apakah kita semua berbeda dari Chanyeol, Baekhyun, Kai, dan Sehun?"

Lay kelihatan mengerti maksudnya dan mengangguk. "Aku mengerti. Kau menanyakan apakah mereka yang berada di bawah penanganan Kris berbeda dengan mereka yang berada di bawah penanganan Suho."

Luhan mengangguk. "Berbedakah?"

Lay menatapnya untuk waktu yang lama dan Luhan sudah tahu jawabannya bahkan sebelum Lay memberitahunya.

"Iya."

Meski begitu Luhan tidak mengerti mengapa dan sebelum ia bisa bertanya, Lay menepuk kakinya.

"Kau ingin bertanya padaku mengapa." Lay berkata. "Dan aku bisa memberitahumu karena aku telah berada di sini lebih lama ketimbang yang lain."

Luhan menatapnya ketika Lay duduk, menekuk lututnya mendekat ke dada juga.

"Tapi aku tidak bisa. Tidak seharusnya kukatakan."

Luhan merasa kalah mendengarnya.

"Ini untuk kebaikanmu sendiri." Lay berkata, memberinya sebuah senyuman lembut. "Kau akan tahu. Segera. Tapi sekarang bukanlah saatnya."

Dengan ini Luhan menghela napas berat. Kebingungan dan rahasia... kapan semua ini akan berakhir?

Suara langkah kaki terdengar di belakang mereka dan Lay dan Luhan berbalik untuk melihat siapa itu. Ternyata itu para asisten Kris dan salah satunya menatap mereka, Luhan tahu ialah yang dipanggil.

"Aku akan menemuimu nanti." Luhan menepuk bahu Lay sebelum berjalan bersama orang-orang ini menuju kantor Kris.

Luhan mendongak segera setelah ia ditinggalkan sendiri dan ia terkejut melihat Suho dan bukannya Kris.

"Kris sedikit sibuk saat ini." Suho memberitahunya, sambil tersenyum. "Tapi dia berkata kau tidak boleh melemah dan masih membutuhkan latihan."

"Kau pasti bercanda." Bahu Luhan terkulai. Ia baru saja melawan Kai pagi ini dan ia benar-benar hanya ingin beristirahat.

"Aku tahu kau lelah jadi mari kita lakukan ini dengan cepat, okay?"

Luhan tahu Suho hanyalah melakukan pekerjaannya maka ia meluruskan bahunya dan menghadapnya. Dan sejujurnya, Luhan sungguh lega mendapati Suho yang melatihnya ketimbang Kris.

"Baik kalau begitu," Suho kemudian merenggangkan lengannya. "Mari mulai dengan kau menahan seranganku."

Luhan membelalakkan matanya mendengar itu. Serangan? Tunggu, Suho punya—

Dalam sedetik, sesuatu yang dingin dan basah mengenai wajah Luhan dan ketika ia berhasil mengumpulkan fokusnya, ia menyadari dirinya basah dari kepala hingga ujung kaki.

"Apa..." Luhan mengusap matanya dan melihat Suho sedang menatapnya. "Kau..."

Suho tersenyum. "Ya Luhan, bahkan Kris dan aku memiliki kemampuan istimewa kami sendiri.

Air? Pikir Luhan.

"Lagi."

Luhan memperhatikan dengan seksama ketika Suho melambaikan telapak tangannya di udara dan air terbentuk di depannya. Luhan terkejut melihat hal itu namun tetap berkonsentrasi.

Suho melemparkan serangannya sekali lagi dan Luhan memfokuskan diri. Mengamati air itu terbang melewati udara dan menuju ke arahnya, Luhan menjauhkannya dan membuatnya meleset hanya beberapa inci dari dirinya.

"Sangat bagus." Suho berseri-seri menatapnya.

Luhan gemetar dalam pakaiannya yang basah kuyup. "Bagaimana kau bisa—"

Suho menggelengkan kepalanya. "Tidak sekarang, Luhan."

Luhan mengangguk dan mereka melanjutkan latihannya hingga sepanjang hari.

Suho sangat lembut ketika memperlakukan mereka, para eksperimen, tapi saat latihan, Luhan mendapati bahwa dia hampir seperti Kris, memastikan mereka semua bisa melakukan latihan dengan baik. Tapi tak seperti Kris, Suho tak menggunakan siksaan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

Luhan bisa melihat gerakan Suho sangat cepat. Dan kuat. Dia berhasil menyerang Luhan beberapa kali dan setiap kali dia melakukannya, serangan itu terasa semakin keras dari yang sebelumnya. Memang hanya air tapi ketika cairan dingin itu menyayat melewati kulit Luhan atau ketika menyerangnya dengan kasar dari belakang, tetap saja rasanya sakit.

Luhan juga berhasil mendorong air itu kembali. Menyerang balik pada Suho beberapa kali, membuatnya terkejut. Dan dalam satu kesempatan, Kris berjalan masuk tepat ketika Luhan berhasil mengembalikan air ombak besar milik Suho kembali padanya.

"Kurasa kita sudah cukup untuk hari ini." Suho berkata setelah Luhan kelelahan. Luhan mengangguk dan Suho meraih sebuah handuk dari salah satu lemari dan memberikannya pada Luhan. "Kau melakukannya dengan sangat bagus."

Luhan berterima kasih padanya dengan senyuman ketika ia menyelimuti dirinya sendiri dan mengeringkan rambutnya. Kris duduk di salah satu kursi yang kering ketika Suho menghampirinya membisikkan sesuatu ke telinganya. Meskipun samar, Luhan bisa mendengar apa yang baru saja Suho katakan.

"Awasi dia."

Luhan bertanya-tanya apa maksudnya itu ketika kemudian Suho mendongak dengan cepat menatapnya dan tersenyum.

"Kau masih perlu berkonsentrasi dan melatih kecepatanmu tapi perkembanganmu sudah sangat bagus." Suho kemudian beralih pada Kris. "Kau harusnya bangga."

Kris hanya mengangguk dan Luhan merasa lega dengan apa yang baru saja Suho katakan.

"Kami akan memanggilmu kembali beberapa hari lagi. Untuk sekarang, kau boleh mendapatkan istirahat yang kau inginkan."

Luhan berterima kasih pada Suho dan tepat ketika ia akan pergi, Kai muncul di dalam ruangan, membuat Luhan terkejut.

Kris dan Suho juga terlihat sama terkejutnya.

"Kai, kau tahu peraturannya. Kau tidak bisa begitu saja berteleport ke dalam sini kapanpun kau mau." Suho memberitahunya dan Kai mengangguk.

"Aku tahu, aku tahu. Kau bilang aku boleh melakukannya jika aku terburu-buru dan jika ada sesuatu yang penting." Kai menjawab. "Dan memang ada yang penting."

Kris menatapnya. "Apa yang terjadi?"

Kai menyeringai. "Chanyeol. Dia bermain dengan api lagi dan berhasil membakar beberapa peralatan olahraga. Xiumin terus mencoba untuk mengatasinya tapi kupikir mungkin kalian ingin tahu."

Suho menghela napas. "Aku mengerti. Baiklah, kami akan ke sana. Terima kasih Kai."

Kai mengangguk dan menatap Luhan. Luhan balas mengangguk padanya.

"Well, karena kau ada di sini, kau tidak keberatan sekalian mengantar Luhan kembali?" Suho bertanya dan Kris menghentikannya. Suho memutar kedua bola matanya. "Kris, Luhan tidak akan pergi kemanapun."

Kris menatap Luhan untuk waktu yang lama sebelum kemudian akhirnya menyerah. "Baiklah."

Kai mengisyaratkan Luhan untuk mengikutinya dan mereka meninggalkan keduanya di belakang. Ketika mereka keluar dari ruangan, Kai menatap Luhan yang terlihat basah kuyup dan terkekeh, "Suho?"

Luhan mengangguk. "Yeah."

"Well, dia juga kelihatan basah di sana maka kusimpulkan kau berhasil menyerangnya juga?"

Luhan tersenyum lebar. "Yeah, aku berhasil."

Kai tertawa dan Luhan mendapati dirinya merasa nyaman di sekelilingnya. "Itu bagus. Selalu ada tantangan untuk melawan Suho. Aku senang kau termasuk satu dari sedikit yang bisa benar-benar memberikan perlawanan padanya."

Luhan tersenyum mendengarnya.

"Ngomong-ngomong namaku Kai." Kai berkata dan Luhan terkejut dengan perkenalan yang tiba-tiba ini. "Aku tidak mengenalkan diriku dengan semestinya sebelum ini."

Luhan menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Setelah apa yang semua terjadi di sini..."

Luhan menghela napas dan melanjutkan. "Aku Luhan."

Kai mengangguk.

"Berapa lama kau sudah berada di sini?" Luhan tidak tahu lagi selain bertanya begitu ketika mereka berjalan kembali menuju tempat tinggal mereka.

"Sangat lama." Kai berkata, menyisir rambutnya dengan jarinya sendiri. "Tapi aku tidak tahu tepatnya berapa lama. Sangat mudah untuk kehilangan jejak waktu di sini. Tanyakan Lay dan dia akan mengatakan hal yang sama."

Lay... Luhan menyadari bahwa dia dan Lay adalah yang paling lama berada di sini dan ia menyadari bahwa Suho dan Kris paling mempercayai keduanya.

Berbicara pada Luhan membuatnya menyadari bahwa Kai adalah pemuda yang baik. Ia suka bicara dengannya dan ia mengerti mengapa Sehun menyukai keberadaannya. Cara dia berbicara, cara dia tertawa, semua itu membuatmu menginginkan untuk terus mendengar lebih dan ketika mereka memasuki pangkalan tempat tinggal mereka, Luhan menerima kenyataan bahwa Sehun memang lebih menyukai kehadiran Kai dari pada dirinya, jika Sehun lebih menyukai Kai ketimbang dirinya, maka biarkanlah.

Lagipula ia takkan pernah bisa menjadi seperti Kai.

"Sial."

Luhan mendongak ketika ia mendengar Kai dan matanya terbelalak melihat salah satu bagian bangunan terbakar.

"Apa yang terjadi?" Luhan menarik napas dan ia dan Kai berlari menuju bangunan, memeriksa untuk melihat apa yang terjadi.

"Tidak seperti ini ketika aku pergi." Kai berkata ketika mereka mendekati bangunan.

Keduanya mendapati Kyungsoo dan Lay menarik sebuah selang air panjang dan mengarahkannya pada bangunan yang terbakar tapi itu sia-sia. Kebakaran yang terjadi sudah terlalu besar untuk diatasi oleh sekedar selang air kecil.

"Apa yang terjadi?!" Luhan berteriak.

"Chanyeol." Lay terbatuk ketika asap mulai menyebar. "Kekuatannya lepas kendali."

"Di mana Xiumin?" Kai bertanya dan Xiumin berlari menuju mereka, wajahnya berbintik abu.

"Aku tak bisa menghentikannya." Xiumin terbatuk-batuk dan Lay membantunya berdiri ketika dia terlihat kelelahan. "Ini terlalu besar untuk ditangani."

"Apa yang sudah terjadi di sini?!"

Mereka semua berbalik untuk melihat Suho dan Kris menatap pemandangan di depan mereka.

"Tidak, jangan dijawab." Suho berkata. "Di mana Chanyeol?"

"Di dalam." Kyungsoo menunjuk bangunan yang terlihat hampir rubuh.

"Baekhyun? Sehun?" Suho bertanya, melihat ke sekelilingnya.

"Aku memanggil mereka untuk latihan tadi." Kris menjawab.

Suho berlari maju dan dalam sekejap menciptakan air. Ia mengarahkannya pada bangunan itu, mencoba untuk memadamkan apinya. Pada awalnya Luhan berpikir itu akan berhasil namun kelihatannya api itu terlalu kuat.

"Aku tidak bisa mengatasinya dengan apa yang kumiliki." Suho berkata dengan marah. "Aku butuh lebih banyak air."

Kris mengangguk. "Kyungsoo, Lay, ikut denganku."

Keduanya mengangguk dan mengikuti Kris sementara Xiumin, Kai dan Luhan tetap tinggal.

"Suho," Xiumin terbatuk. "Kita harus mengeluarkannya dari sana."

"Aku tahu." Suho menggigit bibirnya. "Kita akan melakukan apa yang kita bisa dulu."

"Tidak," Kai berkata dan mereka semua menoleh padanya. "Biar aku. Aku akan berteleport ke dalam dan membawa Chanyeol kembali."

Suho memegang satu bahu Kai. "Apa kau cukup kuat untuk berteleportasi dengan membawa orang lain sekarang?"

Kai menyeringai. "Kau sudah melatihku untuk ini. Harusnya kau tahu."

Suho tersenyum gelisah dan mengangguk. Luhan melihat Kai menghilang dari pandangan mereka dan mereka menunggunya kembali.

"Itu airnya." Xiumin menunjuk dan Suho dan Luhan ikut membantu. Suho menangani air dari selang dengan sangat baik, mengarahkannya pada bangunan.

"Ini lebih baik." Suho berkata.

Tiba-tiba, Kai muncul di depan mereka dengan Chanyeol yang melingkarkan lengan dibahunya. Keduanya tersandung jatuh ke tanah dan Lay segera berlari menuju mereka untuk menolongnya.

"Bahumu terbakar." Lay berkata dan Kai meringis ketika Lay merobek lengan bajunya.

Chanyeol kelihatan baik-baik saja meski terbatuk tanpa henti dan rambutnya terlihat hangus.

"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud begitu." Chanyeol berkata sambil terbatuk dan Luhan membantunya berdiri.

"Tidak apa-apa. Suho mengatasi semuanya dia bisa—"

"Sehun..." Chanyeol terbatuk dan Luhan menatapnya.

"Sehun apa?"

Chanyeol mendongakkan kepala menatapnya dan Luhan bisa melihat air mata dari matanya yang disebabkan oleh asap.

"Sehun, dia di dalam sana." Chanyeol berkata dan Luhan terbelalak. "Dia kembali lebih cepat dan membantu memadamkan api tapi ruangannya rubuh. Dan aku tidak tahu apa yang terjadi padanya."

Luhan kembali membaringkan Chanyeol ke tanah dan segera berlari menuju bangunan yang terbakar tanpa berpikir dua kali.

Xiumin memegang bahunya dari belakang. "Apa yang kau lakukan?"

"Aku akan membawanya kembali." Luhan berkata, mulai gemetar karena terlalu banyak menghabiskan waktu dengan hanya berdiri diam di sana.

"Tidak." Kata Kris. "Kita tidak tahu di mana dia dan kau bisa terluka. Kita akan memadamkan apinya dulu lalu menolongnya keluar."

Luhan menatapnya. Bagaimana bisa mereka menyuruhnya menunggu? Sehun berada di dalam sana!

Luhan berbalik dan kembali berlari, mengabaikan Kris ketika Kai menghentikannya.

"Aku akan melakukannya." Kai berkata. "Aku bisa melakukannya lebih cepat."

"Kau masih terluka!" Lay berseru tapi sudah terlambat dan Kai sudah menghilang.

Sehun... Luhan mengulang namanya lagi dan lagi dalam kepalanya, merasa kebas ketika memikirkannya.

Bagaimana jika dia sudah terbakar? Bagaimana jika dia terjebak? Bagaimana jika dia tidak berhasil selamat?

Jantung Luhan mulai berdentum melawan tulang rusuknya dan setiap kali begitu membuatnya semakin ingin menangis.

Detik berlalu, menit... Suho sudah melakukan kerja bagus dengan memadamkan api meski masih tersisa banyak dan tepat ketika Luhan berpikir tidak mungkin bagi Kai dan Sehun untuk keluar dengan keadaan baik-baik saja dan ia memutuskan untuk ikut masuk ke dalam, Kai tiba-tiba muncul dengan Sehun di lengannya.

Luhan merasa seolah beban berat diangkat dari dirinya ketika ia berlari menghampiri mereka. Namun Kai memberikan tatapan cemas saat ia mendekat dan Luhan ingin tahu kenapa ketika kemudian ia menyadari Sehun tidak bergerak.

.

.

.

( Kalian bisa baca cerita aslinya yang berbahasa inggris disini http: story/view/285621/revolution-action-angst-romance-exo-luhan-sehun-hunhan dari author hebat purpleskies : http: profile/view/240589 )

.

.

.

A/N:: Err... entahlah. Saya merasa chapter kali ini sedikit lawak (?) Angst sih, tapi menurut saya rada lawak. Tepat ketika part Luhan makan kue, aslinya saya juga lagi makan kue choco chip (fyi mereknya Good Time), saya juga jadi membayangkan muka Xiumin bintik-bintik kena abu gosong, rambut Chanyeol yang angus (dan entah kenapa tiap mau nulis nama Chanyeol jadinya malah Cahyo -_-), Suho yang uring-uringan gegara keabisan aer (yang mengingatkan saya gimana kali tuh kalo kemarau) dan Kris yang anehnya ga panik malah tenang aja bahkan hampir membuat saya berpikir bahwa dia sebenernya ga bersikap cool, melainkan cuma cengo ga tau mesti ngapain. Aokaokaokaok #plakplakplak

Uwaaaah~~ long time no see? Sudah berapa bulan sejak terakhir update? Haha. Maklum lah yah, saya baru-baru ini mendapat hobi baru. yaitu keluar masuk rumah sakit. Ngapain? Jadi tukang bebersih paruh waktu #plak. Ngga, beneran lagi sakit saya kok *cough*.. sakit hati #plak

Saya bingung mau bales review -_- kalo ditulis semua nanti kepanjangan. Tapi suwer deh reviewnya udah saya baca semua. Jadi saya tulis namanya aje ye? Jan protes. Ini masukin nama gratis. Kalo masukin nama ke hatiku bayar pake cintamu #tsaah

| Qhia503 | SaranghaeHunHan | Minerva Huang | hyena | WhitenPurple | nina | Shi Fa | miyuk | rinie hun | Guest | HaeSan | sonyeoncheonji | Akita Fisayu | KeepBeef CHIKEN CHUBU | kailuhunhan | nina | lisna. sianakmanza | dinodeer | Irish Magenta | ferina. refina | luhan | SaranghaeHunHan | StringKyu893 | Golden Peacock | mizu aleynn |

Saudara-saudara sekalian udah liat foto EXO di MBC Idol Star Olimpic? Akhirnya HunHan menunjukkan taring (?) mereka. Mereka tuh ya... ASDFGHJKLQWERTYUIOPZXCVBN SEMACAM NEBAR KEMESRAAN GITU APA MAU MEMBUKTIKAN MEREKA REAL ATAU GIMANEEE? ;;A;; Fakta hunhannya diganti eneh aja biar kalian pada penasaran #plak

-ada satu foto yang nunjukin Sehun lagi meluk Luhan dan tatapan tajem Sehun ngarah ke kamera seolah mengisyaratkan kalo 'LUHAN IS MINE!'

-ada video tentang Sehun yang lagi disorakin penonton (gangerti suruh ngapain) tapi Sehun gamau dan terus nunduk dengan Luhan yang terus meraba-raba (?) dagu sama pipi Sehun seolah meyakinkan dia. Akhirnya Sehun ngedongak dan sambil ketawa nolak permintaan penonton dan Luhan malah senderan di pangkuannya Sehun. (DEMI APA INI VIDEO HUNHAN FAVORIT GUE ;;;A;;; )

-terakhir untuk kali ini, ada foto mesra Sehun yang tiduran di pangkuan Luhan dan Luhan meluk dari belakang. Biasa sih emang, tapi yang bikin heboh, Luhan keliatan pegang-pegang(?) dada Sehun.

Udah ye, nuna mau pingsan dulu. Terlalu banyak HunHan moment. Jadi overdosis kudu ke rumah sakit lagi ntar jadinye #plak

Review dah noh

Gomawo~

I miss your ass~ Take care of it~ - Luhan to Sehun.