Warning: typos (maybe?), genre campur sari, historical-drama-fiction (?), oc's for Sebastian Parents, istilah meme atau 9gag bertebaran, bahasa tak baku , humor inside.

Summary: Ini adalah kisah, dimana seorang Pangeran mencari seseorang yang pantas menjadi pasangan takdirnya. Dengan 'teman' baru di tengah perjalanannya, petualangan pun dimulai.

NB: sedikit catatan, karena istilah 9gag bertebaran, kemungkinan scene OOC bakalan ada. Mohon perhatian dan bantuannya u_u

Oh ya, satu lagi…ini diantara Warning dan NB, saya sebetulnya tidak promosi atau macem-macem yang berhubungan dengan iklan atau animanga de el el. Kenapa gak saya sensor? Karena sensor dapat menimbulkan kurangnya humor, menurut saya sih :D (terserah pendapat anda :D). mungkin aja yang gak tau yang dimaksudkan karena sensor yang mengganggu. Toh, ini masuk rated T :p *gaplok author*. Sekian :D


Pada suatu lagenda yang terkenal di negeri Englandriaf, terdapat gua ajaib yang dihuni oleh para peri. Tapi bukan sembarang peri. Disebut begitu karena para peri penghuni gua ajaib ini sangatlah kuat sihirnya. Salah satu peri yang paling terkenal adalah peri cinta. Barangsiapa yang meminta bantuan percintaannya dengan peri ini, kelak akan terkabul. Konon, bagi yang beruntung, cintanya tak akan pernah pudar dimakan zaman. Masihkah ada yang percaya?

.

.

Pangeran Raven dan Putri Tsundere © Rainbow Walker Castle

Kuroshitsuji © Yana Toboso

.

.

.

That Story, Stranger

.

Cerita sebelumnya (kayak di komik-komik euy)

"Tidak perlu, ayah" jeda, Blaire menaikkan alis sebelah, "Biarkan aku yang menemukan pasangan takdirku sendiri. Aku akan pergi merantau"

Blaire menatap anak semata wayangnya, "Apa kau akan merantau?" Tanya Blaire.

Seolah-olah ada kilatan di mata Sebastian, ia menoleh kearahnya ala slow motion biar menambahkan efek dramatis. Dengan raut yang dramatis tapi ganteng emo kepedean, Sebastian menatap wajah ayahnya. Eh, mas Sebas, jangan gaya oh-so-gai, mas….ini bapak lo sendiri…

Tetap dengan wajah ganteng emo juga Blaire tatep-tatepan sama anaknya. Tatiana bengong bentar karena gak kebagian dialog disini.

JRENG. Ekspresi emo tadi berubah drastis jadi ekspresi Nicolas Cage 'You Don't Say'.

.

END

.

Mengapa diantara cerita-cerita sebelumnya yang lebih keren…kenapa pilih bagian ini sih (=_=)

.

Dari balik kusen jendela mewah istana terlihat raja dan ratu berdua menikmati pemandangan hamparan ladang gandum milik para petani. Terbenamnya matahari tepat di kincir angin bagaikan lukisan realisme yang naturalis. Memancarkan sinar kemerah-merahan dilangit. Entah mengapa saya menjadi puitis begini…—lupakan kalimat terakhir tadi—

"Matahari tenggelam di ufuk barat…..sudah sore…" basa-basi katanya—Raja—. Tatiana menunjukkan ekspresi Nicolas Cage yang populer dengan YOU-DON'T-SAY.

"Istriku, kenapa mukamu begitu?" tanya Blaire heran, tadi anaknya, sekarang istrinya. 'Apa ekspresi Nicolas Cage sangat populer di zaman ini?' batinnya.

Setidaknya populer di zaman saya (author), Blaire…..

"Tidak apa-apa. Oh ya, bagaimana keadaan Sebastian ya?", Jawaban yang dilontarkan Tatiana sukses menginterupsi Blaire yang asyik mencari suara gaib (baca: author) yang datang entah dari mana. Bagai datang tak diundang, pulang gak dijemput. Begitulah pepatah horror dari negeri Indonezria.

"Kamu ini bagaimana? Sebastian baru berangkat 8 jam yang lalu, kan? Apa kamu meragukannya?"

"Benar juga sih. Dia sudah besar, kuat, ahli bertarung dan tampan sepertimu. Tapi—….ah, mungkin aku terlalu memanjakannya" tuturnya tersipu.

Insting 'jahil' Blaire pun bersinyal ketika mendengar 'tampan sepertimu'.

"Mama nggak asyik nih. Masa' cuma Cebby –panggilan Sebastian waktu masih bayi. Believe it or not— dimanja, sedangkan papa nggak?" godanya manja.

Tatiana mendengus ala tsundere menanggapi suami sekaligus Raja negeri Englandriaf sementara suaminya masih menggodanya seperti halnya; 'mama ja-at ih' atau 'mama kalau cemberut tambah imut loh' dan sebangsanya, eh, sebagainya.

"Papa….ingat nggak?" jeda—membuat Blaire menghentikan 'gombalan' anehnya—, "…papa juga merantau demi aku?"

"Hahaha… mama mulai genit deh", kekehnya genit

"IIIIKKKHHH! PAPAAA!" teriaknya sambil menjewer mesra telinga Blaire yang sukses 'bermain' jahil dengan punggungnya.

Mulai deh, mesra-mesraan (ala suami-istri) kalau sudah berduaan. Tanpa pengawal yang menjaga didalam ruangan maupun diluar ruangan. Ditambah anaknya yang semata wayang pergi merantau entah kapan kembalinya. Kesempatan. Tipikal orangtua.

Sebelum otak kalian yang masih polos itu tercemar (atau malah udah tercemar #taboked), mari kita kembali menyusuri hutan.

Ditengah dedaunan dan pohon hutan yang rimbun, terdapatlah sebuah gua yang ukurannya tak terlalu besar, tak terlalu kecil.

Tapi didalamnya buntu—tak ada jalan keluar walau didalam gua terdapat lorong-lorong yang terpencar dimana-mana. Tapi sama saja. Buntu.

Tepat 10 meter dari mulut gua. Kita dapat melihat seorang pangeran, dengan perban membalut lengan kirinya. Wajahnya yang tampan begitu sedikit muram, begitu pula kudanya—tak mengurusi majikannya. Tetap mengunyah tumpukan jerami basah dengan selownya.

Manusia aja bisa cuek, apalagi kuda. Emang bisa?(#gubrak)

Sedangkan disebelah sang kuda, berdirilah sang pria misterius. Tengah memberi setumpuk jerami untuk kudanya. Mukanya terlalu datar. Begitu pula topinya yang ketinggian. Membuatnya harus memungutnya lagi apabila terjatuh akibat ketabrak stagmit gua. Berulang kali pula.

Sebastian menatap si jidat lebar dengan bosan.

.

Flashback~

"Salam kenal, wahai tuanku yang baru..Sebastian Michaelis.."

Sebastian sedikit terkejut. Perasaannya campur aduk. Cenat-cenut kenapa ada orang asing (asal-usulnya gak jelas pula) dapat mengetahui namanya.

"Kenapa kau…bisa—? "

"—mengetahui nama anda, Master?" manik topaznya berkilat. "—anda tak perlu tahu, Master"

"Hei! Kau sudah memotong kata-kataku tadi, dan sekarang kau bilang 'tak perlu tahu'. Dan lagi kau memanggilku dengan sebutan Master! Aku bukan majikanmu!" sembur Sebastian dengan sewotnya.

Konon, sifat sewotnya ini turun dari ibunya.

"Tapi, Master…—,"

"Aaagh! Tuh kan master-master lagi! Udah gue bilang, gue bukan master lu! Kenal aja gak!" sembur Sebastian tambah sewot.

"Tapi itu karena—"

"Apa!?"

"Naskah ini…Seba—Sebastian.." katanya sambil menyerahkan setumpuk lembar kertas naskah.

Sebastian dengan nggak sopan-sopannya langsung main comot naskah nista itu.

[Sinetron Laga: Master Lumping and friends]

Sebastian sweatdrop. 'apa-apaan ini!?' tanyanya dalam batin. Tapi dengan ke-kepo-an tingkat mahadewa, ia membaca lanjutannya.

[Scene 1]
Seorang kesatria yang merupakan pangeran dari negeri seberang mengendarai kuda hitam pergi berkelana sendirian.

Sebastian menatap dirinya sendiri dan kudanya. Anjir….kudanya hitam dan dia sendiri pangeran.

Ia pun lanjutin baca.

[Scene 2]
Si kesatria tapi Pangeran itu minta ijin sama orangtuanya untuk merantau.

Sebastian manggut-manggut jenggot. Tapi karena secara teknis (?) ia tak punya jenggot, maka ia manggut-manggut belah tengahnya.

[Scene 3]
Terjadilah scene terlarang antara orangtua si Pangeran.

Mata Sebastian menyipit disertai muka orang cengo dan sweatdrop.

[Scene 4]
Pangeran berkelana mencari istri. Tetapi saat di gua, ia bertemu pria aneh yang diduga siluman spiderremang yang suka memangsa bocah shota.

Ekspresi Sebastian mulai horor tapi ia lanjutin baca.

[Scene 5]
Siluman spiderremang menyapa si Pangeran tapi Pangeran tak mengenalnya. Padahal mereka adalah teman sepermainan. Untuk meyakinkan si Pangeran yang ngakunya emo, Spiderremang memberikan naskah ini. Bagi yang membaca silahkan baca ini dari awal scene—

BREEEEEEEKKKKK *suara kertas sobek*

"Woi! Ini apaan sih!? Isinya gila.." geram Sebastian sambil nyodok-nyodok muka si orang-asing-misterius itu pake naskah yang setengah terbelah. Dengan anggunnya, si orang-asing-misterius itu menyingkirkan kertas naskah setengah terbelah dua itu dengan tangan kanannya lalu ia berkata,

"Itu Mirai Nikki !" dengan ekspresi Nicolas Cage.

Sebastian kaget. "Mirai Nikki? Ciyuss lo? Gue masih belum mau mati di tangan pemilik Mirai Nikki kedua Dx "

Si orang-asing-misterius itu facepalm. Over-extremely-facepalm tepatnya.

Ia menabok pipi Sebastian pake kertas naskah tadi, "Bego. Udah tau kita dari fandom Kuroshitsuji, kok tiba-tiba nyambung kesono (Mirai Nikki) sih, mas? Ini kan bukan crossover!" katanya ngocehin si Sebastian. Padahal dia yang pertama kali yang nyambung-nyambung ke fandom lain (-_-)

"Eh, mas! Jangan dikasih tau kalo kita ini lagi syuting fanfic (?) ! aduh… gimana sih toh?" sahut Sebastian balik marahin si orang-asing-misterius yang langsung bisik minta maaf.

Lalu keduanya terdiam.

"Baidewei, kamu sudah tahu nama saya. Tidak sopan jika saya tidak mengenal nama anda" ucap Sebastian buka awal pembicaraan dan jabat tangan.

"Nama saya Claude Faustus. Iblis yang sudah terikat kontrak darah anda beberapa belas menit lalu. Karena itulah saya bisa keluar. Mulai detik ini saya akan memanggil anda Master. Nah, mari kita akhiri drama-dramaan ini. Aku capek."

Wajah Sebastian seperti mengatakan 'Why Not?'. "Ya, aku juga capek. Laper gak? Kita ke Laundry yuk?"

Claude merangkul Sebastian layaknya sahabat lama, "Ayo! Hei, disana ada bubur digoreng gak?"

Sebastian mengangguk dan mereka berdua berlalu dari tempat ke Laundry untuk istirahat makan siang. Lalu diakhiri juga dengan logo berbentuk huruf M di mesin cuci sebagai icon iklan ini.

.

.

(yang tulisan bercapslock dibawah ini adalah murni teriakan Reinbi)

HEI MAU KEMANA KALIAN BERDUA!? HARUSNYA KALIAN BERTARUNG DAN KENALAN SESUAI NASKAH SAYA! APA-APAAN KALIAN INI!? FLASHBACK-NYA JADI KEPANJANGAN GARA-GARA DIALOG ANEH KALIAN! HEI KEMBALII! NGAPAIN KE LAUNDRY BUAT MAKAN SIANG!? SAMPE AMERICA TAHAN PUASA GAK MAKAN BURGER PUN, GAK ADA BUBUR DIGORENG! Dan lagi…..MEMANGNYA DI TENGAH HUTAN ADA LAUNDRY!?

Ah ya sudahlah! Lupakan saja! End of flashback langsung!

End of Flashback (dengan terpaksa)

.

Sebastian menghela nafas panjang lalu ia keluarkan. Tarik nafas….keluarkan… *sfx: suara kentut* Woi, jangan keluarin lewat belakang dong mas!

Ehem. Sebastian dengan gaya emo kebosenan ia ngelirik-lirik Claude…berharap bisa keluar bareng ke Laundry dan makan disana. Tapi sang author sudah menjaga pintu keluar biar gak kabur lagi.

"Master..saya lihat anda adalah perantau. Kemana tujuan anda selanjutnya, Master?" Tanya Claude dari belakang membuat Sebastian berjengit kaget tapi demi harga diri seorang Pangeran Emo berkualitas tinggi yang difermentasikan, eh maaf, maksud saya sebagai Pangeran Emo sejati ia jaga image. Pura-pura gak kaget.

"Hm! Aku bukanlah perantau biasa. Melainkan… aku adalah…. *sfx: suara show jadul berputar* (sambil bergaya ala James Bond)...PERANTAU YANG AMAT BIASA-BIASA SAJA! Yeaah.."

Claude dan para kru yang menyunting (emang ada?) termasuk author bergubrak massal.

"Euuh…Master?" Tanya Claude setelah Sebastian selesai gaya-gayaan. Ia ingin sekali bertanya "Rumah sakit jiwa yang menampung Master itu dulunya dimana?" tapi ia urungkan. Takut digaplok pake kayu batangan.

"Claude Faustus…kau adalah iblis yang terikat kontrak darahku yang paling awesomeness emo ini. Mulai sekarang aku Master-mu. Turuti semua perintahku dan ini absolute." Kata Sebastian sambil menaruh pedang yang entah dari mana ke pundak kanan Claude yang udah jongkok.

Eh, kenapa jongkok dan bukan berlutut pake satu kaki ? Itu karena berlutut ala kesatria itu udah terlalu mainstream.

Sebastian melanjutkan. "Aku—putra keluarga Kerajaan Englandriaf, Sebastian Michaelis, dengan segala hormat aku memberikan hak dan kewajibanmu untuk jadi babu-ku."

Sudut bibir Claude mencong sebelah, mencerna kalimat Master barunya itu dengan kebingungan. Claude harap ia tidak lupa mendaftar tuntutan di Komnas HAM untuk jaga-jaga.

"Yes, my Lord."

.

.

Akhirnya Claude dan Sebastian keluar dari gua. Ngapain? Cari Laundry terdekat buat makan dong…ya enggaklah! Mereka memulai petualangan baru untuk menuntaskan misi (?) awal Pangerannya ini, nyari pendamping hidup.

Sebastian mengendarai kudanya dan kudanya mengendarai Claude. Eh, enggak kok. Hanya Sebastian yang mengendarai kudanya sedangkan Claude mesti tahan dengan otot kakinya yang mulai capek gara-gara jalan kaki menuntun si Pangeran.

Hati Sebastian yang sudah terbentuk dan terlatih untuk menjadi pemimpin masa depan, ia merasa iba dengan babu barunya itu. "Claude, lu capek gak?"

"Tidak." Jawabnya begitu singkat.

"Tapi keringatmu banyak lho.."

"Keringatku tidak pernah banyak sejak lahir, nanodayo" jawab Claude sambil membenarkan kacamatanya sehingga ia mirip seseorang tapi Sebastian tidak peduli.

"Beneran?"

"Bener…"

"Serius?"

"Serius se-ciyus-ciyusnya, Master…." Katanya meraskan dahinya berkedut-kedut. Kesan pertama yang ia dapat dari Master-nya ini ternyata bukan hanya narsis tapi nyebelin ikut termasuk rupanya.

Oh, jangan lupakan Emo alay-nya juga, pembacaku.

"Enelan?"

Tanpa ba-bi-bu Claude yang kesal langsung menjentikkan jarinya. CTIK! Lambhorghini yang entah dari mana muncul disana. Sebastian dan kudanya ikut terbengong.

Jari telunjuknya memutar-mutarkan kunci mobil. Masuk kedalam mobil super keren itu, "Ayo saya antarkan, Master"

Dengan ekspressi yang masih terbengong, Sebastian nunjuk-nunjuk Lambhorghini (yang entah milik siapa) yang keluar dari mejik-nya Claude. "Seriusan ini punya lo?"

Si empunya jidat terkinclong itu terdiam sejenak. "Iya. Ini asli punya saya. Bahkan saya punya SIM sampai sertifikat-sertifikat lengkap. Tapi…ada tapinya nih…"

"Apa itu, Claude?"

"Mobil ini belum saya lunasin. Saya nyicil dulu pake kredit. Nunggak dua taun nih.." GUBRAK! Sebastian dan kudanya tergubrak mesra bersama. Claude nyengir-nyengir.

Karena takut ada orang kreditan lewat nagihin atau gak sesuai jaman yang berlaku (?) akhirnya Claude mengganti mobil yang kalau dibeli bisa nguras gaji puluhan tahun ini dengan kuda.

CTIK! Ia menjentikkan jarinya lagi. Mobil itu tadi berubah menjadi kuda berwarna abu-abu bersurai kuning pudar. Ia segera menunggangi kudanya.

"Menurut saya, disini ada Laund—maksud saya pendesaan di sekitar sini. Ayo Master!" kata Claude ala-ala cowok-cowok ganteng di komik Candy-Candy sambil mengawal Sebastian yang mengekor dibelakang.

Suara langkah kaki kuda berderu di tengah hutan. Disekitar tanah hutan yang lembab sudah dipenuhi dedaunan kering gugur dari rantingnya. Daun pohon kenari dan pinus paling mendominasi. Warna kuning kecoklat-coklatan daun menghiasi siang yang tak begitu panas. Saatnya kita menjemur pakaian. Eh bukan ya?

Iblis itu merasa janggal. Dengan pendengaran berkualitas super yang didapatkanya berguru dengan om Spiderman, ia tak mendengar suara langkah kaki kuda milik Master nya dibelakang. Claude segera menoleh.

"Eh?" tak disangka, Sebastian dan Claude berjarak sangat jauh padahal mereka hanya baru mulai menyusuri hutan. Dengan kesal Sebastian mengejar Claude yang sudah berhenti jalan.

"Woi, jidat. Lu gak usah ngebut-ngebut napa sih? Lagian tuh kuda lu kasih makan apa? NOS, bensin, nuklir!?" tanya Sebastian berturut-turut.

"Sepertinya mobil yang saya ubah menjadi kuda ini tak mengubah power-nya, Master. Makanya sekali jalan bisa ngebut gitu. Lagian sekalian biar gak ditagih orang dulu"

"…..iiiihhh..curang lo… babu sialan lu"

"Maafkan saya, Master.." Claude sweatdrop liat tingkah laku absurd Masternya itu. Apa orangtuanya seperti itu juga? Ia tidak mau tahu.

Singkat kata atau author ini bisa dibilang terlalu coretMALAScoret capek dengan dialog dan story absurd buatannya sendiri, ia memutuskan Sebastian dan Claude sudah sampai di gerbang masuk desa.

Gerbang desa itu begitu kokoh. Kalau dilihat lebih detail, gerbang ini mengingatkan gerbang di Terminal Grey (1) bahkan dinding tebal yang mengelilingi perbatasan desa mengingatkannya beberapa animasi kesukaan author.

Sebastian curiga bakal ada monster yang doyan makan manusia bakal ngancurin tembok dan dia harus memusnahkannya dari dunia manusia atau jangan-jangan dia harus menghentikan wabah lebah yang bakal juga menjangkitinya?

Oh, setop Sebastian. Setop. Kau kebanyakan nonton anime. (bukannya author yang overdosis nonton anime?)

Claude yang dasarnya punya pemikiran logis alih-alih mesum, ia mendekatkan diri ke salah satu penjaga gerbang disana. Penjaga gerbang disana ada dua di loket masing-masing. Claude mengarahkan kudanya ke loket yang papannya bertuliskan MASUK di atasnya.

"Mas, ini loket masuknya?" Tanya Claude datar. Sang penjaga loket membalasnya dengan senyum 'You Don't Say' sambil menunjukkan tulisan papan loket masuk.

"Iya, mas. Kalau mas-mas mau masuk ke desa, harus bayar jalan tol. Sekaligus surat izin masuk dan keterangan masuk lainnya. Sertakan juga identitas diri, foto, cap jari dan tanda tangan. Kami juga akan memeriksa mas-mas sekalian, jaga-jaga jika mas-mas ini adalah buronan atau teroris." Tutur si penjaga loket dengan ramah. Mas-mas yang tak lain Sebastian dan Claude berasa awkward moment.

'Ini mau masuk desa atau mau buat e-KTP sih?' batin mereka berdua secara serempak.

"Silahkan isi keterangan diri disini. Lalu kudanya—"

"Disuruh isi keterangan diri juga, mas?" potong Sebastian yang mulai jengah. Penjaga loket (sekaligus gerbang) itu menggeleng pelan, "Bukan gitu maksudnya, mas. Maksud saya, kudanya bisa diparkir di parkiran kuda yang tak jauh 10 meter dari sini mas. Tidak dikenakan biaya."

Sebastian ber-oh ria menanggapinya. Claude sih tinggal pakai mejik, beres. Daripada kudanya diparkir terus ketahuan tukang kreditan yang lewat gimana?

"Semuanya dikenakan biaya sebesar sepuluh ribu rupiah per/orang." Sebastian memberikan dua puluh ribuan yang sedikit lecek diujungnya ke penjaga loket tersebut. Penjaga loket yang ramah itu menekan tombol di dekat monitor, segera saja portal yang menghalangi jalan masuk itu terangkat ke atas dan mereka pun langsung masuk desa.

"Selamat datang di desa kami" sang penjaga loket yang ramah itu mempersilahkan sambil memamerkan senyum manis plus kumis yang rada seksi ala kenek bis.

Heee, di desa ini udah ada komputer, kenapa di kerajaan Sebastian nggak ya?

Setelah Sebastian memarkir kudanya, ia dan Claude berjalan kaki ke tengah desa yang ramai. Sangat ramai. Tunggu, ini desa? Ciyus demi mie apa ramenya kayak kota besar gini?

Baliho, poster, papan-papan iklan dimana-mana apalagi poster pemilu yang bertebaran di tembok jalan. Gedung pencakar langit ada di beberapa titik. Jalan aspal dan yang lainnya. Ini tidak seperti di desa umumnya yang ada sawah atau peternakan di berbagai tempat. Sebastian dan Claude mendongak ke iklan berjalan di dekat air mancur yang berada tepat di jantung desa.

SELAMAT DATANG DI DESA LONDANIA (2)

"Eh?"

(hening sejenak lagi)

.

.

"Hadoooh…. Capek bener dah gue" Sebastian merebahkan dirinya ke tempat tidur kayak sehabis dikejer banteng asli dari Espandria (3). Claude meletakkan barang belanjaan yang merupakan kebutuhan dasar dan sebagainya di meja tamu. Setelah dibingungkan 'ini desa atau kota' (dan faktanya ini tetaplah desa), mereka berbelanja kebutuhan masing-masing dan beristirahat di apartemen yang baru saja disewa Sebastian.

Apartemen itu gak luas, gak sempit, dan sederhana. Terdapat tiga kamar, satu kamar mandi, ruang tamu, gudang, dapur serta balkon yang di ruang tengah menghadap tepat ke kapel sederhana di sebelah barat apartemen. Just info, apartemen mereka berada di lantai lima.

Sebelumnya Claude pernah bertanya ke Sebastian, kenapa gak menyewa flat saja. Tapi Sebastian berkata "Mahalan coy". Bukannya sama saja ya? Eh, tapi author sendiri belum pernah menyewa apartemen atau flat atau ini itu sebagainya. Payah deh atuh -_-

Claude membawa bahan makanan ke kulkas yang sudah tersedia disana. Anehnya semuanya sudah komplit peralatan rumah tangga dan segala dada bengeknya (karena 'tetek bengek' itu mainstream) tertata rapi disana. Atau ini memang fasilitas yang disediakan dari awal? Entahlah. Jangan salahkan author yang belum tahu apa-apa.

Sebastian yang kurang kerjaan ikut berada di dapur melihat Claude bekerja dalam diam. Ia diem liatin Claude yang asik-asiknya kerja layaknya ibu rumah tangga. Biar lebih mirip, Claude tinggal dipakein apron renda-renda warna pink plus bordiran logo beruang yang menjadi icon 'musuhnya para shota yang ketakutan', lengkaplah Claude versi Ibu rumah tangga.

Claude menghiraukan tatapan Masternya itu dan tetap mengecek segala sesuatu di dalam kulkas tersebut.

"Bawang merah, bawang putih, Bombay, daging sapi, ya, ya, ya, sudah semua kayaknya." Katanya sambil mengecek semuanya di kulkas dan kertas belanjaan secara bergantian. Tapi alisnya naik sebelah melihat ada satu lagi yang kurang.

"Daun bawangnya pada kemana nih?" katanya lalu mencari daun bawang di dalam kulkas dan kantong belanjaan tapi hasilnya nihil. Daun bawang itu hilang entah kemana.

"Waduh, jangan-jangan jatuh dijalan…kalau nggak ketinggalan di kasir pas mau bayar. Duh, eh, Master aku akan pergi sebentar untuk—Master? Apakah anda Master saya?"

"Ya? Ada apa Claude?"

Pantas saja daun bawangnya hilang. Begitu pas ia meleng sebentar, Masternya sudah berbuah wujud (?) dengan daun bawang hasil colongannya.

Rambut Sebastian yang agak panjang-pendek (?) itu dikuncir dua plus pita hitam berstrip merah. Kedua tangannya memegang daun bawang yang bentuknya huruf Y sempurna.

"Sekai de~ ichi-ban no hime sama!" (tangan kanan didada tak lupa dengan daun bawang disana)

" Sou iu atsukai kokoro eteee~!" (goyang sana-sini terus teriak)

"yo ne?" (muka inosen ala moe. Jari telunjuk kiri di dagu)

"….." Insiden Sebastian menyanyi lagu yang dinyanyikan Hatsune Miku membuat Claude terdiam (atau shock?). Sekarang level muka datar Claude naik satu bar. Dari Stoic Face menjadi Extremly Stoic. Selamat ya nak.

"Sepertinya semua daun bawang harus dicuci pakai air tujuh kembang" kata Claude yang akhirnya bangkit dari kesyokkannya. Kalimat Claude memang bikin orang tersinggung apalagi jika itu ditujukan untuk Pangeran (yang ngakunya) emo dan berjiwa kesatria Chuunibyou kayak gini. Untungnya Sebastian tak mendengar itu dan bernyanyi melanjutkan lanjutan lagu tersebut.

Claude memungut daun bawang yang berserakan lalu menaruhnya di kantong plastik. Setelah beres, ia menyiapkan baskom berukuran sedang penuh air didalamnya. Menaruh kembang tujuh rupa yang entah kapan dan dimana ia bisa mendapatkannya. Tak lupa ia memasukkan semua daun bawang ke dalam baskom itu dan membilasnya hingga bersih.

Bersih kinclong biar kuman dan virus yang ada pada Masternya tidak menulari daun bawang tersebut. Mungkin Claude takut bakal lepas kendali kayak Masternya lalu mengkuncir rambut ala tokoh Diva Vocaloid. Membayangkannya saja udah ngeri. Apalagi kalau terjadi beneran, mau jadi apa iblis keren macam dia ? Apa kata neraka nanti?

Sebastian tetap menyanyi dan berhenti menyanyi saat ia berada di balkon. Tepatnya di depan pagar balkon.

"Hei Claude!" panggil Sebastian ke Claude yang tengah khusyuk mencuci daun bawang. Yang dipanggil merasa jengah dan menoleh, "Ada apa, Master?"

Sebastian menunjuk ke pusat desa dengan daun bawang yang masih di tangannya. Senyum lebarnya tampak membuat Sebastian menjadi sangat OOC. Oh jangan lupa ya, Sebastian masih belum melepaskan kuncir duanya itu.

"Besok…kita akan bekerja sama untuk mendapatkan pendamping hidupku! Yeah!" teriak Sebastian menatap Claude dengan mata berbinar-binar.

Entah mengapa beban di punggung Claude semakin berat seiring perintah Masternya. Tapi ia tak bisa menolak itu. Haaah…

.

.

"Haah… baiklah. As Master wish."

.

.

That Story, Stranger [END]

.

.

.


Omake?

"Besok…kita akan bekerja sama untuk mendapatkan pendamping hidupku! Yeah!" teriak Sebastian keras hingga suaranya keluar dari apartemen. Keadaan desa itu kebetulan ramai karena hari minggu, jadi bisa dipastikan seluruh orang yang berada di bawah maupun tetangganya dapat mendengar suaranya.

"Haah… baiklah. As Master wish." Jawab Claude setengah hati. Setengahnya lagi ia pengen bunuh diri entah kenapa. Ia tidak mau tahu alasannya. Bahkan ia gak tahu alasannya (?).

"Yeyey~ yeyey~ jeng jeng~" racau Sebastian makin menggila berpura-pura mengjrengkan gitar dengan daun bawangnya itu. Ia mengulang-ulangnya sampai jingkrak-jingkrak. Claude yang masih mencuci daun bawang itu berpikir apakah Master nya itu berhalusinasi akbiat overdosis LeekDrug (4) dan menjadi Leek Addict.

"Master, tolong hentikan tingkah laku anda. Nanti anda dilihat orang, ntar gak laku gih" sahut Claude dan tetap saja, Sebastian gak mau berhenti.

Sebastian menari-nari tak lupa pura-pura mengjrengkan gitar daun bawangnya itu. Berputar-putar dan tiba-tiba…

"Jrreeeennnggg~~—heh?" saat Sebastian berputar-putar, ia melihat sebelah kanannya, tepat balkon tetangganya. Tetangganya yang tengah menyiram bunga kini matanya tertuju ke Sebastian. Sialnya, tetangganya itu adalah seorang nenek yang renta sekali. Mereka berdua sama-sama hening.

"Eh, uh…maaf ya, nek. Mengganggu ya? Maafkan saya…silahkan dilanjutkan..maaf jika saya mengganggu…permisi" ucap Sebastian dengan pelan dan lembut. Kepalanya tertunduk menahan malu atau malah menutup mukanya biar gak diingat wajahnya oleh si nenek renta ini.

Wajah nenek ini tak jauh dengan wajah shock Claude tadi. Untung Sebastian gak stripping di balkon. Kemungkinan nenek itu bakalan jantungan dan koit sehingga keesokan harinya seluruh desa digemparkan oleh judul berita di koran dengan font size gede; "STRIPPING DI BALKON, SEORANG NENEK RENTA JANTUNGAN DI TEMPAT".

Ia segera meninggalkan balkonnya juga sang nenek yang masih terdiam (atau malah jantungan beneran).

"Lho? Sudahan nyanyinya nih, Master?" Tanya Claude sedang mengeringkan kedua tangannya dengan handuk karena abis mencuci daun bawang. Ia agak heran kenapa Masternya yang lagi tiba-tiba overdosis nyanyi langsung berhenti tiba-tiba juga.

Muka Sebastian yang rada shock segera melepaskan kuncir dua dan pitanya. Tangan kanannya memegang dada kiri sambil ngos-ngosan dengan wajah pucat. Kedua daun bawang nista itu diletakkan begitu saja di meja tamu.

Claude makin penasaran, "Master, anda kenapa? Apa yang terjadi?"

"Hah? Oh…itu…aku hampir aja bikin orang jadi serangan jantung mendadak tadi."

.

[omake? End.]


Keterangan:

(1)

Terminal Grey: jika anda penggemar One Piece, pastilah tak asing lagi dengan terminal Grey. Untuk lebih lanjut, silahkan mencarinya di sumber terpercaya.

(2)Londania: Plesetan dari London.

(3)Espandria: Plesetan dari Espana atau Spanyol.

(4)LeekDrug: istilah yang seenaknya barusan dibuat oleh author ini. Artinya pun kalian pasti tahu yang berarti ah susah njelasinnya o_o)a #payah #dor

(5) Lagu yang dinyanyikan Sebastian adalah World Is Mine yang dinyanyikan oleh Hatsune Miku. Silahkan dicari dan didengar, lagunya bagus dan lucu kok! Malah kalo mau ada versi Kuroshitsuji lho.

untuk beberapa istilah otaku atau anime lain yang tidak dimengerti, anda bisa bertanya lewat review / PM.


Dibalik Layar 'Pangeran Raven dan Putri Tsundere':

*keluarin bendera putih* huaaa pembacaku yang udah lama menunggu ini mohon maaf atas keterlambatan update chap. 2 ini. Saya benar-benar minta maaf! Kompi saya sempat ngondek beberapa bulan yang lalu dan menyebabkan saya hiatus untuk beberapa bulan ditambah juga jadwal santai saya mulai dikurangi untuk persiapan UN. Haduh… mana saya juga megap-megap ikan koi buat nungguin hasil UN.
Walau begitu, saya menyempatkan diri untuk 'nyicil' kreditan—eh, fanfic dan beberapa minggu yang lalu sudah mengupdate Euforia Palembang chap. 5 dan mempublish fanfic baru yang berjudul IMB = Inem Mencari Butler . #iklanlewat

Bagi yang suka maupun yang gak shonen-ai, harap tenang dan gak ngamuk dulu. Saya ngerti kok perasaan kalian (?) yang gak suka genre tertentu dan saya gak mau maksa. Shonen-ai atau straight? Ciel atau Maylene? Atau malah karakter lain? Semua jawabannya berada di akhir cerita. Penasaran? Tetap terus baca lanjutan fic ini ya~! #iklanlewatiklanlewat.

Note: kejadian Sebastian nyanyi di balkon dan pura-pura ngejreng gitar itu asli dari cerita saya pribadi dan benar-benar terjadi. Koreksi pas bagian diliat nenek-nenek, waktu itu saya diliat sama anak-anak SD yang baru pulang sekolah.


Bales Review yang gak login:

LoveCiel Polepel: ehehe~ saya juga maunya Ciel tetep cowok, cowok, cowok, cowok, cowok, cowok dan..cowok (kebanyakan -_- ). Tapi tetep aja, ada aja yang Fem!Ciel bertebaran. Ntar banyak kejutan di chap berikutnya kok. Oh ya, udah baca ulang chap 1 belum? Dibaca lagi ya kalau belum xD. Terima kasih sudah membaca dan mereview ya~!

Yumi-Chan: Ya, salam kenal, Yumi-chan! Bener kok nyebutnya. Pendek? Pendeeekk? Gak sependek Ciel kan!? #taboked xD Ya, Ciel ntar cowok kok..tenang aja. Ntar ada banyak kejutan lainnya di chap berikutnya. Oh ya, udah baca ulang chap 1 belum? Dibaca lagi ya kalau belum xD. Terima kasih sudah membaca dan mereview ya~!

Hihihi…walaupun dikit tapi satu review bikin ane semangat lho.

Terima Kasih Sudah Membaca~!

Reinbi of Rainbow 'Walker' Castle