How Does It Feels?

Chapter 1

Naruto belongs to : Masashi Kishimoto-sensei

How Does It Feels? Belongs to : Gorm Speir

OOC,abal,gaje,typo(s)

Review please..

Sinar matahari menyeruak masuk diantara celah-celah jendela berkorden biru muda di kamar itu. Erangan lembut dari sang empunya kamar menandakan bahwa ia sudah menarik dirinya dari alam mimpi.

Tangan putih bersih miliknya menjelajah dengan gerakan tak beraturan di atas meja kayu kecil yang ada disebelah ranjangnya. Berusaha mendapatkan benda berbentuk hati berwarna ungu yang menunjukkan waktu saat itu. Setelah beberapa detik tangan itu menjelajah, akhirnya benda yang ia cari berhasil ia temukan. Dengan perlahan ia membuka mata bermanik amethystnya dan menatap jam kecilnya dengan pandangan setengah tak sadarkan diri.

Jarum pendek menunjuk diantara angka enam dan tujuh, jarum panjang menunjuk angka delapan. Tepat, sekarang sudah jam 6.40 pagi. Seketika mata yang awalnya hanya setengah sadar kini dengan sekali pandang mata itu manjadi bulat. Dengan sekali hentakan gadis yang bersurai indigo acak-acakan itu segara bangkit dan melemparkan selimut tebalnya begitu saja.

"Gawat, aku kesiangan…" gerutu gadis itu sambil berjalan atau lebih tepatnya berlari kecil kearah kamar mandi.

Ya, gadis itu sekarang memang sedang buru-buru. Jadwal tidur-bangun-makannya menjadi tak teratur semenjak ia hidup sendiri. Hyuuga Hinata. Nama gadis berambut indigo yang sekarang sedang menggeretu di kamar mandi karena beberapa kali ia harus terpeleset karena sabun yang ia letakkan jatuh dan terinjak oleh kakinya. Benar-benar malang.

Sepeluh menit kemudian, gadis itu keluar dari kamar mandinya dengan mengenakan kimono mandi. Dan secepat kilat juga ia melesat ke kamarnya untuk mengganti kimononya dengan pakaian yang layak ia kenakan ke kampus.

.

.

"Hinata." Apa lagi ini? Batin Hinata. Sapaan seorang gadis merambut pirang panjang menghentikan langkah Hyuuga Hinata. Dilihatnya gadis dengan ponytail itu sedang melambaikan tangan kearahnya. Mau tidak mau Hinata harus melemparkan seulas senyun yang sangat… sangat dipaksakan.

"Ada apa, Ino?" Ino melangkahkan kaki kearah Hinata sambil tetap memamerkan gigi putihnya.

"Tidak ada. Hanya ingin menyapamu saja. Kau telat lagi. Tadi Kurenai sensei mencarimu." Mereka mulai menyusuri koridor kampus untuk ke kelas selanjutnya. "Dan sepertinya kau kelihatan sedikit pucat, Hinata. Kenapa kau masih ke kampus? Sangat menggelikan melihatmu pingsan nanti." Ocehan Ino cukup membuat kepala Hinata mau pecah. Tapi, bagaimanapun juga Hinata harus mendengarkan ocehan sahabatnya itu. Entah benar-benar mendengarkan atau hanya dianggap angin lalu saja.

Siang ini gadis berambut indigo itu mengisi acara makan siangnya di kampus sekolah bersama Ino Yamanaka. Akibat karena ia tidak memiliki banyak tenaga untuk keluar kampus. Beberapa hari ini ia menghabiskan sebagian besar waktunya di kampus untuk proyek biokimianya. Dan jangan di ragukan lagi, gadis ini benar-benar kelelahan.

"Hei, ladies." Sapa seseorang, yang diketahui bergender lelaki, dengan suara lantang. Lelaki bertubuh tegap dan berambut kecoklatan. Lelaki itu mengambil tempat di sebelah Ino dan berhadapan langsung dengan Hinata.

"Hei, Kiba. Bagaimana kabarmu?" timpal Ino sambil menyuapkan mie kemulutnya. Hinata hanya tersenyum kecil sebagai balasan sapaan KIba.

"Sangat baik. Bagaimana dengan kalian?"

"Cukup baik." Balas Hinata sambil tetap tersenyum pada Kiba. Dan andaikan Hinata tahu apa efek senyumnya itu bagi Kiba, mungkin Hinata hanya tersenyum geli. Ya, Kiba sedang terpesona.

Kiba berdeham. Berusaha menormalkan kembali sistem jantungnya yang mulai berantakan, "Apa kalian ada waktu malam ini? Aku ingin mentraktir kalian. Hitung-hitung sebagai perayaan ulang tahun," kata Kiba.

"Kau mau mentraktirku atau mentraktir Hinata?" terselip nada godaan dari kata-kata Ino. Sesaat Kiba terlihat salah tingkah. Ya, Kiba Inuzuka sedang grogi.

"Aku… aku mentraktir kalian berdua kok." Jawab Kiba. Terdengar nada gugup yang sangat jelas di suaranya.

Hinata memejamkan matanya sebentar. Ia sedang berpikir apakah ia memiliki waktu malam ini. Mengingat proyek biokimianya belum rampung sepenuhnya.

"Aku akan mengusahakannya, Kiba. Tapi aku tidak menjanjikan akan datang. Proyekku masih belum selesai." Timpal Hinata.

Kiba terlihat sedikit kecewa dengan penuturan Hinata. Bagaimana tidak? Jika semua yang dia siapkan malam ini hanya untuk membuat Hinata terkesan tapi sang gadis pujaan tidak dapat dipastikan akan datang atau tidak.

"Datanglah jika kau punya waktu." Kata Kiba dengan seulas senyum yang tersungging dibibirnya. "Well, sepertinya aku harus pergi sekarang. Dan semoga kalian bisa datang nanti malam. Jaa…" kata Kiba sembari bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Ino dan Hinata.

"Terlihat jelas dia menyukaimu, tuan putri." Ino menyeruput jus jeruknya yang tinggal setengah.

"Hentikan omonganmu, Ino. Itu tidak seperti yang kau bayangkan." Hinata tersenyum kecil kemudian ia beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Ino yang masih sibuk dengan jus jeruknya.

Kiba memang menyukai Hinata dan Hinata menyadari itu sepenuhnya. Ia tahu Kiba memiliki perasaan yang lebih padanya. Ia tahu Kiba sangat memperhatikannya. Dan ia sangat tahu pasti Kiba sangat baik padanya lebih dari batasan baik pada teman. Tapi sayangnya Hinata menutup perasaannya. Hinata terkesan menghindari hubungan yang seperti itu. Hinata hanya menganggapnya sebagai teman lelaki yang baik padanya. Dan yang terpenting, Hinata masih belum siap dengan hubungan yang seperti itu.

.

.

Hinata siap meninggalkan apartemennya. Disampirkannya tas berwarna coklat dibahunya. Tak butuh waktu lama untuk menjangkau kafe yang dimaksud Kiba Inuzuka. Kafe yang terletak ditengah kota Konoha. Kafe yang hanya orang-orang berduit saja yang bisa memasukinya.

Akhirnya ia sampai ke kafe De Lux. Kafe bergaya Eropa kuno sangat klasik dan elegan. Saat memasuki gedung mewah tersebut, Hinata mengedarkan pandangannya untuk mendapatkan sesosok pemuda berambut coklat yang mengundangnya. Ternyata Ino dan Kiba, ditambah satu orang lagi lelaki berambut lurus sudah duduk manis di meja dekat jendela sambil melambaikan tangan kearahnya.

"Hei, sudah lama menunggu? Maaf, aku harus menyelesaikan proyekku dulu." Sapa plus penjelasan Hinata ketika ia tiba di tempat teman-temannya.

"Tidak juga. Kami juga baru sampai, Hyuuga san." Timpal pemuda berambut lurus dan berkulit pucat, Sai. Hinata kemudian mengambil tempat duduk disebelah Kiba. Karena hanya disitulah satu-satunya tempat duduk yang tersisa.

.

.

"Aku akan mengantarmu pulang, Hinata." Tawar Kiba. Tentu saja ada maksud terselubung di balik tawarannya itu.

Sejenak Hinata berpikir. Apakah akan baik-baik saja jika ia membiarkan Kiba mengantarnya pulang? Tapi tentu saja ia merasakan sesuatu dibalik taaran Kiba tadi. Dan tolong, tatapan memohon yang Kiba ditembakkan padanya sungguh membuat Hinata mati gaya. Hinata menghela nafas panjang-panjang seakan tak ada kesempatan baginya untuk bernafas lagi sebelum ia mengatakan, "Baiklah, kalau itu tidak merepotkanmu."

Seketika ada sinar yang entah dari mana muncul di kedua mata Kiba. Kekhawatirannya akan tolakan Hinata entah menguap kemana.

"Oh, baguslah kalau kalian sudah punya waktu untuk berduaan. Sekarang aku dan Sai tidak perlu menjaga nona kecil ini lagi. Jaga dia ya, Kiba." Celoteh Ino yang tentu saja menjadi sengatan listrik yang berbeda bagi Hinata dan Kiba.

Akhirnya perbincangan di parkiran kafe usai dan kedua pasangan sudah masuk di mobil yang berbeda.

"Omong-omong, ini baru pertama kalinya aku mengantarmu pulang." Kiba membuka obrolan pertama setelah mereka memasuki mobil mewah Hyundai Equus milik Kiba.

"Aku pikir juga begitu." Balas Hinata dengan canggung.

Diperjalanan, Kiba yang terkesan mendominasi pembicaraan karena pasifnya Hinata. Tentu saja itu kebiasaannya saat ia tidak suka dengan suatu keadaan. Hanya membalas omongan lawan bicaranya sekenanya saja, tidak memperhatikan dengan baik arah konversasi yang sedang berlangsung. Dan Kiba menyadari itu.

"Nah, sampai juga." Ujar Kiba seraya turun dari kursi di balik kemudi itu. kemudian ia berjalan melewati depan mobilnya dan membukakan pintu mobil yang ada disamping Hinata. Sangat gentleman memang, tapi itu tak cukup untuk menaklukkan hati seorang Hyuuga Hinata.

"Terimakasih Kiba, sudah mengantarkanku pulang. Sudah larut, sebaiknya kau cepat istirahat." Hinata mengingatkan Kiba. Bukan mengingatkan, lebih tepatnya upaya untuk melindungi diri.

"Baiklah, kau juga cepat istirahat." Kiba tersenyum sambil menepuk pelan kepala Hinata dengan tangan kanannya.

Bukan waktu yang tepat, Kiba. Gumam Kiba, dalam hati tentunya.

Kiba kembali keposisi awal, di balik kemudi, dan bersiap untuk meninggalkan tempat itu.

"Selamat ulang tahun, Kiba." Itulah kata terakhir yang keluar dari mulut Hinata dan disambut oleh senyuman hangat dari Kiba sebelum Kiba menghilang ditengah malam dengan mobil mewahnya.

.

.

"Aaaah, hampir saja." Desah Hinata sambil berjalan menuju lift yang akan mengantarkannya ke lantai empat dimana apartemennya berada.

Dengan langkah yang seperti zombie Hinata memaksakan kakinya untuk membawanya ketempat yang paling nyaman di dunia. Apartemennya yang tenang.

Setelah sampai di depan pintu apartemen, dibukanya knop pintu putih itu perlahan. Tidak terkunci. Dengan sekejap mata lavender Hinata membulat. Seingatnya ia sudah mengunci semua pintu bahkan jendela apartemennya. Dengan langkah yang tergopoh-gopoh Hinata masuk kedalam apartemennya yang gelap karena kampu tidak diyalakan.

Meskipun gelap, dengan cahaya bulan yang remang-remang, Hinata masih bisa melihat apartemennya rapi seperti sebelum ia tinggalkan beberapa jam lalu. Ia bernafas lega karena dugaan pencurian yang sudah terjadi di rumahnya tidak terbukti.

Samar-samar Hinata mendengar suara televisi yang menyala dari ruang tengah. Apa lagi ini?

Dengan langkah perlahan ia berjalan kearah ruang tengah. Dan benar saja, televisinya menyala. Apa Hinata lupa mematikannya? Tanyalah Hinata yang sekarang sedang mencoba menyambung syaraf-syaraf yang terputus di otaknya karena proyek biokimia dan acara makan malam yang menyebalkan.

Hinata sudah tidak kuat lagi. Keinginan untuk merebahkan diri sudah tak tertahankan lagi.

Mungkin dia lupa tidan mengunci pintu. Dan mungkin juga dia lupa tidak mematikan televesi yang sekarang sedang menyiarkan pertandingan sepak bola Barcelona vs Real Madrid.

Hinata meraba lengan sofa merah marun yang berada di depan televisi. Ia berjalan perlahan dan dengan perlahan pula ia menduduki sofa empuk nan nyaman itu.

Hinata mengerjit. Kenapa sofa ini jadi keras? Dan kenapa pula sofa ini sepertinya menjadi bertambah tinggi? Apakah sofa juga memiliki masa pertumbuhan?

Baik, otak Hinata memang sudah mengalami gangguan hubungan.

"Kau mendudukiku, Nona. Bisakah kau berdiri." Suara baritone yang berasal dari bawah menyentakkan Hinata.

1 detik…

2 detik…

3 detik..

"Huwaaaaaaaaaaa!"

*dongkak ke atas* wiuh, apaan nih?! Nekat amat bikin multichap.. ckckc -_-

Padahal banyak yang minta skuelnya Met, Onigiri, and Love malah bikin new story..

Gomen ne.. :(

Gorm lg dapet feel yang ini.. ntr klo ada feel buat Met, Onigiri, and Love ntr Gorm publish deh.. :D

Review please, minna-san.. ^^