Gorm Speir present...

How Does It Feel?

Chapter 8

Naruto belongs to Masashi Kishimoto-sensei

"How Does It Feel?" Belongs to Gorm Speir

Pairing : NaruHina

OOCness,abal,gaje,typo(s)

DON'T LIKE, OF COURSE DON'T READ!

Review please..

.

.

.

Masih pukul 03.00 dini hari. Masih terlalu pagi untuk setiap manusia terbangun dari tidurnya. Namun tidak untuk gadis berambut indigo yang satu ini. Matanya sudah terbuka lebar ditengah cahaya lampu tidur yang remang. Kedua mata lavender itu menjelajah. Memandang lekukan wajah sempurna milik pemuda yang tidur menghadap dirinya dan memeluk tubuh polosnya. Pemuda yang telah mencuri segalanya dari Hinata. Pemuda yang baru ia sadari jika ia mencintai pemuda ini.

Bukan hanya mata saja. Tapi tangan putih gadis itu juga ikut menjelajah. Mulai dari kening tan milik pemuda yang kini sedang mendengkur halus itu. Kedua kelopak mata yang memiliki bulu mata panjang yang menyembunyikan mata biru cerahnya. Hidungnya yang mancung. Bibirnya yang tipis dan seksi. Rahangnya yang kuat. Semua lekuk wajah sang pemuda terjamah seluruhnya oleh tangan mulus milik Hinata.

Ibu jari Hinata tidak bisa berhenti untuk mengusap bibir Naruto. Hingga satu ide muncul dalam kepalanya.

Perlahan ia mencondongkan tubuhnya kearah Naruto. Berharap Naruto tidak terganggu dengan aktivitasnya. Kemudian Hinata menempelkan bibirnya pada bibir Naruto. Kecupan yang cukup lama. Setelah dirasanya cukup, ia segera menarik tubuhnya menjauh.

Namun pergerakannya terhenti ketika sebuah lengan kekar yang berada dipinggangnya semakin mengerat.

"Mencium orang yang sedang tidur itu sama saja dengan pencurian." Suara serak khas orang baru bangun tidur itu semakin mengejutkan Hinata. Hinata benar-benar malu. Hyuuga Hinata KETAHUAN mencium seorang pemuda saat pemuda itu tertidur. Ah, ditambah lagi dengan senyuman yang terlihat seperti 'sok tahu' dimata Hinata menghiasi wajah Naruto.

"Bodoh."

Hinata berpaling membelakangi Naruto berharap dengan begitu ia dapat menyembunyikan wajahnya yang memerah. Yang tentu saja tidak seperti biasanya. Hyuuga Hinata tersipu. Yang benar saja.

Naruto terkekeh pelan melihat tingkah Hinata yang seperti seorang gadis lugu. Bukankah memang seperti itu? Naruto menyeret tubuhnya hingga ia lebih dekat dengan Hinata. Lengan kekarnya tetap setia melingkar dipinggang ramping Hinata.

"Aku mencintaimu." Bisik Naruto lembut.

Hinata terhenyak. Kata yang melantun dari bibir Naruto terdengar begitu tulus digendang telinganya.

"K-kau sudah mengatakan itu ratusan kali semalam."

"Dan kau belum membalas kata-kataku."

"A-aku me-mencintaimu." Gugup. Hinata baru pertama kali ini mengucapkan kata sakral itu. Rasanya kata-kata itu seperti sumpah seumur hidup untuknya.

Naruto terkekeh lagi. Entah sudah yang keberapa kalinya ia terkekeh karena Hinata yang menurutnya lucu. Naruto mencium tengkuk Hinata dan berhasil membuat Hinata merinding.

"Tidurlah. Masih terlalu pagi." Ucap Naruto dengan suara parau.

.

.

.

"Ada apa? Jarang sekali melihatmu bersemangat seperti ini." Ino menautkan alisnya. Adalah hal yang langka sekali untuk Yamanaka Ino melihat Hinata terlihat begitu menikmati setiap hal yang ia lakukan di laboraturium.

"Tidak ada apa-apa." Kata Hinata sambil membuka lembar demi lembar literatur prakteknya hari ini meski alisnya terlihat bertaut mendengar ucapan Ino.

"Huuu, benarkah? Apa ada sesuatu antara kau dan teman seapartemenmu itu, hm?" Ino tersenyum aneh. Cukup untuk membuat Hinata gerah.

"Sudahlah, nona ingin-tahu. Lebih baik kau mengurus Sai-mu itu daripada mengorek-ngorek hidupku. Kau seperti paparazzi, kau tahu?"

Ino mendengus kesal. Kadang sikap Hinata yang terlalu tertutup dan apatis ini sangat menyebalkan.

"Kau ini… Aku berani bertaruh kalau terjadi sesuatu antara dirimu dan si kuning itu."

Deg

Hinata seharusnya tahu jika ia tidak boleh meremehkan insting Ino yang terpercaya dan akurat. Tapi apakah Hinata akan mengakui semuanya pada Ino? Tentu saja tidak. Hinata masih sayang harga diri.

"Kalaupun tebakanku benar, aku rasa kau harus berbicara baik-baik dengan Kiba. Kasihan sekali melihatnya seperti mayat hidup akhir-akhir ini. Apa kau tidak kasihan?" Sambung Ino sambil menerawangkan pandangannya.

Seketika Hinata menghentikan aktivitasnya membolak-balik halaman literatur. Nafasnya tercekat.

Kiba. Inuzuka Kiba.

Ia hampir saja melupakan salah satu tokoh dalam cerita ini. Tokoh yang tersakiti.

"Entahlah."

Mereka berdua tidak tahu. Bukan Hinata. Bukan Hinata yang saat ini menyebabkan sang pemuda anjing ini depresi.

.

.

.

Hinata mulai berjalan keluar laboraturium. Hatinya yang sempat berbunga tadi pagi sekarang terasa sangatlah berat. Nurani Hinata seperti mendapat goresan yang menyakitkan. Menyakiti Kiba sepertinya membuat hati Hinata sakit sendiri. Sungguh, ia berharap ini bukan salahnya. Salah Kiba sendiri yang mencintainya.

"Hey, Hinata!" Sapaan sederhana itu seolah menerkam jantung Hinata hingga tak berdetak sesaat. Kenapa orang yang dipikirkannya datang sebegitu cepat? Dilihatnya Kiba yang berlari kecil dari arah yang lawanan dengannya. Ia tahu Kiba pasti akan menghapirinya.

"Hey." Balas Hinata singkat.

"Lama tak bertemu denganmu. Apa kabar?" Kiba menyamakan langkahnya dengan Hinata berjalan menuju gerbang kampus.

"Baik. Kau sendiri?" Bukankah kau sendiri tahu lebih baik tidak bertanya balik pada pemuda yang terlihat kacau saat ini, Hinata?

"Tidak begitu baik." Kiba tersenyum miris, "Naruto apa kabar? Aku tidak pernah bertemu dengannya akhir-akhir ini."

Hinata mengerjit. Kiba menanyakan Naruto? Apa Hinata tidak salah dengar?

"Kurasa dia baik. Kau terlihat..." Hinata memberi jeda pada kalimatnya, "Kacau."

Kiba tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia menatap Hinata dalam. Seolah dapat menembus hati Hinata. Hinata merasa darahnya berhenti mengalir.

"Maaf." Suara yang sarat akan penyesalan mampir dipendengaran Hinata.

"Apa?"

"Maaf." Ulang Kiba lagi. Hinata kini menatapnya bingung. Bukankah seharusnya Hinatalah yang mengatakan itu?

"Maaf untuk apa?"

"Untuk semuanya. Maaf karena telah memaksamu. Maaf karena telah membuatmu tertekan. Maaf karena telah menjadikanmu pelampiasan."

Hinata tertegun. Pemuda didepannya ini terlihat begitu menyesal. Hinata benar-benar terbungkam. Ia terbungkam oleh rasa bersalah. Seharusnya dia yang mengatakan itu. Seharusnya.

"Pe-pelampisan?" Hanya kata itu yang tidak dimengerti oleh Hinata.

Kiba melanjutkan langkahnya dan otomatis Hinata mengikuti langkah pemuda itu.

"Sebenarnya, aku mencintai seseorang. Aku sangat mencintainya. Mungkin Tuhan ingin aku merasakan sakit hati saat empat tahun lalu dia meninggalkanku. Tanpa kabar. Dia tiba-tiba menghilang. Tepat disaat aku lulus SMA."

Hinata hanya diam. Menunggu Kiba melanjutkan kata-katanya. Ia melirik sekilas saat Kiba menarik nafasnya.

"Aku mencintainya sejak aku kelas dua SMP. Kau tahu? Kami berpacaran selama lima tahun. Untuk anak seusia kita saat itu aku sudah berpacaran selama lima tahun dengan seorang gadis. Hebat, bukan? Hahaha…" Kiba tertawa hambar. Hatinya mencoba mengorek-ngorek masa lalu meski dalam tiap korekan itu ia merasa hatinya perih.

"Lalu?" sepertinya Hinata dilanda penasaran yang sangat hingga ia sepertinya tidak sabar untuk mendengar kelanjutan cerita Kiba.

"Bukankah aku sudah bilang dia pergi meninggalkanku tanpa pamit? Tapi, beberapa minggu yang lalu aku menemukannya. Dia ada disini." Mata Kiba memancarkan emosi yang tak pernah bisa dimengerti oleh Hinata.

"Dan aku memang masih mencintainya. Aku melampiaskan semua kekesalanku karena kepergiannya padamu, Hinata. Maaf."

"Sudahlah. Berhentilah meminta maaf seperti itu, Kiba. Kau seperti terpidana mati saja." Mungkin hanya itu kata yang bisa diucapkan Hinata untuk menghentikan Kiba meminta maaf. Karena sejujurnya terselip rasa bersalah yang teramat dalam hatinya.

.

.

.

Apartemen. Mengingat kata itu saja sudah membuat jantung Hinata melompat-lompat tak karuan. Bukan kata itu yang ia ingat, tetapi lebih kepada sesosok pemuda kuning yang mencuri segalanya yang ada pada Hinata. Hatinya, degup jantungnya, nafasnya, semuanya.

Rambut indigonya yang panjang mengikuti tiap gerak tubuh langsing Hinata. Sekarang ia telah berada didepan pintu apartemen yang ditinggalinya bersama sang kekasih. Ya, kekasih baru. Kekasih yang membuat pendiriannya goyah. Kekasih yang memutar balikkan seluruh dunianya.

Langkah-langkah kecilnya membawanya menuju ruang tamu dan detik itu juga ia mendengar suara tawa yang begitu ramai yang berasal dari ruang tengah. Hinata mengerjit. Apakah apartemennya ini bertambah penghuni baru?

Semakin Hinata mendekat pada ruang tengah, suara tawa yang ditimbulkan semakin keras. Dan betapa terkejutnya Hinata melihat kekasih barunya, Namikaze Naruto, sedang bercanda riang dengan Shion. Mereka tertawa terbahak-bahak sambil berpelukan dan sesekali tertangkap mata Hinata, Naruto mengacak rambut pirang cerah milik gadis itu.

Sungguh, seperti langit-langit apartemen jatuh menimpa kepalanya. Darahnya berhenti mengalir. Kenapa ia melupakan gadis itu ketika ia dengan mudahnya menerima Naruto?

Tas selempang yang ada ditangannya merosot dan jatuh kelantai sehingga menimbulkan suara yang sontak mengejutkan Naruto dan juga Shion yang sedang berpelukan.

Saat Naruto menoleh kebelakang ia benar-benar tak kuasa menahan matanya agar tidak melebar.

"Hi-Hinata…" Naruto segera bangkit dari sofa merah marun dan diikuti oleh Shion.

Tanpa kata-kata, Hinata membalikkan tubuhnya dan berjalan kearah rak sepatu dan mengambil semua sepatu yang terpajang rapi disana. Mulai dari high heels miliknya yang ber -hak lancip, wadges hingga sepatu keds milik Naruto.

Naruto hanya memandang bingung Hinata. Mau apa Hinata dengan semua sepatu yang ada dilengannya?

Kini Hinata sudah berada ditempat semula. Melayangkan tatapan yang sulit diartikan Naruto. Yang jelas Naruto dapat melihat kilatan marah di mata perak keunguan milik Hinata.

Buuuk

"Astaga!" Naruto spontan meringis kesakitan ketika sepatu olahraganya menghantam bahu kirinya. Shion yang melihat itu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya dan membelalakkan matanya.

Benar, Hinata melemparkan sepatu pada Naruto.

"Apa yang kau-

Buuuk

Sebelum Naruto menyelesaikan kalimatnya, Hinata melempar lagi sepatu padanya dan sukses menghantam dadanya. Naruto meringis kesakitan lagi sambil memegangi dadanya yang terhantam wadges Hinata.

"Brengsek…" desis Hinata.

Naruto menyipitkan matanya. Tidak mendengar jelas kata yang keluar dari kerongkongan Hinata.

Buuuk buuk buuk

Naruto seperti dihujani peluru sepatu oleh Hinata sehingga ia menggunakan kedua tangannya untuk melindungi tubuhnya dari serangan Hinata.

"Brengsek! Kau brengsek, Namikaze! Apa yang kau lakukan, hah! Berpelukan dengan gadis lain padahal semalam kau sudah tidur denganku! Apa maumu!" teriak Hinata penuh amarah dengan tetap menyerang Naruto dengan sepatu-sepatu yang ada ditangannya.

"A-apa?" ucap Shion tak percaya dengan semua teriakan Hinata. Yang paling membuat gadis pirang itu kaget setengah mati adalah pernyataan Hinata yang mengatakan Naruto tidur dengan Hinata.

"Aduuh!" lemparan yang terakhir ini sungguh menyakiti Naruto. Tumit sepatu hak Hinata yang lancip menggores pelipis Naruto hingga berdarah.

"Na-Naruto…" Shion menggumamkan nama Naruto dengan nada khawatir yang cukup pelan karena takut kepada gadis –yang menurutnya—menyeramkan ini.

"Diam kau!" sergah Hinata kepada Shion, sambil menunjuk-nunjuk pula.

Seketika Shion menahan nafasnya. Telapak tangan dan kakinya terasa mendingin. Sungguh, Shion benar-benar takut pada Hinata.

"Maaf, aku tiba-tiba masuk. Pintu depan tidak terkunc… Shion?"

Nah, keadaan semakin rumit. Kedatangan Kiba membuat ketiga orang yang sedang melakukan adegan penting dalam episode ini menoleh padanya.

"Hey, dude… sepertinya kau datang disaat yang tidak tepat." Sapa Naruto seadanya sambil menahan rasa nyeri dan perih dipelipisnya.

"Kenapa kau disini?" Kiba menatap Shion dan jelas pertanyaan itu ditujukan untuk Shion. Ah, malang sekali kau, Naruto. Bahkan sapaanmu tidak dihiraukan oleh Kiba.

Kita beralih pada Hinata yang terlihat sangat emosional. Lihat saja perempatan yang muncul dipelipisnya karena Kiba tiba-tiba datang dan mengacaukan serangannya.

Tanpa diduga oleh ketiganya, Shion langsung berhambur kepelukan Kiba.

Hinata jelas memelototkan matanya sedangkan Naruto yang sudah menduga kejadian ini hanya diam. Ia tahu jika adik sepupunya ini sangat merindukan Kiba.

Kiba?

Oh, jangan ditanya lagi.

Tentu saja tubuhnya sudah sekaku patung semen. Ah, matanya juga melotot.

"A-aku sangat merindukanmu…" lirih Shion. Hanya Kiba yang bisa mendengar suaranya.

"Kau meninggalkanku." Sergah Kiba. Tapi kini tangannya sudah terangkat untuk membalas pelukan Shion. Ia benar-benar tidak betah untuk menahan hasratnya mendekap gadis yang dulu pernah mengisi hidupnya. Bukan pernah, tapi masih mengisi hidupnya.

"Ehem!" dehaman Hinata berhasil membuat Shion dan Kiba terperenjat keget, "Bisa jelaskan padaku apa yang telah terjadi disini?"

"Baik, nona. Sepertinya aku yang harus menjelaskan padamu."

"E-eh?!"

Tanpa persetujuan Hinata, Naruto langsung menarik lengan Hinata untuk pergi dari tempat itu. Meninggalkan kedua orang yang sedang dalam situasi tidak-bisa-diganggu ini.

.

.

.

"Shion anak Kakashi-san?!" pekik Hinata dalam keterkejutannya. Sungguh, apa kalian tidak bisa melihat taman kota yang ramai? Mereka semua sedang menatap heran pada sepasang anak manusia berbeda gender yang sedang duduk diayunan.

"Sssstttt! Pelankan suaramu! Nanti mereka kira aku sedang mencoba memperkosamu!"

Bletak

Jitakan mesra mampir dikepala kuning Naruto.

"Hey! Kau belum mempertanggung-jawabkan perbuatan anarkismu tadi dan sekarang kau menjitakku?! Kau benar-benar, Hyuuga." Gerutu Naruto sambil mengusap-usap kepalanya yang terasa berdenyut menyakitkan.

"Kau yang bicara macam-macam!" dengan kasar Hinata menempelkan plester luka -yang dibelinya tadi di supermarket sebelum mereka meluncur ke taman- dipelipis Naruto yang terluka akibat serangan yang membabi-buta.

"Aww!" Naruto bukan masochist, tentu saja dia meringis kesakitan, "Kau benar-benar, Hyuuga Hinata. Bagaimana aku bisa mencintai gadis anarkis sepertimu sih?"

Telinga dan wajah Hinata tiba-tiba memanas seperti mau terbakar mendengar ucapan Naruto. Ia belum pernah berasa dirinya begitu bodoh dihadapan lelaki. Oh, ayolah. Kau sudah menyerahkan semuanya pada Naruto dan sekarang kau baru merasa malu, eh, Hinata?

"Ke-kenapa kau cemberut, Hinata? Jangan katakan kau cemburu pada Shion dan Kiba?" tanya Naruto takut. Takut jika dugaannya benar.

"Aku cemburu padamu dan Shion, bodoh." Ucap Hinata kemudian meninggalkan Naruto yang masih terbengong.

"A-apa? Aku tidak dengar. Hey, Hinata!" Naruto beranjak dari tempat duduknya dan mengejar kekasihnya yang sudah beberapa meter didepannya.

To Be Continued

Gorm update lagi :D :D :D

Gomen readers-san nungguin berabad-abad, Gorm punya urusan di dunia nyata jadi Gorm gak bisa tepat waktu update..

harap maklum ya.. :p

for everyone who reviewed my story, truly, THANK'S A LOT GUYS :*

menurut Gorm chap ini kurang bernyawa, apakah anda merasakan hal yang sama ? :)

untuk beberapa pertanyaan:

SHION SIPANYA NARU? - udah tau khn? :)

GANTI RATE? - Gorm bakal stay di rate T :)

NARUHINA NGAPAIN DI KAMAR? - udah bisa ditebak khn?

UPDATE CEPET? - Gorm sangat amat tidak bisa menjanjikan, gomen ne :)

sekian dari Gorm :)

RnR pleaseeee.. :)