Disclaimer :

Detektif Conan milik Gosho Aoyama.

Catatan Penulis 1 :

Ms Aria Braide : Iya, Conan memang sudah terlalu bingung dengan perasaannya sendiri dan khawatir pada perasaan Ran sehingga dia jadi tidak memikirkan perasaan Ai sehingga membuatnya jadi egois. Lho, kayaknya penname-nya kemarin bukan ini deh? XD

aii misakii : Gimana ya? Tapi adegan pengusiran jelas akan terjadi. XD

Edogawa Muthya : Tentu saja Kaito tidak pakai baju. XD

Azu Rizu : Salam kenal juga dan terima kasih pujiannya. Semoga cerita ini tidak mengecewakan karena ternyata cerita ini jauh lebih sulit daripada HeiShi yang pernah kutulis. XD

aishanara87 : Kalau begitu kamu harus lebih bersabar lagi. XD

Clifford D Reforma : Sudah dijawab di fesbuk kan? Jawabannya nggak. XD

shiningstar : Hai juga. Iya, Kaito-nya membesar. Susahnya menulis SaguruxShiho itu adalah karena mereka belum pernah bertemu dan berinteraksi di manga-nya, jadi aku belum punya ide bagaimana menyatukan mereka. Selain itu, aku juga tidak membaca Magic Kaito, jadi aku tidak mengenal Saguru dengan baik. XD

Aiwha : Baca langsung aja deh. Aku nggak mau ngasih spoiler. XD

Tiara : Terima kasih banyak. XD

Radar Neptunus : Lagu itu adalah gambaran perasaan Ai nanti saat hubungannya dengan Conan hancur. Setelah itu, theme song-nya akan kuganti. Cerita depan sepertinya balik ke OTP-ku, ShinShi. Ada dua ide yang sudah muncul, satunya canon-base, satunya AU. Belum tahu yang mana yang mau ditulis duluan. XD

Ladygaga : Shinshi. Sudah ada dua ide, tapi belum tahu yang mana yang mau ditulis. XD

Nila : Yang jelas banyak yang akan terjadi. XD

Selamat membaca dan berkomentar!


Di Sini Untukmu

By Enji86

A day that feels like a year is passing
I'm holding back the tears I've barely kept inside
I still can't even feel the pain
I just hoped that this nightmare would pass

In front of me isn't the soft and warm person I used to know
But a stranger is looking at me

The wind is blowing again, a farewell is coming to me
I'm not even ready but it looks like it's going to rain
Goodbye, the last words, goodbye
Now the love that I was just getting to know is leaving me

It hurts, it hurts when I've been holding it in only for a day
It hurts so much that I don't even know where it hurts

Wherever my eyes go, wherever you are
Traces of you still remain
So I can't take my eyes off them

The wind is blowing again, a farewell is coming to me
I'm not even ready but it looks like it's going to rain
Goodbye, the last words, goodbye
Now the love that I was just getting to know is leaving me

Like a fool, it washes over me, this longing comes to me
I still haven't let you go but the tears of memories are washing over me
Goodbye, the last words, goodbye
Now the love that I was just getting to know is leaving me

(Farewell is Coming by Kang Minkyung)

Chapter 10 – Aku Kaitou KID

"Kenapa dingin sekali ya?" Kaito yang masih setengah tertidur bertanya-tanya dalam hati. Dia pun menyelinap masuk ke dalam selimut Ai yang tidak jauh darinya dan mendekatkan tubuhnya ke tubuh Ai untuk mencari kehangatan. Lalu tanpa sadar dia menarik Ai ke dalam pelukannya.

"Ojou-chan begitu mungil," ucap Kaito dalam hati sambil tersenyum, sementara salah satu tangannya bergerak menelusuri rambut dan punggung Ai.

Ai yang sudah mulai terbangun merasa nyaman karena sentuhan Kaito. Sudah lama sekali tidak ada yang memeluknya dan membelainya seperti itu.

Kemudian pada saat yang bersamaan, Kaito dan Ai membuka mata karena mereka sadar ada yang salah dengan semua ini.

Mata Ai pun langsung terbelalak begitu melihat Kaito dan dia spontan berteriak, tapi Kaito dengan segera membekap mulutnya.

Kaito pun tidak sempat lagi berpikir kenapa dia kembali jadi manusia karena dia melihat Ai mulai menangis. Dia pun berusaha menjelaskan pada Ai tentang siapa dirinya dengan suara pelan, tapi Ai tetap menatapnya dengan ketakutan.

Yah, bagaimana Ai tidak ketakutan. Saat ini dia sedang dipeluk sementara mulutnya dibekap oleh seorang laki-laki yang telanjang bulat di dalam selimutnya. Dia mengira Kaito adalah seorang pedofil yang ingin melakukan sesuatu padanya, meskipun dia tidak mengerti kenapa pedofil ini bisa berada dalam kamarnya.

"Oh Tuhan, kau sudah mengambil semuanya dariku, tapi aku tidak pernah mengeluh. Karena itu aku mohon pada-Mu, jangan lakukan ini padaku. Jangan biarkan laki-laki ini melakukan sesuatu padaku. Aku mohon," ucap Ai dalam hati sementara air matanya terus mengalir.

Ai kemudian mendengar Kaito menyebut-nyebut kata Neko-chan, sehingga Ai bertambah takut kalau Kaito sudah melakukan sesuatu pada kucingnya. Lalu Ai mulai bisa menangkap kalimat yang diucapkan oleh Kaito meskipun dia masih ketakutan setengah mati.

"Ojou-chan, ini aku, Neko-chan. Tolong jangan takut kepadaku," ucap Kaito.

"Eh? Dia bilang dia Neko-chan? Apa itu benar? Tapi Neko-chan seekor kucing, jadi tidak mungkin," ucap Ai dalam hati.

"Aku Neko-chan. Percayalah padaku. Aku tidak akan menyakitimu," ucap Kaito lagi.

Ai akhirnya menatap mata Kaito dan mereka bertatapan selama beberapa saat. Setelah itu, Ai mulai berhenti menangis karena dia merasa seperti menatap mata kucingnya ketika dia menatap mata Kaito. Dia tahu ini semua tidak masuk akal, tapi entah kenapa dia ingin percaya bahwa laki-laki ini memang kucingnya dan laki-laki ini tidak berniat jahat kepadanya.

"Kau percaya padaku kan? Aku akan melepaskan mulutmu. Tapi berjanjilah kau tidak akan...," ucapan Kaito terputus sementara suara poof yang disertai asap pink terdengar.

Ai pun terkejut ketika laki-laki yang memeluknya tiba-tiba menghilang dalam asap pink. Setelah asap pink itu memudar Ai melihat kucingnya berbaring di sebelahnya.

Kaito langsung berdiri dan memandangi dirinya sendiri. Dia tidak mengerti kenapa dia berubah jadi kucing lagi.

Ai juga memandangi Kaito sambil bertanya-tanya apakah kejadian yang baru saja dialaminya itu hanya mimpi.

"Huh? Kenapa aku berubah jadi kucing lagi?" ucap Kaito. Dan matanya dan Ai pun langsung membesar. Dia bisa bicara bahasa manusia.

XXX

Setelah momen kekagetan mereka berakhir, Ai dan Kaito pun duduk untuk bicara. Ai duduk sambil memeluk lututnya yang tertutup selimut sambil bersandar pada kepala tempat tidur, sementara Kaito duduk tidak jauh darinya. Meskipun Ai sudah tenang kembali, dia masih setengah tidak percaya kalau kucingnya itu ternyata manusia karena hal itu sangat mustahil.

"Jadi, kau manusia?" tanya Ai.

"Begitulah," jawab Kaito.

"Oh," ucap Ai.

"Jadi dia benar-benar manusia," ucap Ai dalam hati.

"Bagaimana kau bisa jadi kucing?" tanya Ai lagi.

"Karena ulah seorang penyihir kenalanku," jawab Kaito.

"Oh," ucap Ai.

"Jadi sihir itu nyata, huh?" batin Ai.

Kemudian dia teringat sesuatu, sesuatu yang sangat penting, sehingga matanya membesar.

"Dan kau laki-laki?" tanya Ai dengan horor, lebih kepada dirinya sendiri.

"Lebih tepatnya seorang pemuda hot berusia 17 tahun yang dipuja para gadis dimana-mana," jawab Kaito sambil nyengir lebar. Tapi cengirannya langsung lenyap begitu dia melihat Ai menatapnya dengan murka. Ai terlihat begitu mengerikan sehingga dia merasa agak merinding.

Kaito pun segera berlari sementara Ai mengejarnya. Mereka berkejar-kejaran di kamar Ai.

"Baru kali ini aku melihat seorang gadis yang manis bagai malaikat bisa berubah menjadi setan yang mengerikan," ucap Kaito dalam hati sambil berlari sementara jantungnya berdebar kencang karena takut.

Profesor Agasa yang mendengar ribut-ribut dari kamar Ai, segera pergi ke kamar Ai dan begitu dia membuka pintu, Kaito segera berlari keluar dari kamar Ai sementara Ai ikut berlari mengejarnya.

"Sini kau, dasar kurang ajar!" seru Ai.

Profesor Agasa pun mengikuti Kaito dan Ai yang main kejar-kejaran dengan bingung.

"Ada apa ya?" Profesor Agasa bertanya-tanya dalam hati.

Setelah beberapa lama, Kaito yang kelelahan akhirnya bersembunyi di belakang kaki Profesor Agasa sambil menatap Profesor Agasa dengan tatapan minta tolong. Profesor Agasa pun mengerti dan menahan Ai yang kelihatan sangat marah.

"Ai-kun, ada apa ini?" tanya Profesor Agasa.

"Dia... dia... dia...," Ai yang pada awalnya berseru dengan marah akhirnya terdiam. Dia tidak mungkin bilang pada Profesor Agasa kalau Kaito seorang manusia. Profesor Agasa pasti akan menganggapnya sudah gila kalau dia mengatakan hal itu. Selain itu, ada alat penyadap di ruangan tersebut.

Ai pun menghela nafas.

"Dia nakal," ucap Ai akhirnya.

"Ai-kun, dia seekor kucing, jadi jangan diambil hati. Lihat, dia begitu ketakutan melihatmu marah," ucap Profesor Agasa.

"Ojou-chan, aku tidak melakukan semua itu dengan sengaja, jadi jangan marah, oke?" ucap Kaito dengan takut-takut.

Ai pun menatap Kaito dengan tajam karena dia tahu benar ketika Kaito memeluknya atau menciumnya, Kaito melakukannya dengan sengaja, karena Kaito tahu benar siapa dia sebenarnya. Selain itu, dia juga tahu kalau Kaito tidak pernah mengalihkan pandangannya ketika dia ganti baju. Dia sudah akan membuka mulutnya ketika dia menyadari sesuatu. Dia pun langsung menatap Profesor Agasa.

Kaito yang juga menyadari hal itu langsung menatap Profesor Agasa pula.

"Huh? Ada apa, Ai-kun? Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Profesor Agasa dengan bingung.

Hal ini membuat Kaito dan Ai juga ikut bingung.

"Profesor tidak mendengar Neko-chan bicara?" tanya Ai.

"Bicara? Mengeong maksudmu? Tentu saja aku mendengarnya mengeong barusan. Mungkin dia ingin minta maaf padamu," jawab Profesor Agasa.

"Jangan-jangan...," pikir Kaito dan Ai.

Ai pun memutuskan untuk menahan kemarahannya saat ini. Sekarang bukan saatnya marah-marah karena terlalu banyak hal yang harus dipikirkannya saat ini. Lagipula dia harus pergi ke sekolah.

"Baiklah, aku tidak akan marah lagi. Aku harus siap-siap ke sekolah sekarang. Kita bicara lagi nanti, Neko-chan," ucap Ai, masih sambil menatap Kaito dengan galak, sehingga Kaito agak mengkerut.

Kaito hanya bisa berharap, Ai benar-benar mengajaknya bicara nanti saat pulang sekolah, bukannya mencekiknya sampai mati.

XXX

Selama di sekolah, Ai terus melamun sehingga membuat teman-temannya bingung dan agak khawatir. Mereka pun mencoba mengajak Ai bicara dan mencari tahu penyebab Ai melamun, tapi Ai hanya menanggapi mereka sekedarnya, lalu meneruskan lamunannya.

"Apa ada hal yang mengganggu pikiranmu? Dari tadi kau melamun terus," ucap Conan saat mereka berdua berjalan pulang setelah berpisah dengan Genta, Ayumi dan Mitsuhiko.

Ai yang sedang melamun jelas tidak mendengar pertanyaan Conan sama sekali sehingga dia tidak menjawab.

"Oi, Haibara," panggil Conan sambil melirik Ai yang berjalan di sebelahnya.

Ai tetap tidak menjawab dan masih sibuk melamun sehingga Conan jadi agak kesal.

"Haibara," teriak Conan di telinga Ai sehingga Ai terlonjak karena kaget.

"Ada apa denganmu? Kenapa kau berteriak-teriak di telingaku?" omel Ai sambil memegang telinganya yang tadi diteriaki Conan.

"Justru aku yang seharusnya bertanya. Ada apa denganmu? Kau dari tadi melamun terus dan tidak mendengarkanku sama sekali," ucap Conan.

"Oh, itu. Bukan hal yang penting," sahut Ai.

"Bukan hal yang penting? Tapi kau melamun sepanjang hari. Apa ini karena Bourbon? Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Aku akan mengurus semuanya," ucap Conan.

"Ya, aku tahu. Sudahlah, pulang sana," ucap Ai karena mereka sudah sampai di persimpangan jalan dimana mereka biasanya berpisah.

"Oh, kita sudah di sini ternyata," ucap Conan ketika dia menyadari dimana dia berada. "Baiklah, sampai jumpa besok," ucap Conan pada Ai. Kemudian dia berlalu menuju kantor detektif dimana dia tinggal.

Sebenarnya Conan masih belum puas dan masih penasaran dengan penyebab Ai melamun sepanjang hari, tapi dia sudah bertekad akan berhenti memikirkan Ai secara terus-menerus dan kembali memfokuskan pikirannya pada Ran.

"Kenapa aku harus memikirkan gadis bermata setan itu, sementara Ran yang memakai bikini benar-benar hot dan bibir Ran yang berwarna pink dan kelihatan lembut itu terasa begitu menggoda untuk dibayangkan? Apalagi Aoyama-sensei dalam wawancaranya berkata bahwa akan ada adegan ciuman antara aku dan Ran," ucap Conan dalam hati.

Ai menatap punggung Conan sejenak sebelum melanjutkan langkahnya. Sekarang dia harus menghadapi Kaito.

Saat Ai memasuki kamarnya, dia melihat Kaito yang sedang tidur-tiduran di kasurnya langsung bangkit dan duduk sambil menatapnya. Ai pun menutup pintu di belakangnya, menaruh tasnya di meja belajarnya, kemudian melangkah menuju tempat tidurnya dan mendudukkan dirinya di sana.

"Kau harus pergi," ucap Ai setelah hening selama beberapa saat.

"Apa?" tanya Kaito dengan kaget.

"Kau tidak bisa tinggal di sini. Kau harus pergi," ucap Ai.

"Jadi maksudmu, kau mengusirku, begitu?" ucap Kaito dengan mata berkilat-kilat. Entah kenapa dia merasa marah karena Ai mengusirnya. Mungkin karena itu berarti Ai sudah ingkar janji padanya.

"Aku sudah punya terlalu banyak masalah dalam hidupku. Aku tidak mau menambahnya lagi," ucap Ai.

"Tapi kau sudah berjanji akan menjagaku dan merawatku dengan baik," ucap Kaito.

"Saat itu aku pikir kau kucing makanya...," ucapan Ai dipotong oleh Kaito.

"Jadi kalau aku kucing, kau akan merawatku dan kalau aku manusia, kau akan mengabaikanku, begitu? Sebenarnya manusia macam apa kau ini, sampai bisa berpikir begitu?" seru Kaito sehingga memantik kemarahan Ai.

"Aku manusia macam apa itu bukan urusanmu. Yang jelas kau harus pergi dari sini. Jadi pergilah," ucap Ai dengan dingin.

"Aku tidak mau," ucap Kaito dengan nada tidak peduli.

"Apa?" ucap Ai.

"Kau berhutang nyawa padaku, jadi kau harus membayarnya," ucap Kaito.

"Yang benar saja. Kaulah yang berhutang nyawa padaku," ucap Ai dengan sinis.

"Tapi itu tidak seberapa dengan hutang nyawamu padaku. Kau tahu, bom C4 yang ada di kereta api itu bisa menghancurkan tubuhku menjadi debu," ucap Kaito sehingga mata Ai langsung terbelalak.

"Bagaimana kau...? Jangan-jangan kau...," ucap Ai dengan agak terpana.

"Begitulah. Aku Kaitou KID," ucap Kaito.

XXX

Kaito berbaring sambil menatap punggung Ai yang berbaring agak jauh di sampingnya. Tadi sebenarnya Ai menyuruhnya tidur di lantai, tapi tentu saja dia tidak mau, sehingga Ai akhirnya menyerah dan mau berbagi tempat tidur dengannya. Setelah proses negosiasi yang alot dengan Ai, akhirnya Ai tidak jadi mengusirnya dan bersedia membantunya kembali menjadi manusia lagi karena dia baru mau pergi dari Ai ketika dia sudah kembali jadi manusia lagi secara permanen.

"Ojou-chan, kenapa tiba-tiba kau berubah setelah kau tahu bahwa aku manusia sepertimu dan bukannya kucing? Kenapa kau bisa dengan mudah menyayangi kucing, tapi tidak bisa menyayangi manusia sepertiku?" tanya Kaito dalam hati.

Kaito memang merasa patah hati saat Ai mengusirnya tadi. Dia tidak pernah menyangka Ai akan bersikap sedingin itu kepadanya setelah apa yang mereka lewati bersama. Dan hal itu terjadi hanya gara-gara dia sebenarnya manusia, bukannya kucing. Bukankah kedudukan manusia seharusnya lebih tinggi daripada kucing? Tapi Ai lebih menghargai kucing daripada manusia. Hal itu benar-benar mengusik harga dirinya.

Tiba-tiba Kaito teringat ucapan-ucapan Ai kepadanya dan kondisi Ai saat ini sehingga dia perlahan-lahan mulai mengerti. Orang-orang di sekitar Ai sepertinya terus melukai Ai. Teman-teman sekolah Ai yang dulu mengucilkan Ai, orang-orang yang menginginkan Ai mati, teman-teman kecil Ai yang tidak tahu siapa Ai yang sebenarnya, Conan yang sepertinya dulu baik, tapi sekarang tidak lagi. Selain itu, orang-orang yang menginginkan Ai mati sepertinya orang-orang yang berbahaya.

"Mungkin karena itu Ojou-chan tidak mempercayai orang lain. Selain dia takut orang lain akan terluka karenanya, dia juga takut kalau orang lain hanya akan membuatnya terluka. Sementara yang kudengar hewan peliharaan akan selalu setia pada majikannya sampai mati. Hati Ojou-chan penuh dengan luka dan tidak ada seorang pun yang berusaha mengobatinya, termasuk Ojou-chan sendiri," pikir Kaito. Dan dia pun merasa bersalah sudah mengatakan kata-kata manusia macam apa kepada Ai. Bukan salah Ai kalau Ai tidak mempercayai orang lain.

Kaito jadi teringat pada pertemuan pertamanya dengan Aoko. Saat itu, Aoko kelihatan begitu sedih sehingga nalurinya sebagai penghibur otomatis membuatnya mendatangi Aoko dan mencoba menghibur Aoko yang sedih. Sejak saat itu, dia dan Aoko pun berteman.

Kaito pun tidak bisa menahan senyum terbentuk di bibirnya. Dia adalah seorang entertainer, seorang penghibur, sehingga semua ini terasa seperti takdir.

"Jadi begitu ya? Itu sebabnya Tuhan mengirimku kepadamu. Baiklah, Ojou-chan, aku pasti akan mengobati lukamu," ucap Kaito dalam hati.

Sementara itu, Ai yang berbaring membelakangi Kaito juga sedang sibuk berpikir. Kata-kata Kaito tentang manusia macam apa terus terngiang di telinganya. Kata-kata itu benar-benar menusuknya sehingga dia merasa kesal pada Kaito. Bukan salahnya kalau dia lebih mudah menyayangi binatang daripada manusia. Tidak, tidak, itu sama sekali tidak salah. Lagipula masalahnya bukan itu. Kaito jelas-jelas laki-laki mesum, jadi tentu saja dia tidak mungkin membiarkan Kaito tinggal bersamanya di kamarnya ini.

Ai pun jadi teringat pertemuan pertamanya dengan Conan. Saat itu, Conan juga menusuknya dengan menyebutnya pembunuh. Dia pun menghela nafas. Dia memang bukan wanita baik-baik seperti Ran, Ayumi, Kazuha dan wanita-wanita lainnya, jadi wajar kalau orang lain melihatnya sebagai wanita yang buruk.

Yah, apapun itu, Ai juga tidak bisa menahan empati yang dirasakannya terhadap Kaito dan dia bahkan agak kagum pada Kaito. Belum lagi fakta bahwa Kaito pernah menyelamatkan nyawanya.

"Pasti sangat berat ya? Dari Kaitou KID yang dipuja semua orang menjadi kucing yang dibenci semua orang. Kalau hal itu terjadi padaku, mungkin aku sudah bunuh diri," pikir Ai.

Ai pun tidak bisa menahan senyum terbentuk di bibirnya.

"Dia benar-benar orang yang sangat tegar," ucap Ai dalam hati.

XXX

"Buka mulutmu," ucap Ai sambil menyodorkan sumpit yang berisi daging ayam ke mulut Kaito.

Kaito, yang dari tadi sudah menatap Ai dengan terpana karena Ai kembali mengambilkan makanan untuknya, menjadi tambah melongo. Ai tidak mau lagi mengambilkannya makanan dan meminta Profesor Agasa melakukannya setelah Ai tahu bahwa dia manusia, makanya Kaito begitu terkejut melihat Ai mau mengambilkannya makanan dan bahkan mau menyuapinya lagi.

"Kata Profesor kau tidak bisa makan dengan baik sehingga kau hanya makan sedikit, makanya aku mau melakukan ini lagi. Aku tidak mau kau sakit," ucap Ai.

"Kau tidak mau aku sakit?" tanya Kaito dengan nada tidak percaya.

"Tentu saja. Kalau kau sakit, kau hanya akan menambah masalah bagiku," jawab Ai datar.

Kaito yang tadinya merasa GR segera mengkerut lagi setelah mendengar jawaban Ai.

"Padahal dulu dia sangat manis kepadaku. Sekarang dia jadi dingin," ucap Kaito dalam hati.

Ai yang melihat Kaito menjadi muram setelah mendengar ucapannya pun ikut menjadi muram. Dia masih bingung dengan perasaannya sendiri sehingga dia juga tidak tahu harus bersikap bagaimana pada Kaito. Dia tidak mau melihat Kaito sedih, tapi dia juga tidak bisa bersikap manis seperti dulu pada Kaito. Dia merasa canggung kalau harus bersikap begitu pada manusia. Mungkin itu sebabnya dia tidak punya teman dan Conan akhirnya juga tidak mau berteman dengannya lagi seperti dulu.

"Jadi kau mau makan tidak?" tanya Ai dengan nada tidak sabar.

Kaito pun mengangkat kepalanya dan menatap Ai.

"Tidak, aku tidak akan menyerah. Bukankah aku ingin tidur dengan Ojou-chan untuk seterusnya? Jadi aku akan mewujudkannya. Lihat saja, Ojou-chan. Kau pasti akan tidur denganku untuk selamanya dan kau akan kembali seperti dulu lagi," ucap Kaito dalam hati.

"Iya, iya, aku makan," sahut Kaito. Kemudian dia membuka mulutnya untuk menerima daging ayam yang disodorkan Ai.

"Oh ya, kenapa kau selalu bangun saat dini hari dan baru kembali ke kamar saat hampir fajar?" tanya Kaito.

"Itu bukan urusanmu, jadi kau tidak perlu tahu," jawab Ai datar sehingga Kaito meringis.

"Sepertinya gosip yang didengar laki-laki bernama Bourbon itu benar. Ojou-chan benar-benar wanita yang sulit," batin Kaito. Lalu sebuah pemikiran melintas di benaknya dan dia jadi teringat percakapan antara Bourbon dan Ai melalui dirinya saat di kereta api.

"Tunggu sebentar, laki-laki bernama Bourbon itu bilang dia mengenal ibu Ojou-chan. Lalu pacar kakak Ojou-chan adalah anggota FBI yang mengkhianati organisasi yang menaungi laki-laki bernama Bourbon itu. Selain itu, rekan-rekan laki-laki bernama Bourbon itu tahu kalau Ojou-chan wanita yang sulit, yang berarti bahwa mereka mengenal Ojou-chan. Kalau begitu berarti Ojou-chan...," pikir Kaito.

"Kau ini sebenarnya niat makan tidak sih? Dari tadi melamun terus. Ayo cepat habiskan makananmu. Masih banyak hal lain yang harus kukerjakan," omel Ai sehingga membuyarkan lamunan Kaito.

"Hei, Ojou-chan, apa kau pernah menjadi bagian dari organisasi yang menaungi laki-laki bernama Bourbon itu?" tanya Kaito tanpa mempedulikan omelan Ai.

Ai pun terkejut mendengar pertanyaan Kaito sehingga dia tidak bisa berkata-kata selama beberapa saat. Tapi kemudian dia akhirnya bisa bicara juga.

"Aku tidak mau membicarakannya," jawab Ai.

"Jadi itu benar," ucap Kaito dalam hati. "Tapi kalau Ojou-chan bagian dari mereka, kenapa mereka menginginkan Ojou-chan mati? Apa ini ada hubungannya dengan pengkhianatan pacar kakak Ojou-chan yang merupakan anggota FBI itu? Mungkin mereka menganggap Ojou-chan juga pengkhianat," pikir Kaito.

"Lalu kenapa orang-orang itu menginginkanmu mati? Apa mereka menganggapmu pengkhianat juga karena pacar kakakmu yang anggota FBI itu?" tanya Kaito lagi.

"Sudah kubilang aku tidak mau membicarakannya, jadi tutup mulutmu dan cepat habiskan makananmu," jawab Ai dengan agak kesal.

"Kenapa kau tidak mau membicarakannya? Bukankah bicara akan membuatmu lebih baik?" tanya Kaito sehingga Ai meletakkan sumpit di tangannya, lalu bangkit dari tempat tidur dan melangkah pergi keluar kamar karena kesabarannya sudah habis. Kaito sudah menyinggung sesuatu yang sangat sensitif baginya, sesuatu yang ingin ia lupakan.

"Tunggu, Ojou-chan. Aku tidak bermaksud...," ucapan Kaito terhenti karena Ai sudah menghilang di balik pintu.

Kaito pun menghela nafas. Sepertinya dia sudah memancing sesuatu yang sangat sensitif. Dia begitu penasaran sehingga dia agak tidak peka terhadap perasaan Ai tentang hal itu. Kemudian pikirannya mulai bekerja kembali.

"Oh ya, lalu bagaimana dengan kakak Ojou-chan? Dimana dia sekarang? Apa jangan-jangan kakak Ojou-chan juga mati dibunuh oleh mereka karena dianggap pengkhianat sama seperti pacarnya? Lalu bagaimana dengan pacar kakak Ojou-chan yang anggota FBI itu? Dimana dia sekarang? Apa dia juga sudah mati di tangan mereka?" Kaito kembali bertanya-tanya dalam hati. Lalu pikirannya kembali terfokus pada pertanyaan besar yang sampai saat ini belum terjawab. Bagaimana tubuh Conan dan Ai bisa mengecil menjadi seukuran anak SD.

Kaito akhirnya berguling-guling di tempat tidur beberapa saat kemudian karena frustasi.

Sementara itu, sesampainya di ruang bawah tanah, Ai mendudukkan dirinya di depan komputer dan melamun. Kata-kata Kaito kembali terngiang di telinganya.

"Dia sudah tahu terlalu banyak gara-gara insiden di kereta api," ucap Ai dalam hati dengan muram.

Bersambung...


Catatan Penulis 2 :

Jadi akhirnya Kaito menjadi manusia hanya untuk sesaat. Meskipun begitu, Kaito mendapat bonus bisa bicara dengan Ai dan hanya Ai. Sekarang misterinya adalah kenapa Kaito tidak berubah menjadi manusia secara permanen? Ada yang bisa menebak? Lalu apakah Kaito akan berhasil membuat Ai menjawab semua pertanyaannya?

Sampai jumpa minggu depan. XD