Uhm, halo minna~ genki desu ka?

Setelah setahun lebih fict fui yang berjudul 'Si Penulis Puisi' tamat #ada yang ingat?- fui membuat sequel untuk ending yang kata reader nge-gantung. Karena Fui tidak ingin menggantung Hinata apalagi Naruto-nii, jadi fui putuskan untuk mempublish fict ini.

Semoga mendapatkan sambutan yang baik dari pada reader. ^^

Disclaimer: Masashi Kishimoto-sensei

Warning: AU, lil OOC, sebenarnya harus diupload bulan Desember, tapi karena saya lelet jadi baru Januari ini bisa upload, Naruto POV, Naruhina all the way. Jika reader tidak suka, sebaiknya tidak menyakiti perasaan Anda sendiri. Terimakasih.

Fui present this story for you, so enjoy please...

Please, Kiss Me!

Chapter 1

Halaman sekolah bermester gelap tertutupi deburan salju tipis bulan Desember. Hembusan angin selatan yang dingin, menerbangkan sisa-sisa dedaunan yang terpapar lemah di atas gundukan putih salju. Membawa kisah-kisah yang terhempas saling melilit dan menempel di udara langit.

Musim salju telah memasuki badainya. Aku tertunduk lemah, menatap kayu meja dengan tatapan kosong. Sesekali mengalihkan pandanganku ke luar jendela, memandang halaman sekolah yang monoton, namun cukup menarik perhatianku.

Setidaknya, aku bisa sedikit melepas bayangannya dari benakku, sejenak.

Dadaku mengembang, lalu mengempis lagi. Aku bisa merasakan udara baru melesat cepat ke paru-paruku. Kubayangkan pasti sekarang di dalam sana terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida, lalu oksigen itu bergerak cepat. Menyebar ke area jantung dan otakku. Lalu, untuk ke sekian kalinya menyentuh memoriku terhadapnya.

Kepalaku terangkat, mataku teralih ke langit biru yang kelam. Setengah berharap akan ada badan pesawat yang melewati langit itu. Sangat berharap bahwa di dalam pesawat itu ada seorang penumpang yang ingin kupeluk erat-erat. Sangat amat berharap dia bisa pulang.

Meski kutahu, bulan Desember bukan musim yang baik bagi pesawat untuk berlalu lintas.

Sudah hampir lima puluh hari dia tidak kembali ke Konoha. Semenjak kepergiannya ke New York, kami hanya bertukar kabar lewat media elektronik. Itupun jarang. Aku harus bisa memahami bahwa kepergiannya ke negara Paman Sam itu bukan untuk rekreasi. Tapi untuk penyembuhannya.

Hatiku masih terasa kekanak-kanakkan ketika kami berkomunikasi via chatting. Berkali-kali aku bertanya padanya dengan awalan 'kenapa' yang sama. Terserah apa kata dunia, terserah pendapatnya mengenai keegoisanku. Aku hanya ingin dia pulang. Berhenti menyiksaku dengan rasa rindu yang dia timbulkan. Manis, memikat, namun dalam satu waktu membunuhku secara perlahan.

"Hh..." aku menghela nafas lagi. Rasanya sesak bila mengingat natalku kemarin lusa. Perih mataku melihat pasangan-pasangan yang berlalu lalang di depanku. Merayakan turunnya berkah Yesus di hari penuh damai itu.

Di hari itu, aku menghela nafas banyak sekali-hela nafas sesak yang benar-benar menyakitkan. Ketika melihat Sasuke mencium kening Sakura di depan gerbang sekolah, aku menghela nafas. Ketika melihat Hanabi-dengan aksen memerahnya yang lucu- mencium pipi Gaara kemudian kabur entah kemana, aku menghela nafas. Bahkan ketika aku tidak sengaja melihat ayah dan ibuku berciuman di balkon kamar mereka, aku menghela nafas. Panjang sekali.

"Apa yang kau lakukan? Tidakkah kau ingin menjadi dewasa?" ayahku cemberut, agak sebel juga karena acara natalnya kuganggu.

"Yah, Ayah. Naruto juga pengen dipeluk kayak gitu. Hehehe." Aku membela diri, nyengir di tengah-tengah pintu kamar mereka yang terbuka lebar.

Muka ayahku memerah, antara kesal dan malu. Pandangan mata beliau menajam. Serem. Berbeda dengan ibu yang malah menutupi mukanya dengan bantal. Menyembunyikan ekspresinya dari kami.

Ayah berjalan mendekat dengan langkah kakinya yang lebar-lebar. Aku bersiap-siap, menyetel seluruh saraf tubuhku dalam mode ready to run.

"Hohoho, santa tidak akan memberi hadiah pada Papa yang nakal. Hohoho..." aku berlari setelah mengucapkan kalimat barusan yang disambut dengan geraman khas ayahku.

Pintu kamarku terbuka, buru-buru aku masuk lalu menguncinya, mematikan lampu kamarku. Gelap segera kuadaptasi lewat retina mataku, membuat kedua pupilku membesar, mencari berkas-berkas cahaya bulan yang tersisa. Kurasakan tepian ranjang yang menghalangi jalanku. "Hh..." kuhela nafas sekali lagi sebelum menjatuhkan punggung ke bed.

Tubuhku telentang dengan mata yang masih terbuka. Langit-langit kamarku yang tinggi, membawa fokus pandanganku ke satu titik lurus. Di titik tersebut, kubayangkan senyuman manisnya menggetarkan jiwaku. Kukhayalkan tangan lembutnya merengkuhku malu-malu, dan suara detak jantungnya yang bergetar cepat ketika aku memanggil namanya.

Otakku mencapai ke serpihan fantasi lainnya. Mataku terpejam, senyumku mengembang. Sesekali terkekeh dalam sunyi.

Andai saja dia ada disini. Menempelkan bibirnya di atas bibirku. Mengecap rasa manis dari kulitnya yang tidak pernah kucoba-kecuali hanya di ujungnya saja. Rasa manis di bandara dulu yang sukses membuat hatiku nyaris kehilangan kewarasannya.

Aku jatuh cinta, dan tak pernah sekeras ini dalam hidupku. Gadis sederhana yang menyihir mataku, mempesonakanku dalam sekejap. Membuatku candu akan segala hal yang menempel pada dirinya.

Kalau dia pulang nanti, aku akan mencuri ciumannya, memastikan bahwa ia tetap menjadi pacarku.

Hanya saja, sudah seminggu ini dia tidak memberiku kabar apapun. Pesan yang kukirim lewat e-mail pun tidak di balas. Perasaan takut mulai menggelayutiku. Apa dia lupa padaku? Apakah dia menemukan 'yang lain' yang lebih baik dari diriku? Apakah dia meninggalkanku karena aku kurang memperhatikannya? Apakah dia menemukan seseorang yang memahami dirinya lebih dari yang bisa kulakukan untuknya?

ARGH! Beginikah rasanya galau? Tidak enak sama sekali!

Apalagi ketika Desember hampir habis, menuju tahun baru dengan kisah yang seharusnya mempunyai warna baru juga. Aku tidak bisa membayangkan harus melewati malam tahun baru nanti dengan rasa sepi yang menyiksaku. Menonton pertunjukan kembang api dengan hati teriris-iris melihat orang-orang berciuman.

Hinata-chan, cepatlah pulang...

~Aiko Fusui~

28 Desember, 14.30 waktu setempat...

Setengah jam lagi aku bisa keluar dari kurungan akademik berlabel sekolah ini. Setengah jam lagi, aku bisa berlari menuju kafe internet di depan gerbang sekolah sebelah timur yang akan sepi pengunjung. Setengah jam lagi, aku bisa melihat wajah Hinata, menanyakan kabarnya, dan bertukar rasa cinta lewat dunia maya.

Aku tak mau berbohong jika aku benar-benar merindukannya. Aku bahkan tak bisa mencegah fantasi berlebihan akibat rasa cinta, rindu, dan takut yang bertabrakan dalam diriku. Ini wajar dan tidak salah, bela diriku sendiri.

"Besok sudah hari libur tahun baru..." sensei berkacamata di depan sana berkata. Disambut sorakan teman-temanku.

"Tapi jangan lupa pe er kalian. Masuk setelah liburan tahun baru harus sudah ada di meja saya." Kalimat lanjutannya ini memotong kegembiraan teman-temanku yang kadung ceria.

"Hm, Akemashite Omedetou minna~ jaa..." salam terakhir sensei sebelum ia benar-benar meninggalkan kelas.

"HOREEEE..." seperti melupakan kewajiban mereka atas pekerjaan dan tugas yang diberikan, aku dan teman-teman yang lain bersorak gembira. Beberapa anak otomatis membentuk gerombolan, membicarakan rencana tahun baru mereka nantinya.

Sudut bibirku tertarik ke atas, tersenyum. Tak perlu waktu lama bagiku untuk segera melangkah meninggalkan kelas. Berjalan sendirian di koridor gedung sekolah yang sama ramainya dengan kelasku-bahkan bisa dibilang lebih ribut. Aku memandang keluar, melalui jendela kaca besar serupa dinding di koridor lantai tiga ini.

Langkahku terhenti ketika satu sosok menarik perhatianku, melambai di depannya gadis yang mengenakan seragam SMP berdiri di samping sepedanya. Wajahnya sumringah, tak berhenti melambaikan tangan ke satu arah. Aku mengikuti arah pandangannya dan ikut tersenyum ketika tahu bahwa si rambut merah yang ditunggu olehnya telah datang.

Pemuda berambut merah itu berjalan tegap, dua tangannya aman di saku coat coklat yang ia kenakan. Halaman luas sekolah ternyata membuat gadis berambut coklat gelap itu tidak sabar. Ia yang menghampiri pemuda itu, tentu saja dengan sepedanya.

Satu menit kemudian, mereka telah ada di atas sepeda, berboncengan menuju jalan mereka yang sama.

Hubungan Gaara dan Hanabi telah mengalami kemajuan rupanya. Aku turut bahagia. Lalu tersadar bahwa nasibku sekarang perlu dikasihani. Mereka akan merasakan lumeran salju dalam suasana hangat yang ditimbulkan oleh hati mereka yang berbunga cinta, merapatkan genggaman tangan dalam dinginnya hembusan badai akhir tahun. Dan aku disini, terjebak dalam cinta yang jauh dan memaksaku menunggunya sampai akhir di tengah badai yang menyakitkan.

"Uzumaki-kun." Seseorang memanggilku, aku menoleh ke belakang, mendapati Shion, gadis klub cheer yang belakangan sering meminta bantuan dariku.

"Ya?"

"Bisa bantu aku sebentar?" Tuh kan, ini yang kesepuluh kalinya dalam minggu ini.

"Tapi aku harus ke warnet, ada sesuatu yang ingin kupastikan." Ini kalimat penolakanku.

"Kau bisa menggunakan laptopku, aku juga bawa modem. Kumohon Uzumaki-kun..." katanya cdpat, dia memasang puppy eyes, kedua tangan menangkup di depan tubuhnya yang menunduk. Memelas.

"Hh, tapi..."

"Onegai, Uzumaki-kun..." katupan tangannya kini berada di depan kepalanya yang merendah. Dalam pose begini, aku mana bisa mengelak. Dengan menarik nafas panjang dan meyakinkanku bahwa ini hal yang tidak berbahaya, aku bertanya apa yang bisa kubantu.

Dia terlihat senang, mata ungu terangnya berbinar dengan senyuman merekah yang manis di wajahnya.

"Ajari aku bahasa inggris logat jepang."

Gubrak nih cewek.

~Aiko Fusui~

Namanya Rizuka Shion, anak pindahan dari sekolah luar negeri yang kini jadi anggota kelas 3-2, sebelah kelasku. Anaknya manis dan mudah bergaul dengan siapa saja. Ikut klub cheer karena dia mengaku ingin dilempar-lempar ke udara bebas dengan rambut twin tails dan memegang dua pom-pom warna warni. Singkat kata, dia menarik. Pertama masuk ke sekolah ini, dia sudah menjadi primadona yang mencuri perhatian banyak orang, termasuk aku.

Sekilas pada pandangan pertama di kejauhan, kukira dia adalah Hinata kesayanganku. Postur tubuh dan bentuk mukanya hampir sama. Hanya saja dia lebih tinggi, bermata ungu terang, berambut pirang pucat, dan tentu saja tidak bisa menulis puisi. Sifatnya pun banyak yang berbeda. Mataku yang sempat membelalak senang karena mengira Hinata sayangku sudah pulang dengan gaya rambut baru, berubah kecewa.

Yah, bukan.

Aku lalu menjauhinya, ya memang dari awal kami tidak dekat sih. Tapi anehnya dia mendekatiku. Mengajak berkenalan dan sering meminta bantuan yang aneh-aneh-karena aku agak jago dalam pelajaran bahasa inggris, hal ini yang biasa ia jadikan alasan. Aku tidak tahu kenapa, dan sejujurnya aku tidak mau tahu.

Sikapnya yang begitu malah terkadang membuatku ingin lari. Aku enggan menatapnya, karena tiap kali menatapnya, bola mata bundarnya seolah memantulkan bayangan Hinata yang tersenyum manis di hadapanku yang hampir meledak karena gila.

Seperti sekarang, ketika dia memintaku mengajarinya bicara bahasa inggris berlogat jepang di ruang kelasnya yang sepi. Aku bisa merasakan matanya yang memandangku, tapi mataku tetap saja tertuju pada laptopnya. Meneliti tiap detail halaman facebook milik sayangku yang sepi dari status terbarunya. Lagi-lagi aku harus kecewa, karena hari ini ia tidak sedang online, entah kenapa.

"Er, Uzumaki-kun, kalau yang ini bacanya bagaimana?" telunjuknya mengarah pada sebuah kata yang ada dalam kamus mininya. Matanya yang terang menghakimiku, memintaku untuk memperhatikannya.

"Tampan, hansamu. Dalam bahasa inggris kan handsome, di jepang bacanya hansamu." Kataku ramah.

"Ah, contohnya; Uzumaki-kun no hansamu? Benar?" dia memainkan pulpennya, matanya masih tak lepas dariku ketika aku tertawa. Bisa kurasakan pipiku merona, dan gerakan tanganku yang menggaruk belakang kepalaku, salting.

"Yang lain deh." Kataku akhirnya.

"Kalau ini apa?"

"Apartemen, apato."

"Ini?"

"Persen, paasento."

"Huruf 'l' diganti 'ru', tapi kalau ada huruf 'r', malah tidak dibaca. Shinjirarenai, hahaha." Dia tertawa, seolah mengundangku bersama tawa lain untuk mengikutinya.

"Haha, begitulah." Selama beberapa detik, tawa kami mengisi ruangan, dan detik berikutnya hening kembali berkuasa. Mata kami bertemu, tapi dia membuang mukanya malu-malu.

"Ano, Uzumaki-kun tahun baru nanti sudah ada acara?" nada bicaranya berubah, lebih pelan namun juga lebih menekan.

"Kenapa?"

"Mau keluar bersamaku?" dia kembali menatapku lekat. "Onegai." Permohonannya menambahkan.

Ini dia, sinyal yang ia berikan telah mencapai puncaknya. Aku bukan cowok yang super bodoh, perasaanku juga tidak sebuta dulu. Aku bisa mengambil kesimpulan dari gadis ini. Dari caranya menatapku, caranya memanggil namaku, caranya berjalan mendekatiku, dan caranya mengajakku berbicara; dia menyukaiku.

Ajakannya berarti kencan. Dan bagi perempuan, kencan adalah awal hubungan percintaan bernama pacaran. Yah, pengecualian untuk Hinata, kami memang tidak pernah kencan sebelumnya, dia gadis yang berbeda. Kemudian dilanjutkan ke pertemuan lain yang lebih menyita waktu dan lebih intens, menumbuhkan perasaan yang Shion harapkan dariku.

Jujur, meskipun aku sudah bisa menebak perasaannya padaku, rasa kaget itu tetap ada. Aku tak pernah menyangka bahwa ia akan berani mengajakku pergi. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak punya hak untuk marah, bahkan untuk sekedar mengusirnya aku tidak berhak. Dia hanya seorang gadis yang yakin dengan perasaanya. Mana tahu dia kalau hatiku sudah amat penuh dengan nama sayangku.

Cinta bukan kejahatan, itu yang diajarkan Hinata-chan padaku.

Jadi, aku menggeser kursor di layar laptop ke sebuah foto yang kuupload setelah diedit. Klik satu kali dan foto itu muncul dengan tampilan lebih besar. Aku memutar laptop, menghadapkan layar pada pemiliknya.

Kedua mata ungu itu menatap lurus ke dalam sebuah gambar yang ada di depannya. Memeriksa lekuk-lekuk garis yang menggambarkan dua sosok wajah yang terlihat bahagia dia dua kolom foto yang disatukan. Dia mendekatkan kepalanya, memeriksa sosok gadis yang tengah tersenyum di samping gambarku. Satu kata yang tersampir di tengah garis kolom foto membuatnya tercekat; Love.

Tak butuh waktu lama untuk menuntun matanya terlihat sendu. Aku menggaruk kepalaku kembali, salting lagi. Melihat dirinya yang hanya terpisah oleh meja dariku, menunduk. Aku merasa tak enak. Dia gadis yang pintar dan berpengalaman. Sekali lihat foto tadi dia pasti tahu kalau dua wajah tadi bukan terikat darah, tapi terikat oleh suatu hubungan bernama cinta.

"Er, Shion?" aku memanggilnya, agak geli juga aku berada dalam situasi ini.

"Aku tidak pernah melihatmu bersamanya, apa dia anak SMA lain?" dia bertanya, kepala pirang pucat itu masih menunduk.

"Hehehe, bukan. Dia anak sini juga kok, Cuma dia pergi ke-" kalimatku terpotong dengan kalimatnya yang ia ucapkan terburu-buru.

"Dia pergi? Apa artinya kalian putus?" kali ini ia menatapku lagi, mendekatkan wajahnya yang benar-benar menunjukkan kecemasan dan rasa ingin tahu yang besar. Nada ucapan dan sorot matanya berisi pesan yang sama; berharap bahwa kalimatnya mendapat persetujuan dariku.

"Eh? Kami tidak putus. Dia pergi ke New York. Sebelum tahun baru, dia berjanji akan pulang."-semoga.

Kemudian dia terdiam. Matanya berkaca-kaca. Aku terhenyak juga melihat ekspresinya yang seperti itu. Yang aku tahu, selama ini dia selalu tersenyum dan yakin pada dirinya. Cewek yang biasanya selalu percaya diri dan berani menyatakan apa yang dia pikirkan, sekarang benar-benar salah tingkah di depanku.

"Shi-shion, bukan maksudku~"

"Selama ini aku tidak pernah ditolak. Selama ini aku yang selalu dikejar, bukannya mengejar dirimu yang bodoh. Pertama kalinya mengejar, aku dipermalukan seperti ini, pertama kalinya aku ditolak... hiks."

"Aduh, jangan nangis. Er, Shion..."

PLAK!

Wajahku tersentak ke kiri. Menuruti gaya yang diberikan telapak tangan Shion di pipiku, keras. Untuk beberapa detik, aku bergeming. Mendengar isakan Shion yang tercekat tak keluar semua. Sekarang aku dilanda kebingungan yang sangat. Ingin menghibur, tapi takut kalau Shion menjadi lebih dari ini. Ingin lari, tapi aku tidak tega meninggalkannya sendirian dengan kondisi seperti ini.

Jadi, mencoba mengambil keputusan paling rasional, aku terdiam, menunggunya sampai dia selesai menangis, sampai dia merasa lebih tenang.

"Kenapa kau tidak bilang dari awal? Kalau aku tahu, hiks, kalau aku tahu, aku tidak akan, hiks, menyukaimu seperti ini..."

DEG!

Kalimat pelan Shion sampai ke ulu hati. Menimbulkan perasaan tidak enak yang merambat cepat menguasai diriku. Aku terpaku menatapnya. Tidak berani bicara apapun selama ia bergerak, mengemasi barang-barangnya. Sampai ia berjalan dan berhenti di ambang pintu kelas, tanpa menoleh ia memanggilku.

"Uzumaki-kun?"

"Eh, ya?" aku gelagapan menjawab panggilannya.

"Apa tidak ada kesempatan untukku?" dia menunduk lagi, membelakangiku.

Wajahku semakin kusut karena kebingungan. Kupejamkan mata, memastikan aku tidak kehilangan akal sehatku. Sejenak, bayang wajah Hinata terbang, melekat dalam memoriku. Sulit dihapus, tapi begitu mudah untuk diingat. Aku tersenyum dalam hati. Tidak akan ada gadis kedua sepertinya. Aku yakin.

"Ehehehe, gomenasai Shion."

Dari sini, kulihat punggungnya menegak, naik turun sekali, menarik dan melepas nafas panjang. Kemudian, kepala berhias rambut pirang pucat itu menggeleng. Menolehkan sedikit wajahnya yang tersenyum, terpaksa.

"Daijoubu, Uzumaki-kun..." getir.

Dia pergi, beriringan dengan angin salju yang berhembus melewati celah jendela. Dingin.

"Hh..." aku menghela nafas. Ini keputusan yang baik! Ini keputusan yang baik! Ini keputusan yang baik!

Aku akan jadi cowok setia!

Meskipun kemungkinan besar, tahun baru nanti aku tidak bisa mendapatkan ciuman dari sayangku. Ugh!

~Aiko Fusui~

Tergila-gila padamu adalah kebutuhan

Seperti bernafas,

Seperti ramen

Kau jauh dan memaksaku untuk menunggu

Tak peduli betapa diriku selalu menjadi beku tiap kali melihatmu dalam ingatan

Dan terimakasih,

Kau menambahkan kadar keindahanmu

Menyilaukan dan sukses membuatku terguncang

Aku mencintaimu, sangat amat mencintaimu

Kau datang tanpa pelayangan berita

Muncul dengan tamparan yang menyentak kegalauanku

Jangan pergi lagi,

Aku tak akan sanggup berdiri dengan ketiadaanmu

Mari kita saling menatap diri

Kita pesan osechi dan ocha hangat

Tergenggam dalam sela-sela jemari yang merapat

Membawa tubuh kita mendekat

Pun kedua bibir kita

Tutuplah matamu

Kuberikan hatiku dalam bentuk lain

Kupersembahkan ciuman yang lebih manis dari madu

Lebih lembut dari mochi

Kemarilah, lebih dekat padaku

Sayangku…

I kiss you more than better

Naruto

~Bersambung...

Nyaha, ada yang aneh dengan Naruto? Hehehe.

Yosh. Akemashite Omedetou minna~ (Met Tahun baru... ^^)

Kalau sudah selesai membaca, Fui minta review-nya yah? Review dalam bentuk apapun diterima. Mau krtitik, komentar, pujian#ngarep, flame, konkrit, say hello, semuanya diterima dengan senang hati.

Jadi, monggo di REVIEW. Hehehe

Salam

Aiko Fusui (Naruhina Lovers)