Minna-san... Try Out ketiga selesai, langsung disambung dengan Ujian Madrasah, plus Ujian Akhir Madrasah Bertaraf Nasional. Minggu ini ujian praktek. Tanggal satu try out lagi, pertengahan April udah Ujian Nasional.

Haddduuuuuuh, BAYGON mana BAYGON?! #dilempar Autan.

Gomen-ne kalau saya tidak bisa menjadi author yang disiplin. #ojigi.

Ne, akhirnya saya bisa mengetik nih sambungannya.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: AU, lil OOC, sebenarnya harus diupload bulan Desember, tapi karena saya lelet jadi baru bulan-bulan ini bisa upload, typo (s), Sequel from 'Si Penulis Puisi', Normal POV, Naruhina all the way. Jika reader tidak suka, sebaiknya tidak menyakiti perasaan Anda sendiri. Terimakasih.

I apologize... but i present, so enjoy please. ^^

Please Kiss Me

Chapter 4

Matahari sudah sempurna hilang di balik pandangan. Angin musim salju tanggal 31 Desember menyusup dari balik celah-celah yang terbuka, baik dari makhluk yang hidup maupun makhluk yang tidak. Uraian salju mulai menipis, namun tetap rajin menghampiri undangan gravitasi ke pusat bumi. Turun perlahan, seolah cuek pada situasi yang ia sentuh.

"S-Shion? Apa m-maksudnya ini?" Naruto tergagap. Kedua tangannya terangkat ke atas, menolak untuk membalas pelukan tiba-tiba gadis yang kini malah terisak pelan.

"Shion! Jangan melawan! Kamu mau bikin malu?" kata wanita yang sepertinya mengisi posisi sebagai ibu Shion. Dia menarik-narik lengan Shion. Berusaha melepaskan kedua lengan putih milik anaknya yang malah semakin erat memeluk Naruto.

"Lepas!"

"Nggak mau."

"Lepas, atau Mama pukul!"

"Bodo!"

"SHION!"

"Ngga-"

PLAK!

Wajah Shion yang tadinya menatap nyalang pada sang ibu, beralih keras ke kiri. Menemui badan Naruto yang ia peluk. Hening yang menyesakkan cepat menguar dalam situasi itu. Air bening yang sedari tadi ditahan Shion, pecah. Mengalir deras menuruni wajahnya yang membeku. Mengelus pipinya yang memerah akibat tamparan sang ibu.

"Ma-mama?"Shion-dan semua orang disana-terperangah.

"Pulang." Wanita separuh baya itu berkata dingin. Matanya tak bisa menemui mata putrinya, memandang jauh ke arah lain.

"A-aku maunya sama Naruto-kun!"

PLAK!

Kali ini wajah Naruto yang tersentak ke kanan. Bukan, bukan mamanya Shion yang nampar dirinya, tapi Hyuuga percaya? Beneran Hinata lho. Si cewek Hyuuga lembut, santun, tenang, kalem, suka senyum, dan manis itu.

Gadis yang sedari tadi bersembunyi di semak-semak itu, muncul tanpa banyak menyita perhatian. Datang dengan segera menampar pipi Naruto, pacar yang ia ragukan kesetiaannya kini. Hatinya sakit, dan sama sekali tak bisa menahan lagi amarahnya yang timbul secara konstan.

Pipi Naruto terasa panas, perlahan ia menolehkan kepalanya, memandang si penampar yang berhasil membuat mata beriris birunya melebar. Sebagian karena perasaan senang yang ditimbulkan begitu saja oleh rasa rindu yang terlalu dalam, sebagian lagi karena terkejut luar biasa oleh sentuhan keras dari tangan orang yang ia sayangi.

Kedua pasang mata berbeda warna itu berpandangan, lama. Sampai akhirnya Naruto sadar kalau pandangan mata bulan yang ia rindukan itu menyimpan kemarahan yang tidak sedikit. Buru-buru ia mendorong Shion, melepaskan pelukan maut gadis bermata ungu terang itu. Tangannya yang berbalut kulit sewarna tan pudar itu bersiap mengganti posisi, memeluk Hinata-sayang.

"Hinata-chan..." panggilnya, serak karena begitu banyak kebahagiaan yang bercampur dengan sejuta kebingungan di kepalanya.

PLAK!

Naruto ditampar lagi.

"KAU JAHAT, NARUTO-KUN! Beraninya Kau selingkuh, menduakan diriku! AKU BENCI KAMU!"

Lalu Hinata berlari, menyelamatkan hatinya yang sejujurnya sudah berkeping-keping dalam jiwanya. Menuruni tangga kuil yang temaram, lalu hilang di kelokan menuju hutan kecil di sana. Ia butuh sebuah tempat dimana ia bisa melupakan Naruto barang sejenak. Pemandangan tadi benar-benar telah merusak segala mood-nya tentang penyambutan tak terduga untuk Naruto.

Sakura dan Sasuke hanya bisa cengo, Naruto apalagi. Dengan keadaan pikiran yang kacau karena bingung dan kondisi hati yang semakin digerogoti rindu, dia berteriak. Memanggil satu nama yang memang ia khususkan untuk selalu berada dalam setiap do'anya.

Naruto bersiap menyusul laju kaki pacarnya, ketika satu tangan seorang gadis menarik ujung jumper bagian belakang yang ia pakai. Mau tak mau, ia menoleh dengan ekspresi yang seolah sudah nggak kuat nahan sakitnya kangen itu seperti apa.

"Bantu aku, Uzumaki-kun." Kata Shion pelan.

Sakura yang memang tidak tahu duduk permasalahannya, menjitak kepala Naruto keras, lalu segera berlari menyusul Hinata. Tak lupa, ia menugasi pacarnya, si Sasuke Uchiha untuk menemani,-lebih tepatnya menghakimi- si blonde.

"Selesaikan masalah yang kau buat di sini! BAKA DOBE!" desis Sasuke serem persis di belakang telinga Naruto.

Pemuda berjumper orange itu merinding. Bergidik ngeri membayangkan ancaman tersirat yang terselip di dalam suara si juara karate tahun lalu barusan.

~Aiko Fusui~

Suasana sesenggukan yang berkesan ditahan itu tenggelam dalam keramaian kembang api pembuka festival penyambutan tahun baru di pusat Konoha. Meletup berwarna-warni, tampil kontras dengan background langit malam yang menanjak ke puncaknya. Bersinar-sinar terang, berpendar dalam beberapa detik, lalu menghilang ditelan angin.

Hinata yang terduduk memeluk lututnya di bukit yang berada di belakang kuil, terdiam. Sunyi menguasainya ketika ia berhenti mengeluarkan suara. Dalam hati, ia merutuki dirinya sendiri. Menyesal akibat kebodohan dan kenaifan yang ia alami. Sedikit banyak juga mengutuk gadis yang telah merebut kekasihnya tadi biar terpeleset di aula sekolah atau tersedak di kantin.

"Naruto-kun no Baka! BAKA BAKA BAKA!" jeritnya tertahan. Air matanya keluar lagi. Sakit. Niat hati memberi kejutan indah pada Naruto, malah ia yang kena perihnya kenyataan-yang menurutnya-Naruto selingkuh.

Srak! KRAK!

Suara asing terdengar dari dalam hutan.

Punggung Hinata menegak, bulu kuduknya merinding. Otaknya kini malah mendukungnya untuk semakin ketakutan dengan memutar ingatan akan cerita-cerita hantu yang sering ia dengar waktu kecil tentang hutan di belakang bukit tempatnya duduk. Apalagi suasana sekitarnya yang hanya diterangi cahaya bulan, dengan suara-suara hewan malam bersaut-sautan, pas banget buat mendukung adanya penampakan yang bisa bikin mata melotot dan mulut teriak kencang.

Dalam adegan tegang begitu, sebuah telapak tangan menyentuh pundak Hinata, Sambil terkikik dan bernafas tak beraturan.

"Hinata-chan."

"KYAAAA-"

Reflek, gadis Hyuuga itu menutup mukanya, bergelung dan memeluk lututnya yang bergemeletuk ketakutan. Dari mulutnya terdengar mantra-mantra pengusir iblis dan roh jahat yang diajarkan semasa kecil di keluarganya, dirapal dengan bibir yang gemetaran.

Si asing tertawa, kembali menyentuh pundak Hinata, meremasnya sampai si empunya merasa kesakitan. Namun setelah itu, Hinata mendongak. Kepanikan yang sedari tadi menguasai hatinya, tersapu oleh perasaan kaget yang tak terperi.

"S-Sakura-chan?" Hinata terbelalak senang. Bukan fantasi mengerikan yang datang, melainkan gadis cantik yang menjadi sahabatnya.

Setelah gadis berambut merah muda itu menguliahi Hinata tentang betapa berteriak sembarangan kepada gadis cantik itu tidak sopan, barulah Sakura menanyakan beberapa hal yang sempurna menjurus pada diora yang membuat gadis indigo itu berlari sesenggukan, sekaligus merusak rencananya sendiri.

"Sakit." Jawab Hinata singkat. Matanya sembab, menunduk sendu. Berat sekali rasanya ucapan yang tak sampai, tercekat di pangkal tenggorokannya.

Sebagai seorang perempuan, Sakura bisa mengerti tentang bagaimana kacaunya hati gadis di depannya. Bagaimana kata 'mendua', 'selingkuh', dan 'main serong' terdengar begitu jahat. Meski Sakura tidak benar-benar mengetahui kenyataan sebenarnya, asumsi yang dibangun Hinata dalam dirinya bisa terlihat dari kornea bening pelindung mata hijaunya sebagai semua luapan kekecewaan yang lebih sakit daripada sekedar transplantasi jantung.

"Belum tentu benar kok, Hinata-chan. Naruto begitu cinta sama kamu. Mana mungkin dia selingkuh?" Sakura mencoba menenangkan. Direngkuhnya pundak Hinata ke dalam pelukannya. Dia bisa dengan jelas merasakan gemetaran tubuh Hyuuga itu, merintih perlahan. Menahan tangis yang ingin keluar.

"T-tapi, tapi tadi gadis itu, dia, Naruto-kun dipeluk, hiks..." sudah deh, jebol pertahananya. Kedua tangan putih berbalut kimono biru itu memeluk Sakura, mencari pegangan.

Memori menyakitkan berkedok asumsi pengkhianatan milik Sakura tiba-tiba muncul. Menjalarkan perasaan aneh, perih namun dalam waktu yang sama membuatnya geli. Dulu, dulu sekali ketika mereka semua masih berhati childish, egois, dan pemarah, belum ada sejuta kejadian demi kejadian yang membuat mereka dewasa. Sakura ingat betul bahwa ia pernah juga cemburu pada gadis yang kini tengah memeluknya.

Opini sesat akan hubungan Hinata-Sasuke yang dulu, waktu dia dan Sasuke belum menyambungkan listrik cinta mereka. Sakura pikir, cowok penggemar tomat itu mengkhianatinya lagi (Baca: Si Penulis Puisi). Ia pikir Sasuke berselingkuh saat dirinya telah berjuang kembali mencari uluran kasih yang masih tersisa diantara mereka. Tapi, sekali lagi, namanya opini, sesat pula, dengan penuh syukur Sakura menyatakan diri bahwa ia salah.

"Ne, Hinata-chan, aku berani sumpah kalau Naruto tanpamu kayak mayat hidup yang nggak tau tujuan. Dia galau segalau-galaunya."

Nggak ada perubahan berarti, Hinata tetep keukeuh meluk Sakura sambil nangis.

"Tiap hari dia kayak orang gila. Matanya kosong kayak nggak punya gairah hidup. Keceriaanya hilang, pas ditanya dia selalu jawab kalau semua hidupnya dibawa pergi sama kamu."

Dalam sesi ini Hinata mulai berhenti menangis, meski mukanya yang sembab masih bersembunyi di perut Sakura. Dia agaknya sudah bisa mendengarkan penuturan selanjutnya.

"Pulang sekolah, dia langsung cabut ke loker yang penuh sama puisi yang kamu kasih ke dia dulu. Dia berusaha mengirim sinyal-sinyal bahwa dirimu juga merindukan dirinya. Terkadang, lama sekali dia membaca salah satu puisimu, dalam hati, lalu tersenyum sendiri entah karena apa." Gadis bermata hijau terang itu mulai tersenyum cerah ketika Hinata mendongak. Perlahan dia duduk sendiri di samping Sakura. Mata perak yang serupa bulan itu memandangnya penuh harap.

"Benarkah?" suaranya yang lembut, ternoda dengan serak sehabis menangisnya.

Sakura mengangguk, memerankan perannya sebagai sahabat cewek dengan begitu baik.

"Dia bilang kalau dia nggak pernah merasa salah telah memilih kamu yang memenuhi tiap sudut hatinya."

"Tapi-tapi, p-perempuan i-itu...?" muka Hinata tertekuk lagi, tangannya mengepal menahan secuil amarah yang persebarannya seperti virus ebola di hatinya.

"Ara, Hinata-chan, aku benar-benar tidak tahu soal gadis pirang itu. Naruto tidak pernah bilang dia menyukai gadis lain selain dirimu. Yang aku tahu, gadis itu anak baru di sekolah."

"J-Jadi?"

"Ya, kalau penasaran, mending kita samperin Naruto-nya langsung deh. Klarifikasi baik-baik, kan lebih enak." Sakura menyarankan, disambut dengan anggukan pelan Hinata yang mulai membersihkan sisa tangisannya.

"Jangan sampai kayak Aku sama Sasuke dulu. Salah paham sampai kami nyaris musuhan. Ah, untung ada dirimu, Hinata-chan." Gadis itu tersenyum lagi, membantu Hinata berdiri dari tempatnya.

"Gomen-ne Sakura-chan." Katanya tiba-tiba. Tentu saja temannya itu tidak bisa menyembunyikan keheranannya dengan mewakilkan telengan kepala ke kanan, tanda nggak paham.

"Aku minta maaf, udah bikin bajumu b-basah."

~Aiko Fusui~

Lengang. Sunyi. Bunyi keramaian jauh di sana terdengar bagai dentuman yang sayup-sayup tersaput beratnya atmosfer. Tak sampai ke jalan setapak yang membelah hutan kecil di bukit belakang jinji Konoha. Temaram, sesekali terlihat percikan kembang api mengangkasa, menyaingi kerlipan bintang dengan cahayanya yang hanya bertahan sekuat tiupan gelembung.

Beberapa detik, menghilang.

Seperti emosi yang timbul tenggelam di hati Hinata sekarang ini. Dari dua puluh menit menanjaki terjal bukit, hatinya masih tidak bisa diajak kompromi. Bukan salahnya jika ia hanya ingin merasa tenang dan lupa akan rencana kacau dan bayangan gadis pirang tak diundang.

Bahunya naik turun, seiring dengan hembusan nafas yang keluar dari mulutnya. Ada rasa marah, takut, kecewa, sedih, berharap, dan sedikit kebahagiaan yang berputar-putar dalam dirinya. Pusing.

Mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, Sakura mengeratkan genggaman tangannya pada jemari kiri Hinata. Menyalurkan aura kuat yang ia miliki pada gadis yang kini kebingungan dengan arah pikirannya.

Kedua pasang kaki itu akhirnya menapaki batu hitam pembatas kuil dan hutan kecil. Setelah lelah berjalan dalam remang dan kesejukan angin salju, nafas Hinata kembali tercekat. Tatkala di depannya, jauh di sana, kedua mata sewarna bulan melihat gadis pirang panjang itu berdiri putus asa di samping wanita yang ia panggil 'mama'.

Hinata hanya bisa diam melihat tangan pemuda yang ia cintai, terulur, menyalami si gadis yang dengan canggung membalasnya, bersemu merah. Dari tempatnya berdiri, Hinata bisa membaca gerakan bibir si gadis yang menyuarakan; "Domo Arigato." Sambil berojigi sopan. Naruto tertawa kecil, entah bicara apa, Hinata tak bisa lagi melihatnya dengan jelas. Matanya berair, memberi pesan pada Hinata untuk menunduk.

Naruto jahat!

Entah berapa lama ia berdiri, entah bagaimana awalnya, atau entah bagaimana ia tak bisa mendengar suara langkah yang mendekat. Yang menyadarkan dia dari tumpukan rumit perasaannya, hanya suara yang sungguh ia rindukan yang menyebut namanya.

"Hinata-chan."

"Ah, Kau pasti Hinata-chan, maafkan aku." Suara lain datang, meminta maaf. Hinata mendongak, menemui sepasang mata ungu terang yang melihat ke arah lain. Jejak air mata masih tersisa di pelupuk mata. Gadis itu tak berani bertatapan langsung dengan Hinata.

"Y-ya?"

"G-gomen ne watashi." Tiba-tiba ia menekuk tubuhnya, ojigi. Rambutnya yang pirang terurai memenuhi punggungnya yang bagai meja tulis. Isakan terdengar lagi, menyentuh perasaan sesama wanita milik Hinata.

Ia yang bingung seketika menarik tubuh yang mengenakan turtleneck kuning itu, membuatnya berdiri, dengan jelas melihat air mata yang mengalir lagi.

Hinata tak tahu harus berbuat apa. Jika ia dulu hanya bisa diam ketika Sasuke menangis, apa yang harus ia lakukan untuk menghibur gadis yang sama sekali tak ia kenal. Tiba-tiba ia merasa menyesal telah membuat kutukan tak berdasar untuk gadis ini tadi.

"Aku, aku tidak bermaksud merebutnya darimu. A-aku hanya ingin l-lebih lama disini. Aku t-tidak, hiks, tidak ingin dijodohkan..."

Mata bulan terbelalak menerima penuturan jujur yang keluar dari mulut Shion.

"K-kumohon, m-maafkan aku."

Dorongan dari sesuatu yang tak bernama, menggerakkan kedua lengan Hinata memeluk gadis itu. Mengusap-usap rambutnya yang lebih panjang dari miliknya. Mengapa ini terasa begitu rumit? Kalau saja bukan Naruto yang dicintai oleh Shion, Hinata bisa menjadi pendukungnya. Untuk melepas pemuda itu demi menyelamatkan Shion, bukan perkara mudah. Hinata punya kekuatan untuk kembali dari New York karena ia tahu Naruto akan menunggunya. Hinata punya cara terbaik untuk menunjukkan ketulusannya karena Naruto mengajarkannya rasa sakit yang tak pernah ia sesali sebelumnya.

Apa sekarang ia harus melepaskan semua rasa posesif yang sejujurnya terus menanjak naik saat ia sendiri di kamar perawatan?

"Kau tak perlu berpikir begitu, Hinata-chan."

Tubuh Naruto mendekat, mengirim aroma yang sama sekali tak berubah; selalu bisa membuat Hinata meleleh.

"A-aku tidak me-memikirkan apapun."

"Terlihat jelas di matamu. Jangan begitu, aku sama sekali tak berpikiran akan meninggalkanmu."

Hembusan angin meraup kesedihan yang muncul ke permukaan. Mengalirkan lebih banyak kata bahagia yang tak diundang sebelumnya.

Shion mundur, menarik diri, berjanji akan belajar mencintai tunangan yang ditetapkan oleh mamanya meski ia masih ingin bebas memilih siapa yang boleh menyebutnya dengan kata 'sayang'. Gadis itu pergi setelah mengucapkan terima kasih dan pelukan kepada Hinata.

"Kita mencintai pemuda yang sama, tapi kau lebih dulu daripada aku. Dia selalu bilang kalau kau cantik, dan dia tidak bohong saat aku bertemu denganmu. Tapi aku akan belajar menjadi lebih cantik darimu. Ketika kau tak lagi bisa menjaga hatinya, kau mungkin akan menyesal karena aku bisa saja datang padanya." Shion tersenyum setelah menyeka air yang menggantung di matanya.

"Jadi, jaga dia, Hinata-chan." Setelah itu ia berlari, menyelamatkan diri dari lebih banyak keinginan untuk bertahan di sana.

Dia gadis yang menakjubkan, pikir Hinata.

Sama seperti Shion, Sasuke dan Sakura pergi dengan alasan akan membeli beberapa camilan untuk menonton kembang api di puncak acara. Lalu ketika ia sadar, hanya ada Naruto di sampingnya, menatapnya dengan mata yang berbinar seolah tak bisa kehilangan lagi.

"Hinata-chan."

Si pemilik nama mendongak, menyadari atmosfer sekelilingnya telah berubah. Tekanana nafas lain yang amat ia rindukan, berdiri tepat di depannya. Mengurangi jarak dengan mendekatkan wajah tan-nya ke wajah pualam yang memasang ekspresi terkejut.

Reflek, kaki kiri Hinata bergerak mundur. Satu langkah, dua langkah, hingga membuat jarak berarti di antara mereka.

Dari kaki hingga ke puncak kepala, semuanya secara detail kembali disimpan dalam memori otaknya. Naruto yang malam itu tak berpakaian rapi, kasual namun tak pernah bisa menyembunyikan pesona yang selama ini menjerat hati Hinata ke dalam perasaan cinta.

"Kau sekarang mengerti kan? Aku tak akan berselingkuh atau menduakanmu, Hinata-chan."

Hinata tak bereaksi, masih menikmati semua pemandangan yang ada di hadapannya.

"Kemarin lusa, dia mengajakku kencan. Tapi aku tak bisa melakukan kencan pertama jika bukan denganmu." Gestur wajah Naruto memohon.

"B-bohong."

"Aku tidak bohong, masalah tadi, Shion dipaksa kembali ke Paris untuk bertunangan dengan orang yang sama sekali asing dalam hidupnya. Ia lalu kabur dari rumah, menabrakku dan memelukku di depan mamanya demi mempertahankan keberadannya di sini. Dia akan pergi, Hinata-chan, padahal dia sudah mendapatkan teman di sini."

"Shinjitteru yo, Hinata-chan..."

Hinata tak lagi bisa melihat kenapa dia menjadi begitu emosional. Menjadi begitu pencemburu tanpa alasan yang jelas. Ia bisa melihat dengan begitu gamblang bahwa pemuda yang kini menatapnya sendu, mengharapkannya, menginginkan sambutan yang lebih baik daripada tamparan, tak berdusta.

"Hai." Hinata berkata pelan, tersenyum sebagai pelengkapnya yang juga mengundang Naruto untuk tertawa.

"Ah-, yokatta. Kau membuatku takut, kenapa kau tidak bilang kau sudah pulang?"

Kecanggungan itu tak bisa langsung mencair begitu saja, bahkan sentuhan paling manis tak bisa melumerkannya dengan cepat. Tapi cukup setengah dari cangkangnya, senyum Hinata yang tulus dan polos sudah bisa ia berikan pada Naruto yang menerimanya dengan muka memerah. Entah sejak kapan dirinya menjadi begitu pemalu di depan gadis ini.

"Tadaima, Naruto-kun."

Naruto kembali mendekat, menerima tawaran baik angin kecil yang membawakan wangi tubuh Hinata padanya. Charging setelah begitu lama dipisahkan oleh ruang dan waktu.

"Okaeri, Hime." Lirih Naruto, berhasil memberi aksen rona merah di pipi kekasihnya. "Aku kangen kamu." Tambahnya.

Satu detik kemudian, tangan Naruto berpindah. Bergetar menyampaikan hatinya yang cukup tersiksa tanpa Hinata, menelusupi celah rambut panjang sewarna malam, membawa wajah yang mulai memerah itu mendekat padanya.

Akan kuberikan cintaku dalam bentuk lain, Hinata-chan.

Ketika nafas saling beradu di masing-masing kulit yang semakin mendekat, Hinata terpejam. Berusaha meredakan debaran jantung yang sedari tadi menggila hanya karena Naruto-nya sudah berada di sini. Tangan Naruto membimbingnya bergerak, kegugupan itu sempurna tercipta dari mereka, tapi tak ada yang ingin mengakhiri ini semua.

Sebentar lagi, sedikit lagi, ciuman pertama yang tak pernah bisa mereka wujudkan selama lebih dari lima puluh hari berpacaran jarak jauh, menjadi kenyataan. Perasaan bahagia itu meletup sedemikian manisnya, membuat Hinata tak mampu menolak semua wangi yang dibawa tubuh Naruto mendekat ke penciumannya.

Ia menginginkan ini.

Dan Naruto pun demikian.

.

"-Kalau bertemu dia, cobalah untuk main tarik ulur. Jual mahal. Biarkan dia mengejarmu sampai Kau menyerah."

.

Bagai tersengat listrik berjuta volt, Hinata berhenti mendekat. Matanya terbuka lebar, nasihat Sai-san tempo hari memaksanya untuk menahan godaan ciuman ini.

'Main tarik ulur. Jual mahal. Biarkan Naruto-kun mengejarku sampai aku menyerah.' Berulang-ulang kalimat itu berputar di otaknya. Bagai mantra penguat jiwa.

Dengan satu gerakan, dia mendorong tubuh Naruto menjauh. Menyentakkan lengan Naruto yang masih menempel di tubuhnya. Satu langkah mundur diiringi tatapan kacau Naruto, ia ambil. Lalu balik badan, menghilang di balik kegelapan hutan kecil di belakang kuil. Menghiraukan sorot mata terluka dari pemuda berambut pirang yang masih melongo tak tahu harus melakukan apa.

~Aiko Fusui~

Tidak ada yang bisa dilakukan cowok terlalu bingung selain menyerah. Naruto tersungkur di tanah, duduk lunglai menatap kepergian gadisnya. Harga dirinya terluka.

Apa yang salah? Apa aku terlalu memaksa? Pikirnya kalut.

Mungkin Hinata belum siap menerima ini.

Naruto itu cowok pantang menyerah, ambisius dan terkesan agresif mendapatkan sesuatu. Tapi melihat kenyataan bahwa Hinata lari dari genggamannya, ia sama sekali tak bisa menjadi seperti itu. Bagaimana mungkin dia bisa memaksakan kehendak pada pacar yang baru dua jam ia lihat setelah 53 hari absen dari pandangannya?

Hinata menolak kehadirannya, menolak ciuman mereka sekaligus melukai harga dirinya sebagai lelaki; sebuah pemikiran individual yang membuatnya 100% menjadi pesimis. Perlahan ia bangkit, menapaki jalan berlawanan arah dari yang beberapa menit lalu dilintasi Hinata. Menjauh dalam kekalutan dan ketakutan bahwa ia akan dibuang oleh Hyuuga berparas lembut itu.

~Aiko Fusui~

Hinata berhenti berlari. Di depannya hanya terpampang jurang yang landai yang sepertinya enak untuk dibuat berguling. Gadis berkimono biru itu mengatur nafasnya, mengusap peluh yang membasahi sisi kepalanya. Ada rasa kebas yang kemudian menelusup, mengotori keyakinan bahwa keputusannya meninggalkan Naruto-agar cowok itu mengejarnya-benar.

Rencana awal sudah tak bisa diselamatkan. Runtuh dan tak berlaku lagi. Tak ada yang pernah memikirkan tentang rencana B. Hinata hanya mengikuti insting yang dipandu nasihat Sai-san kemarin lusa.

Gadis berwajah putih bagai pualam itu sebentar-sebentar tersenyum, lalu hilang lagi.

Naruto-kun pasti datang

Naruto-kun pasti mengejarku.

~Aiko Fusui~

Aku tak pernah menyangka

Akan tiba masa dimana

Kita bertemu lagi

Dalam sebuah kesalahan yang manis

Mencengkeram kita pada jurang kebencian

Tapi Tuhan tahu

Betapa cinta kita adalah besar

Terlalu sulit dipatahkan oleh takdir

Tapi aku ingin percaya

Bahwa aku berharga di matamu

Datanglah, wahai Sayang...

Datanglah...

Dengan cintamu yang besar,

Melebihi dulu...

Agar aku merasa begitu bahagia menjadi salah satu bagian penting dalam hatimu

The Amethyst

~Aiko Fusui~

Masih bersambung... ^^

Mungkin chapter depan akan saya update pas bulan April, setelah UN. Ahahaha, Gomenasai Minna-san #ojigi

Jangan berharap banyak pada saya, tapi saya tetap mengucapkan terima kasih tak terkira karena dukungan kalian selama ini. Hiks, malah kayak mau get out kesannya. #PLAK!

Say Thanks:

Nataka-chan: Terima kasih banyak, Nataka-chan. Naruhina sudah ketemu di chapter ini. Shion nggak sepenuhnya jahat kok.^^

Aikawa: Ah, terima kasih doanya, Aikawa-san. Apa karena mood galau yang menyerang sehingga berdampak pada fict saya yah? #alesan. Hehehe

Hoshi no Nimarmine: Ahaha, gomenasai... ^^

Kirei-neko: Ah? Apa saya terlalu kejam kepada mereka yah? Maafkan saya Naruto-nii, Hinata-nee... T.T Anw, saya nggak akan ganti genre jadi angst atau hurt/comfort, jadi nggak sedih kok. ^^

Ze: iyaaaaa ^^

Hyuna Uzuhi: Yap :D

Guest: Maafkan saya jika bertele-tele. Hanya saja saya ingin mereka belajar saling percaya setelah lebih dari 50 hari tidak bertemu sama sekali. ^^

Sparkle Thanato: Ah, terimakasih atas pengertiannya, Sparkle-san. ^^ Anw, Shion nggak jahat-jahat amat kok.

Pik: Maafkan saya karena tidak bisa memenuhi harapan Pik-san. #ojigi. Tapi terima kasih sudah mereview

Setiadimuhammad: SIAPPP, ehehehe, arigato atas semangatnya.

Ekasari-san: maaf saya tidak bisa update secara soon, semoga chapter ini tidak mengecewakan. ^^

Azzaqiyy:Ugh, gomenasai... Terimakasih sudah mereview ^^

Untuk berikutnya, saya ingin segera meng-ending-kan fict ini. Semoga nggak ada ide lain yang nyempil yang nantinya malah membuat saya kebingungan menentukan alur ceritanya.

Setelah ini, saya tetap setia dengan beberapa buku lapuk berbau debu di pojokan kamar. Buat readers yang senasib dengan saya, ayo berjuang! Hihihi

Salam Cinta

Aiko Fusui