Note:

Dear, teman-teman. Mohon maaf kemarin ada beberapa kesalahan saat upload chapter baru dan terpaksa harus di-delete. Saya gak bisa cepat-cepat perbaiki karena ada beberapa kendala—ini pun berusaha untuk update secepat mungkin sebelum jadwal kerja makin padat. Selamat menikmati! He.

.

.

.

.

.

.

"Semua pendengar yang menyukai siaran Kyuubi Gen."

Kinoe Shimura menangkap jelas suara renyah si penyiar radio yang memenuhi ruangan kelas dari mini tape milik Shibi Aburame. Sensei baru saja meninggalkan kelas kurang dari satu menit yang lalu, dan seluruh murid—yang kesemuanya laki-laki, berkumpul di dekat meja Shibi sambil memaksa pemuda Aburame itu untuk mengeluarkan mini tape terbarunya yang katanya lebih bagus daripada walkman keluaran Sony. Mereka mencabut earphone yang terbiasa terhubung dengan minitape dan membiarkan speaker-nya bekerja dengan volume penuh mengudarakan suara si penyiar radio. Kyuubi Gen. Siaran favorit anak-anak muda masa kini karena lagu-lagu yang diputar adalah hits terbaru dan paling gaul pada zamannya.

"Musim panas tahun ini kita akan memperingati tiga tahun kepergian idola kita Elvis Presley. Huhu, sedih sekali rasanya."

Kinoe bukannya tidak suka dan tidak ingin bergabung. Hanya saja ia terlalu malu untuk ikut berjalan ngesot di lantai kelas yang terbuat dari tatami dan menubruk teman-teman sebayanya itu. Dia tidak seliar itu. Kinoe hanya sesekali melirik ke arah kerumunan. Ada Kizashi Haruno—si murid jenius yang tidak pernah belajar namun selalu juara kelas—sedang menikmati snack Amerika bersama temannya Fugaku Uchiha yang bengal dan penjahat wanita. Lalu ada pula si putra mahkota Hiashi Hyuuga yang… ah, Kinoe tidak mau meneruskan lebih jauh karena kalau ia melihat Hiashi hatinya akan selalu terasa sakit. Kenapa? Nanti kau akan tahu sendiri lah.

Lagi pula, pemuda Shimura itu sudah ada janji sepulang sekolah untuk bertemu dengan seseorang. Jadi seharusnya saat ini ia dengan sangat cepat membereskan tinta dan kuas yang ia pakai untuk membuat shodo—seni kaligrafi Jepang—dan bergegas pergi dari kelas.

"Yeah. Masih denganku Killer B sebagai penyiar, sementara waktu kita dengarkan hits terbaru dari Akatsuki Brother—hoho, aku bisa dengar teriakan para gadis untuk si vokalis remaja tampan kita, Pein!-judulnya I am your Wolf. Selamat mendengarkan!"

Sorakan bahagia dari murid laki-laki di kelas adalah suara terakhir yang Kinoe dengarkan sebelum langkahnya berderap di sepanjang koridor. Sebenarnya, saat dirinya hendak meninggalkan kelas secara tak sengaja Kinoe menyadari bahwa sedari tadi Minato Namikaze memerhatikannya. Namun Kinoe tidak ingin terlalu ambil pusing karena ia memang tak terlalu suka bicara dengan siapa pun kecuali,

"Mebuki?" panggil Kinone, saat dirinya sampai di perpustakaan sekolah.

Mebuki Utatane yang tengah berkonsentrasi memandangi bukunya mendongak dan menemukan Kinoe sudah berdiri di hadapannya. "Kau datang?"

Kinoe mengangguk dan tersenyum lemah. Ia lalu mendudukkan diri di depan Mebuki—bersila di lantai dengan punggung yang bersandar pada rak buku. "Essay dari ibumu lagi?"

Mebuki tak langsung menjawab. Gadis pirang itu menggumam dengan bahasa yang aneh selama beberapa detik kemudian mengangguk. "Ya. Aku harus membuat rangkuman dari artikel bahasa Rusia ini sebelum aku ujian."

Kinoe mengangguk-angguk paham. Mebuki adalah anak dari seorang wartawan papan atas sekaligus pemilik media berpengaruh di Jepang, Koharu Utatane. Ibunya itu adalah wanita yang sangat cerdas, diplomatis dan ambisius. Sejak kecil Mebuki dibesarkan dengan berbagai macam bentuk pengajaran pendidikan yang sangat bagus hingga bisa diundang menjadi salah satu siswa kehormatan di SMU kerajaan ini. Selain itu Mebuki dipersiapkan untuk mahir berbicara dengan banyak bahasa—sejauh yang Kinoe tahu, Mebuki sudah sangat fasih berbahasa mandarin, Korea, Jerman, Swedia, Inggris dan terakhir barusan adalah Rusia. Maka tidak heran selain karena parasnya yang cantik, kepintaran Mebuki ini juga yang membuatnya jadi idola para murid lelaki di sekolah.

Awal mula Kinoe mengenal Mebuki malah sama sekali bukan di lingkungan sekolah. Suatu hari Kaisar Hyuuga mengundang beberapa diplomat dan orang-orang penting yang berpengaruh untuk makan malam kehormatan bersama di istana. Kinoe pada saat itu hadir bersama ayah angkatnya—Danzou Shimura, yang pada saat itu masih berprofesi sebagai duta besar Jepang untuk Republik Federal Jerman atau Jerman Barat. Di sanalah Kinoe bertemu dengan Mebuki. Seperti biasa, pembawaannya yang pemalu membuat Kinoe sangat sulit untuk berinteraksi dengan Mebuki meski pun ia sangat terpesona dengan kecantikan dan kepintaran Mebuki. Tapi beruntungnya Kinoe, Mebuki adalah gadis yang menyenangkan sehingga pada saat itu Mebuki duluanlah yang menyapa Kinoe—yang pada saat itu sebenarnya Mebuki merasa khawatir sebab Kinoe memerhatikannya terus menerus dengan senyum kaku yang aneh.

Tapi, yah, kau tahu, Kinoe merasa sangat beruntung saat itu.

"Ngomong-ngomong Mikoto tidak ikut?" tanya Kinoe lagi. Sayangnya ketika Mebuki menjawab, pemuda Shimura itu terbatuk hingga ia tidak bisa mendengarkan jawaban Mebuki.

"Kau baik-baik saja?" kali ini Mebuki merasa sedikit khawatir, gadis itu melepaskan buku dan pensilnya. "Apa kata dokter?"

Kinoe tak langsung menjawab. Ia berdehem singkat dan memasang senyumnya, "Aku baik-baik saja. Dokter bilang aku sudah jauh lebih baik," jeda, Kinoe meluruskan kakinya hingga menyentuh kaki rak buku tempat Mebuki bersandar, "Asmaku tidak akan terlalu sering kambuh asalkan aku rajin minum obat."

"Kalau begitu kau harus selalu meminum obatmu," ujar Mebuki serius. Tapi setelah melihat Kinoe tersenyum padanya, Mebuki akhirnya ikut tersenyum dan pura-pura memukul kaki pemuda itu dengan buku-bukunya. "Eh, iya. Ngomong-ngomong, kau jadi pulang minggu ini?"

Kinoe mengangguk. "Iya, sudah lama aku tidak kembali ke panti."

Sebenarnya, ada satu fakta yang sama antara Kinoe dan Mebuki. Keduanya merupakan anak angkat dari panti asuhan. Bedanya Mebuki diadopsi saat dirinya masih bayi—bersama seorang anak laki-laki lainnya yang bernama Orochimaru, yang kemudian menjadi kakaknya. Sedangkan Kinoe diadopsi saat dirinya berusia delapan tahun. Usia yang cukup matang untuk bisa mengingat semua hal yang telah ia lalui selama di panti asuhan meski pun sedikit demi sedikit mulai menjadi samar. Hanya saja tidak banyak orang yang tahu akan fakta ini. Sebab baik Mebuki mau pun Kinoe memiliki paras yang mirip dengan orang tua angkatnya.

Orang tua angkat Kinoe sebenarnya memiliki putra yang seharusnya saat ini seumuran dengannya. Namun sayang ia meninggal karena kecelakaan. Maka dari itu, banyak orang yang beranggapan bahwa Kinoe yang ada sekarang adalah Kinoe yang sama dengan putra kandung Danzou Shimura. Pemuda itu telah menjadi orang lain hampir separuh hidupnya.

Dan, oh, satu lagi. Kinoe memiliki saudara kembar yang sampai saat ini masih tinggal di panti asuhan bernama Yamato.

"Yamato mengirimiku surat kalau ada anak baru di panti kami," ujar Kinoe lagi. Kali ini pemuda berambut cokelat itu tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya. "Namanya Shin, dan dia sangat suka menggambar. Aku tidak sabar ingin bertemu dengannya."

Mebuki tersenyum. Entah mengapa melihat pemuda yang sudah dianggapnya seperti saudara kandungnya ini bahagia membuatnya juga merasa bahagia. Ada sesuatu yang menjalar begitu cepat ke dadanya dan membuat hati Mebuki menghangat. Gadis itu menelengkan kepala, kemudian memeluk lututnya dengan sepasang tangan yang masih memegang buku dan pensil. Dalam hati Mebuki membatin, sendainya saja Kinoe Shimura yang ada di hadapannya ini adalah Kinoe Shimura yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, pasti kenyataan kisahnya akan berbeda. Mereka mungkin tidak akan sedekat ini. Dan tentu saja, Kinoe yang ada dihadapannya ini—entah siapa nama sebenarnya dulu, pasti akan hidup bahagia bersama saudara kembarnya, Yamato, meski hanya tinggal di panti asuhan.

Mebuki masih akan terbuai dengan lamunannya sendiri kalau saja ia tidak melihat Kinoe berjengit dan memasang kuda-kuda. "Kenapa?" tanya Mebuki seraya dengan sigap bangkit dan berdiri di atas kedua lututnya.

"Aku mende—"

"—halo, kawan-kawan," suara lain terdengar memotong perkataan Kinoe. Dari balik rak buku muncul kepala kuning Minato dan langsung sukses membuat Mebuki serta Kinoe terbelalak kaget. Minato melangkahkan kakinya perlahan dengan tampang yang dibuat sebiasa mungkin—meski sebenarnya raut pemuda itu entah mengapa sedikit terlihat sebal.

"Well, aku hanya ingin memastikan bahwa kalian berdua tidak sedang berkencan," ujar Minato anteng. Kemudian seakan tidak memerdulikan reaksi dari Kinoe dan Mebuki, Minato melanjutkan, "Seharusnya kau sudah tahu, Mebuki, calon putri mahkota tidak sebaiknya berduaan dengan pria lain. Kalau terjadi masalah, Hiashi tidak akan menyukainya. Dan kami, yang akan ikut pusing juga."

.


Aku tidak akan bersembunyi lagi. Mulai sekarang,aku akan selalu menjagamu.

.

Sepuluh


.

HAL PERTAMA YANG SAKURA rasakan ketika kelopaknya perlahan terbuka adalah serangan membabi -buta dari sinar putih yang menyakitkan mata. Dengan refleks Sakura kembali menggelapkan pengelihatannya. Silau, silau yang keterlaluan. Kemudian disusul dengan rasa pegal yang teramat sangat pada pergelangan tangan kirinya. Sakura mengeluh parau. Ingin sekali ia meminta seseorang untuk mengenyahkan apa pun itu yang membuat pergelengan tangannya terasa sangat tidak nyaman. Namun tubuhnya tidak bisa bergerak. Terlebih, semakin rasanya Sakura ingin meminta bantuan, maka akan semakin sulit bagi gadis itu untuk mengeluarkan suaranya.

Sayup-sayup pendengaran Sakura menangkap suara yang sangat familiar bagi telinganya sehingga membuat gadis Haruno itu memberanikan diri membuka kembali matanya. Awalnya, semua serba gelap dan buram, namun perlahan-lahan berangsur membaik. Sakura kini bisa dengan sedikit lebih jelas melihat bahwa dirinya kini tengah berada di sebuah ruangan tertutup yang catnya putih keabuan. Detik berikutnya Sakura tersadar bahwa ia sebenarnya terbaring di sebuah tempat tidur dengan jarum infus yang sejak tadi menggigigit pembuluh darahnya. Oh, dear.

"Ei se mitään—tidak apa-apa," suara Kizashi Haruno terdengar lembut. Sakura mengenali ayahnya sedang berdiri tak jauh dari tempat tidurnya menepuk-nepuk pelan bahu seorang wanita berambut pirang yang duduk di dekat tubuh Sakura—ibunya. ""Ei se mitään," lagi Kizashi mengujar dalam bahasa Suomi. "Kau tidak perlu meminta maaf. Jadi jangan khawatir, oke?"

Mebuki menghela napas berat seraya mendongakkan kepalanya. Ketika manik sepasang suami istri itu bertemu, dengan jahil Kizashi mengedip genit dan malah membuat Mebuki membuang muka sebal. "Bukan saatnya bercanda," jawabnya dengan bahasa yang sama. "Aku sangat khawatir."

Kizashi mengangguk mengerti. "Aku tahu, tapi bisa kupastikan kalau itu bukan Bowel Syndrome. Setelah gadis nakal ini bangun, aku akan melakukan USG, CT scan dan MRI," terang Kizashi. "Sakura tidak akan apa-apa, Sayang."

"Aku tidak cukup pintar untuk paham semua prosedur kedokteran," balas Mebuki. "Aku hanya seorang ibu yang khawatir. Anak ini sudah tidur selama tiga hari, aku cemas sekali."

"Mitä—apa?" sela Sakura serak. Karena sedari tadi ia mendengar kedua orang tuanya bercakap dengan bahasa Suomi—bahasa resmi Finlandia, otak gadis itu langsung men-set lidahnya untuk menggunakan bahasa yang serupa. "Apa kata Ibu? Aku tidur tiga hari?"

Kizashi terkejut dan langsung mengambil posisi mendekati Sakura. Telapak tangan pria itu langsung mendarat di kening Sakura. "Sudah bangun? Apa yang kau rasakan, Nak?"

Mebuki menggenggam jari-jari Sakura yang dingin. "Akhirnya. Pusing? Mual? Nyeri? Dingin?"

Sakura mengernyit. Otaknya mencoba mencerna satu per satu pertanyaan yang datang. Hei, mengapa orang tuanya malah balik bertanya dan tidak menjawab pertanyaannya? Geez. "Kenapa aku tidur sampai tiga hari?"

"Kau pingsan, lil brat," jawab ayahnya. "Kau merasakan sesuatu? Sakit kepala atau nyeri di sekitar perut?" tanya Kizashi seraya memeriksa bagian bawah mata Sakura.

Sakura mengangguk lalu menggeleng, "Pusing, iya. Tapi perutku sepertinya baik-baik saja, aku tidak tahu."

Mebuki mengelus punggung tangan Sakura lembut. "Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tubuhmu dipenuhi lebam dan memar? Kau terjatuh, Sayang? Atau ada seseorang yang mencelakaimu? Ibu hampir gila memikirkannya."

Sakura tidak langsung menjawab. Ia berinisiatif membetulkan posisi tidurannya karena, umm, tertidur selama tiga hari membuat punggungnya terasa sedikit panas. Kizashi berusaha membantu putri semata wayangnya seraya beberapa kali menggumam, "Whoops, Nak. Hati-hati." Setelah dalam posisi setengah duduk, Sakura mulai memikirkan apa yang harus ia katakan kepada orang tuanya. Apakah ia harus menceritakan kejadian yang sebenarnya kalau ia dihajar oleh dua penjarah bertubuh besar saat melaksanakan field trip minggu lalu? Atau, sebaiknya Sakura mengarang cerita saja? Atau, bagaimana?

"Aku terjatuh," jawab Sakura akhirnya. Kemudian matanya bertemu pandang dengan mata kedua orangtuanya yang seakan tidak puas dengan jawaban yang baru saja ia lontarkan. "Aku… mm," gumam Sakura masih dengan suara yang parau. "Saat field trip minggu lalu, aku terjebak di kerumunan dan seseorang tidak sengaja mendorongku hingga aku terjatuh."

"Sampai pembuluh darah di hidungmu pecah?" tanya Mebuki tidak percaya.

Sakura mengerutkan kening. Ibunya sudah tahu kalau ia mimisan? Ah, pasti Tenten.

"Kau tahu, Aurora," kali ini Kizashi mencoba mengambil kendali dengan mendudukkan diri di sisi ranjang. Punggung pria itu sedikit bersandar dan tangannya ia letakkan tepat di atas kepala Sakura. "Kau mengalami cedera otot yang cukup serius, tepatnya di sini," Kizashi menekan perut Sakura sehingga gadis itu menjerit sakit. "Lalu ada memar yang mencurigakan di sini," Kizashi menunjuk bagian bawah rusuk kiri Sakura. "Kalau sampai limpamu pecah, kau dalam bahaya yang sangat besar, Nak."

Sakura menghela napas. Yea, baiklah. Sepertinya tidak ada gunanya Sakura berbohong karena orang tuanya pasti akan mencecarnya terus-terusan. Lagipula, ini berhubungan dengan nyawanya—tentu saja Sakura tahu bahwa pecah limpa dapat membunuh seseorang—hingga saat ini ia masih bergabung di dalam klub kesehatan sekolah.

Gadis itu sebenarnya sangat ingin meminta orang tuanya untuk mencabut jarum yang masih menusuk ke dalam tangannya terlebih dahulu, tapi Sakura menahannya.

"Sebenarnya, aku memang terjatuh," Sakura mengawali narasinya. Selama beberapa menit kemudian, Mebuki dan Kizashi dengan seksama mendengarkan cerita Sakura. Gadis itu menceritakannya dengan runtut dan detail. Mulai dari dirinya yang berinisiatif mencarikan kamera karena tak ingin dituduh mencuri hingga pertemuannya dengan keluarga Ranmaru yang memasakkan kari pedas sebagai makan malam. Sakura menyusun kata per kata dengan sangat hati-hati untuk menghindari reaksi yang tidak diinginkan dari kedua orang tuanya. Meski demikian Sakura tetap menceritakannya secara lengkap, kecuali, well, kenyataan jika orang yang membantunya kala itu sekaligus yang ia hilangkan kameranya adalah Sasuke Uchiha.

Yap. Sakura sama sekali tidak menyinggung tentang Sasuke.

Masih ingat bukan bagaimana orang tua Sakura dengan serius meminta Sakura untuk fokus pada pendidikannya dan berhenti bermain-main dengan mengidolakan Sasuke? Jika kali ini Sakura tertangkap masih berhubungan dengan hal-hal yang berbau Sasuke—bahkan sampai terluka parah seperti ini, entah bagaimana reaksi yang akan diberikan oleh kedua orang tuanya. Bisa-bisa detik ini juga Sakura dikeluarkan dari SMU Konoha secara paksa lalu dikirim ke Vatikan dan dijadikan biarawati. Gadis itu cemas sendiri dengan pemikirannya.

Untungnya, baik Mebuki dan Kizashi tidak terlalu menyinggung soal siapa pemilik kamera yang hilang itu. Mereka menanyakannya satu kali, kemudian Sakura tak menjawab—hal tersebut sudah cukup membuktikan bahwa Sakura sedang tidak ingin membahas orang itu. Kesal, mungkin? Namun Mebuki dan Kizashi sangat memercayai apa yang Sakura katakan. Terlebih, bekas luka dan memar yang ada di tubuh Sakura sangat relatable dengan isi ceritanya.

"Jadi sekarang mereka sudah tertangkap?" tanya Kizashi memastikan seraya memainkan poni tipis Sakura. (Aah, iya. Tidur tiga hari pasti membuat rambutnya sangat bau. Ia harus keramas begitu bisa bangun dan ke kamar mandi, batin Sakura.)

"Benar," angguk Sakura. "Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir karena semuanya sudah aman terkendali."

"Baiklah," jawab Kizashi. Kau tahu, sebagai seorang ayah bukan pekerjaan yang mudah untuk hanya meng-iya-kan perkataan anaknya terlebih jika nyawa anaknya itu hampir saja terancam. Namun bagi Kizashi saat ini, Sakura sudah kembali sadar dan berbicara dengan normal—bahkan pakai bahasa asing segala, geez—sudah cukup baginya. Mungkin bagi siapa pun yang menyaksikan apa yang Kizashi lakukan saat ini akan berpikiran bahwa ia seorang ayah yang lemah, pecundang yang tidak khawatir dan sayang pada putrinya. Tapi sejujurnya, kalau kau tahu track record dari seorang Kizashi Haruno sejak dulu kala maka kau tidak akan menganggap dokter kepercayaan Kaisar Hyuuga ini sembarangan. Ia selalu bekerja dengan caranya.

Kizashi hanya menginginkan Sakura baik-baik saja saat ini. Ia tahu, ada banyak sekali tantangan yang akan ia hadapi mulai saat ini dan tentu saja berimbas pada kehidupan putrinya di masa yang akan datang. Orang-orang tidak menyenangkan dari masa lalu kini mulai bermunculan dan mengusik kehidupan bahagia yang susah payah ia bangun bersama Mebuki. Mereka akan mengorek kejadian lampau dan tentu saja akan menyakiti putrinya yang tidak tahu apa-apa. Selama dua puluh tahun lebih menjadi orang asing yang status kebangsawanannya dihilangkan dengan cara tidak hormat, Kizashi paham betul bahwa kesakitan yang paling dalam adalah pengkhianatan. Seseorang bisa mati karena dikhianati. Ia melihatnya sendiri. Dan memikirkan kenyataan bahwa mungkin Sakura cepat atau lambat akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, plus, merasakan hal yang sama seperti dirinya adalah hal terakhir yang Kizashi inginkan di dunia ini. Tapi, kau tahu, orang bilang sejarah akan terulang dan Kizashi harus siap menghadapinya.

Lalu, tentu saja, setengah mati ia memikirkan bagaimana cara melindungi Sakura bahkan ketika gadis itu belum dilahirkan.

Seakan mengerti apa yang tengah mengusik pikiran suaminya, Mebuki meletakkan telapak tangannya di lengan Kizashi dan berusaha tersenyum menenangkan—meski raut khawatir masih terpatri di sana. "Jadi kapan Sakura akan diperiksa?" tanyanya mengalihkan perhatian.

"Oh," Kizashi terperanjat—sedikit gagap. "Secepatnya, kalau bisa sore ini juga. Sakura siap?"

Sakura merengut bingung. "Pemeriksaan apa?"

"Pemeriksaan seluruh tubuhmu," jawab Mebuki. "Memastikan bahwa tidak terjadi sesuatu yang serius."

"Tapi," Sakura berusaha menolak. Ia merasa dirinya baik-baik saja walau pun sepertinya terasa tidak baik-baik saja. "Baiklah," ia mengalah bahkan sebelum beragumen. "Ngomong-ngomong, Ayah, Ibu. Bagaimana bisa aku berada di sini?"

Kizashi menggeleng-gelengkan kepalanya prihatin. "Akhirnya, kau bertanya juga," canda Kizashi. "Dasar anak nakal."

Sakura berdecak tidak senang. Kasih tahu saja kenapa, sih.

"Tiga hari yang lalu kau pingsan, Sayang. Karin menelepon Ibu," kata Mebuki. "Mereka bilang kau mendadak hilang kesadaran saat berdiri di halte sepulang sekolah. Untung saja teman-temanmu sigap dan langsung memesan taksi untuk pergi ke rumah sakit. Mereka juga datang menjengukmu setiap pulang sekolah."

Sakura mengangguk, "Oh, iya." Sakura teringat saat ia hendak menerima pelukan dari Tenten yang tiba-tiba keluar dari dalam bus, dadanya terasa sangat sakit dan sesak hingga semua pengelihatannya gelap. Sakura tidak bisa ingat apa pun kecuali pekikan Ino, dan kemudian saat ia terbangun sudah dalam kondisi terbaring di rumah sakit.

"Awalnya Ibu pikir kau kelelahan karena seharian belajar di perpustakaan sekolah," kata Mebuki. (Sigh, lagi-lagi. Kalau orang tuanya tahu jika saat itu Sakura menunggui Sasuke Uchiha yang tak kunjung datang, bisa habislah ia). "Tapi setelah diperiksa tubuhmu memar semua."

Sakura menarik napas kemudian mengangkat bahunya. Bingung. Tidak tahu apa yang harus dijawab. Gadis itu hanya memandangi orang tuanya yang juga tengah memandangnya secara bergantian. Ia pasti telah membuat dua orang paling berharga di dalam hidupnya ini cemas, tentu saja. Lihat, ibunya yang selama ini selalu terlihat cantik kini memiliki kantung mata—entah sudah berapa malam wanita itu kurang jam tidurnya. Lalu ayahnya. Oh, dear, dengan jadwal pekerjaan yang sangat padat sebagai dokter kerajaan, Kizashi pasti mati-matian menyisihkan waktunya hanya demi menunggui Sakura di rumah sakit.

Kenyataan bahwa dirinya selalu saja merepotkan membuat Sakura merasa bersalah.


.

"Aku tebak kau pasti memilih Universitas Kerajaan."

Neji Hyuuga tidak menjawab perkataan Naruto, namun di dalam hati pemuda itu mengiyakan. Matanya fokus membaca lembar pengisian Universitas dan Jurusan yang diinginkan. Hm. Tahun depan ia sudah harus kuliah rupanya. Cepat sekali waktu berlalu.

Neji memang belum memikirkan ia akan jadi apa. Namun pemuda itu sudah tahu gambaran Universitas dan jurusan apa yang kira-kira harus ia ambil untuk kuliah tahun depan. Kalau tidak Universitas Kerajaan, ya tentu saja Neji akan memilih Universitas Tokyo dengan jurusan yang pasti berhubungan dengan tata pemerintahan dan kekaisaran. Hanya saja, Neji belum berkonsultasi dengan ayahnya apakah keputusannya nanti berdampak baik atau tidak terhadap masa depannya. Namun sebagai seorang pewaris tahta nomor dua setelah Puteri Mahkota Hinata Hyuuga, Neji harus mempersiapkan dirinya sebaik mungkin karena, yah, kau tahu, kehidupan monarki terkadang bisa jadi sangat kejam dan mematikan.

"Kau sendiri bagaimana?" Kiba yang duduk di sebelah Naruto melempar tanya tanpa memandang. Sama seperti Neji, Kiba masih fokus membaca kata per kata yang ada di lembaran pengisian.

Naruto mengangkat bahu, "Tidak tahu. Sepertinya aku tidak akan kuliah."

Shino yang ada di sebelah kiri Naruto mengangkat alisnya kaget. "Yang benar saja?"

Naruto mengangkat bahunya lagi.

"Seharusnya kau tidak perlu kaget," celetuk Neji. Ia memandang Naruto yang duduk tepat di hadapannya. "Dia tidak punya bakat belajar."

Shino terlihat berpikir sejenak lalu mengangguk. "Ada benarnya juga."

"Hei, itu keterlaluan," Naruto membela diri. "Aku tidak tahu aku harus kuliah apa. Ha-ha," Naruto menggaruk-garuk belakang kepalanya. Pemuda Namikaze itu kebingungan. Sebab kalau dibandingkan dengan teman-temannya, seolah hanya dia yang paling tidak punya masa depan.

Melihat sosok Neji yang merupakan seorang pangeran, meski kini hidupnya serba sederhana namun tentu saja ia memiliki garis masa depan yang teramat jelas—menjadi penasihat kerjaan atau bahkan sebagai salah satu penentu kebijakan penting untuk negara monarki ini. Dan kalau saja Neji beruntung, suatu hari nanti mungkin Hinata Hyuuga akan lengser dan Neji akan menjadi kaisar. Well yeah, Naruto tahu itu pemikiran yang kejam tapi siapa tahu, kan? Barangkali cepat atau lambat hal itu akan terjadi mengingat situasi politik yang akhir-akhir ini menjadi tidak menentu.

Lalu Shino. Ah. Tanpa pikir panjang pun Naruto bisa tahu kalau sohibnya itu pasti akan jadi orang yang sukses. Kedua orang tua Shino adalah peneliti serangga dan unggas yang bertahun-tahun lalu telah mendirikan Aburame Research Center di perfektur Shiga. Meski sebenarnya Shino punya passion sendiri di bidang IT, namun dengan reputasi keluarganya yang mendunia, Naruto sangat yakin kalau pun Shino nanti memilih kuliah jurusan yang tidak ada hubungannya dengan passion maupun keluarganya semisal hal-hal berbau perkantoran, cowok Aburame itu pasti akan jadi rebutan Universitas mana saja.

Kemudian Kiba. Sahabat yang seringkali Naruto anggap memiliki kemampuan otak yang tak jauh beda dari dirinya. Tapi siapa sangka kalau Kiba adalah putra dari Hana Inuzuka yang merupakan salah satu anggota dari tim dokter kerajaan? (Siapa, hah?!) Belum lagi kenyataan bahwa kakak perempuan Kiba merupakan dokter hewan terbaik yang belakangan ini wajahnya sering muncul di TV karena mengisi program talk show tentang hewan yang Naruto lupa namanya apa. Seringkali si bodoh Namikaze ini lupa kalau sebenarnya Kiba Inuzuka cukup pintar walau tidak jenius-jenius amat, sih.

Dan, terakhir lihatlah Sasuke Uchiha. The lucky bastard. Naruto tidak pernah habis pikir mengapa bisa ada seseorang yang terlahir dengan paket yang sangat komplit; tampan, kaya raya dan jenius. Meski media seolah lebih suka menyorot kisah popularitas Sasuke karena Uchiha tengik itu adalah anak salah satu konglomerat kelas kakap Jepang, tapi dibalik itu semua Sasuke sebenarnya adalah seorang siswa yang super jenius. Nilai-nilainya selalu spektakuler menurut Naruto. Berulang kali Sasuke dikirim untuk mengikuti olimpiade angka-angka dan berulang kali pula Sasuke pulang dengan membawa medali. Sayang sekali hal positif seperti itu sangat jarang di blow up sehingga image Sasuke lebih terkesan ke arah anak konglomerat yang dikagumi banyak wanita.

Hm. Naruto menghembuskan napas lesu. Ia merasa semangatnya tiba-tiba saja mengendur setelah memikirkan betapa spesial sahabat-sahabatnya. "Guys," panggil Naruto, jeda, "sepertinya aku akan bekerja saja."

"Dan membuat orang tuamu malu?" timpal Shino cepat. "Hei, ayahmu orang nomor satu di Tokyo. Kalau sampai tidak ada berita seorang keturunan Namikaze kuliah tahun depan, reputasinya akan dipertaruhkan."

"Aku tau, Sobat," ujar Naruto seraya merangkul pundak Shino. "Hanya saja Yang Mulia benar, aku tidak punya bakat belajar."

Neji menyipitkan matanya. Ia benar-benar tidak suka dipanggil Yang Mulia oleh sahabatnya.

"Jadi kau lebih memilih bekerja?" tanya Kiba khawatir. Mendadak ia merasa cemas dengan ucapan Naruto. Kau tahu, terkadang pemuda Namikaze itu terlihat seperti bercanda padahal ia sedang serius. Ya,memang tidak ada salahnya dengan bekerja setelah lulus dari SMU. Beberapa orang melakukannya dan mereka juga menjadi sangat sukses. Namun, kau tahu, untuk ukuran anak pengusaha besar dan bangsawan sekelas Itachi Uchiha—kakak laki-laki Sasuke—yang saat ini masih menempuh pendidikan doktor di Goldsmith, University of London, masih saja menjadi olok-olokan dan kritikan dari para oposisi. Bagaimana nasib Naruto nanti yang menurut pendapat Kiba otaknya hanya mampu masuk ke perguruan tinggi biasa di Jepang, bukan di luar negeri dan tidak menggunakan kurikulum penuh bahasa Inggris yang keren. Bisa-bisa sahabat pirangnya itu hanya jadi remah croissant.

Naruto menggeleng. "Tidak," jawab Naruto. "Sebenarnya aku tidak tahu. Mungkin aku akan kuliah, tapi mungkin aku akan bekerja. Jadi pemain sepak bola, kurasa."

"Sepak bola?" tak sadar Neji, Kiba dan Shino bertanya bersamaan.

"Yup," sahut Naruto enteng. "Sahabatku yang baik dan jenius—," Naruto mengendikkan kepalanya tepat pada Sasuke yang duduk di hadapan Kiba—umm, wajah Uchiha satu itu terlihat kusut dengan kening yang berkerut, "—menyarankan bahwa aku tetap harus kuliah untuk menjaga nama baik, tapi karena otakku tidak akan sanggup sebaiknya kuliah jadi nomor dua saja. Kedengarannya tragis tapi Sasuke ada benarnya."

Shino menoleh pada Sasuke. Pemuda Uchiha itu terlihat sedikit berantakan akhir-akhir ini. Meski matanya menatap lekat pada lembar pengisian, namun Shino yakin pikiran Sasuke tidak sedang berada disana. "Kau benar-benar menyarankan begitu, Sasuke?"

"Hn." Hanya itu jawaban Sasuke.

Shino menggaruk pelipisnya. Pemuda Aburame itu sebenarnya sependapat dengan Sasuke. Tidak ada salahnya jika Naruto fokus pada sepak bola dan menomorduakan pendidikannya. Hey, temannya itu punya bakat dan skill yang sangat memukau. Shino yakin sahabatnya ini pasti akan sukses meski ia tidak kuliah sekali pun. Lagi pula sejak tadi apakah tidak terpikirkan alasan mengapa Naruto bisa berada di kelas A—sekaligus kelas khusus padahal kemampuan otaknya pas-pasan? (Ini tentu saja bukan tentang orang tuanya). Tentu saja hal ajaib semacam itu dapat terjadi karena Naruto memiliki prestasi yang cukup gemilang di bidang olahraga—tepatnya sepak bola. Sejak SMP Naruto telah berkali-kali mengharumkan nama sekolahnya di setiap turnamen sepak bola mulai dari tingkat kelas, sekolah, angkatan bahkan sampai perfektur sekali pun. Naruto selalu didapuk menjadi striker andalan sekolah karena kemampuannya mencetak gol-gol indah. Dan SMU Konoha menghargai bakat Naruto dengan menjadikannya salah satu siswa terpilih untuk masuk ke kelas A meski sebenarnya Naruto setengah mati bertahan hidup menyelamatkan nilai-nilainya.

Namun, satu hal yang masih mengusik pemikiran Shino adalah apakah memiliki karir cemerlang sebagai seorang pesepakbola kebanggan Jepang nantinya dapat menyelamatkan reputasi ayahnya? Bagaimana dengan nasib politik orang tuanya ketika para afiasi menganggap bahwa Minato Namikaze tidak memiliki pewaris yang mumpuni untuk melanjutkan jejak politiknya?

Ah. Tak tahulah, Shino sudah berpikir terlalu jauh sepertinya.

"Tapi kita lihat saja itu nanti. Aku belum benar-benar memutuskan, " sambung Naruto.

Kiba mengangguk-angguk dan menepuk bahu sahabatnya. "Aku mendukungmu, Sobat. Tapi jangan buat aku khawatir."

Naruto nyengir. "Yeah, aku juga mencintaimu."

Shino memutar bola matanya bosan sementara Kiba menjulurkan lidahnya jijik.

Neji mendengus hendak tertawa. Entah kenapa ia merasa geli dengan adegan agak romantis di hadapannya saat ini. Namun dalam hati ia bersyukur. Meski kehidupan keluarganya tidak begitu hangat—yah, kau tahulah, ada banyak sekali orang yang ingin menyingkirkan Neji lantaran dirinya acap kali dianggap sebagai ancaman tahta Putri Mahkota Hinata. (Orang-orang iseng pemuja Hinata yang haus kekuasaan di luar sana mungkin berpikiran bahwa Neji akan segera melakukan kudeta dan menggulingkan tahta Hinata.)Neji bersyukur ia memiliki sahabat-sahabat yang akan membuat dirinya merasa tentram dan bahagia. Setidaknya, tak satu pun dari mereka akan menganggap Neji sebagai ancaman. Walau terkadang para bajingan tengik ini sering juga membuatnya kesal bahkan sampai harus menahan amarah.

Menit berikutnya mereka larut dalam percakapan tentang kuliah yang cukup alot. Kiba membuka topik tentang kuliah musim panas di Amerika yang pernah ia lihat di televisi, lalu disambung dengan gemilang oleh celetukan Naruto mengenai gadis-gadis berpakaian mini yang duduk di taman kampus. Obrolan semakin seru saat membahas tentang football dan cheerleader hingga pesta buah semangka di pantai Florida. Shino terkekeh-kekeh seraya sesekali menggeleng sok suci, "Wooh, dasar kau mesum, gila kalian semua...", sedangkan Neji memangku dagunya dengan sebelah tangan, berusaha sekeras mungkin untuk terlihat tidak tertarik meski di dalam hati ia tersenyum-senyum dan jantungnya berdebar.

Sementara Sasuke, menempatkan dirinya dalam posisi ada namun tiada. Well, Sasuke memang selalu ada-namun-tiada, sih. Uchiha satu ini memang aneh. Tetapi tingkahnya beberapa waktu ini terlihat semakin aneh di mata teman-temannya. Ada apa dengan Sasuke? Jika biasanya Sasuke tidak menanggapi obrolan seru sahabat-sahabatnya, itu karena ia tengah sibuk sendiri memikirkan kemana perginya x di dalam hitungan aljabar, atau berapa total gaya yang harus dikeluarkan Tsubasa saat menendang bola agar mampu menghasilakan kecepatan seratus meter per detik, atau soal fangirl-nya yang super annoying, atau bahkan mungkin tentang harta warisannya yang tidak akan habis dalam kurun waktu sepuluh tahun meski ia berfoya-foya. Ya, pikiran standar a la Sasuke semacam itu lah menurut teman-temannya.

Namun, kenyataan agak sedikit berbeda sepertinya. Perubahan drastis terjadi pada penampilan Sasuke. Rambutnya agak sedikit berantakan di bagian belakang. Wajahnya yang meski berkulit pucat selalu terlihat fresh, kini agak sedikit layu seperti orang yang sudah tiga hari terjaga. Pipinya jadi sedikit lebih tirus dan yang paling penting serta paling meresahkan adalah Sasuke semakin irit bicara.

Memang belakangan ini hidup Sasuke menjadi sedikit bergejolak terutama semenjak isu bahwa ayahnya dicalonkan sebagai perdana menteri dihembuskan. Orang-orang yang tidak bertanggung jawab semakin gencar mengikutinya secara diam-diam. Ada juga yang terang-terangan mendatangi Sasuke untuk diwawancara, bahkan 'menyerang' secara langsung keluarganya melalui artikel-artikel hoax di media sosial. Yang Shino tahu, Sasuke bahkan sudah sejak lama menutup semua akun media sosialnya sejak kemunculan grup penggemar Sasuke Lovers yang sangat mengganggu itu. Satu-satunya cara menghubungi Sasuke adalah dengan menelepon ke rumahnya, jika nomor ponsel pemuda itu dinonaktifkan. Kini, Sasuke bahkan sudah mulai membatasi frekuensinya untuk pergi keluar rumah selain ke sekolah—kecuali pergi bersama keluarganya menghadiri acara bisnis penting atau kenegaraan. Shino bahkan lupa kapan terakhir kali ia, Sasuke dan teman-temannya pergi ke bioskop untuk menonton film bersama atau sekedar berjalan di trotoar sambil membicarakan tendangan maut Ronaldo.

Dan jangan lupakan soal permasalahan yang baru-baru ini muncul tentang drama percintaan Sasuke Uchiha dan Kin Tsuchi. Siapa yang tidak penasaran setelah melihat Shion menangis dan menarik-narik Sasuke untuk ikut dengannya ke rumah sakit? Hampir semua orang yang menyaksikan terperangah, terdiam dan setelahnya berbisik-bisik penuh curiga. Shino tidak dapat membayangkan seperti apa perasaan kesal Sasuke waktu itu terutama setelah tahu bahwa Kin melakukan percobaan bunuh diri lantaran selama ini Sasuke tidak mengabaikannya. Sigh. Untungnya Sasuke dikelilingi oleh berandal-berandal aneh namun licik seperti Naruto, Kiba, bahkan pangeran Neji. Setelah mengetahui kejadian sebenarnya ketiga orang itu langsung sigap mengambil tindakan. Teman-temannya memastikan bahwa tim wartawan sekolah tidak akan menjadikannya sebagai berita yang menyebar luas ke seantero sekolah. Mereka juga akan langsung menutup mulut siapa pun yang menggosipkan Sasuke, termasuk akan menyabotase CCTV sekolah bila diperlukan—oke, itu berlebihan.

Hm. Harus berapa kali Shino merenungi nasib yang ternyata lebih merepotkan memiliki sahabat seperti Sasuke dibanding Neji yang notabene seorang pangeran negara? Hm.

Waktu berselang dan bel tanda usai sekolah pun berbunyi. Seolah bisa membaca pikiran Shino, Kiba mengusulkan untuk pergi ke bioskop dan menonton film bersama. Ide itu disambut baik oleh Naruto yang kemudian dengan antusias membereskan berkas pengajuan kuliahnya yang masih belum ditulisi apa-apa. Neji menyusul dengan senyuman merapikan kertas-kertas di atas meja seraya berdiskusi masalah genre film bersama Kiba.

"Sci-fi, bagaimana?" usul Neji.

Naruto mengeluh. "Otakku tidak akan sampai, Sobat."

Kiba melirik Shino dan Neji bergantian lalu mengangkat bahu. "Horor?"

"Bagaimana kalau kita cek terlebih dahulu," jawab Shino seraya mengeluarkan tabletnya. "Ngomong-ngomong," sambung Shino saat jemarinya mulai menyentuh layar, "Kau ada usulan, Sasuke?"

Sasuke menggeleng, "Aku tidak ikut. Kalian saja."

"Wah," Naruto berkecak pinggang. "Yang benar?"

"Kenapa? Ada acara bisnis lagi?" tanya Neji. Ah, dirinya yang pangeran saja tidak sesibuk Sasuke. Benar-benar menyedihkan aku ini, batinnya.

Sasuke menggeleng untuk kedua kalinya. "Ada sesuatu yang harus aku kerjakan," ujarnya tanpa menatap balik sahabat-sahabatnya. Dengan cekatan Sasuke menyampirkan tali ransel ke bahunya, "Aku pergi."

Kiba melongo, "Serius nih?"

"Hm," lambai Sasuke singkat kemudian berlalu.

Naruto mengeluh setelah bayangan Sasuke menghilang di balik pintu kelas. Namikaze muda itu memandang Shino yang bengong dengan tabletnya. "Apa kita ini masih dianggap sebagai teman?"

Neji mendengus tertawa lalu menjawab, "Sepertinya ada sesuatu. Apa ini soal Kin?"

"Bisa jadi," Kiba mengangguk-angguk. "Sasuke sama sekali belum menemuinya, kan? Shino kau tahu sesuatu?"

Shino menggeleng, "Tidak. Tapi kukira Sasuke tidak akan peduli tentang Kin. Benar, kan?"


.

Itachi Uchiha terkesiap saat mendengar suara pintu yang dibuka. Kepalanya tertoleh ke belakang, beralih dari teleskop menuju pada tersangka yang membuat jantungnya berdebar karena terkejut. Kalau saja Itachi menoleh sedikit lebih cepat, mungkin lehernya akan sakit karena keram. "Kak…" erangnya sebal.

"He, maaf," Shisui Uchiha nyengir seraya menutup pintu. "Aku mencarimu dan ibumu bilang kau ada di kamar Sasuke," katanya seraya berjalan mendekat. "Kau merindukan adikmu?"

"Kelihatannya bagaimana?" Itachi balik bertanya, matanya masih tertuju pada teleskop hitam yang berdiri di depan jendela kamar Sasuke. Sebelah tangan Itachi membuka penutup depan lensa teleskop itu kemudian ia menganga takjub seolah benda itu adalah benda tercanggih yang ia lihat. Setelahnya sulung Uchiha itu berjongkok dan memerhatikan penyangga teleskop. "Kak, sepertinya aku akan jadi pewaris tunggal Uchiwa Group," bisiknya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Apa?" Shisui bengong. Awalnya, ia sama sekali tidak mengerti. Shisui hanya mengangkat bahu dan mendudukan diri di tempat tidur empuk Sasuke yang dilapisi sprei berwarna abu doff. Namun setelah melihat pemandangan seisi kamar Sasuke—yang terlihat agak berbeda dari kamar anak seorang komisaris pada umumnya. Shisui mengerutkan keningnya. Hm, ada sebuah televisi yang tidak begitu mewah berukuran sedang di dinding kamar ini, namun untuk ukuran seorang yang kaya raya, televisinya tergolong sederhana. Shisui ingat Sasuke pernah bilang kalau ia tidak begitu suka nonton televisi—penuh drama, kata Sasuke waktu itu. Siaran favoritnya pada benda itu hanya pertandingan sepak bola dan hal-hal semacam discovery channel. Lemari pakaian Sasuke juga berada di dalam satu ruangan dengan tempat tidurnya—tidak terpisah seperti milik Shisui dan Itachi, semacam kamar khusus pakaian, sepatu, dan tas serta aksesori lainnya. Mungkin Sasuke belum membutuhkannya jadi yang seperti ini saja sudah cukup, batin Shisui. Namun rasanya agak aneh, toh jam terbang Sasuke di dunia bisnis hampir menyamai kakak-kakaknya, jadi seharusnya bocah itu lebih ada persiapan.

Lalu, mata Shisui mengedar lagi. Kali ini pada sebuah rak buku yang isinya sudah full. Bahkan beberapa lainnya tergeletak di lantai dengan keadaan setengah terbuka. "Apa-apaan itu," katanya seraya menunjuk sebuah bola dunia hitam putih dan tumpukan buku yang berada di atas meja belajar Sasuke. Karena Itachi tidak menjawab, Shisui berinisiatif mendekati meja belajar Sasuke. Matanya memandangi lekat satu persatu judul buku yang ada di sana; tentang astronomi, galaksi, ilmu fisika, planet-planet, kalkulus, biografi Newton, sampai teori relativitas yang kesemuanya tidak Shisui sukai.

Kepala Shisui meneleng bingung dan ia menoleh ke arah lainnya. Ada beberapa figura diri Sasuke di atas meja. Pertama potret Sasuke dengan jersey berwarna hijau dan beberapa anak laki-laki lain yang Shisui kenali sebagai sahabat-sahabatnya Sasuke. Mereka berdiri setengah berjongkok seraya saling merangkul bahu. Ada piala besar dan sebuah bola di tengah-tengah mereka. Lalu beberapa foto lainnya seperti Sasuke yang berdiri seorang diri dengan selempang disampirkan di bahunya beserta sebuah medali menggantung di lehernya, Sasuke yang memegang piala, dan Sasuke kembali memegang medali berdiri bersama ibunya. Shisui tahu bahwa Sasuke adalah anak yang cerdas dan sangat jago matematika—beritanya sudah tersebar di mana-mana bahkan para tetua Uchiha pun membanggakannya. Tapi ia sama sekali tidak tahu bahwa Sasuke pernah beberapa kali memenangi olimpiade mewakili sekolahnya. Sepertinya media lebih senang 'menjual' kehidupan pribadi Sasuke—tampan, banyak penggemar dan kaya—daripada prestasi sekolahnya. Sebuah ironi.

Shisui kemudian beranjak ke rak dan laci-laci Sasuke yang cukup berantakan. Ada miniatur pesawat, kamus bahasa asing yang terbuka dan penuh coretan spidol berwarna, kertas-kertas berisi hitungan rumus yang ternyata adalah tugas sekolah milik Sasuke—karena ada nilai A+ tertulis di sana, hingga bandul yang biasanya ditemui di pelajaran fisika. Shisui memandang Itachi heran, "Sejak kapan dia begini?"

Itachi mengangkat bahu, "Aku kurang memperhatikannya. Dia selalu membuat kejutan yang tidak aku sangka-sangka. Tapi terakhir saat aku pulang dia memang sudah membeli teleskop," jeda, Itachi mencoba mengingat sesuatu, "Mereknya Orion StarBlast 90 AZ Refaktor bla bla bla kalau tidak salah," lanjutnya.

"Bedanya dengan yang itu?" Shisui mengendikkan kepalanya ke arah teleskop baru Sasuke.

Itachi menggeleng, "Tidak tahu. Sepertinya ini lebih canggih," Itachi mengelus teleskop Sasuke. Masih ada sorot mata takjub terlihat darinya. Tapi dalam hati diam-diam Itachi merasa kecewa karena dirinya hampir tidak tahu apa-apa tentang Sasuke. Meski sebenarnya mereka cukup dekat, namun belakangan karena kesibukannya mengejar gelar doktor demi reputasi keluarga membuat waktu Itachi banyak tersita untuk sekolahnya. Belum lagi keadaan yang membuatnya dan Sasuke terpisah benua beberapa tahun belakangan membuat keduanya yang sama-sama cukup irit bicara menjadi agak jarang untuk berkomunikasi. Itachi hanya sesekali iseng membuka portal berita khusus untuk mencari informasi tentang adiknya. Sayang sekali berita yang ditemui kebanyakan tidak penting dan itu-itu saja. Pernah juga Itachi stalking di media sosial mencari akun adiknya itu, namun hasilnya nihil. Yang ada hanya akun-akun palsu dan akun yang mengatasnamakan penggemar. Sepertinya Sasuke berusaha sangat keras melindungi kehidupan pribadinya. Padahal Itachi akan dengan senang hati membuka Twitter atau Instagram di sela-sela waktu kelas hanya untuk mengetahui curahan hati adiknya. He.

Itachi terbiasa selalu ada untuk Sasuke. Ia adalah seorang kakak yang membantu adiknya belajar mengendarai sepeda, mengajarinya cara memakai sumpit dengan benar, mengajarinya menangkap bola, sampai mendengarkan keluhan adiknya itu tentang didikan ayahnya yang keras—bahwa sebagai seorang Uchiha, Sasuke harus mampu melakukan segala hal hebat yang akan mengangkat nama klannya. (He knows,hingga detik ini Sasuke terus berusaha menjadi anak yang membanggakan). Sasuke juga sering bercerita tentang Itachi tentang apa-apa saja yang ia sukai. Mulai dari makanan, game, hingga hal tidak penting seperti Naruto yang kentut di kelas dan membuat sensei murka. Itachi selalu menyediakan telinganya untuk Sasuke, dan sebaliknya, Sasuke selalu menjadi adik yang kapan pun siap mendukung sang kakak.

Sasuke mungkin terlihat senang dan bersemangat saat Itachi kembali ke Jepang. Tidak ada yang berubah dari sikapnya terhadap Itachi. Namun kakaknya itu tahu bahwa sang adik saat ini sedang gelisah—mungkin tentang ayah mereka yang akan dicalonkan sebagai perdana menteri. Sasuke jadi lebih pendiam beberapa hari ini dan sering terjaga. Beberapa kali Itachi memergoki Sasuke keluar dari kamarnya pada saat tengah malam dan pergi ke dapur. Satu kali Itachi melihat Sasuke duduk di depan meja makan tanpa menyalakan lampu. Tangan kanannya memegang gelas berisi air dan tangan kirinya memegang ponselnya yang bercahaya. Barangkali Sasuke sedang membuka portal berita dan mencari tahu informasi terkini tentang nasib ayahnya. Namun ketika Itachi mendekatinya, Sasuke langsung mematikan ponselnya dan berkata bahwa ia kebetulan terbangun dari tidur dan merasa haus.

Hm. Ada apa dengan Sasuke? Apakah ini benar-benar tentang ayah mereka? Atau pelajaran sekolahnya yang semakin rumit? Atau, Sasuke sedang jatuh cinta?

Itachi menggeleng lalu menyeringai tipis. Ia berusaha sekeras mungkin mengenyahkan pemikiran terakhirnya karena, yah, meski pun itu benar—dan di usia Sasuke memang seharusnya sudah bermain cinta, sih—baik Itachi maupun Sasuke sama sekali tidak diizinkan untuk jatuh cinta pada siapa pun. Ada sebuah hukum terikat namun tidak tertulis di dalam keluarga Uchiha bahwa untuk menjaga kemurnian keturunan, setiap lelaki Uchiha harus menikah dengan gadis Uchiha lainnya. Itu memang kuno, yes, Itachi mengakuinya. Tapi itulah tradisi yang selama ini membuat pria-pria Uchiha terjaga martabatnya dan berkembang menjadi klan yang semakin kuat bahkan disegani.

Sama seperti ayahnya yang menikah dengan ibunya, yang tidak lain dan tidak bukan merupakan sepupu jauhnya sendiri. Baik Itachi maupun Sasuke pasti sudah memiliki pasangan yang dipilihkan oleh para tetua sejak mereka lahir. Itachi membayangkan bahwa mereka harus menikahi wanita yang meski pun sedikit namun tetap memiliki darah yang sama dengan mereka. Apakah tidak terdengar aneh? Bagaimana proses pencampuran DNA-nya? Hh.

Jadi meski pun Itachi dan Sasuke jatuh cinta lalu memiliki kekasih, sesuai aturan ia tidak bisa menikahi kekasihnya itu karena hukum keluarga. Mau bukti? Saat masih SMU, Itachi pernah berpacaran dengan teman sekelasnya bernama Hana Inuzuka yang tak sampai tiga hari kemudian menjadi mantan kekasihnya. Menyedihkan. Itachi bahkan belum sempat mengajak gadis itu untuk kencan di taman hiburan lalu berciuman saat salju pertama. Ayahnya berkata bahwa Itachi harus menjaga kekuatan tradisi. Namun ibunya berkata bahwa sebenarnya ayahnya menyiapkan sesuatu yang lain untuk Itachi.

Dan kalau Itachi mengingat penuturan ibunya beberapa tahun yang lalu, kepalanya jadi semakin pening. Fugaku Uchiha akan menjodohkan anaknya dengan gadis lain yang sama sekali tidak memiliki darah Uchiha. Ibunya pernah menunjukkan sebuah foto seorang gadis kecil pada Itachi dan berkata bahwa gadis ini yang harus menjadi menantu ayahnya. Sebuah gerakan pemberontakan tradisi yang bar-bar dari Fugaku Uchiha, bukan? Apa bedanya dengan jika Itachi berpacaran dengan gadis lain? Jawabannya karena gadis itu spesial, anak dari orang yang spesial, dan memiliki darah keturunan yang spesial. Lalu apa yang akan terjadi jika Itachi menolaknya? Ibunya menjawab bahwa Itachi akan dibunuh kemudian gadis itu akan menjadi istrinya Sasuke. Benar-benar menggelikan. Tentu saja bagian dibunuh itu adalah sebuah candaan. Namun untuk mempertahankan reputasinya sebagai pewaris kepercayaan sang ayah, mau tidak mau Itachi harus menikahi gadis itu suatu hari nanti dan membangkang tetua.

Ah, seandainya saja Itachi tidak menghilangkan foto itu. Mungkin saat ini ia sudah menelusuri Jepang dan bertemu dengan calon istrinya. Tentu saja Itachi penasaran sespesial apa gadis itu sehingga membuat seorang Uchiha mematahkan aturan leluhurnya. Bayangkan seperti apa internal chaos yang akan terjadi jika Fugaku Uchiha meneruskan misi perjodohan yang berbahaya itu.

"Hei, sudah melamunya?" Shisui melambaikan tangan tepat di depan wajah Itachi.

"Oi," elak Itachi. "Aku sedang memikirkan sesuatu."

"Hm, apa?" tanya Shisui. Ia kembali mendudukkan diri di atas tempat tidur Sasuke. Tangannya menyangga tubuhnya.

Itachi mengerutkan kening, "Seharusnya kali ini aku pulang untuk perjodohanku dengan Izumi."

"Who? Izumi? Serius? Tetua menjodohkanmu dengan Izumi?" tanya Shisui kaget."Izumi Uchiha yang…" Shisui membuat gesture bentuk tubuh yang seksi dengan tangannya dan kemudian disambut anggukan Itachi. Astaga. Shisui mengenal Izumi. Gadis itu berdarah Uchiha murni dan menjadi perbincangan di antara pria-pira Uchiha lainnya. Termasuk Shisui, tentu saja. Tidak hanya terkenal karena tubuhnya dan kecantikannya, Izumi juga gadis yang pintar mengingat saat ini ia masih tinggal di Jerman dan menempuh pendidikannya sebagai seorang dokter.

"Iya, iya, aku juga kaget awalnya," ujar Itachi gugup. "Tapi aku sama sekali tidak mengenalnya. Maksudku dulu saat masih kecil aku sering bertemu dengannya tertuama saat ada acara keluarga. Namun sekarang tidak sama sekali."

"Dia kuliah di Jerman," sambung Shisui bersemangat. Membayangkan adik sepupunya itu akan mendapatkan primadona Uchiha membuat jantungnya berdebar. Ini bukan perasaan iri—Shisui sudah mempunyai calon istrinya sendiri yang dipilihkan meski hingga saat ini calonnya itu belum mau juga dinikahi olehnya—tapi tetap saja ia kaget dan deg-degan. "Sebentar lagi akan jadi dokter. Sekarang masih internship gosipnya."

Itachi mengangguk, "Aku sudah mendengarnya dari paman Obito."

"Kau menemui paman?" tanya Shisui dengan nada suara lebih terkejut lagi.

"Tepat sekali," jawab Itachi sambil menjentikkan jari "Sebelum kembali ke Tokyo aku mengunjungi paman di Berlin. Dia bilang Izumi sedang pengabdian di rumah sakit pinggiran Hamburg, tapi aku tidak ingin menemuinya. Malas."

Shisui mendengus kesal. Ia memerhatikan Itachi yang mendekat dan menidurkan diri di sampingnya. "Sombong sekali," protesnya. "Kau tahu dia idola, kan?"

Itachi tersenyum. "Aku tahu," tawanya. "Tapi bagaimana jika aku akan menikah dengan orang lain?"

Shisui ikut menidurkan diri di sisi Itachi. ""Memangnya kau punya pacar?" goda Shisui yang dibalas Itachi dengan gelengan. "Boleh, sih. Tapi kau tidak bisa menjadi pewaris murni. Lalu kau akan miskin dan mendapatkan sanksi sosial dari para tetua. Bagaimana?"

"Yah…" Itachi menghela napas. "Tidak buruk juga kedengarannya. Seandainya aku sejenius Sasuke, pasti aku akan menemukan passion lain sehingga tidak perlu repot-repot melanjutkan bisnis keluarga yang membosankan."

Shisui mengangguk mengamini perkataan Itachi. Benar, kalau bukan karena takdir sudah sejak lama ia menyusul Izumi untuk kuliah kedokteran dan tidak perlu susah-susah berjibaku dengan saham dan sejenisnya kemudian menjadi perjaka tua seperti sekarang. Seandainya Shisui dan Itachi seberuntung Sasuke yang diberkati dengan otak super encer—tunggu, secara tak sengaja otak Shisui memikirkan suatu hal. "Ya ampun," desahnya kaget.

"Apa, Kak?" tanya Itachi.

Namun Shisui tak menjawab. Matanya sibuk mengedar ke seluruh penjuru kamar—memerhatikan teleskop milik Sasuke, tumpukan buku-bukunya, foto-foto olimpiadenya, hingga bola dunia yang ada di atas meja belajarnya.

"Kau benar. Adikmu jenius," kata Shisui.

Itachi menelengkan kepalanya bingung. "Yes, so?"

Shisui mengguncang-guncangkan bahu Itachi. "Dia mempertahankan passion-nya agar terhindar dari perjodohan keluarga. Can you believe that, huh?"

Itachi terduduk kaget lalu menggeleng-gelengkan kepala.


.

Yes. Can you believe that, huh?

Sasuke termenung setelah menemukan dirinya kini berdiri di depan sebuah kamar rumah sakit yang pintunya tertutup rapat. Tangan pemuda itu masih berada di sisi tubuhnya yang tegap. Sama sekali tidak membuat pergerakan untuk membukanya. Pun kaki Sasuke juga seolah menancap kuat pada lantai seolah tak akan bergeser meski tornado menyerangnya saat ini juga. Pikirannya berdebat dengan hatinya yang sedari tadi merasa bimbang—antara untuk menyentuh tuas pintu dan mendorongnya hingga terbuka, atau malah berbalik dan menjauhi ruangan itu.

Sigh. Sasuke tahu benar bahwa dirinya bukanlah tipe orang yang akan dengan sangat mudah peduli pada kehidupan orang lain—kecuali keluarga dan teman terdekatnya. Apalagi sampai ikut-ikutan mengurusi hidup orang. Hidupnya sendiri saja sudah rumit, apalagi jika ditambah dengan memikirkan hidup orang. Bisa habis waktunya di bumi hanya untuk berfikir. Hanya saja, orang yang ada dibalik pintu ini perlahan-lahan mulai menjadi bagian dari hidupnya yang rumit. Hn. Sasuke tidak tahu bagaimana awal mulanya namun lama kelamaan entah mengapa dirinya selalu terdorong untuk secara tidak sengaja terlibat dengan orang ini. Dia datang dengan kecepatan tinggi dan menabrak semua hal yang menghalanginya dari kehidupan Sasuke.

"Hh…" Sasuke menghela napas berat. Napasnya yang hangat terasa menyapu wajahnya sendiri. Kepalanya mulai terasa sakit akibat topi hitam yang dipakainya terlalu kencang di atas kepala. Mantel donkernya mulai membuat tubuh pemuda itu kepanasan di tengah sejuknya udara rumah sakit. Sasuke menghela napas sekali lagi sebelum akhirnya menggaruk pelipisnya yang mendadak terasa gatal.

Sial. Uchiha ini merasa gugup.

Yeah. Can you believe that, huh?

Padahal satu jam yang lalu Sasuke masih dengan begitu percaya diri berdiri di depan pintu kelas D. Meski sudah ditutupi topi, namun tatapannya tajam memandang ke arah pintu yang terbuka. Kedua tangan pemuda itu tersembunyi di balik saku celananya—dan tidak ada yang tahu bahwa dibalik saku itu kuku Sasuke menancap pada telapak tangannya. Beberapa siswa dan siswi yang lewat ada yang mengenali, berbisik-bisik, tapi ada juga yang cuek, yah, karena tidak mungkin juga seorang Uchiha bisa berada di depan pintu kelas D yang menurut kebanyakan anak kelas A adalah kelas rendahan. Ada angin apa ini?

Sasuke masih akan berdiri di depan pintu kelas D dengan gerombolan siswi yang berbisik dan merona kalau saja sesosok gadis berambut merah panjang yang bingung tidak berani mendekat. Dengan perlahan, gadis itu menundukkan tubuhnya untuk mengintip wajah siapa yang ada di balik topi. Tak sampai dua detik kemudian gadis itu memekik dengan mata membulat lebar.

"Sasuke?" tunjuknya.

Sasuke mengangkat pandangannya dan langsung bertemu dengan manik ruby milik Karin Uzumaki. Shit.

"Apa yang kau la—lakukan di sini?" tanya Karin ragu.

Beberapa gadis mulai mendekat ke arahnya. Nah. Jangan lupakan kenyataan bahwa Karin Uzumaki adalah mantan ketua klub merepotkan bernama Sasuke Lovers yang sekarang sudah bubar. Sasuke ingat betapa ia harus menutup semua akun media sosialnya karena setiap hari ia menerima pesan-pesan aneh di dalam inbox-nya. Belum lagi foto-foto yang Sasuke upload entah mengapa bisa dengan sangat mudah menyebar ke mana-mana, bahkan sampai masuk surat kabar segala. Semua kesuraman yang terjadi sepanjang hidupnya yang dihantui oleh bayangan Sasuke Lovers membuatnya sempat stres berat. Kumpulan itu menyatakan diri sebagai pendukung dan penyemangat Sasuke nomor satu, namun mengapa dengan kehadiran mereka justru membuat Sasuke tidak bisa hidup tenang? Aneh.

Orang-orang yang melihat Karin menyapa Sasuke saat ini pasti akan berpikiran bahwa Karin sedang mencari perhatian Sasuke. Maksudnya, hey, di depannya itu Sasuke Uchiha yang pernah ia elu-elukan, you know. Beberapa orang seakan mencibir namun sepertinya Karin pantang menyerah dan tidak peduli tanggapan orang lain. Dengan kening berkerut ia melambaikan tangannya di depan wajah Sasuke dan bertanya lagi, lebih berani daripada yang sebelumnya. "Apa yang kau lakukan di sini?"

Awalnya, Sasuke meringis di dalam hati. Tentu saja ia tahu siapa Karin Uzumaki—sepupu Naruto yang sinting dan merepotkan. Sasuke tahu track record gadis itu bersama Sasuke Lovers. Semua info valid Sasuke dapatkan langsung dari Naruto yang sudah tidak tahan dengan kelakuan saudaranya itu beserta Shino yang sekaligus berperan sebagai penasihat Sasuke.

Sasuke pernah sekali protes ke Naruto perihal Karin yang kemudian ditanggapi Naruto dengan mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah. Naruto berkata bahwa ia sudah pernah membicarakan hal tersebut dengan Karin—yap, kau tahu, akibat stresnya Sasuke, Naruto dan kawan-kawan jadi ikut stres juga. Namun jawaban Karin membuat Naruto hanya bisa menepuk-nepuk punggung Sasuke dan berpesan untuk tidak menghiraukan sepupunya itu. Jiwa fangirl. Gelora gadis remaja, ujar Naruto kala itu. Anggap saja Karin Uzumaki sedang gila akibat dipengaruhi oleh Tayuya—kakak kelas mereka, sekaligus founder of Sasuke Lovers. Cih.

Kemudian, dari sekian banyak orang yang lalu lalang di depan kelas D mengapa Karin yang harus ditemuinya? Mengapa bukan dua gadis bodoh lainnya yang selalu bersama Sakura Haruno?

Ah. Sasuke meringis lagi.

Benar. Kau benar. Sasuke berdiri di depan kelas D menunggui dua sahabat Sakura yang lainnya untuk meminta penjelasan. Kau tahu, gadis merah jambu itu sudah menghilang selama tiga hari dan Sasuke sama sekali tidak mendapatkan kabar kemana dirinya. Sasuke tidak menemukan gadis itu di kantin, di UKS, di perpustakaan bahkan di koridor sekolah seperti biasanya.

Ini bukan tentang Sasuke yang khawatir kalau-kalau hari itu Sakura menungguinya di perpustakaan sekolah, bukan kok. Toh buktinya saat Sasuke tiba di SMU Konoha perpustakaan sudah tutup dan Sakura tidak ada di sana. Ini tentang tugas laporan field trip yang harus mereka kerjakan dan kumpulkan. Tidak ada sama sekali persoalan sentimen pribadi melainkan masalah profesionalitas rekan membuat laporan. Sasuke tidak akan membiarkan Sakura Haruno menghilang dan membiarkan dirinya mengerjakan semuanya seorang diri sementara penilaian akan dibagi dua.

Tidak akan. Sakura Haruno harus bertanggung jawab untuk segalanya.

"Baiklah, aku tidak berharap kau menjawab sih…" dengus Karin kemudian.

Sasuke berdecak sebal. Mungkin sebaiknya ia meminta Shino untuk mencari tahu keberadaan Sakura saat ini namun ia terlalu gengsi. Bisa-bisa Shino berpikiran yang tidak-tidak tentang dirinya lalu Sasuke harus susah payah menjelaskan duduk persoalannya padahal ia sedang tidak ingin berbicara panjang lebar pada siapa pun. Belum lagi kalau Kiba, Neji dan Naruto tahu, keadaan akan semakin menjadi kacau dan perasaan Sasuke sama sekali tidak akan membaik meski pada akhirnya ia tahu di mana Sakura Haruno sekarang berada.

Tunggu, perasaan membaik? Apaan, sih.

Sasuke akhirnya mengurungkan niatnya setelah melihat kerumunan semakin ramai. Belum lagi samar-samar Sasuke mendengar suara dua teman bodoh Sakura yang ia cari. Ia berubah pikiran. Pemuda itu berbalik dan memutar langkah dengan cepat. Saking cepatnya kalau saja ada yang menyadari sebenarnya Sasuke nyaris terpeleset sol sepatunya sendiri. Apaan, sih. Benar-benar bodoh, batinnya. Sasuke ngebut menuruni tangga tanpa memedulikan apa pun dan segera berbelok ke arah loker. Di sanalah akhirnya ketika Sasuke kembali mendengar suara Karin yang ternyata mengikutinya.

"Kenapa lari, sih? Hah, hah," Karin memandang Sasuke terengah. Sebelah tangan gadis itu bertumpu pada loker sebelahnya lagi memegang pinggang. Kemudian kepalanya menoleh ke belakang memastikan bahwa keadaan ruang loker tidak begitu ramai dan tidak ada yang membuntuti dirinya mau pun Sasuke.

Sebelah alis Sasuke terangkat. Apa-apaan gadis ini? Apa yang ada dipikirannya sampai berani mengikuti Sasuke ke sini? Sumpah, menyebalkan. "Apa maumu?" untuk pertama kalinya Sasuke buka suara meski terdengar sangat ketus. Kedua tangannya kembali tersimpan di saku celana.

"Seharusnya aku yang tanya begitu," balas Karin setelah berhasil mengatur napasnya. Tangan gadis itu naik dan bersilang di depan dada. "Apa yang kau lakukan di depan kelas D? Kau mencari Sakura, kan?"

Awalnya Sasuke terkesiap dan ingin sekali membantah. Namun ia tidak mampu menahan dirinya lagi ketika mendengar Karin menyebutkan nama orang yang selama beberapa hari ini ia cari kemana-mana.

Meski Sasuke tak mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalas Karin, namun gadis itu mengangguk seakan-akan ia paham. "Sudah kuduga," ujarnya. "Kenapa? Kau pasti takut laporan field trip-mu tidak selesai, kan?"

Tidak, geleng Sasuke dalam hati. Namun mulutnya tetap terkunci rapat tanpa suara.

"Dengar, ya, Tuan Uchiha," Karin berjalan perlahan mendekati Sasuke. "Sebenarnya aku sama sekali tidak ingin terlibat lagi di dalam hidupmu yang merepotkan. Pertama, harus kuakui kalau aku ini adalah penggemar beratmu dulu," Karin memulai narasinya. Sebenarnya saat ini pun masih, batin Karin sebelum akhirnya berdehem dan menggelengkan kepala. "Dan aku juga tidak ingin Sakura terlibat lagi denganmu. Tapi aku tahu Sakura akan sangat merasa bersalah kalau tahu kau mencarinya untuk mengerjakan laporan kalian," kata Karin.

Bagus. Selain bodoh ternyata Sakura Haruno adalah gadis naïf yang mudah merasa bersalah.

Karin membetulkan letak kacamatanya sebelum melanjutkan. "Yah, meski pun kau mungkin tidak akan merasa bersalah karena telah membuatnya koma karena terlalu lama menunggumu," ujar Karin seraya menghela napas berat.

Sebelah alis Sasuke terangkat heran seketika. Koma? "Apa maksudmu?" tanya Sasuke. Sakura koma? Kenapa? Sorot mata pemuda itu menajam dan Karin bersumpah kalau saja ia melihat ke dalam mata Sasuke sedikit lebih lama, maka bisa-bisa nyawanya tersedot dan abadi di neraka saking kelamnya sorot pemuda Uchiha itu.

"Ya, koma. Tidak sadarkan diri," ulang Karin. Sebenarnya gadis Uzumaki itu hanya tidak bisa menemukan kata yang pas untuk menggambarkan kondisi Sakura yang tertidur selama tiga hari. Pada saat gadis itu menemukan Sakura, ia mendapati tubuh sahabat baiknya itu sudah dingin dan sangat pucat. Karin hanya bisa mendengar teriakan histeris Ino dan tangisan Tenten—keduanya bahkan berpikir kalau Sakura mati kedinginan, sigh. Untungnya Karin masih bisa menguasai pikirannya untuk memesan taksi dan membawa Sakura ke rumah sakit terdekat. Lalu, kabar terakhir yang Karin dapatkan dari ibunya Sakura hari ini adalah Sakura sudah kembali sadar dan akan menjalani banyak pemeriksaan.

"Dia menungguimu seharian di perpustakaan hingga kelelahan, kau tahu," kata Karin enteng. Sama sekali tidak memerhatikan bahwa detik itu juga rahang Sasuke mulai mengeras. "Aku akan membantumu bertemu dengannya. Tapi," jeda,"Bukan karena aku ingin kau menyiksanya lagi. Aku hanya ingin kau melihat kondisinya supaya kau berpikir untuk memberinya sedikit dispensasi."

Sasuke tidak menjawab. Pemuda itu diam saja dan sibuk dengan pemikirannya sendiri.

"Maksudku," Karin berusaha mengoreksi tanpa diminta. "Kalau kau tahu keadaannya tidak memungkinkan berjanjilah kau tidak akan mencari-carinya dan memaksanya untuk menyelesaikan laporan kalian. Bagaima—"

"—setuju."

Karin melongo. Gadis itu bahkan belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Sasuke dengan cepat langsung memotongnya. Meski pun ada rasa kesal di dalam dirinya karena perlakuan tidak menyenangkan Sasuke pada Sakura, ada sedikit debaran aneh di dada gadis itu saat berhadapan dengan Sasuke. Maksudnya, selama menjabat sebagai ketua klub Sasuke Lovers, Karin bahkan belum pernah sedekat ini berdiri di depan Sasuke, berbicara dengan Sasuke, dan menyaksikan sendiri bahwa Uchiha satu ini benar-benar tampan level dewa. Seandainya saja Karin masih dalam mode 'gila' dan tidak memikirkan masa depannya, saat ini mungkin gadis itu akan histeris dan menubruk Sasuke dengan pelukannya. Namun buru-buru Karin mengenyahkan pikirannya dan membuang jauh-jauh fantasinya untuk kembali menggemari Sasuke. Tidak, tidak. Aku harus harus fokus pada masa depanku, batin Karin.

"Baiklah," angguk Karin. "Sepulang sekolah aku dan yang lain akan menjenguk Sakura. Tapi kudengar hari ini dia menjalani pemeriksaan yang banyak. Kau tidak boleh berlama-lama saat menemuinya. Janji?"

Dengan satu anggukan setuju yang mantap, di sinilah Sasuke Uchiha sekarang berada—di rumah sakit tempat Sakura di rawat. Pintu ruangan tempat Sakura masih tertutup rapat. Tangan dan kaki Sasuke sama sekali tidak bergerak sedikit pun sejak ia tiba. Meski Karin berpesan pada Sasuke untuk jangan merecoki Sakura, Uchiha satu ini mungkin tidak akan sanggup menahan dirinya untuk menghujani Sakura dengan berbagai macam pertanyaan, sekaligus memarahi gadis merah jambu itu mengapa dengan bodohnya menunggui Sasuke padahal ia sendiri tahu bahwa kondisinya sedang tidak baik.

Sasuke sempat memikirkan apakah ini ada hubungannya dengan kejadian beberapa hari lalu saat field trip. Apakah sakit Sakura saat ini disebabkan luka di dalam tubuhnya? Selama ini Sakura masih terlihat baik-baik saja. Mungkin hanya orang terdekatnya saja yang tahu bahwa gadis itu seperti hancur di dalam—wajahnya memucat, tubuhnya semakin kurus dan selalu memaksakan diri untuk terlihat ceria. Gadis itu pasti setengah mati menahan sakit di tubuhnya. God, she looks so fine but she is actually not.

Memikirkan bahwa saat ini Sakura sedang terbaring lemah dengan banyak memar ditubuhnya membuat rasa bersalah perlahan menjalari dada Sasuke. Seandainya saja saat itu ia tidak bertingkah seperti banci dengan menuntut Sakura untuk mencarikan kameranya, atau seandainya Sasuke lebih kuat untuk melindunginya, atau seandainya saja Sasuke menyadari gadis itu meringis kesakitan saat mereka berlarian di pantai, seandainya… Sial. Ada sejuta kata seandainya kini berseliweran di benak Sasuke. Namun mengetahui bahwa waktu tidak mungkin kembali dan Sasuke tidak dapat mewujudkan 'seandainya' itu membuat dadanya berdebar takut. Sasuke mungkin tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri setelah ini.

Setelah sebelumnya menarik napas panjang dan berat, dengan satu gerakan Sasuke membuka pintu ruangan Sakura. Sepi. Tidak ada siapa pun di ruangan bercat kelabu itu yang bertemu pandang dengan oniks Sasuke. Kakinya kemudian melangkah masuk perlahan, sementara tangannya menutup pintu dengan perlahan. Sasuke kemudian menemukan kepala merah jambu menyembul dari balik selimut.

"Sakura," suara Sasuke teredam oleh debaran jantungnya yang menggila. Untuk pertama kalinya dalam hidup Sasuke merasa tidak bisa mengontrol dirinya. Kaki pemuda itu terus saja berjalan mendekati ranjang pasien meski otaknya memerintahkan untuk berhenti dan tanpa aba-aba membuka selimut yang menutupi wajah Sakura.

Lalu detik berikutnya, Sasuke menyipitkan matanya.

Sakura tengah memeluk bantal dengan mata terpejam. Tertidur pulas, eh? Geram Sasuke dalam hati. Kata-kata pedas dan jutaan pertanyaan rasanya sangat ingin keluar dari mulut Sasuke saat itu, namun setelah melihat Sakura dengan wajah pucatnya, Sasuke hanya bisa menghela napas. Ah. Setidaknya kini ia bisa memastikan dengan mata kepalanya sendiri keadaan gadis itu.

Sasuke menarik sebuah kursi agar bisa duduk menghadap Sakura yang masih tertidur. Matanya memerhatikan jarum infus yang terpasang di pergelangan tangan Sakura, kemudian beralih pada gelang merah jambu yang melingkari pergelangan tangan Sakura yang satunya. Sudut bibir Sasuke berkedut menahan seringaian. Gadis ini pasti merengek minta dilepas, batinnya.

Sekitar lima belas menit Sasuke hanya duduk diam menghadap Sakura yang tak kunjung bangun. Hanya ada suara jarum jam yang berdetak, diikuti suara napas Sakura yang teratur. Gadis itu terlihat begitu tenang dalam tidurnya. Benarkah ia koma selama tiga hari? Benarkah ia sakit gara-gara menunggui Sasuke di perpustakaan? Benarkah ia menderita luka dalam akibat ulah para penjarah waktu itu? Tangan pemuda itu mengepal dan mulutnya terkatup rapat. Ada magma yang siap meletus dari dalam dirinya dan siap untuk memburu Sakura. Namun kemudian Sasuke mengeram karena ia tidak bisa menanyai Sakura saat ini.

Kapan bangunnya sih?

Waktu berlalu dan Sasuke semakin gelisah. Pemuda itu beringsut maju dan mencondongkan dirinya pada Sakura. Sebelah tangan Sasuke terangkat untuk menyentuh Sakura namun ia mengurungkannya. Tak lama kemudian gadis itu menggeliat dan membuat poni tipisnya jatuh menutupi mata. Sasuke berdecak. Kedua tangannya masih bersilang di depan dada. Ada sebuah dorongan yang memaksanya untuk kembali mendekat pada Sakura. Sasuke mengikuti dorongan itu dan membiarkan dirinya berjarak tak lebih dari lima belas senti dari Sakura. Tangan pemuda itu bergerak kemudian menyingkirkan poni yang menutupi wajah Sakura. Saat itulah kedua kelopak mata Sakura terbuka dan Sasuke terlalu tidak siap untuk terkejut dan menjauhkan dirinya di saat yang bersamaan.

Untuk beberapa saat kemudian keduanya hanya saling melempar tatap. Sasuke masih dengan matanya yang membulat lebar tanpa menjauhkan dirinya dari Sakura, sedangkan Sakura hanya memandang Sasuke dengan tatapan kosong—seperti sedang berada di alam mimpi.

"Hei," suara Sasuke mendadak menjadi serak. Bermacam pertanyaan dan kata-kata yang sudah disusunnya sedari tadi hilang begitu saja setelah Sakura membuka mata. Pemuda Uchiha itu hanya mampu memandangi wajah Sakura tanpa jeda. Rambutnya, alis matanya, bola matanya yang hijau cerah, hidungnya yang kecil dan bibirnya. Sasuke merasa dirinya seolah tersihir beberapa saat dan debaran jantungnya semakin menggila.

Sakura Haruno adalah gadis tercantik yang pernah ia temui seumur hidupnya.

"Sasuke."

Sasuke terkesiap ketika Sakura menyebut namanya. Gadis itu masih dengan mata yang setengah terbuka,memegang tangan Sasuke yang sedari tadi ternyata tak berpindah dari sisi kepala Sakura. Rasa hangat menjalari sekujur tubuh Sasuke saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Sakura. Perasaan aneh apa ini? Mengapa seperti ada lonjakan besar di dalam perutnya sampai-sampai Sasuke ingin bangkit dan berteriak saat itu juga?

"Hng…?" dan hanya itu yang bisa Sasuke keluarkan untuk menjawab panggilan Sakura.

Sakura menutup matanya secara perlahan. "Aku…" jeda sejenak saat Sakura membuka kembali matanya, "Aku belum keramas."

Pipi Sasuke berdenyut. Ada tarikan hebat pada sarafnya yang memaksa pemuda itu menyeringai lebar. Namun setengah mati dirinya menahan agar tidak terlihat bodoh di depan Sakura. Meski pun saat ini Sakura seperti tidak menyadari apa yang ia katakan, tapi tetap saja Sasuke harus menjaga image-nya.

Detik kemudian Sakura kembali memejamkan matanya. Kali ini gadis itu sama sekali tidak membukanya lagi. Sasuke semakin yakin bahwa yang barusan itu Sakura hanya mengigau saja. Sigh, gadis ini, gerutu Sasuke dalam hati. Dengan mudahnya ia membuat Sasuke melupakan segala kekhawatirannya dan semua pertanyaannya. Dengan mudahnya ia membuat Sasuke merasa bahwa bersamanya semuanya baik-baik saja. Dengan mudahnya ia membuat Sasuke memutuskan untuk mengambil sebuah langkah besar dalam hidupnya. Karena dengan mudahnya ia membuat Sasuke semakin mencondongkan diri untuk mengecup sudut bibirnya.

Ya. Untuk pertama kali di dalam hidupnya, Sasuke mencium seorang perempuan—yang mungkin tidak akan pernah tahu bahwa Sasuke telah melakukannya.

.


.

Tokyo, 2009.

.

.

"Tsk," Sasuke berdecak sebal. Tangannya yang sudah kotor menghitam baru saja secara refleks menggaruk pelipisnya yang gatal. Sasuke kemudian berusaha membersihan pelipisnya dengan tangannya yang lain, namun yang ada wajahnya semakin menjadi kotor.

Rantai sepedanya putus. Dan Sasuke harus dengan segala cara membetulkan rantai sepedanya sebelum mobil jemputannya datang. Yap. Mobil jemputan, dan seharusnya Sasuke memang menaikinya bukan malah berniat kabur dengan meminjam sepeda Naruto yang sudah tidak dipakai lagi ini. (Makanya rantainya rapuh dan mudah putus, kan. Duh).

Sasuke kemudian mendongakkan kepalanya memandang langit yang sinaran mentarinya mulai meredup. Hari sudah menunjukkan pukul lima sore. Seharusnya sudah sejak pukul tiga supir keluarga menjemput dan mengantarnya pulang, namun Sasuke berdalih bahwa ia harus tanding sepak bolah hari ini, jadi Sasuke meminta untuk tidak langsung dijemput begitu pelajaran di sekolah usai.

Ada sebuah misi penting yang harus Sasuke lakukan hari ini. Seharusnya saat ini ia sudah membawa dirinya menuju ke staisun kereta terdekat. Rencana ini sudah ia pikirkan berbulan-bulan dengan matang dan penuh perhitungan. Sasuke yang tidak pernah naik kendaraan umum—terutama kereta—melakukan survey ke teman-temannya yang sering berpergian tanpa ada jemputan. Sasuke mencatat semua informasi yang ia dapatkan dengan baik. Bahkan ia menanyai petugas stasiun kapan kereta terakhir tersedia.

Yap. Tentu saja misi ini sangat penting. Ini menyangkut masa depannya, klannya, bahkan anak dan keturunannya.

"Mm… Sasuke Uchiha."

Suara seorang gadis membuyarkan lamunan Sasuke. Dengan raut wajah yang terlihat masih agak sebal Sasuke mendapati seorang gadis berambut hitam panjang berdiri malu-malu di dekatnya.

"Apa?" respon Sasuke datar karena tidak mengenal gadis itu.

"Aku," gadis itu mengangkat kepala dan samar-samar Sasuke mengenali wajahnya. "Ini aku, Kin," jawab gadis itu tersenyum malu.

Ooh, angguk Sasuke, namun di dalam hati.

Karena Sasuke tak kunjung menjawab, gadis itu maju beberapa langkah mendekati Sasuke. Kemudian ketika ia mendapati bahwa ada warna kehitaman di sekitar wajah Sasuke, Kin membelalak, "Sasuke-kun tidak apa-apa? Wajahnya kenapa?"

Sasuke memerhatikan gadis itu yang dengan berani membuat interaksi darinya. Tapi karena ia tidak mungkin mendorong seorang gadis, Sasuke hanya mundur perlahan beberapa langkah—menghindar, kalau-kalau gadis itu akan menerkamnya seperti yang dilakukan gadis-gadis berisik penggemarnya di luar sana. "Bukan urusanmu," tukas Sasuke.

Awalnya gadis itu terlihat sedikit terluka dengan jawaban Sasuke. Setelahnya ia memaksakan senyuman. "Aku tidak ingin mengganggu Sasuke-kun," ujarnya. "Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkanku kemarin."

Kening Sasuke berkerut mencoba mengingat penyelamatan apa yang telah ia lakukan pada gadis ini. Dan saat memorinya menemukan titik terang, Sasuke hanya mengangguk sekali. "Oh."

Kemarin saat sedang main sepak bola, Naruto melakukan tendangan lambung hingga keluar dari lapangan. Sasuke yang kebetulan saat itu sedang berada di dekat garis tendangan sudut dengan sigap mengejar bola dan langsung menyundulnya sebelum mengenai orang lain yang sedang melintas. Saat itulah Sasuke menyadari bahwa orang yang hampir saja dihantam bola lambung Naruto adalah Kin. Siswi kelas sebelah yang pernah memberinya hadiah saat valentine.

"Terima kasih karena sudah menjadi penyelamatku," Kin tersenyum.

Sasuke tidak tahu harus merespon apa, karena sejujurnya bagi Uchiha itu yang dia lakukan tidak ada apa-apanya. Jadi daripada ia berlama-lama di dekat Kin dan semakin mengulur waktunya—oh astaga, Sasuke lupa kalau ia harus segera ke stasiun dan berangkat sekarang juga.

"Aku—"

"—aku harus pergi," Sasuke menyela. Tanpa memerdulikan tangannya yang kotor dan sepeda Naruto yang bersandar tak berdaya, Sasuke meraih ranselnya dan bergegas mengambil langkah.

"Tunggu, Sasuke-kun!" panggil Kin yang dengan sukses membuat langkah Sasuke berhenti dan menoleh ke belakang. "Apakah setelah ini aku bisa mengobrol lagi denganmu?

Sasuke terdiam selama beberapa detik kemudian mengangguk samar. Kemudian sebelum berlari meninggalkan gadis itu ia bergumam, "Ya. Boleh."

Kin memandang tubuh Sasuke yang dengan cepat semakin menghilang di balik gedung sekolah. Gadis itu kemudian mengulas senyum pada bibirnya lalu membatin, apakah setelah ini aku boleh berusaha agar kau menjadi milikku?