Nagisa's First Love (Chapter 2)

Nagisa's First Love (Nagisa no Kataomoi)

Disclaimer :

AKB0048 © YASUSHI AKIMOTO, SATELIGHT

Warnings :

OC/OOC/AU/AR/AT/Rated T/Romence/Hurt/Friendship/Family/Musical/Idol

Chapter 2 Full of Nagisa's P.O.V


.

.

.

Degup ...

Jantungku berdegup keras

Kenapa?

.

"NAGISA!" aku tersentak. Yuuka memanggil dan menghampiriku. Aku bisa melihat wajahnya yang cemas. Aku—Motomiya Nagisa—seorang trainee AKB0048—menjawab panggilan Yuuka.

"Ah, Yuuka! Maaf mencemaskanmu," Yuuka memandangiku.

"Dari mana saja kamu? Tadi di toilet tidak ada. Aku sempat khawatir, tahu!"

"Iya, aku mengerti, Yuuka. Wajar saja, sih, kalau kamu khawatir! Hehehe ..."

"Memangnya tadi ada apa, sih?"

"Ah, anu ... tadi ada perampok."

"Perampok?! Kamu tidak apa-apa?"

"Tenang saja, aku sama sekali tidak terluka, kok!"

"Lalu ... apa yang dicuri?"

"Ah, itu ..."

"NAGISA!" aku dan Yuuka menoleh. Ada Orine. Dia sahabatku yang memiliki sifat lembut. Aku suka sekali padanya.

"Orine ..."

"Kok, tadi lama?" tanya Orine.

"Aku tadi keluar sebentar ingin mencari udara segar. Ternyata malah dirampok," aku cengar-cengir. Tapi sepertinya Orine sama sekali tak memikirkan itu.

"Aku gelisah, tahu! Sampai dirampok segala, lagi! Terus, kamu terluka?"

"Dia tidak terluka, cuma aku mau tanya sama Nagisa, apa ada barang yang dicuri," Yuuka spontan mendahuluiku menjawab.

"Tadi tasku dicuri. Tapi ada yang menolongku, kok! Eh?" Yuuka dan Orine menatapku dalam. Kali ini apa? Setelah itu, mereka tersenyum licik.

Kenapa, ya? Seperti ada aura neraka saja pada Yuuka dan Orine

"Kamu terlalu jujur, Nagisa! Dari wajahmu kelihatan kalau yang menolongmu itu pasti laki-laki!"

Apa? Yuuka dan Orine ... TAHU?!

.

"Untung Yuuka dan Orine tidak tanya yang aneh-aneh ..." desahku. Sekarang aku sudah ada di rumah. Tepatnya di kamarku (yang ada di Akibastar).

TRING!

"Ah, Ada email masuk!"

TIK ... TIK ...

Kira-kira dari siapa, ya?

KLIK!

From : XXX

Eh? Tidak ada nama pengirimnya? Terus dari mana dapat alamat email-ku?

"Disini tertulis 'Kau harus persiapkan dirimu untuk konser nanti. Aku yakin kau akan menangis bahagia.' Yang benar saja ..."

"Kenapa, Nagisa? Malam-malam begini masih belum tidur?" aku menoleh ke belakang.

"Chieri? Anu ... aku dapat email."

"Kurasa itu bukan alasan."

"Eh?"

"Kau tidak mungkin terbangun hanya karena email masuk, kan? Lagipula, laptop tidak akan menyala sendiri tengah malam meskipun ada email masuk."

"...Ya, kau benar, Chieri. Aku hanya ... kepikiran."

"Soal?"

"Yuuka dan ..."

"Orine?"

"Bukan. Mamoru."

"Kenapa bisa? Kamu patah hati karena Yuuka dan Mamoru pacaran dan akhirnya kamu merenung tengah malam begini?"

"Tidak, bukan karena itu!"

"Lalu?"

"... Apa Chieri, tidak pernah merasakan cinta?"

"..."

.

"NAGISA, BANGUUUUUN!" aku memerjapkan mataku. Di depanku sekarang ada Yuuka dengan wajah sinisnya.

"Yuuka? Kau ini, mengagetkan saja!" ucapku sambil tertawa.

"Kenapa tertawa? Cepat sana, bangun! Langsung mandi, ya. Nanti terlambat latihan!" perintah Yuuka sambil pergi meninggalkan kamar.

"Ya, ampun. Dia ini galak sekali ..." gumamku.

.

"Yume wa ase no naka ni, sukoshi zutsu saite iku hana. Sono doryoku kesshite uragiranai. Yume wa ase no naka ni, me wo dashite zutto matteiru. Itsuka kitto negai kanau made ... huff ... nafasku mau habis rasanya!" kataku selesai bernyanyi.

"Bagus, Nagisa!" puji Ushiyama-Sensei. "Berikutnya, Chieri, kau coba untuk menyanyi!"

"Baik, Sensei!" Chieri pun menyanyi lagu Beginner sambil memainkan dance-nya.

Chieri memang hebat ... aku berbeda darinya. Dia luar biasa ...

"Hebat, Chieri! Kau memang luar biasa!" Chieri tersenyum mendengar pujian Ushiyama-Sensei.

Hh ... lagi-lagi dia yang dipuji begitu hebat.

"Nagisa, ada apa? Kenapa melamun?" tegur Ushiyama-Sensei.

"Ah, Sensei! Aku ... aku hanya mencoba menghafal gerakan Gingham Check! Maksudku menghafal lagunya ..."

"Oh, begitu. Kau rajin juga, ya."

Aku dipuji rajin oleh Ushiyama-Sensei? Tapi senang juga, sih.

.

"Akhir-akhir ini kau sering melamun," ungkap Chieri.

"Maksudmu?"

"Tadi malam kau juga melamun," aku menangguk. Sekarang kami sedang menuju ruang makan.

"Apa yang kau lamunkan, sih?"

"Aku cuma berpikir, cirri-ciri orang jatuh cinta itu seperti apa?"

"Eh? Kau sudah mulai berpikir begitu?"

Sebenarnya saat latihan tadi, aku memikirkan kehebatanmu, Chieri.

"Umm ... iya."

"Wow, Nagisa sudah dewasa!" seru Sonata.

"Eh, Sonata! Kau menguping, ya?" ucapku kaget.

"Wajar saja, kan, Nagisa berpikir begitu. Umurnya 13 tahun, lho!" kata Chieri. "Kalau kau, kan, 10 tahun, Sonata!"

"Ugh! Biar umurku 10 tahun, aku juga member AKB0048!"

"Kita masih trainee ..."

"Hei, kalian berdua! Sudah, ah. Lebih baik kita ke ruang makan sekarang," leraiku.

"Iya, iya!"

"Nagisa, kau kemarin malam dapat email dari siapa, ya?" tanya Chieri.

"Dari ... entahlah, tidak ada namanya."

"Dari mana dapat email-mu?"

"Aku tidak tahu."

"Mungkin itu penggemarmu. Fans itu, kan, suka mencari data tentang idolanya! Seperti nomor HP, email, dan lainnya," tebak Sonata.

"Hmm ... mungkin."

"Psst ... Nagisa!" bisik Chieri. Aku menoleh ke arahnya. Chieri segera menarik tanganku dan pergi keluar.

"Hh ... hh ... Chieri, ada apa?"

"Kenapa kau memikirkan tentang cinta? Ada apa, sih, sebenarnya?"

"Aku ... kemarin malam ..." ucapanku terputus. Apa aku harus memberitahu Chieri?

"Ah, tidak, kok! Tadi malam ada pria yang menolongku."

"Lalu kau jatuh cinta padanya?"

"Eh, tidak, kok! Sebenarnya aku bingung saja, kenapa bisa ada orang yang menolongku."

"Jelas! Kau, kan, Kenkyusei."

"Tapi dia tidak kenal aku!"

"Hah?! Bagaimana bisa?"

"Mana kutahu. Sudah dulu, ya. Aku mau pergi."

"Kemana?"

"Ke ruang makan tentunya."

.

"Hah? Makanannya habis, ya?" seruku. Chef Papa menggaruk-garukkan kepalanya.

"Apa boleh buat, Mayuyu-Chan menghabiskan semua makanannya," jawab Chef Papa merasa masalah.

Ini bukan salah Chef Papa. Mayuyu-San, kan, suka makan

"Ah, ya, sudah! Aku makan di restoran saja. Terima kasih, Chef Papa!"

"Ah ... iya. Silakan, Nagisa-Chan."

Hmm ... enaknya makan di restoran apa, ya?

.

"Nagisa mana?" tanya Chieri pada Chef Papa ketika sampai di ruang makan. "Terus makanannya mana?"

"Ah, Chieri-Chan! Maaf, ya. Makanannya sudah dihabiskan Mayuyu-Chan. Dan Nagisa ... dia sedang keluar untuk mencari makan."

"Begitu. Kira-kira dia di restoran mana, ya?"

"Hmm ... entahlah. Memangnya kenapa, Chieri-Chan? Akhir-akhir ini kau dekat sekali dengan Nagisa. Dulu kau suka menyendiri."

"Eh? Nagisa itu teman kecilku."

"Oh ... begitu! Nagisa itu hebat, ya. Dia terpilih menyanyi solo waktu konser di Lancastar!"

"..."

.

"Aha! Aku putuskan untuk makan di Luckstar Restaurant seperti kemarin malam!" aku mengambil tas dan sedikit uang, lalu melesat menuju Luckstar Restaurant!

Setelah sampai disana, aku duduk di meja nomor 24. Sesuai tanggal lahirku, 24 Januari.

"Berarti ... sebentar lagi aku ulang tahun, ya," gumamku. "Apa Yuuka dan lainnya ingat ulang tahunku?"

"Permisi, mau pesan apa?" tanya seorang pelayan menghampiriku.

"Anu ... tolong aku pesan ... lho? Ogawa-San!" pelayan itu tersentak dan berseru.

"Motomiya! Kebetulan sekali. Tunggu sebentar, ya!"

"Eh? Tapi aku belum meme ..." belum sempat kulanjutkan kata-kataku, Ogawa sudah pergike dapur.

Jadi dia kerja disini, ya ...

Setelah beberapa menit, Ogawa datang dan membawa makanan. Kelihatannya makanan yang spesial.

Ia menghampiriku dan menaruh makanannya di meja.

"Ini menu spesial kami hari ini."

Tepat seperti dugaanku!

"Hari ini juga ada diskon."

"Terima kasih, Ogawa_San. Tapi diskon berapa-pun, uangku tidak akan cukup untuk membayarnya."

"Tidak apa. Aku yang akan bayarkan."

"Eh? Tapi kita, kan, baru kenal. Selain itu ... merepotkanmu juga!"

"Sudahlah. Aku juga makan, kok!"

"Tapi pekerjaanmu?"

"Tidak apa."

.

"Oh ... jadi ayahmu pemilik Luckstar Restaurant, ya? Hebat!" pujiku takjub. Aku sedang berbincang dengan Ogawa.

"Euhm ... begitulah."

"Lalu, kok, kau kerja jadi pelayan juga?" tanyaku penasaran.

"Eh, itu ... untuk kerja sambilan."

"Begitu, ya. Berarti kau orang kaya, kan?"

"Ng ... aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya," jawab Ogawa tersipu. Aku tersenyum dan menyeruput tehku.

"Ogawa-san ... apa kau tidak tahu siapa aku?"

"Eh? Tahu. Motomiya Nagisa, kan?"

Dia benar-benar tidak tahu ...

"Ogawa ..."

"Motomiya, apa kau mau ikut bersamaku untuk menonton konser 00?"

"Eh?"

"Iya. Hari Kamis ini."

"Kamis ... ini?"

"Um! Kenkyusei juga akan konser nanti. Aku mau kau pergi bersamaku nan ..."

"Maaf, aku sibuk! Aku sibuk sekali! Aku tidak bisa menonton konser itu bersamamu. Permisi." Potongku seraya pergi meninggalkan Ogawa dan keluar dari restoran.

"Motomiya, kenapa kau sibuk?"

"... itu bukan urusanmu."

.

"Ah, kacau! Kacau! Kacau!" gerutuku. "Kelihatannya aku terlalu kasar pada Ogawa."

"Dari mana saja kau, Nagisa? Kau dari restoran mana?" mataku menangkap sosok anggun di belakangku. Sono Chieri. Temanku yang dulunya punya sikap dingin dan tidak mau kalah (dariku?).

"Restoran yang kita kunjungi kemarin malam," jawabku dingin. Chieri memasang wajah kebingungan.

"Sesuatu yang fenomenal."

"Apa?"

"Baru kali ini aku melihat nada bicaramu sedingin itu. Kurasa aku telah menularkan sikap lamaku padamu."

"Mungkin iya. Kau mau menemaniku ke apotik?" Chieri mengerutkan dahinya.

"Untuk apa?"

"Untuk beli obat yang bisa menyembuhkan penyakit yang kau tularkan itu.

"Nagisa!"

.

"Nagisa! Gerakanmu terlalu lambat. Orine, nyanyi lebih keras. Makoto, jangan merapikan rambutmu. Chieri, lebih anggun sedikit!" aku mempercepat gerakan dance-ku sebelum Ushiyama-sensei kembali berteriak-teriak untuk mengkritik kami semua. Kelihatannya hari ini, Chieri tidak sesempurna biasanya meski Kirara-nya masih berputar-putar di belakang bahunya.

"Nagisa, jangan melamun! Gerakanmu terlalu cepat!"

Tadi terlalu lambat, sekarang terlalu cepat!

"Maafkan aku, Sensei!" aku berusaha memperbaiki gerakanku. Aku tidak mau penampilanku nanti akan berakhir buruk.

"Hh ... semua, istirahat sekarang!" teriak Ushiyama-sensei. Dengan nafas ngos-ngosan, semua yang ada di ruang berlatih sekarang menjadi ambruk.

"Hh ... hh ..." aku mencoba untuk bernafas. Memang sulit karena aku terlalu lelah. Tapi paling tidak, aku masih hidup (?).

"Aku tidak bisa memperlihatkan penampilan seperti ini kepada para penonton nanti," keluhku. "Aku ingin melihat senyuman mereka." Tiba-tiba, aku teringat sesuatu. Ogawa! Dia akan datang di konser nanti.

"Yuuka, ini hari apa?" tanyaku.

"Hari Selasa tanggal 22 Januari, kenapa?"

"22 Januari?"

"Iya!"

Aku jadi teringat sesuatu. Tanggal 24 adalah hari ulang tahunku, bertepatan dengan konser nanti.

"Kamu tahu, tidak? Tanggal 24 itu hari apa?"

"Tahu! Konser 00, kan?"

Eh? Yuuka sudah lupa ulang tahunku ...

"Karena itu, lakukan penampilan terbaikmu nanti, Nagisa!"

"Tapi kau juga harus melakukannya."

"Iya, iya ... aku mengerti. Aku ambil minum dulu, ya."

"Eh? Iya ..."

Aku mendesah pelan. Mungkin Orine akan ingat hari ulang tahunku.

"Orine ..." aku menepuk bahunya pelan. "Kamu tahu tanggal 24 Januari itu hari apa?"

"Tahu," Orine tersenyum. Aku menatapnya penuh harap. "Hari Kamis."

BUK!

"Bu ... bukan begitu! Maksudku, semacam hari spesial atau apalah!"

"Oh ... konser 00, kan?"

Orine juga lupa. Kata-kata yang diucapkannya hampir sama dengan kata-kata Yuuka. Tapi ... setelah 4 tahun lebih berteman, ia tidak ingat ulang tahunku?! Tidak ingat atau tidak tahu?

"Hei!" tagur Chieri sambil menepuk kepalaku. "Ada apa, nih, tuan putri melamun?"

"Chieri!" seruku. "Ng ... hari ini kau kurang semangat, lho, Chieri," Chieri mengangkat alisnya. Setelah diam selama 3 detik, ia membuka mulutnya.

"... tidak."

"Sepertinya ada sesuatu yang membebanimu, ya?"

"Tidak, kok. Tadi malam aku kurang tidur."

"... bohong, ah!"

"Oke, aku bohong. Aku hanya memikirkan kata-katamu tadi pagi."

"Yang mana?" Chieri menghembuskan nafasnya.

"Pada saat kau bilang,'ciri-ciriorang jatuh cinta itu seperti apa?' aku hanya penasaran saja. Kok, kau tanya begitu? Suka pada teman sekelasmu saja kau tidak, apalagi punya pacar. Lagipula, peraturan keras di 00, seorang idola tidak boleh punya pacar," terang Chieri.

"Otakku bisa mencerna ucapanmu, Chieri. Tapi Yuuka dan Mamoru itu ... pacaran, kan?"

"Aku tidak tahu. Yuuka menolak tegas dengan bilang, Mamoru itu temanku atau dia cuma temanku atau kami hanya teman," aku mengangguk-angguk. Benar juga. Yuuka tidak pernah mengaku kalau Mamoru itu pacarnya.

"Tapi mungkin, setelah Yuuka lulus dari 00, ia akan menikah dengan Mamoru," kata Chieri. Wajahku memerah karena membayangkan pernikahan Yuuka dan Mamoru (kelak).

"Me ... MENIKAH?!"

.

"Yuuka, apa impianmu?" tanyaku seusai kami latihan.

"Ng ... apa, ya? Aku ingin jadi istri pacarku."

"Pa ... PACAR?!" semua memandang Yuuka.

"Eh, bukan! Aku ingin jadi istri pacarku itu maksudnya andai aku punya pacar nanti aku mau jadi istrinya!" bantah Yuuka gelagapan.

"Kalau begitu, kalimatnya diubah jadi begini saja, aku ingin jadi istri Mamoru. Bagaimana?" goda Sonata.

"Apa maksudnya itu?!" bentak Yuuka. Sonata segera berlari. Terlihat seperti Tom and Jerry, Yuuka mengejar Sonata.

"Aku ingin jadi istri pacarku, ya?" gumamku. "Istri ..."

Bayangan Nagisa ...

"Nagisa, jadilah istriku."

BLUSH

Aku memegang pipiku yang memerah. "Nagisa, jadilah istriku ..." ucapku pelan.

"Nagisa, kau kenapa?" tanya Chieri memandangku heran.

"Aku hanya sedang membayangkan bagaimana kalau aku dilamar orang."

"Dasar gila."

"Chieri!"

.

24 Januari

Seluruh anggota 00 sedang mempersiapkan konser mereka. Aku duduk melamun sambil memandang diriku di cermin.

"Padahal hari ini ... hari ulang tahunku. Tapi sepertinya semua orang sudah lupa," ucapku dalam hati.

"Nagisa, lihat kostumku, tidak?" tanya Chieri.

"Mungkin di lemari sana," jawabku sambil terus memandang cermin. Chieri mengerutkan dahinya.

"Kau ini kenapa memandang cermin begitu? Berdandan tidak, menata rambut tidak, ada apa, sih?"

"Aku ... aku dandan, kok!" jawabku bohong.

"Tidak, tuh! Dari tadi kau ..."

"Aku akan dandan setelah aku memikirkan make-up apa yang cocok untukku!" potongku.

"Oh, ya, sudah ..."

Mereka semua benar-benar lupa ... tapi ulang tahun Chieri saat 8 Desember kemarin, mereka merayakannya besar-besaran.

"Semua, ayo bersiap!" seru Takamina. "Kalian semua akan melakukan yang terbaik hari ini. Jangan lakukan kesalahan dan buat kirara bersinar terang!"

"BAIK!"

Kenapa harus membuat kirara bersinar terang? Lalu kenapa harus melakukan yang terbaik?

"Ah, anu ... Takamina-san ..."

"Yosh! Sekarang giliran kita, para successor. Ayo kita ke panggung sekarang!" seru Takamina bersemangat.

"Takamina-san!" Takamina berbalik ke arahku. "Kenapa sepertiada hari penting saja sampai kita harus melakukan yang terbaik?" Takamina tersenyum.

"Itulah yang biasa kita lakukan. Memberikan yang terbaik untuk fans kita. Berusaha menghibur mereka dan memberi mereka cinta," aku termenung. Memang benar, sih. Aku rasa itu hal yang wajar dan biasa.

"Nagisa, ayo cepat pakai kostummu!" tegur Yuuka.

"Eh, oh? Iya. Tunggu sebentar," aku mengambil kostumku dan memakainya.

"Oke, semua. Setelah para successor selesai menampilkan penampilan mereka, giliran kita yang akan memberikan yang terbaik. Ingat, semuanya! Buat panggung menjadi bersinar," ucap Kanata seperti seorang kapten.

"Siap, sedia, ayo! AKB0048!"

Setelah beberapa menit, giliran kami yang naik ke atas panggung. Sesampainya disana, mataku mencari-cari Ogawa. Aku yakin sekali dia datang ke konser karena dia sendiri yang bilang.

Ogawa's place ...

"Hei, Warau! Gadis yang waktu itu bersamamu di restoran itu pacarmu, ya?" tanya Ken, teman Ogawa.

"Bukan. Dia itu gadis yang kutolong. Aku pernah cerita padamu, kan, Ken?" bantah Ogawa.

"Oh ... Motomiya Nagisa, kan? Hei, kau mengajaknya nonton konser 00. Apa dia datang?"

"Tidak. Dia bilang sibuk."

"Sibuk? Ada apa?"

"... dia bilang, itu bukan urusanku."

"Hah? Kasar sekali gadis itu. Nagisa, kan, namanya?"

"Pa ... panggil dia dengan sebutan Motomiya saja!"

"Kenapa kau marah, Warau? Waktu aku memanggil namanya ..."

"Ka ... kalian, kan, belum pernah bertemu!"

"Eh, tapi ada, lho ... Kenkyusei 00 yang namanya Motomiya Nagisa," Ogawa terdiam.

"Mungkin cuma kebetulan ..."

In stage ...

"Siap, semua?" tanya Kanata.

"Siap!"

"Huft ... 1! 2! 3! 4!"

"I want you (I want you)! I need you (I need you)! I love you (I love you)! Atama no naka, gangan natteru music. Heavy Rotation ...!"

"Ke ... Ken! Sepertinya aku pernah lihat gadis itu!" ucap Ogawa.

"Yang mana, Warau? Yang pakai pita hijau?"

"I ... iya."

"Dia itu Nagisa-chan. Cewek yang barusan kubilang."

"Na ... Nagisa? Motomiya Nagisa?"

"Yup!"

Ogawa memandang Nagisa dengan heran. Mungkinkah ...

.

Aku terus bernyanyi dan menari sepenuh hatiku hingga membuat kirara terlalu bersinar terang. Begitu juga yang lainnya. Hari ini, panggung terlihat sangat bercahaya dan berkilau. Meski aku senang, hatiku masih menangis karena tak sedikit pun yang ingat hari ulang tahunku.

"Semua, terima kasih telah datang!" ucap Takamina selesai konser.

"Takamina-san? Kenapa kemari?" tanyaku. Takamina tersenyum penuh arti.

"Sebelum kalian pulang, aku ingin mengumumkan sesuatu untuk kalian semua," aku menatap Takamina. "Hari ini ... kami membuat penampilan kami bersinar seterang mungkin dan menampilkan yang terbaik, tidak seperti biasanya. Tapi, biasanya kami memang melakukan yang terbaik, sih ..." Takamina menarik nafasnya sejenak. "Ini adalah hadiah dari kami untuk salah seorang anggota kami. Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakan ucapan yang bagus, tapi ... selamat ulang tahun, Nagisa!"

.

"... selamat ulang tahun, Nagisa!" setelah mengucapkan kata-katanya, semua penonton bersorak. Aku menatap semua teman-temanku dengan terkejut.

Mereka ... mereka semua ingat!

"Selamat ulang tahun, Nagisa!"

"NAGISA-CHAN!" aku menatap sorak-sorai penonton yang terus mengucapkan selamat ulang tahun atau sekedar menyebut namaku.

"Warau, dia gadis itu! Gadis yang kau tolong waktu itu!" seru Ken. Ogawa masih bengong melihatku.

"Dia ... Motomiya, ya ... pantas saja dia bilang sibuk ..."

"Nagisa, ayo ucapkan sesuatu!" kata Chieri.

"Eh? I ... iya," aku maju ke depan dan memegang microphone di tanganku. Aku menarik nafas dalam-dalam.

"Aku ... tidak tahu harus mengucapkan apa hari ini. Aku kaget sekali, waktu semua bilang bahwa semua ini adalah kado ulang tahunku yang ke-14. Yang mau kuucapkan ... aku ... aku sangat berterima kasih! Aku ... aku pikir, semua sudah lupa hari ulang tahunku. Tapi ... tapi ternyata ..." aku meneteskan air mataku. Air mata bahagia. "Tapi ternyata, mereka semua ingat. Mereka semua tidak lupa. Bahkan bukan hanya Yuuka, Orine, mau pun Chieri saja. Sampai successor juga ikut merayakannya. Aku ... aku sangat gembira. Aku tidak menyangka ini akan terjadi. Dulu, aku hanya mendapat ucapan sekedarnya dari beberapa orang. Tapi disini ... disini ... aku ... aku mendapatkan ribuan ucapan ulang tahun dari kalian semua! Aku ... aku ... sangat bahagia! Hiks ..." aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Air mataku benar-benar sudah bercucuran. Meski begitu, semua orang yang ada disana bersorak. Mereka memanggil namaku. Aku sangat bahagia!

"Kalau begitu, Nagisa ..." Yuko menepuk bahuku. "Menyanyilah di hari ini."

"Eh?" aku mengusap mengusap mataku.

"Menyanyilah untuk kami semua!" aku tersenyum. Kemudian aku mulai bernyanyi. Hari itu sangat membahagiakan hidupku.

.

Seusai konser, aku jalan-jalan sebentar keluar.

"Motomiya-san ..."

"Eh? O ... Ogawa-san?!"

"Hehe ... selamat ulang tahun, ya!"

"Te ... terima kasih."

"Aku kaget sekali waktu melihatmu di panggung. Kau ini ... seorang idola ternyata."

"Maaf aku tidak memberitahumu."

"Taka pa. Kuanggap itu kejutan," aku tersenyum.

"Ogawa ..."

"Hng?"

"Kenapa kau mengajakku ke konser?"

"... karena aku ingin berteman denganmu."

"... kalau begitu, mulai hari ini, kita teman!"

"Eh? Kau yakin?"

"Ya! Aku bisa memberikanmu alamat email-ku, kok! Tukaran, yuk!"

"Bo ... boleh juga."

Tiba-tiba, aku teringat soal email yang kuterima waktu itu.

Jadi ... fans-ku pun merencanakan hal ini?

"Motomiya-san?" aku membuyarkan lamunanku. "Ada apa, Motomiya?"

"Ah, aku ... akhir-akhir ini sering melamun."

"Begitu, ya. Ah, aku pergi dulu, ya, Motomiya!"

"Eh ... silakan."

"Sayonara!"

"Ung!"

Aku tidak menyangka ... aku akan sebahagia ini!


To Be Next Stage