Disclaimer: Harry Potter adalah milik J. K. Rowling, dan 'the methods of rationality' (metode rasionalitas) bukan milik siapapun.

Fic ini sebagian besar dianggap mulai layak diikuti di sekitar Bab 5. Kalau kamu tetap tidak menyukainya setelah Bab 10, menyerah saja.

Silakan kunjungi HPMOR DOT COM untuk:

* Sistem notifikasi e-mail, RSS feed, dan Twitter feed untuk Bab baru;
* Catatan Penulis dan perkembangan terbaru;
* Versi PDF bentuk-buku buatan-fan;
* Mirror cerita tanpa iklan;
* Versi ePUB dan MOBI;
* Podcast cerita yang terus berlanjut;
* Fan art dalam jumlah banyak;
* Daftar cameo (karakter yang dinamai seperti fan artists);
* Fan-fanfiction dari fanfiction ini;
* Musik, lagu, dan animasi fan;
* Terjemahan fan;
* Kata kunci OKCupid untuk pembaca HPMOR;
* Link ke halaman dan forum diskusi TVTropes;
* Halaman peringatan (peringatan tentang kemungkinan asosiasi traumatis untuk beberapa pembaca; untuk menghindari spoiler untuk sebagian besar pembaca, tidak ada peringatan dalam cerita inti);
* Bagaimana belajar tentang semua yang tokoh utama tahu;
* Lowongan kerja non-profit di bidan terkait;
* Dan banyak lagi.

Review membuatku bahagia. Kamu bisa membuat review untuk bab manapun, tak perlu login, dan tak perlu selesai membaca seluruh cerita sebelum mulai mereview bab-bab–tapi tolong paling tidak buat satu review tiap bab.

Ini bukan fic awal-mula-tunggal–ada titik awal mula utama, di satu waktu di masa lalu, namun juga ada beberapa perubahan. Sebutan paling cocok yang pernah kudengar untuk fic ini adalah "dunia paralel".

Karya ini terdapat banyak petunjuk: petunjuk yang jelas, petunjuk yang tak-terlalu-jelas, petunjuk yang benar-benar tersembunyi yang aku cukup terkejut mengetahui ada beberapa pembaca yang berhasil mengenalinya, dan banyak bukti yang tersebar di depan mata. Ini adalah kisah rasionalis; misterinya bisa dipecahkan, dan dibuat untuk dipecahkan.

Kecepatan alur cerita ini seperti serial fiksi, mis, layaknya acara TV yang berjalan dalam jumlah season yang sudah ditentukan, yang episode-episodenya direncanakan secara individual tetapi dengan bentukan arc besar sampai dengan konklusi final.

Cerita ini sudah dibenarkan menjadi British English sampai Bab 17, dan penyesuaian masih dalam pengerjaan (lihat subreddit /HPMOR)

Semua sains yang disebutkan adalah sains nyata. Tetapi tolong diingat, di luar alam sains, pandangan prinsip para karakter belum tentu mencerminkan pandangan penulis. Tidak semua yang protagonis lakukan adalah hal bijaksana, dan nasihat yang diucapkan oleh karakter-karakter gelap bisa jadi tak bisa dipercaya atau bahkan berbahaya.


Di bawah sinar bulan tampak fragmen kecil, bagian dari garis…

(jubah hitam, jatuh) …

literan darah berceceran, dan seseorang meneriakkan satu kata.


Setiap inci dinding tertutupi oleh lemari buku. Tiap lemari memiliki enam rak, nyaris sampai ke langit-langit. Beberapa lemari buku terisi penuh dengan buku-buku sampul tebal: sains, matematika, sejarah, dan sebagainya. Lemari lain terdapat dua susun buku fiksi ilmiah sampul tipis, dengan susunan buku-buku di belakang diletakkan di atas kotak tissue bekas atau dua-per-empat, supaya susunan belakang bisa terlihat di atas susunan depan. Dan itu masih belum cukup. Buku-buku meluber ke atas meja-meja dan sofa serta membuat gundukan-gundukan kecil di bawah jendela-jendela.

Ini adalah ruang tamu dari rumah tempat tinggal Profesor Michael Verres-Evans yang terkenal, dan istrinya Nyonya Petunia Evans-Verres, dan anak adopsi mereka, Harry James Potter-Evans-Verres.

Sebuah surat tergeletak di meja ruang tamu, dan amplop tak tersegel dari perkamen kekuningan, teralamatkan untuk Tn. H. Potter dalam tinta hijau emerald.

Sang Profesor dan istrinya berbicara dengan tajam satu sama lain, namun mereka tidak berteriak. Sang Profesor menganggap berteriak adalah perbuatan yang tak beradab.

"Kau bercanda," Michael berkata pada Petunia. Suaranya menyiratkan ketakutan bahwa lawan bicaranya serius.

"Adikku adalah penyihir," ulang Petunia. Dia ketakutan, tetapi bersikukuh. "Suaminya juga penyihir."

"Ini absurd!" Kata Michael tajam. "Mereka datang ke pernikahan kita–mereka berkunjung waktu natal–"

"Aku meminta mereka untuk tak memberitahumu," bisik Petunia. "Tapi itu benar. Aku sudah lihat–"

Sang Profesor memutar bola matanya. "Sayang, aku tahu kamu tak terbiasa dengan literatur skeptik. Kamu mungkin tidak sadar seberapa mudahnya seorang pesulap terlatih untuk merekayasa sesuatu yang terlihat mustahil. Ingat waktu aku mengajari Harry untuk membengkokkan sendok? Kalau misalnya seperti selalu bisa membaca pikiranmu, itu namanya 'cold reading'–"

"Itu bukan membengkokkan sendok–"

"Kalau begitu, apa?"

Petunia menggigit bibirnya. "Aku tak bisa langsung katakan. Kau akan menganggapku–" Dia menelan ludah. "Dengar. Michael. Aku tidak–selalu seperti ini–" Dia menunjuk pada dirinya, seolah merujuk perawakannya yang luwes. "Ini karena Lily. Karena aku–karena aku memohon padanya. Selama bertahun-tahun aku memohon. Lily selalu lebih cantik dariku, dan aku … pernah berlaku jahat, karenanya, kemudian dia dapat sihir, bisa kau bayangkan bagaimana perasaanku? Dan aku memohonnya untuk memakai sebagian dari sihir itu supaya aku juga jadi cantik, kalaupun aku tak punya sihir, paling tidak aku bisa cantik."

Air mata mulai menggenangi mata Petunia.

"Dan Lily akan berkata tidak, dan membuat alasan konyol, seperti dunia akan hancur kalau dia bersikap baik pada saudarinya, atau dia dilarang 'centaur'–hal paling konyol, dan aku benci dia karenanya. Dan ketika aku baru saja lulus, aku berpacaran dengan anak ini, Vernon Dursley, dia gemuk dan cuma dia satu-satunya yang mau berbicara padaku waktu kuliah. Dan katanya ia ingin punya anak, serta putra pertamanya akan ia namai Dudley. Dan pikirku, orang tua macam apa yang menamai anaknya Dudley Dursley? Bagaikan aku melihat seluruh masa depanku terbentang di depanku, dan aku tak tahan lagi. Lalu aku menulis surat pada saudariku dan berkata padanya bahwa kalau ia tidak menolongku lebih baik aku–"

Petunia berhenti.

"Bagaimanapun," Petunia berkata, suaranya lirih, "dia mengalah. Dia bilang bahwa ini sangat berbahaya, dan aku bilang aku tak peduli, lalu aku minum satu ramuan dan aku sakit selama berminggu-minggu, tapi waktu aku pulih kulitku jadi cerah dan tubuhku jadi indah dan … aku cantik, orang-orang jadi ramah padaku," suaranya pecah, "dan setelah itu aku tak bisa lagi membenci saudariku, apalagi waktu aku tahu apa yang dibawa sihir itu pada dirinya–"

"Sayang," Michael berkata dengan lembut, "kamu sakit, lalu bobotmu bertambah waktu beristirahat di ranjang, dan kulitmu cerah dengan sendirinya. Atau karena sakit kamu merubah dietmu–"

"Dia penyihir," ulang Petunia. "Aku melihatnya sendiri."

"Petunia," kata Michael. Kejengkelan mulai merasuki suaranya. "Kamu tahu bahwa semua itu tak mungkin. Apa aku benar-benar harus menjelaskan kenapa?"

Petunia meremas-remas tangannya. Dia terlihat seperti akan menangis. "Cintaku, aku tahu aku tak akan menang beradu argumen denganmu tapi tolong, kamu harus mempercayaiku tentang hal ini–"

"Dad! Mum!"

Keduanya berhenti dan melihat Harry seolah mereka lupa ada orang ketiga dalam ruangan.

Harry mengambil napas panjang. "Mum, orangtuamu tidak punya sihir kan?"

"Tidak," kata Petunia, kebingungan.

"Maka tak satupun dalam keluargamu tahu tentang sihir waktu Lily menerima suratnya. Bagaimana mereka jadi percaya?"

" Ah … ." Kata Petunia. "Mereka tidak hanya mengirimkan surat. Mereka mengutus seorang Profesor dari Hogwarts. Dia–" Petunia melirik Michael. "Dia menunjukkan beberapa sihir."

"Kalau begitu kalian tak perlu bertengkar karena masalah ini," Kata Harry tegas. Berharap dengan sangat kalau kali ini, satu kali ini saja, mereka akan mendengarkannya. "Kalau itu benar, kita tinggal meminta satu Profesor Hogwarts ke sini dan melihat sihir itu sendiri, dan Dad akan mengakui kalau itu memang nyata. Dan kalau tidak maka Mum akan mengakui kalau itu salah. Itulah gunanya metode eksperimental, supaya kita tidak memecahkan masalah hanya lewat debat."

Sang Profesor berbalik dan memandangnya, meremehkan seperti biasanya. "Oh, tolong, Harry. Serius, sihir? Aku kira kamu tahu lebih dari menganggap ini serius, nak, walaupun kamu masih sepuluh tahun. Sihir adalah hal paling tak ilmiah yang pernah ada!"

Harry tersenyum kecut. Dia diperlakukan dengan baik, mungkin lebih daripada perlakuan kebanyakan ayah kandung pada anaknya sendiri. Harry dimasukkan ke sekolah terbaik–dan ketika itu belum cukup, dia disediakan tutor-tutor dari sumber tak terhitung mahasiswa kelaparan. Selalu Harry didorong untuk mempelajari apapun yang menarik perhatiannya, dibelikan buku-buku yang dia suka, difasilitasi dalam kompetisi matematika atau apapun yang ia ikuti. Apapun yang ia inginkan dalam batas wajar akan selalu dikabulkan, kecuali, mungkin, secuil rasa hormat. Profesor terhormat yang mengajar biokimia di Oxford sukar untuk diharapkan mau menggubris nasihat bocah. Mendengarkan, tentu saja, untuk Menunjukkan Perhatian; itu yang dilakukan oleh Orang Tua Teladan; dan tentu saja, jika kamu menganggap dirimu sebagai Orang Tua Teladan, kamu akan melakukannya. Tapi menganggap serius bocah sepuluh tahun? Tak mungkin.

Kadang Harry ingin berteriak pada ayahnya.

"Mum," kata Harry. "Kalau kamu ingin memenangkan argumen melawan Dad, lihat di bab kedua buku pertama dari "Feynman Lectures on Physics." Di sana ada kutipan tentang bagaimana filsuf-filsuf banyak berpendapat tentang apa kebutuhan dasar sains, dan semua itu salah, karena satu-satunya hukum dalam sains adalah bahwa wasit terakhir adalah pengamatan–bahwa kamu hanya perlu melihat ke dunia dan melaporkan apa yang kamu lihat. Um … aku sedikit lupa di mana menemukan tentang idealnya sains untuk menyelesaikan masalah melalui eksperimen bukannya argumen– "

Ibunya melihatnya dan tersenyum, "Terima kasih, Harry. Tapi–" kepalanya terangkat lagi untuk menatap suaminya. "Aku tak ingin memenangkan argumen terhadap ayahmu. Aku cuma ingin suamiku untuk, untuk mendengarkan istrinya yang mencintainya, dan percaya padanya kali ini saja–"

Harry menutup mata sejenak. Tak ada harapan. Kedua orang tuanya benar-benar tak ada harapan.

Sekarang orang tuanya sedang berada lagi dalam salah satu argumen di mana ibunya ingin membuat ayahnya merasa bersalah, dan ayahnya mencoba membuat ibunya merasa bodoh.

"Aku akan pergi ke kamarku," kata Harry. Suaranya sedikit gemetar. "Tolong jangan terlalu dipermasalahkan, Mum, Dad, sebentar lagi kita bisa lihat kebenarannya, kan?"

"Tentu saja, Harry," kata ayahnya, dan ibunya memberinya ciuman untuk menenangkannya, lalu mereka melanjutkan pertengkaran ketika Harry menaiki tangga ke kamarnya.

Dia menutup pintu di belakangnya dan mencoba untuk berpikir.

Lucunya, seharusnya dia setuju dengan Dad. Tidak ada yang pernah melihat satupun bukti tentang sihir, dan menurut Mum, ada suatu dunia sihir di luar sana. Bagaimana bisa hal semacam itu ditutupi? Lebih banyak sihir? Itu terdengar seperti alasan yang mencurigakan.

Seharusnya ini jadi kasus mudah tentang Mum bercanda, berbohong, atau jadi gila, menurut derajat kengerian. Kalau Mum mengirim surat itu sendiri, itu menjelaskan bagaimana bisa sampai di kotak surat tanpa perangko. Sedikit kegilaan adalah lebih mungkin daripada kenyataan bahwa alam semesta memang bekerja seperti itu.

Kecuali bahwa sebagian dari Harry benar-benar yakin bahwa sihir itu ada, mulai dari pertama melihat surat yang mengaku berasal dari "Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry."

Harry menggosok keningnya, meringis. Jangan percaya semua yang kamu pikirkan, kata salah satu bukunya.

Tapi keyakinan aneh ini … . Harry mendapati dirinya berharap bahwa, ya, seorang profesor Hogwarts akan muncul dan mengayunkan tongkat sihir dan memunculkan sihir. Keyakinan aneh ini tidak berusaha melindungi diri dari pemalsuan─tidak membuat alasan di awal atas kenapa tidak ada Profesor, atau profesor itu hanya mampu membengkokkan sendok.

Dari mana asalmu, prediksi aneh kecil? Harry menyusun pikirannya dalam otak. Kenapa aku percaya apa yang aku percaya?

Biasanya Harry cukup mahir menjawab pertanyaan itu, tapi kali ini, dia tak punya petunjuk apa yang otaknya pikirkan.

Harry memberi dorongan mental pada dirinya. Kepingan metal di pintu perlu didorong, dan gagang di pintu perlu ditarik, dan hal dengan hipotesis yang bisa diuji harus diuji.

Dia mengambil sepucuk kertas dari mejanya dan mulai menulis.

Kepada Wakil Kepala Sekolah

Harry berhenti, merenung; lalu membuang kertas dan menggantinya, memperpanjang beberapa milimeter grafit dari pensil mekaniknya. Ini perlu kaligrafi cermat.

Kepada Wakil Kepala Sekolah Minerva McGonagall,

Atau Siapapun yang Mau Peduli.

Saya baru saja menerima surat penerimaan anda ke Hogwarts, ditujukan para Tn. H. Potter. Anda mungkin tidak tahu bahwa orangtua kandung saya, James Potter dan Lily Potter (terlahir Lily Evans) sudah wafat. Saya diadopsi oleh saudari Lily, Petunia Evans-Verres, dan suaminya, Michael Verres-Evans.

Saya benar-benar tertarik untuk belajar di Hogwarts, kalau memang tempat semacam itu benar-benar ada. Hanya ibuku Petunia yang mengaku tahu tentang sihir, dan dia sendiri juga tidak bisa melakukannya. Ayahku sangat skeptis. Saya sendiri juga kurang yakin. Saya juga tidak tahu di mana tempat untuk memperoleh buku-buku atau perlengkapan yang tercantum dalam surat penerimaan anda.

Ibu berkata bahwa anda mengirim satu wakil Hogwarts pada Lily Potter (terlahir Lily Evans) untuk mendemonstrasikan pada keluarganya bahwa sihir itu nyata, dan saya asumsikan menolong Lily untuk memperoleh bahan-bahan sekolahnya. Kalau anda juga bisa melakukannya pada keluarga saya itu akan sangat-sangat membantu.

Tertanda,

Harry James Potter-Evans-Verres.

Harry mencantumkan alamat rumahnya, lalu melipat surat itu dan memasukkannya dalam amplop, yang kemudian dia tujukan ke Hogwarts. Berpikir lebih jauh membuatnya mengambil lilin dan meneteskannya pada daun amplop yang kemudian, memakai ujung pisau pena, diukirnya inisial H.J.P.E.V. Kalau memang ia akan masuk ke dalam kegilaan, ia akan melakukannya dengan penuh gaya.

Lalu ia membuka pintunya dan pergi ke bawah. Ayahnya sedang duduk di ruang tamu dan membaca buku tentang matematika tingkat tinggi untuk menunjukkan betapa pintarnya dia; dan ibunya sedang di dapur mempersiapkan salah satu hidangan favorit ayahnya untuk menunjukkan betapa sayangnya dia. Tidak terlihat sedikitpun kalau mereka saling berbicara. Semengerikannya suatu argumen, tak berargumen itu jauh lebih buruk.

"Mum," Harry berkata dalam kesunyian pekat, "Aku mau menguji hipotesisnya. Menurut teorimu, bagaimana caraku untuk mengirim burung hantu ke Hogwarts?"

Ibunya berbalik dari tempat cuci piring untuk menatapnya, dengan terkejut. "A─aku tak tahu, Aku rasa kamu harus punya burung hantu sihirmu sendiri."

Itu harusnya terdengar sangat mencurigakan, oh, jadi tak ada cara untuk menguji teorimu kalau begitu, tapi keyakinan aneh dalam diri Harry sepertinya mau untuk menjulurkan lehernya lebih jauh lagi.

"Ya, suratnya entah bagaimana bisa sampai ke sini," kata Harry, "jadi aku akan melambaikannya di luar dan berteriak 'surat untuk Hogwarts!' dan melihat apakah ada burung hantu yang mengambilnya. Dad, apa kamu mau lihat?"

Ayahnya menggeleng sedikit dan terus membaca. Tentu saja, pikir Harry. Sihir adalah hal memalukan yang cuma orang bodoh saja yang percaya; kalau ayahnya sampai menguji hipotesis, atau bahkan menonton pengujiannya, itu akan seperti mengasosiasikan dirinya dengan hal tersebut … .

Hanya ketika Harry berjalan keluar pintu belakang, ke halaman belakang, baru terlintas di pikirannya bahwa jika seekor burung hantu benar-benar turun dan menyabet suratnya, dia akan punya masalah untuk menjelaskannya pada Dad.

Tapi─yah─itu tak akan bisa terjadi, kan? Tak peduli apapun yang otakku yakini. Jika seekor burung hantu benar-benar turun dan mengambil amplop ini, aku akan mengkhawatirkan hal lain lebih dari apa yang Dad pikirkan.

Harry mengambil napas panjang, dan mengangkat amplop ke udara.

Dia menelan ludah.

Berteriak Surat untuk Hogwarts! sembari mengangkat sepucuk surat di udara di tengah-tengah halaman belakangmu sendiri … sebenarnya cukup memalukan, sekarang waktu dia pikir lagi.

Tidak. Aku lebih baik dari Dad. Aku akan menggunakan metode ilmiah walaupun itu akan membuatku terlihat bodoh.

"Surat─" kata Harry, walau sebenarnya terdengar lebih seperti bisikan parau.

Harry menguatkan diri, dan berteriak ke langit kosong, "Surat untuk Hogwarts! Bisa minta tolong dikirim burung hantu?"

"Harry?" tanya satu suara kaget wanita, salah seorang tetangga.

Harry menarik turun tangannya seolah sedang terbakar dan menyembunyikan amplop di belakang punggungnya seolah itu adalah uang narkoba. Seluruh wajahnya merah padam karena malu.

Satu wajah wanita tua mengintip dari atas pagar pembatas rumah, rambut kelabu beruban menyembul keluar dari penutup rambutnya. Nyonya Figg, pengasuh tak berkala. "Apa yang kamu lakukan, Harry?"

"Tidak ada," kata Harry dengan suara tercekik. "Hanya─menguji satu teori yang benar-benar bodoh─"

"Apa kamu sudah memperoleh surat penerimaan dari Hogwarts?"

Harry terpaku.

"Ya," bibir Harry berkata sesaat kemudian. "Aku dapat surat dari Hogwarts. Mereka bilang mereka ingin burung hantuku sebelum 31 Juli, tapi─"

"Tapi kamu tak punya burung hantu. Kasihan! Aku tak bisa bayangkan apa yang mereka pikirkan, mengirimkanmu hanya surat standar."

Lengan keriput terjulur keluar dari pagar, dan membuka telapak tangan penuh harap. Tak sempat berpikir di titik ini, Harry memberikan amplopnya.

"Serahkan saja padaku, nak," kata Nyonya Figg, "dan dalam sekejap akan kusuruh seseorang kemari."

Dan wajahnya menghilang dari balik pagar.

Ada kesunyian panjang di halaman belakang.

Lalu dengan perlahan dan tenang, seorang bocah berkata, "Apa."