Fic ketigaku di FFN, fic pertamaku di Gunslinger Girl Fandom. Semoga ini bagus, soalnya Gunslinger Girl itu animenya agak susah, uhu. Review sangat diapresiasi, terutama karena aku bener-bener baru di fandom ini, uhu.


Guest

Manusia memang sangat menakjubkan. Hasil pikiran mereka mampu mewujudkan hal yang semula mustahil, bahkan hal tersebut menjadi biasa dilakukan dengan menggunakan teknologi mutakhir. Sayang, manusia terlalu mudah dikendalikan oleh keinginannya sendiri, sehingga mereka menggunakan pikiran mereka yang hebat untuk melakukan perbuatan yang tak seharusnya.

Seorang wanita tersenyum, puas dengan hasil pikirannya. Dia menoleh ke ranjang di mana seorang gadis kecil tertidur pulas. "Manusia kadang agak keterlaluan. Tunggu, memangnya aku bukan manusia?" Wanita itu mengangkat bahu dan berjalan keluar kamar. "Berarti aku ini...juga keterlaluan."


Henrietta terbangun di sebuah tempat yang asing. Segalanya tampak berputar pada awalnya, tetapi lama-kelamaan menjadi jelas. Setelah mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, gadis itu kemudian sadar bahwa dia berada di kamarnya. Dia duduk di ranjang, tetapi tangannya masih terlalu sakit untuk menyangga tubuhnya, jadi dia terbaring lagi dengan mata terbuka. Perlahan, ia tersenyum. "Itu hanya mimpi. Ledakan itu hanya mimpi." gumamnya.

"Mimpi indah, gadis kecil?"

Henrietta terkejut. Suara siapa itu? Yang jelas bukan handlernya, bukan handler cyborg lain, bukan staf Social Welfare Agency. Gadis kecil itu menjadi waspada dan bangkit seketika, tetapi rasa sakit kembali menyerangnya. Dia terjatuh dari tempat tidur. Berusaha bangkit, dia akhirnya sadar bahwa kamar itu bukan kamarnya, hanya mirip kamarnya. Dan segera setelah itu, Henrietta mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Perburuan Padania di S.S. Mayflower. Ledakan besar. Setelah itu, ia tak ingat lagi.

"Jangan terlalu banyak bergerak dulu," pemilik suara yang asing itu mengulurkan tangan pada Henrietta, "Biar kubantu."

Karena benar-benar kesakitan (dan tidak melihat adanya benda yang bisa dijadikan senjata di dekatnya), Henrietta menerima bantuan orang asing itu. Setelah berdiri, Henrietta melihat seorang anak laki-laki, sepertinya lebih muda, tetapi lebih tinggi darinya. Henrietta berdiri, dengan cepat mengedarkan pandangan ke seisi ruangan, mencari semacam senjata yang bisa melindungi dirinya dari orang asing ini, yang mungkin adalah seorang teroris Padania 'buruannya'.

"Sudahlah, kau tidak usah khawatir. Aku tak akan melukaimu," kata pemuda itu saat melepaskan tangannya dari cengkeraman Henrietta yang hampir mematahkan tulangnya, "Lagipula, di sini tak ada senjata."

Yang pertama kali terpikirkan oleh Henrietta saat itu adalah, "Aku harus keluar dari sini dan menemui Signore Jose!" Jadi, Henrietta menyerang dengan tubuhnya. Tangannya terulur, menyerang dengan kecepatan dan kekuatan yang tidak tanggung-tanggung, tetapi anehnya, orang ini bisa menghentikan serangannya dengan satu tangan. Serangan-serangan berikutnya dari gadis cyborg itu sia-sia saja; semua ditahan oleh manusia aneh ini. "Lepaskan aku!" teriaknya putus asa, air matanya mulai menggenang. Baru kali ini dia melihat manusia yang bisa menangkis dengan mudah serangan-serangannya. Kalau sudah begini, hampir mustahil bagi si cyborg untuk melarikan diri, apalagi pemuda itu mencengkeramnya dengan kuat.

"Astaga! Giovanni, lepaskan dia!" Seorang wanita menghambur masuk dari pintu. Mendengar suara si wanita, Giovanni langsung melepaskan Henrietta. Sang wanita menangkap si gadis kecil dan menatapnya cemas. "Ya Tuhan, kau tidak apa-apa, 'kan? Tak ada tulang yang patah, 'kan?" Wanita itu memeriksa Henrietta dengan hati-hati. Henrietta terkesiap. Wanita di depannya ini terlihat seperti dirinya: rambut lurus, mata coklat, perawakan mungil, dan bahkan bando hitam yang dikenakannya... hanya wanita ini lebih dewasa. Karena terkejutnya, Henrietta tidak berontak dan hanya mengangguk, menjawab pertanyaan si wanita. Wanita itu menghembuskan napas lega. "Syukurlah," Dia tersenyum pada Henrietta, lalu menoleh pada Giovanni, "Apa yang kau lakukan, bodoh? Gadis ini baru saja sembuh!"

Giovanni gugup. "Ma-maafkan aku, Polly... Tadi, dia berusaha untuk menyerangku, jadi..."

Polly menutup mukanya dengan telapak tangan. "Kau ini. Ya, ya, kau kumaafkan, asal jangan merusak apapun lagi. Cepat buatkan makanan," katanya, melambaikan tangan untuk mengusir Giovanni, lalu tersenyum pada Henrietta, "Aku yakin, gadis kecil ini juga sudah lapar, ya 'kan?"

Henrietta diam. Tempat ini sangat asing. Tanpa senjata, dia akan kesulitan. Dengan kekuatannya sebagai cyborg pun, dia tak akan berhasil lari, selama pemuda bernama Giovanni itu ada. Dan tanpa handlernya...tanpa handlernya...

Polly terkejut melihat air mata Henrietta mengalir turun. Wanita itu sadar Henrietta pasti ketakutan di tempat asing ini. Dia kemudian mendudukkan Henrietta kembali di ranjang. Diamatinya Henrietta sekali lagi. Dia tahu siapa sebenarnya Henrietta. Dia tahu jaringan-jaringan otot buatan yang ia temukan saat mengoperasi Henrietta. Satu hal yang ia tak tahu adalah bahwa gadis kecil itu bisa menangis. Hebat. Baru kali ini Polly melihat ada 'boneka' yang bisa menangis seperti Henrietta. Bukankah Social Welfare Agency selama ini menggunakan gadis ini sebagai alat mereka?, herannya, Bagaimana mungkin dia mendapatkan perasaan seperti ini?

Polly meletakkan tangannya di atas tangan Henrietta yang basah. Henrietta menatapnya.

"Jangan khawatir," Polly tersenyum, "Kau akan pulang segera setelah kau pulih sepenuhnya."


Makan malam. Kaki Henrietta melemah lagi karena dua kali jatuh pagi harinya, jadi Polly meminta Giovanni menggendong gadis itu ke ruang makan.

"Kenapa kau masih murung?" Giovanni bertanya untuk kesekian kalinya pada Henrietta yang keras kepala, "Aku 'kan sudah bilang, kami berdua tidak punya maksud jahat padamu! Kau masih saja bersikap seolah-olah kami ini musuh!"

"Aku ingin pulang!" jawab Henrietta. Giovanni mendesah. Sial, aku tidak akan jadi pengasuh bayi lagi, walaupun Polly mengancam!, pikirnya. "Dengar, untuk saat ini saja, kau harus percaya pada kami, terutama Polly. Dia dokter yang hebat dan tahu betul bagaimana cara menyembuhkanmu!"

"Ada seseorang yang menungguku di rumah! Aku harus cepat pulang!" Henrietta memaksa. Giovanni akhirnya mendidih. "Memangnya siapa yang akan menunggumu? Orangtuamu? Kalau kau punya keluarga atau semacamnya, mereka pasti tak akan meninggalkanmu di kapal itu!"

Jantung Henrietta serasa berhenti. Selama ini dia merasa bahwa Jose adalah kakaknya. Jose selalu memperhatikannya seperti seorang kakak sungguhan. Akan tetapi, saat perburuan Padania di kapal itu, pada saat ingatannya mulai mengabur, dia tidak melihat sang handler di dekatnya. Apa benar Jose meninggalkannya? Henrietta tertunduk. Akhir-akhir ini, dia sering merasa sakit dan itu membuat kinerjanya menurun. Apa karena itu?

Yah. Pada akhirnya, seberapapun pedulinya sang handler, Henrietta tetaplah alat, dan kalau sudah tidak bisa dipakai lagi, maka...

"Giovanni! Apa lagi yang kau lakukan? Lihat, dia jadi menangis!" bentak Polly. Giovanni menjadi gugup lagi dan cepat-cepat mendudukkan Henrietta di kursi. "Ma-maaf..."

Polly merendahkan sedikit badannya, mensejajarkan matanya dengan Henrietta. "Sayang, apa yang terjadi?" tanyanya lembut. Sambil mengusap air matanya, Henrietta menggeleng dan tersenyum lemah, "Maafkan aku. Aku tidak apa-apa... Aku hanya takut karena..."

Henrietta berhenti. Bagaimana caranya menyebut handler di sini? Kalau seseorang tahu tentang Jose sebagai handler, mungkin akan terjadi sesuatu yang membahayakan. Setelah mencari-cari kata yang tepat, Henrietta menemukan 'fratello' di belukar otaknya, dan meneruskan, "...kakakku tidak ada di sini."

Apa yang terlintas dalam pikiran Polly adalah laki-laki yang selalu ada di dekat gadis-gadis pemburu Padania itu. Henrietta juga pasti punya satu. Sedikit mengejutkan ketika mendengar Henrietta menyebut orang itu sebagai 'kakak', tetapi...ah, mungkin itu hal yang biasa. Gadis-gadis pemburu Padania yang lain mungkin akan mengatakan hal yang sama untuk melindungi para laki-laki itu.

Tiba-tiba saja, Polly jadi kesal. Ke mana perginya 'kakak' Henrietta ini saat sang 'adik' jatuh pingsan di S.S. Mayflower? Apakah semua 'kakak' memang tak peduli pada 'adik'nya? Hanya karena 'adik'nya sudah bukan lagi sepenuhnya manusia? Itu kejam! Polly melihat ke arah Giovanni yang sedang menata meja. "Apakah mungkin aku akan melakukan hal yang sama pada Giovanni, suatu saat nanti?" pikirnya.

"Tidak apa-apa," Giovanni tiba-tiba berkata, "Kami akan segera menghubungi kakakmu agar dia bisa menjemputmu ke sini. Iya 'kan, Polly?" Si pemuda menoleh pada sang dokter. Sang dokter mengangguk. "Pasti. Sekarang makan dulu, ya, supaya cepat sembuh." katanya. Henrietta patuh. Dia hendak meraih sendok ketika tiba-tiba, tangannya terasa nyeri sekali. Henrietta memekik kesakitan, matanya memicing. Rasa sakit yang sangat itu berangsur hilang, tetapi tangannya menjadi kaku. Otot-otot Henrietta masih butuh waktu untuk pulih, apalagi setelah sekitar lima hari tidak sadar. "Masih sakitkah?" tanyanya ketika Henrietta perlahan meletakkan tangan di pangkuan. Henrietta menggeleng. Polly tersenyum lega. "Kita bisa memulihkan ototmu dengan latihan kecil. Untuk sementara ini, tidak keberatan 'kan kalau kusuapi dulu?"

Henrietta mengangguk. Jika makan sendiri saja aku sudah tidak bisa, apakah aku masih bisa berguna di Social Welfare Agency? Apakah aku masih bisa membantu Signore Jose?, cemasnya.

"Hei, kakakmu itu..." Polly memecah keheningan, Henrietta mengangkat pandangannya, "...pasti orang yang sangat baik, sampai-sampai kau sangat kebingungan karena dia tidak ada."

Henrietta mengiyakan dengan mantap. "Dia baik dan selalu menjagaku. Karena itulah, aku juga ingin menjaganya untuk membalas kebaikannya."

Ekspresi Henrietta saat menjawab pertanyaan tadi melegakan Polly. Social Welfare Agency masih memperhatikan kebutuhan psikologis gadis-gadis muda ini, rupanya. Tak heran proyek cyborg mereka berjalan sempurna...yah, walaupun sempat dilaporkan beberapa kegagalan kecil. Setidaknya mendekati sempurna. "Nah, kalau begitu," Polly menyuapkan makanan pada Henrietta, "kau harus bersemangat. Semakin cepat kau sembuh, semakin cepat kau pulang dan bertemu kakak yang baik hati itu."

Henrietta mengunyah makanannya, ekspresinya lebih ceria. Polly tampak senang juga. Giovanni-lah satu-satunya di ruangan itu yang kesal. Dia tidak rela 'ibu'nya diambil anak lain, tetapi tidak bisa mengatakan apapun mengenai itu. Ekspresinya datar, tetapi sebenarnya, dia sangat iri pada Henrietta.

"Oh ya, aku sampai lupa memperkenalkan diri... Hahaha, sebenarnya sudah tidak perlu lagi ya? Tapi sudahlah," sang dokter menjabat tangan Henrietta, "Namaku Polichinelle Gigogne, tetapi panggil saja aku Polly, seperti sebelumnya. Senang berkenalan."

"Polichinelle Gigogne?" Henrietta teringat sesuatu, "Itu...seperti di drama Nutcracker..."

"Wah, kau tahu? Iya, Polichinelle adalah anak kecil yang keluar dari rok Mother Gigogne saat pesta kemenangan Clara," Polly tertawa, "Entah kenapa, ibuku memberiku nama seperti itu. Gigogne bukan nama keluargaku, tetapi ibuku memaksa untuk memberiku nama itu. Kadang jadi repot juga kalau harus mengurus dokumen keluarga. Oh ya, namamu siapa?"

Denting sendok di seberang meja terdengar tidak senang. Polly menoleh dan... "Astaga! Benar! Iya, jangan marah begitu, aku akan memperkenalkanmu," Polly tersenyum, "Nah, dia Giovanni. Dia pelayanku."

Giovanni serta-merta meletakkan sendoknya. "Apa kau bilang?!"

Polly membeku sejenak, lalu tertawa puas, sedangkan Henrietta melebarkan matanya kaget. Dipandangi Henrietta seperti itu, Giovanni terduduk dan meneruskan makanannya yang tak habis-habis—tumben sekali dia lambat makannya.

"Iya, maafkan aku," Polly berdiri, mengulurkan tangannya ke seberang meja dan mengacak-acak rambut Giovanni, lalu kembali duduk, "Nah, sebenarnya dia anakku. Kami sudah memperkenalkan diri. Sekarang giliranmu."

Henrietta, yang mulai merasa akrab dengan Polly, tersenyum manis. "Aku Henrietta."

"Henrietta. Nama yang manis, sama seperti orangnya." Polly mencubit pelan pipi Henrietta yang menggemaskan. Henrietta hanya diam, wajahnya memerah sedikit. Giovanni kembali kesal dan merusak suasana dengan celetukannya. "Kau berkata begitu hanya karena dia mirip denganmu, 'kan?"

"Cepat habiskan makananmu!" bentak Polly, lalu kembali pada Henrietta, "Aduh, maafkan aku, jadi sering marah begini di depanmu. Giovanni hari ini aneh—sering membantah, padahal biasanya dia anak yang baik."

"A-apa karena aku?" Henrietta merasa bersalah, "Maaf, ya..."

"Eh? Kau tidak usah minta maaf!" Giovanni sedikit salah tingkah karena Henrietta (dan Polly, karena dibilang 'anak yang baik' barusan), "Abaikan aku. Lanjutkan saja obrolan kalian."

Henrietta tersenyum. Giovanni sepertinya anak yang manja, tetapi Polly menyayanginya, dan Henrietta yakin begitu pun sebaliknya. Ah, jadi teringat lagi pada sang handler.

"Apa kita benar-benar mirip, Henrietta?" tanya Polly sambil mengamati wajah gadis itu.

"Iya, kurasa. Aku juga kaget saat pertama melihatmu, Polly."

"Hmm...benar juga. Oh, tunggu," Polly berlari keluar ruang makan, kembali tak lama kemudian dengan bando hitam di tangan, memasangkannya pada Henrietta, dan berbinar bahagia, "Wah, seperti bercermin! Giovanni, lihat, lihat!"

Giovanni yang baru selesai makan mengangkat wajahnya dan tercengang. "Bagaimana menurutmu, Giovanni? Aku dan Henrietta manis, 'kan?"

Giovanni menunduk. Sambil cepat-cepat membereskan meja, dia berkata, "Cuma Henrietta yang manis; kau terlalu tua untuk bisa jadi manis."

Henrietta tertawa kecil mendengar itu, sedangkan Polly langsung cemberut. Giovanni berlalu untuk mencuci piring. Polly menoleh pada Henrietta. "Hei, memangnya aku sudah terlihat setua itu? Umurku baru 37 lho."

Henrietta seketika menggeleng. "Bagiku tidak. Mungkin, Giovanni berkata begitu karena kau ibunya. Seorang anak selalu menganggap ibunya 'tua', 'kan?"

Polly mendesah, lalu menoleh ke kaca jendela. "Di sini mulai agak berkerut," Dia menyentuh sudut matanya, "Hah, harus lebih sering kurawat, padahal aku paling malas melakukan hal seperti itu. Bagaimana caranya mengatur jadwal di antara penelitianku?"

"Tidak dilakukan juga tidak apa-apa, kalau memang tidak ingin. Bagaimanapun dirimu, dan apapun yang Giovanni katakan, dia pasti masih akan menyayangimu."

Polly melebarkan matanya. "Apa benar itu?"

Henrietta memiringkan kepalanya sedikit, bingung. "Dia anakmu, 'kan? Apakah ada seorang ibu yang tidak disayang anaknya? Kalau Polly sayang padanya, dia pasti akan sayang padamu juga."

Polly mengelus kepala Henrietta. Gadis yang polos. Dia tak punya orang tua, tetapi dia mengerti hubungan orang tua dan anak, lebih dari Polly. Dia punya perasaan dan mengerti kalau cinta itu indah. Ini menjadi catatan penting dalam penelitian Polly tentang cyborg: tak boleh sampai melupakan aspek psikis cyborg untuk membuatnya efektif.

"Oh ya, apakah Polly seorang dokter peneliti?" tanya Henrietta, di kepalanya terbayang dr. Bianchi, "Penelitian apa yang sedang kau kerjakan? Apakah rumit sekali?"

"Tidak terlalu rumit, karena aku sudah lama berkutat dengan ini. Aku sedang meneliti tentang cyborg." Jawaban Polly membuat Henrietta terkesiap. Apakah aku berada di sini karena penelitian itu?, pikirnya. Henrietta menenangkan dirinya, berusaha tidak terlihat panik, walaupun sebenarnya identitasnya sudah ketahuan Polly.

"Kenapa kau melakukan penelitian itu?"

"Aku hanya tertarik saja," Polly mengangkat bahu, acuh, "Mekanisasi dalam industri secara berlebihan dilarang karena bisa menimbulkan banyak pengangguran, tetapi tenaga manusia yang terbatas kadang tidak bisa diandalkan. Karena itu, kalau menggabungkan keduanya dengan sebisa mungkin menghilangkan efek sampingnya, pasti akan menguntungkan. Sayang, banyak percobaan pembuatan cyborg di dunia ini gagal, tidak menguntungkan manusia yang dijadikan cyborg."

"Oh..." Henrietta membulatkan mulutnya. Polly terkikik, senang melihat wajah Henrietta yang seperti tak mengerti penjelasannya, tetapi Polly yakin cyborg bisa menangkap penjelasan sederhana itu. "Hm, Henrietta, menurutmu Giovanni itu bagaimana?"

Henrietta mengayunkan kedua kakinya bergantian. "Dia baik, tetapi kadang...mmm..." Henrietta ingin bilang 'kasar', tetapi kalau dia berkata begitu pada orang lain, Jose pasti bilang itu tidak sopan.

"Kenapa? Dia kasar, ya?"

"Ah..." Henrietta salah tingkah, "Tidak, kok..."

"Aku dengar bentakannya sebelum masuk ruang makan tadi."

"Tapi itu salahku... Aku yang mulai duluan."

"Tidak, tidak. Tamu tidak seharusnya diperlakukan seperti itu. Yah, tapi mungkin dia hanya tidak terbiasa dengan anak perempuan. Aku harus lebih sering mengajaknya keluar," Polly menatap ke arah Giovanni yang mencuci piring, jauh darinya, "Omong-omong, sebenarnya dia cyborgku, makanya aku bertanya begitu untuk melihat sebaik apa dia di mata orang lain."

Henrietta terbelalak. "Giovanni itu...cyborg?"

"Iya. Kaget? Dia tidak terlihat seperti manusia-manusia yang bisa mengeluarkan senjata mekanik dari dalam tangannya, ya?" Polly tertawa, pura-pura menganggap Henrietta tak tahu tentang cyborg, "Jangan termakan gambaran cyborg di film. Mereka manusia juga, walaupun sudah sedikit dimodifikasi, tetapi film selalu membuat mereka tampak seperti robot."

Henrietta mengangguk. "Memang tidak terlihat begitu."

"Untungnya. Aku tidak mau anakku jadi aneh seperti di film-film," Polly bergidik, "Aku sudah senang dengan dirinya yang sekarang."

Polly sengaja mengeraskan suaranya pada kalimat yang terakhir dan sempat memberi penekanan kecil pada kata 'anakku', tetapi Giovanni tidak menangkap sinyal keisengan Polly yang ingin melihat perubahan ekspresinya. Dia terlalu sibuk berdebar-debar di dekat bak cuci. Dia sangat senang setiap kali Polly memujinya dan bersyukur sempat bertemu dengan sang dokter.