Fire

Saat sarapan, Henrietta tidak bisa berhenti mengayunkan kakinya karena senang. Hari itu, dia akan pulang. Dia kangen asramanya, kaleidoskopnya yang lama tak terawat, Rico dan keceriaannya, Triela dan boneka-boneka Teddy-nya, Claes dan buku-bukunya, juga handler. Jose. Ah. Henrietta jadi malu kalau mengingat sang handler.

"Henrietta!" panggil Polly dari lorong dekat ruang makan, tangannya memegang gagang telepon, "Kakakmu ingin bicara denganmu!"

Henrietta seketika bangkit. Wajahnya dihiasi senyuman. Dia tidak peduli pada makanan di piring yang masih bersisa. Dia segera berlari menuju Polly. Polly terkekeh. "Jangan lari-lari seperti itu sesudah makan. Nanti perutmu sakit." kata Polly, lalu menyerahkan gagang telepon pada Henrietta dan melangkah mundur untuk memberi Henrietta tempat.

Sedikit gugup, Henrietta mulai bicara, "Halo..."

"Henrietta!" Di seberang telepon, terdengar suara cemas seorang pria. Henrietta kenal betul suara itu. "Signore Jose."

"Kau baik-baik saja?" Suara itu terdengar lebih tenang setelahnya, tetapi nada kecemasan dalam suaranya masih belum dapat diredam.

"Iya. Baik-baik saja."

"Syukurlah." Hening beberapa detik. "Kami akan segera menjemputmu. Jangan khawatir."

Wajah Henrietta yang sudah merah karena senang menjadi lebih merah lagi karena suara itu terdengar begitu meyakinkan. "Baik."

Jeda tiga detik; Henrietta yakin saat itu Jose sedang tersenyum. "Tolong berikan teleponnya pada wanita tadi, Henrietta."

Henrietta menyerahkan telepon kembali pada Polly. "Terima kasih, Polly." ucap Henrietta tulus. Polly tersenyum simpul. "Kembali," jawabnya, "Nah, habiskan makananmu, ya. Jangan disisakan."

Henrietta mengangguk dan berjalan kembali ke ruang makan. Dia sempat menoleh kembali ke arah Polly yang sedang menelepon. Ah, sebenarnya gadis kecil itu ingin bicara lebih lama di telepon dengan Jose seperti yang Polly lakukan. Henrietta menggeleng-geleng cepat, menghilangkan rasa iri dari pikirannya. Nanti juga aku akan bertemu dengan Signore Jose, pikir Henrietta sambil berjalan kembali ke ruang makan.

"Polly lama," Giovanni membereskan meja dengan kesal setelah ia dan Henrietta selesai makan, "Makanannya sudah dingin dari tadi. Dia bicara dengan kakakmu, ya?"

Henrietta mengangguk. Giovanni langsung membuang muka dan berjalan menuju dapur. Senyum kecil terkembang di wajah Henrietta. Dia juga iri.

"Hei!" Polly membelalakkan matanya saat melihat hanya makanannya yang ada di meja, setelah selesai menelepon, "Kalian meninggalkanku!"

"Belum," Henrietta menyanggah, "Kami memang sudah selesai makan, tetapi kami akan menemanimu sampai selesai."

Giovanni berjalan ke ruang makan dan tanpa sepatah katapun langsung duduk di dekat Polly.

"Bagus! Tetaplah duduk di sini supaya aku tidak kesepian!" kata Polly ceria sambil makan, sebelah tangannya mengacak-acak rambut Giovanni. Tindakan Polly menghalangi Henrietta untuk mengamati ekspresi Giovanni dengan jelas, tetapi mata coklatnya yang jeli bisa melihat senyum tipis si pemuda.


Siang itu, Henrietta dijemput dengan mobil oleh Jean, Jose, dan Rico. Setelah mengucapkan selamat tinggal dan terima kasih pada Polly serta Giovanni, Henrietta cepat-cepat masuk ke mobil, meninggalkan Jose dan Jean yang masih berbicara dengan Polly.

"Henrietta," sapa gadis berambut pirang pendek yang duduk di bangku tengah mobil dengan ceria, "Sepertinya, kau cukup bersenang-senang dengan mereka, ya."

"Iya, senang, tetapi tidak sesenang kalau berada di asrama atau saat menjalankan misi." jawab Henrietta tak kalah ceria.

"Tenang saja," Rico menunjukkan senjata-senjata yang dipersiapkan di dalam mobil, "Kita akan melaksanakan misi sebentar lagi."

Jean dan Jose kembali ke mobil. Segera setelah duduk di kursi samping pengemudi, Jose menoleh pada Henrietta. "Henrietta," raut wajahnya terlihat sedih dan bersalah, "maaf."

"Untuk apa Signore Jose minta maaf?" tanya Henrietta, sedikit kaget.

"Tunda penjelasan itu untuk nanti, Jose. Persiapkan dia untuk misi kita selanjutnya." kata Jean. Jose maklum akan hal ini. Dia tersenyum pada Henrietta. "Baiklah. Henrietta, kau siap untuk misi kita selanjutnya?"


Mobil berhenti setelah rumah Polly menghilang dari pandangan, di tempat yang cukup aman bagi keberlangsungan misi ini. Sementara Jean dan Jose memantau kedatangan 'buruan' mereka, Henrietta sibuk berdebar-debar. Sudah lama ia tak berlatih. Polly bilang ia tidak sadar selama hampir seminggu, dan selama tiga hari setelah sadar, ia tidak berlatih sama sekali. Apakah ia akan berhasil?

"Henrietta, ada apa?" tanya Jose saat melihat Henrietta memucat.

"Ti-tidak ada apa-apa, Signore Jose."

"Kau yakin? Kau baru saja sembuh. Jangan terlalu memaksakan diri kalau kau merasa tidak sanggup."

"Tidak. Saya baik-baik saja." Henrietta meyakinkan handlernya, tetapi gagal. Sebenarnya, Jose tahu ada sesuatu yang Henrietta sembunyikan; mungkin rasa sakit yang belum hilang sepenuhnya, tetapi sang handler juga tahu kalau Henrietta akan sakit hati jika tidak diberi bagian dalam misi, sekecil apapun misi itu. Jadi, Jose memutuskan untuk membiarkan Henrietta. Lagipula, misi ini akan jauh lebih ringan dari yang lain-lain, mustahil Henrietta akan gagal.

"Mereka masuk." ucap Jean. Henrietta sedikit gugup. Rico menepuk bahu kawannya. "Kita berjuang ya, Henrietta."

Merasa kecemasannya sedikit berkurang, Henrietta mengangguk dan tersenyum.

Jean dan Jose masih memantau kondisi setelah beberapa orang tamu Polly masuk ke rumah. Rico dan Henrietta pun siaga. Melalui rifle scope-nya, Henrietta bisa melihat Polly menyambut tamunya dengan ramah, tetapi tamu-tamu Polly kelihatan kesal dan terburu-buru. Salah seorang dari mereka berdiri dan mulai mengancam Polly dengan senjatanya. Saat itu, Henrietta dan Rico sudah sangat siap menembak tamu yang keterlaluan itu, tetapi karena Jean dan Jose belum memberi perintah, mereka tidak melakukannya.

Polly masih kelihatan tenang walaupun salah seorang tamunya sudah menghimpitnya dan seorang tamu lain siap menembaknya. Saat itulah, Giovanni masuk dan menembak dua tamu itu. Henrietta terheran; kemampuan Giovanni tidak jauh beda dengannya. Aneh, bukankah 'handler' Giovanni bukan seseorang yang bisa menggunakan senjata? Lalu dari mana Giovanni mendapatkan kemampuan itu?

Salah satu tamu yang masih selamat meraih pistolnya; penglihatan Giovanni tidak menjangkaunya. Henrietta, di bawah perintah Jose, langsung menembak pergelangan tangan orang itu. Pistol orang itu terjatuh. Giovanni mendekati orang yang tangannya terluka itu. Ternyata, serangan belum berakhir. Giovanni menoleh dan melihat ada beberapa orang yang menyerbu masuk dengan tembakan. Rico dan Henrietta, bersamaan dengan Giovanni, menembak mati beberapa orang yang mencoba membunuh Polly.

Setelah yakin bahwa tidak ada serangan lagi, Polly terlihat memencet beberapa tuts di ponselnya. Rupanya, dia menghubungkan ponselnya dengan Jean dan Jose supaya dua investigator itu bisa mendengar kesaksian langsung si tamu. Dari interogasi Polly, terungkaplah rencana Padania dengan menggunakan hasil penelitian Polly. Mereka akan melakukan pembunuhan besar-besaran di Roma jika keinginan mereka membentuk pemerintahan otonomi tidak diloloskan. Tentu saja, mereka akan melibatkan cyborg dalam peristiwa besar itu supaya gangguan dari pihak kepolisian (dan Social Welfare Agency) bisa diminimalkan.

Tangan Polly menggenggam, tetapi wajahnya masih tenang. Dia menyesal sudah bekerja sama dengan Padania sampai sejauh ini. Awalnya, sang ilmuwan menerima tawaran untuk bekerja sama dengan Padania karena mereka menawarkan harga yang cukup besar untuk penelitian yang sedang dikerjakannya. Lama-kelamaan, dia merasa uang saja tidak cukup untuk membuat penelitian ini terus berlanjut. Saat pertama kali melakukan penelitian atas Giovanni, Polly belum memiliki perasaan yang kuat, tetapi akhirnya Polly sadar bahwa Giovanni akan menjadi 'boneka jahat'. Selain itu, jika Giovanni menjadi cyborg yang lumayan berhasil di mata Padania, maka pemberontak-pemberontak itu akan membuat 'boneka jahat' lebih banyak lagi. Memang sudah terlambat untuk mengakhiri semua ini, tetapi setidaknya masih ada cara yang Polly siapkan untuk menghentikan apa yang sudah dimulainya.

Sayangnya, semua tidak berjalan seperti keinginan Polly.

Si teroris memegang sebuah granat di tangannya. Rico menembak tangan teroris yang satu lagi sesuai yang diinstruksikan. Rupanya, Jean dan Jose merasa detil yang diberikan kurang untuk bisa menghentikan rencana Padania, jadi mereka tidak membunuh si teroris. Anehnya, walaupun granat itu jatuh dan tidak meledak, Polly tampak panik. Dia memerintahkan Giovanni menembak mati si teroris.

"Apa?" Jean terkejut, begitu pula Jose, "Tidak ada perintah untuk itu!"

Polly menarik Giovanni keluar. Rico dan Henrietta hendak melancarkan serangan pada sang dokter dan cyborgnya untuk menghentikan mereka, tetapi dua anak itu melihat sinar merah aneh tertuju ke tempat Giovanni tadi berdiri. Tempat yang 'ditunjuk' itu dihunjam peluru-peluru selain milik Henrietta dan Rico. Apa itu?


Polly terus berlari dengan Giovanni di belakangnya. Granat yang dipegang oleh teroris itu adalah salah satu 'mainan' buatan Polly dulu. Saat ia baru bergabung dengan Padania, ia juga melakukan penelitian untuk pengembangan persenjataan. Hasilnya, ia menciptakan senjata otomatis yang, setelah diatur sedemikian rupa, bisa diaktifkan oleh benda seperti granat. Bagus untuk kamuflase, tetapi Polly tetap tahu bahwa granat yang dipegang si teroris adalah granat palsu. Menyadari hal ini, dia segera menyuruh Giovanni untuk membunuh sang teroris sebelum sempat mengoperasikan benda itu lebih jauh. Memang senjata itu sudah terlanjur diaktifkan, jadi Polly dan Giovanni akan terus dikejar, tetapi tanpa manusia sebagai operator, senjata itu akan menjadi kurang akurat pada target bergerak.

Dan senjata itu, sebenarnya, diarahkan pada Giovanni.

"Padania sial!" geram Polly. Dia tidak akan membiarkan Giovanni mati. Giovanni memang cyborgnya, tetapi hubungannya dengan Giovanni bukan seperti hubungan para 'fratello' di SWA. Dia tidak akan memberikan prasyarat pada Giovanni untuk melindunginya. Bukankah 'ibu' yang harus melindungi 'anak'nya?

Polly mengutuk lagi dalam bukan cyborg yang punya kemampuan bertarung nyaris sempurna. Dia tidak bisa melindungi Giovanni jika situasinya seperti ini. Padania pasti sudah mempersiapkan ini karena penolakannya di telepon malam sebelumnya. Jika mereka gagal dalam usaha diplomasi dengan Polly, sudah pasti mereka menarget Giovanni untuk mati terlebih dahulu karena dia lebih sulit dibunuh. Lagipula, Polly masih dibutuhkan untuk riset lanjutan, jadi Polly masih harus hidup.

Giovanni tiba-tiba berhenti, begitu pula detak jantung Polly. "Giovanni, ayo!" Polly berusaha menarik Giovanni, tetapi Giovanni tetap diam sambil menatap jendela. Sinar merah menyorot dada pemuda itu dan Polly semakin panik. "Ayo!"

Giovanni melepaskan diri dari genggaman tangan Polly. Dia menembak ke beberapa arah ke luar jendela dan menghindari serangan senjata otomatis, tetapi beberapa peluru yang terarah padanya berhasil melukainya. Rupanya, cyborg itu sudah bisa menemukan lokasi senjata-senjata otomatis itu, tetapi untuk memusnahkan itu, Giovanni harus membayar dengan nyawanya.

Polly terkejut. Manuver menghindar Giovanni tidak cukup baik. Beberapa peluru terakhir yang diarahkan menuju jantungnya memang hanya melukai tangan, kaki, dan perutnya, tetapi satu peluru beruntung. Giovanni jatuh setelah 'peluru beruntung' itu menembus jantungnya.

"Giovanni!" Polly segera mengangkat tubuh pemuda yang terluka itu, "Bertahanlah!"

Titik-titik hitam mulai membayangi Giovanni saat Polly mulai berlari sambil membopongnya. Lama-kelamaan, titik-titik itu bersatu, menutup penglihatannya. Rasa sakit menusuknya dari segala penjuru dan dia mulai merasa sesak. Dia masih sempat mendengar desingan peluru; milik Rico. Mulanya, menembak Polly adalah tugas Henrietta, tetapi ketika dia sudah hampir menembak, entah kenapa Henrietta berhenti. Prasyarat yang kurang kuat membuat Henrietta mudah terikat dengan yang lain (dalam hal ini, Polly), sehingga Rico mengambil alih tugasnya.

Polly merasa genggaman Giovanni pada bajunya melemah. Sang dokter merendahkan pandangannya dan melihat Giovanni menitikkan air mata, tetapi anak itu tersenyum. Senyuman yang sama seperti saat ia baru bertemu Polly. Sama seperti di foto. Sama seperti saat Polly akan memeriksanya malam sebelumnya. Dia sedih tidak bisa melindungi Polly, tetapi juga senang ia masih melihat Polly di saat terakhirnya.

"Maaf, Polly..."

Mata Polly melebar. "Tidak! Tidak! Kau tidak salah apa-apa! Bertahanlah, aku mohon, Giovanni..."

Polly melihat ruang kerjanya sudah dekat. "Tunggu, tunggu! Sebentar lagi kita sampai!"

Terlambat. Ketika Polly hampir meraih knop pintu, peluru Rico berhasil menembus kepalanya.

Henrietta terkesiap. Ini pertama kalinya ia kaget melihat targetnya tewas.

Polly jatuh tertelungkup di atas Giovanni. Pemuda itu sudah mati. Jika Polly masih punya waktu cukup lama untuk meratapi kematian pemuda itu, maka Polly akan melakukannya dan bersumpah untuk membunuh semua Padania. Dia akan menghancurkan semua hasil penelitiannya supaya tidak ada yang bisa membuat Giovanni-Giovanni lain, supaya tidak ada boneka-boneka yang tersakiti lagi. Di ambang kematian, saraf-saraf Polly yang masih hidup dikendalikan oleh pikiran itu. Dicari-carinya tombol di dinding dekat pintu ruang kerjanya.

"Dia masih hidup, Rico." kata Jean. Rico mengerti, siap menembak, tetapi Henrietta memukul tangan Rico sehingga peluru gadis pirang itu melesat jauh dari target.

Tangan Polly menemukan tombol yang dicarinya, dan dengan sisa tenaganya, dia menekan tombol itu. Polly tersenyum senang. Setelah ini, ia akan mengajak Giovanni bermain jauh-jauh dari senjata, dari penelitian, dari boneka-boneka pembunuh, dari manusia yang jadi boneka. Hanya dia dan Giovanni di Land of Sweets. Bertemu Putri Sugar Plum. Menari bersama.

Sebelum salah satu dari fratello SWA mengatakan sesuatu tentang tindakan Henrietta, terjadi ledakan besar. Rumah Polly hancur, bersama dengan semua yang ada di dalamnya.


Beberapa hari kemudian...

Jose seperti biasa memberikan reward atas tugas Henrietta: stargazing. Henrietta merasa bersalah karena tidak menjalankan tugas dengan baik. Dan seperti biasa juga, Jose mengerti. Karena penanaman prasyarat Henrietta tidak begitu kuat, dia jadi lebih mudah lepas kendali dari cyborg lain. Kasusnya sama seperti Triela saat melepaskan Mario Bossi.

Jose juga menjelaskan kenapa Henrietta dan dirinya bisa sampai terpisah di S.S. Mayflower. Padania memang semakin lama semakin cerdik. Saat itu, lima fratello dikerahkan untuk menyerbu Padania, tetapi dengan taktik yang sudah direncanakan, Padania berhasil membuat para handler yang berusaha mencari informasi terpisah dengan para cyborg. Keadaan saat itu kacau. Tujuan utama dari penyerbuan saat itu memang untuk mendapatkan informasi tentang pergerakan Padania, dan tujuan itulah yang dimanfaatkan Padania untuk memecahkan fratello. Polly terlibat dalam perencanaan strategi ini, dan Giovanni terlibat saat eksekusinya. Satu pasang fratello tewas. Sisanya terluka parah. Beruntung, Polly tidak mematuhi rencananya sendiri untuk mengambil satu cyborg sebagai penelitian dan membunuh sisanya; ia mengambil Henrietta, tetapi tidak membunuh Triela, Angelica, dan Rico.

"Jadi, Signore Jose meminta maaf karena...meninggalkan saya saat itu?" tanya Henrietta.

Jose mengangguk. "Tugasku memang memburu informasi di tangan Padania, tetapi meninggalkanmu sendiri seperti itu tetap saja kejam."

Henrietta tidak tahu harus merasa bersalah atau senang. Dulu, mungkin dia akan sangat sedih karena sudah membebani 'kakak'nya, tetapi, sekarang, Henrietta mulai bisa menghargai dirinya sendiri. Orang yang tidak mengerti tentang para gadis kecil di SWA boleh saja menganggap mereka hanya alat dan bukan manusia, tetapi alat pun harus digunakan dengan penuh kasih sayang, 'kan? Kalau sebuah alat diperlakukan dengan kasih sayang, maka alat itu akan membantu kita. Henrietta mempelajari ini dari duplikat dirinya yang sangat mencintai boneka, suatu hari di tepian Pulau Sisilia.

"Maafkan saya. Lain kali, saya akan menghindari kesalahan sekecil apapun." Henrietta berkata. Jose hanya tersenyum. Nada optimis dalam kalimat itu lebih terdengar daripada nada bersalah dan Jose suka itu.


Terima kasih sudah membaca fic beginner ini. Feel free to review. Buat yang request: maaf jadi aneh begini, uhu...

Disclaimer (rada telat sih): Gunslinger Girl bukan punyaku, g mungkin juga aku bikin anime sesusah itu ;p Itu masterpiece Yu Aida.