.

Pair : Sai x Hyuuga Hinata

Genre : Family, Romance

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto, Will You just Look at Me? by Izumi Nairi :D

Rate : K+

Story's note : AU, mixed storyline, some out of characterI hope no…

.


.

Seorang lelaki memasuki sebuah ruangan berselimutkan warna putih tulang sendirian. Semuanya putih bersih, bahkan bunga yang berada di atas meja dekat ranjang pasien di ruangan itu pun berwarna putih pucat. Di atas ranjang pasien berbaring seorang perempuan berambut hitam keunguan yang diam tak bergerak. Selang infus yang menembus tangan kurus wanita itu masih mengalirkan cairan ke tubuhnya yang lemas. Masker oksigen masih terpasang di wajah gadis itu, menghembuskan oksigen bagi paru-parunya. Wajah sang wanita juga masih tak berwarna, tetap pucat seperti biasanya. Tidak ada yang berubah dari ruangan itu, dan hal itu membuat sang lelaki mendesah pelan.

Lelaki itu berjalan mendekati ranjang pasien, kemudian duduk di sebelahnya. Dia hanya menatap wajah pucat wanita yang berbaring di depannya tersebut dengan tatapan datar, lalu dia berkata, "Sebentar lagi Hanabi-san akan datang dengan Mitou-chan."

Perempuan itu hanya bergeming. Matanya masih tertutup seperti tadi, tidak ada tanda-tanda darinya untuk bergerak dan menyambut ucapan lelaki itu.

"Bangunlah… kau sudah tertidur terlalu lama," ujar lelaki itu lagi. "Aku tak sabar menunggumu… meskipun kau lebih lama menunggu dan lebih sabar daripada aku."

.


.

Will You just Look at Me?

Chapter 1

.

Tujuh belas tahun yang lalu…

Lelaki berkulit pucat itu hanya terdiam saat sang kakek mengenalkan kedua kakak beradik itu padanya. Dia juga tidak bergerak saat salah satu dari mereka—yang paling besar—mencoba untuk menyalaminya, memuat gadis itu sedikit kecewa. Dia juga tidak merasa sakit kala kakeknya mencubit tangannya saat menolak jabatan gadis itu, atau bahkan takut ketika adik sang gadis menatapnya dengan pandangan teramat kejam dan tidak hormat, seolah-olah dia telah menyakitinya.

Yang dia rasakan adalah kebingungan. Bingung karena baru menyadari ada manusia yang berbeda jenis kelamin dengannya. Padahal dia hanya mengira bahwa hanya ada laki-laki di bumi. Memang, kalau dipikirkan, bukan salahnya beranggapan seperti itu. Kakeknya adalah laki-laki, semua pembantunya adalah laki-laki—dari tukang kebun hingga tukang masak—teman-teman sekolahnya adalah laki-laki, gurunya laki-laki. Dia sekolah di sekolah laki-laki, dan bermain permainan laki-laki. Baginya, semuanya adalah laki-laki.

Namun saat mendengar kata "perempuan", tidak ada apapun di kepalanya selain ingin menanyakan pada satu-satunya walinya—kakeknya yang sekarang sedang mengajak kedua gadis di depannya mengobrol—apa itu perempuan. Seperti apa mereka, bagaimana mereka berbeda, padahal dari luar tampak sama saja. Bagaimana rambut mereka tampak berbeda, yang satu hitam keunguan yang satunya lagi berwarna coklat tua. Padahal rambutnya hitam kelam seperti malam. Bagaimana mata mereka bisa sepucat itu, bagaimana nama mereka bisa Hyuuga, sedangkan namanya dan nama kakeknya tidak seperti itu.

"Sai, ini Hinata dan Hanabi Hyuuga. Sekarang mereka akan tinggal serumah dengan kita." Itu yang dikatakan kakeknya ketika mereka pertama kali bertemu. Dia tidak merespon, bahkan ketika cubitan kakeknya semakin keras.

"Sai! Kau harus menyapa mereka! Jangan diam saja seperti itu," perintah kakeknya.

Sai menatap mereka satu persatu, seperti yang dia lakukan kalau sedang menilai orang. Kemudian dia berkata singkat, "Halo."

Hinata—sang kakak—membungkuk dan berkata, "Ha-halo, Sai-san," sedangkan Hanabi tidak tersenyum. Sepertinya gadis kecil itu sudah terlanjur sebal dengan tingkah Sai.

"Baguslah, kalian sudah saling mengenal. Kalau begitu, aku harus kembali ke kantor dulu," kata kakeknya senang. "Bermainlah dengan mereka, Sai. Ajak mereka jalan-jalan berkeliling rumah."

Kakeknya membalikkan badannya, bersiap untuk pergi, namun baru beberapa langkah sang kakek berjalan, dia kembali menengok ke belakang. Tampak cucunya itu masih berdiri di tempat yang sama, menatap kakak beradik Hyuuga dengan ekspresi dingin. Kakek itu kembali mendekati anak-anak kecil itu.

"Sai, kenapa tidak bermain? Malah diam saja seperti ini…"

Sai menoleh.

"Aku masih bingung. Ada banyak pertanyaan di kepalaku, dan aku tidak bisa menemukan jawabannya. Sepertinya aku harus beristirahat untuk memulihkan pikiranku, jadi aku tidak bisa bermain dan mengajak mereka jalan-jalan berkeliling rumah, jii-sama."

Anak itu memutar badannya dan berjalan menjauh, meninggalkan tiga orang yang melongo mendengar ucapannya.

Kakek itu menggeleng-gelengkan kepala, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Hinata dan Hanabi. Ekspresinya yang kesal berubah seratus delapan puluh derajat.

"Nah, Hinata-san, Hanabi-san, sepertinya kalian harus berjalan-jalan sendiri, karena kakak angkat kalian sepertinya masih—yah… aku tidak tahu dia sekarang sedang bagaimana. Tapi yang pasti, selamat datang di rumah kami."

Hinata tersenyum, dan Hanabi hanya mengangguk sekali. Namun hati mereka sama-sama bahagia mendapat sambutan hangat dari kakek angkatnya itu.

"Ehm… Danzo-sama, bolehkah saya bertanya sesuatu?" tanya Hanabi.

Danzo—sang kakek, mengernyit. "Kenapa memanggil begitu? Kalian bisa memanggilku jii-san."

Pipi Hanabi memerah sedetik, lalu dia buru-buru melanjutkan, "Begini, jii-sama, kami berdua bersekolah sewaktu masih di panti asuhan, apakah nantinya kami masih akan tetap bersekolah di sana?"

Danzo mengernyit sejenak, kemudian menjawab, "Kalian masih tetap bisa bersekolah, Hanabi-san. Akan tetapi, kalian tidak bisa sekolah di sekolah kalian yang lama. Jarak antara rumah ini dan sekolah kalian sangat jauh, dan aku tidak bisa mengantarkan kalian ke sana. Tapi tenang saja, sekolah yang baru jauh lebih baik, dan kalian akan memiliki teman yang banyak. Sai-nii-san akan membantu kalian mencari teman, kalian mengerti?"

Mereka berdua mengangguk.

Hari, minggu, bulan, tahun terus berlanjut. Mereka berada di sekolah yang sama, meskipun beda tingkat. Hanabi di kelas dua, Hinata di kelas lima, sedangkan Sai di kelas enam. Kakak beradik Hyuuga dan Sai tampak saling tak mengenal saat di sekolah. Ketiganya sibuk dengan urusan masing-masing, namun hampir selalu Hinata makan siang bersama dengan adiknya tersayang. Janji Danzo yang mengatakan bahwa Sai akan membantu mereka berdua mencari teman, sama sekali tak terwujud. Malah mereka berdua yang tampaknya memiliki banyak teman dibandingkan dengan Sai.

Hanabi yang berani dan cukup tegas menjadi ketua kelas di semester kedua di sekolah barunya, membuatnya memiliki lebih banyak kenalan baru dan semakin dihormati oleh teman-teman sekelasnya, sehingga dia punya "nama" di sana. Hinata yang pemalu dan pintar namun sangat ramah membuatnya banyak disukai oleh teman-teman sekelasnya, baik laki-laki maupun perempuan, karena sering menolong dan mengajari membuat pe-er. Hampir satu sekolah mengenal mereka, bukan karena mereka anak baru, melainkan mereka baik sekali. Sedangkan Sai… Anak lelaki yang dipaksa pindah juga karena sekolahnya yang lama hanya mau mengajar laki-laki sedangkan kakeknya mau Hinata dan Hanabi yang perempuan satu sekolah dengannya itu hanya bisa menerima nasibnya dengan pasrah. Dia pendiam, kalau diajak bicara sangat tidak nyambung—mungkin karena dia jarang berinteraksi, terutama terhadap perempuan. Lebih parahnya lagi, dia sering sekali bertanya pada teman perempuannya, "Kalian itu apa?" yang membuat teman-temannya illfeel dengannya. Mereka sama terkenalnya, tapi dengan prespektif yang berbeda.

Hinata sering kasihan melihat kakak angkatnya itu, terlebih lagi ketika adiknya malah menertawakannya diam-diam. Namun saat dia mau menemani Sai, dia hanya mendapat sambutan datar.

"Sai-nii-san," panggil Hinata. "M-mau makan bersama ka-kami? K-kebetulan Teuchi-oji-san membuatkan bento untuk kita. Kita r-rencananya mau ma-makan di taman sekolah, Sai-nii-san," Teuchi adalah tukang masak yang bekerja di rumah mereka.

Sai hanya menatap bento itu sekilas, lalu menggeleng. "Aku tidak lapar, Hinata-san, karena aku sudah makan tadi pagi. Makanlah saja dengan Hanabi-san."

Hinata hanya menunduk, sementara Hanabi menatap Sai dengan kejam. Dia segera menarik kakaknya menjauh dari lelaki berambut hitam tersebut.

Di lain waktu, Hinata yang ingin mengeratkan tali persaudaraan dengan Sai mengajaknya belajar bersama. Meskipun itu benar-benar terlaksana, namun apa yang diharapkan Hinata jauh dari kenyataan.

"Sai-nii-san, b-bagaimana dengan soal ini?" tanya Hinata. Meskipun dia sudah tahu jawabannya, dia hanya ingin kakak angkatnya sedikit memperhatikannya.

Sai menoleh, memperhatikan soal itu, lalu menuliskan cara kerja dan jawabannya di kertas dengan hanya berkata, "Ini mudah sekali. Tinggal kalikan bilangan di bawah dengan bilangan di atasnya satu persatu dari paling belakang, kemudian dijumlahkan. Seperti ini. Apa kau sudah mengerti, Hinata-san?"

Gadis kecil itu mengangguk sedih. Dia mengucapkan terima kasih sekilas, sebelum mengerjakan soal lainnya dengan cepat. Setelah semuanya selesai, buru-buru dia meninggalkan Sai di ruangannya sendirian.

Hanabi cuma menghela napas setelah melihat perjuangan kakaknya yang berusaha mempererat hubungan mereka bertiga sebagai saudara. Dia merasa kasihan, namun dia juga tidak mau membantu. Bukan karena dia tidak peduli terhadap kakaknya, namun karena yang menjadi tujuan Hinata adalah Sai, dan Hanabi sudah terlanjur sebal dengan kakak angkatnya itu. Baginya, tidak ada yang perlu diharapkan dari lelaki itu. Mau bilang jujur kepada Hinata, dia takut melukai hatinya. Mau diam saja, sedih melihat kakaknya terluka. Benar-benar simalakama, batinnya.

Suatu hari, Hanabi melihat kakaknya kembali mencoba mendekati Sai. Kali ini gadis kecil itu sedang menemani Sai melukis di taman di rumah mereka.

"A-apa yang sedang Sai-nii-san lukis?" terdengar suara gagap Hinata bertanya.

"Aku tidak tahu," jawab Sai singkat.

Hinata yang membungkuk memperhatikan lukisan abstrak Sai berdiri tegak. Wajahnya terlihat murung, dan perlahan-lahan dia menjauhi anak lelaki itu. Hanabi yang melihatnya cuma menggelengkan kepala.

"Hinata-nee-chan," kata Hanabi suatu hari. "Ada yang mau aku katakan."

Hinata yang sedang melamun sambil melihat langit, menoleh. "A-ada apa, Hanabi-chan?"

"Soal usahamu untuk—apa, ya, namanya? Tapi yang jelas, sebaiknya hentikan saja," kata Hanabi langsung.

Kening Hinata berkerut. "A-apa maksudmu?"

Hanabi buru-buru melanjutkan saat melihat ekspresi kakaknya yang sedih, "Maksudku, kakak angkat yang baik dan polos itu tidak peka dengan kebaikanmu, Hinata-nee-chan. Kau benar, sih, mau mempererat ikatan persaudaraan kita dengan kakak angkat, tapi kalau begitu terus, kau akan makin sakit hati."

Hinata hanya terdiam. Dia sedikit mengiyakan ucapan adiknya, namun sebagian besar bagian pikirannya menyangkal.

"Coba lihat aku. Aku santai saja dengan dia—bukannya tidak mau mengobrol, hanya saja aku memang tidak sedang ada kepentingan dengannya. Kalau perlu, tinggal bicara. Kau berbeda, nee-chan. Kau ingin agar hubungan antara kita bertiga seperti saudara kandung, dan itu tidak salah. Hanya saja, kalau dengan dia, itu akan membutuhkan waktu yang panjang dan tenaga yang besar. Lebih baik kau menjalani hidup seperti air mengalir, seperti aku. Kalau perlu ya tinggal ngobrol, kalau tidak lebih baik diam saja. Seperti itu."

"Ka-kalau begitu, hubungannya tidak bertambah erat, dong, Hanabi-chan…"

"Jangan khawatir. Pasti ada kalanya dia yang pertama kali mengajakmu bicara, Hinata-nee-chan. Ingat kata-kataku ini, lho, ya."

Awalnya dia ragu, namun saat melihat senyuman penuh keyakinan milik Hanabi, gadis itu mengangguk.

—"—

Pintu kamar 205 terbuka. Seorang gadis berambut kecoklatan datang sambil menggendong seorang anak kecil berambut hitam. Di belakangnya, muncul seorang lelaki yang tampak basah kuyup. Sejenak lelaki yang berada di dekat ranjang itu terpaku melihat tamu tak diundang yang datang ke ruangan tempat di mana wanita berambut hitam keunguan itu dirawat, namun setelah melihat siapa yang jadi tamunya, dia tersenyum kecil.

"Kau menyambut kami dengan senyummu yang sangat tidak manusiawi seperti itu, Sai-nii-san?" kata perempuan yang menggendong anak itu dengan kening berkerut. Dia segera menurunkan anak dalam gendongannya, kemudian mendekati ranjang pasien. "Bagaimana dia?"

Sai—laki-laki yang sedari tadi hanya duduk di dekat ranjang—menggeleng. "Tidak ada perubahan. Dia masih seperti enam bulan yang lalu."

Perempuan itu menghela napas berat. Dia menoleh ke arah lelaki yang tadi masuk bersamanya dengan tatapan sedih.

Lelaki itu mendekat dan menepuk pundak gadis itu seraya berkata, "Jangan sedih, Hanabi, aku yakin nee-san-mu pasti kuat, kok. Kau yang paling tahu kekuatannya, dan dia bisa bertahan sampai sekarang, kan?"

Hanabi mengangguk. Dia mengusap matanya yang hampir meneteskan air mata, kemudian dia tersenyum sangat tipis. Dia menatap mata kecoklatan lelaki itu dengan pandangan terima kasih. "Untung kau ada di sini, Konohamaru-san…"

Sementara itu, anak kecil yang dari tadi cuma menatap wanita yang terbaring di ramjang pasien itu memegang tangan Sai. Sai menoleh, kemudian menarik anak kecil itu dalam pelukannya. Dia tidak ingin anak kecil itu melihatnya meneteskan air mata, dia juga tidak mampu melihat mata anak itu yang diliputi rasa sedih.

"Tou-sama…" panggil anak itu, "apa kaa-sama masih belum bangun? Aku kangen ingin mengobrol dengan kaa-sama."

Sai tidak menjawab. Dia cuma mengusap punggung anak itu, seakan mencoba untuk menenangkan sang anak. Padahal yang dia lakukan hanyalah ingin menenangkan hatinya sendiri. Perlahan-lahan, Sai melepaskan pelukannya dari anak itu, lalu tersenyum.

"Mitou-chan, kau tenang saja. Tou-sama yakin kalau kaa-sama akan segera bangun dari tidur panjangnya. Oke?"

Anak itu terdiam sejenak, kemudian mengangguk ragu.

Sai menegakkan badannya, kemudian dia mendekati wajah perempuan yang masih terbaring di atas ranjangnya tersebut. Bisiknya pelan, "Kau mendengar Mitou-chan, bukan? Dia merindukanmu… sama seperti kami semua. Jangan mendiamkan kami, jangan mendiamkanku, Hinata-san, seperti dulu kau pernah melakukannya. Bangunlah, kuatlah, dan lihatlah aku…"

Dua belas tahun yang lalu…

Tidak terasa lima tahun mereka tinggal serumah. Hinata dan Sai berada dalam satu sekolah yang sama, untuk yang ke sekian kalinya. Tidak ada yang memprotes keputusan sang kakek, Danzo, untuk terus menempelkan Hinata pada sang kakak angkat. Sai yang tampak tidak peduli hanya mengiyakan saja ketika kakeknya berkata bahwa Hinata akan kembali masuk sekolah yang sama dengan dia. Sedangkan Hinata yang penurut juga mengangguk saja. Kakeknya senang, namun sang adik mendengus kesal.

"Bagaimana harimu, nee-chan?" tanya Hanabi saat kakaknya baru pulang sekolah.

Hinata tersenyum manis sambil duduk di dekat Hanabi yang sedang melihat kolam ikan.

Hanabi menoleh, namun saat dia ingin menatap kakaknya, tatapannya beralih ke seorang berkulit pucat yang tengah berdiri agak jauh dari mereka, menatap kedua kakak beradik itu dengan tatapan datar. Gadis itu balik menatapnya dengan tatapan dingin, lalu mengangguk sekilas. Dia kembali menatap Hinata.

"Kau pulang lagi dengan dia, nee-chan," ujar Hanabi. "Minggu kemarin juga begitu. Sebaiknya kau berhati-hati…"

Sang kakak terdiam sebentar, kemudian menjawab lambat-lambat, "Sai-nii-san, k-kan kakak kita. D-dan dia kebetulan satu ekstrakulikuler d-denganku."

"Kenapa pilih ekstra yang sama dengannya? Kalau begitu, kau akan pulang dengannya setiap sekali dalam seminggu," kata Hanabi dengan nada datar. "Kau yang mengajaknya?"

Hinata menggeleng cepat. "Ti-tidak."

Gadis berambut coklat itu mengernyit. Dia hanya berkata, "Dia agak berubah, ya, si kakak angkat? Ingat waktu teman-teman jahatmu menguncimu di kamar mandi sekolah? Tapi waktu itu dia masih polos, pakai bertanya segala kenapa kau bisa basah kuyup dan terkunci di sana waktu itu. Sudah jelas karena kau dijahati teman-temanmu yang iri karena kau dikira dekat dengan kakak angkat, dan dia masih bertanya alasannya?"

Hinata tidak berkata apa-apa, membuat suasana di antara mereka terasa sedikit aneh. Lalu dia teringat sesuatu. "B-bagaimana dengan Saratobi… Ko-Konohamaru-san?"

Hanabi menarik napas panjang. "Saratobi itu sangat menggangguku, seperti biasa. Dia berdalih tidak sengaja, padahal kulihat betul tangannya menumpahkan jus jeruk itu di atas mejaku ketika aku masuk kelas. Aku bertanya pada Moegi-san, dan dia malah membela Saratobi. Aku tidak menggubris mereka berdua lagi, dan sekarang aku bersyukur aku punya tugas dengan Udon-san untuk kukerjakan, jadi aku bisa sedikit melupakan hal itu. Tapi hal itu malah membuat Saratobi makin gencar menggangguku."

"A-apa kau pernah bertanya kenapa d-dia seperti itu?" tanya Hinata prihatin. "Mi-misalnya… karena kau p-pernah melakukan kesalahan pa-padanya?"

"Ratusan kali. Dia tidak menjawab, dan seharian itu dia tidak menggangguku. Hari berikutnya, dia kembali melancarkan aksinya."

"Kalau begitu, l-lebih baik coba diamkan saja. Mungkin d-dia akan bosan," ujar Hinata. "Aku d-dulu juga begitu, dan ada Tenten-chan juga."

Hanabi berpikir sebentar, kemudian dia mengangguk. "Akan kucoba. Aku akan bersikap tidak peduli dengannya selama beberapa waktu, dan kalau dia tidak mengangguku lagi, aku akan menraktir Hinata-nee-chan yang sudah mengusulkan ide itu."

Hinata hanya tersenyum saat melihat adiknya tersenyum puas, membayangkan bagaimana esok harinya yang seakan dipenuhi bebungaan yang sangat indah karena tidak ada lagi masa depan suram dengan keusilan sang Saratobi di sana. Diam-diam, Hinata meninggalkan Hanabi yang masih tersenyum-senyum di serambi belakang rumah mereka, berjalan menuju kamarnya di lantai dua.

Sesaat bayangan tentang dirinya yang sudah dua kali pulang bersama dengan Sai membuatnya sedikit malu. Pipinya menghangat ketika mencoba mengingat-ingat kedekatan yang diimpikannya dengan seorang kakak laki-laki meskipun hanya sebentar, jadi kenyataan. Dia membayangkan, sedikit berharap, akan pulang lagi bersama Sai minggu depan, lalu minggu depannya lagi, dan seterusnya sampai Sai tidak bersekolah lagi di sana. Senyumnya terkembang lebar, namun ketika dia mulai ingat akan teman-teman perempuan di sekolahnya, wajahnya berubah sedih.

Saat pertama kali masuk sekolah, batinnya akan berkata bahwa ini akan seperti saat masuk SD atau SMP-nya dulu. Pelajaran yang mudah, guru yang pengertian, dan teman yang banyak serta baik dan ramah. Dia membayangkan makan bersama dengan teman-teman barunya di taman sekolah, sambil mengerjakan pe-er atau tugas bersama. Kadang membayangkan juga untuk bersikap seolah-olah tidak mengenal kakak angkatnya, meskipun pada kenyataannya dia tidak bisa melakukannya.

Namun saat dia benar-benar di kenyataan, suasananya tidak seperti dalam bayangannya. Teman-teman yang perempuan ada yang iri dengannya—bahkan dia tidak tahu kenapa, dan bertingkah seakan Hinata adalah saingannya. Bahkan pernah ketika dia dikurung di dalam kamar mandi selama semalaman, membuat Hanabi dan Sai mencarinya ke seluruh sekolah dan baru menemukannya di fajar hari. Kejadian itu terjadi sehari setelah dia dan Sai pulang bersama untuk pertama kalinya. Gadis itu pernah bertanya kenapa mereka memperlakukannya seperti itu, dan Yamanaka Ino, salah satu dari mereka menjawab:

"Kau itu sok baik dan sok cantik! Pertama kali ke sini, sudah dekat-dekat dengan Sai-senpai," ujar Ino. "Memangnya siapa dirimu? Kau mau kami kurung lagi di kamar mandi?"

Hinata tidak mau menjawab kalau dia adalah adik angkat Sai, maka dia hanya diam. Dan ketika kejadian itu terjadi, kebetulan sang kakak angkat sedang berada di dekat mereka.

"Hinata-san?" panggil Sai.

Ino dan beberapa temannya menoleh ke sumber suara, sementara Hinata malah membeku. Melihat itu, Sai berjalan mendekati mereka, kemudian memposisikan dirinya di depan Hinata, seolah sedang melindungi sang gadis. Keningnya mengernyit bingung saat menyadari mata Hinata lembab.

"Ada apa?" tanya Sai dengan pandangan ingin tahu. Dia menoleh ke belakang. "Ada apa, Hinata-san?"

Hinata menggeleng kepalanya pelan, lalu berjalan menjauhi Sai. Matanya membulat ketakutan, tangannya gemetaran, dan suaranya seakan mencicit saat dia berkata, "T-tidak apa-apa, Sai-nii—ehm—Sai-se-senpai. Sa-sampai jumpa. S-sampai jumpa juga, Ino-san."

Dia bisa menemukan sedikit ketenangan di kelasnya karena ada seorang gadis bernama Tenten yang bersikap baik padanya. Sifatnya hampir sama dengan Hanabi, tegas dan kuat, meskipun Tenten lebih periang. Ketika mereka akrab, hampir tidak ada lagi teman perempuan atau laki-laki yang bersikap jahat pada Hinata. Pernah suatu kali ketika Hinata dihukum karena dikira tidak mengerjakan tugas, padahal tugasnya disembunyikan teman lelakinya, dan setelah itu tidak ada yang melakukan hal itu lagi ketika tersiar kabar lelaki itu masuk rumah sakit gara-gara Tenten memukulnya dengan kemoceng.

Hinata kini bersahabat dengan Tenten, sang gadis dengan cepol dua di rambutnya itu. Mereka ikut beberapa ekstrakulikuler yang sama, di antaranya karate—Hinata terpaksa masuk karena Tenten dan Hanabi menyuruhnya—di hari Kamis, Scientist Club di hari Rabu, dan English Club di hari Sabtu. Selain itu, Hinata juga ikut ekstra Fisika dan Matematika untuk tambahan pelajaran, sementara Tenten juga ikut drama dan basket.

"Hinata-chan," kata Tenten suatu saat, "aku baru tahu sesuatu. Er—sebelumnya, aku minta maaf, ya, kalau tidak sopan."

Hinata yang sedang menulis catatan di bukunya, menoleh dengan pandangan ingin tahu. "A-ada apa, Tenten-chan?"

"Kau tahu ketua umum… Scientist Club?" tanya Tenten ragu. "Itu… ehm, Sai-senpai."

Mata Hinata membulat. Dia mengangguk kaku. "I-iya, Tenten-chan. A-ada apa?"

"Dia kakakmu… benar, kan?" tanya Tenten lagi. "A-aku mendengar kabar dari teman-teman, kalau dia kakakmu, Hinata-chan. Dan, aku melihat kalian pulang bersama waktu selesai ekstra kemarin…"

Pipi Hinata memerah. Dia menelah ludah dengan susah payah, sebelum dia mengangguk pelan. "D-dia… dia k-kakak angkatku dan Hanabi-chan. D-dia bilang padaku… untuk menunggunya se-selesai ekstra, waktu itu. Cuma s-sekali itu saja, kok, Tenten-c-chan. Ti-tidak akan terjadi… l-lagi."

"Eh?" Tenten mengernyit, namun dia tersenyum geli. "Memangnya kenapa kalau pulang bersama terus? Dia kan kakakmu, kalau pulang bersama terus tentu tidak apa-apa, dan malah lebih baik, kan? Kenapa berkata seperti itu, Hinata-chan?"

Hinata tertawa kaku.

"Kau takut… kalau Yamanaka Ino itu akan berbuat jahat padamu?" tanya Tenten tajam. "Gara-gara kau akan terlihat dekat dengan Sai-senpai jika kau pulang bersamanya, kan?"

Tidak ada jawaban. Gadis bermata pucat itu hanya menunduk.

"Sudahlah, Hinata-chan. Aku memang tidak tahu apa-apa antara kau dan Sai-senpai dan Yamanaka, kecuali tentang kau dan Sai-senpai yang bersaudara dan Yamanaka yang salah paham karena cemburu. Tapi aku cuma mau bilang, terserah apa kata orang, yang penting kau melakukan sesuatu yang benar dan baik untukmu. Dan untuk semua orang yang kau sayangi, Hinata-chan."

Sama seperti siang dan malam, semua orang memiliki sisi gelap dan terang. Tanpa Hinata dan Hanabi ketahui, sang kakak angkat hampir selalu memperhatikan mereka ketika mereka berada di rumah megah milik seorang kaya bernama Danzo itu. Dia memperhatikan kedua kakak beradik itu yang tengah menyiram tanaman dan merawat kelinci di kebun rumah itu ketika sore hari sampai matahari terbenam. Dia memperhatikan Hinata yang tengah menyiapkan makan malam bersama dengan tukang masak di rumah itu, Teuchi dan Ayame Ichiraku, juga adiknya yang sedang memberesi ruangan sebelum makan malam dimulai dengan bantuan pembantu yang lainnya. Dia memperhatikan mereka yang tengah belajar bersama di ruang tengah, ditemani oleh kakeknya yang menonton televisi sambil sesekali ikut mengajari. Dia memperhatikan mereka… ingin bergabung bersama mereka. Sangat ingin.

Namun selalu saja ada penghalang bagi niatnya itu. Rasa canggungnya yang bercampur dengan ketakutan setiap kali melihat mata Hanabi yang menembus tulangnya membuatnya enggan. Mungkin Hinata sedikit menolongnya, tapi dia tidak tahu bagaimana cara bergaul dan berbicara dengan baik sehingga setiap kali gadis itu melontarkan kebaikan, dia tidak bisa menyambutnya. Sekarang malah gadis itu mulai bersikap pasif, meskipun tidak separah adiknya. Kakeknya yang terus menempelkan kedua kakak-beradik itu padanya membuatnya keadaannya bertambah buruk.

"Sai-nii-san…"

Sai berbalik, menemukan Hinata yang berdiri sambil memegang nampan berisi sup dan lauk-pauk. Dia menoleh ke belakangnya, lalu menyadari bahwa Hanabi—yang sedari tadi diperhatikannya sedang menyapu lantai—sudah tidak ada.

"Ma-makan malam sudah siap, Sai-nii-san," kata Hinata dengan nada bergetar, kemudian berjalan melewatinya.

Lelaki itu terdiam selama beberapa detik. Detik berikutnya, dia sudah berbalik dan memanggil nama gadis itu, membuat Hinata menoleh ke arah Sai.

"A-ada apa?" tanya Hinata.

Awalnya Sai agak ragu, namun dia tetap nekat bertanya, "Kau… apa Uzumaki Naruto itu satu kelas denganmu? Uzumaki yang tinggal sendirian di apartemen di blok dekat rumah kita. Yang katanya jadi calon kapten sepak bola setelah kapten yang lama cidera berat di betisnya beberapa waktu yang lalu."

"E-eh?" Mata pucat Hinata membulat detik itu juga. Bukan karena Sai yang mengatakan informasi tak penting tentang Uzumaki Naruto dengan nada polosnya kepada Hinata, tapi karena dia mengucapkan kata 'Uzumaki Naruto' itu. Sebelum dia berhasil menguasai emosinya, sang kakak angkat kembali berbicara.

"Apa lelaki itu menyukaimu? Aku mendengar dari Yamanaka Ino kalau dia menyatakan perasaannya padamu beberapa waktu lalu."

Gadis itu membeku. Namun kali ini dia merasa ada yang janggal dengan nada suara yang digunakan Sai.

"Apa kau menerima pernyataannya?"

Hinata tidak menjawab. Gadis itu balik bertanya, "A-aku—me-memangnya… ada a-apa, Sai-nii-san?"

Sai menggeleng. "Tidak ada apa-apa."

Lelaki itu kini berjalan, namun ketika tepat berada di sebelah Hinata, Sai berhenti, lalu berkata lirih, "Apa… kau menyukainya, Hinata-san? Kau akan menerima perasaannya?" kemudian dia kembali melanjutkan langkahnya. Menjauhi Hinata yang berdiri kaku dengan nampan bergetar di tangannya.

Sai tiba di meja makan lebih dulu dari pada Hinata, membuat Hanabi dan Danzo sedikit curiga. Danzo cuma menatap Sai dengan pandangan menuduh, sementara Hanabi yang stok kesabarannya memang kecil itu langsung menyerang dengan nada dingin, "Mana Hinata-nee-chan?"

"Masih di dapur, kurasa," jawab Sai ringan.

"Jii-sama menyuruhnya untuk memanggil dirimu, sekalian mengambil makanan yang masih ada di dapur. Kenapa tidak datang sama-sama?" tanya Hanabi lagi.

"Aku tidak tahu. Aku mengobrol sebentar dengannya, kemudian badannya gemetaran. Padahal aku hanya bertanya tentang seseorang yang menyatakan perasaan padanya," ujar Sai polos. "Karena aku lapar, aku segera ke sini."

Hanabi tidak percaya begitu saja. Dia berdiri, membungkuk sekilas pada Danzo, kemudian menyusul Hinata. Sementara tatapan Danzo ke arah Sai makin tajam.

"Apa?" tanya Sai bingung.

Sang kakek menggeleng pelan.

Hari demi hari berlalu. Sejak Sai bertanya pada Hinata soal laki-laki bernama Uzumaki Naruto itu, hubungan rapuh antar saudara angkat yang terjalin dengan susah payah di antara Sai dan Hinata mulai merenggang. Hinata tidak lagi mencoba untuk dekat dengan Sai, dan Hanabi tidak perlu lagi mengingatkan setiap kali sang kakak mulai kelewatan seperti biasa. Dia tidak pernah bicara lebih dulu dengan Sai, dan setiap Sai bicara dengannya, secepat mungkin dia ingin mengakhiri pembicaraan itu. Setiap bertemu di sekolah atau di ekstrakulikuler, Hinata sama sekali menganggap bahwa dia tidak mengenal Sai, atau paling tidak menganggap sebatas kakak kelas. Rasanya ada yang aneh, batinnya. Dia agak merasa bersalah, tapi tidak tahu kenapa.

Sementara Sai yang dari dulu memang tidak melakukan apa-apa dengan ikatan itu, sekarang malah merasa sedikit kehilangan. Setiap minggu, paling tidak, dia mengajak Hinata pulang ke rumah sekali, namun sekarang gadis itu selalu menolak dengan berbagai alasan. Malah sekarang dia bersama dengan Yamanaka Ino yang dengan senang hati mau menemaninya. Memang sedikit janggal, tapi dia tidak bisa mengetahui kenapa demikian.

Hanabi yang mengetahui hal itu tidak senang sama sekali. Dia memang ingin kakaknya tidak terlalu baik dengan Sai, tapi bukan berarti menjauh. Setelah melihat Sai yang sudah agak terbuka dengan mereka, Hanabi mulai respect dan tidak terlalu ketus dengan Sai. Tapi di saat yang bersamaan, Hinata mulai menjauh.

"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Hanabi pada dirinya sendiri. Dia melihat sekeliling, bersyukur tidak ada orang di kelasnya saat itu. Matanya menerawang langit lewat jendela di sampingnya."Hinata-nee-chan dan kakak angkat sepertinya sedang musuhan. Kalau dulu, tidak apa-apa. Tapi sekarang… ketika aku mulai ikut-ikutan Hinata-nee-chan untuk baik pada kakak angkat, dia malah menjauhi kakak angkat. Siapa yang benar, dan siapa yang salah sekarang? Siapa yang harus kubela?"

"Bicara sendiri…? Dasar aneh," sahut sebuah suara tepat di depannya.

Hanabi menoleh. Wajahnya berubah dingin detik itu juga. "Saratobi Konohamaru. Mau apa kau?"

Lelaki yang dipanggil Saratobi itu tidak tersenyum seperti ketika dia ingin menjahili gadis di hadapannya itu. Tatapannya menjadi serius. "Kelopak bawah matamu menghitam, sepertinya kau kurang tidur, ya? Banyak pikiran?"

Gadis itu terdiam, kemudian mengangguk. "Iya. Kalau tahu, sebaiknya untuk sementara jangan ganggu dan jangan dekati aku dulu."

"Aku tahu. Aku tidak akan mengganggu, tapi aku tidak bisa tidak mendekatimu."

Kening Hanabi berkerut. Dia hanya mengangkat bahu, kemudian kembali memandang langit.

Konohamaru cuma memandangi Hanabi. Menatap setiap inci wajah mungil Hanabi yang dingin, setiap helai rambut kecoklatan Hanabi yang hampir sewarna dengan rambutnya. Karena bosan, dia beranjak dari kursinya dan berjalan menjauhi gadis itu. Sesaat sebelum dia meninggalkan kelas, dia berbalik sebentar ke arah Hanabi, lalu tersenyum kecil.

Hanabi masih bingung dengan nasib keluarga barunya itu. Danzo tidak bisa membantu, karena Hanabi tidak mau kakeknya kena serangan jantung karena lagi-lagi ada "perang" di antara cucu-cucunya—Danzo sudah tahu tentang Hanabi yang sebal dengan Sai, dan Hanabi tidak mau menambah kegalauan Danzo dengan hal ini. Sekarang, baginya, antara Sai dan Hinata, adalah urusan pribadi dan bukan tanggung jawab Danzo. Dan sebagai adik yang pengertian dan bertanggung jawab—baik sebagai adik angkat ataupun adik kandung—dia harus menyelesaikan urusan ini.

Namun takdir berkata lain. Sampai ketika Sai mau lulus dari sekolahnya pun, Hanabi tidak bisa membuat mereka berdua akur lagi. Dia sudah berusaha untuk terlihat ramah pada Sai di hadapan Hinata, seakan mencoba mengingatkan gadis itu kalau dia pernah begitu dan harus tetap begitu. Dia bersikap ceria di hadapan Hinata saat ada Sai, seakan ingin menunjukkan bahwa mereka adalah keluarga harmonis dan harus selalu seperti itu. Meskipun itu bukan dirinya, tetap saja dia ingin berusaha. Dia minta bantuan pada semua orang di rumahnya—kecuali Danzo, pada Tenten, bahkan pada Konohamaru. Dia minta ribuan saran, dan melakukannya dengan penuh perjuangan. Lalu hasilnya, nol.

Suatu hari, Danzo mengumpulkan mereka di ruang keluarga. Tidak hanya Hanabi, Hinata, dan Sai, melainkan juga para pembantu yang bekerja di sana. Suasana di sana sangat khitmat, tenang, dan sedikit membuat merinding. Seakan-akan ada orang yang baru saja meninggal.

"Kalian kukumpulkan di sini," ujar Danzo dengan suara beratnya. "Karena ada satu hal yang ingin aku katakan pada kalian semua."

Hanabi mengernyit bingung, Sai memandang dengan wajah datar, sementara Hinata menatap kakeknya dengan pandangan takut. Yang lainnya tidak berekspresi apa-apa karena penasaran.

"Ini soal Sai, yang mau lulus sekolah," kata Danzo lagi. "Dan soal universitas apa yang akan dia ambil nantinya. Benar, kan, Sai?"

Sai mengangguk, lalu dia berkata, "Aku… suatu hari nanti, aku akan menggantikan peran jii-sama di perusahaannya. Namun aku juga memiliki cita-cita sendiri, yaitu menjadi seorang arsitek, sekaligus mengembangkan hobiku yang suka melukis. Dan kebetulan, aku mendapat beasiswa dari sebuah universitas… di Jerman."

Semua orang di sana berkata, "Oh!" secara bersamaan, kecuali Hinata dan Danzo. Danzo yang sudah tahu hanya mengangguk sedih, sementara Hinata menatap Sai dengan pandangan sangat tidak percaya. Untuk pertama kalinya sejak mereka jarang berbicara, Hinata benar-benar menatap mata hitam milik Sai.

"Aku sudah membicarakan dengan jii-sama sebelum ini," lanjut Sai. "Sebetulnya, dia tidak setuju, karena khawatir dengan Hinata-san dan Hanabi-san yang akan kutinggal. Dan tentang perusahaannya juga. Namun setelah kuyakinkan bahwa mereka adalah… adik-adik yang kuat, aku akhirnya diperbolehkan."

"Sai akan pergi sekitar seminggu setelah dia mendapatkan ijazah dari sekolah. Tapi sebelumnya dia akan mendapatkan surat kelulusan dulu beberapa hari sebelumnya. Dan dia akan mendapatkan surat kelulusan sesudah acara perpisahan sekolah. Kemungkinan… kemungkinan perpisahan sekolah akan diadakan setelah—"

"Bisakah jii-sama tidak bicara berbelit-belit?" protes Hanabi dengan suara bergetar menahan tangis. "Kapan dia akan pergi?"

"Kira-kira sebulan lagi," ujar Sai kalem.

Sai kini menatap wajah semua orang di sana satu persatu, kemudian berakhir ke Hinata yang tepat berada di sampingnya. Senyumnya terkembang, dan dia merasa kalau senyumnya ini benar-benar manusiawi, karena Hanabi tidak berjengit seperti biasanya.

"Hinata-san…" panggilnya.

Tidak seperti kemarin-kemarin, Hinata tidak berusaha mengalihkan pandangannya. Mata pucatnya terus menatap mata Sai, seakan mencoba mencari jawaban yang bahkan tidak ingin dia tanyakan.

"Aku akan kembali," janjinya, entah pada Hinata atau pada semua orang. "Jangan bosan menungguku, oke?"

—"—

Mitou hanya terdiam sambil memandangi wajah Hinata yang pucat dan tidak bergerak. Tatapannya kosong, meskipun harapan besar akan kesadaran ibunya terpampang jelas di matanya. Tangannya mengelus-elus rambut halus milik sang ibu dengan perlah-lahan, seakan takut akan merusak kecantikan rambut itu dengan tangannya yang mungil. Bibirnya tidak tersenyum, namun dia juga tidak meneteskan air mata. Hanabi yang melihat hal itu, merasa lemas dan tak bertenaga. Dia hanya memandangi ibu dan anak itu dengan pandangan kasihan.

Tok-tok!

Semua yang berada di ruangan itu—kecuali Hinata, tentu saja, menoleh ke arah pintu. lewat pintu itu, seorang lelaki tua dengan tongkat di tangannya berjalan memasuki ruangan putih itu dengan tubuh bergetar. Hanabi mendengus pelan, Sai mengernyit, Konohamaru berdiri dari kursinya dengan tatapan setengah tak percaya setengah geli, dan Mitou berlari menyambutnya.

"Kakek buyut!" seru Mitou. "Kakek buyut datang ke sini juga?"

Danzo tersenyum saat melihat cicitnya menyambutnya, namun senyumnya menghilang detik itu juga setelah melihat orang lain di dalam itu justru terlihat tidak sesenang Mitou. Dia berjalan mendekati Hinata terlebih dulu dengan Mitou yang menggelayut di salah satu kakinya—membuatnya menanggung beban sepuluh kali lebih berat—kemudian baru menatap satu persatu wajah milik Hanabi, Sai, dan Konohamaru.

"Kenapa dengan wajah kalian?" tanyanya ketus. "Harusnya kalian senang aku datang, bukan?"

"Kenapa jii-sama datang ke sini? Bukannya jii-sama kemarin bilang kalau jii-sama kena encok? Katanya punggungnya pegal-pegal seperti baru jadi tukang bangunan, begitu?" Hanabi balik bertanya dengan nada yang sama.

Danzo mencibir. "Aku kangen dengan salah satu cucuku, salah, ya? Semalam aku bermimpi kalau Hinata-chan akan bangun, makanya aku inisiatif datang ke sini."

Hanabi tidak menggubris perkataan kakeknya, malah dia berjalan menuju ke dekat jendela besar yang terpasang di ruangan tersebut. Dari sana, dia bisa melihat matahari sore dengan jelas. Dia bisa melihat pemandangan kota yang mulai berhiaskan lampu-lampu. Tatapannya kembali sendu.

Sai dan Konohamaru kembali duduk di sofa dan melanjutkan perbincangan mereka lagi. Namun Sai masih memikirkan perkataan Danzo. Kalau benar Hinata bangun dalam mimpi kakeknya, bukan tidak mungkin dia akan bangun dalam dunia nyata.

Sementara itu, Danzo dan Mitou yang masih berada di samping ranjang Hinata menatap wajah wanita itu dengan tatapan penuh harap. Danzo memang semalam melihat Hinata bangun dalam komanya, dan memanggilnya dengan sebutan jii-sama. Ada Hanabi dan Sai di sana, dan Hinata memanggil mereka sama seperti ketika mereka masih kecil dulu. Hanabi-san dan Sai-nii-sama. Sai-nii-sama…?Jujur, itu membuatnya sedikit khawatir, karena semenjak Hinata dan Sai menikah, Hinata tidak pernah lagi memanggil Sai dengan sebutan nii-san, melainkan dengan suffix –kun.

Danzo mulai menerawang ke pikirannya sendiri, sementara Mitou masih asyik memandangi Hinata sambil tersenyum kecil. Dia memegang tangan ibunya yang tidak terbalut infus, kemudian menatap mata ibunya yang tertutup. Namun senyumnya langsung memudar ketika melihat bulu mata Hinata bergerak-gerak tipis.

Mitou mendekati wajah Hinata, mencoba untuk mengamati lebih dekat. Dan baru beberapa senti dari tempatnya semua, tangannya yang menggenggam tangan ibunya bisa merasakan jemari Hinata yang sedikit bergetar. Mitou menggenggam tangan Hinata lebih erat, sambil berdoa, sambil mencoba melihat gerakan dari ibunya.

"Bangun, kaa-sama…" bisiknya. "Bangunlah."

Danzo yan mendengar bisikan Mitou kembali sadar dari lamunannya. Dia buru-buru menatap wajah Hinata, dan ketika matanya baru mulai fokus, mata Hinata terbuka perlahan-lahan, menampakkan bola matanya yang ungu pucat.

Mitou menjerit senang, membuat Sai, Hanabi, dan Konohamaru kaget dan langsung menghampiri ranjang Hinata. Hanabi yang menyadari bahwa kakaknya sudah sadar langsung menangis, tanpa sadar memegang tangan Konohamaru yang kebetulan berada di sampingnya, membuat lelaki itu salah tingkah. Sai mendekati wajah Hinata, dan memanggil nama gadis itu berulang-ulang sambil menahan haru.

Hinata melihat sekelilingnya, setengah bingung saat berusaha menangkap informasi tentang di mana dia sekarang ini, dengan siapa saja dia berada di sini. Senyumnya mengembang ketika dia melihat Danzo, lalu Kohonamaru dan Hanabi, kemudian Mitou—meskipun senyumnya menjadi sedikit ragu—dan bertambah lebar ketika matanya bertemu dengan mata Sai.

"Hinata-san," panggil Sai dengan kebahagian tak terbendung. "Kau kembali."

Bibir Hinata terbuka perlahan, dan dia berbisik pelan, "Sai… nii-san?"

Senyum Sai menghilang detik itu juga.

.

To be continue…

.


Author's note: This story was created to fulfill a request from Azure Vainamoinen a.k.a Regita (^^) sorry made you waiting for a very long time… I hope you sastified

.