Buat Ginger, chapter ini seperti cooling down. Belum ada masalah yang muncul. Tapi, yakinlah, seyakin kita percaya EXO akan comeback (dan akhirnya memang) dan seperti saya percaya bahwa suatu hari nanti CL akan debut solo (dan terbukti), bahwa chapter depan... Tidak akan se-cooling down ini. Terimakasih, dan selamat membaca!

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Title : Do for Kai

Episode : 11

Cast :

- Do Kyungsoo (women),

- Zhang Yixing as Do Yixing (women)

Support Cast :

- Park Chanyeol as Chanyeol (men),

- Xi Luhan as Luhan (women),

- Kim Jongin as Kai (men),

- Byun Baekhyun as Baekhyun (women)

Cameo :

- Bang Yongguk as Yong Guk (men),

- Pyo Ji Hoon as Ji Hoon (men),

- Kim Taeyeon as Taeyeon (women),

- Jang Wooyoung as Jang Wooyoung (men),

- Kim Hyoyeon as Hyoyeon (women),

- Im Yoona as Yoona (women)

Genre :

Romantic, Family, Drama, Comedy

Rating :

T, amanlah pokoknya. Kecuali kalo Kai sudah mulai beraksi, itu bisa berubah lagi.

Inspired by:

Grey's Anatomy and Ai To Makoto (for Love's Sake)

Disclaimer :

Kita semua punya Tuhan. Tuhan punya kita. Cerita punya saya, dan Tuhan. #plak

.

.

- Do For Kai -

.

.

"Besok, kau pulang ke Hanh?"

"Hm."

Yongguk dan Yixing saling bertukar pandang dan tersenyum, mereka lalu kembali ke pekerjaan utama mereka dilantai yaitu membantu Ji Hoon, yang sekarang pergi entah kemana, menyelesaikan essai bahasa Inggris tentang otot tendonnya.

"Ji Hoon pasti merindukanmu." Kata Yongguk menggidikkan bahunya. Yixing hanya tertawa pelan.

"Aku juga pasti akan merindukan Kkami." Ujarnya singkat.

Ji Hoon lalu masuk ke ruangan, membawa dua buku tebal. Saat Yixing bertanya milik siapa buku tersebut, Ji Hoon menjawab malu bahwa buku itu milik noonanya. Senyum gadis itu mengembang, itu berarti Ji Hoon telah siap untuk 'belajar mandiri' di Kkami. Tidak seperti sebelumnya, selalu mengandalkan Yongguk untuk menyelesaikan tugas tugasnya yang gampang.

Atau mungkin ini yang pertama dan terakhir untuk Yixing.

"Yixing." Suara ringan memanggil namanya dari pintu, Yixing mendongak. Begitu juga dengan Ji Hoon dan Yongguk meskipun nama mereka bukan Yixing.

"Ya, Ren?" tanyanya.

"Mm… Seseorang memanggilmu." Ren, pemuda berwajah manis itu menatap Yixing dengan senyum manisnya. Yixing salah tingkah sendiri ketika mendekatinya yang sedang menyembunyikan beberapa helai rambut panjang dibelakang telinganya.

"Siapa?"

"Taeyeon, dari jurusan keperawatan."

Yixing mengangguk mengerti dan berterimakasih pada Ren. Ia lalu menyembulkan kepala keluar dari pintu, wajahnya yang ingin tahu berubah jadi wajah malas dengan menghela nafas panjang. Ia melangkah keluar dan menyandarkan pundak di salah satu daun pintu ketika melihat Taeyeon tengah berlovey-dovey ria dengan seorang mahasiswa-Kkami-yang-Yixing-tak-tahu-namanya, berambut perak dan punya mata kecil.

"Oh, Yixing." Taeyeon terkesiap saat melihat Yixing menatapnya dengan senyuman kau-sedang-apa nya. Gadis itu mendorong pemuda itu sedikit menjauh. Lalu dalam sepersekian detik saling bertukar pandang antara Taeyeon dan Yixing, pemuda itu pergi sambil mengisyaratkan 'call me' tanpa suara.

Saat pemuda itu pergi, Yixing menaikkan satu alisnya.

"Hanya bertukar nomor telfon." Ujar Taeyeon dengan gestur seakan akan tidak terjadi apa apa. Yixing lalu menaikkan kedua alisnya,

"Kami janjian untuk bertemu akhir pekan ini." Taeyeon mulai berkacak pinggang. Yixing melipat tangan di depan dada dan kali ini wajahnya berkata katakan-padaku-yang-sejujurnya. Taeyeon menghela nafas keras dan memutar matanya malas seperti tidak punya pilihan.

"Oke oke! Dia memang pacarku! Kau puas?!" kata Taeyeon setelah mengusap wajahnya geram karena rahasianya terbongkar. Yixing menyandarkan satu pundak di daun pintu kembali, mengerutkan kening seakan akan berpikir.

"Sudah berapa lama?" tanyanya.

"2 Minggu."

"Namanya?"

"Wooyoung. Jang Wooyoung."

Jeda sebentar, Yixing membuka bibir dan memainkan lidah di dinding dalam bibir bawahnya. Hebat sekali, 2 minggu, sudah punya pacar preman, mau keluar lagi weekend ini. Meratapi nasib sekejap, sudah bertahun tahun, dan Yixing masih belum pernah ngedate dengan Junmyeon.

"Oh."

Yixing hanya mengangguk dan membalikkan badan, jangan sampai Taeyeon memanggilnya cuma untuk membuatnya melihat acara hampir ciuman tadi dan bermaksud secara tidak langsung pamer padanya kalau dia sudah punya pacar sementara Yixing masih bergantung harapan.

"Eh. EH YIXING!" Taeyeon segera berjalan mengejar Yixing, dan menarik tangannya untuk keluar. Yixing lalu menatapnya tanpa ekspresi,

"Kalau unnie hanya memanggilku cuma untuk pamer pacar baru. Sayang sekali. Esai Ji Hoon lebih menari─,"

"Eyyy.. Tidak tidak! Kau ini bilang apa sih? Bilang saja cemburu belum punya pacar."

"Aku benar benar akan masuk," Yixing kembali membalik badan dan Taeyeon kembali menahannya.

"Oke oke, bercanda. Aku akan bilang pada Junmyeon untuk segera melamarmu," wajah Yixing memerah singkat. Beruntung Taeyeon tak memperhatikannya.

"Anyway, kemarin aku melihat Kyungsoo di lapangan─,"

"Aku juga."

"Aish! Jangan dipotong dulu!" sergah Taeyeon, Yixing mengangguk dan memandang ke arah lain. Ia tahu sepertinya Taeyeon akan terkejut dengan kelakuan Kyungsoo yang ternyata diluar batas. Bahwa Yixing gagal mencegah Kyungsoo berbuat nekat seperti itu adalah hal yang juga pasti dikatakan oleh gadis bermata kecil ini.

"Oke. Kupikir kemarin saat melihat Kyungsoo berada di lapangan yang dipenuhi banteng itu adalah kesalahan. Tapi kali ini, aku benar benar bersumpah, demi apapun, demi kau dan Junmyeon pacaran," Yixing melemparkan pandangan, Taeyeon meringis dan melanjutkan,

"Aku melihatnya mengikuti pelajaran di kelas Seni."

Yixing mengerutkan kening, dan berkata, "apa?"

"Iya. Tadi waktu aku istirahat, aku iseng melewati kelas Seni dan aku melihatnya! Aku tak mungkin lupa wajah temanku sendiri kan?" kata Taeyeon meyakinkan, sedangkan Yixing membeku.

"Kau yakin? Maksudnya, dia bukan..,"

"Yixing, aku yakin. Diantara para manusia yang ada di kelas itu. Hanya ada seorang gadis berambut panjang yang ada di barisan depan mencatat segala yang dikatakan dosen di depan kelas. Aku tak ingin berpikir bahwa itu adalah Kyungsoo, tapi kenyataannya," Taeyeon menggantung akhir kalimatnya. Membiarkan Yixing yang tampaknya bingung dengan keadaan barusan.

"Astaga." Yixing lalu sadar dari acara terkejutnya, dan mulai berjalan cepat dengan menarik Taeyeon, "kalau kemarin dia sedang mengumpankan dirinya pada banteng. Sekarang, dia berlagak mau jadi matador?!"

- Do For Kai –

Luhan berjalan pelan menyusuri lorong rumah sakit yang sepi, sesekali tersenyum pada perawat yang lewat. Senyumnya masih mengembang meskipun para perawat itu seringkali tak membalas senyumannya. Terlalu sibuk dengan dokumen di tangan menyangkut nyawa orang lain. Luhan tak masalah dengan itu.

Toh, dia sudah biasa tak dianggap ada.

Sesampainya di sebuah pintu yang tertutup, Luhan melongok ke kaca yang ada di sana. Memandang seseorang masih terbaring tak sadarkan diri diatas tempat tidur. Dengan perlahan, ia mendorong pintu terbuka. Memeluk erat sebuket mawar kuning yang ada di salah satu tangannya, senyumnya terkembang tatkala bisa memandang Kai yang masih setia menutup matanya.

Senyuman Luhan lalu menghilang, wajanya berubah jadi muram saat melihat sebuah vas bunga berisi mawar warna merah muda. Ia memandang bunga bunga itu sengit, bagaikan tengah meneriakkan kebencian yang teramat mendalam. Luhan mendekati vas itu, menaruh buket bunga di tangannya dengan lembut di sebelahnya.

Luhan tak berkata apa apa, ia lalu mengambil semua mawar yang ada di vas. Tatapannya masih memberikan pandangan benci. Tanpa memperdulikan tetesan air yang membasahi lantai, ia membawa bunga bunga itu menuju jendela.

"Menyedihkan." Desis Luhan. Ia membuka jendela lebar lebar, lalu melihat ke lantai dasar dan tersenyum senang.

"Mawar yang berarti simpati," ia menjatuhkan satu tangkai ke bawah,

"Harapan," menjatuhkan satu lagi,

"Dan semoga cepat sembuh." Lalu menjatuhkan semua mawar ke bawah. Terdengar suara 'grasak' kasar di aspal jalan. Ia tertawa tanpa perasaan, senang telah menjauhkan mawar yang punya arti tulus yang terselubung seperti itu. Memberikan arti berharap ada harapan yang diberikan, memberikan kasihan yang tak dibutuhkan dan memeberikan rasa manis agar ia cepat bangun.

"Kau menyedihkan, Do Kyungsoo." Kata Luhan lalu menutup jendela, berjalan menuju mawarnya untuk dimasukkan dalam vas. Berpikir mawarnya yang lebih pantas di sana.

"Wanita menyedihkan."

Beranggapan bahwa dialah yang lebih pantas bersama Kim Jongin.

- Do For Kai -

Kelas baru Kyungsoo sudah selesai beberapa menit yang lalu, volume lalu naik berkali kali lipat dengan suara tawa, hisapan rokok hingga lemparan bola. Kyungsoo masih tenang mencatat tentang sejarah Mozart di notes barunya (itu karena dosen memintanya melakukan hal tersebut, dikarenakan si dosen sendiri tak tahu sejarah Mozart), masih tersenyum hingga membubuhkan titik terakhir.

Kyungsoo lalu berjalan menuju ke depan kelas setelah menutup bukunya. Ia lalu berdiri di belakang meja dosen, memandang teman teman sekelasnya yang baru tengah sibuk dengan dunianya masing masing. Bahkan mungkin jika Kyungsoo bunuh diri di depan mereka, tak akan ada yang sadar.

"Selamat siang." Kata Kyungsoo pada keramaian. Mereka masih tak peduli. Kyungsoo menarik nafas, gadis mungil itu lalu berteriak sedikit keras.

"Selamat siang!" teriaknya. Tidak ada tanggapan. Bola, umpatan, dan majalah masih jadi topik menarik untuk mereka. Kyungsoo kembali menarik nafas, berteriak agak keras.

"Selamat siang!" Kyungsoo berteriak kembali. Respon dari manusia manusia di depan Kyungsoo masih apatis. Harus dengan cara brutal juga sepertinya Kyungsoo menyapa mereka,

"SELAMAT SIANG!"

"SELAMAT SIAAANNNGGG!"

"SSSEEEELLLLAAAMMAAAT SSII..ang." suara keras Kyungsoo mengecil ketika sadar tidak ada suara lain selain lengkingan paksa dari tenggorokannya. Seluruh penghuni kelas menatapnya dengan kening berkerut.

"Selamat siang." Kyungsoo buru buru menunduk sempurna, tapi tak ada tanggapan. Saat ia berdiri tegak, matanya berlari ke sekeliling kelas. Memandang satu persatu orang yang melihatnya aneh, padahal kalau mau berkaca mereka tak lebih aneh dari Kyungsoo.

Itu pun kalau arti 'aneh' sudah berubah.

"Kau." Gadis berambut pirang panjang, Hyoyeon, yang mengunyah permen karet menunjuk Kyungsoo dengan dagu lancipnya, "mau apa?"

"A-aku, hanya ingin mengenalkan diri." Kata Kyungsoo, menatap semua orang dengan kedua mata besar, belum masuk ke puppy eyes, "namaku.. Do Kyungsoo. Aku murid pindahan dari Hanh."

Hyoyeon saling menatap dengan teman satu gengnya, lalu memusatkan pandangan pada Baekhyun yang menatap Kyungsoo intens. Pemimpin geng itu berdiri, menyuruh Hyoyeon untuk minggir.

"KAU!" teriak Baekhyun menunjuk Kyungsoo yang satu meter jauhnya, "KAU KEMARIN YANG AD A DILAPANGAN KAN?!" hardiknya.

Kyungsoo menaikkan alisnya terkejut, tentu saja ia yang ada di lapangan. Tapi kenapa gadis ini harus semarah itu?

"I-iya. Ak─"

"Berani beraninya kau memeluk KAI!" ucapnya lagi. Sentakan tinggi di kata terakhir membuat teman teman yang berada dibelakangnya saling melirik. Bertanya dalam pikiran, lalu apakah itu menjadi sebuah masalah kalau gadis kecil di depan kelas itu memeluk orang yang dulu hampir pernah menjatuhkan dirinya dari lantai 2?

"Iya." Kali ini Kyungsoo tak gemetar, entah karena mendengar nama Kai rasa takutnya menghilang. Kata kata 'Iya' begitu kuat dan meyakinkan. Baekhyun menggeram kesal dan maju selangkah lebih dekat, sebelum ia bisa membuat mulut, Kyungsoo berkata,

"Karena Kai adalah orang yang berharga untukku." Ucapnya pelan, tersenyum saat ia teringat tentang ciuman di kening Kai saat akan pergi ke Kkami pagi ini. Ia lalu memandang Baekhyun yang menatapnya marah.

"Hah!" Baekhyun berteriak menunjukkan ketidak puasan, "hanya kau yang berpikir begitu 'kan! Hanya kau yang merasa seperti itu! Buktinya Kai bahkan tak ingin kau sentuh kemarin!"

Hyoyeon melirik Yoona, mengerutkan kening tak mengerti. Baekhyun memang sangat suka kalau ada perkelahian di lapangan, tapi kenapa sangat detail seperti itu? Ini pertama kalinya dia mengomentari sesuatu yang tidak berhubungan dengan 'pukul-tendang-patahkan-berdarah'.

"Tidak. Kai juga menganggap aku adalah orang yang berarti untuknya," kata Kyungsoo tersenyum memandang lantai, "kami saling memiliki satu sama lain."

"AP─,"

"BOHONG! Kyungsoo dan Kai tidak punya hubungan apapun, tolong jangan salah paham!"

Chanyeol, pemuda tinggi berkacamata itu datang dengan nafas terengah engah. Ia lalu masuk ke ruangan, berada di antara Kyungsoo dan Baekhyun. Dengan mata yang sungguh sungguh, ia menatap Baekhyun.

"Dia tidak ada hubungannya dengan Kai." kata Chanyeol.

Kyungsoo terkejut dengan kehadiran Chanyeol tiba tiba di kelas ini. Semua orang lalu menatap kehadiran pemuda yang jauh lebih tinggi dari Baekhyun tersebut, membuat gadis di hadapannya menjadi lebih jengkel.

"Aku tak bertanya padamu, jerapah!" hardik Baekhyun. Chanyeol masih sok tangguh untuk menghadang Baekhyun lebih dekat dengan Kyungsoo.

"Apa yang kau lakukan disini, Chanyeol-shi?" tanya Kyungsoo terkejut. Chanyeol berbalik dan tersenyum,

"Tidak baik kalau kau sendirian disini. Aku juga pindah kesini untuk menjagamu."

Terdengar suara seperti muntahan dibelakang kelas.

Chanyeol lalu berbalik lagi, menunduk memandang Baekhyun yang lebih mungil darinya,

"Dia tidak ada hubungannya dengan Kim Jongin." Katanya tegas. Baekhyun lalu mengalihkan pandangan dari Chanyeol menuju pada Kyungsoo, yang sedikit tertutupi oleh badan besar pemuda di hadapannya.

"DIMANA KIM JONGIN?!" kali ini Baekhyun berteriak.

"Dia ada di rumah sakit." Jawab Chanyeol.

PLAKK!

Sebuah tamparan keras mampir di wajah Chanyeol hingga membuatnya jatuh tersungkur ke samping, kacamatanya pun harus rela terbang dari wajah dan menabrak lantai yang dingin. Baekhyun menatap Chanyeol dengan wajah bersungut sungut marah.

"Aku tak tanya padamu, mata empat!" Baekhyun lalu melangkahi Chanyeol, mendekat pada Kyungsoo yang sudah mencengkeram meja takut pada apa yang akan terjadi. Padahal belum tentu apa yang dia takutkan akan terjadi.

"Kau boleh menamparku, nona," desis Chanyeol lalu berdiri, memandang punggung yang berada di depannya, "tapi kau tak boleh berkata seperti itu karena kacamataku adalah bag─"

Baekhyun berbalik dan menampar Chanyeol lebih keras dari yang tadi. Membuat kacamata yang baru saja bertengger di atas hidungnya kembali lepas dan pemuda itu terjatuh lagi.

"KUBILANG DIAM, YA DIAM! AKU TAK PEDULI SOAL KACAMATAMU, TIANG LISTRIK!" kata Baekhyun. Gadis itu lalu kembali menatap Kyungsoo.

"Dimana Kim Jongin?" ujarnya lagi. Dari nadanya, anggota geng Baekhyun dapat memprediksikan bahwa Baekhyun diliputi rasa ingin balas dendam dan marah yang mendongkol.

"Dia ada di rumah sakit." Kata Kyungsoo lalu menatap meja di depannya, "tapi dia masih tak sadarkan diri."

Baekhyun terdiam, ia menatap Kyungsoo seperti mencari kesalahan. Namun, beberapa detik kemudian ia tertawa puas. Ia tertawa seperti dendamnya telah terbalaskan, menunjuk Kyungsoo dan Chanyeol seperti tertawa mengejek mereka. Lalu berbalik menghadap ke komplotannya dan menyuruh mereka tertawa bersama.

Itu tawa yang paling ramai yang pernah Kyungsoo dengar, tawa penuh dengan kemenangan dari sesuatu yang Kyungsoo sendiri tak mengerti.

"Oh, akhirnya ada yang mengajarkan pada anak itu sopan santun!" kata Hyeoyon ber-high five dengan Yoona, senang Kai yang hampir membunuh Baekhyun itu sekarang sedang menuju ajalnya.

"KAU!" Baekhyun tiba tiba terdiam, menunjuk Kyungsoo yang terkejut, "beritahu aku dimana rumah sakit si brengsek itu!"

"T-tidak!" kata Kyungsoo menggeleng cepat, ia takut kalau kalau gadis ini akan menuju rumah sakit dimana Kai dirawat dan membuat keadaan pemuda itu semakin parah. Baekhyun mendelik kesal dan segera berjalan menuju Kyungsoo dengan mendorong Chanyeol pergi dari jalannya.

"BERITAHU AK─" Baekhyun telah mencapai Kyungsoo, baru memegang kerah bajunya dan belum sempat mencekik karena terinterupsi sebuah suara,

"Dia ada di Rumah Sakit St. Mary."

Baekhyun dan Kyungsoo sama sama menoleh ke arah pintu, tepat Yixing berada disana dengan Taeyeon bernafas terengah engah.

"Y-Yixing?" Kyungsoo membulatkan matanya. Yixing lalu masuk ke dalam kelas dan melepaskan cengkeraman Baekhyun yang masih menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa digambarkan.

"Dia ada di rumah sakit St. Mary di ujung jalan. Kalau kau ingin mendatanginya dan membunuhnya untuk membalaskan dendammu," Yixing berdiri melindungi Kyungsoo di belakang tubuhnya, "lebih cepat, itu lebih baik."

Kyungsoo mengguncang lengan Yixing karena tak setuju dengan tawarannya pada Baek barusan. Namun, sepertinya tawaran yang menggiurkan itu ditanggapi oleh gadis preman di depannya. Baekhyun mundur teratur dan segera keluar dari ruangan kelas dengan langkah terburu.

"Apa yang sedang kau lakukan disini, Kyungsoo?!" hardik Yixing pelan ketika ia membalik badan dan kerumunan mahasiswa di kelas mulai mencair. Kyungsoo menatap adiknya dengan tatapan penuh.

"Aku mengejar apa yang membuatku bahagia, Yixing."

"Kyungie, jangan bodoh! Aku akan keluar lusa dan itu berarti kau akan keluar juga bersamaku!"

Kyungsoo menggeleng pelan dan melepaskan cengkeraman Yixing di pundaknya. Merasa tak mendapat persetujuan, Yixing membalik badan pada Chanyeol yang dipapah Taeyeon berdiri dengan benar.

"Apa yang kau lakukan disini juga?" katanya pedas. Dengan berdesis menahan sakit, Chanyeol menjawab,

"Aku tak bisa meninggalkan Kyungsoo sendirian. Dia akan terluka."

Yixing menghela nafas dan menatap Chanyeol masih dengan tatapan frustasi, ia lalu menoleh pada Kyungsoo yang menatapnya takut takut. Ia lalu membalik badan agar bisa bicara lebih bebas dengan kakaknya.

"Unnie.."

"Tidak, Yixing. Kumohon. Kali ini. Kali ini saja." Kata Kyungsoo menggenggam tangan Yixing.

Kali ini saja, ya tentu saja. Karena takkan ada esok hari. Kehidupan Kyungsoo semenit kedepan di Kkami saja dipertanyakan, mana mungkin Yixing bisa membayangkan hari esok? Kakaknya memang sudah terpengaruh besar besaran oleh Kim Jongin.

"Aku tak mau tahu," keputusan Yixing sudah final, "aku keluar besok, dan itu berarti hari ini adalah hari pertama dan terakhir untukmu, Kyung."

Yixing lalu berjalan meninggalkan Kyungsoo di kelas, ia tak bisa terus terusan disana. Bisa bisa ia akan menyetujui rencana gila Kyungsoo untuk tetap tinggal disini bersama Jongin, lebih baik memutuskan sepihak karena ia tahu apa yang terbaik untuk kakaknya.

Atau, mungkin juga tidak.

"Yixing," Taeyeon berjalan disampingnya, rupanya ia telah meinggalkan Chanyeol di kelas bersama Kyungsoo. Setelah satu belokan Yixing baru menjawab,

"Apa?"

"Apa si Baekhyun itu menyukai Kai?"

Yixing menatapnya dengan satu alis terangkat, Taeyeon hanya mengangkat bahu tak acuh sambil berkata, "itu karena setelah kau berkata dimana Jongin dirawat, ia keluar kelas dengan langkah yang begitu riang. Kalau tak salah lihat… dia juga melompat lompat kecil."

"Bisa diartikan dua sih sebenarnya, unnie."

"Apa?"

"Dia senang karena Jongin tergeletak tak berdaya, dan kedua," Yixing telah sampai di tempat tujuannya, ruangan basecamp White Hair, "kau salah lihat. Dan kali ini benar benar salah lihat."

Ia membuka dan menutup pintu ruangan dengan pelan, meninggalkan Taeyeon yang menatapnya tak mengerti di luar. Kali ini juga, untuk kali ini saja, untuk Yixing, ia tak ingin memikirkan masalah gila macam itu.

Apapun yang berhubungan dengan Kim Jongin, selalu tak waras.

- Do For Kai –

Baekhyun tak pernah sebahagia ini sebelumnya.

Meskipun pemuda itu brengsek, namun ada yang berbeda dalam matanya. Ia menyukai tipe bad boy semacam itu. Tak ada pemuda yang sanggup menyentuhnya dulu, namun, Kim Jongin ini, bahkan berhasil membuatnya hampir jatuh dari ketinggian bermeter meter dulu.

Ia jatuh cinta pada Kim Jongin. Sebuah rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Rasa cinta itu memang aneh, Baekhyun tak pernah berpikir bahwa selain berkelahi, Kim Jongin dapat menyihirnya untuk merasakan cinta yang biasanya para gadis-gadis itu rasakan. Baekhyun kali ini tak bisa mengelak, bahwa dia pun juga gadis yang dalam masa puber. Masanya jatuh cinta, patah hati, lalu jatuh cinta lagi.

Berbekal satu tangkai bunga matahari yang tangkainya tak dipotong, ia berjalan riang menuju kamar rawat Jongin. Resepsionis rumah sakit terheran heran dengan penampilan Baekhyun yang berantakan ala preman itu bisa bertanya dengan nada aegyo yang lucu. Hampir setiap dokter, perawat, bahkan cleaning service terpukau dengan kelakuan Baekhyun yang aneh dan tak sebanding dengan penampilannya.

Di depan kamar Kai, ia sudah bersiap diri. Mematut diri di kaca, memperbaiki poni yang terbelah dan mencium wangi bunga matahari yang ceria. Dengan hati berdebar, ia membuka pintu itu perlahan, takut membangunkan orang yang ada di dalam dan bahkan…

..wajahnya tercengang.

Itu.. Itu Luhan. Dia ada disana, gadis itu tengah mencium kening Kai yang masih memejamkan mata. Baekhyun tersentak, hatinya sakit. Lebih sakit daripada di keroyok 10 wanita gila dari geng sebelah. Sangat sakit.

Ia tak tahu rasanya patah hati, dan baru kali ini merasakannya. Bingung? Jelas. Ia tak bisa berbuat apa apa.

Dengan perlahan, ia mundur teratur meskipun dalam penglihatannya masih ada Luhan yang tersenyum posesif sambil mengelus surai hitam pemuda itu. Tangan Baek gemetar, ia bahkan menjatuhkan bunga yang sudah ia susah payah cari. Sambil menggigit bibir dan menahan air mata, merasakan bahwa ia kalah. Ia berlari menyusuri koridor rumah sakit.

Membawa pulang rasa sakitnya yang begitu membingungkan.

Sementar itu di kamar inap, Kai mulai menggerakkan mata dan tangannya. Luhan menarik diri dari ciumannya di kening. Ia tersenyum seperti berkata bahwa ciumannya lah yang membangunkan Jongin dari tidur panjangnya. Oh, macam putri tidur saja. Harusnya Luhan yang tertidur, bukan Kai.

"Kai? Halo? Kau mendengarku?" ucap Luhan menggoyangkan telapak tangan di depan wajah Jongin ketika pemuda itu mulai menggeliat dan mengarahkan tangan untuk mengusap wajah.

"Dimana… Aku?"

"Kau ada di rumah sakit," ucap Luhan pelan, ia mengambil segelas air dan menyurungkannya pada Kai namun ditolaknya, "aku menjagamu terus dari kau tak sadarkan diri."

Kai lalu cepat cepat mengarahkan bola matanya pada Luhan, gadis yang tersenyum lemah dihadapannya. Senyumnya seperti menggambarkan ia telah berhari hari duduk menunggu Jongin sampai lupa makan dan dirinya sendiri. Kai lalu menutup mata lagi,

Tapi ia yakin, bukan aroma ini yang masuk ke indra penciumannya.

"Kau sudah beberapa hari tak sadarkan diri." Kata Luhan. Pandangannya lalu berubah menjadi terkejut ketika Kai tiba tiba bangun dan mencopot infus di tangannya, kontan saja membuat darah menetes deras dari bekas infus tersebut.

"K- Kai?"

"Aku akan pergi dari sini. Masih banyak yang harus kuselesaikan." Katanya datar dan dingin. Kai lalu menyambar jaketnya yang ada di kursi dan segera keluar dari kamar,

"Tapi, Kai paling tidak tu─,"

Benar, Kai. Banyak yang harus kau selesaikan, bahkan setelah selangkah kau keluar dari tempat nyamanmu di dalam ruangan.

"Oh, jadi kau disini bermesra mesraan dengan kekasih ketua kami ya?!"

Luhan dan Kai menoleh tepat ketika mereka baru saja keluar dari kamar. Segerombolan bawahan Sehun ternyata menunggunya disana. Kai menarik satu sudut bibirnya sinis.

"Kau! Tak bosankah dirimu sudah berulang kali ku injak seperti kotoran di tanah?" ujar Kai menunjuk pemuda yang tadi meneriaki dirinya tersebut, "lagipula, apa kau tak malu membuat gerakan gerilya sementara musuhmu masih dalam tahap penyembuhan?"

"Ha! Itu berarti kau lemah, Kai! Aku tak peduli dengan omonganmu!" pemuda itu lalu menoleh kebelakang, dan menunjuk Kai, "setidaknya, pelajaranmu belum selesai!"

Luhan lalu mundur berlindung di balik pintu ruang inap, sementara Kai dengan senyum gilanya puas karena ia bisa merasakan bagaimana memukul lagi, meladeni satu persatu orang yang maju dan berusaha melukainya. Tak terganggu dengan ruang sempit koridor, dan tak peduli tentang kegaduhan yang akan ia buat, Kai menyembuhkan kerinduannya mendegar erangan sakit dari orang orang yang dengan mudahnya terkapar di lantai.

Meskipun satu atau dua dari mereka membawa balok kayu, tentu saja tak membuat Kai menciut nyalinya. Justru dengan senjata itu, Kai membuat mereka merasakan kerasnya balok tepat di wajah atau kepala mereka hingga mengedarkan bau anyir yang menyiprat kemana mana. Kai tak khawatir, jadi meskipun mereka akan mati, mereka sudah ada di tempat yang benar.

"Aku sudah memperingatkanmu, bocah!" Kai sekali lagi menginjak perut provokator tersebut, "jangan berani beraninya kembali lagi dihadapanku!" ayunan kaki itu mendarat keras, membuat bibir pemuda itu memuntahkan darah.

Kai lalu berjalan tak acuh, seperti baru saja menginjak semut. Tidak mengindahkan teriakan perawat di belakang sana karena melihat orang-orang yang tak jelas datang dari mana tiba tiba ada di koridor dan terkapar bersimbah darah. Mana mau Kai peduli hal semacam itu? Selamanya tidak.

Sementara Kai berjalan menjauh, Luhan baru keluar dari ruangan tempat ia bersembunyi. Betapa terkejutnya ketika ia melihat anak buah Sehun bisa tergeletak hampir meregang nyawa melawan satu orang yang baru saja membuka mata karena tak sadarkan diri berhari-hari? Ia melihat dengan jelas keadaan koridor itu, sudah banyak perawat dan dokter yang membawa brankat untuk mengangkut para korban dari sesuatu-yang-tidak-mereka tahu.

Luhan berjalan keluar, menginjak sesuatu di depan pintu.

Bunga matahari itu tergeletak tak berdaya berhias cipratan darah. Membiarkan orang orang lewat dan menginjak serta melindasnya dengan roda brankat atau kursi roda. Luhan mengambilnya, mencoba membersihkan debu yang menempel.

"Bahkan kau pun tak bisa mengelak," katanya bergumam pada bunga di tangannya, "bukankah dia lebih bersinar darimu, hei, matahari?"

"Sinarnya, menyilaukan ya?" Luhan masih bergumam, memandang punggung Kai yang menghilang di belokan koridor, "sayang, hati itu tak seterang tangannya."

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

...

...

..

.

To Be Continued...

So.. Mind to leave comment, please?

Sorry I can't reply it one by one or if I didn't write your name. But I know all of your reviews and I'm very thankfully about it. Sooo... Please being patient for next right! :D

just minlee . ICE14 . PriidSteeLL . BLUEFIRE0805 . Deer Panda . noa lin . TiKaiKyungsoo . baekyeolssi . Brigitta Bukan Brigittiw . ikkyungss . Kim Haerin-ah . . Lee EunSook . KaiSoo Fujoshi SNH . dbsksj . Bubbleswine . BabySulayDo . mitatitu . jungsssi . DianaSangadji . Kim Hye Soo . DevilFujoshi . Riyoung Kim . nissaa . just minlee . ICE14 . PriidSteeLL . BLUEFIRE0805 . Deer Panda . noa lin . TiKaiKyungsoo . baekyeolssi . Brigitta Bukan Brigittiw . ikkyungss . Kim Haerin-ah . . Lee EunSook . KaiSoo Fujoshi SNH . dbsksj . Bubbleswine . BabySulayDo . mitatitu . jungsssi . DianaSangadji . Kim Hye Soo . DevilFujoshi . Riyoung Kim . nissaa .