_Minah Hartika_

"Apa disini sakit? Disini? Disini juga?"

"Hm.."

"Apa ibu telah mengajarimu berbohong, huh?"

Sepertinya semua telah membaik. Semua membaik dengan satu keajaiban pemberian Tuhan, tentu saja! Dia yang memberikan segalanya. Seolah terdapat dua kehidupan yang baru yang ia beri, pada sosok pemilik dua pasang kelopak mata yang terbuka kembali meski di waktu berbeda.

"Selamat datang kembali.."

[CHAPTER 10]

Sret.

Sesaat setelah membuka matanya, Leeteuk bangkit dengan sedikit tak sabar. Wajahnya terangkat. Kepalanya bergerak gelisah dengan mata yang menjarah keadaan di sekelilingnya. Ada segurat cemas yang sepertinya belum beranjak dari wajah pucatnya saat ini.

Tak ada siapapun di sekitarnya kini. Ia bahkan sedikit terkejut saat tersadar dimana dirinya kini. Diliriknya tirai yang menahan cahaya benderang dari luar sana. 'Siang!' pekiknya dalam hati. Ia melirik jam dinding yang ada dalam ruangan berdinding putih tersebut.

"Pukul sebelas.. siang?" ucapnya mencoba menebak-nebak, mengulang kembali kejadian terakhir yang dialaminya. Hingga ia elus permukaan kasur yang kini ditempatinya. "Bagaimana aku bisa ada disini?" gumamnya heran. "Apa yang terjadi, dan Donghae?!"

Ia memekik seketika ketika diingatnya; dirinya yang tak sadarkan diri sesaat setelah bunyi lengkingan keras menusuk pendengarannya semalam. Lengkingan panjang yang menandakan berakhirnya kehidupan sang dongsaeng. Lengkingan yang kini terngiang kembali di otaknya. Membuatnya turun dari ranjangnya dengan tergesa-gesa.

"Donghae!" lirihnya dalam tangis yang sepertinya akan segera tertumpah kembali. Ia berjalan walau lunglai di tengah tenaganya yang belum terlihat pulih. Lalu kemana ia akan pergi?

Ruang rawat yang baru saja dihuninya saja, ia tak tahu ada di bagian mana dari rumah sakit yang mana ia tahu, itu masihlah satu atap dengan Donghae yang kini dicarinya. Dicarinya tanpa arah. Mulutnya gemetar dengan mata menyala, tak henti untuk menyisir tiap sudut ruangan yang ia temui.

"Dimana dia!" paniknya. "Aku harus menemukannya!"

Terus dan terus dicarinya. Ruangan yang ia tempati semalaman kemarin. Dimana Donghae ada disana, terbaring. Ketakutan terbesar baginya adalah, 'bagaimana bila mereka melakukannya pada Donghae?' atau sebersit penyeselan, 'mengapa aku harus kehilangan kesadaranku!' sesalnya sambil memegangi kepalanya yang terus terasa berdenyut.

Satu lorong ia hafal. Ada beberapa kursi tunggu dengan warna yang ia hafal juga. Di salah satu belokan tiba-tiba langkahnya menjadi mantap. Ia berjalan pada arah yang menurutnya benar. Ia tersenyum di antara lelahnya. Di antara keringat dingin yang terus mengucur dari dahinya dan juga permukaan wajah yang lain.

Semoga! Hanya kata semoga yang menjadi harapan satu-satunya. Harapan atas segala gundahnya. Hingga..

Sampai!

Dengan gemetar yang belum mampu ditanganinya, Leeteuk meraba sebuah pintu di hadapannya kini dengan rasa takut bercampur cemas. Dengan ragu ia dorong pintu tersebut. Ia dorong hingga dapat membuatnya dapat melihat seisi ruangan tersebut.

Namun seketika Leeteuk mengernyit, menautkan kedua alisnya. Ia heran! "Dimana dia?" tanyanya dengan suara kecil yang menggema di ruangan tersebut. Seperti terpukul, raut wajahnya begitu sakit mendapati ruangan yang kini telah bersih.

"Donghae-ya.." lirihnya sambil mengusap permukaan ranjang yang kini telah kosong dan rapih. "Maaf, hyung terlambat!" sesal Leeteuk, sambil mulai meremas sprei putih di ranjang tersebut. Ia remas dengan kuat, bahkan meneteskan beberapa bulir air matanya disana.

"Aku gagal!"

Suara itu begitu terkesan sakit! Pedih! Tercetak dalam nada isakan tertahan. "Aku gagal melindunginya, ibu!" isaknya kemudian tanpa mampu ditahannya. Terus ia tumpahkan tangisnya disana hingga lututnya melemas, dan lalu ia terjatuh di sisi ranjang. Menghuni dinginnya lantai.

"Aku tak berguna!"

Beginilah katanya yang teredam kedua lutut yang ditekuknya kini. Wajahnya tenggelam disana. Tenggelam dalam tangisan yang kian terdengar. Terdengar lebih keras, jika saja ia tak merasakan satu tepukan pelan menyentuh pundaknya. "Hyung," juga panggilan yang membuatnya segera menahan tangisnya dan lalu mendongakkan wajahnya.

"Kau sedang apa disini? Aku mencarimu.."

Wajah Leeteuk mengeras seketika. Gurat marah itu tercetak jelas dengan cepat. Ia baru saja akan meradang pada sosok yang tengah berdiri di hadapannya kini. Namun..

"Dia menunggumu, hyung.."

Satu kalimat membuatnya tertegun dan mengurung amarahnya. Ia bangkit: berdiri sambil mengusap air mata di wajahnya. "Apa maksudmu Kibum?! Dimana? Siapa?" ucapnya dengan cepat, pada dia yang adalah Kibum.

Kibum menjadi tersenyum. Ia raih lengan Leeteuk. Sedikit menarik sang hyung agar mengikutinya. "Kau sudah baik-baik saja sekarang? Dia menunggumu hyung. Kau harus menemuinya!" tuturnya membuat Leeteuk kebingungan dibuatnya.

-Flashback-

"Kibum! Kibum, temanilah Leeteuk. Jangan membuat suasana semakin rumit, sayang.."

Kibum menggeleng keras kala itu. Ia menepis tangan sang ayah, dan juga sang ibu yang mencoba menghadangnya. Ia berusaha menggapai Donghae setelah tahu Leeteuk tak lagi mungkin melindunginya. Maka tanpa ragu iapun berjalan ke sisi Donghae.

Sempat Hankyung pergi dari ruangan tersebut, begitupun tuan Lee. Sedang para dokter sedang berusaha mengembalikan detak jantung Donghae. Meski ada nada pasrah disana. Ada rasa dimana mereka menyerah untuk Donghae. Namun Kibum berusaha mengabaikan hal tersebut. Kibum raih jemari Donghae dan lalu berkata. "Selamatkan dia, kumohon.." lirihnya.

Tuan Lee kemudian datang dan lalu terenyuh melihatnya. Dia: Kibum yang tak sedarah dengan Donghaepun, mampu mempertahankan nyawa tersebut. Lalu bagaimana dengan dirinya? Maka ia memilih dekat dengan wajah Donghae. Merunduk untuk dapat berbisik di telinga Donghae, meski bisikan itu masih terdengar.

"Semua orang tak ingin kau pergi, Hae. Ayahpun. Maaf jika ayah sempat menyerah untuk hidupmu. Ayah tahu kau mendengar semuanya dan kecewa. Tapi, bisakah kau buktikan sekarang agar ayah menjadi tak ragu?" ucap tuan Lee sambil membelai satu sisi wajah Donghae. "Jangan sia-siakan hidupmu. Jangan berfikir kau harus menyelamatkan Kyuhyun," lanjutnya kemudian menatap Hankyung sejenak. "Ada jantung lain untuknya!" ucapnya mantap.

"Huh?" ada Kibum yang akhirnya terlihat bingung.

"Kyuhyun akan selamat, kau tak usah cemas! Demi Tuhan, bangunlah sekarang. Untuk Leeteuk. Kibum. Dan juga untuk Kyuhyun. Dia ingin melihatmu saat terbangun nanti. Bangunlah, Hm?"

Hening.

Hanya meyisakan lengkingan panjang yang sudah berlangsung cukup lama. Sedangkan para dokter menjadi berhenti melakukan apapun dan hanya terdiam, seolah menunggu bahwa ucapan tuan Lee akan menjadi kenyataan?

Nyatanya Kibumlah yang menjadi terperanjat. Ia memekik kala "jemarinya bergerak!" sambil menatapi para dokter yang sempat kebingungan. Suara lengkingan itupun berubah kembali. Menyisakan bunyi kecil yang terputus-putus. Salah satu dokter memandang takjub pada Donghae.

"Puji Tuhan! Dia kembali.."

-End Of Flashback-

Leeteuk menangis sejadinya. Bahkan ia harus menutup mulutnya agar jeritan tangisnya tak tertumpah, tak membuat bising di ruangan yang kini terbilang sunyi. Kakinya melangkah perlahan menuju Donghae yang kini terbaring, terlelap dalam tidur panjangnya. "Jadi dia siuman?" bisik Leeteuk pada Kibum yang berjalan di belakangnya.

"Belum. Hanya tadi malam, dokter mengatakan ia telah melewati masa kritisnya, meski belum bisa mereka menentukan kapan dia akan terbangun.."

"Jadi?"

Kibum dapat memandang Leeteuk setelah dirinya memposisikan diri di sisi lain ranjang yang ditempati Donghae. "Ada banyak kesempatan baginya untuk kembali membuka matanya. Semoga! Setidaknya ini yang kudengar kemarin.."

Tak ada lagi kata. Hanya saja Leeteuk mengecup kening Donghae begitu lama. Mengecupi kedua mata sang dongsaeng yang masih terpejam. Tiada hentinya menatap wajah Donghae dengan wajahnya yang sendu. Ada bekas tangis disana, meski kelegaan nampak tercetak jelas.

"Terima kasih! Terima kasih karena kau bertahan!" gumamnya. Ia berkata seolah lepas dari segala rasa mencekam yang menerkamnya dua hari lalu. Rasa takut yang begitu melilit tiap detik waktunya. Seolah tak ada hal lain yang ia pikirkan.

...

"Hyung, maaf telah menghilangkan kalung milikmu!"

"Tidak! Dia tidak hilang Kyuhyunie.."

"Gambarmu? Malaikatmu? Ah! Ibumu.."

"Ya, ada apa dengannya? Kau berubah pikiran? Kau ingin memintanya sekarang?"

"Bolehkah?"

Keduanya terdiam. Larut dalam pikiran mereka masing-masing. Termenung dalam lamunan yang begitu dalam. Bersama, keduanya memandangi langit yang cerah. Bersama udara sejuk yang mereka hirup, bercampur dengan bau rerumputan yang kini mereka injak. Mereka rebahkan tubuh mereka di rerumputan halus tersebut.

"Apa kau begitu ingin hidup? Apa yang membuatmu ingin bertahan hidup, Kyuhyunie?"

Kyuhyun mengangguk mantap. Ia tatap sosok pemilik mata teduh di sampingnya sambil tersenyum tulus. "Banyak yang menungguku hyung.."

"Itu terdengar bagus!"

"Kau juga.."

"Huh?"

"Apa kau ingin aku hidup, hyung? Atau kau membenciku hingga menginginkan kematianku?"

"Kukatakan aku tak pernah membencimu, bukan? Lalu kau pikir untuk apa aku rela memberikan malaikatku untukmu, Kyu? Itu agar kau tetap hidup!"

Kyuhyun tersenyum. Namun, senyum itu tak bertahan lama, kala genggaman pada tangannya mulai melonggar. Ia melirik untuk menatap wajah tulus itu.

"Pergilah Kyu. Kau benar! Semua menunggumu.."

Kyuhyun mengerutkan keningnya. Wajah putih itu semakin samar tersorot cahaya yang entah darimana datangnya. Sementara tangannya mulai terasa hampa. Bibirnya mulai bergetar. "Tapi bukankah lebih baik bila kita pergi bersama kan, hyung?" resahnya.

"Pergilah Kyu.."

Kyuhyun merasakan jantungnya berdetak cepat. Bahkan suara sosok tersebut semakin samar terdengar bersama bayangannya yang perlahan menghilang. "Donghae hyung!" panggilnya agak tergesa-gesa. "Kita akan bertemu lagi kan, hyung?"

"Hm.."

...

Kerjapan mata dapat terlihat. Kelopak mata itu mulai bergerak-gerak, sebagaimana bola mata yang turut bergerak di dalam sana. Tak lama kemudian, kedua mata itu terbuka. Menampakkan satu pandangan kosong menatap ke arah langit-langit putih dalam ruangan tersebut. Kedua mata yang kemudian menyipit, seolah menahan perih karena serangan cahaya yang belum dapat ia terima dengan baik.

"Kyuhyunie.."

Goyangan pelan ia terima. Satu gerakan tangan nampaknya menggoyangkan tubuh itu dengan sedikit tak sabar. Meski dia: Cho Kyuhyun nampak tak mampu menggerakkan tubuh yang nampak lemah tersebut, Kyuhyun tetap berusaha untuk mendengar, serta memutar bola matanya ke arah samping. Satu kerjapan terjadi, setelah dirinya mampu melihat satu wajah dengan ujung matanya.

Kyuhyun lalu bernafas pelan. Ia kembali menutup matanya, dan lalu mulai menggerakkan bibirnya. "Bu.." panggilnya sangat lirih dan pelan. Ia gerakkan jemarinya agar sosok itu benar-benar nampak nyata baginya dan dapat menggapai tangannya tersebut. Dapat! Ia menarik satu ujung bibirnya kala mendapat sentuhan hangat di tangannya. "Bu, ini kau?"

Sang ibu tersenyum dalam tangisnya. Menangis dalam tiap kelegaan yang tengah dirasakan olehnya. Ia cium punggung tangan putranya. "Selamat datang kembali, sayang.." ucapnya sambil mengusap surai Kyuhyun.

"Ini dimana, bu?" tanya Kyuhyun terlihat bingung.

Sang ibu tersenyum maklum. "Masih di tempat yang sama, saat terakhir kali kau tertidur.." jawabnya.

"Berapa lama aku tertidur, bu?" tanya Kyuhyun kemudian. "Mengapa kau tak membangunkan aku? Apa Donghae hyung belum tiba?" lanjutnya.

"Donghae?"

Kyuhyun mengangguk. "Kau tak ingat pesanku?"

Ah! Satu pesan yang pernah Kyuhyun utarakan beberapa waktu lalu. Nampaknya bocah ini tak mengetahui atau bahkan tak merasakan apapun.

"Mengapa dia pergi terlalu lama? Leeteuk hyung juga! Kim Kibum? Dimana mereka bu?" racau Kyuhyun. Ia nampak lebih segar kini. Mungkin tetap tak sadar akan kondisinya sendiri, ia mencoba bangkit dari tidurnya. Ia memaksa meski sang ibu mencegahnya. Hingga "Agh!" ia mengernyit sakit saat merasakan perih luar biasa di bagian dadanya.

"Sudah ibu bilang untuk tetap berbaring saja, kan? Memangnya kau mau kemana!" omel sang ibu.

"Bu aku kenapa?" tanya Kyuhyun, nampak snagat heran. "Sakit ini? Ini baru pertama kali!" pekiknya.

"Itu karena lukamu belum mengering.."

"Luka?!"

Sang ibu tersenyum. Ia menyentuh dada Kyuhyun perlahan. "Disini ada kehidupan baru, Kyu. Kuharap kau menjaganya dengan baik.."

"Huh?"

...

"Ini adalah catatan kesehatannya. Kami tentu sudah memeriksa seluruhnya. Semua riwayat sakitnya.."

"Analgesia?"

"Ini berhubungan dengan saraf perasa.."

"Ya! Dulu dia memang sempat bermasalah dengan hal tersebut. Lidahnya tak dapat mengecap rasa. Menurut dokter yang menanganinya, itu terjadi karena pengaruh obat antidepresi yang mereka berikan. Emh, ada permasalahan yang memang cukup mengguncang jiwanya saat itu, hingga dokter memberikan obat penenang berlebih padanya.."

"Ya. Katakanlah sekarang penyakit tersebut bertahap.."

"Kenapa? Apa maksud anda?"

"Analgesia, ini mungkin langka atau tak pernah anda dengar sama sekali sebelumnya. Penderita tak akan mampu merasakan apapun. Rasa dalam makanan itu sudah jelas tak mampu dikecapnya! Disini, di tahap ini, mereka melupakan semua rasa. Rasa sedih, senang, bahkan sakit!"

"Bagaimana bisa?"

"Biasanya, bahkan mereka tak akan mampu tertawa atau sekedar tersenyum. Mereka tak akan bisa menangis. Hati mereka seolah ikut mati, tak dapat merasakan apapun.."

"Tapi Donghae menangis! Ia tersenyum!"

"Jika sakit?"

"Aku tidak tahu.."

"Kemungkinan bahkan ia melupakan rasa sakit itu sendiri. Ingat! Penyakit ini adalah pengaruh dari jiwanya. Bisa jadi ini terjadi, karena ia sendiri yang terlalu sering mendapat sakit hingga bosan dan melupakan bagaimana sakit tersebut! Meski tak seperti penyakit lain pada umumnya, ia terbilang baik-baik saja. Tapi tetap berbahaya juga bukan? Aku ingat saat kemarin ia terjatuh! Saat sebelum tak sadarkan diri, aku sama sekali tak melihat rona sakit di wajahnya. Dan ini tidaklah baik!"

"Apakah ini bisa disembuhkan?"

"Tentu. Jika ia siuman nanti, latihlah ia untuk mengenal rasa itu kembali.."

"Apakah itu dapat berhasil?"

"Semoga! Tanyakan saja padaku jika kau mengalami kesulitan.."

"Terima kasih.."

Leeteuk tampak melamun. Dengan tatapan datarnya, ia membuka tirai ruangan yang masih ditempati Donghae. Seketika itu juga cahaya menyeruak masuk, menyinari seluruh ruangan, termasuk wajah pucat Donghae yang kian memucat kala tersorot cahaya.

Trek.

Leeteuk simpan sebuah vas bunga berisikan beberapa tangkai mawar merah di sisi jendela. Ia atur letak bunga-bunga tersebut. Pandangannya tak mampu mengeluarkan arti apapun. Namun, ada sebersit emosi disana. Tanpa sadar, ia bahkan meremas bunga-bunga yang tengah ditatanya disana dengan tiba-tiba. Menghancurkan tiap kelopak bunga-bunga cantik tersebut.

"Bu!" Bisiknya tajam. "Mengapa kau tak mengatakannya padaku!" desisnya pelan. Sangat pelan, menyerupai bisikan yang penuh akan sebuah emosi.

"Kau biarkan Donghae menanggungnya seorang diri! Bagaimana bisa!" pekiknya masih dalam sebuah bisikan.

Ia kesal! Ia marah! Sebuah rasa sakit kembali menghantam jiwanya. Yang membuatnya merutuk adalah, pada siapa ia harus meluapkannya? Pada Donghae yang masih tertidur? Ataukah pada sang ibu yang kini sudah tak akan mungkin mendengarnya..

"Aku membencimu, bu!" ungkap Leeeuk akhirnya sambil mengusap kasar matanya. Ia singkirkan sedikit air mata yang mulai mencuat dari kedua matanya. "Aku membencimu!"

Nampaknya Leeteuk belum selesai dengan sesalnya. Setelah apa yang terjadi, hingga detik tersebut bahkan ada hal baru yang membuatnya menyesal kini. Mengapa ia tak menyadari sejak awal? Mengapa tak mengetahui sejak awal, dan mengapa tak ada kabar sama sekali mengenai hal tersebut.

Leeteuk melirik Donghae yang masih tenang dalam tidurnya. Ia tersenyum pahit melihat wajah tersebut. "Kau!" bisiknya. "Mengapa tak menceritakannya padaku, huh?" isaknya. Ia hampiri Donghae dan lalu terduduk di kursi dekat ranjang tersebut. "Kau tega membiarkanku merasa bersalah hingga seperti ini, Lee Donghae?!"

Hening..

Hanya hembusan nafas Donghae yang terdengar. Membuat Leeteuk putus asa dan akhirnya kembali menangis. "Apa yang harus hyung lakukan untuk mengganti semua sakitmu, Hae?!" ujar Leeteuk, sambil mulai menangkupkan wajahnya pada lengan Donghae.

"Kau membuatku gila!"

"Lee Donghae kau nakal!"

Leeteuk terus meracau. Ia tumpahkan segala kesalnya di balik lengan Donghae. Membasahi lengan tersebut bersama kain-kain di sekitarnya. Basah oleh tangisnya.

Satu usapan Leeteuk rasakan di menit kemudian, membuat tangisnya mereda. Leeteuk mendongak, dan akhirnya semakin menumpahkan tangisnya kala dirinya dapat melihat siapa yang kini berada di sampingnya.

"Tolong aku, paman.."

Nyatanya tuan Kim yang kini ada bersamanya. Mengusap-usap punggungnya dengan lembut dan penuh kasih. "Ada banyak hal yang tak kita ketahui, Leeteuk-ah! Kita tak harus mengetahui setiap detail kehidupan seluruh manusia di muka bumi ini. Itu mustahil! Tak perlu kau menyesali semuanya.."

Leeteuk mengusap air mata di wajahnya. "Tapi aku bahkan melupakan adikku, paman!"

"Bukankah kau selalu mengingatnya? Aku tahu benar, seberapa besar sayangmu padanya.."

"Tapi ia jauh denganku! Ini kenyataan!" lirih Leeteuk, sambil kembali menatap wajah Donghae.

"Tapi ini semua juga bukan kesalahanmu! Sejak awal, tak ada yang bersalah disini. Ini semua adalah rencana Tuhan.."

"Tapi aku merasa buruk, paman! Demi Tuhan! Aku merasa kehadiranku tak berguna untuknya.."

Tuan Kim nampak menghela nafasnya. "Tapi kaupun tak mungkin menghabiskan hidupmu hanya untuknya kan?!" sanggahnya hati-hati. Nyatanya hal itu membuat Leeteuk menatap padanya. "Aku tahu dia saudaramu. Kau harus ada untuknya. Tapi kau tak harus membayangi dia selamanya. Kau tak akan mampu untuk terus melindunginya. Jangan terlalu larut dengan masalah ini. Ini hanyalah kehidupan! Semua akan berputar dengan sendirinya. Semua akan baik-baik saja.."

"Aku.."

"Bukan hanya Donghae. Kau ada dan hidup di antara orang-orang lainnya. Kami, kami ada bersama kalian. Jangan mencoba menyimpan beban ini sendirian. Ada baiknya kau bangkit dan memperbaiki semuanya."

Leeteuk mengangguk. "Aku mengerti.."

"Baguslah. Kuharap kau bisa lebih tenang dalam menyikapi segalanya. Jangan kalah oleh sesalmu. Jangan takut untuk melangkah, karena kami ada!"

Kembali Leeteuk mengangguk. "Terima kasih, paman.."

...

Sore menjelang. Bagai seseorang yang menutup dirinya dari dunia luar, nyatanya Leeteuk tetap memfokuskan dirinya untuk terus bersama Donghae. Menutup telinga dan juga matanya akan keadaan apapun di luar sana.

"Terima kasih telah membelikan semua ini, Kibum-ah!"

Leeteuk berujar tulus di sela kegiatannya: menyelimuti Donghae. Menutupi piyama baru yang Leeteuk kenakan pada Donghae beberapa waktu lalu. "Kau membawa piyama bercorak sama dengan bantal yang kau belikan beberapa waktu lalu untuknya. Kau sengaja, huh?"

Kibum terkekeh pelan. "Setidaknya saat terbangun nanti, dia disuguhi pemandangan yang membuat matanya berbinar. Aku heran mengapa ia begitu mengagumi ikan nemo yang jelek!" rutuk Kibum dalam candaan.

Keduanya akhirnya menatap Donghae yang tetap tertidur, meski kini raut wajahnya terlihat sedikit berwarna dan lebih nyaman dari sebelumnya. Tertidur pulas dalam balutan piyama baru yang dibawa Kibum untuknya. "Sebenarnya kapan dia akan terbangun?" keluh Leeteuk kemudian. Ia pandang Kibum yang hanya terdiam.

Pada akhirnya keduanya kembali terdiam. Tersisa Kibum yang lalu menutupi separuh lengan Donghae yang tak sempat tertutup selimut. Ia pastikan Donghae aman dalam lindungan selimutnya. Ia tatap Leeteuk setelahnya, yang telah mengambil posisinya, berdiri di dekat jendela sambil melihat keadaan luar. "Hyung.." panggilnya.

"Hm?"

Kibum sedikit menghela nafasnya. "Apa kau tak ingin menjenguk Kyuhyun?" tanyanya tiba-tiba.

Leeteuk bungkam. Sama sekali tak ada pergerakan darinya. Membuat Kibum hanya mampu menatap punggung sang hyung tanpa arti apapun. "Dia sudah baik-baik saja sekarang. Kau tau kan, mengenai jantung barunya?"

"Ya. Dan aku senang mendengarnya," tanggap Leeteuk. Hanya tangapan kecil, yang bahkan Kibum saja samar untuk mendengarnya.

"Dia menanyakanmu, hyung. Kuharap kau tak melupakannya.."

Leeteuk sedikit menoleh dan menatap Kibum dari sudut matanya. "Aku merasa tak pantas untuk menemuinya lagi setelah semua yang terjadi. Bahkan aku terlalu egois karena tetap mempertahankan Donghae, dan hampir membunuh Kyuhyun. Tidakkah aku jahat?" lirih Leeteuk.

"Hyung.."

Leeteuk menggeleng. "Aku tak berani lagi untuk menemuinya. Aku tak berani lagi menatap wajah ibu. Biarlah semua seperti sekarang. Hanya aku dan Donghae, kumohon.."

Kibum menghela nafasnya. Ia pikir 'semua butuh waktu untuk kembali membaik seperti semula'. Minimal hingga Donghae bangun dari tidur panjangnya?

Bahkan tak diketahui pula olehnya, sepasang mata kini tengah mengamati di ujung pintu ruangan tersebut. Sepasang mata, dimana pemiliknya terlihat lesu setelah melihat semua hal dari dalam ruangan tersebut. Dia yang lalu memilih untuk terduduk di salah satu kursi tunggu di antara lorong rumah sakit yang sudah sangat dihafalnya tersebut.

Satu tarikan di sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman pahit. "Jadi ini yang kau rasakan kemarin, Hae hyung?"

...

Kyuhyun mengunyah makanannya dengan semangat yang tipis. Bibirnya bergerak perlahan. Matanya menerawang entah kemana, padahal ia masih berusaha untuk mengunyah makanan yang tersisa di mulutnya.

"Makan yang benar, Kyu! Ini adalah salah satu cara agar kau bisa pulang dengan cepat.."

Perkataan sang ibu, sama sekali Kyuhyun tak mengindahkannya. Ia hanya diam dan larut dalam bosannya. "Bu," panggilnya kemudian. "Sebenarnya apa yang terjadi pada Donghae hyung?" tanyanya sambil menelan ludahnya pelan-pelan. Diliriknya sang ibu yang kini memandangnya bingung.

"Mengapa Leeteuk hyung menjadi marah padaku? Apa semua karena aku?"

Kyuhyun tetap mengunci sosok sang ibu dalam pandangannya. "Hingga dia tak ingin lagi menemuiku. Sama sekali!"

Ada helaan nafas sang ibu yang dapat Kyuhyun lihat. Ia tetap menunggu jawaban.

"Ibu pikir kau sudah menemuinya tadi, kan? Siapa yang mengatakan dia marah padamu? Itu tidak mungkin!"

"Bu!" potong Kyuhyun. "Dia benar-benar tak ingin menemuiku lagi! Untuk itulah aku bertanya. Sebenarnya apa yang terjadi? Katakan semuanya! Jangan mencoba menyembunyikan sedikitpun hal dariku!"

"Ibu tak tahu.."

"Jika ibu tak memberitahuku, aku akan menyesal karena aku hidup kembali!" ancam Kyuhyun.

"Jangan berkata begitu Kyuhyun!" raung sang ibu.

"Lalu katakan bu.."

Sang ibu menjadi berfikir keras. "Sebenarnya tidak ada yang tahu, mengapa Donghae terjatuh ke dasar tebing sore itu. Dia seorang diri disana. Kami semua sibuk menungguimu yang sedang kritis, Kyu. Bahkan ayahmu tahu setelah keesokan paginya, dan menemukan keadaan Donghae dengan kehidupan yang sudah tak mungkin untuk diselamatkan.."

"Huh?" kaget Kyuhyun. "Dia? Separah itukah?"

Sang ibu mengangguk. "Semua salah ibu.."

"Mengapa ibu yang bersalah?"

"Salahkah jika sang ibu ingin menyelamatkan anaknya dengan cara apapun? Meski harus menyakiti orang lain akan ibu lakukan! Ibu sadar posisi Leeteuk sama dengan ibu kala itu. Wajar jika kami berada di posisi egois kami, dan saling mempertahankan apa yang terpenting untuk kami!"

Kyuhyun menautkan kedua alisnya dan merasa bingung. "Katakan semuanya bu!"

...

Dua hari kemudian..

"Apa ayah menyayangi Donghae?"

Satu pertanyaan yang langsung Leeteuk layangkan pada sang ayah, yang baru kembali ia temui setelah kejadian malam tersebut.

"Aku ingin bertanya, apakah ayah menyayangi Donghae? Anakmu sendiri?"

"Pertanyaan macam apa ini, huh?"

Leeteuk memandang sinis pada tuan Lee. Sang ayah. "Sejak awal aku merasa, bahwa kau mengabaikannya, ayah! Kau lebih mementingkan Kyuhyun dari apapun!"

Sang ayah mendengus kecil. "Bukan masalah itu! Keduanya anakku, termasuk kau. Apa salah jika aku ingin bersikap adil?"

"Mana yang kau sebut adil? Kau bahkan lebih rela kehilangan Donghae daripada Kyuhyun!"

"Kau salah faham!"

"Tapi itu jelas terlihat!" bantah Leeteuk.

"Tidak!" potong tuan Lee akhirnya. Suaranya mengeras, mendengung di antara lorong rumah sakit yang tengah mereka huni, mereka jadikan tempat untuk perbincangan tersebut. "Ini hidup, Leeteuk-ah! Kita harus pikirkan dan melakukan hal yang terbaik di waktu yang tepat! Pilihan adalah hal biasa."

"Tapi aku merasa tak adil untuk Donghae. Hanya itu.."

"Maafkan ayah untuk kemarin. Ayahpun tak ingin melakukannya. Percayalah.." ungkap tuan Lee. "Tapi semua itu terjadi di luar kendali kita semua.."

Leeteuk memalingkan wajahnya. Ia nampak mengalah, meski wajahnya sama sekali tak melembut untuk mengutarakan maafnya pada sang ayah. "Aku ingin sendiri!" cetusnya, dan lalu melangkah untuk meninggalkan sang ayah. Namun itu tak terjadi, karena tiba-tiba saja Kibum hadir di antara keduanya dan lalu menarik tangan Leeteuk dengan cepat.

"Ada apa?" tanya Leeteuk kebingungan. Ia melihat Kibum yang tergesa-gesa menarik dirinya.

"Ikut aku hyung.."

"Tapi.."

Leeteuk tak lagi mampu menyela apapun. Ia hanya pasrah saat Kibum menarik tangannya hingga ia melangkah setengah berlari. Ada sang ayah yang turut membuntutinya. Mungkin iapun penasaran atas apa yang terjadi kini. Karena Kibum menariknya ke arah ruang rawat Donghae yang beberapa hari ini turut ditempati Leeteuk.

Dengan nafas yang masih sedikit memburu, Kibum menatap Leeteuk dengan segurat ekspresi yang tertahan di wajah tampannya. Ia sedikit tersenyum, dan lalu menghampiri Donghae. Ia goyangkan pelan bahu Donghae dan mendekati telinga Donghae. "Dia sudah datang, hyung. Kau ingin melihatnya?"

Awalnya Leeteuk bingung. Namun kemudian, perlahan matanya terbuka lebih lebar dengan nafas tertahan. Gurat tak percaya begitu terlihat. "Donghae!" pekiknya. "Kau bangun?"

Bahkan Leeteuk menjadi melangkah tak sabar. Sedikit berlari ia menghampiri Donghae. "Syukurlah! Donghae.."

Memang benar adanya. Ada Donghae yang kini mengerjapkan matanya perlahan. Mata yang sudah menghabiskan puluhan jam untuk menutup itu akhirnya terbuka kembali. Menampakkan dua bola mata yang jernih, meski akhirnya Leeteuk menatap lirih pada sudut mata Donghae yang memerah.

"Kau bisa melihat hyung, Hae?" tanya Leeteuk dengan waswas. Ia menatap takut kearah jejak kemerahan di mata Donghae.

"Ada apa dengan matanya?" tanya sang ayah, yang Leeteuk abaikan dan Kibum jawab dengan gelengan kepala saja.

Sedang Donghae berusaha untuk menggerakkan kedua matanya. Menatapi sosok-sosok yang berada di sampingnya kini. Hanya kedua matanya yang bergerak, karena pergerakan lain tertahan alat-alat medis. Ada penyangga leher yang membuat Donghae yakin, ia tak akan mampu menggerakkan tubuhnya yang lain.

"Katakan sesuatu.." pinta Leeteuk masih terdengar resah. "Donghae.."

"Aku baik," jawab Donghae pada akhirnya. Ia terlihat tak mampu mengatakan banyak kata. Sedikitpun terlontar dari nada serak dan sangat pelan.

"Kau bisa melihat kami, hyung?" timpal Kibum.

"Hm.."

Leeteuk menjadi tersenyum lega, meski deru nafasnya tak sepenuhnya menunjukkan kelegaan yang sesungguhnya. "Selamat datang kembali, Hae. Hyung senang kau bangun.."

"Perlu ayah panggilkan dokter untukmu?"

"Tidak.."

"Ada yang sakit?"

"..."

Kibum memandang Leeteuk dalam satu arti. "Apa kepalamu sakit, hyung?" imbuhnya untuk meyakinkan dirinya, kemana Leeteuk mengarahkan pembicaraan tersebut.

"Tidak terlalu.."

Leeteuk mengusap dagu Donghae dengan jejak luka disana. Masih terlihat membiru. Ia tekan sedikit bagian tersebut. "Apa ini sakit?"

"Hm.."

Leeteuk menyentuh beberapa luka di tubuh Donghae dengan sengaja. "Disini? Apa disini juga sakit?"

"Hm.."

Sempat sang ayah menatap pada Leeteuk dengan arti, 'apa yang kau lakukan?!' meski itu tak tertuang dari bibirnya. Namun semua menjadi lebih membingungkan kala Leeteuk tiba-tiba berkata, "apa ibu mengajarimu berbohong, huh?!"

...

"Kau yakin tak ingin menemui mereka terlebih dahulu?"

Kyuhyun menoleh. "Ibu sendiri? Apa ibu sudah menjenguk Donghae hyung? Ibu tak ingin menjenguknya?" tanya Kyuhyun. "Apa ibu tak ingin meminta maaf padanya, karena ibu hampir merenggut nyawanya beberapa waktu lalu?" tanyanya membuat sang ibu bungkam.

Keduanya telah membahas hal ini sebelumnya..

Kyuhyun akhirnya tersenyum sambil kembali melipat pakaiannya. "Aku baru tersadar akan satu hal, bu," ungkapnya dengan nada ringan. Penuh akan kerelaan akan sebuah pernyataan yang diyakininya. Maka sambil menatap sang ibu ia katakan, "kita adalah orang lain bagi mereka semua.."

"Kyu.."

"Tak sepantasnya kita bersikap egois, bu. Hubungan darah itu lebih kuat dan lebih penting," ungkap Kyuhyun.

"Tapi mereka tak seperti itu, ibu yakin! Jangan menjadi seperti ini, sayang," sangkal sang ibu. Ia usapkan jemarinya pada helaian rambut Kyuhyun dan mengusapnya lembut. "Ibu akan menemui Donghae. Ibu akan berusaha memperbaiki hubungan ini agar kita semua baik-baik saja.."

Kyuhyun mengulum senyumnya. "Kupikir ibu sangat mencintai ayah," usilnya kemudian. Ia lirik sang ibu yang seketika menjadi merona dan salah tingkah. "Mengaku saja bu! Matamu menyiratkan, kau begitu takut aku memutuskan hubungan keluarga ini, benar kan?"

"Bukan begitu," bantah sang ibu, namun ia terlihat ragu akan bantahannya sendiri.

Kembali Kyuhyun tersenyum. "Aku tak akan melakukannya. Aku hanya butuh waktu. Mereka butuh waktu tanpa kita.."

"Lalu apa rencanamu? Ibu bingung, apa yang seharusnya kita lakukan?"

"Kita menghilang dari mereka bu. Kurasa ini akan lebih baik.."

"Kau yakin?"

Kyuhyun merangkul pundak sang ibu. Ia bersandar manja pada wanita yang begitu ia cintai tersebut. Wanita yang teramat dicintai dan mencintainya. Kyuhyun merasa beruntung akan keberadaannya..

...

Donghae terdiam. Setelah dijejali banyak pertanyaan, banyak hujaman nasehat ringan dari sosok-sosok di sampingnya kini, Leeteuk dan Kibum, ia menjadi terdiam. Terlebih ketika dua orang itu sibuk mengantuk di dua sisi ranjangnya. Sebenarnya ia sempat kesal, karena ia tak mampu bergerak sedikitpun membuatnya kebosanan.

Namun menjadi hening kala dirinya mendapatkan hal lain kini. Sebuah gambar malaikat yang ia yakin, itu adalah hasil tangannya. Lukisan dalam kertas seadanya, yang kini terpampang di hadapannya. Menempel pada dinding di hadapannya..

Ia menjadi merenung dan hanya mampu bergumam dalam hatinya, seolah bibir tipisnya bosan untuk berucap. "Mengapa gambar itu ada disini? Lalu dimana, dan bagaimana Kyuhyun sekarang?" pikirnya. Ia kerjapkan kelopak matanya, bersamaan dengan sebuah bisikan panjang dan juga tangisan pelan yang diingatnya.

"Kyu.." lirihnya pelan.

"Mengapa kalung ini ada di tanganmu, hyung? Aku sudah membuangnya ke tebing itu! Jangan katakan kau mengambilnya untukku dan terjatuh hingga seperti ini, hyung! Jangan katakan ini karena aku! Jangan pernah mencoba untuk memperjelas, bahwa semua kemelut hidupmu adalah karena aku!"

Donghae membuka matanya, membuat aliran air yang sejak tadi tertahan, kini mengucur membasahi kedua pipi pucatnya.

"Sebenarnya apa yang kau pikirkan? Kau mencoba menolong hidupku dan mengorbankan nyawamu? Kau ingin aku gila meski jantungmu ada dalam tubuhku, huh?"

Donghae mengernyit kala ia mengingat semua perkataan Kyuhyun. Entah dimana dan kapan, namun ia yakin ia pernah mendengar untaian kalimat tersebut. Ia mendesah perih disana..

"Mereka tak memberitahu apapun tentang kejadian kemarin! Menyebalkan bukan?! Kau tahu, aku sangat kecewa atas semuanya!"

Ada jeda, dan Donghae mencoba untuk menunggu dalam ingatannya. Ia kembali memejamkan matanya..

"Maafkan aku atas semuanya. Atas permintaan bodoh ibuku! Atas kehadiranku, hyung. Bukankah akan lebih baik bila aku tak ada, seperti dulu? Sekarang aku hanya ingin pastikan, kau terbangun dan kembali seperti semula. Kau mendengarku kan?"

"Seharusnya kau ingat, kau pernah mengatakan padaku, bahwa kau memberiku satu cadangan nyawa! Apa itu masih berlaku hyung? Kau lihat, aku sudah memberikan kembali malaikatmu. Aku akan meminta padanya, agar sebuah nyawa itu ia berikan padamu saja.."

Kembali Donghae membuka matanya. Ia ingat! Banyak dari kata tersebut, Donghae mendengarnya dengan jelas. Sangat jelas dan ia mengingatnya. "Mungkinkah Kyuhyun menemuiku?" batin Donghae. Ia menjadi resah. Bola matanya bergerak gelisah seketika.

"Hyung!" pekiknya tertahan sambil mencoba untuk mengapai Leeteuk di sampingnya. Sulit! Karena nyatanya ia kesulitan untuk bergerak sedikit saja. Ia mencoba untuk memanggil Leeteuk.

Bahkan Kibum saja tertidur sambil menelungkupkan wajah di lengan Donghae. Sedang Donghae sungguh sangat gelisah dibuatnya. Semenjak ia terbangun, memanglah Kyuhyun tak menampakkan diri seujung rambutnyapun. Sang ibu? Donghae belum melihatnya.

"Hyung.."

Kembali Donghae mencoba untuk menggerakkan tubuhnya. Hingga didapatnya perhatian Leeteuk yang kembali terbangun. "Ada apa? Kau butuh sesuatu?"

Donghae bernafas lega. Ia mencoba untuk bertemu pandang dengan sang hyung. "Kyuhyun.." ungkapnya dengan susah payah. Kali ini tak mendapat respon berarti dari Leeteuk, hingga Donghae harus menggenggam jemarinya. "Kyuhyun, di-mana?" ucapnya terbata. Ia terlalu kesulitan untuk berucap dalam suara tinggi.

Leeteuk bungkam.

"Hyung! Aku ingin bertemu.."

"Tenanglah, Hae.."

Donghae melihat Leeteuk dengan kening mengerut. "Ada sesuatu?" tanyanya.

"Tidak.."

"Bohong!"

Akhirnya Leeteuk mendesah lelah. "Maaf, karena hyung tak dapat menemuinya untuk sekarang.." tutur Leeteuk. Namun ia tertegun kala mendapati Donghae yang hampir menangis. Sepertinya, kini ia sedang membuat seorang pasien rumah sakit menangis, benar?

"Dia baik-baik saja, Hae.." ucap Leeteuk untuk menenangkan Donghae. Ia berusaha menenangkan tangisan Donghae, namun itu ternyata teramat sulit. Meski Donghae tak merengek keras, namun ia menjadi tak tahan menatap kesedihan tersebut.

"Jangan tunjukkan wajah seperti itu! Hyung tak suka melihatnya!"

Kibum terbangun mendengar ribut-ribut disana. Ia mengucek matanya dan bingung setelah melihat apa yang terjadi. "Ada apa ini? Hyung, kau baik-baik saja?"

Leeteuk terlihat mengusap kasar wajahnya. "Aku butuh udara segar! Bantu aku menjaganya sebentar, Kibum-ah.." cetus Leeteuk akhirnya. Ia bergegas meninggalkan tempat tersebut. Meninggalkan Donghae yang merenggut kecewa, serta meninggalkan Kibum yang kebingungan. Terakhir, menyisakan bunyi kecil dari pintu yang tertutup.

Wajahnya begitu kusut sesaat setelah keluar dari ruangan tersebut. Ia lalu terduduk di kursi yang ada di sekitarnya. Sesungguhnya ia tak memiliki tujuan pasti. Hanya menghindari permintaan Donghae yang mana ia tahu, dirinya tak mampu menolak. Tapi ini adalah tentang Kyuhyun. Lantas mengapa?

Ia akhirnya merunduk untuk menutup wajahnya sendiri. Ia tutupi wajahnya dan mencoba melupakan semuanya untuk sejenak saja. Namun, sebuah suara derap langkah kaki kembali mengganggunya. Ia tak mampu untuk memfokuskan dirinya, dan lalu melepaskan tangannya yang sejak tadi menutup wajahnya.

"Leeteuk-ah.."

Leeteuk menoleh dan mendapati sang ayah. Ternyata derap langkah tadi adalah miliknya. Tuan Lee berjalan ke arahnya dengan sedikit tergesa-gesa. Leeteuk yang sesungguhnya masih menyimpan sedikit sisa marahnya pada sang ayah, menjadi serba salah. Di sisi lain, ia tak mungkin mengabaikannya begitu saja.

"Ada apa?"

Sang ayah terlihat menarik nafasnya dalam dan berulang-ulang. Ia tak sempat untuk duduk bergabung di samping putranya. "Leeteuk-ah, ibumu dan Kyuhyun pergi.."

"Huh?"

"Mereka pergi tanpa kabar. Mereka menghilang!"

-TBC-


Ini konfliknya? *muntahdulu* : saya pusing sama konflik yang sebenernya biasa aja, tapi butuh tenaga ekstra untuk menjelaskannya pelan-palan. T,T ada banyak cast disini! Hae - Teuk - Kyu udah pasti! Kibum juga cukup dominan! Tapi saya pusing pas bagian ibu Kyu, ayah Hae. Mereka itu gak terlalu penting (?) tapi memang saya butuhkan, dan tak bisa dihilangkan begitu saja! Tolooooooooooong~ :/

Eh, yang ini sudah ringan kan? Tak setegang kemarin? HaaHaa. Lama-lama saya stress kalu konfliknya kaya kemarin terus. Gpapa kan ya?

Ini! Saya balas ripiu ya, sebagai ungkapan maaf karena updatenya agak lama..

.

teukiangle: Siapa yang dag-dig-dug! Makasih ya, tapi saya gak niat ubek-ubek apapun (?) LOL

BryanTrevorKim: Sayapun gak relaaaaaaaaaaaa~ /O\

Safa Fishy: Jangann! Jangan marah sama cast yg lain termasuk saya! xDD mereka tidak bersalah~ mereka terpaksa! :( yakin nih mau ngambek? Wkwkwkwk..

GaemGyu92: Ayo ditebak ah! HaaHaaHaa~ jangan nyerah..

Love Baby Hae: xDD soal meninggal dan tidak? Tuhan yang tahu. Ehehehehehe~

kihae forever: hyaaaa~ saya tidak tau apa-apa! *Ngeles, :p

Laut: Hae meninggal? G tauuuuu~ :3

Guest: Maca cih? :3

joanbabykyu: Percaya pada keajaiban? OKESIP! ^_-

sihae is mine: Jangan! Jangan bertindak macam-macam! xDD Kau pikir siapa penyemangatku buat tik? Matinya Hae itu artinya END! T_T

meimeimayra: Selamatkan saya jugaaaaaaaaaaaaa~ :3

pandagame: Insyaw~ xDD

Angelika Park: TeukHaeKyu yang lain? *Pingsan~

Sitha911110: Teuk yang mati? Entar pada kaget, ehehehehe~

Gyurievil: Kenapa bisa panik sendiri? LOL Kehilangan keponakan? Maaaafffff~

Gihae Lee: Sayapun deg-degan waktu tik, suer deh~ muwehehehehe..

KimKeyNa2327: Takuma itu yang mana ya? Pelem yang mana? Ehehe.

dydy: Jangan kutuk siapapun! sebenernya keadaan ini wajar sih kalu menurut saya. Pernah nonton MV timeless punya xiah junsu? Nah pas Hankyung ketembak dan koma (g ada kesempatan idup) itu jantungnya lgsung dikasih Won (yg emang butuhin) kan? hehehe..

rini11888: Teuk egois emang! Dia lupain Kyu, sempet! Karena sibuk ma Hae kan. Saya g mungkin buat dia bulak-balik ruangan, xDD

Blackyuline: Kok yg satu ini malah joget sih? lol Pokoknya ceritanya seperti ini g apa-apa kan? HaaHaa.

ADS: Maca cih? :3

Lee HwaKyung: Enggak! xD saya ma udah lama. Hhe~ Teuki tak saya apa-apain lho. Masih pusing ama dua bocah itu juga, ahahaha~ Hae mati? Cerita berakhir! :p

TeuKyu: Jantung Hae buat Kyu Teuk benci Kyu = panjangnya ceritanya?

Guest: Ini udah kilat kan? ^_- Jangan mewek lagi dung! xDD

arumfishy: Teukyuhae meninggal gak rame dong? /o\

ndah951231: Jantung berhenti? :O Kalo saya mampu saya ambil semua untuk saya Ndah! x) Jgn bawa Kibum juga, eonni pusing tar di bom org yang berbias Kibum! Lho? Nangis bombay itu kaya gimana? :3

oelfha100194: Ayo tebak laghi! :3 Semoga ini happy end bagaimanapun caranya, xDD

Cho Kyura: Saya emg suka yang gantung2. Hey jantungnya Hae tidak untuk siapapun. :))

InnocentHae: Selamat kan mereka? :)

AlifELFyeoja: Dijemur gak bantalnya? Kkk~ ASIK dapet 100 jempol~

WONHAESUNG LOVE: Saya masih belum puas siksa Hae nih, gimana dong? *Plak~

haelfishy: Bisa- bisa dongsss~ hheee..

fikyu: Gak kuat kenapa? LOL Makasih pujiannya. Ultahku udah lama, ohoho, :') Pasti saya buat teukhaekyunya, pasti! :D

sfsclouds: Amienn~ hhe. Udah tanggung, udah banyak yang nangis kok, xDD

xxx: Jangan benci mereka! T,T mereka hanya terpaksa. tapi jgn salahkan saya juga ya? Auhhhhh~ xD

lyELF: baru tau? Eonnie kan raja tega, :p eh kau teriak-teriak dimana? Jangan bikin ribut! xDD Tangisanmu menggantung dimana emangnya? *Kabur~

haekyuLLua: Saya gak maksud ngaduk apapun lho, -_-" Happines? Umh~ Umh~ *mikir~

namihae: No coment iyh ayu lebay! xDD

AriskaXian: Semua terjadi seperti apa maumu. Kau senang? :D

BabyHae: Donghae bilang gak akan. Tapi kata authornya? Gtau tuh, :p

Ainun861015: Yakin ditelen TBCnya eonn? Saya gak akan rela kalo otak saya ketebak dengan mudah! Auhhh~ xDD Eonnie mah omongannya panjang ajah! *Gemes saya~

gyu1315: Kenapa jadi Leeteuk? x)

dhedingdong: Iya iya, Hae gak mati, ^_- gak mati kaaaannnn? ehehehehe..

Yulika19343382: Udahan nangisnya? Ahahahaha..

vivi kurnia: Donghaemu?! -_- DONGHAE Saya, boleh? :p Dan saya tak minta dicekek! *Cekek balik~

Elfishy: Iyakah? Anak-anak orang pada nangis? fitnah itu mah, :3

lee Kyula: Bagus! Anak baik! Tunggu saja lah kelanjutan ceritanya. Ahahahaha~ bicaramu panjang bener sih? *Gemes~

rini11888: Kayaknya kalu kaya gitu akan jadi sgt panjang dan terbang kemana-mana. Hhee~ saya maunya ini cepat selesai soalnya. HooHoo..

ameliachan: Terima kasih, :D kalo dijadiin pelem? Castnya Hae juga? GAK BOLEH! xDD Kesian, T,T

bella0203: Itu sih deritamu, :p Saya nyiksa Hae? Benarkah? Berarti cita-cita saya tercapai, *Plak~

HaElf: Maunya sih idup ya. Tapi gak rame dong, Lho?

babykyupa: Maaf membuatmu menangis, :3 Jangan ambil Hae? Ambil kemana? Saya tak kemana-mana! x)

hijkLEETEUK: Siapa yang sialaaaaaannnnn? x) *Cekek~

ShinJoo24: Begitulah sekarang, :(

NESkyu: Makasih udah nunggu. Jangan penasaran lagi ya, Kkk~

nureazizah: pada emosi nih chapter kemarin? xD udah ngehayal kemana aja nih? Ahhaahhaa~

hyerilee. haenemo: Jangan mewek lagi yo, :3

Chokyu: OKESIP! ^_-

Kim Haemi: Gak akan dikasihin kok, :'))

ekha sparkyu: Apaan lempar lempar? -_-" Udah saya bales lagi! Awas lempar lagi gak eonn bales nanti, :p dan bikin matamu bengkak sama si angel nangis? Suka dong saya! ASIK! x)

haehae15: Hae gak meninggal kan ya? LOL Dia juga bias sayaaaa~ Makasih ya, :D

choyeonrin: Beneran nih Kyu mati? Ahhaahhaa. ASIK! Yang penting happy kan ya meski bagaimanapun jalannya? Semua ada di tangan saya, Wkwkwk..

tiaraputri16: Masih penasarankah? :D

BunnyKyunnie: Enggak, alias saya gtau! xDD ceritanya masih harus beberapa chapter lagi. :')) nasib mereka masih bisa berubah-rubah lho,,,

casanova indah: Gimana ya? lol hehehe.. jgn ada yg mati? *Mikir~

vha chandra: Jadi lebih baik yg mana? satu? dua? atau tiga? xDD menurutku sih? Gimana nanti. Ahhaaaahhh, ;)

Augesteca: Gak diambil kok, dan gak ada yang jahat disini, x)

Mira Haje: Itu apa Jepangnya gak ngerti? :3 Buat semenderita mungkin tp jangan ada yg mati? ^Berat~

Dew'yellow: Eonnie musti bilang aphaaaaaaaaaaaaa? x) Coba minta persetujuan yg lain, kalo FF ini cuman buat kau saja. Atau, update semua FFmu! Eonn kasih nih buat kau, ahhaaaahhhaaaa~

TeukHaeKyu: Gak begimane-begimane. Begini aja pokoknya, T_T Ini udah asapkah? x)

92Line: saya yg tidak rela. Gak jadi deh kasiinnya, HaaHaaHaa :D

rrannteuk: Baiknyaaaa :')) gak minta ini-itu lagi kah? OKESIP! ^_-

Han Eunkyo: huh? Kau dipecat jadi elfish! x)

nnaglow: Kata authornya gak boleh katanya, :(

Calista: Jadi gimana dong? Begini lebih bai kan ya? :D

Cho Ai Lyn: Siapin tisu yang banyak nanti-nanti ya, bagi yang lain, xD

haehaehae: Wah! Makasih, :D Hae baik-baik aja kan ya? ;)

myHaelfishy: Yang kekal kan hanya Tuhan. LOL

riekyumidwife: Enggak kan ya? ^_- yah! Kau sparkyu atau elfish? *Tamparbolakbalik, xD

Guest: OKAY! Segini cukup kan ya, :D

ExitoHaeFishyQueen: Sad ending bisa! Happy/endng gimana nanti lah ya, HaaHaaHaa..

diahretno: Iya ini Donghae aktor utamanya! xDD Donghae sayaaa~ hhe, :')

Aisah92: Hidup kan mereka? :D

vicya merry: Bagaimana? Saya adil kan sama Hae? Ahhaahhaa..

Ike. aulia: saya yakin kali ini kau tak menggalau? Yahaaa~

ADS: Gak ada kan? x)

Mira Haje: Terima kasih udah nungguin ya, :'))

tya andriani: Enggak kok, haahaa~ jangan berpikiran buruk, (/_\)

widyawts: Gpapa. Ntar nangisya barengan sama yg lain ya? x))

Park Shinju: Masih penasaran? Kali ini saya pikir tidak terlalu, :D

Chokyu: YAOI? Bukan! x) kerasa banget YAOInya emang ya? Wadduh~ *Tepokjidat~

.

Nah, cukup sekian cuap-cuap dari saya. Terima kasih buat kalian yg udah mau ripiu ya. :')) maaf atas typo, atas cerita yang kian membosankan. Atas terlambatnya publish. HeeHee..

Wassalam~