Funny Sunny Day

.

Disclaimer: Naruto © Kishimoto Masashi

Warning: OOC, typo(s), AU, isi seadanya, sekuel STILL, pertemuan Naruto dan Hinata di Jepang | Genre: Romance, School, Fluffy, Humor | Rate: T | Main Pairing: Naruto Uzumaki/Namikaze and Hinata Hyuuga | Story is mine |

Enjoy Reading!

.o.O.o.

PART II: Glasses Girl!

Pemuda berambut kuning keemasan tidak banyak bicara saat menatap lekat-lekat wajah gadis berambut panjang berwarna biru langit malam memakai kacamata tebal dua inchi. Wajah Naruto saking malunya terus mengingat kejadian luar biasa beberapa detik yang lalu. Naruto berharap gadis di depannya ini tidak apa-apa apalagi sungkan padanya.

Naruto ingin berbicara langsung, tapi keburu datang sang ketua kedisiplinan berwajah datar, memiliki kulit pucat, dan badannya kurus. Laki-laki itu adalah ketua kedisiplinan bernama Shimura Sai.

"Ada apa ini? Kenapa kalian berada di gerbang sekolah dan tidak masuk?" tanya Sai menyipitkan mata melihat dua orang sedang bersinggungan menatap satu sama lain. Sai juga melihat Menma dan Sakura secara bersamaan. "Kalian anak baru, ya?"

Pemuda berambut biru langit malam bangkit dari tanah, membersihkan sela-sela seragamnya, ikut menatap sinis ketua kedisiplinan itu tanpa kenal takut. "Iya, memangnya kenapa kalau kami anak baru? Ada yang salah?"

"Cih!" Sai mendecik kesal. Baru kali ini ada orang melakukan itu padanya. Walaupun mereka masuk di pertengahan semester pertama. Sai melirik Hinata, "Sedang apa kamu berada di situ, Hinata?"

"Eh?" Hinata kaget dan langsung bangkit berdiri disusul Naruto juga bangkit. Hinata mundur selangkah dari Naruto, bersembunyi di belakang Sai. Malu-malu.

Sai kembali menatap Naruto membantu gadis berambut merah muda untuk berdiri. Sai tidak peduli pada apa yang terjadi pada Naruto dan gadis itu, tapi yang membuat miris adalah tatapan tajam dari Namikaze Menma sekarang sudah dibencinya. Sai berbalik badan disusul Hinata. Mereka berdua hilang bersama angin lalu.

Menma melihat semua langkah-langkah jalan Sai, menyeringai kecil. "Anak itu sepertinya butuh teman. Bisa dilihat dari langkah jalannya yang sok angkuh."

Sakura dan Naruto tahu sekarang Menma meneliti langkah orang berjalan dan mimik ekspresinya. Tidak heran kalau ada orang bisa mengetahui kepribadian lewat langkah dan ekspresinya.

"Lebih baik kita masuk saja." Menma mengambil tas sekolahnya, sisanya dilemparkan pada Naruto. Menma berjalan secara biasa bukan sombong tidak mau lagi mengingat masa-masa di mana dia mengenal Shimura Sai apalagi mengenalnya.

Naruto beradu pandang dengan Sakura, Cuma mengedikkan bahu dan melangkah mengikuti Menma dari belakang menuju gedung sekolah yang besar.


Di dalam sekolah, Hinata menghentikan langkahnya. Ekspresi yang tadinya diam berubah jadi merah padam. Mengingat di mana sentuhan tangan besar menyentuh dadanya. Hatinya berdebar-debar seperti telur dadar yang digoreng. Hinata takut kalau jika bertemu lagi pasti tidak tahu harus berbuat apa.

Sai juga menghentikan langkahnya, menoleh kepada Hinata memegang dadanya. Sai menyeringai. Inilah waktunya seorang sekretaris mencari cinta sejatinya. Biarpun Hinata sering diejek karena dianggap culun dan menyebalkan oleh sebagian orang.

"Hinata! Ketua!" teriak gadis berkepang satu bersama gadis bercempol dua berlari mendekati Hinata dan Sai. Gadis tersebut diberi nama Yamanaka Ino, seorang wakil ketua kedisiplinan sedangkan di sampingnya namanya Tenten, seorang bendahara. Jadi, Cuma Sai-lah ketua sekaligus laki-laki di klub kedisiplinan beranggotakan empat orang.

"Hn. Ada apa, wakil ketua?" tanya Sai penuh ketajaman dan terkenal... kasar kepada Ino. Ino tahu jika saat ini Sai sedang berada di aura buruk. Ino dan Tenten itu bersifat sementara saja.

"Tidak bisakah kamu berhenti memanggilku wakil ketua, Shimura Sai?!" Ino berhenti tepat di depan Sai sambil berkacak pinggang. Diliriknya Hinata merunduk dengan wajah merah merona. "Kenapa denganmu, Hinata? Wajahmu memerah."

Hinata langsung merubah wajahnya menjadi datar, diperbaiki letak kacamatanya. Berbicara seolah tidak terjadi apa-apa. "Ng... Aku tidak apa-apa, Ino." Hinata merunduk. "Aku harus pergi! Guru memanggilku."

Hinata pergi meninggalkan Sai, Tenten dan Ino di lorong sekolah. Mereka tahu sifat Hinata jika menyangkut seseorang yang ditemuinya makanya sengaja lari untuk menutupi masalah. Mereka Cuma menggeleng-geleng saja.


Hinata berlari dan terus berlari sambil menunduk. Tidak tahu kalau di depan ada sosok terus diingatnya yaitu Naruto. Hinata menabrak Naruto lagi hingga terpental ke belakang. Untung saja uluran tangan Naruto menangkap tangan Hinata dan memeluknya.

"Untunglah..." Naruto memeluk Hinata lega karena dia tidak jatuh lagi. "Apa kamu tidak apa-apa?"

Hinata mendorong dada Naruto menjauh. Tubuh Naruto mundur seketika. Dia menatap bingung Hinata, kenapa dia harus didorong padahal dia tidak salah. Ini membuat Naruto pundungan dan kecewa karena ditolak perempuan culun dan... manis. Itu kata hati Naruto.

"Kenapa kamu mendorongku?" tanya Naruto bingung. Pemuda berambut kuning keemasan menggaruk kepala yang tidak gatal mengecek tingkah laku Hinata yang aneh.

Hinata memalingkan wajah sampai-sampai menekan dadanya kuat-kuat. Dadanya mulai berdetak hebat tidak karuan. Sekarang ini mungkin bagi Hinata mengenal Naruto lebih jauh, tapi Hinata agak gengsi dan malu. Selalu bertanya-tanya, apakah dia mau menerima gadis berkacamata ini?

"Hmm... Anu..." Naruto maju, Hinata mundur. Setiap Naruto maju lagi dua langkah, Hinata juga mundur dua langkah. "Apa kamu tidak menyukaiku?"

Hinata kaget dan menatap langsung ke arah Naruto, "Akhirnya kamu menoleh juga, gadis berkacamata." Senyum Naruto membuat Hinata terdiam dan memerah. Hinata seakan-akan ingin kabur dari tempat tersebut, hingga langkah kakinya mundur perlahan-lahan. Naruto dengan sigap mengambil tangan Hinata yang menekan dadanya. "Jangan kabur lagi!"

"Le-lepaskan aku!" Hinata berusaha melepaskan diri dari genggaman Naruto, tapi karena tangan Naruto sangat besar dan kekar, Hinata tidak bisa melepaskannya.

Naruto merunduk sambil mengencangkan pegangan tangannya, meneteskan air mata. Hinata dibuat bingung olehnya. Bertanya dalam hati, apa mungkin kata-katanya sudah menyinggung hatinya?

Naruto perlahan-lahan mengangkat kepalanya, ekspresi Naruto sungguh mengejutkan. Hinata yang tadinya diam menyinggungkan senyuman dan akhirnya tertawa dalam diam. Naruto mengendurkan pegangannya, mengangkat kedua tangannya ke bahu Hinata. "Bi-bisakah kamu mengantarku ke... Toilet?"

Hinata tertawa terbahak-bahak. Wajah Hinata membuat Naruto terdiam sesaat karena tidak kuat lagi, Naruto terus berusaha minta jawaban. "Ba-baiklah..." Hinata menyeka air mata tanpa membuka kacamata dua inchinya. "Aku akan akan mengantarmu."

Akhirnya Hinata mengantar Naruto ke toilet. Jaraknya sangat jauh dari ruang kelas. Bisa dibilang lorong ini sudah seperti labirin, pusing dilihat apalagi capek sampai tujuan. Sekolah unik, tapi luar biasa. Anak-anaknya berprestasi. Naruto yang merupakan anak berprestasi langsung takjub pada gedung sekolah Konoha tersebut.

Sambil berjalan-jalan, Naruto bertanya pada Hinata. "Sepertinya aku pernah melihatmu?" Naruto memangku kepala lewat dua tangan tersebut. Berjalan-jalan bersama Hinata mengelilingi lorong. "Apa keluargamu bernama Hyuuga?"

Hinata melirik sesaat langsung menoleh kembali ke depan. "I-Iya. Da-dari mana kamu tahu nama keluargaku?"

Naruto berhenti di depan Hinata, tersenyum ceria. "Perkenalkan namaku, Namikaze Naruto. Panggil aku Naruto saja, ya!" Naruto mengedipkan sebelah mata membuat Hinata melayang saat melihat senyuman indah itu. "Namamu siapa, gadis berkacamata?"

Hinata mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Naruto, Naruto membalasnya. "Na-namaku Hyuuga Hinata."

"Jadi, namamu Hyuuga Hinata, gadis berkacamata?" tanya Naruto ingin sekali berkenalan dengan gadis berambut biru. "Aku belum pernah lihat siswa berkacamata sepertimu. Bolehkah aku berkenalan lebih jauh denganmu?"

Hinata tidak tahu harus bagaimana, hatinya sudah tidak karuan. Ingin sekali membalas semua pertanyaan Naruto, tapi saat melihat toilet sudah di depan mata. Hinata menarik kembali uluran tangan secara paksa membuat Naruto kecewa berat. "Su-sudah sampai."

Naruto melirik tanda toilet di depan sana. Naruto tersenyum mengangguk, berbalik menuju toilet karena perutnya sudah tidak karuan akibat sarapan pagi yang dibuat Menma secara terburu-buru. Naruto sungguh ingin sekali berkenalan dengan Hinata, tapi apa daya setiap ada kesempatan pasti ada halangan.

Gadis berkuncir satu tersebut berbalik badan dan berlari meninggalkan Naruto yang seharusnya ditunggu. Biar bagaimanapun saat ini Hinata tidak bisa berbicara banyak dengan Naruto karena hatinya tidak berhenti berdetak apalagi melihat wajahnya serasa ingin menciumnya.

Lagi-lagi Hinata menabrak sekelompok senior terdiri dari tiga orang. Hinata terpental ke belakang. Bukan lagi Naruto menangkap tangan atau memeluknya, malah Hinata mencium lantai marmer lorong sekolah. Hinata kembali memperbaiki letak kacamata dan menoleh ke arah tiga orang senior tersebut.

"Seharusnya kalian tidak berada di lorong ini!" bentak Hinata kepada ketiga senior tersebut. Aura mencekam di sekitar Hinata menguat. Saat ini memang dia tidak kenal takut, tapi saat melihat ekspresi wajah ketiga senior yang sekarang masih membenci klub kedisiplinan menyeringai licik. Hinata tahu sekarang bukan saatnya untuk lari. Tubuhnya tidak bisa bergerak.

"Kamu membentak kami, anak kelas satu?!" teriak salah satu kakak senior, air liur muncrat di sela bibirnya. Hinata mengelap bekas air liur di wajahnya.

"Lebih baik kita siksa dia apalagi anak ini anggota klub kedisiplinan. Kita pakai dia untuk mengancam Shimura untuk keluar, bagaimana?" Hinata merasakan sudah waktu baginya untuk berteriak, tapi senior yang satu membengkap mulut manis Hinata dan membawanya pergi dari lorong tersebut.


Beberapa menit kemudian, Naruto keluar dengan leganya. Perutnya tidak lagi mules apalagi berdenyut-denyut. Setelah merapikan seragam sekolahnya, dia memanggil Hinata. "Aku sudah selesai. Bisa mengantarku ke kelasku..." Naruto melihat tempat di mana Hinata menunggu, tapi sosoknya hilang sama sekali. "Lho? Ke mana dia?"

Ada rasa curiga menerpa dirinya juga perasaan tidak enak. Naruto mencari Hinata di lorong sekolah, tapi tidak ada siapa pun. Naruto sudah beberapa kali mencari di setiap kelas, tapi tidak ada sedikitpun aura Hinata di gedung ini. Hingga akhirnya terdengar suara dari belakang sekolah.

"TOLOOONG!" Naruto tahu siapa suara tersebut. Naruto berlari ke arah belakang sekolah, tapi Naruto sudah berada di lantai dua dan juga tidak tahu tangga turun berada di mana. Akhirnya Naruto membuka jendela, menangkap sosok Hinata dan ketiga laki-laki sangar berusaha menangkapnya.

"GADIS BERKACAMATA!" Hinata dan ketiga orang senior melihat Naruto berada di lantai dua. "Aku akan datang!"

Hinata berkaca-kaca karena ada pahlawan datang menghampirinya, tapi bagaimana caranya membuat Naruto turun dari lantai dua. Seharusnya dia tidak berada di situ karena tangga menuju lantai bawah berada di dekat kantin. Mungkin Hinata perlu memberikan instruksi agar tidak tersesat lagi.

Karena tidak memiliki cara lain, Naruto membuka lebar-lebar jendela dan meloncat turun. Naruto mendarat dengan sempurna. Hal ini membuat ketiga senior dan Hinata terpaku sambil terpana melihat Naruto meloncat dan mendarat dengan baik.

Namun, Naruto merasakan denyut dan mati rasa di bagian kakinya merintih kesakitan. "Aduuhh... Sakit... Baru kali ini aku turun dari lantai dua..."

Mereka berempat sweatdrop melihat Naruto ternyata baru pertama kali turun dari lantai dua. Mereka kira Naruto bisa bela diri ternyata tidak, ya. Tidak disangka-sangka ada saja orang konyol di sekolah ini apalagi masuk pertengahan semester satu.

"Lepaskan gadis berkacamata itu, preman jalanan!" Naruto yang sudah tidak merasakan sakit lagi, bangkit dari keterpurukkan. Naruto memasang kuda-kuda agar tidak terlalu memaksa. "Jangan sakiti dia!"

Hinata pun melayangkan tendangan ke arah kaki seniornya. Setelah merasakan tendangan tersebut, senior jatuh karena sakit di bagian kaki. Hinata berlari menuju Naruto, tapi tangannya ditangkap lagi oleh salah satu senior yang tidak terluka.

"Mau ke mana kamu!" Hinata berteriak dalam diam. Dengan sigap, Naruto meninju perut senior yang menangkap tangan Hinata. Hinata jatuh tersungkur sebelum Naruto menangkap tubuhnya agar tidak jatuh ke tanah.

"Kamu tidak apa-apa?" Hinata mengangguk lemah. Naruto tersenyum senang melihat Hinata baik-baik saja.

Salah satu senior bangkit lagi dengan wajah tidak terbaca. Mereka murka dan siap menerkam Naruto.

Naruto melindungi Hinata dengan cara membelakanginya, melindungi di belakang punggungnya. "Kalian terlalu dini untuk menghajarku." Naruto menyeringai. "Kalian akan kubuat babak belur satu-satu."

"Jika kamu bisa, anak baru!" senior berani melotot Naruto. Dilayangkan kaki ke arah Naruto, Naruto berusaha melindungi Hinata, mengangkat tubuhnya ala bridal style mundur ke belakang dengan cara meloncat ke belakang.

Naruto menurunkan tubuh Hinata, memintanya untuk tidak pergi ke mana-mana. "Tetaplah di sini. Jangan ke mana-mana."

Hinata mengangguk.

Dilihat Naruto berlari kencang dan meloncat setinggi mungkin memukul kepala senior tersebut, yang lain ditendang punggungnya dan sedangkan yang satu, saat Naruto mendarat, Naruto mengambil pergelangan tangan senior tersebut dan membantingnya ke depan memakai teknik Judo.

Semuanya tumbang dalam sepersekian detik. Betul-betul anak raja Judo dan Karate. Selalu berlatih jika ada waktu. Tentu saja yang mengajarinya adalah Namikaze Minato, sang ayah Naruto yang dulunya juara Karate dan Judo.

Naruto bertepuk tangan, membersihkan debu di telapak tangan dan menyeringai. Sesaat Naruto berjalan mendekati Hinata, salah satu senior bangkit berdiri. Dia melayangkan pukulan dengan cara dikepalkan tangan menjadi tinju. Hinata kaget langsung mencari-cari sesuatu agar bisa melindungi pemuda kuning keemasan tersebut.

Hinata mengambil batu melemparkannya ke arah senior tersebut. Hampir mengenai Naruto yang mengelak secara tiba-tiba, berbalik badan dan menangkap tangan terkepal senior itu.

"Sebelum memukulku, lihat situasi dulu kakak senior!" Ditarik tangan tersebut ke arah bawah, dilayangkanlah lutut ke arah perut senior. Sebuah pukulan telak telah membuat senior tersebut tumbang. "Ternyata kalian lemah."

"Hei! Gadis berkacamata! Kamu menghalangi jalanku!" teriak salah satu senior mendorong tubuh Hinata ke depan. Untung saja, Naruto secepat mungkin menangkap tubuh Hinata... lagi.

Naruto membersihkan tubuh Hinata dari debu, menoleh ke arah senior dengan tatapan tajam. Naruto mengepalkan tinju siap menghancurkan orang yang telah menyakiti Hinata sehingga menimbulkan bunyi nyaring tersebut. Senior tersebut tidak kenal takut pada Naruto. Mereka sama-sama bertatap tajam sampai-sampai urat nadi mereka kelihatan.

"Bokongmu terlalu mahal untuk diguliti. Apa lebih baik dicincang?" Naruto bersiap-siap menghadapi salah satu senior yang mengganggu Hinata.

Naruto ingin berlari menghancurkan senior itu, tapi muncullah sosok laki-laki di belakang senior tersebut yang tidak lain adalah Menma. Pukulan siku mengenai punggung senior tersebut. Senior tersebut jatuh pingsan.

"Menma?" Naruto senang karena ada Menma di sini. "Kenapa kamu ada di sini?"

Menma membersihkan kedua tangan dengan cara bertepuk tangan. Debu keluar dari telapak tangannya, "Karena kamu belum juga datang, jadi kami mencarimu."

"Kami?" Naruto menaikkan alis dan memiringkan kepala.

Gadis berambut merah muda muncul di belakang Menma, membawa sebuah tongkat kayu untuk jaga-jaga. Sakura paling anti kekerasan siap bertarung jika sepupunya kenapa-kenapa. "Aku! Kamu dari mana saja?"

"Sakura?" Naruto terlihat senang. Hal ini membuat Hinata cemburu dan iri kepada Sakura karena Sakura telah membuat Naruto tersenyum senang seperti itu. Hinata merunduk dan Sakura melihat Hinata cemberut, tersenyum juga akhirnya mengetahui perasaan Hinata kepada Naruto.

Kakak-kakak senior kembali bangkit. Tidak heran kenapa mereka bisa bangkit. Itu karena pelajaran olahraga di sekolah Konoha mirip militer jadinya... mereka harus siap bangkit dan tidak boleh terpuruk lemah. Beda dengan perempuan yang lebih mengutamakan memasak ketimbang jadi tentara sekolah. Kasihan, ya para laki-laki.

"Kamu tidak usah ikut campur, anak baru!"

Menma, Sakura, Hinata dan Naruto kaget karena mereka bisa secepat itu bangkit dari kubur(?). Menma melindungi Sakura, sedangkan Naruto melindungi Hinata. Mereka siap menantang maut jika terjadi apa-apa pada kedua perempuan tersebut. Menma sudah berjanji melindungi Sakura demi Sasuke agar Sasuke bisa pulang dan menggantikan dirinya melindungi Sakura suatu saat nanti.

Hinata berlari dengan cepat melindungi ketiganya. "Ini adalah tugas seorang anggota kedisiplinan! Aku akan menjaga kalian!"

Naruto sungguh terkejut menatap Hinata merentangkan kedua tangan untuk melindungi mereka sambil menutup mata. Akhirnya kedua senior tersebut memukul Hinata memakai sebuah tongkat kayu agar bisa membuat Hinata terluka. Semuanya berjalan lambat.

Naruto berteriak dan bangkit berdiri, Sakura dan Menma juga maju untuk melindungi Hinata, tapi... akhirnya... Hinata yang menutup mata membuka mata perlahan-lahan. Ada bayangan seseorang di depannya. Matanya terbelalak kaget, Naruto melindungi.

"Na-Naruto?" Hinata menutup mulutnya, gemetaran. Bisa dilihat kepala Naruto mengeluarkan darah segar sambil memasang wajah tersenyum.

"Sudah kubilang, bukan? Jangan pergi ke mana-mana, gadis berkacamata," kata Naruto melihat Hinata menangis terharu. Naruto menyeka air mata tersebut dengan ibu jarinya. "Sudah jangan menangis."

Semua senior telah tumbang karena Menma sudah menghancurkannya. Membuat mereka tidak berdaya sama sekali. Menma memberitahukan hal ini kepada kepolisian sekolah agar menangkap senior yang telah berbuat ulah. Sakura menghubungi mereka lewat ponsel genggamnya.

Hinata menangis tersedu-sedu. "Ku-kukira kamu akan mati..."

Naruto tersenyum. Tanpa pikir panjang Naruto mencium puncak kepala Hinata. Hinata kaget lagi dibuatnya gara-gara perbuatan Naruto, sudah di dadanya sekarang dicium keningnya. Nanti apalagi. Hinata menatap sendu Naruto, memajukan wajahnya ke arah Naruto. Sepertinya Hinata ingin mencium Naruto, tapi...

Naruto pingsan akibat pusing berlebihan. Darah keluar lagi dari kepalanya. Hal ini membuat saudara, sepupu dan Hinata terkejut tiba-tiba. "NARUTO!"

Naruto Cuma menggumamkan nama, "Aku senang kamu selamat, Hinata..." Naruto pun pingsan.

Hinata memerah merona. Karena butuh beberapa jam untuk memulihkan wajah merahnya, dia tidak tahu kalau Menma dan Sakura sudah meninggalkannya sedari tadi. Makanya jangan selalu melamun karena baru pertama kali dipanggil nama depan. Kelewat deh, momen itu.

To Be Continued...


Next Part III: Fall In Love!

"Maafkan aku," Hinata menangis melihat Naruto terkapar di tempat tidur ruang UKS. Hinata menyesal pada apa yang terjadi sampai-sampai membuat Naruto jadi korbannya.

"Kubilang jangan menangis... Hinata."

"Aku merasa telah jatuh cinta padamu, Hinata," kata Naruto malu-malu sambil menuntup mulutnya. Telinganya memerah karena panasnya udara atau karena tubuh mereka.

"A-aku juga sama, Naruto..."

.o.O.o.

A/N: Akhirnya selesai juga tepat tanggal delapan. Syukur deh! Terima kasih sudah membacanya, ya! ^^

Keep smile from me,

Sunny BLUE February

Date: Makassar, 08 februari 2013

Mind to review? ^^