Fifty Shades Trilogy milik E.L. James

Saya cuma minjam karakternya dan sama sekali tidak mengambil keuntungan materi apa pun.

.

.

Because I Love You

.

Aku mematung di kursiku. Semaksimal mungkin aku tersenyum manis untuk menghilangkan tatapan tajam Christian padaku. Sial! Dia pasti marah besar padaku.

.

Bagian Dua

.

.

Christian mengambil tempat di kursi tamuku.

"Hai," bisikku.

"Hai? Itukah kata yang kaupilih untuk kauucapkan padaku setelah mengabaikan segala bentuk komunikasi yang kukirimkan padamu beberapa waktu yang lalu?"

"Aku lupa Christian."

"Lupa?!"

Oke, aku salah kata. Dewi batinku berteriak mengejek pilihan kataku.

"Bukan, bukan lupa dalam artian sengaja, Christian," jelasku.

"Ana, semua orang tau lupa adalah sesuatu hal yang tidak sengaja."

"Bukan seperti itu, Christian." Aku menghela napas berat. "Aku minta maaf. Aku lupa. Maksudku, aku lupa bukan karena sengaja mengabaikan e-mail dan panggilanmu lalu lupa untuk membalasnya. Lupa di sini karena aku ternyata men-silent Blackberry-ku. Aku tidak ingat kalau aku menyetel mode itu."

"Seperti biasa, disampaikan dengan sangat baik," balas Christian. Tatapannya belum melembut, aku tahu dia masih marah.

Aku menggigit bibir bawahku. "Tolong, jangan marah padaku," bisikku.

"Kau tahu bagaimana efek gerakan menggigit bibir yang kaulakukan, Anastasia."

Aku berhenti menggigiti bibirku, memutar bola mataku dengan bosan.

"Apakah kau sedang memutar bola matamu padaku, Mrs. Grey?" Sinar mata Christian kini mulai memancarkan sinar jenaka. Kupikir dia sudah melupakan kekesalannya padaku.

Aku tertawa kecil. "Tidak, aku tidak akan berani, Mr. Grey," jawabku.

Tatapan mata Christian menyipit dengan penuh gairah. Udara di sekitar kami mulai memanas. Aku menggeliat pelan dalam dudukku.

"Oh, iya? Kupikir sekarang kau sudah berani membohongi suamimu, Mrs. Grey. Hukuman apa yang harus kuberikan untuk istri yang berbohong pada suaminya?" Suara Christian terdengar begitu sensual di telingaku. Dewi batinku melonjak-lonjak kegirangan, sambil membawa pom-pom penyemangat.

"Sesuatu yang menyenangkan, kuharap."

Bayangan bercinta dengan Christian di sini, di ruanganku, tiba-tiba menyeruak ke permukaan. Tubuhku langsung bereaksi oleh pemikiran itu. Namun pertanyaan Christian selanjutnya membuat bayangan itu sirna sepenuhnya.

"Kau sudah makan siang?"

Shit! Double shit! Dewi batinku melotot, seolah menyalahkanku, karena kebodohanku, agenda bercinta dengan Christian di sini harus dihapuskan.

Aku tidak menjawab pertanyaan Christian, hanya tersenyum lemah. Dan Christian sudah tahu jawabannya. Dia terlihat marah lagi.

"Aku tidak mengerti kenapa kau sulit sekali untuk mendengarkan perkataanku, meski hanya untuk urusan asupan gizimu."

"Christian, aku ... aku lupa."

Christian tampak akan meledak lagi. Sebelum kata-katanya meledak, aku segera melanjutkan pembelaanku. "Aku tahu aku salah. Tidak seharusnya aku lupa. Tapi mengertilah, pekerjaanku sehabis cuti begitu banyak. Aku tenggelam dalam pekerjaanku dan tidak sadar bahwa ternyata banyak sekali waktu yang terpakai."

"Itulah semakin menguatkan keinginanku agar kau tidak perlu lagi bekerja."

Oh, tidak! Dia mulai lagi. Tuan Gila Kontrol-ku!

"Christian, kumohon, aku tidak ingin berdebat mengenai masalah ini. Kita sudah pernah membahasnya. Aku salah, aku minta maaf, dan mungkin sekarang lebih baik aku mengambil jatah waktu makan siangku. Kau bisa bergabung, maksudku kalau kau tidak keberatan."

Christian tidak menggubris penawaranku. "Kau lapar?"

"Bukan untuk makanan," bisikku.

Raut wajah Christian melembut. "Mrs. Grey, selalu penuh keinginan yang terduga. Hati-hati dengan ucapanmu."

Dewi batinku mengerang. Kali ini aku berdamai dengannya, setuju bahwa keinginan kami kali ini sama.

"Aku bukan orang yang suka berhati-hati." Aku menyeringai padanya.

"Di rumah. Dan sekarang makanlah. Aku akan menemanimu."

Aku cemberut. Dewi batinku ikut cemberut bersamaku.

Aku mengeluarkan bekal yang disiapkan Gail dan mulai memakannya. Christian hanya diam, sambil menatapku.

"Habiskan," perintahnya.

Aku ingin membantah, tapi dia menyela.

"Little Blip butuh asupan gizi yang baik."

Lihat, sekarang kau jadi senjata utamanya untuk memaksaku, makan, Little Blip.

.

.

Waktu berjalan dengan begitu cepat. Tak terasa usia kandunganku sudah mencapai bulan keempat. Tubuhku mulai menunjukkan perubahan yang signifikan. Payudaraku semakin berisi, pinggangku menebal, lengan dan kakiku mencapai ukuran yang belum pernah kucapai sebelumnya. Belum lagi perubahan mood-ku yang mulai tidak stabil. Aku mulai sering merasa lelah, kesal, dan sedih tanpa alasan yang jelas. Belum lagi morning sick dan masa ngidam yang kulalui. Twining English Breakfast adalah teman setiaku untuk meringankan morning sick-ku. Aku beruntung Christian bisa menjadi suami yang sabar dalam hal memenuhi keingananku selama masa kehamilan. Meski tak jarang keinginan itu sangat tidak masuk akal.

Sebuah lengan kekar memeluk pinggangku dari belakang. Aku yang sedang menghadap cermin bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang memeluk pinggangku.

"Apa yang kaupikirkan?"

"Aku memikirkan bahwa kehamilan membuatku menjadi lebih menyebalkan." Aku menyeringai.

"Sangat menyebalkan," koreksi Christian. "Tapi aku tetap mencintaimu," tambahnya, dengan kecupan mesra di telingaku.

Aku tertawa kecil. "Aku tidak sabar untuk bisa melihat Little Blip lahir ke dunia ini. Apakah dia akan lebih mirip denganmu atau denganku?"

Aku bisa membayangkan Little Blip dengan rambut dark chopper milik Christian, mungkin mata biru dariku, dengan pesona Christian. Little Blip yang berlarian di halaman belakang rumah kami dengan aku dan Christian yang mengikutinya dengan penuh pancaran kebahagiaan. Oh, anakku!

"Kupikir dia akan lebih mirip denganmu, setidaknya dia tidak mewarisi Fifty Shades ayahnya."

Perkataan Christian menyadarkanku dari lamunan masa depanku. Wajah Christian tampak sedih. Aku memutar tubuhku, menghadapnya. Kuusap wajahnya, mulai dari dahi sampai dagunya.

"Aku mencintaimu dengan segala Fifty Shades yang ada dalam dirimu."

Christian mengambil tanganku, kemudian mengecup punggung tanganku. "I love you, Mrs. Grey."

"I love you, too, Mr. Grey."

.

.

Hari ini Christian berangkat lebih awal, dia ada rapat di Portland pukul delapan pagi. Aku masih berada di tempat tidur. Jam di kamar kami masih menunjukkan pukul setengah delapan. Aku mendengar suara getaran dari meja kecil di sebelah tempat tidur. Ponselku? Tidak, itu bukan ponselku. Ponsel Christian? Rasanya tidak mungkin. Christian hampir selalu membawa ponselnya kemana pun.

Aku mengambil ponsel itu dari atas meja. Ini memang ponsel Christian. Aku mengerutkan keningku. Ada sebuah pesan masuk ke ponselnya. Aku dilanda kebimbangan. Perlukah aku membaca pesan itu? Sebagian hati kecilku melarang, tapi sebagian lagi mengatakan di antara kami tidak ada rahasia apa pun. Maka tidak ada salahnya jika aku membuka pesan itu. Dewi batinku menyetujui rencana itu.

Aku memutuskan untuk membuka pesan itu. Dan seketika darahku membeku.

*Christian, terima kasih atas pengertianmu semalam. Semoga kau bahagia.*

Mrs. Robinson!

.

.

Bersambung

.

.

Terima kasih sudah membaca sampai di sini. Sebenarnya saya habis baca review tentang novel ini di salah satu blog dan saya ngakak karena novel ini dihina abis-abisan. Tapi ya mau bagaimana lagi, memang isinya ngga terlalu 'wah' untuk ukuran novel terlaris. Cuma emang bikin penasaran sih dan saya suka. Hehehe... :p

Jadi makasih yang mau baca. :D

Review akan saya balas di pm ya. :)