I am a bad girl

Ooc, Gs, Typo, tidak sesuai EYD dll.

Ranted : T

Chapter : 11/11

It's HunHan World.

Saranghaeyo Oh Sehun.

.

Luhan tengah mengigit kukunya, kata – kata Sehun masih terngiang – ngiang di benaknya, dia akan kembali ke korea? Itu adalah alasan yang membuat Luhan seperti ini. Luhan masih memikirkan bagaimana jika orang tuanya mendengar berita kemarin, beritanya yang bekerja sebagai penari striptease ? apakah orang tuanya akan menerimanya? Tunggu.. apakah mereka masih bersama atau sekarang sudah berpisah? Hah…. Luhan menghela nafas panjang, memikirkannya saja sudah membuat Luhan tidak bisa bernafas bagaimana jika dia benar – benar datang ke korea. Luhan terlalu sibuk dengan pikirannya sampai dia tidak ingat kalau dia sedang memasak.

"Oh god…" Pekik Luhan saat hidungnya mencium bau gosong. Dengan cepat dia mematikan kompor. Kepalanya terasa sangat berat, Luhan duduk di kursi dan menutup wajahnya dengan tangan. Pikirkannya masih saja memikirkan keadaan orang tuanya di korea sana.

"Jangan terlalu dipikirkan." Luhan terperanjat kaget dengan suara Sehun yang tiba – tiba saja terdengar di sebelahnya.

"K-kau sudah pulang?" Tanya Luhan. Sehun hanya tersenyum dan duduk disamping Luhan.

"Aku tau dirimu, kau pasti akan memikirkan semuanya, kata – kataku tadi pagi masih terngiang – ngiang bukan?" Tanya Sehun sambil mengusap pipi Luhan.

"A-aku hanya…"

"Kau akan baik – baik saja Lu, percayalah. Kalau kau memang tidak bisa percaya pada dirimu sendiri, cobalah percaya padaku… aku akan menjagamu." Ucap Sehun meraih tangan Luhan dan mencoba meyakinkannya.

"Tapi Sehun, kau tau mereka akan kecewa jika mendengar apa yang aku lakukan disini, belum lagi aku yang tiba – tiba saja menghilang dan kau tau aku sudah lama sekali tidak bertemu dengan mereka." Jelas Luhan.

Sehun segera menggeleng dan tangannya meraih wajah Luhan. Sehun menyelipkan rambut Luhan dibalik telinganya agar dia bisa melihat wajah Luhan dengan jelas.

"Kau tau perlu khawatir dengan hal itu, percaya padaku." Luhan mengangkat wajahnya dan menatap Sehun. Luhan menatap matanya lama, mencoba untuk percaya pada Sehun walau dirinya sendiri tak menyakininya. Dan tak lama kemudian Luhanpun mengangguk.

"Kemari." Ujar Sehun. Luhan mendekatkan tubuhnya dan segera dipeluk oleh Sehun. Luhan memejamkan matanya dan menyembunyikan wajahnya didada bidang Sehun, menghirup aroma Sehun yang membuatnya bisa tenang.

"Bagaimana jika kita makan diluar saja?" tanya Sehun sambil melepaskan pelukannya. Luhan menatap masakannya yang gosong. Kemudian kembali mengangguk.

~I am a bad girl~

Sehun mengajak Luhan kesalah satu restoran favoritenya, jika Sehun tidak memiliki jadwal dia selalu datang ke restoran ini. Merekapun memesan makanannya. Sehun tersenyum ketika melihat Luhan yang sudah mulai tenang.

"Sepertinya di korea sekarang sudah menginjak musim semi." Ujar Sehun membuat Luhan mendongak kearahnya.

"Yeah… I think so." Jawab Luhan sambil memainkan jarinya.

"You like spring very much, right?" Tanya Sehun. Luhan kembali menghembuskan nafas panjang karna entah kenapa bayangan masa lalunya kembali terlintas.

"You know…"

"I know, it's because there will be so many cherry blossom tree, right?" Luhan kembali menghembuskan nafas panjang.

"Sudah lama aku tidak bisa melihat pohon itu." Gumam Luhan sambil menatap kearah jendela kayu yang berada tak jauh dari tempatnya duduk.

"Maka dari itu aku akan kembali membawamu untuk melihatnya." Jawab Sehun dengan semangat membuat Luhan mengangkat bibirnya.

"Apakah ini salah satu caramu membuatku percaya untuk kembali ke korea?" Tanya Luhan menatap Sehun yang masih setia dengan senyumannya.

"Tidak ada salahnya bukan?" Tanya Sehun. tak lama kemudian seorang pelayan datang membawa makanan mereka. Susana menjadi hening, hanya terdengar music klasik dari Vivaldi yang berjudul L'autunno yang menggema di seluruh penjuru ruangan. Luhan yang mendengarnya tersenyum tipis, lagu ini mengingatkannya pada pria yang ada dihadapannya.

"kau mengingatnya?" Tanya Sehun. Luhan mengangguk pelan.

"Kau selalu mendenarkan lagu ini disetiap pergantian musim." Jawab Luhan. Sehun mengangguk, ada rasa senang saat Luhan masih mengingat kebiasaannya sejak dulu.

"Kenapa aku tidak mendengarkannya lagi? Bukankah belakangan ini kita banyak menghabiskan waktu bersama?" Tanya Luhan.

"Hemmm…" Sehun sedikit berdeham. "… dulu kau mengatakan ada bagian dimana kau tidak menyukainya…" Lanjut Sehun.

"Ahhh… benar." Tiba – tiba saja alunan musik berganti, ini adalah bagian dimana Luhan tidak menyukainya.

"di menit ke 3:35 sampai 4:38 suasanya menggambarkan seseorang yang sedang kesepian…" Gumam Luhan sambil memejamkan mata dan meresapi alunan musik itu.

"Tapi kemudian alunan lagu berubah di menit ke 4:39…"

"Dan itu adalah bagian kesukaanmu." Sela Sehun membuat Luhan membuka matanya sambil tersenyum dan mengangguk.

"Tapi hanya beberapa detik saja karna selanjutnya alunan lagu lebih menyeramkan dan terdengar seperti seseorang yang sedang kehilangan orang yang dicintainya membuat dia lebih kesepian." Lanjut Luhan kemudian benar – benar membuka matanya.

"Aku tidak menyangka kau tau menit dimana suasanya berganti." Ucap Sehun tak menyangka.

"Aku akan selalu mengingatnya karna setiap tahun aku selalu memutarnya." Jawab Luhan dengan suara mengecil.

"Jadi setiap musim kau masih memutarnya?"Tanya Sehun yang semakin terkejut dengan apa yang dikatakan Luhan, jujur saja dia tidak menyangka dengan apa yang dikatakan Luhan.

"Well… Mungkin kau yang membuatku tidak bisa meninggalkan kebiasaan lama ini, semua hal yang menyangkut masa laluku saat berada di…. Korea, sudah kucoba untuk hilangkan karna aku tidak mau lagi mengingatnya tapi…" Luhan menghela nafas panjang dan menatap Sehun.

"…entah kenapa setiap pergantian musim datang… aku tidak bisa untuk tidak memutar lagu ini, sekalipun aku mencoba aku tetap tidak bisa dan hal ini terus membuatku mengingat….mu." Lanjut Luhan sambil memandang kearah lain. Sedangkan Sehun yang ada dihadapannya, mengembangkan senyumannya, dia tidak menyangkan kalau Luhan selalu mengingatnya beberapa tahun terakhir ini, dia menduga kalau orang pertama yang dilupakan Luhan adalah dirinya.

"…tapi satu tahun terakhir ini aku sama sekali tidak mendengarkannya." Ujar Luhan.

"karna kau sudah mendapatkan cara untuk melupakan lagu itu bukan?" Terka Sehun. Luhan mengangguk dan kembali melanjutkan acara makannya.

"…dengan cara membuat tato namaku di tubuhmu." Lanjut Sehun, dan dia yakin sekali untuk beberapa saat Luhan membeku karna ucapannya.

"Aku tau kau tidak mau membahasnya, tapi aku ingin berterima kasih karna dengan begini aku tau kalau aku memang seseorang yang selalu ada dalam pikirianmu, dan jujur saja aku senang mengetahuinya." Ujar Sehun karna Luhan tidak kunjung berkomentar.

Luhan menatapnya kemudian mengangguk sekali dan kembali memakan makanannya, tapi jujur didalam hatinya dia sangat tersentuh dengan apa yang dikatakan Sehun, dia tersentuh pada cara Sehun yang selalu bisa menebaknya, dia tersentuh karna Sehun tau isi hatinya yang tidak mau membahas hal ini. dan satu lagi yang membuatnya semakin jatuh dalam perangkan Sehun, pria itu tau bagaimana cara memperlakukan seorang wanita sepertinya dengan baik.

~I am a bad girl~

Sehun mengundur penerbangannya ke Seoul, dia ingin Luhan untuk meyakinkan dirinya sendiri, tentu saja Sehun tidak sepenuhnya ingin jika Luhan kembali ke Seoul karna paksaanya.

Tapi entah kenapa hari ini Luhan terlihat sangat cemas, jantungnya berderup dengan kencang dan pipinya memerah sempurna, bukan hanya itu dia juga tidak bisa diam, dan Sehun berani bersumpah kalau Luhan hari ini terlihat seperti seseorang tengah kehingan sesuatu.

"Kau kenapa Lu?" tanya Sehun. Luhan yang sedang melamun langsung mengerjapkan matanya dan menatap Sehun.

"Aku? Aku baik – baik saja." Jawabnya kemudian kembali melamun.

Sehun yang kebetulah sedang tidak memiliki terlalu banyak pekerjaan memutuskan untuk berada dirumah. Sehun menggeser posisi duduknya dan merangkul pudak Luhan membuat wanita itu terkejut.

"Katakan padaku, apa kau merindukan club? Apa kau sedang memikirkannya?" tanya Sehun. Luhan terlihat menatapnya lama sebelum menjawab.

"Aku tidak tau, hanya saja aku tidak merasa tenang, aku merasa ada hal yang kurang." Ujar Luhan. Sehun mengusak rambut Luhan pelan sambil tersenyum.

"Ayo, kita pergi kesana, sudah berapa lama kau tidak meneguk wiskey atau vodka kesukaanmu?" Luhan tersentak keget apakah benar dia seperti ini karna sudah lama tidak meneguk minuman itu lagi?

"Ayo… aku akan mengantarmu." Ajak Sehun. Luhan dengan ragu menatap Sehun.

"Aku tidak bercada Lu. Aku tau kau membutuhkannya, dan aku tidak akan melarangmu." Ujar Sehun lagi mencoba meyakinkan Luhan kalau dirinya sedang tidak bercada. Akhirnya dengan ragu Luhan bangkit.

~I am a bad girl~

Mereka sudah ada didalam club dimana Luhan dulu bekerja, entah kenapa ada rasa senang saat Luhan kembali mengunjungi tempat ini, mungkin karna dia rindu dengan suasananya. Entahlah, yang dia tau saat ini adalah dia sangat senang. Tak sengaja matanya menangkan sosok yang sudah tidak aneh lagi dimatanya sedang berada disamping panggung yang sedang menampikan beberapa penari. Dan mata biru itu tak sengaja bertatapan dengan Luhan. Pria bertubuh tambun itu langsung berlari kecil mendekati Luhan yang tetap berdiri ditempatnya.

"Luhan!" Pekik pria itu dengan bersemangat sambil memeluk Luhan.

"Boss." Ujar Luhan pelan sambil membalas pelukannya, ya.. pria itu adalah sang boss atau bisa dikatakan mantas bossnya.

"Where have you been? I have looked for you, where do you live now? Oh… I miss you." Ucap sang boss. Luhan hanya menatapnya sambil tersenyum, tak lama kemudian dia mengangkat tangan kirinya dan menunjukan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya.

"Oh…" Pria itu tersentak dan dia baru sadar kalau sedari tadi ada pria yang setia berdiri di samping Luhan.

"Oh.. hallo, we have met before right?" Tanya sang Boss pada Sehun.

"Yes, we met here." Ucap Sehun sambil menjabar tangan pria itu.

"And now you are her boyfriend oh.. no, husband?" Tanya pria itu sambil menatap Luhan dan Sehun bergantian.

"No, she is my girlfriend but we will get marrid soon." Jawab Sehun. Luhan hanya memutarkan matanya.

"So why do you come here? You wanna dance again?" tanya Boss. Luhan tersenyum mengejek.

"Of course no, I just wanna meet with you and buy some drinks." Jawab Luhan.

"Oh… such a pitty, I hope you can dance again." Ucap sang boss dengan ragu dan sedikit menatap Sehun tapi pria itu hanya memasang wajah tenang tanpa ada sedikitpun ekspresi marah.

"No, I woun't. I have promised." Jawab Luhan sambil menatap Sehun. Sang boss hanya mengangkat bahunya acuh.

"Fine, but if you want to chance your mind I'm in my office." Ucap Sang boss.

"No, it won't chance and I want to tell you that I will come back to korea." Dan Ucapan Luhan yang barusan sukses membuat sang boss benar – benar terkejut.

"you will come back to korea? But… why?" Luhan menghembuskan nafas panjang.

"I think it's time for seeing my family there, I think I have taken too long enough stay in London, there is part of me say that I miss Korea."

"So I can't meet with you anymore?" Tanya sang boss sedih.

"Oh… come on, maybe someday I will visit you here boss." Ucap Luhan sambil menepuk pundak sang boss.

"Baby~ I will miss you so much." Ucap sang boss sambil kembali memeluk Luhan.

"Yeah… me to, I will miss you, but… thanks because you had given me a job here." Ucap Luhan kemudian melepaskan pelukannya.

"Oh… it's not problem, you said that you want to buy some drink right? Let's go I will give you free."

Luhan terkekeh dan mengikuti sang boss ke meja bar yang tak jauh dari tempatnya berdiri sedangkan Sehun hanya mengikuti mereka dari belakang, jangan berpikir kalau Sehun sedangmarah karna dia sedari tadi tidak ikut dalam pembicaraan Luhan dan Sang boss, bukan marah tapi Sehun lebih menjaga sikap, dia tidak mau ikut campur masalah Luhan dengan sang boss, karna dia tau dan dia percaya kalau Luhan akan mengambil keputusan yang tepat.

~I am a bad girl~

Luhan tengah duduk sambil memandang dua buah botol Vodka ditangannya. Dia baru sadar kalau sudah lama sekali dia tidak meneguk minuman favoritnya ini, padahal dia yakin sekali kalau dulu dia tidak penah bisa meninggalkan minumannya barang sehari saja.

"Kau merindukan minumannya?" Tanya Sehun. Luhan perlahan menengok kearahnya kemudian kembali memandang Vodka yang ada ditangannya.

"Mungkin." Jawab Luhan tanpa menatap Sehun.

"Jika kau mau meminumnya katakan saja padaku, aku akan mengantarmu untuk membelinya atau jika kau mau aku akan menemanimu, kita bisa minum bersama." Jawab Sehun. Luhan menatapnya dengan ragu.

"Tidak, tidak perlu, aku bisa meminumnya sendiri, aku tidak mau kau ikut tertular." Jawab Luhan memandang kearah Sehun sekilas.

"Tapi jika kau perlu teman aku akan menemanimu." Ucap Sehun kemudian keluar dari mobil. Luhan baru saja sadar kalau mereka sudah sampai diapartemen Sehun. Pria itu membukakan pintu untuk Luhan dan mengulurkan tangannya.

Luhan segera keluar dan langsung menggenggam tangan Sehun dengan tangannya yang bebas, karna dia tau kalau dia harus kembali menaiki lift. Sehun langsung membawa Luhan kedalam pelukannya saat mereka memasuki lift, beruntung karna tidak ada orang saat itu.

"Lebih baik dari sebelumnya bukan?" Tanya Sehun sambil melepaskan pelukannya.

"Tidak ada yang lebih baik selain dipelukanmu." Jawab Luhan dengan suara rendah hampir tidak bisa terdengar oleh Sehun.

"Aku tau." Sayangnya Sehun masih bisa mendengarnya. Tiba – tiba saja pipi Luhan memerah, dia merutuki dirinya karna dia mengatakan hal menjijikan itu.

Sehun membukakan pintu dan membiarkan Luhan masuk terlebih dulu. Sehun menutu pintu dan mengantungkan jaketnya. Sedangkan Luhan yang sudah masuk terlebih dahulu sedang berjalan menuju dapur dan mengambil sebuah gelas. Sehun terkekeh, terkahir dia melihat Luhan, wanita itu sedang meneguk Vodka langsung dari botolnya. Bukankah ini sebuah perubahan yang baik?

"Kau mau aku meminumnya?" Tanya Sehun sambil duduk di samping Luhan.

"Tidak." Jawab Luhan langsung dan menyingkirkan gelasnya dari tangan Sehun. Tapi Sehun langsung terkekeh pelan.

"Lu aku bukan pria polos yang tidak pernah meneguk minuman bernama vodka." Luhan mengerjap pelan, dan dia hanya megikuti bergerakan tangan Sehun yang perlahan meraih gelas di tangannya. Dan Luhan membulatkan matanya saat Sehun meneguk vodka itu.

"Sehun…" Ujar Luhan sambil menaikan tanganya berusaha meraih gelas yang ada ditangan Sehun.

"See… You just worry too much baby~" Ucap Sehun sambil menyerahkan gelas itu pada Luhan yang masih terpaku.

"Aku pikir kau tidak bisa meminumnya." Ucap Luhan kembali menuangkan vodka pada gelasnya.

"Apa kau tidak berpikir selama ini aku tinggal di London dan tidak pernah mencicipi minuman semacam ini?" Luhan hanya mengangkat bahu dan kembali meneguk minumannya.

"Kau ingin aku menemanimu?" Tanya Sehun. Luhan menggeleng dan mendorong pelan bahu Sehun agar bangkit dari kursinya.

"Tidak usah, aku bukan anak kecil lagi Sehun, pergilah tidur." Ucap Luhan kemudian kembali memandang gelasnya.

"Kalau begitu berjanjilah setelah kau selesai kau akan pergi tidur…." Luhan langsung mengangguk patuh.

"Aku mengerti."

"….denganku." Lanjut Sehun. Luhan membulatkan matanya dan menatap kearah Sehun yang mulai berjalan menuju kamarnya.

"Kau harus menepati janji atau aku akan menyeretmu." Ucap Sehun sambil terkekeh dan masuk kedalam kamarnya. Sedangkan Luhan hanya menghembuskan nafas panjang dan meneguk lagi vodka nya.

~I am a bad girl~

Luhan tidak memperdulikan ancaman Sehun, dia pergi kekamarnya sendiri dan menggosok gigi mencoba menghilangkan bau vodka yang menguar. Setelah mengganti bajunya dengan piama Luhan langsung berbaring ditempat tidurnya dan mematikan lampu.

Tapi setengah jam kemudian tepat saat matanya akan benar – benar terpejam ada seseorang yang memeluknya dari belakang membuat Luhan tersentak kaget.

"Jika kau tidak mau datang padaku, biar aku yang datang padamu." Bisik Sehun sambil mengeratkan pelukannya. Luhan terkekeh dan memutarkan tubuhnya menghadap Sehun. Dia menatap Sehun dalam bayang – bayang cahaya remang yang dikeluarkan lampu tidurnya.

"Apa yang kau lakukan hah?" Tanya Luhan dengan nada pelan dan membalas pelukan Sehun.

"Menamani sang putri kedalam mimpinya." Jawab Sehun sambil mengusap rambut panjang Luhan.

"Jika aku putri apa kau akan berharap sebagai pangerannya?" Tanya Luhan menggesekan hidungnya pada dada Sehun.

"Well… kenapa tidak? Siapa yang tidak mau menjadi pangeran yang akan menikahi putri secantik dirimu." Luhan terkekeh dan memukul dada Sehun pelan.

"Itu menjijikan." Ujarnya pelan membuat Sehun terkekeh.

"Hemmm… let's sleep because tomorrow we will go to Korea." Untuk sesaat Sehun merasakan tubuh Luhan menegang kaku dalam pelukannya.

"T-tomorrow? Are you kidding me?" Tanya Luhan sambil mendongak menatap Sehun.

"No, I have prepered everything."

"B-but…" Luhan menghembuskan nafas panjang dan melepaskan pelukannya. "… aku tidak siap Sehun. tidak…" Lanjut Luhan. Sehun melepaskan pelukannya dan menyalakan lampu yang ada disampingnya.

"Jadi kau ingin kita menunggu sampai kau siap? Sekarang biarkan aku bertanya satu hal. Kapan kau akan siap Lu?" Tanya Sehun. Luhan menatapnya sesaat matanya mulai berkaca – kaca tapi Luhan menahannya, Luhan menahan agar air matanya tidak jatuh.

"Aku tidak tau…" Ucapnya pelan dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Sehun menghembuskan nafas panjang, dia menarik pelan tangan yang menutupi wajah Luhan.

"Lu… kau hanya perlu meyakinkan dirimu untuk selebihnya semua itu urusanku. Percayalahan tidak akan ada yang berubah." Ucap Sehun sambil menyerka air mata Luhan.

"Tidak ada yang berubah?" Tanya Luhan dengan suara serak. Sehun mengangguk walau dia sendiri tidak begitu yakin dengan reaksi orang tua Luhan jika mendengar apa yang dilakukan anaknya selama berada di London.

"Sehun… kau perlu tau kalau aku juga mengenalmu, aku bisa melihat ada keraguan di matamu." Ucap Luhan. Sehun tersenyum miris.

"Setidaknya kita harus mencoba Lu, kita tidak mungkin berdiam diri disini. Kau tau itu tidak akan menyelesaikan masalah, Lu… kau harus menghadapinya." Ujar Sehun sambil menangkum pipi Luhan.

"T-tapi aku.."

"Dengar, apapun yang terjadi aku akan selalu ada disampingmu, aku berjanji. Jika aku melanggar ucapanku ini kau bisa membunuhku jika kau mau." Ucap Sehun dengan nada serius. Luhan membulatkan matanya.

"Aku tidak mungkin melakukannya." Ujar Luhan kemudian membenamkan wajahnya di dada Sehun. Sedangkan Sehun mengecup kening Luhan dengan mesra.

"Mungkin aku tidak bisa menjanjikan kalau masalah ini akan selesai sesuai harapan tapi yang hanya bisa aku janjikan adalah kau akan menghadapinya dengan aku yang akan selalu ada disampingmu." Ujar Sehun. Entah kenapa saat Sehun berkata seperti itu ada sedikit rasa yang merambat menuju hatinya dan membuat Luhan jauh lebih tenang.

"Tidurlah, besok akan menjadi hari yang panjang." Ucap Sehun lagi kemudian disambut dengan anggukan pelan dari Luhan.

~I am a bad girl~

Mereka sudah berada di pesawat menuju Korea. Luhan duduk di pinggir jendela membuatnya bisa melihat bumi dari kejauhan. Sebuah senyuman terukir di bibirnya saat pesawat melewati gumpalan alwan putih yang terlihat sangat lembut.

"Bagaimana rasanya jika aku bisa terbang." Gumam Luhan pelan.

"Memangnya apa yang akan kau lakukan jika bisa terbang?" Tanya Sehun yang kembali mendengar gumamannya.

"Entahlah, mungkin dengan terbang tinggi aku bisa melepas beban di pundaku, aku bisa pergi kemanapun aku mau." Jawabnya.

"Suatu saat nanti aku yakin kau bisa melakukannya." Ucap Sehun ikut menatap keluar jendela.

"Yeah… mungkin." Jawab Luhan sambil terkekeh. Luhan menatap Sehun membuat pria itu membalas tatapannya.

"Kau masih mengantuk?" Tanya Sehun refleks saat melihat mata Luhan yang terlihat lelah.

"Yeah… kau membangunkanku terlalu pagi." Jawab Luhan sambil menguap.

"Kalau begitu tidurlah, kita masih harus melewati beberapa jam sebelum dia sampai di Incheon." Ujar Sehun sambil menarik pelan kepala Luhan agar bisa bersadar di pundaknya. Luhan terkekeh pelan dan mengaitkan jarinya ke celah – celah jari Sehun, membuat pria itu tersenyum.

"Kau tau kenapa ada jarak diantara jari – jari kita?" Tanya Sehun menunjukan ke lima jarinya yang bebas.

"Em… mungkin jika tidak ada jarak tidak akan bisa dinamakan jari." Jawab Luhan ikut menatap jari – jari Sehun.

"Kau salah." Ujar Sehun sambil menyentuh hidung Luhan.

"Lalu? Apa jawabanya?" Tanya Luhan mengangkat kepalanya dari pundak Sehun.

"Karna tuhan menciptakannya agar kita bisa mengaitkan jari – jari kita satu sama lain, seperti ini." Ucap Sehun sambil mengangkat tangan mereka yang saling mengait.

Dan entah mengapa, pipi Luhan terasa sangat panas, dia yakin sekali kalau sekarang pipinya sudah memerah. Cepat – cepat dia kembali menyandarkan kepalanya di bahu Sehun berharap pria itu tidak melihatnya. Tapi sayang, sepertinya Sehun selalu mengetahui apapun yang coba di sembunyikan Luhan.

"Kau lucu saat wajahmu memerah." Bisik Sehun. Luhan mengalihkan padangannya pada jendela dan berpura – pura tidak ingin mendengarnya.

"Baiklah… baik.. aku tidak akan menggangumu lagi, sekarang tidurlah." Bisik Sehun membuat Luhan menatapnya. Sehun mengusap – usap tangan Luhan yang sedang digenggamnya. Dan Luhan merasa sangat nyaman berada di sisi Sehun seperti ini.

~I am a bad girl~

Mereka sudah sampai di bandara Incheon Korea Selatan. Sehun yang sudah mempersiapkan segalanya langsung menuju taxi yang dipesannya dan memasukan semua barangnya.

"Ahjussi pergilah terlebih dahulu kita akan menyusul nanti." Ucap Sehun dalam bahasa Korea, membuat Luhan mengerutkan keningnya, jujur saja selama mereka ada di London Luhan jarang sekali berbicara bahasa Korea bahkan tidak pernah. Dia lebih memilih menggunakan bahasa Inggris.

"Kita tidak akan pergi ke Seoul?" Tanya Luhan. Sehun menatapnya kemudian menggeleng.

"Aku kira kau sudah lupa dengan bahasa Korea." Ucap Sehun. Luhan menaikan bahunya, acuh.

"Sepertinya itu tidak mungkin karna kau tau, aku dibesarkan di Korea." Sehun tersenyum mendengar penuturan itu, dia terlihat mencari sesuatu kemudian berjalan begitu saja meninggalkan Luhan yang masih bingung. Luhan menghembuskan nafas dan melihat ke sekitar, mereka masih berada dihalaman bandara. Jantung Luhan mulai berderup kencang karna orang – orang semakin banyak berdatangan. Jujur saja hal itu membuat kepalanya berputar.

Suara klakson mobil membuat Luhan membuka matanya dan mendongak kedepan. Tenyata disana sudah ada Sehun yang berada dalam mobil kesayangnya.

"Cepat masuk, orang – orang akan semakin banyak berdatangan." Ujar Sehun. Luhan

~I am a bad girl~

Mereka sudah sampai di Seoul. Jantung Luhan semakin berderup kencang. Pikirannya terus berputar memikirkan kemungkinan terburuk yang akan didapatkannya, seperti kedua orang tuanya tidak akan menerima Luhan sebagai anaknya lagi. Who knows?

Dan tak lema kemudian dia menatap sebuah jalan yang dia sangat kenal. Jalan menuju rumahnya, rumahnya dulu, rumah kedua orang tuanya. Luhan menatap Sehun yang terlihat masih tenang di belakang kemudi.

"Tenangkan dirimu Lu. Percayalah semua akan baik – baik saja." Ucap Sehun sambil menggenggam tangannya. Luhan terus mengulang – ulang kalimat Sehun dalam benaknya. Tenangkan dirimu, semuanya akan baik – baik saja. Dia terus mengulangnya beberapa kali sambil menutup mata. Tiba – tiba saja mobil mendadak berhenti dan kata – kata yang Luhan ucapkan didalam benaknya menjadi berubah. Kumohon jangan katakan kalau sudah sampai. Ucapnya berulang – ulang.

"Lu.. kita sudah sampai." Ucap Sehun yang tiba – tiba saja sudah ada disampingnya. Luhan membuka matanya dan menatap kesekitar. Benar saja mereka memang sudah sampai di kediaman orang tua Luhan.

"Ayo." Ucap Sehun menyodorkan tangannya. Luhan menggenggamnya dengan tangan gemetar.

"Chamka..." Ucap Luhan membuat Sehun berhenti melangkah. Tidakah dia salah dengar? Apakah barusan Luhan berbicara dalam bahasa korea.

"Aku ingin memastikan kalau aku masih bisa berbicara bahasa korea." Ucap Luhan lagi masih dalam bahasa korea. Sehun tersenyum.

"Sekarang biasakanlah untuk menggunakannya lagi." Ucap Sehun sambil tersenyum kemudian merangkul Luhan. "Sudah siap?" Tanya Sehun.

Luhan mencoba mengatur nafas dan membuat dirinya siap. "Baiklah, ayo kita hadapi masalah ini." Ujarnya. Sehun melepaskan rangkulannya dan menggenggam tangan Luhan dengan erat, mencoba membuat Luhan siap.

Sehun sudah berada didepan pintu dan Luhan berada dibelakangnya. Kalau dilihat dari depan, maka Luhan tida akan terlihat sama sekali karna tertutup oleh tubuh Sehun.

Perlahan pintu terbuka dan menampakan seorang wanita yang tidak muda lagi dengan sebuah celemek yang menempel pada tubuhnya.

"Omona… Sehunnie." Ucap wanita itu yang tak lain adalah ibunda Luhan.

"Annyeong ahjumma." Sapa Sehun dengan sopan.

"Kapan kau kembali Seoul?" Tanya Mrs. Xi.

"Baru saja, aku bahkan belum sempat mengunjungi orang tuaku." Ucap Sehun.

"kalau begitu masuklah, ahjumma sedang membuat makan siang, kau ikut saja makan bersama kami." Ucap Mrs. Xi.

"Jeongmal Gomawo ahjumma… keunde… aku memiliki sesuatu untuk ahjumma." Ucap Sehun. Mrs. Xi terlihat mengerutkan keningnya.

"Apa itu?" Tanyanya. Sehun menggeser tubuhnya kesamping membuat Luhan akhirnya terlihat. Mrs. Xi terkejut setengah mati, dia tidak percaya kalau anaknya yang sudah lama menghilang kini ada dihadpannya.

"A-annyeong." Sapa Luhan kaku. Mrs. Xi menutup mulutnya dan berjalan kearah Luhan.

"Luhan… ini benar dirimu?" Tanya Mrs. Xi. Luhan mengangguk, butiran kristal sudah menumpuk di pelupuk matanya.

"E-eomma." Ujar Luhan dengan suara kaku. Mrs. Xi tidak bisa berkata apapun, dia langsung memeluk Luhan. Memeluk anak yang selama ini dirindukannya.

Dan saat itu tumpahlah air mata Luhan, dia sudah tidak bisa lagi membendungnya. Isakan mulai keluar dari kedua wanita itu.

"Darimana saja dirimu? Eomma sangat merindukanmu." Ucap Mrs. Xi dengan suara terisak.

"Yixing… kenapa kau diam diluar?" Tanya seseorang dari dalam. Mrs. Xi yang tak lain adalah Yixing langsung melepaskan pelukannya dan menatap Luhan sambil mengangguk.

Luhan dan sang eomma masuk kedalam rumah di susul dengan Sehun yang mengikuti mereka dari belakang.

"Siapa tamu yang da…" Seketika itu Joonmyeon yang tak lain adalah ayah dari Luhan menghentikan ucapannya saat matanya menangkan seseoang yang sudah lama dicarinya. Luhan. Joonmyeon langsung menghampiri Luhan yang berdiri disamping istrinya.

"Kau…" Ucap Joonmyeon. Luhan menundukan kepalanya tak mau menatap ayahnya sendiri. Entah kenapa bayangan masalalu saat sang ayah sedang bertengkar dengan ibunya.

Luhan tersentak kaget saat seseorang secara tiba – tiba memeluknya dengan erat dan Luhan sadar kalau ternyata itu adalah ayahnya.

"Kemana saja kau? Appa mencarimu bertahun – tahun kenapa kau tak pulang?" Pertanyaan itu langsung keluar dari Joongmyeon ketika memeluk anaknya. Entah kenapa mendengar pertaanyaan itu membuat Luhan bisa bernafas lega, setidaknya saat dia menghilang mereka mencari dirinya.

"Mianhae appa… aku membuatmu sangat khawatir, aku memang bodoh." Ucap Luhan sambil membalsa pelukan ayahnya.

"Gwenchana… sudah jangan pikirkan yang sudah berlalu, appa sangat senang melihatmu disini." Ucap Joonmyeon. Luhan melirik Sehun yang ada dibelakangnya sesaat, dan pria itu tersenyum tipis seolah – olah menyatakan kalau perkataannya benar, karna mereka tidak berubah.

"Ah… aku baru sadar kalau disini ada Sehun." Ucap Joonmyeon melepaskan pelukan Luhan dan menjabat tangan Sehun.

"Ne ahjussi, annyeong." Sapa Sehun sambil membalas jabatan tangannya.

"Dia yang sudah membawa Luhan kembali." Ucap Yixing sambil memeluk suaminya dari samping.

"Benarkah? Oh… ahjussi mengucapkan banyak terima kasih." Ucap Joonmyeon.

"Aniyo ahjussi, memang ini sudah menjadi tugas saya membawanya kembali." Ucap Sehun.

"Baiklah, bagaimana kalau kita makan. Yixing bukankah tadi kau sedang masak?" Tanya suaminya.

"Omona… bagaimana aku bisa lupa." Yixing melepaskan pelukannya dan berlari kecil menuju dapur.

Sehun, Luhan dan Joonmyeon berjalan menuju meja makan, entah kenapa Luhan ingin terus berada di samping Sehun. mungkin dia merasa masalahnya belum sampai disini…

"Appa…" Panggil Luhan saat mereka sudah duduk di meja makan.

"Ne?"

"Ada yang ingin aku tanyakan." Ucap Luhan.

"Tanyakan saja chagi." Ucap Joonmyeon dengan lembut.

Luhan terlihat menatap Sehun sesaat mencoba mencari sebuah kekuatan. Sehun mengangguk dan memegang tangannya.

"Apa appa sudah mendengar beritanya?" Tanya Luhan. Untuk sesaat Luhan sangat yakin kalau appanya itu tersentak kaget saat Luhan menayakan hal ini. Luhan meremas tangan Sehun mencoba memberi tau kalau dia sedang gugup. Kemudian tak ada suara lagi, semua menjadi hening dan sang appa tidak menampakan tanda – tanda untuk menjawab pertanyaannya itu.

"Sebentar." Ujar Suho kemudian melesat menuju dapur. Luhan menghembuskan nafas panjang untuk kedua kalinya dia baru sadar kalau sedari tadi menahan nafas.

"Sehun… eotteoke?" Tanya Luhan dengan nada ciut. Sehun menghela nafas dan memeluk Luhan dari samping.

"Mereka akan tetap menerimamu… percayalah…" Ujar Sehun mencoba menenangkan Luhan.

"Tapi aku mengecewakannya. Aku membuat mereka malu." Ucap Luhan dengan suara rendah mencoba menahan tangisannya. Untuk itu Sehun tidak bisa menjawab.

"Jangan berpikir seperti itu, kita harus menunggu apa yang mereka katakan." Ucap Sehun kemudian mengecup kepala Luhan.

Tak lama kemudian terdengar suara derap langkah membuat Sehun terpaksa melepaskan pelukannya. Joonmyeon dan Yixing terlihat menghampiri dengan ekspresi yang dapat dibaca sama sekali. Mereka duduk dihadapan Luhan dan Sehun.

"Kami sudah mendengarnya, bahkan banyak sekali wartawan yang datang kemari menanyakan berita itu. Dan jujur saja kami tidak bisa menjawabnya." Ucap Yixing.

"Eomma… mianhae." Ucap Luhan dengan nada ciut.

"Kau tau apa yang kau lakukan di London sana sangat…"

"Menjijikan." Lanjut Luhan dengan nada mengejek, tepatnya mengejek dirinya sendiri.

"Kau tau itu salah tapi kenapa kau masih melakukannya? Berapa lama kau bekerja seperti itu?" Tanya Joonmyeon. Luhan menunduk menahan air matanya.

"beberapa tahun terakhir ini, mungkin tepatnya 1 tahun setelah aku pergi dari sini, aku bekerja di club itu." Ucap Luhan sambil terus menahan air matanya. Yixing tersentak kaget, dia tidak menyangka kalau akan selama itu.

"Lu…" Ujar Yixing menahan tangisannya.

"Appa tidak tau harus berkata apa lagi." Ucap Joonmyeon. Kemudian kembali terjadi keheningan bahkan lebih lama dari sebelumnya.

"Maafkan aku appa, mungkin aku memang tak pantas lagi menjadi anak kalian…" Ucap Luhan dengan air mata uang sudah menganak sungai di pipinya. Luhan bangkit dari kursinya membuat semua orang mendongak kearahnya. "…maaf sudah menyusahkan kalian." Ucap Luhan sambil membungkuk dan berniat untuk pergi.

"Lu…" Ujar Sehun menangkap tangan Luhan. Sehun memeluknya membuat tangisan Luhan pecah didadanya.

"hisk… aku sudah tidak pantas berada disini." Ucap Luhan sambil terisak.

"Lu… jangan berkata seperti itu." Ucap Sehun mencoba menenangkannya.

"Lu…" Tiba seseorang berada disampingnya membuat Luhan menengok kepinggir. Yixing yang tengah berkaca – kaca menatapnya.

"Eomma…" Ujar Luhan pelan. Sehun melepaskan pelukannya.

"Eomma mohon jangan pergi lagi, eomma tidak mau kehilanganmu." Ucap Yixing kemudian memeluk Luhan dengan erat.

"Eomma mohon…" Ucap Yixing di sela – sela tangisannya.

"Tapi eomma… aku hanya anak yang hanya membuat eomma dan appa malu." Ujar Luhan. Yixing menggeleng.

"Itu hanya masa lalu, eomma tidak memikirkan hal itu, mungkin itu juga karna salah eomma yang tidak bisa menjagamu." Ucap Yixing sambil menatap Luhan.

"Tapi bagaimana dengan appa…" Tanya Luhan dengan pelan kemudian menunduk.

Yixing menatap Joonmyeon dengan wajah memelas, dan kemudian suaminya itu menghela nafas panjang dan mengangguk.

~I am a bad girl~

EPILOG

Sehun tengah menggengam tangan Luhan. Mereka sedang berkeliling kota Seoul . Musim semi adalah bulan yang paling di tunggu – tunggu oleh Luhan. Karna dia senang melihat pohon cherry blossom disepanjang jalan. Dan hari ini Luhan tengah memegan sebuah Catton Candy yang Sehun belikan.

"Kau menyukainya?" Tanya Sehun.

"Menyukai apa?" tanya Luhan sambil memakan Catton Candy yang ada ditangannya.

"Menyukai acara kita hari ini." Jawab Sehun. Luhan mengangguk girang. Jujur saja sudah lama sekali dia tidak menghabiskan waktu untuk jalan – jalan seperti ini.

"Bagaimana dengan rencana pernikahan kita?" Tanya Sehun sambil membawa Luhan duduk di kursi yang ada ditaman tak jauh dari sana. Luhan tersenyum.

"Tentu saja aku juga menyukai hal itu." Jawab Luhan malu – malu dan kembali mengigit Catton Candy-nya. Tapi kemudian tanpa dia ketahui Sehun ikut menggigi Catton Candy itu membuat wajah mereka sangat berdekatan.

"Kau tau aku menyukai saat wajahmu memerah seperti itu." Ucap Sehun sambil menatap Luhan yang tengah terkejut.

"Kau sangat manis istriku." Lanjut Sehun sambil mengecup pelan bibir Luhan yang penuh dengan Catton Candy.

"Sehunnieee… ini tempat umum." Protes Luhan sambil memukul bahu Sehun membuat pria itu tertawa renyah. "…dan apa pula itu istri, aku belum sepenuhnya menjadi istrimu." Ucap Luhan dengan nada marah. Sehun merangkulnya.

"Tapi kita sudah tinggal bersama bukan? Bahkan orang tuamu yang menyarankannya." Ucap Sehun.

"Itu… itu… tetap saja." Ucap Luhan sambil menyingkirkan tangan Sehun dari bahunya.

"Haha… ayolah, jangan marah seperti itu, kau tau, kau semakin lucu saja."

Luhan kembali menggerutu dan mengalihkan pandangannya dari sang pria. Sehun menghentikan tawanya dan menarik wajah Luhan membuat kedua mata mereka bertemu. Dengan perlahan Sehun mengecup pipi Luhan yang sekarang sudah bersemu merah.

"Maaf." Bisik Sehun. Entah kenapa setiap kali Sehun berada sedekat ini dengannya, jantung Luhan berderup dengan kencang, apakah ini yang sering orang katakan dengan Cinta? Ketika jantungmu berderup dengan kencang saat kau berada disisinya dan kegugupan merayapi setiap sudut tubuhmu membuatnya sama sekali tidak bisa bergerak.

"Sehun…" Ujar Luhan membuat Sehun mengangkat wajahnya. "…Saranghaeyo." Ucap Luhan dengan gugup. Sehun terkekeh pelan dan mengusap pipi Luhan. Perlahan Sehun membawa wajah Luhan mendekat dengan menarik dagunya pelan.

"I Love you more." Ucap Sehun sebelum membuat bibir mereka bertemu satu sama lain dalam sebuah tautan manis dan lembut. (yang menjadi akhir dari cerita ini^^)

.

.

.

END

Hallo guys J hari ini Bunga membawa kabar buruk untuk segelintir orang. Dikarenakan ada sesuatu yang terjadi kemaren – kemaren, semua ini ada sangkut pautnya sama khasus yang sedang marak dibicarakan di media. That is really scary.

I don't know how to explain this but… I hope you understand. I'll keep writing fanfiction about EXO. I swear as long as I can write I'll never stop it J once again I hope you guys can understand it.

Aku mengganti semua fanfiction ku yang berated M, sebenernya bukan mengganti dan disunting ulang, dihilangkan sebagian cerita dan mencoba menyusunnya kembali dalam rated yang lebih aman.

Tapi aku ingin mengucapkan terima kasih banyak yang sudah membaca ff ini dari awal aku bikin sampai sekarang, mungkin? terima kasih juga untuk semua review, masukan, kritikan dan semuanya. J

From deep of my heart I love you J