Bales review dulu
Kuntua

Mungkin sayanya aja yang kurang jelas nyeritainnya, semoga chap ini bisa lebih menjelaskan semuanya deh XD. Ok, ditunggu reviewnya lagi ^^

bluerose

Beberapa pertanyaan kamu udah kejawab di chap ini, sisanya mungkin di chap depan atau di chap yang akan datang #dasar author PHP. Iya yang nyulik Tenten itu Neji, matenya Naruto? Coba tebak deh ^^. Oh iya, sahabatnya Sakura itu bukan kaum campuran tapi matenya. Review again ^^?

Fran Fryn Kun

Ini udah dipercepat, semoga belum lupa ya . Review? XD

Yourin Yo

Waduh, kasian tuh bantal gulingnya XD. Kalo kepanjangan ntar takut pada capek bacanya jadi dipotong-potong aja ^^. Review again?

Diane Ungu

Hmmm, tebakannya meleset Diane-san, eh, boleh panggil gitu kan? #sok akrab nih. Ayo tebak lagi Hinata itu siapa ^^. Hinata ketemu Tenten? Kalo nggak ada perubahan sekitar dua chap lagi mereka bakal ketemu. Boleh minta reviewnya lagi? ^^

Guest

Saino ya? Tunggu aja kemunculan mereka ^^. Review?

Arunonymous

Udah diusahaain kilat nih, matenya Naruto? Coba tebak deh ^^. Boleh minta review?

Sun for The Dark © cherry aoi

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Genre : Supernatural, Fantasy

Rated : T

AU, Alternative Universe

Gaje, abal, typo bertebaran, OOC.

Summary : Bisakah kegelapan mendapatkan sinarnya kembali? Jawab pertanyaanku jika memang masih ada cahaya untuk orang-orang yang sudah jatuh dalam kegelapan sepertiku. Tak akan ada cahaya yang sama bagi kegelapan, hanya ada kesendirian bagi kegelapan. Aku adalah kegelapan, bukan matahari seperti yang kau katakan.

.

.

.

Chapter 4 : His Eyes

.

.

.

Bagiku matamu selalu meneduhkan sekalipun kau menyebutnya sebagai mata terkutuk keturunan iblis, bagiku matamu selalu menyimpan daya magis yang akan selalu membuatku terpaku padamu. Hingg pada akhirnya aku terjebak dalam sebuah perasaan tak logis karena sepasang mata milikmu.


Naruto merasakan sesuatu yang dingin menyentuh wajahnya, mirip seperti air mengalir menuruni wajahnya. Kedua kelopak mata pemuda itu bergerak-gerak gelisah, jemarinya bergeser merasakan tekstur kasar dari tempatnya sekarang. Kesadarannya serasa terbanting ketika indra pendengarannya menangkap sebuah suara isakan yang begitu familiar buatnya, itu suara gadis yang membuat hatinya terombang-ambing. Sepasang blue sapphire yang terbuka itu segera menyesuaikan diri dengan minimnya pencahayaan yang ada di sekitanya, ia menatap gadis berambut indigo yang ada di sampingnya. Gadis itu tengah menunduk, dari ujung matanya mengalir liquid bening yang jatuh menyusuri wajahnya.

"Hinata," gumam pemuda itu pelan tapi gadis itu tetap merespon dengan mengangkat kepalanya. Amethyst dan blue sapphire itu kembali beradu pandang untuk kesekian kalinya, ada sebuah daya tarik lain yang membuat Naruto tetap ingin memandang amethyst milik Hinata. Entah karena mata gadis itu begitu mirip dengan matenya atau karena amethyst itu menyimpan sesuatu yang berbeda.

"Na-naruto-Sensei sudah sadar?," tanyanya sambil menyeka air mata yang jatuh. Pemuda berambut pirang itu bangkit dari posisi berbaringnya, tangannya terulur menuju wajah Hinata. Jemarinya bergerak tanpa bisa dikontrol, perlahan jemari pemuda itu menyentuh pipi Hinata yang basah menghilangkan jejak-jejak air mata gadis itu. Hinata sendiri menikmati sentuhan pemuda itu, ada getaran aneh yang menjalar di tubuhnya kala pemuda itu menyentuh wajahnya, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, absurd dan ambigu.

"Hinata-chan, Uzumaki-sensei," suara Sakura membuat dua orang itu membuat jarak secepat mungkin. Suara alas kaki yang berbenturan dengan lantai gua membuat keduanya canggung, sementara sepasang manusia pink-raven yang baru datang hanya bisa menatap keduanya penuh tanya.

"Kau sudah siuman, dobe?," tanya Sasuke memecah keheningan.

"Ya, sepertinya mereka berhasil kabur ya?"

"Hn, aku tidak merasakan aura mereka lagi lagi pula aku sudah melapor pada Itachi," balas pemuda yang tengah memasukkan tangannya ke dalam saku.

"E-etto, sebenarnya mereka siapa?"

"Hinata-chan benar, aku juga penasaran siapa yang berhasil menyusup ke Camp of Fire," tambah Sakura.

"Dark Heaven."

"Dark Heaven?," ulang si gadis musim semi menirukan kata-kata sang tutor, seingat Sakura, ia pernah mendengar nama itu. Rahang Naruto mengeras ketika mendengar nama itu, kilasan memori yang begitu ingin ia lupakan kembali memenuhi pikirannya. Jika saja Dark Heaven tidak ada mungkin ia tidak akan menderita luka semacam ini dan pastinya matenya masih berada di sisinya.

"Kelompok bos mafia yang ada di Konoha, pelaku tindak kriminal paling dicari, intinya mereka penjahat."

"A-apa mereka yang menculik Tenten-chan?," kejar Hinata lagi mengingat aura yang ia rasakan tadi mirip dengan aura milik pemuda yang menculik Tenten.

"Ya, Siren yang ada di rumah itu biasanya mencari para manusia untuk diambil organ dalamnya lalu dijual di pasar ilegal," jawab Naruto dingin. Dark Heaven memang menjadi dalang dari berbagai tindak kejahatan yang terjadi di Konoha lima tahun belakangan, mulai dari pembunuhan, perampokan, bahkan penjualan organ dan manusia. Mereka menggunakan makhluk-makhluk yang dianggap takhayul oleh sebagian besar manusia agar jejaknya aman sekaligus mengefisienkan misi mereka karena tidak perlu menghambur-hamburkan senjata. Kekuatan makhluk-makhluk itu jelas menguntungkan mereka, sebaliknya makhluk-makhluk itu biasanya hanya diperalat oleh mereka.

"A-apa Tenten-chan juga a-akan dibunuh?," tanya Hinata pelan, kepala gadis itu kembali tertunduk setelah mendengar penjelasan Naruto. Seandainya saja ia tidak menyetujui ide Tenten pasti sahabatnya itu masih ada di sini, seandainya ia lebih kuat pasti ia bisa menolong Tenten, seandainya.

"Ku rasa tidak, sepertinya Neji tertarik padanya." Kata-kata pemuda berambut pirang itu kembali melegakan perasaan Hinata untuk sementara ini karena kenyataannya mereka tidak tahu apa yang sedang direncanakan Dark Heaven.

"Neji?"

"Pemuda berambut cokelat yang menculik temanmu, orang kepercayaan bos Dark Heaven," ucap Naruto penuh penekanan, terbersit amarah dan rasa tidak suka tiap kali pemuda itu menyinggung masalah Dark Heaven terlebih lagi jika bicara mengenai pemuda bernama Neji itu.

"Bukankah tiga tahun yang lalu hampir separuh anggota Dark Heaven sudah ditangkap ANBU?," tanya Sakura, mata gadis itu tampak berbeda dari biasanya ada sebuah keseriusan di dalamnya.

"Hanya separuh tidak menjamin Dark Heaven musnah, sepertinya mereka merekrut anggota baru."

"Sebaiknya kalian segera mencari 'identitas' itu," kata Sasuke, tampaknya pemuda Uchiha itu ingin menghentikan pembicaraan mengenai Dark Heaven. Gadis berambut merah muda yang ada di sebelahnya tampak menatapnya penuh tanya sekaligus penuh selidik, seolah tak mengerti kenapa ia menghentikan pembicaraan ini.

"A-apa Sakura-chan sudah menemukan identitas?"

"Ya, identitas yang dimaksud hanyalah pelepasan kekuatan kita yang dibelenggu oleh Camp of Fire sebelum kita berada di sini. Mereka hanya akan mendata kekuatan yang dimiliki para agen secara mendetail," jelas Sakura. Penjelasan gadis itu membuat sepasang onyx milik pemuda di sebelahnya menatapnya penuh tanya. Jelas saja Sasuke heran dengan penjelasan Sakura tadi, seharusnya para calon agen tidak mengetahui perihal belenggu kekuatan itu. Sebenarnya saat orang-orang dengan kemampuan istimewa lahir, kekuatan mereka akan dibelenggu secara otomatis oleh pemerintah. Hal ini dilakukan agar kekuatan mereka tidak membahayakan warga sipil yang tidak memiliki kekuatan, biasanya pelepasan kekuatan dilakukan oleh institusi tertentu yang membutuhkan kekuatan mereka tapi ada juga organisasi seperti Dark Heaven yang melakukan pelepasan kekuatan secara ilegal.

Sasuke masih menatap gadis berambut merah muda itu lekat, ada banyak hal dari gadis itu yang membuatnya dipenuhi perasaan curiga. Mulai dari kata-katanya tentang mate, kaum campuran dan sekarang tentang pelepasan kekuatan calon agen. Tentu saja sedikit banyak kata-kata Sakura membuatnya bertanya-tanya siapa sebenarnya gadis berambut merah muda ini, apakah dia kawan atau justru lawan?

"Kalau begitu aku duluan, Teme. Ayo, Hinata," ajak Naruto pada gadis bermata amethyst yang masih ada di sampingnya.

.

.

.

Hinata POV

Aku masih setengah berlari mengikuti langkah Naruto-sensei yang berjalan cepat, aku masih tidak mengerti kenapa kedua orang itu mengincar tubuhku, sensei juga tidak berkata apapun seolah tidak terjadi apa-apa. Sebenarnya aku ingin sekali bertanya pada Sensei, tentang kedua orang itu, tentang Tenten-chan dan juga ada sesuatu yang ingin ku tanyakan tentang mata Sensei saat itu. Tapi semua pertanyaan itu hilang ketika aku menatap sepasang mata sebiru lautan milik Sensei, aku seperti tenggelam pada lautan yang tak berdasar dan tidak bisa kembali ke permukaan. Bibirku kelu untuk bertanya, rasanya semua pertanyaan tadi langsung menguap begitu saja, pada akhirnya aku hanya bisa menunduk dan tidak berkata apa-apa.

"Hinata, kita sudah sampai," kata Naruto-Sensei. Aku mendongakkan kepalaku, di hadapanku sudah ada sebuah altar dengan sebuah bola kristal yang ada di tengah-tengahnya. Lantai altar itu membentuk sebuah simbol entah apa, mungkin berhubungan dengan ritual pelepasan kekuatan itu.

"A-apa yang harus aku lakukan?," tanyaku pada Sensei. Apakah aku harus berada di dalam altar itu atau bagaimana? Aku sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai hal ini.

"Kau hanya perlu berdiri di tengah altar dan menyentuh bola kristal itu."

End Hinata POV

Gadis berambut indigo itu melangkahkan kaki jenjangnya menuju altar itu, Naruto hanya bisa memandang gadis itu dari jauh. Seorang tutor memang tidak diperbolehkan berada di area altar ketika proses pelepasan belenggu kekuatan, bahkan seharusnya tutor tidak boleh langsung membawa calon agen ke tempat ini, seharusnya calon agenlah yang menemukannya sendiri. Hanya saja kasus kali ini berbeda, selain Sakura yang sudah tahu tentang pelepasan kekuatan, Naruto sendiri sebenarnya penasaran dengan kekuatan Hinata. Pemuda itu ingin tahu kenapa Dark Heaven menginginkan tubuh Hinata? Dan apa kaitannya dengan penculikan sahabat Hinata tempo hari?

Tepat ketika gadis itu menyentuh bola kristal yang ada di tengah altar sebuah pendar cahaya kembali muncul, awalnya hanya berupa berkas-berkas cahaya tapi lama kelamaan semakin besar hingga membuat pemuda berambut pirang itu tidak bisa melihat Hinata lagi. Ada sebuah perasaan aneh yang menyergap Naruto ketika cahaya itu melaluinya, ia seolah sudah pernah mengenal cahaya seperti ini sebelumnya tapi dimana? Ia bahkan baru bertemu Hinata tempo hari ketika mereka tak sengaja bertabrakan di kereta. Perasaan itu semakin intens seiring makin banyaknya cahaya yang menerpa tubuhnya, masih cahaya yang sama yang menawarkan kehangatan sekaligus kenyamanan untuknya. Naruto memejamkan matanya, menikmati setiap detik ketika tubuhnya dihujani cahaya dari tubuh Hinata.

"Naruto-sensei?," panggil Hinata pelan. Kedua blue sapphire itu terbuka menatap sepasang amethyst milik Hinata, rupanya ritual gadis itu sudah selesai.

"Kau sudah selesai?"

"E-entahlah tapi ada suara yang mengatakan jika pelepasan berhasil," jawab Hinata, gadis itu memainkan jemarinya gugup.

"Kalau begitu sebaiknya kita segera kembali."

0o0o0

Hanya ada beberapa calon agen yang sudah kembali ke asrama akademi, sebagian besar masih berkutat mencari 'identitas' mereka. Lobi asrama tampak lengang, hanya ada beberapa robot yang tengah membersihkan lobi dan sebagian kurcaci yang berjaga-jaga di depan pintu masuk. Hinata menyusuri koridornya seorang diri tanpa Sakura, gadis merah muda itu masih belum kembali ke asrama sekalipun sudah menyelesaikan survival hari ini.

Hawa dingin segera menyergap gadis bermata amethyst itu ketika ia berada di ujung koridor, auranya tidak terlalu pekat justru lebih cenderung teduh. Ah, sekarang ia bisa sedikit mengenali aura orang lain, gadis itu tersenyum pada sosok pemilik aura itu. Sosok perempuan berambut merah berkacamata yang tengah melayang di sampingnya, Karin memang kerap menampakkan diri pada Hinata.

"Ha-hai, Karin-san," sapa gadis itu sekalipun masih tergagap.

"Hai Hinata-chan, eh boleh ku panggil begitu?," tanya Karin sambil membalas senyuman gadis beriris amethyst itu. Sekalipun Karin sekarang adalah sesosok hantu tapi tidak membuatnya kehilangan sisi cerianya, gadis itu justru seperti menikmati saat-saat menjadi hantu seperti ini.

"Tentu saja boleh, Karin-san."

"Ah, jangan panggil begitu, panggil Karin-chan saja supaya terdengar lebih akrab. Omong-omong apa kau melihat Sakura? Dari tadi aku tidak merasakan keberadaannya," celoteh Karin tanpa henti.

"Sepertinya tadi Sakura-chan bersama Uchiha-sensei, Karin-chan."

"Apa? Bersama si Uchiha itu? Hah, dasar Sakura, padahal sudah ku katakan jangan mengatakan semuanya sekarang. Memang mate itu tidak bisa dipisahkan dari kaum campuran ya," tanya Karin pada dirinya sendiri. Hinata hanya bisa menatap Karin bingung, memang mate itu apa? Dan lagi kenapa Karin menyebut kaum campuran? Tunggu dulu, bukankah menurut buku yang dibacanya Naruto adalah kaum campuran?

"E-etto, Karin-chan. Mate itu apa?"

"Hmmm, aku juga sedikit bingung menjelaskannya Hinata-chan. Sebaiknya kau tanya Sakura saja, ah, aku harus segera pergi ada yang datang," jawab Karin sebelum menghilang dari hadapan Hinata.

"Ada yang datang? Siapa?," gumam Hinata pelan, gadis itu penasaran siapa yang membuat Karin cepat-cepat pergi.

TAP! TAP! TAP!

Suara benturan sepatu dan lantai menggema di sepanjang koridor, Hinata masih belum beranjak ia ingin tahu siapa sosok yang membuat Karin pergi. Suara langkah kaki itu makin mendekat bersamaan dengan munculnya sesosok pemuda berambut merah dengan tato 'ai' didahinya, sepasang jade milik pemuda itu menatap Hinata penuh intimidasi seolah Hinata adalah sesuatu yang paling tidak ingin dilihatnya. Hinata tahu siapa pemuda itu, pemuda yang dipanggil Naruto dengan nama Gaara, pemuda yang menyerangnya di malam perkenalan.

"Kenapa kau ada di sini?," tanya pria itu dingin, sepertinya pemuda ini setipe dengan tutor Sakura bedanya aura milik pemuda ini terkesan lebih gelap dan pekat. Hinata jelas ingat tatapan Gaara padanya di malam perkenalan, seperti campuran kesedihan dan benci dan ia jelas tak mengerti alasan Gaara menatapnya seperti itu.

"E-etto, aku hanya lewat."

"Bukankah seharusnya para calon agen sedang menjalankan survival? Kenapa kau bisa ada di sini? Tutormu terlalu memanjakanmu, eh." Hinata bisa merasakan nada kebencian ketika pemuda beriris jade itu menyebut tutornya. Sejak awal mereka bertemu, Hinata memang merasa Gaara tidak menyukai Naruto, seperti ada ketegangan ketika mereka berdua bertemu dan lagi-lagi ia tidak tahu sebabnya.

"A-aku sudah menyelesaikannya," jawab Hinata, gadis itu tampak gelisah sepertinya ia ingin segera mengakhiri obrolan dengan pemuda berambut merah itu.

"Ah, sepertinya Uzumaki itu berhasil mendidikmu ya tapi ku katakan saja, Nona. Kau tidak akan bisa bersama Uzumaki lebih dari ini."

"Ke-kenapa?" Gadis berambut indigo itu kembali merasakan perasaan aneh ketika Gaara menyebut marga Naruto, seperti rasa khawatir bercampur dengan rasa takut. Jika dilihat dari sikapnya selama ini, sepertinya Gaara bukanlah tipe orang yang main-main dengan ucapannya.

"Karena Uzumaki harus menerima hukuman dari perbuatannya dan ku sarankan kau lebih baik segera menjauhinya jika masih sayang dengan nyawamu," ucap pemuda berambut merah itu sebelum pergi meninggalkan Hinata.

.

.

.

Ruangan itu masih sama seperti saat Hinata pergi, rapi dan bersih dengan pencahayaan dari jendela yang terbuka. Sesekali angin berhembus masuk mengibarkan tirai sekaligus membawa hawa sejuk ke dalam ruangan, beberapa kertas yang ada di meja kadang-kadang bergerser terhempas oleh tiupan angin. Gadis berambut indigo itu berjalan gontai ke arah ranjangnya, dalam pikirannya berkecamuk berbagai hal, ia seperti buta, tidak tahu apa-apa tentang apa yang sedang terjadi. Ia seolah dipaksa berada dalam situasi rumit yang tidak ia tahu penyebabnya, mulai dari penculikan Tenten, kekuatannya, Dark Heaven dan kini ancaman Gaara. Ah, ia jadi merindukan kehidupannya beberapa hari yang lalu, ketika ia masih berangkat sekolah seperti biasa bersama Tenten, hidup damai meskipun kehadirannya tak pernah dianggap.

KRIET

Suara pintu yang dibuka menyadarkan Hinata dari semua lamunannya, di ambang pintu tampak punggung kecil sosok berambut merah muda. Sakura sudah kembali. Bicara soal Sakura, gadis itu sepertinya tahu banyak tentang Camp of Fire dan Dark Heaven, mungkin saja ia bisa menjawab semua pertanyaan yang bertebaran dalam pikiran Hinata.

"E-etto, Sakura-chan. Boleh aku bertanya?," tanya Hinata membuat gadis berambut bubble gum itu menoleh, sebuah senyum terulas di wajahnya untuk Hinata.

"Silahkan Hinata-chan tapi aku tidak berjanji bisa menjawab semua pertanyaanmu."

"Apa Sakura-chan kenal dengan orang yang bernama Gaara?," tanya Hinata pelan, ada kegetiran ketika menyebut nama seseorang yang baru saja mengancamnya.

"Ya, dia salah satu anggota pasukan khusus."

"A-apakah Naruto-sensei juga anggota pasukan khusus?," kejar Hinata lagi, seingatnya ada enam nama yang memiliki biodata paling singkat di buku yang ia baca.

"Ya, Uzumaki-sensei, Sasuke-senpai, Sabaku Gaara, Nara Shikamaru, Sabaku Temari dan Shion. Mereka adalah pasukan khusus, lebih khusus dari ANBU karena level kekuatan mereka yang paling tinggi dibandingkan yang lainnya. Seingatku ada satu anggota lagi tapi anggota itu meninggal dalam peristiwa penyerangan Dark Heaven tiga tahun yang lalu," jelas Sakura panjang lebar. Hinata bisa merasakan nada suara yang berbeda ketika Sakura menyebut Dark Heaven, gadis berambut merah muda itu seperti menyimpan sesuatu tentang organisasi bos mafia itu.

"Sayangnya aku tidak bisa menceritakan peristiwa tiga tahun yang lalu padamu," tambah Sakura sebelum Hinata sempat bertanya lebih jauh.

"Ka-kalau begitu apa Sakura-chan tahu te-tentang kaum campuran?"

"Kenapa kau ingin tahu, Hinata-chan?," selidik Sakura, gadis berambut bubble gum itu berusaha menilik kesungguhan Hinata. Sebenarnya ia heran kenapa tiba-tiba Hinata jadi banyak bertanya seperti ini, terlebih lagi menyangkut para anggota pasukan khusus.

BLUSH
Tanpa diperintahkan semburat kemerahan mulai muncul di kedua pipi putih Hinata, sebenarnya pertanyaannya yang terakhir lebih menjurus pada pertanyaan pribadi dan jelas berhubungan dengan perasaan aneh yang akhir-akhir ini kerap ia rasakan. Ia tidak ingin selamanya terkubur pada misteri mengenai seorang Uzumaki Naruto, ia ingin tahu semua tentang pemuda itu sekalipun Gaara sudah memberinya ultimatum. Gadis berambut merah muda dihadapannya terkikik kecil kala menyadari perubahan ekspresi Hinata, sedikit banyak Sakura tahu jika pertanyaan ini berhubungan dengan seseorang.

"Baiklah-baiklah, kau tidak perlu menjawabnya," kata Sakura sambil menahan tawanya.

"Sebenarnya kaum campuran memiliki darah manusia dan mereka juga memiliki darah lucifer-,"

"Lucifer?," potong Hinata sebelum Sakura sempat menyelesaikan kalimatnya. Sakura mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan Hinata, gadis bersurai merah muda itu menyamankan duduknya sebelum bercerita lebih lanjut.

"Sebenarnya para lucifer tidak diperbolehkan menikah dengan manusia, mereka akan dihukum jika ketahuan berhubungan dengan manusia. Tapi karena terlalu banyak lucifer yang membangkang akhirnya tetua mereka mengijinkan mereka menikah dengan manusia tapi dengan satu syarat," jelas Sakura.

"Syarat apa?"

"Jika anak mereka terlahir maka akan mewarisi darah campuran dari kedua orang tuanya sehingga kekuatan kaum campuran tidak stabil, untuk itulah para tetua memberi sebuah syarat agar para kaum campuran memiliki seorang mate untuk mengendalikan kekuatan mereka."

Hinata tampak mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti, ia pernah dengar jika lucifer biasanya diartikan sebagai iblis tapi menurutnya sekalipun kaum campuran keturunan iblis Naruto bukanlah sosok iblis. Pemuda itu terlalu baik untuk dicap sebagai iblis, ada sebuah kehangatan dalam diri Naruto sekalipun pemuda itu terkesan dingin bahkan Hinata belum pernah melihat Naruto tersenyum.

"Kalau Hinata-chan ingin bertanya tentang mate, sebaiknya nanti malam kau ikut aku," kata Sakura sebelum akhirnya melenggang pergi menuju pintu, meninggalkan Hinata dengan sejuta pertanyaan yang masih menggeluti pikirannya.

0o0o0

Ruang rapat milik para dewan Camp of Fire masih sepi tanpa penghuni, hanya ada suara desau angin yang mengisi kesunyian yang tercipta. Sesekali kertas-kertas yang ada di atas meja bertebaran terhempas oleh tiupan angin, sinar matahari menyusup masuk melalui jendela menambah pencahayaan di ruang itu. Tiga siluet berkelebat menuju ruang para dewan, siluet itu bergerak cepat seolah sudah hafal mati semua tempat di Camp of Fire, mereka bahkan tidak takut jika para dewan tiba-tiba hadir di ruangan itu.

BRAK!

Suara pintu yang dibuka secara kasar terdengar memenuhi ruangan, disusul derap langkah kaki dari para sosok yang menggunakan jubah bergambar awan merah. Di tempat paling depan sosok pemuda berambut orange dengan wajah berpiercing tampak menatap gusar beberapa dokumen di tangannya, beberapa sosok lainnya segera menempatkan diri di posisi mereka masing-masing.

"Kisame, apa sudah ada laporan dari Konan dan yang lainnya?," tanya sang leader pada pria mirip hiu yang tengah sibuk membelai pedang besarnya seolah pedang itu hewan kesayangannya.

"Belum, Pain. Tenang saja, mereka pasti berhasil dan akan segera pulang," jawab Kisame yang masih berkutat dengan pedangnya.

"Kenapa senpai terus mengelus pedang itu? Memangnya pedang itu lembut?," tanya sosok bertopeng lollipop orange mirip jeruk, sepertinya ia tipikal penggembira di antara para dewan yang saat ini rata-rata berwajah risau.

"Diamlah Tobi, jangan hanya karena Deidara sedang tidak ada kau jadi lebih cerewet," komentar sosok pria bercadar yang kini tengah sibuk menghitung sesuatu.

"Sebentar lagi malam bulan purnama, jika 'mereka' belum datang kita tidak bisa menjamin para calon agen selamat sampai pagi," gumam Pain pelan, tentu saja sebagai leader ia tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi. Hanya 'mereka' yang bisa mengatasi masalah ini karena 'mereka' yang membangun Camp of Fire pertama kali.

"Hei, hei, seperti inikah para dewan sekarang?," sebuah suara membuat para dewan refleks beranjak dari duduknya dan segera memasang kuda-kuda. Tiga buah siluet tengah berdiri di atas bingkai jendela membuat beberapa pasang mata melebar tak percaya.

"Tapi mereka lebih muda," kali ini suara perempuanlah yang terdengar.

"Yah, mereka yang memanggil kita," tambah suara pria yang terkesan dingin.

"Selamat datang, Jiraiya-sama, Tsunade-sama, Orochimaru-sama."

Tiga siluet tadi meloncat memasuki gedung, cahaya yang ada di sana menyinari tiga siluet itu menampakkan dua sosok pria dewasa dan seorang wanita cantik berambut pirang di antara mereka, salah satu pria itu bertubuh tinggi besar dengan rambut putih panjang seperti duri sementara yang satunya lagi berambut hitam panjang dengan kulit putih pucat. Para anggota dewan memandang hormat pada ketiga sosok itu, para pendiri Camp of Fire yang kini lebih sibuk dengan urusan mereka sebagai warga sipil.

"Maafkan kami sudah mengganggu kalian," tambah Pain, aura kepemimpinannya masih terasa sekalipun tengah berhadapan dengan para pendiri Camp of Fire. Jiraiya hanya mengangguk-angguk tanda mengerti sebagai responnya sementara Orochimaru justru tampak tengah memikirkan sesuatu.

"Apa semua ini ada hubungannya dengan bocah itu?," tanya Orochimaru cepat. Jiraiya yang ada di sebelahnya hanya bisa mendengus sebal, ternyata Orochimaru tidak berubah, pikirnya.

"Ya, malam ini bulan purnama dan keadannya akhir-akhir ini di luar perkiraan jadi kami membutuhkan bantuan kalian."

"Haaah, sudah ku duga akan jadi seperti ini. Dewan yang dulu seenaknya saja memutuskan menyerang mereka," komentar Tsunade sambil berkacak pinggang, wanita pirang ini memang tidak pernah sejalan dengan para dewan yang terdahulu, menurutnya para dewan terdahulu terlalu memikirkan keuntungan tanpa mempedulikan akibat yang ditimbulkan di masa depan.

SYUUT

Sebuah siluet lainnya menghentikan obrolan mereka, sesosok pemuda berambut raven kini tengah berada dihadapan sang ketua dewan. Tatapan matanya tetap tajam sekalipun berada di antara orang-orang yang memiliki kedudukan penting dalam Camp of Fire, sekilas sepasang onyx milik salah satu dewan meliriknya kecil seolah bertanya-tanya kenapa ia berada di ruang rapat para dewan.

"Lapor, ada penyusup dari Dark Heaven yang mengacaukan pelatihan para calon agen," kata Sasuke tegas, sebenarnya ia belum melapor pada para dewan, ia ingin melapor secara pribadi karena ada hal yang ingin ia tanyakan.

"Dark Heaven? Bagaimana bisa? Bukankah separuh dari mereka sudah kita musnahkan tiga tahun yang lalu?," tanya pria berambut silver yang tengah memainkan kalung yang ia kenakan. Sekalipun ia terlihat santai sebenarnya pria itu tengah memikirkan berbagai hal yang mungkin bisa dilakukan Dark Heaven untuk kembali lagi.

"Aku tidak terlalu tahu sedetail itu, saat aku datang mereka sudah menghilang."

"Apa mereka mengincar bocah itu?," tanya Tsunade yang sepertinya mulai tertarik dengan semua pembicaraan ini. Sama seperti wanita itu, kedua pria yang berdiri di sampingnya sepertinya juga semakin tertarik dengan keadaan Camp of Fire sekarang.

"Tidak mereka mengincar gadis yang bersama Naruto, Hyuuga Hinata."

"Hyuuga? Tidakkah ini menarik Orochimaru, sepertinya kita melewatkan sesuatu," komentar Jiraiya sambil merangkul sahabatnya itu.

"Menarik, ku rasa kita bisa tinggal sementara di sini," tambah pria dingin itu.

Sasuke terdiam mendengar keputusan ketiga orang yang ada dihadapan Pain, seingatnya mereka bertiga sudah memutuskan untuk meninggalkan Camp of Fire sejak peristiwa tiga tahun yang lalu. Yang ia dengar sekarang Tsunade tengah sibuk dengan kiprahnya sebagai perdana menteri, Orochimaru lebih suka berkutat dengan kemiliteran Konoha, sedangkan Jiraiya sendiri memilih menjadi duta besar Konoha dengan hak khusus, bisa ditempatkan kapanpun dan dimanapun. Memang akan lebih baik jika mereka berada di sini, setidaknya akan ada yang mampu mengatasi Naruto yang tengah tidak stabil. Hanya saja ada sesuatu yang aneh di sini, kenapa tiga orang itu sepertinya mengetahui sesuatu tentang keluarga Hyuuga?

"Apa kau tahu siapa mereka?," tanya Pain.

"Juugo dan Hozuki Suigetsu."

"Aa, teman lama rupanya," gumam Kisame, sekalipun hanya gumaman para anggota dewan jelas tahu bahwa pria mirip hiu itu tengah merencankan sesuatu. Hubungan Kisame dengan Suigetsu sudah menjadi rahasia umum di antara para dewan, dua orang bersaudara yang sekarang harus saling mengayunkan pedang.

"Kalau begitu kau boleh kembali sekarang," perintah Pain.

"Bolehkah aku bicara empat mata dengan Uchiha Itachi? Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan."

Kata-kata Sasuke jelas membuat beberapa pasang mata di sana refleks menatapnya heran, tidak biasanya bungsu Uchiha itu ingin bicara empat mata dengan sang kakak apalagi ketika berada di ruang rapat. Tidak hanya para dewan, Itachi juga merasa kaget dengan permintaan adiknya itu, rasa penasaran membuatnya menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan pada Pain yang meliriknya.

"Silahkan."

Dua orang pria yang memiliki wajah mirip itu berjalan beriringan menuju salah satu sudut Camp of Fire, tepatnya di hutan yang menjadi training field para agen. Sesekali si sulung melemparkan senyuman pada beberapa agen yang kebetulan ia lewati, berbeda dengan sang adik yang tampak tidak peduli dengan sekitarnya. Sebenarnya tingkah Sasuke tadi benar-benar di luar perkiraan Itachi, biasanya bungsu Uchiha itu lebih memilih berbicara dengan kakaknya ketika berada di rumah.

"Jadi, sebenarnya kau ingin bicara tentang apa?," tanya Itachi yang rasa penasarannya sudah tidak bisa ditolerir lagi.

"Aku ingin kau menyelidiki Haruno Sakura."

"Pfftt, hahahahaha, jadi kau meminta ijin dihadapan para dewan hanya untuk seorang gadis? Hahahaha, kau menyukainya ya Sasu-chan?"

CTAK

Sebuah perempatan segera muncul di dahi pemuda berambut raven itu, bagaimana bisa kakaknya memiliki pikiran sependek itu? Ah, ia jadi menyesal sudah meminta bantuan pada Itachi bahkan ia lebih menyesal lagi karena pernah memiliki ide untuk minta bantuan kakaknya itu. Seharusnya tadi ia mempertimbangkan keautisan sang kakak dan pemikirannya yang kadang menyimpang.

"Ck, dasar baka aniki! Tentu saja bukan itu, ku rasa dia terlalu banyak tahu tentang Camp of Fire."

Tawa Itachi mendadak berhenti, sepertinya ia mulai tahu bahwa ini masalah serius. Sulung Uchiha itu menghela nafas pendek sebelum akhirnya bertanya,"Maksudmu? Bukankah dia calon agen asuhanmu?"

"Dia tahu tentang belenggu kekuatan yang diciptakan Camp of Fire, tentang kaum campuran, tentang mate, juga tentang Dark Heaven. Bukankah dia terlalu banyak tahu?," jelas Sasuke sambil menyandarkan tubuhnya di salah satu pohon yang ada di dekatnya. Jika boleh jujur, sebenarnya ia tidak sepenuhnya mencurigai Sakura, ada sebagian dari dirinya yang menolak mentah-mentah semua dugaan buruk yang ia miliki tentang Sakura. Sayanganya rasionalitas yang ia miliki jelas-jelas mencurigai Sakura yang notabene adalah calon agen asuhannya. Pemuda berambut raven itu memejamkan matanya, berusaha mendapatkan ketenangan dengan merasakan hembusan angin.

Alih-alih ketenangan, yang ia dapat justru sebaliknya, ketika ia menutup matanya hanya ada bayangan gadis itu yang muncul. Senyumnya, tingkah lakunya, semua yang ada pada gadis itu seolah sudah terekam dalam otak Sasuke dan sekarang tengah diputar ulang. Tidakkah ini gila? Jengah dengan bayang-bayang gadis itu yang semakin intens muncul, Sasuke segera membuka matanya, menampakkan sepasang onyx sekelam malam yang sama persis dengan milik sang kakak.

"Baiklah, aku akan menyelidikinya tapi kau juga harus mengawasinya," kata Itachi akhirnya.

"Ah, jangan lupa, malam ini bulan purnama," tambahnya.

"Aku tahu."

Tentu saja Sasuke tahu sekarang jadwal bulan purnama muncul, ia tidak mungkin melupakannya. Malam bulan purnama adalah neraka bagi para kaum campuran yang tidak memiliki matenya.

.

.

.

Udara malam yang dingin segera menyergap siapa saja yang keluar malam ini, suara burung hantu menjadi suara yang paling dominan malam ini. Sesekali suara lolongan serigala terdengar membuat bulu kuduk meremang ditambah lagi kabut tipis yang menyelimuti Camp of Fire. Bulan yang kini terisi penuh membuat malam tak lagi segelap bisanya, terlebih lagi bintang-bintang yang bertaburan seolah menemani sang bulan yang kini tengah bersinar penuh. Dua sosok gadis tengah berjalan menuju hutan yang digunakan sebagai training field para agen, gadis berambut merah muda pendek tampak berjalan di depan sementara di belakanganya sesosok gadis berambut indigo tampak mengekorinya. Sebenarnya ada satu sosok lagi yang berjalan membelah malam, sesosok gadis berambut merah yang tubuhnya transparan melayang-layang di sebelah si gadis merah muda.

"Sa-sakura-chan, kenapa kita ke hutan?," bisik Hinata pelan, ia mempunyai pengalaman tak mengenakkan di sana.

"Kau ingin tahu soal mate bukan?"

"I-iya," balas Hinata. Ia memang ingin tahu mengenai mate tapi kenapa Sakura membawanya ke hutan? Memangnya mate ada di sana?

Dua orang gadis itu mengendap-endap, bersembunyi di antara semak belukar yang cukup rimbun. Samar-samar Hinata bisa mendengar suara teriakan kesakitan yang terdengar begitu memilukan, entah mengapa ketika mendengar teriakan itu hatinya serasa teriris-iris. Hinata seperti merasakan rasa sakit yang sama, seperti mengerti penderitaan si pemilik suara.

"Hinata-chan, lihat itu," kata Sakura sambil menunjuk ke salah satu arah.

Sepasang amethyst milik Hinata melebar kala mendapati sesosok monster yang tengah mengamuk, sosok itu berteriak kesakitan sambil meronta-ronta agar terlepas dari ikatan rantai yang membelenggunya. Ada tiga orang dewasa yang tampak mengendalikan rantai hitam itu, sesosok wanita berambut pirang, seorang pria berambut hitam panjang dan seorang pria bertubuh besar dengan rambut putih bagaikan landak. Mereka sepertinya sedikit kewalahan menghadapi monster yang mirip rubah itu, dari tubuh makhluk itu terpancar aura yang begitu mengerikan sampai-sampai tubuh Hinata gemetar dibuatnya.

"Itu adalah hukuman bagi para kaum campuran yang lalai menjaga matenya," kata Sakura, terselip kesedihan ketika gadis itu menjelaskan mengenai hukuman itu pada Hinata.

Hinata masih saja terpaku pada makhluk itu, entah sadar atau tidak liquid bening mulai turun dari matanya tanpa di perintah. Sakit. Itulah yang kini dirasakan oleh Hinata selain rasa sesak yang begitu hebat, matanya tak bisa lepas menatap makhluk itu sekalipun tubuhnya gemetar. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang tengah terjadi pada dirinya sendiri, yang ia tahu ia begitu ingin mendekap makhluk itu, ia ingin berbagi semua penderitaan yang dialami makhluk itu.

"Mate sebenarnya bisa siapa saja, bisa manusia biasa, lucifer asli, bisa juga orang-orang yang memiliki kemampuan istimewa seperti kita. Mereka tidak dipilih oleh para petinggi lucifer tapi ada sebuah benang merah antara mate dan kaum campuran yang mengikat mereka, tidak ada yang tahu bagaimana prosesnya, yang mereka tahu tanpa mate maka kaum campuran akan menderita luka sepanjang eksistensi mereka."

"La-lalu, bagaimana mereka tahu siapa mate mereka?," tanya Hinata yang masih belum bisa melepaskan pandangannya dari makhluk itu.

"Mereka akan tahu sendiri secara instingtif hanya saja harus ada pembuktian bahwa yang mereka temui adalah mate mereka," jawab Sakura yang tengah mengamati sosok lain yang ada di hutan itu, sosok pemuda yang tengah menutup netranya untuk sekedar menikmati suara hewan malam.

"Bagaimana caranya, Sakura-chan?"

"Mereka harus merasakan darah mate mereka, hanya butuh satu kali. Tapi itu tidak menjamin luka yang mereka alami akan selesai."

"Ma-maksudnya?," tanya Hinata tak mengerti.

"Mate bebas menentukan perasaannya, tidak ada paksaan, mate tidak terikat pada kaum campuran tapi justru kaum campuran yang terikat pada mate. Bisa saja mate memilih tidak membalas perasaan mereka dan akhirnya kaum campuran hanya bisa melihat mate mereka dari jauh, menanggung luka baik secara psikis maupun fisik," jawab Sakura.

"Lalu kenapa mate harus ada jika akhirnya tetap menyakiti mereka?," lirih Hinata.

"Karena kami tidak mengenal cinta dan kasih sayang, hanya mate yang membuat kami merasakan semua itu," sebuah suara menjawab pertanyaan retorik dari Hinata.

Itu jelas bukan suara Sakura, suara ini lebih mirip suara seorang laki-laki. Hinata refleks menoleh, ia mendapati sosok pemuda berambut raven tengah menatap gadis berambut bubble gum dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Onyx itu tetap menatap sang viridian seolah ingin menyedotnya dalam sebuah dunia lain, seolah ada sebuah magnet yang berada di antara mereka berdua.

"Kenapa kau ada di sini?," tanya Sasuke dingin.

"Aku hanya ingin menjelaskan pada Hinata apa mate yang sebenarnya," jawab gadis itu kalem, seolah keberadaannya di sini bukanlah sesuatu yang salah.

"Seharusnya para calon agen tetap berada di asrama."

"Bukankah sudah ku katakan? Aku hanya ingin menjelaskan apa itu mate pada Hinata," kata Sakura bersikeras.

"Siapa kau sebenarnya?," pertanyaan paling mendasar yang ingin Sasuke tanyakan akhirnya terlontar juga. Gadis berambut merah muda itu hanya tersenyum simpul, senyum yang mampu membuat seorang Uchiha Sasuke merasakan sesuatu yang berbeda, seperti rasa hangat yang membuatnya kecanduan.

"Sasuke, sedang apa kau di sana?," tanya Itachi yang tiba-tiba saja sudah ada di samping pemuda emo itu, onyx miliknya terbelalak kala mendapati kehadiran Hinata dan Sakura bersama adiknya.

"Konbanwa, Uchiha-san," sapa Sakura.

Makhluk yang dirantai itu kini tampak kelelahan, bahunya bergerak naik turun seolah mencari tambahan udara, sesekali ia masih berusaha memberontak dari rantai yang membelenggunya. Sayangnya semua yang dilakukannya hanya sia-sia belaka, rantai itu tak kunjung lepas dari tubuhnya.

"Kau belum menjawab pertanyaanku, Haruno," tuntut pemuda bertampang stoic itu.

GRAAAHH!

Suara itu membuat mereka mengalihkan perhatian, rupanya sosok monster itu kini berhasil lepas dari jeratan rantai yang membelenggunya. Ia mulai mengamuk mengancurkan apa saja yang ia lihat, sementara tiga orang yang sedari tadi membelenggunya sedang berusaha merantai makhluk itu lagi. Entah mendapat dorongan dari mana Hinata justru keluar dari persembunyiannya, tepat ketika makhluk itu melepaskan diri, ia merasakan sebuah aura yang begitu familiar, aura hangat yang selalu ia rasakan akhir-akhir ini. Aura milik Uzumaki Naruto. Air mata gadis berambut indigo itu kembali turun tanpa bisa dikendalikan, rasa sesaknya seolah menjadi sebuah tenaga baru untuk segera berlari menuju makhluk yang diyakininya sebagai Naruto. Ia hanya terus berlari tanpa mempedulikan semua teriakan yang memperingatinya, Hinata bahkan mengabaikan tubuhnya yang gemetar menahan takut.

"Na-naruto, ku mohon, sadarlah, ku mohon, Naruto," katanya berulang-ulang ketika sampai di hadapan makhluk itu, ia tak peduli lagi dengan semuanya. Tak peduli lagi jika tubuhnya akan tercabik-cabik jika berada di dekat makhluk itu, yang ia inginkan sekarang adalah berbagi penderitaan dengan makhluk yang dianggapnya sebagai Naruto.

"….."

Makhluk itu tidak menjawab juga tidak berteriak seperti tadi, ia hanya terdiam menatap sepasang amethyst yang kini basah oleh air mata. Semua gerakannya seolah terhenti hanya karena tatapan gadis itu, seolah gadis itu memiliki mantra khusus agar dia patuh. Lama-kelamaan sepasang mata orange milik sosok itu meredup, tergantikan oleh sepasang blue sapphire yang Hinata kenal. Berangsur-angsur wujud sosok itu mulai kembali ke bentuk semula, sesosok pemuda berambut pirang dengan tiga coretan di masing-masing pipinya.

"Hi-hinata," gumamnya pelan sebelum jatuh dalam pelukan Hinata.

Semua orang bergegas menuju tempat Naruto, semua kecuali Uchiha Sasuke yang masih bertahan di posisinya. Masih menatap sepasang viridian milik Haruno Sakura, menanti jawaban atas pertanyaannya.

"Jawab aku, Haruno. Siapa sebenarnya kau?," tanya Sasuke untuk kesekian kalinya.

"Bukankah seharusnya kaum campuran mengenali matenya? Aku jadi meragukan kemampuan kaum campuran."

"Maksudmu?," Sasuke balik bertanya, baginya jawaban Sakura tadi sama ambigunya dengan gadis itu.

"Cari aku jika Senpai sudah tahu," balas gadis itu sebelum melenggang pergi dari tempat itu, meninggalkan Sasuke yang masih tak mengerti kata-katanya.

"Tidakkah kau ingat kalau malam ini malam bulan purnama, Sasuke?," tanya Itachi yang kini berada di sebelah Sasuke ikut menatap gadis berambut merah muda itu.

"Ck, tentu saja aku ingat," kesal Sasuke, jelas-jelas perubahan Naruto adalah buktinya jadi mana mungkin dia lupa.

"Tapi kau melupakan sebuah fakta, malam ini kau tidak berubah wujud sama sekali."

.

.

.

TBC

.

.

.

Ok, saya tahu kemaren rencanya mau nyeritain masalah kekuatan Hinata tapi akhirnya justru kaya gini. Sebenernya memang diceritain di chap ini tapi berhubung terlalu panjang jadi saya cut aja #ditimpukin readers. Selain itu saya juga pengen memperjelas soal mate karena saran seorang teman, makasih buat teman saya kalau dia sempet baca. Maaf juga kalo chap ini banyak typo dan ada yang kurang sesuai, saya buru-buru banget soalnya m(- -)m, chap depan bakal saya perbaikin lagi kok. Buat chap depan mungkin bakal ada flash back sebelum Hinata masuk ke Camp of Fire buat memberi sedikit petunjuk hubungan Hinata sama mate terdahulunya si Naruto. Yosh, segini aja deh cuap-cuap gaje saya, makasih buat semua yang masih menunggu fic membingungkan ini. Buat para readers, silent reader dan reviewers silahkan tinggalkan jejak keberadaan kalian di sini XD

.

.

.

^^ Review ^^