Telepon

By: the autumn evening

Pairing: Sasuke/Sakura

Rating: T

Disclaimer: me no own. I don't even own the computer I'm typing this on.

Warning: AU. (maybe) Typos. OOC. Alternative Ending. Slight humor

Read and Review

.

.

Sakura tahu ada yang salah sejak menit pertama Sasuke menelponnya.

Sakura tengah menyeduh secangkir chocolate dalmatian di dapur apatemennya saat telepon rumahnya berdering. Mengerutkan kening heran, Sakura menuju meja di sudut ruang tamu tempat dia meletakan telepon rumahnya.

Telepon rumah biasanya hanya digunakan untuk keperluan kerjanya. Seperti jika ada panggilan darurat dari Rumah Sakit, maka perawat atau resepsionis akan menghubunginya lewat telepon.

Tapi hari ini adalah hari liburnya.

Apakah ada pasien yang sangat darurat sehingga membutuhkan keahlian Sakura?

Sepertinya hal itu kurang bijak, mengingat Sakura selalu sibuk bertugas di Rumah Sakit selama satu bulan belakangan hingga apartemen Sakura hanya dijadikan tempat mandi dan tidur oleh dokter merah muda ini. Tak jarang Sakura bermalam di rumah sakit.

Maka itu, dengan kebijakan dari Tsunade- sama –kepala Rumah Sakit, Sakura mendapatkan Golden week utuk beristirahat.

Lalu siapa yang menelponnya?

Tidak mungkin jika sang penelpon adalah salah satu dari teman Sakura. ( Mereka biasanya hanya menghubungi ponsel Sakura. Karena tahu Sakura selalu membawa ponsel bersamanya. )

Karena terlalu banyak berpikir, telepon berhenti bordering saat jarak Sakura hanya beberapa kaki dari telepon.

Sigh

Sakura menghela nafas. Berpikiran jika memang telepon penting, maka telepon itu akan

Kriiing…

-berdering lagi.

"Halo,"

"Sakura. ini aku."

Sakura hampir menjatuhkan teleponnya saat suara bariton seksi milik Sasuke -yang sangat dia kenal- terdengar dari seberang telepon.

"Sasuke-kun, kau… menelponku?" Sakura tak menyembunyikan nada kaget dari suaranya.

"Itu sudah jelas 'kan" Jawab Sasuke sarkastik.

"Jadi, ada apa? Apa ada yang salah?" Tanya sakura dengan sedikit mengerucutkan bibir mendengar nada sarkastik milik sasuke.

( kenapa sasuke menjadi begitu sarkastik kadang- kadang? )

"Tak ada. Aku langsung saja pada intinya."

Ah, sangat Sasuke-kun, dia tak pernah berbicara panjang lebar hanya untuk berbasa- basi.

"Kita bertemu di taman tiga puluh menit dari sekarang."

Sakura mengerutkan kening, "Huh? Ngomong apa?"

"Kita bertemu di taman tiga puluh menit dari sekarang." Ulang Sasuke terdengar sedikit kesal.

"Untuk jalan berdua atau apalah. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Tambahnya.

"Kenapa nggak di sini? Maksudku, di telepon." Sakura bertanya tanpa menyembunyikan kebingungannya.

"Karena aku ingin. Jadi mau bertemu atau nggak?"

Sangat ketus dan tidak gentle men seperti biasa.

( ngomong- ngomong tentang ketus, kenapa juga Sakura bisa tahan bersahabat dengan Sasuke? )

"ya ya, nggak usah ketus begitu jawabnya."

"Aa, jangan telat."

Tanpa menunggu jawaban Sakura, Sasuke sudah menutup teleponnya.

Sakura hanya menggelengkan kepalanya. Menghadapi sahabatnya yang satu ini memang membutuhkan kesabaran yang ekstra.

.

Tadi adalah telepon yang sangat aneh yang pernah dia terima. Bukan tentang obrolan atau keketusan cara bicara si penelpon. ( demi dewa jashin-nya hidan si penunggu kamar mayat, Sakura sudah terbiasa dengan sifat ketus lelaki itu. Sungguh. )

Tapi aneh karena itu adalah telepon dari Sasuke.

Sasuke tak pernah menelpon.

Enam tahun Sakura mengenal Sasuke, ( pertama kali bertemu pada masa ospek di konoha university. Sasuke dan Sakura sama- sama mengambil kedokteran ) Sakura adalah orang yang biasanya menelepon. Hanya untuk keperluan tugas atau sekedar ingin mendengar suara Sasuke.

Sasuke selalu berjalan ke apartemen Sakura untuk mengobrol.

Sasuke tak pernah menelponnya. Dia pasti akan memilih berjalan menuju apartemen Sakura jika ingin berbicara dengan Sakura, tak peduli hari hujan atau hari yang terik. Dan Sakura lebih menyukai Sasuke karena ini.

Well, Sakura sudah menyukai Sasuke sejak pertama matanya merekam sosok bungsu Uchiha ini bertahun silam, tapi Sakura memilih diam karena alasan klise 'persahabatan'. ( Bohong. )

Alasan sebenarnya adalah Sakura takut 'ditolak' karena Sasuke tak sekalipun memandang Sakura dengan pandangan yang sama dengan Sakura memandang Sasuke.

Memang sih, Sasuke baik pada sakura. Dan Sakura cukup senang dengan fakta bahwa Sasuke hanya baik pada Sakura.

Hanya pada Sakura. Tapi tetap saja baiknya Sasuke hanya kebaikan yang wajar ditunjukan antar sahabat.

Kembali kepada telepon Sasuke.

Faktanya, jika bukan karena Sakura, mesin telepon Sasuke akan menjadi sama sekali tak digunakan.

Pernah sekali Sakura melihat tagihan telepon Sasuke yang sangat sedikit, hampir kosong. Sasuke hanya menelpon kepada kepala rumah sakit –Tsunade- sama jika ada hal penting. Dan itu semua hanya untuk keperluan kerja. ( Sakura tahu, dunia akan berakhir jika Sasuke menelepon Tsunade –sama hanya untuk mendengar suaranya. )

Tapi Sasuke menelponnya pagi ini.

Ini sangat bukan dirinya. Bukan Sasuke sama sekali.

Sakura berpikir mungkin tadi dari seorang penipu yang menyamar menjadi Sasuke. Sakura mengingatkan dirinya untuk membawa pepper spray* dalam tas bersamanya.

.

.

Sasuke tak pernah mengajak Sakura berjalan- jalan. Apalagi di sekitar taman.

Sasuke tak begitu menyukai tempat publik. Sakura sering protes pada Sasuke yang sangat mengisolasi dirinya sendiri. Untuk seorang pria dewasa berusia dua puluh tiga tahun, Sasuke sangat menjaga dirinya agar tetap privat. Sasuke jarang menghadiri pesta ulang tahun atau pesta lain milik temannya -dan Sakura.

Satu- satunya tempat umum yang mau Sasuke kunjungi tanpa paksaan adalah kedai ramen Ichiraku untuk untuk menyantap ramen dengan Sakura, atau terkadang dengan Naruto –sahabat Sasuke yang lain. Dan Sakura adalah orang yang biasanya mengajak, bukan Sasuke.

Sakura menghela nafas. Perubahan Sasuke tentu saja baik, dan Sakura menyukainya. Tapi tetap saja Sakura merasa janggal dengan telepon Sasuke. Dia akan bertanya apa yang sebenarnya terjadi, segera setelah bertemu Sasuke.

.

.

Sasuke selalu tepat waktu.

Jika tidak, Sasuke akan datang lebih cepat.

Sakura duduk di bangku panjang di dekat pintu masuk taman. Sakura sudah menunggu selama setengah jam. Jam tangannya menunjukan pukul sembilan. Lewat satu jam dari waktu yang dijanjikan Sasuke.

Tak sekalipun sebelum ini Sakura menemukan Sasuke terlambat. Apalagi terlambat sangat lama seperti kali ini.

Mungkin tadi sakura salah mendengar Sasuke bicara. Mungkin Sasuke bilang 'satu setengah jam lagi' bukannya 'setengah jam lagi'.

Lagian, apa alasan Sasuke telat?

Dasar!

Dia berkata pada Sakura untuk tidak telat dan dia sendiri telat begitu banyak. Sasuke harus menyiapkan penjelasan yang masuk akal untuk hal ini.

.

.

"Sasuke-kun,"

Sakura memberikan tatapan kecewa pada Sasuke yang baru muncul di hadapannya.

"Dengar sakura, aku minta maaf. oke? Tadi aku- "

Sakura memotong permintaan maaf Sasuke dengan meletakan jari telunjuknya di bibir Sasuke dan tersenyum.

"Nggak apa, lagian ini nggak terjadi setiap saat." Kata Sakura dengan manis.

"Ayo,"

Sasuke meraih tangan Sakura dan mulai mengajak sakura berjalan beriringan. Sakura melirik Sasuke yang terlihat lega.

( Apakah Sasuke begitu khawatir? )

Well, kekhawatiran Sakura pada Sasuke tadi ternyata tak perlu diperpanjang. Sasuke terlihat seperti biasa. Berjanan bersama Sakura dalam diam. Tanggannya menggandeng milik sakura. tak ada yang sal-

Tunggu.

Sasuke berkeringat. Dia berkeringat begitu banyak.

Benar saja, saat tangan Sasuke menggenggam tangan Sakura, terasa licin dan dingin. Seperti Sasuke sedang memikirkan sesuatu dengan serius.

Sakura cemberut, mencoba melihat ke dalam mata hitam Sasuke. Ada sesuatu yang benar- benar salah dengan Sasuke-kun miliknya.

.

.

Sasuke tak pernah gugup.

Dan sekarang Sasuke benar- benar terlihat gugup.

Pasti ada yang salah. Kenapa Sasuke begitu gugup? Terakhir kali Sasuke gugup adalah saat penentuan penempatan Rumah Sakit tempat dia dan Sakura akan bertugas. Dan itu sudah dua tahun yang lalu.

"Sasuke-kun, ada yang salah ya? Tanganmu dingin," Sakura bertanya dengan cemas.

"Huh- apa?" sasuke bertanya, terlihat seperti seseorang yang baru saja tersentak dari lamunannya. "O-oh nggak ada kok, Sakura."

Sakura melemparkan pandangan curiga pada Sasuke, tapi memutuskan untuk mengikuti Sasuke dalam diam. Sudah menjadi aturan tak tertulis Sakura untuk tidak pernah menekan Sasuke.

Beberapa saat kemudian, mereka tenggelam dalam keheningan yang dalam. Sakura nyaman hanya dengan kehadiran Sasuke, begitu juga Sasuke. Tiba-tiba sakura mengingat sesuatu,

Sasuke adalah tipe 'went straight to business'

Sasuke masih belum mengatakan tujuannya mengajak Sakura bertemu. Sasuke belum mengatakan apapun. Membuat Sakura merasa Sasuke menyembunyikan sesuatu.

.

.

"Sasuke-kun, aku tahu ada yang salah. Katakan padaku."

Sakura memecah keheningan di antara dia dan Sasuke. Sakura tak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya saat Sasuke tak kunjung mengatakan tujuannya dan malah menuntun Sakura menuju rumahnya.

Jika tak ada yang akan di lakukan di taman, kenapa Sasuke menyuruhnya ke taman, membuat Sakura menunggu selama satu jam dan kemudian berakhir di rumah Sasuke? Kenapa tak menyuruh Sakura langsung saja ke rumahnya dari awal?

"Sakura,"

Sasuke meletakan kedua tangannya di pundak Sakura setelah sampai di dekat meja telepon di ruang tamu rumah Sasuke, membuat Sakura bingung sekaligus kaget.

"Aku sulit mengatakannya,"

"Katakan pelan- pelan, Sasuke-kun" Sakura memberikan senyum menenangkan.

Menghela nafas, Sasuke berlutut di hadapan Sakura, wajahnya terlihat frustasi.

"Maukah kau…"

.

.

Jeda.

.

.

"Maukah kau memeriksa apa yang salah dengan teleponku?"

.

.

Jeda

.

.

Aku tak tahu apa yang Naruto- baka lakukan minggu kemarin, sehingga tagihan teleponku naik"

.

.

Jeda

.

.

"….ra? Sakura? Kumohon lakukan sesuatu"

.

.

.End.

WordCount: 1390

A/N: Like twist story?

Karena saya bilang alternative ending, maka akan ada satu ending lagi.

Ending berikutnya akan saya update dua hari setelah publish chapter ini.

Sebelumnya, beritahu saya pendapat kalian dulu ya.^^

Rencananyakaleidoscope akan menjadi kumpulan oneshoot berisi fragment warna-warni milik SasuSaku versi saya. Masing- masing tidak saling berkaitan. ( terkecuali jika suatu saat saya berrencana untuk membuat sekuel dari salah satu oneshoot. )

Kritik, saran dan pendapat lewat review untuk akan sangat saya apresiasi.

-with cherry on top-

.the autumn evening.