Haloooo!

Awww! Saya tahu chapter ini lamaaa banget munculnya, tapi harap maklum soalnya saya peserta ujian UN dan akan lulus jadi sekolah membuat saya sibuk! Dan saya juga ngaku kalo chapter ini banyak yang di-edit kembali karena ada adegan-adegan yang seharusnya belum muncul dulu trus karena saya bingung akan bagaimana dengan chapter ini. Tapi akhirnya selesai juga. Maaf tentang pairing belum bisa diceritain dulu, nikmati saja tentang adegan kekerasan dulu. Ehee… btw, chapter ini menceritakan tentang siapa sebenarnya Hinata Hyuuga itu. Cekidot!

Disclaimer: Naruto bukan milik saya! Kalo saya yang bikin Naruto mah saya gx usah pusing-pusing lagi mikirin uang buat bayar sekolah. Hikz…

Warning : OOC, lemon, penganiaan anak, pembunuhan dan adegan kekerasan lain

Genre : Hurt/conforn & angst

Pairing: NaruHinaMen(Naruto, Hinata dan Menma), GaaSakuSasu,NejiTen, InoSai

Rated : M


Hari: senin

Jam: 05:00 AM

Tempat: Dojo karate

"Hyat! Hiaat! Haah!"

Dipagi hari ini, kediaman Hyuuga terdengar berisik seperti biasa dari arah dojo. Para murid dan keluarga Hyuuga melakukan latihan pagi hari. Mereka berlatih menendang dan memukul sebuah samsak secara bergantian. Dipinggir kiri yang luput dari pandangan, seorang gadis berambut ungu gelap sedang menendang berulang-ulang sebuah samsak yang tergantung dilangit-langit dojo milik keluarganya. Gadis itu memakai seragam karate putih seperti orang-orang yang ada didojo, hanya saja dia memiliki sabuk coklat terikat dipinggang. Keringatnya membasahi seluruh tubuh dan seragam itu, Hinata sudah melakukan hal ini selama satu jam, sebelumnya dia melakukan pemanasan dan yang lainnya selama satu jam juga. Yap, dia sudah bangun sejak dua jam lalu, tepatnya jam tiga pagi. Itu kebiasaan keluarga Hyuuga sang keluarga karateka terkenal sejak generasi kegenarasi. Keluarga yang mempunyai disiplin dan ajaran yang keras.

Hinata adalah keturunan dari generasi kelima yang seharusnya menjadi unggulan menggantikan ayahnya, Hizashi Hyuuga. Gadis itu mengerti dengan takdir dan tanggung jawabnya, ia sudah berusaha berlatih lebih rutin melebihi yang lain. Para murid dan keluarga dikediaman Hyuuga ini semua tahu bahwa gadis indigo itulah orang yang paling bekerja keras, tapi…

Tiba-tiba Hinata merasa nafasnya habis, gerakannya terhenti dan kedua lututnya lemas dan terjatuh dengan kasar ke lantai kayu. Menyadari sebuah suara benturan keras, orang-orang menatap gadis yang tadi luput dari pandangan itu. Tapi mereka hanya bisa mendesah kecewa sebelum kembali melanjutkan latihan masing-masing.

"Hinata!" Hizashi Hyuuga berdiri didepan gadis yang sekarang sedang membetulkan nafasnya yang terengah-engah, kedua tangan disilang kedada. Hinata tersentak mendengar namanya dipanggil, dia familiar dengan suara itu, suara yang membuat tubuhnya tegang seketika oleh rasa takut. Pelan-pelan tatapan Hinata berganti dari lantai keatas, menatap kedua pasang mata didepannya yang memelototinya dengan tatapan meremehkan bagaikan melihat seekor cacing. Tubuhnya gemetar dengan kasar, kedua tangan mencengkram erat lantai, berusaha menopang tubuhnya agar tidak ambruk.

"Outo-" gadis itu berusaha menjawab panggilannya. Tapi-

"Jangan panggil aku dengan nama yang tidak pantas itu dari mulutmu!" Hizashi menyelanya dengan bentakan kasar. Dia melayangkan kaki kanannya tepat kepipi kiri gadis yang tidak ingin dia akui sebagai anaknya itu. Hinata terlempar kesamping, membentur kedua pasang kaki seorang murid karate yang sedang memukul-mukul samsak, menyebabkannya tersentak dan berhenti dari latihannya. Beberapa pasang matA melirik kearah keributan kecil itu. Hizashi mendelik kearah murid-muridnya begitu menyadari latihan pagi ini terhenti "Apa yang kalian lihat? KEMBALI BERLATIH!" para murid buru-buru menaatinya dengan ekpresi takut. Hizashi kembali menatap Hinata yang sekarang semakin menunduk. "Kau ingat hari ini akan ada apa Hinata?" Hinata menegang, lalu mengangguk pelan.

Hari ini adalah hari dimana kediaman Hyuuga akan mengadakan ujian untuk meningkatkan kemampuan mereka dan mendapatkan sabuk baru.

"Kau ingat?" Hinata kembali mengangguk. Ujian ini ketiga kalinya bagi gadis itu yang selama tiga tahun hanya bisa mendapat sabuk coklat. "Jika kau tidak bisa mendapatkan sabuk hitam dilatihan kali ini…" Hizashi menghentikan kata-katanya, dia berbalik kearah samsak yang tadi ditinggalkan untuk memperingati anak perempuan pertama miliknya. Anak yang tidak ia anggap lagi sejak dulu, bocah yang mencoreng namanya karena terlalu lemah. Pria tua itu kembali membuka mulutnya, mengatakan kata-kata yang membuat Hinata Hyuuga membelalak…

"Kau tidak akan lagi bermarga Hyuuga!"

Ayahnya sendiri akan mengusirnya dari rumah.

Hinata kehilangan kata-kata.

Dia terduduk lemas, menggigiti bibir bawahnya dengan keras. Mencoba mengalihkan air mata yang hendak turun dengan rasa sakit. Mencoba bersikap tegar karena tidak mau terlihat lemah didepan ayahnya, walaupun tahu bawa dia sudah men-cap lemah dirinya. Kedua tangan Hinata bergetar, tapi tetap dipaksakan untuk bergerak, membantu kakinya agar berdiri. Hizashi menyuruh Hinata menyelesaikan latihannya dan bergegas kesekolah. Gadis itu mematuhinya dan membungkuk seratus delapan puluh derajat sebelum keluar dari dojo.

Hizashi berbalik dan memandangi punggung datar milik anaknya yang berjalan kearah pintu. Dia mendesah, kemudian pikirannya bekerja ketempat lain, memikirkan seseorang.

"Hanabi…"

Anak perempuan kedua miliknya.

"Andai saja kau disini"

Gadis yang berumur dua tahun lebih muda dari Hinata, sang kakak. Gadis yang telah mengalami koma selama lima tahun.

Memori diwaktu itu kembali dibenaknya, memori yang bisa membuat Hizashi Hyuuga sang ahli karateka terkenal, orang yang paling ditakuti oleh dojo-dojo lain… menegang.

"Dia…. Hinata… jika saja dia bangkit lagi…. " ia mengatakannya dengan suara kecil, hampir berbisik. Keringat turun dari dahi, Hizashi dengan cepat menggelengkan wajahnya, mengusir kepingan memori yang hampir menyatu. "Tidak!" Peristiwa lima tahun lalu. Kedua tangan mengepal dengan tegang. "Dia terlalu berbahaya…"

Hizashi memfokuskan pandangan pada samsak didepannya, benda itu kembali dipukulinya.


Jam: 06:00 AM

Tempat: Koridor kediaman Hyuuga

Hinata Hyuuga berusaha mengacuhkan bisik-bisik para pelayan yang ditemuinya, mereka lagi-lagi terang-terangan melakukan itu, meremehkan sang gadis yang tidak pernah bisa berkutik. Setiap kali Hizashi sang ayah berbicara padanya, para pelayan akan bergosip tentang tema betapa memalukan dirinya. Hizashi bukanlah orang yang bisa berbasa-basi, dia adalah orang yang selalu tidak menerima orang lemah, apalagi anaknya sendiri. Dia, Hinata Hyuuga si anak keluarga Hyuuga terlemah. Julukan itu dikenali oleh semua orang di kediaman Hyuuga dan mereka tidak pernah memperlakukannya dengan terhormat sebagai anak Hyuuga. Justru mereka tidak jarang memperlakukan Hinata layaknya seorang yang berderajat lebih rendah dari pembantu.

Hinata tau betapa memalukan dirinya, tapi dia tidak bisa apa-apa. Dia bingung, dia sudah berusaha tapi nihil.

'Apaa….? Apa yang kurang dari diriku?'

Bisik-bisik disekitarnya semakin bertambah. Gadis itu mempercepat langkah kaki, ingin pergi secepatnya menuju pintu gerbang dimana sopir pribadi miliknya sedang menunggu.

"Hinata" si sopir mendengus kesal, dia memanggil nama gadis itu tanpa rasa hormat sekalipun. Hinata menunduk. Sang sopir terkekeh kecil melihat gadis didepannya.

'Seorang anak Hyuuga mau-maunya dianggap remeh oleh pegawai yang hanya berderajat rendah seperti dirinya. Menyedihkan, kasihan sekali keluarga Hyuuga memiliki sampah seperti gadis ini…' ejek si sopir didalam hati.

Hinata membuka sendiri pintu mobil di jok belakang, seperti biasa, ia tahu sopir itu tidak sudi memperlihatkan respek padanya. Hinata hanya bisa mencoba bersabar. Pintu pengemudi terbuka dan tertutup, Hinata mengikutinya dan menutup pintu. Sekarang mobil porsche perak itu telah dia masuki oleh dua orang manusia. Si sopir menyalakan mobil dan mulai mengendarai. Suasana hening, si sopir membuka pembicaraan kepada gadis yang terus tertunduk memandangi kakinya.

"Jadi bagaimana latihan hari ini, kudengar Hizashi-sama berbicara padamu?"

Hinata memasang ekpresi sedih, kepalanya semakin menunduk.

Sopir itu melihat keadaan Hinata dari kaca kecil yang terletak ditengah-tengah dua kursi jok pengemudi, dan tertawa.

"Dasar cecunguk"

Air mata membasahi pipinya secara spontan. Hinata buru-buru menyekanya.


Jam: 06: 20 AM

Tempat: Jalan raya

Musik terdengar dari radio dimobil porsche perak yang telah melaju ditengan jalan raya diiringi oleh suara sumbang dari seorang supir yang mengendarainya. Setelah musik selesai, saluran radio itu menayangkan sebuah berita.

"Berita keadaan Kohoha city pagi ini, pada hari minggu kemarin, ditemukan seorang mayat pria yang tergeletak begitu saja di jalan raya didekat zebra cross, setelah ditelusuri, polisi menemukan dua mayat lagi yang berjenis kelamin sama didalam gang didekat TKP. Ketiga mayat itu mati dalam kondisi mengenaskan, polisi menemukan sebuah pisau dipenuhi darah yang diduga adalah senjata pembunuhan sang pelaku."

"Siapa yang perduli tentang pembunuhan, cepatlah selesai.. ganggu aja nih berita!" umpat sang sopir sambil menekan klakson sebagai pelampiasan kekesalan. Tanpa memperdulikan umpatan itu, sang radio tetap setia melanjutkan beritanya.

"Menurut waktu penyeledikan, luka-luka yang dialami korban masih sedikit baru, polisi menduga mereka dibunuh sebelum fajar pagi tiba. Polisi menelusuri lebih lanjut dan menemukan identitas para korban dan memeriksa apartemen ketiga korban, mereka menemukan minuman-minuman alcohol dan beberapa ganja disalah satu rumah korban. Polisi menyangka peristiwa pembunuhan ini mungkin ada kaitannya dengan kedua benda tersebut"

"Pembunuhan ya," ucap sang sopir, dia melirik ke jok belakang "kau mungkin bisa jadi korban selanjutnya, bocah! Heh, lagi pula Tuan Hyuuga juga tidah akan perduli, ahahahhahah!" sang sopir tertawa mengejek. Hinata menunduk, tapi dibalik rambut panjangnya yang menutupi rambut… dia tersenyum.

"Neji…nii…" bisik Hinata pelan tanpa disadari sang supir. Bisikan yang mempunyai makna.

Bosan mendengar berita, sang supir mengganti saluran diradio untuk mencari acara music sebagai hiburan, walaupun itu tidak bisa mengalihkan ngantuknya yang tiba-tiba menyerang. 'Seharusnya aku tidak berpesta minum sampai larut malam, kopi pagi ini hanya bisa membantu sebentar' keluh sang supir didalam hati, mulutnya menguap lebar. Hyuuga Hinata yang akhirnya merasa tenang sedang sibuk melihat-lihat buku-buku pelajaran hari ini, dia mengecek apakah dia sudah yakin mengerjakan semua pekerjaan rumah tadi malam. Pikirannya terlalu terfokus, membuat jantungnya dengan mudah berdebar keras begitu suara klakson dari arah depan berbunyi. Hinata melihat ekpresi panik sopir didepannya, dengan cepat menengok kearah samping, mengikuti pandangan sopir itu. Otaknya mengacuhkan tabrakan yang akan terjadi, seakan sebuah hipnotis, gadis itu hanya terpaku pada kedua lawan jenis yang berada dimobil lain, matanya meneliti dua pasang manusia yang terlihat gusar dan resah.

Pria berambut hitam…. bola mata biru laut dikiri dan merah…. Darah… dikanan. Selanjutnya,

Mata gadis Hyuuga itu membelalak lebar.

Pria satu lagi…. berambut pirang…. Memiliki kedua bola mata berwarna biru langit….

'Dia… familiar..'

Setelah memikirkan itu, kepala Hinata tiba-tiba terasa berdenyut. Gambaran-gambaran muncul dibenaknya.

Mobil jaguar putih…. Tiga pistol…. Perasaan nafsu…. yang haus akan darah…

"Da…rah.." ucapnya pelan tanpa disadari, gadis indigo itu hanya menangkap satu kata didalam pikirannya.

how sweet..

!

'Siapa?'

Mata Hinata membelakak.

'Dari mana suara itu berasal?' tapi belum sempat hal itu terjawab…

BRAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKK!

…..

…..

Gadis yang berada dijok mobil itu terhempas kesamping mengenai kaca mobil, tasnya jatuh ke dari atas jok, tas yang belum sempat dirisleting itu terbuka lebar dan menghamburkan buku-buku pelajaran didalamnya beserta kotak pensil berwarna ungu. Tidak begitu lama, suara erangan kecil keluar dari bibir merah muda dari satu-satunya gadis didalam mobil perak. Tangannya yang sedikit terasa sakit menyentuh bagian belakang kepala yang terbentur, cairan merah terasa ditelapak tangannya, matanya menatap cairan itu dengan haus.

Darah..darah..darah… ahaahahahaaaaahaaaaaaaa!

Suara dikepala Hinata semakin tertawa keras. Mata Hinata yang tadi selalu terlihat sendu berubah menjadi kosong dan... liar.


Jam: 08:00 AM

Tempat: Rumah Sakit Konoha

Sepasang suami istri Uzumaki keluar dari mobil limousin hitam tanpa menunggu sang sopir mereka keluar membukakan pintu, mereka berlari memasuki rumah sakit diikuti oleh dua pria serba hitam, bodyguard pribadi Namikaze Minato. Sepertinya mereka sedang terburu-buru, sang istri bahkan tidak memperdulikan busananya yang masih memakai daster merah bercelemek. Begitu melihat tempat resepsionis, wanita berambut merah membara itu membenturkan tangannya dimeja.

"DIMANA ANAK-ANAK KAMI? KAMAR NOMOR BERAPA?" tanpa basa-basi, Kushina langsung berteriak ke-inti permasalahan.

Hal ini sontak membuat semua pengunjung rumah sakit melirik mereka dan menjadikannya tontonan. Wanita dengan nama Shizune (nama yang tertulis dipin disebelah dada kanannya) tersentak dan.. sedikit bingung. 'apa-apaan dia, baru datang langsung DAR-DER-DOR begitu' "Apa maksud nyo-" ujarnya dengan sedikit jengkel dan langsung disela oleh wanita lain.

"KEDUA PASIEN YANG BARU SAJA KECELAKAAN ITU! DUA BOCAH KEMBAR, ANAKKU! DIKAMAR BERAPA MEREKA?" Kushina melototi wanita berambut hitam pendek didepannya dengan tidak sabar, Minato menggenggam pundak istrinya agar menenangkannya.

"Ah! Pasien kecelakaan itu, mereka-" mata wanita itu kini membelalak ketika menyadari siapa suami-istri yang dikuntit dua pria berbaju hitam dibelakangnya. 'Mereka suami istri Uzumaki, sang…' pikiran wanita itu disela oleh suara yang bernada dingin.

"Katakan saja kamar berapa atau kami pastikan kau tidak akan bernafas lagi" perintah salah satu pria berbaju hitam itu, pria ini memakai masker yang menutupi mulut dan hidungnya, tangan kanannya mengeluarkan sepucuk pistol dari balik jas hitam yang dikenakannya, menodongkannya pada sang resepsionis.

'YAKUZA TERKEMUKA DIKONOHA INI!'

"Di-Dikamar nomor 103 disebelah kanan!" pekiknya panik sambil berdiri. Tangannya diacungkan kearah yang diteriakinya. Keringat membasahi kening dimukanya yang sekarang menjadi pucat.

Kushina berlari menyeret suaminya kearah yang ditunjukan, bodyguard tadi memasukan kembali pistol disakunya dan mengejar kedua majikannya, diikuti oleh bodyguard lain yang menyelipkan rokok dibibirnya. Shizune sebenarnya menyadari hal itu, ia ingin menegur pria itu agar memberitahukan bahwa dilarang merokok didalam rumah sakit tapi, nyalinya ternyata tidak cukup untuk melindungi nyawanya nanti. Gadis itu mengurungkan niatnya dan hanya bisa merosot lemas kembali kekursi. Membetulkan jantungnya yang berdetak tidak beraturan. Para pengunjung yang juga menyadari status orang-orang tadi hanya bisa menatap wanita resepsionis dengan pandangan kasihan dan sedikit lega karena melihat diri masing-masing masih hidup.

Tanpa mereka semua sadari… sepasang mata memandangi arah kemana keluarga Uzumaki pergi dengan tatapan berbeda.

'akhirnya'

Kushina duduk dibangku dengan tidak sabar didepan kamar 103, menunggu dokter yang menangani kedua anak tersayangnya.

"Tenanglah Kushina, semua pasti baik-baik saja" Minato yang duduk disebelahnya mencoba menghibur Kushina. Dua bodyguard berdiri mengapit mereka.

"Ya, Tuan besar Minato benar, tuan muda Naruto dan Menma sangat kuat" seorang bodyguard yang berdiri disamping kanan dengan masker juga mencoba membantu Minato menenangkan istrinya.

"Tapi-" Kushina ingin membantah

"Kakashi benar, dia yang paling tahu tentang kedua bocah itu karena mereka dilatih olehnya. Jadi anda cobalah mempercayai kakashi" seorang bodyguard lain yang sedang merokok membela partnernya.

"Asuma.." Kakashi tersenyum dibalik masker sambil menatap partner sekaligus sahabatnya yang bernama Asuma.

Kushina terdiam, kemudian perasannya yang was-was mulai mereda.

"Terima kasih.." ucap Kushina, wajahnya melirik satu-persatu kepada orang-orang yang tadi menghiburnya sambil tersenyum. Mereka balik tersenyum. Tepat setelah itu suara pintu terdengar dan seorang dokter keluar.

"Permisi, apakah anda semua?"

Kushina dan Minato berdiri, lalu Minato mengangguk.

"Saya Dr Tsunade Senju"

"Bagaimana keadaan anak-anak kami? Seberapa buruk kondisinya?" Kushina bertanya dengan panic.

"Dia berada dalam kondisi yang sangat buruk, saya tidak akan berbohong kepada Anda, tetapi kami belum punya komplikasi lebih jauh"

"Sangat buruk?!" Kushina meninggikan suaranya satu oktaf

"Anak anda yang berambut hitam mempunyai sepotong kaca di dadanya, jantungnya berhenti ketika ia pertama tiba di sini tapi tidak apa-apa sejauh ini, ia tidak mengenakan sabuk pengaman sehingga kepalanya terbentur sangat keras, ia menderita gegar otak, dia mungkin juga memiliki bekas luka di dadanya karena kaca, lengan kanannya rusak, ia hampir kehilangan matanya tapi terima kasih pada Tuhan bahwa kesempatan hidupnya sedikit lebih tinggi, sehingga ia mungkin hanya akan memiliki bekas luka kecil di sana, ia beruntung hidup" jelas Tsunade panjang lebar "sedangkan anak anda yang berambut pirang hanya mendapat luka-luka ringan saja"

"Terima kasih banyak" Kushina mendesah lega, Minato yang juga merasa lega memeluk istrinya erat. Asuma dan Kakashi tersenyum.

"Apa mereka sudah bangun?"

"Sayangnya belum, nyonya. Kita masih harus menunggu"

"Bisa kami menemui mereka?"

"Maaf tapi saya rasa belum bisa"

"Tolonglah, hanya sebentar. Saya hanya ingin melihat mereka"

Tsunade menimbang-nimbang permintaan Kushina, kemudia tersenyum "Hanya sebentar"

"Terima kasih! Ayo Minato!" dengan gusar ia menyeret suaminya

"Kau tidak perlu menyeretku Kushina, aku juga akan masuk " Minato mendesah. Kushina tidak memperdulikan keluhan suaminya. Kakashi dan Asuma mengikuti dibelakang. Tsunade menyusul.

Kushina masuk kamar 103, saat dia melihat kedua anaknya sedang terbaring lemah diranjang terpisah, dia berhenti, terkejut,

"Oh my god, anak-anakku tersayang! mereka tampak begitu rapuh, begitu lemah, aku tidak pernah berpikir mereka bisa menjadi seperti ini, mereka tampak begitu kuat sepanjang waktu" Air mata Kushina tumpah, Minato merangkul kepala istrinya kedada untuk memberinya kekuatan. Kushina menyandarkan kepalanya kedada Minato. "aku..hik.. Minato.. aku.. berharap mereka akan segera membaik.. hik.."

Minato menyeka air mata istrinya dan tersenyum. Istrinya mendongak menatap sang suami, kemudia kembali ke-anak-anaknya. Tiba-tiba….

Beeeeeeeeeeep, beeeeeeeeeeeeep

"Code blue, code blue"

Dokter Tsunade berlari terburu-buru menghampiri salah satu anak Kushina yang berambut hitam "Nyonya, sebaiknya anda keluar sekarang"

Kushina mematuhinya dan keluar bersama yang lain, 'Tuhan, tolonglah jangan bawa pergi anak-anakku dulu, mereka masih pantas menikmati hidup. Tolonglah kabulkan doaku, Amen'

Beberapa detik kemudian air matanya turun lebih deras, Kushina berdiri didepan pintu, berdoa, berharap anaknya akan baik-baik saja, dia merasa lututnya lemas, membuatnya jatuh berlutut, dan menangis lebih keras, 'oh, tuhan.. tolonglah..'

"Tuan Minato, Nona Kushina!" Suara berat memanggil nama mereka, kedua orang yang dipangil itu menoleh. Disana berdiri Hizashi hyuuga.

Minato yang tadi juga berlutut untuk memeluk Kushina merubah posisinya menjadi berdiri. Membantu Kushina berdiri dan menepatkan istrinya duduk dibangku. Kakashi dan Asuma menemaninya. Minato melangkah mendekati sang pemimpin Hyuuga generasi ke-empat. "Tuan Hyuuga" sapa Minato.

"Tolong panggil Hizashi saja, bagamanapun anda adalah majikan keluarga Hyuuga" Yup, Hyuuga bekerja pada Uzumaki sebagai bagian pertahanan yakuza mereka dan juga bodyguard. Keluarga Uzumaki tertarik dengan kekuatan Hyuuga dan merekrutnya.

"Ah, baiklah. Ngomong-ngomong ada keperluan apa anda dirumah sakit?"

"Saya mendengar kabar kecelakaan kedua anak anda dan…" Hizashi menghentikan kata-katanya. Kemudian membungkuk "saya minta maaf!'

"Angkat wajahmu, Hizashi. Ada apa?" tanya Minato. Hizashi melakukan apa yang dikatakan Minato.

"Tabrakan itu, antara mobil anda dan mobil supir yang mengangkut Hinata. Saya rasa itu dikarenakan kesalahan supir saya!"

"Ah, tidak apa. Dokter bilang Naruto dan Menma tidak terlalu mengkhawatirkan, saya percaya kepada mereka. Lalu bagaimana keadaan supir dan anakmu?"

"Sang supir itu mati, sialan si brengsek itu!" Hizashi menggeram dan mengepalkan kedua tangannya.

"Sabar, Hizashi. Lalu anakmu?" Minato menepuk bahu Hizashi.

"Huh, Saya tidak perduli. Tapi saya berencana menemuinya setelah ini, saya harap dia baik karena ujian naik tingkat akan dilaksanakan hari ini" Hizashi mendengus.

"Hizashi…" Minato mendesah. "Jangan terlalu memaksakan Hinata, dia perempuan"

"Maaf, Tuan Minato. Bukannya saja tidak setuju dengan anda tapi saya tidak perduli dengan jenis kelamin, saya tidak mau membanding-bandingkan hal itu. Hanabi sang adik bahkan saya yakin bisa lebih kuat, jadi itu hanya karena bocah itu TERLALU LEMAH! Saya sebagai kepala keluarga Hyuuga merasa gagal mendidik dan malu pada para nenek moyang akan kelemahan anak itu!" Hizashi menekan kata –katanya.

Minato semakin mendesah.

"Baiklah, anak-anak kami tidak apa-apa. Sebaiknya anda menengok Hinata, sampaikan salam saya padanya" Minato melepaskan tangannya dari pundak Hizashi

"Baik" Hizashi menunduk lagi, mengangkat wajahnya dan melangkah pergi.


Jam: 10:00

Tempat: Rumah sakit Kohoha, kamar 85

Anak perempuan Hyuuga terbaring lemah diranjang rumah sakit kamar itu, dilihat dari tubuhnya, seperti dia hanya mendapat bekas-bekas luka ringan. Matanya menutup, gadis itu masih belum sadarkan diri dari pingsannya.

Pemandangan disekitar gelap gulita, sepertinya gadis ini bermimpi buruk.

'Akamaruu..' sebuah suara kecil terdengar, suara itu mirip dengan suaranya

Tiba-tiba muncul bayangan seekor anak anjing berlumuran darah, anak anjing itu tidak bergerak dan terlihat menyedihkan. Memar dimana-mana dan tidak lagi bernafas.

'Teman-teman…'

Terlihat beberapa sosok anak-anak kecil, ada yang digantung, kepalanya putus, tercabik-cabik, terpotong-potong, ada juga sebuah pisau menempel ditenggorokan dengan menampilkan ekpresi seorang anak itu terlihat horror.. diakhiri dengan kobaran api menjolati sebuah bangunan… teriakan-teriakan minta tolong terdengar keras didalam bangunan.

'Mereka…'

Jeritan histeris tedengar, air mata ketakutan, wajah yang terkejut, seluruh tubuh yang belumuran darah. Seseorang mengemis dikaki sebuah sosok yang berdiri, tapi hanya dibalas oleh tusukan dipucuk kepala. Dia menjerit, darah yang banyak turun dari kepala, membasahi wajahnya. Tubuhnya perlahan-lahan jatuh… dan mati.

'Dia…'

Suara cekikikan terdengar nikmat. Dengan iseng dia mencabik-cabik lagi tubuh-tubuh yang tidak berdaya. Mengumpulkan darah disatu tempat dan mulai menodai kedua tangannya dengan rata, sampai tangan itu berlumuran… berwarna merah. Dijilatinya kedua tangan itu, ia menikmati rasanya seperti itu adalah sesuatu yang paling enak didunia. Dia terkikik, wajahnya yang tadi menunduk terangkat.. suara petir menyambar kencang, cahayanya membuat sosok itu sedikit terungkap. Seringaian terletak pada bibirnya, mata silver…. berkilat.

hihihihihiihihihi….!


Jam: 10:05

Tempat: Rumah sakit Kohoha, kamar 85

Hizashi yang tidak sabar menunggu anaknya , 'yang tidak ingin dianggap anak' manerobos kamar 85. Dia melangkahkan kakinya dengan kencang tanpa perduli akan mengganggu kedamaian rumah sakit karena dikamar itu hanya ditempati anaknya. Dokter sudah menyampaikan bahwa kondisi gadis itu baik-baik saja tapi sang pasien belum juga membuka mata. Hizashi berdiri didepan ranjang yang ditiduri anaknya. Satu tangan terulur memegang tangan Hinata dan menariknya dengan kasar.

BRUK!

Gadis itu terguling dan jatuh dari kasur. Tubuh bagian belakangnya menempel kelantai dengan posisi terbaring.

"BANGUN!"

Bola mata perak terbuka pelan, Hinata mengangkat tubuhnya dan duduk. Wajahnya menunduk menatap bawah, matanya setengah terbuka, gadis itu hanya terdiam tanpa melakukan apa-apa lagi.

Hizashi menggeram jengkel, satu tangan diacungkan dengan cepat menuju wajah anaknya, berniat menamparnya.

Dengan gerakan lebih cepat, Hinata menangkap tangan itu sebelum menempel dipipinya. Dengan tangan kiri itu dia melintirkannya. Hizashi mengerang kesakitan, pria itu menepis genggaman Hinata dengan susah payah. Dia terlepas dari genggaman yang kuat itu, hampir saja tangannya patah. Ekpresi terkejut menghiasi wajahnya, tanpa aba-aba dia mundur karena merasakan adanya bahaya. Matanya membelalak.

Dengan hitungan detik anaknya hilang dari tempat seharusnya ia duduk, mata putih memandang sekeliling dengan was-was, telinganya menangkap langkah kaki yang berhenti tepat dibelakangnya. Tanpa banyak waktu, sebelum Hizashi sempat menoleh, kedua tangannya dipaksa menempel dipunggung, sebuah pukulan membuat terjatuh. Setelah Hizashi dibuat berlutut, punggungnya merasakan pukulan ringan. Pelan-pelan sang ayah itu menoleh kebelakang. Matanya melebar.

'Senyum itu… tatapan itu..'

Sebuah bayangan terlindah dibenaknya, memori anak keduanya, Hanabi, saat dengan kondisi mengenaskan dilantai, seluruh tubuhnya memar-merah biru, darah keluar dari mulut gadis mungil itu.

'Dia…'

Posisi mereka sekarang adalah dimana Hinata berdiri dibelakang Hizashi yang terlutut. Tangan kanan si gadis menggenggam lengan Hizashi agar tidak terlepas, ditambah dengan satu kaki terangkat, menindihnya, membantu tangan dari pemilik rambut indigo. Mulutnya terbuka, menyeringai. Hizashi merasakan detak jantungnya bekerja tidak beraturan.

KRAAAAAAAAAAKKKKK!

"ARRRRRRRRRRGHHH!"

Suara sesuatu patah terdengar, disertai oleh jeritan kesakitan. Hinata melepaskan tubuh ayahnya yang terasa lemas, tubuh Hizashi jatuh, lengan kanannya yang patah membentur lantai dengan kasar. Tubuh besar Hizashi terbaring menyamping, bergidik. Mata silver yang kosong menatapnya dengan tatapan bosan.

'Dia… bangun…'

Hinata mengacungkan satu tangan kesamping kuping kanannya, tangannya mengepal erat. Tahu apa maksud hal itu, Hizashi menutup matanya dengan pasrah.

BUAGH!

Tidak disangka, satu pukulan diwajah cukup membuat pria yang ditakuti oleh ahli beladiri dikonoha pingsan… tidak sadarkan diri.

Hinata memiringkan wajahnya, heran. Tidak mau membuang waktu, dia berjalan menuju pintu, gadis indigo itu keluar setelah menutupnya dengan pelan.

TO BE CONTINUED!

Chapter selanjutnya akan kuceritakan tentang hubungan Menma dan Hinata, Menma akan mendapatkan cinta pertamanya! dan akan kubongkar sosok yang mengatakan 'akhirnya' itu. Well, Hinata akan menjadi pahlawan bertudung bagi menma!