"The Lady of KIHS"

by: Lavenderviolletta

Naruto by : Masashi Kishimoto

[Hinata H. x Sasuke U. ]

Romance,Hurt,comfor,

.

.

.

WARNING

(OOC, Miss TYPO)

.

.

Happy Reading

.

.

.

.

.

Sabtu, 2013

Hari dimana di nantikan oleh para pelajar pun tiba, akhir pekan setelah ujian memang terasa menyenangkan, kawasan Konoha city ramai di datangi pengunjung terutama di temat-tempat arena hiburan seperti wahana permainan, bioskop, atau factory outlet.

...

Hinata harus menghentikan langkahnya saat ia akan memasuki sebuah factory outlet makanan ketika ponselnya berbunyi.

Otousaan Calling

"Moshi-moshi."

"Hinata, kau dimana?"

"Aku, berada di sebuah food court, tak jauh dari rumah, kenapa otousaan?"

"Segeralah pulang, ada yang tidak beres di rumah."

"Hai-wakarimas."

...

Hinata memasukan ponselnya kembali ke dalam tas slempang miliknya, ia berbalik dan segera melajukan mobilnya menuju kediaman Hyuuga.

...

Di sebrang jalan, tanpa Hinata sadari, sepasang mata berwarna purple crystal tengah menatapnya tajam, wanita itu mencengkram foto yang ada dalam genggamannya. "aku, hidup menderita selama bertahun-tahun, dan kau bersenang-senang dengan kemewahan, tak akan aku biarkan kau lebih lama menikmati semuanya Hyuuga, aku akan merebut semua yang telah menjadi milikmu, semuanya." Wanita itu berkata lirih, dan menjatuhkan air mata kepedihan. "Okasaan, aku akan membalaskan kematianmu."

...

#Manshion Hyuuga

Suara deruman mobil Hinata yang memasuki area Manshion membuat Hiashi berdiri dari tempatnya duduk, dia melangkah bermaksud membukakan pintu untuk Hinata.

"Otousaan." Hinata kaget dengan Hiashi yang tiba-tiba saja berdiri di depannya.

"Masuk." Titahnya tegas.

Merasa tatapan Hiashi menyeramkan, Hinata segera memasuki rumahnya dengan membawa beberapa paper bag besar sebagai hasil belanjanya tadi.

...

Terjawablah kenapa Hiashi terlihat sangat marah padanya sore ini, lavender Hinata membulat saat melihat akatsuki dan Gaara duduk manis di ruang tengah, selain itu pria berambut blonde, dengan ke dua orang lainnya yang berambut nanas dan juga manusia pucat yang ramah tersenyum duduk di sofa bersebrangan dengan akatsuki, "bukankah, mereka adalah tim basket yang beberapa lalu bermain di KIHS." Pikirnya.

"Dan masih ada lagi." Suara Hiashi membuat Hinata membalikan tubuhnya, "oohh shiittt, apa lagi sekarang." Kembali ia menggerutu karena kedatangan Kiba dan juga Shino.

"Duduklah." Hinata mengangguk lemas, ia menduduki sofa di sebelah Hiashi. Lavender Hinata memandang semuanya bosan, di sofa panjang yang bersebrangan dengannya merupakan kelompok Akatsuki , di sofa kanan merupakan tim basket SSHS, di sofa sebelah kiri, adalah dua orang teman sekelasnya dan sang ketua kelas KiHS. Dan yah, hanya Sasuke yang tidak ada di ruangan itu.

...

"Bisa kau jelaskan pada tousaan, bagaimana kau mempunyai kekasih sebanyak ini?"

"Eh? Bukan otosaan, mereka semua teman-temanku."

Hiashi berdehem, "sembilan orang pria datang bersamaan di hari sabtu dan membawa coklat,bunga,cake dan bahkan serangga, mereka semua unik."

Tak bisa menjawab, Hinata hanya meremas rok nya."

"Kau, pria dengan banyak tindik, dimana kesopananmu, berani mengencani putriku dengan penampilan seperti itu."

Pain yang merasa itu adalah dirinya hanya menunduk malu, yah walau bagaimana pun, ia tidak bisa melepaskan tindikannya walau hanya barang sebentar.

"dan kau pria berambut panjang, kau tampan, tapi kau terlihat seperti perempuan dengan rambut panjangmu, tak bisa kah kau memotongnya agar terlihat lebih sopan?"

Itachi hanya tersemyum tipis, "bagaimana dengan Neji dan anda sendiri Hiashi-sama, bukankah kalian memiliki rambut panjang sepertiku?"

Hiashi tercekat dengan jawaban Itachi, bagaimana mungkin dia lupa bahwa dia sendiri memiliki rambut yang sama, sepertinya pertanyaan yang salah telah ia ajukan pada Itachi yang lebih jenius darinya walau masih sekolah, malu atas jawaban dari Itachi, Hiashi berdiri bermaksud meninggalkan ruangan, namun kali ini ia harus kembali bersuara dengan kedatangan pria berambut raven yang tiba-tiba masuk ke ruang tengah.

"Sepuluh, nilai yang bagus Hinata." Hiashi menatap Sasuke yang kini menatapnya.

"Kau terlambat, acara mengencani putriku akan di batalkan, kalian semua kembali dan pulanglah ke rumah masing-masing."

"Aku tidak tertarik sama sekali dengan puti anda, aku datang kesini hanya,-" Sasuke menggantungkan kata-katanya, ia melirik Itachi dan mendekatinya.

"Kembalikan kunci mobilku, Baka Aniki, kau meminjam tanpa meminta izinku." Pain dan Sasori menahan tawa, dan Itachi berdecih sebal, kenapa juga adik semata wayangnya ini harus merusak reputasinya di depan calon mertuanya. Dengan berat hati Itachi merogoh sakunya dan memberikan kuncinya,
"mobilku di bengkel, kenapa pelit sekali." Sasuke mengambil kasar kunci mobilnya dari tangan Itachi, "jika kau meminta izin terlebih dulu, aku pasti memberikannya." Sasuke menyeringai, Wtf? Itachi bergumam dalam hati, ia tau betul Sasuke yang sangat pelit, apanya yang akan memberikan.

"banyak orang sekali disini, maaf harus mengganggu kencan masal mu Lady." Sasuke menatap Hinata sinis, tak mau membalas tatapan Sasuke ia memalingkan wajahnya kesal.

...

Hiashi sangat marah pada Hinata atas kejadian sore ini, ia menghukum Hinata selama weekend untuk berdiam diri di rumah, "Otosaan tidak mengerti padamu, Hinata, seperti apakah kelakuanmu di sekolah eh? Kau seperti seorang playgirl." Hiashi meyidang Hinata habis-habisan.

"Otousaan, mereka semua temanku, kenapa,-"

"jika hanya teman, bagaimana bisa mereka semua berada di sini?"

"Gomene, otousaan aku,-"

"Dan sejak kapan kau menjadi seorang pembantah."

"Eh?"

"Kau terus membela dirimu, sejak kapan kau seperti itu? Dulu ketika kau masih kecil, kau tak pernah berani bicara saat aku marah padamu."

"..."

"tapi lihat sekarang !"

"..."

"Ini semua memang salahku, kau kehilangan seorang ibu, dan aku tak bisa mendidikmu dengan baik, gomene."

Hinata mengangkat kepalanya saat Hiashi berkata lirih, ia dengan cepat berlari dan memluk kaki Hiashi, "Gomene Otousaan, ini semua salahku, Gomenasai."

Hinata terisak, Hiashi terdiam, ia membantu Hinata berdiri dari kakinya, kedua tangan Hiashi mengusap air mata yang jatuh di pipi mulus Hinata.

"Katakan pada Tousaan, apa yang membuatmu seperti ini?"

...

..

..

.

"Sasori, aku ikut pulang denganmu." Sasori hanya terkekeh mendengar ucapan Itachi, hei Itachi, kau tau, saat kau bisa membuat Hiashi-sama membungkam mulutnya dengan perkataan manis~pedasmu, aku sangat salut, tapi sayangnya Otouto kesayanganmu itu hadir tiba-tiba dan menjatuhkanmu, hahahaaahaaaa..." Sasori tertawa mentah, "bisakah kau lajukan mobilnya segera?" aku sangat pusing hari ini." Masih dengan cekikikan jahilnya Sasori mulai menjalankan mobilnya, namun ia tiba-tiba menghentikan saat ia melihat pemandangan yang menurutnya asik.

"Apa lagi? Kenapa menghentikan mobilnya?"

"Kau lihat itu Itachi."

Itachi menyeringai, "Leader tidak mengajak kita eh? Menyebalkan."

Kedua pria tampan ini segera menuruni mobil dan mendekati sang Leader yang tengah asik memberi pelajaran pada adik kelasnya.

"Sepertinya sudah lama sekali aku tidak memukul orang, dan membuly adik kelas yang kurang ajar seperti kalian."

Suara Sasori membuat Pain melepaskan cengkramannya pada kerah baju Shino dan juga Kiba.

"Mereka bahkan berani memasuki manshion Hime, dan mencoba menjadi rival Akatsuki, berani sekali " Itachi menghentikan langkahnya di sebelah kiri Pain, dengan Sasori di sebelah kanan Pain.

"Gomene, kami tidak tau bahwa kalian menemui Hinata-chan sore ini, kami datang hanya untuk belajar kelompok.."

Itachi mendecih sebal mendengar penuturan Kiba, "belajar kelompok? Dengan membawa bunga seperti ini eh?" Itachi merebut paksa bunga yang ada di tangan kiba dan menginjaknya kasar.

Kiba mengepal tangannya kesal, melihat raut wajah kiba yang kesal akibat ulahnya, Itachi menyeringai evil, "kau kesal? Marah? Lalu apa yang bisa kau lakukan?"

Pain dan Sasori menyeringai, jiwa evil mereka kembali setelah lama menyimpannya karena Hinata yang kerap kali marah ketika mereka berbuat jahat.

"kau tau? Aku menyisihkan uang jajanku untuk membelikan sebuket mawar indah ini, dan kau menginjaknya HAH !"

Kiba melayangkan tinjunya untuk memukul Itachi atas kekesalannya, namun tangan Itachi menangkisnya, Itachi mencengkram tangan Kiba kasar dan berbalik memukulnya, lengkap sudah memar di wajah Kiba sekarang, sebelah kanan atas pukulan pertama yang dia dapatkan dari Pain, dan pukulan kedua di pipi sebelah kiri ia dapatkan dari Itachi.

"Kiba.." Shino menghampiri Kiba yang tersungkur.

"Tch.. rakyat miskin seperti kalian, mencoba mendekati Hime? Menyedihkan, sebaiknya kalian hidupi dulu diri kalian baik-baik sebelum berfikir untuk menjadi pendampingnya, kalian dan Hinata seperti langit dan bumi, Hinata di sana, Sasori menengadah ke atas, menatap langit, dan kalian di sini, Sasori menghentakkan kakinya ke tanah dan menginjak-ngijaknya, jadi jangan bermimpi." Ujarnya kembali, meremehkan.

"Aku tidak mengerti, ternyata di Konoha International High School ada rakyat jelata seperti kalian, itu hanya mengotori sekolah karena kalian adalah sampah." Suara berat Pain membuat Shino dan juga Kiba semakin tercabik, mereka merasa harga diri mereka di rendahkan dan di injak-injak Akatsuki.

...

..

"Jadi begitu?" Hiashi menautkan alisnya.

"Otousaan, sejauh aku berteman dengan Akatsuki, aku bisa merubah mereka sehingga mereka tidak arogan dan semena-mena, mereka kini terlihat lebih baik dari sebelumnya, dan untuk Naruto dan teman-temannya aku tidak mengerti kenapa mereka bisa tau rumahku, sedangkan Gaara, dia ketua osis di sekolah dan sering kali membantu, untuk itu aku juga berteman baik dengannya, Kiba dan Shino juga teman sekelasku, tidak ada satupun dari mereka yang menjadi kekasihku, mereka semua memang menyukaiku, tapi aku hanya menganggap mereka sahabatku saja Otousaan, mohon percaya padaku."

Hiashi mengangguk paham, "lalu bagaimana denga pria berambut emo yang mengatakan bahwa dia tidak tertarik padamu?"

"dia adalah adik dari Itachi-kun, namanya Sasuke, aku sering bertengkar dengannya, namun sebenarnya dia orang yang baik, dan dia merupakan laki~laki yang tidak pernah menyukaiku, sama seperti tousaan, dia hanya menganggapku seorang playgirl, terkadang aku sedih, aku sangat ingin berteman baik dengannya, namun sepertinya akan sulit karena dia tak menyukaiku."

Hiashi dapat melihat raut wajah sedih di wajah putrinya, "kau menyukainya Hinata?", rona merah menjalar di pipi putihnya, semakin membuat Hiashi yakin bahwa putrinya menyukai pria berambut emo yang mengatakan tidak tertarik pada Hinata tadi sore. "kejarlah, yakinkan dia bahwa kau menyukainya, dan pilihlah laki-laki yang bisa membuatmu bahagia, dengan begitu semua teman laki-laki mu tidak akan berharap banyak padamu dan tidak salah paham tentunya, bukan begitu kan, Hime?" Hiashi tersenyum, dan Hinata hanya menggigit bibir bawahnya, "bersihkan dirimu, dan segeralah turun untuk makan malam."

...

..

.

Ting tong.. ting tong..

Suara bell terdengar mengganggu acara makan malam keluarga Hyuuga, tak lama kemudian, seorang wanita bermata purple muncul di tengah acara makan malam, membuat semua lavender itu menatap wanita asing yang ada di hadapan mereka bingung.

"Gomenasai, mengganggu acara makan malamnya, ada hal penting sekali yang ingin aku bicarakan dengan Hiashi sama." Dengan membungkukan sedikit tubuhnya, wanita bermata purple itu segera melangkahkan kakinya, tak ingin mengganggu acara makan malam, "tunggu,-" suara Hiashi menghentikan pergerakannya, "Siapa kau? Dan apa tujuanmu."

...

Hinata dan Hanabi tampak tak berselera ketika Hiashi meninggalkan meja untuk mengikuti perempuan itu pergi, wanita itu hanya menginginkan pembicaraan empat mata bersama Hiashi, rasa gelisah tak hanya di rasakan Hinata atau pun Hanabi, karena di balik sikapnya yang dingin, Neji juga merasakan han yang sama.

...

Hiashi membulatkan mata pucatnya saat ia melihat sepucuk surat yang di berikan wanita berirish purple itu padanya, Hiashi meneteskan air matanya saat membaca suratnya, ia menggulung kembali mengikatnya dengan tali pita berwarna merah yang sebelumnya terikat disana, "dan ini, merupakan foto-foto yang di tinggalkan Okasaan padaku, untuk menemukan ayahku, Okasaan juga bilang untuk mentes DNA jika memang Hiashi-sama masih meragukan bahwa aku putrinya, sebenarnya sudah lama sekali aku mengetahui bahwa Hiashi sama adalah ayahku, namun aku masih tidak berani mengakui karena takut di sebut pembual, sampai pada dimana akhirnya aku siap dan memberanikan diri menemui anda,-"

Shion tercekat saat Hiashi memeluknya tiba-tiba, "Kau anakku Shion, Gomene Otousaan selama ini meninggalkanmu dengan ibu mu, ini semua memang salahku, aku melakukan sebuah kesalahan dengan ibu mu, kau memang terlahir atas hubungan perselingkuhanku dengan Hitomi yang dulu menjadi sekertarisku, namun aku tidak tau bahwa dia mengandung anakku, dimana kuburan ibu mu sekarang? Bawa aku padanya."

Shion mengangguk, "akan ku tunjukan pada Otousaan, tempat peristirahatan terakhir Okaasan."

...

..

Suara deruman mobil Hiashi yang meninggalkan Manshion membuat Hinata berlari menuju jendela kamarnya untuk melihat, perasaan tidak enak di rasakannya saat ini, angin yang semula berhembus pelan kini tiba-tiba berhembus kencang hingga menerbangkan tirai-tirai jendela kamarnya, "Otousaan, kemana dia pergi dengan wanita itu?"

Braak...

Hinata segera menghampiri foto ibunya yang terjatuh karena angin kencang menerpanya, ia memungutnya perlahan "Okasaan, kenapa terjatuh, apakah Okasaan merasakan hal yang sama denganku di langit sana?" Hinata memeluk bingkai mendiang ibunya erat.

...

..

.

Hinata masih terjaga hingga waktu menunjukan pkl 01.00 pm. Suara deruman mobil Hiashi membuatnya segera turun untuk menanyakan kemana perginya ia bersama wanita yang tak di kenalnya, Hinata dapat melihat Neji yang juga terdiam di ruang tengah, sama halnya dengan Hinata, Neji juga mengkhawatirkan Hiashi, Hinata mendekati Neji dan duduk di sebelahnya, tak lama setelah itu pintu terbuka, membuat Hinata dan juga Neji tercekat karena wanita itu kini membawa sebuah koper besar.

"Kalian belum tidur rupanya."

"Kami menunggu Tousaan." Hinata menjawab ketus.

"Kebetulah sekali kalau begitu, Hinata, Neji, mulai saat ini dia Shion akan menjadi bagian dari keluarga Hyuuga, dan Shion perkenalkan dirimu, dia adalah Neji sepupumu, dan itu adalah Hinata, sepertinya umur kalian tidak jauh berbeda, kalian akan menjadi saudara, dan Hinata, sebaiknya kau bantu Shion, karena besok dia akan satu sekolah denganmu."

"Apa,-" Hinata tercengang, ia tak percaya dengan perkataan Hiashi, tak ingin menumpahkan air matanya, ia berlari menuju kamarnya meninggalkan Hiashi dan juga Neji.

"Bisa anda jelaskan Hisahi-sama, apa maksud anda menjadikan wanita asing ini sebagai keluarga Hyuuga dan menganggapnya sebagai anakmu, kau tau, kau melukai perasaan Hinata dan Hanabi."

"akan ku ceritakan besok di kantor Neji, aku tau ini pasti akan sulit untuk di terima olehmu, Hinata dan Hanabi, tapi walau bagaimana pun dia adalah anakku."

"Begitu yakin kah?"

"Hm."

"Ku harap anda tidak melakukan hal yang salah Hiashi-sama, selamat malam."

Sama halnya dengan Hinata, Neji berlalu meninggalkan Hiashi dan juga Shion di ruang tengah

..

"Gomene Otousaan, sepertinya keberadaanku tidak di inginkan disini, apa sebaiknya aku kembali ke panti asuhan saja."

"Shion, apa yang kau bicarakan, mereka akan menerimamu dan itu harus."

Shion menyeringai, mendapat dukungan dari Hiashi.

"Hei, apa yang kau lakukan? Masuklah, ikuti maid membawa barang-barangmu, mulai sekarang rumah ini adalah rumahmu juga dan kau bisa menggunakan semua fasilitas yang ada di dalamnya, sudah sangat larut, beristirahatlah."

"Hai- Otousaan."

..

...

Shion menjatuhkan dirinya pada kasur kingsize yang ada di kamar barunya saat ini, ia membuka tas nya dan mengambil foto ibunya di sana, "Kaasan, ini adalah awalku memasuki kehidupan Hyuuga." Dia menaruh foto ibunya di samping meja lampu tempat tidurnya, "kemewahan seperti ini seharusnya aku dapatkan dari dulu, dan bersiaplah untuk kehancuranmu, Hinata, kau harus merasakan penderitaanku selama ini, karena istri Hiashi mengandungmu, dia meninggalkan kaasan begitu saja yang juga tengah mengandungku saat itu, dan semua penderitaanku adalah karena kau Hinata, aku berjanji mulai saat ini, aku tidak akan membiarkanmu hidup bahagia." Shion kembali menyeringai evil sebelum kedua kelopak matanya tertutup memasuki alam mimpi.

...

..

.

Hening...

Itulah acara sarapan keluarga Hyuuga pagi ini, kehadiran Shion di meja makan membuat semuanya seolah canggung, meja makan yang biasanya ramai oleh canda tawa kini hanya menghasilkan suara sendok yang beradu dengan piring yang hanya terdengar.

"Aku pergi dulu." Hinata berdiri dari kursinya, Hiashi melihat nasi goreng yang ada di piring Hinata masih sangat banyak.

"Kau tak menghabiskan sarapanmu."

"Tidak, aku lagi diet, jadi aku hanya memakan saladnya saja." Suatu kebohongan terucap di awal paginya, jelas saja, ia bukan sedang diet, namun kehadirah shion lah yang membuat nya tak berselera.

"Tunggulah Shion menghabiskan sarapannya."

Hinata benar-benar kesal, "Ini sudah terlamabat Otosaan."

"Lalu? Kau akan meninggalkan Shion pergi sendiri, kenapa akhir-akhir ini kau menjadi seorang pembantah Hinata !" Nada suara Hiashi yang sedikit membentak, membuat Hinata kembali menduduki kursinya.

"Pergilah Hinata, biar Shion aku yang mengantarnya." Neji menatap Hinata dengan senyuman, ia dapat melihat raut wajah Hinata yang begitu masam.

"Cepatlah, kita akan terlambat." Mengabaikan perkataan Neji, Hinata untuk yang pertama kalinya melakukan contac dengan Shion, walau dengan nada yang terdengar ketus.

"Hai. Ini sudah selesai."

Hinata melirik Shion malas dan pergi meninggalkan kursinya, namun langkahnya terhenti saat ia melupakan sesuatu, mengecup pipi Hiashi, yah ia lupa dengan itu, mungkin karena terlalu kesal, ia berbalik, namun pemandangan tak enak harus di lihatnya saat Shion mengecup pipi Hiashi lembut dengan Hiashi yang mengacak kepala puncak Shion.

"belajarlah yang pintar, agar kelak, kau bisa menggantikanku untuk meneruskan perusahaan."

"Hai-wakarimas Otousaan."

Hinata kembali berbalik, ia memegang dadanya kuat, jantungnya terasa sangat sakit. Satu butiran bening menetes di pipinya, dengan cepat ia mengusapnya dan bergegas memasuki mobilnya.

Hinata mungkin harus menerima, ketika hidup tak selamanya berada di atas, ia harus sanggup dan siap menyadari kenyataan bahwa Hiashi berubah dan mulai melupakannya.

..

..

.

.

..

TBC

Hallo Mina-san, bagaimana kabar kalian hari ini? Hurt Comfort nya sudah di mulai, Arigatou untuk semua review nya.. maaf tidak bisa menyebutkan satu-satu, dan terimakasih untuk admin FF Gudang Sasuhina telah mempublish fict saya di akun anda, saya tidak keberatan dan sangat senang sekali

See you the next chapt ^^

Arigatougozaimas~Minaaaaaaa...

~Lavenderviolletta~