"Ada kata yang ingin kupakai untuk menggoda,

Berharap kau membuka semua rahasia yang ada,

Namun, senyummu memutarbalikkan segalanya,

Dan aku hanya bisa termenung dengan debar menggila." – N. S. 2013


ONCE UPON A DAY

Naruto © Masashi Kishimoto.

No commercial advantage is gained. Just for fun!

Story © Masahiro 'Night' Seiran

For: SUGAR-E! G For Gift! Canon, Fluff, Short!


"Sakura-chaaan!"

Seorang pemuda pirang berlari memasuki ruang kantor rumah sakit seorang Haruno Sakura, medis terbaik seantero Konoha. Sakura hanya meliriknya pelan, lalu menata kotak bentonya yang telah kosong. Hari ini banyak pekerjaan yang telah ia selesaikan, bahkan waktu belum bergulir jauh dari jam makan siang yang telah lewat. Ia bekerja keras.

Dan kini Naruto tengah berdiri di depan mejanya.

"Ah, kau sudah makan?" tanya Naruto. Pemuda itu melempar senyumnya perlahan.

Sakura mengangguk dan tersenyum simpul. "Memangnya kau belum?"

Sebuah cengiran menghiasi bibir sang Hokage.

"Pasti Ichiraku lagi."

"Begitulah."

Sakura mendengus pelan lalu menggelengkan kepalanya heran. "Berapa banyak mangkuk hari ini?" tanya Sakura lelah. "Sungguh, ramen tak akan membuat tubuhmu sehat jika kaumakan itu tiap hari."

Naruto mengerucutkan bibirnya. "Kalau begitu buatkan aku bento."

"Tidak mau."

Naruto terkekeh. "Ya sudah. Ramen selalu makanan terbaik. Tenang saja, hari ini aku hanya makan semangkuk."

Sakura mengangkat satu alisnya, nyaris tak percaya. Selama ini Naruto tak pernah memakan ramen dalam porsi sedikit.

"Ada apa, Sakura-chan?"

Sakura bangkit berdiri dari kursinya, mendekat dan memandangi Naruto dari dekat. "Kau tidak kelihatan seperti masih lapar. Tak mungkin semangkuk ramen bisa membuatmu kenyang."

Naruto tertawa. "Aku menerima banyak pencuci mulut dari penduduk. Ada beberapa orang datang dan memberiku buah dan kue-kue enak. Andai kau mau menerima ajakanku makan siang. Masakan mereka enak, lho."

"Oh, ya?"

"Terutama buatan Hinata."

Sakura mengernyitkan dahi. Seingatnya, Hinata jarang keluar dari mansion Hyuuga sejak Neji dibangkitkan—perempuan itu memilih menjaga Neji yang telah kehilangan semua kekuatannya dan hampir kehilangan nama Hyuuga karena ia kehilangan byakugan-nya setelah mati. Tato bunke di dahinya juga tak kembali. Ia benar-benar bebas. Namun terjadi banyak pro-kontra antara Neji tetap tinggal dan keluar dari tempat yang kusebut sangkar itu. "Hinata membuatkanmu makanan?" tanyaku lagi.

"Begitulah."

Sakura memalingkan mukanya. Ia kembali ke mejanya dan memasukkan kotak bentonya ke dalam tas plastik.

"Apa kau sedang cemburu?" tanya Naruto setelah merasa didiamkan.

"Dalam mimpimu."

Naruto tertawa.

"Masakanku lebih baik dari dia."

"Oh, ya?"

"Atau setidaknya, kemampuan medisku lebih baik dari dia."

Naruto mengangguk-angguk.

"Berapa kali ia memberimu masakan dalam bulan ini?"

Naruto memiringkan kepalanya. "Umm, sekali."

"Berapa kali aku mengobati lukamu dalam bulan ini?"

Hampir setiap hari.

Sakura tersenyum. "Kautahu aku tak perlu cemburu pada Hinata."

Naruto menggaruk pipinya.

"Aku tak mungkin cemburu kalau aku sudah pasti memenangkanmu."

Sakura tertawa, melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan Naruto yang merona—dengan sebuah bento utuh di atas meja yang baru saja dikeluarkan Sakura dari dalam laci.

"Lain kali datanglah lebih awal kalau mau makan siang bersamaku."

E N D


A/n: THIS IS EXAMPLE FOR SUGAR-EVENT!

For more information, check on Facebook Group: Langit dan Bumi The NARUSAKU Indonesian Community