Luhan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur sesaat setelah Sehun membukakan pintu kamar mereka dan menyuruhnya masuk yang diikuti dengan tertutupnya pintu setelah Sehun membawa masuk dua koper besar mereka. Ia menghela napasnya panjang dan berat, merasakan lelah atas aktivitas yang dijalaninya hari ini.

"Kau atau aku dulu yang mandi, hyung?" tanya Sehun menginterupsi ketenangan yang sedang Luhan cari. Luhan melihat ke arah Sehun yang sedang membuka tuxedo-nya di kaki kasur king-size mereka. "Kau dulu saja, aku masih ingin berbaring," jawab Luhan. Sehun mengangguk dan memasuki kamar mandi setelah melepaskan properti-properti yang lain.

Luhan memejamkan matanya. Ya ampun, lelah sekali rasanya hari ini. Ia kembali mengingat kegiatan hari ini. Sebenarnya tidak terlalu banyak menghabiskan energi karena yang ia lakukan hari ini hanya berjalan di altar, kemudian bercakap-cakap setelah acara inti selesai, dan pulang dengan Sehun. Ya, mereka berdua baru saja menikah. Benar, itu bukan pernikahan biasa karena Sehun dan Luhan sama-sama namja. Apa? Aneh? Memang benar itu aneh dan mungkin bagi sebagian orang itu terlihat tidak masuk akal atau konyol, mereka dan keluarga mereka maklum jika ada yang menganggap begitu.

Sebenarnya pun pernikahan ini bukan kemauan mereka, mereka hanya menjalankan apa yang orang tua mereka suruh. Bukan pula dengan paksaan, karena baik Sehun maupun Luhan tidak memiliki masalah dengan hal semacam itu—meski pada awalnya memang timbul sedikit masalah.

Jadi begini ceritanya, nenek moyang Sehun dan kakek moyang Luhan dulunya bersahabat sangat baik. Mereka bahkan menganggap satu sama lain sebagai keluarga. Suatu hari ketika mereka akan menikah, mereka berjanji akan menikahkan putra-putri mereka, namun saat anak mereka lahir namja semua, mereka tidak bisa melaksanakan janji mereka. Maka mereka menunggu cucu mereka. Kejadian yang sama pun terulang hingga generasi ketiga dari mereka.

Akhirnya karena telah sampai pada batas umurnya, mereka memutuskan bahwa jika sampai turunan keenam mereka tidak bisa menikahkan putra-putri mereka disebabkan kesamaan gender, maka turunan selanjutnya tetap harus menikah walaupun gender mereka sama. Dan benar saja, generasi ketujuh adalah Luhan dan Sehun, mereka namja. Perjanjian dan wasiat tetaplah harus ditepati. Pada akhirnya, saat Sehun dan Luhan beranjak remaja, orang tua keduanya menceritakan amanat terakhir moyangnya. Sempat memang Luhan maupun Sehun menolak.

Hey, bayangkan saja! Kau namja dan normal—suka perempuan, mendengar akan dijodohkan dengan orang yang tidak kau kenal apalagi dengan gender yang sama, apa kau hanya akan diam begitu saja? Bahkan Luhan sempat kabur selama seminggu gara-gara itu. Tapi, pada akhirnya, demi menghormati nenek-kakek moyangnya, mereka bersedia. Dan ini digunakan orang tua mereka sebagai urusan bisnis sekalian. Sungguh orang tua yang mengambil kesempatan tapi bukan dalam kesempitan. (?) #abaikankalimatterakhir.

Dan seminggu sebelum hari ini, mereka dipertemukan. Awalnya, Luhan ragu. Ia sempat membayangkan, bagaimana jika Sehun itu galak dan kasar? Bagaimana jika Sehun tidak menyukai segala yang ada pada dirinya? Dan bagaimana jika Sehun ternyata tidak seperti apa yang orang tuanya katakan? Dan ia terkejut kagum ketika melihat sosok Sehun duduk di sana.

Meski pada awalnya kesan pertama yang didapat adalah bahwa walaupun tampan, Sehun terlihat angkuh dan dingin, namun tidak setelah mereka saling berkenalan dan dalam beberapa jam pertemuan itu, ia mendapat kesan baru. Sehun lebih muda darinya, sifatnya dewasa sekaligus manja pada saat yang bersamaan, membuatnya tertarik dan merasa ingin melindunginya. Sehun juga ramah dan memiliki sisi humor yang tinggi. Dan Luhan kini tersenyum mengingat itu semua.

Sebentar lagi ia akan memasuki alam bawah sadarnya jika saja Sehun tidak keluar dari dalam kamar mandi dengan suara berisik knop pintu yang diputar. Luhan mengangkat tubuhnya, mendudukkannya sambil mengamati Sehun yang kini berjalan ke koper mereka.

Sehun bertelanjang dada, sebuah handuk dililitkan di pinggangnya dan di kepalanya tersampir handuk kecil yang digunakan untuk mengeringkan rambut. Luhan memandangi sosok namja itu. Tinggi sekali ternyata. Badannya memang terbentuk maskulin, tapi tak terlalu besar seperti kebanyakan namja walau memang Sehun memiliki abs. Kulitnya benar sangat putih seperti susu dan—hey, mengapa ia begitu menikmati memandangi serta membayangkan bagaimana lembutnya kulit itu? Oh, bahkan sekarang di pipi Luhan terlihat samar rona kemerahan dan sebuah senyum malu-malu.

Luhan kembali pada alam sadarnya saat Sehun berbicara padanya dengan bahasa yang sangat amat santai, seolah Sehun tahu bahwa mereka harus saling terbiasa dengan keadaan yang tiba-tiba ini meski mereka sudah dipersiapkan sejak lama. "Apa kau hanya akan duduk terus di situ, hyung? Segeralah mandi dan istirahat," kata Sehun. "Ah, benar," jawab Luhan kemudian sambil berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.

Sebelum Luhan masuk, Sehun kembali mengeluarkan suaranya, "Apa kau mau coklat hangat? Atau kopi? Atau sesuatu yang lain?" tawar Sehun. Luhan mengerutkan dahinya sejenak, "Aku rasa coklat hangat saja," jawabnya kemudian masuk ke dalam kamar mandi.

.

Luhan keluar kamar mandi dengan memakai bathrobe-nya dan mendapati Sehun tengkurap di atas kasur king-size mereka. Napasnya tenang dan teratur pertanda namja itu telah jatuh tertidur. Ia kemudian berjalan menuju koper besar miliknya dan bingung ketika barang-barang miliknya sudah tidak ada di dalam sana. Ia pun melangkah menuju almari dan membukanya. Semua barangnya telah ada di sana. Tertata rapi bersebelahan dengan pakaian-pakaian Sehun.

Agak sedikit heran dan bingung atas kelakuan Sehun itu, namun ia tak terlalu memikirkannya karena terlalu lelah untuknya berpikir sekarang. Ia langsung mengambil piyama dan segera menyusul Sehun ke alam mimpi dengan sebelumnya ia menghabiskan coklat panas yang telah disediakan Sehun di atas meja di samping kasur itu.

Apa? Kalian tanya mengapa tidak ada "malam pertama"? Hey! Mereka menikah bukan demi mereka sendiri dan mereka masih normal! Apakah bisa dua namja yang masih menyukai perempuan seperti mereka melakukan hubungan intim seperti itu? Yang benar saja! Bahkan kau tidak akan mau jika kau disuruh melakukan hubungan itu dengan seseorang yang tidak kau cintai, bukan? Nah!


Empat orang pemuda tengah menatap gerbang hitam sebuah rumah yang cukup besar. Berada pada alam pikirannya masing-masing ketika kemudian seorang dari mereka menyudahi itu semua. "Apa kita tidak terlalu awal datang ke sini? Ini baru dua minggu pernikahan mereka," kata seseorang berbadan mungil. Eyeliner yang menghiasi matanya membuat matanya terlihat besar dan menambah keimutan wajahnya. Dua diantara tiga itu—satu dengan pipi tembemnya dan satu lagi dengan rambutnya yang terlihat acak-acakan—mengangguk-angguk ikut memikiran.

"Dua minggu itu sudah cukup bagi mereka saling mengenal, berbulan madu. Aku penasaran apa yang mereka lakukan saat malam pertama," kata seorang yang tadi tidak ikut menganggukkan kepalanya. Rambutnya berwarna coklat tua bergelombang. Ia memakai kaos berwarna biru yang ditutupi dengan jaketnya. Senyuman lebar selalu terukir di wajahnya. "Aduuh..!" keluhnya ketika sebuah jitakan mendarat di atas kepalanya. "Ya! Baekkie, mengapa kau menjitakku, sih?" protesnya kepada sosok mungil yang tadi menjitaknya.

"Bisakah kau hentikan pikiran pervert-mu itu?" Baekhyun, sang tersangka bertanya tegas. Menatap agak kesal juga malas pada korban jitakannya.

"Wae? Aku kan hanya penasaran karena pernikahan itu seharusnya perempuan dan laki-laki, bukan laki-laki dan laki-laki," jawabnya. Kembali jitakan mendarat di kepalanya. Kali ini dua orang yang menjitaknya.

"Aish… kau ini!" seru Baekhyun yang hanya ditanggapi cengiran lebar dari pemuda itu. Sedang satu lagi yang menjitaknya, yang memiliki warna kulit tan dengan rambutnya yang acak-acakan, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah pemuda itu.

"Hey, apakah ini tujuanmu mengajak kami datang kemari?" tanyanya—namja yang berkulit tan itu—kemudian. Namja yang dijitaknya tadi hanya kembali tersenyum lebar.

"Haaah… pantas saja aku mendapat firasat buruk sejak tadi," kata pemuda berkullit tan itu.

"Ya sudahlah. Berhubung kita sudah sampai sini, ayo kita segera masuk. Aku tidak enak dengan para tetangga yang sepertinya mengamati kita sejak kita sampai di sini," kata yang berpipi tembem, tak mengalihkan pandangannya pada gerbang di depannya. Tiga orang di samping kanan-kirinya sedikit melirikkan mata mereka untuk memandang sekeliling dan ya, ada beberapa pasang mata tengah memandangi mereka. Mereka bertiga pun mengangguk setuju. Kemudian salah satu dari mereka—yang paling tinggi—menekan bel rumah itu.


Review untuk memutuskan bagaimana kelanjutan cerita ini. Perlu dipublish keseluruhan atau dihapus? ^^ Gomawo /bow/