"Sasu-chan sayang~"

Kuhentikan acara makanku sesaat. Dengan cepat, aku langsung mengangkat kepalaku dan menegakkan telingaku—tanda bahwa aku mendengar suaranya yang nyaring itu.

"Ah, kau di sini rupanya," dia tersenyum sementara aku menatapnya penasaran hingga kedua bola mataku membulat penuh. Dia berjongkok lalu mengelus kepalaku pelan, "Sasu lagi makan? Wah, maaf mengganggumu sayang," dia tertawa kecil. Walau berkata seperti itu, tetap saja dia menekan kepalaku dengan gemas sebelum melepasnya, "sana makan lagi."

Tanpa perlu dia perintah dua kali, aku kembali menundukkan kepalaku dan meraup sarden khusus buatannya. Sarden paling enak yang pernah kumakan di dunia ini. Aku memakannya dengan lahap, hingga menjilat dasar-dasar mangkuk, berharap masih ada bumbu sarden yang tersisa. Setelah menjilat beberapa kali hingga bersih, akhirnya aku menjilat bibirku sendiri lalu memposisikan diriku duduk dengan dua kaki depanku berdiri tegak.

Ekor panjangku mengibas-ngibas tanda bahwa hari ini pun aku puas dengan makan siangku. Gadis itu memperhatikanku tanpa menghilangkan senyum jahilnya. Aku menatapnya sesaat sebelum akhirnya aku menjilati tubuhku yang memiliki rambut berwarna hitam. Dia tertawa lagi, mengira aku mengabaikan keberadaannya.

"Sasu-chan lucu banget sih," tanpa mempedulikan keadaan dimana aku baru saja selesai makan, dia langsung menggendongku dan memelukku sangat erat hingga aku meronta karena merasa sesak, "hahaha tenang... tenang Sasu, aku hanya akan membawamu ke tempat tidurmu," begitu katanya. Tentu saja dia tahu aku akan selalu tidur setelah makan. Aku tinggal bersama dia sudah hampir dua tahun, bukan tidak mungkin dia sudah menghafal semua kebiasaanku.

Dia menaruhku pelan di atas bantal yang memang dibelinya khusus hanya untukku. Aku masih menjilati tubuhku beberapa saat sampai akhirnya aku meringkuk agar aku bisa tidur dalam posisi yang hangat. Kedua mataku masih terbuka ketika dia berbaring di sampingku lalu mengelus tubuhku dengan lembut, menuntunku untuk terlelap dalam mimpi. Dia tersenyum saat aku meliriknya dengan kedua mata setengah terpejam. Sebentar lagi, aku akan tertidur.

Ya.

"Mimpi yang indah, Sasu-chan."

Dia majikanku, gadis berumur tujuh belas tahun bernama Haruno Sakura.

"Meow..."

Dan aku adalah Sasu... kucing hitam yang bersumpah akan selalu menjaganya seumur hidup.

.

.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Kira Desuke

Warnings : AU, semi-OOC

Genres : Supernatural/Angst/Romance

Main Pair : SasuSaku

.

.

.

FRIST

.

.

.

~ KAPITEL EINS ~

Verboten Schicksal

.

.

.

"Sakura! Sudah ibu katakan, jangan tidur di samping Sasu, bulunya bisa masuk ke hidungmu! Bahaya!" suara keras yang kukenal itu langsung memasuki indra pendengaranku membuatku langsung bangun dan menegakkan kepalaku. Tapi... lain halnya dengan gadis yang tertidur di sampingku ini. Ah, setelah mengelusku ternyata dia pun juga ikut tertidur.

Sang wanita yang merupakan ibu dari Sakura itu langsung mendorong tubuhku menjauh. Aku sedikit kesal, padahal bantal itu kan memang tempat tidurku, lalu mengapa aku yang diusir? Harusnya dia yang membangunkan Sakura! Yah, aku tahu dia juga berniat membangunkan anaknya itu, tapi aku juga tidak perlu diusir dari tempat tidurku, 'kan? Ini tidak adil. Aku masih ingin melanjutkan tidur siangku.

"Sakura! Ayo bangun!" ibu Sakura menggoyang-goyangkan tubuh anaknya. Sementara aku hanya duduk tenang menyaksikan drama picisan ibu dan anak ini, dengan muka sebal tentunya, "Ibu bilang, bangun! Ini tempat tidur Sasu! Kamu tidur di tempat tidurmu sendiri dong, Sakura!" ah, apa yang ingin kukatakan dengan bahasa manusia itu pun akhirnya diucapkan juga oleh sang ibu. Terima kasih, bu.

Telingaku kembali menegak dan ekorku terangkat ke atas ketika mendengar suara lenguhan Sakura. Ah, dia bangun! Dia sudah bangun!—entah kenapa pikiranku melonjak senang. Karena penasaran, akhirnya aku bangkit dari posisi dudukku lalu berjalan mendekati wajah gadis tersebut. Mencoba membantu ibu untuk membangunkannya, aku mendekatkan hidungku pada wajahnya lalu mengendusnya intens, seakan aku baru saja menemukan suatu hal yang menarik.

Kulihat ekspresi Sakura mulai terganggu dengan dengusan dan suara dengkurku yang manja. Aku sempat menghentikan kegiatanku saat ibu tertawa, aku menolehnya sesaat sebelum kembali melanjutkan kegiatanku. Ekor panjangku bergoyang ke kanan kiri di udara—semakin tertarik dengan kegiatan yang tengah kulakukan saat ini. Hingga akhirnya... aku menjilat pipinya dengan lidah kasarku. Awalnya kedua matanya terbuka perlahan, sampai akhirnya dia terkejut melihat wajahku yang sangat dekat lalu dia pun reflek memundurkan wajahnya.

"Kyaaaaaa! Sa-Sasu!?" dia bertanya dengan napas memburu, sepertinya aku terlalu mengejutkannya. Setelah menatapku, dia menatap ibunya lalu berkata jengkel, "I-Ibu kenapa ketawa sih!? Kenapa membiarkan Sasu menjilat wajahku di saat aku sedang tidur?" tanyanya tanpa mengurangi volume bicaranya. Dia terlihat kesal, tapi aku tidak peduli. Aku masih menatapnya dengan ekspresi penasaran seperti sebelumnya.

Ibu Sakura masih belum berhenti tertawa hingga akhirnya dia meletakkan kedua tangannya di pinggangnya, "Ini tempat tidur Sasu, sayang. Wajar kan kalau dia ingin agar kau segera pindah dari tempat tidurnya? Kau mengganggu dia dan lagi..." aku menatap sang ibu ketika dia melipat kedua tangannya di depan dada, "...sudah berapa kali kukatakan, jangan pernah tidur bersama Sasu! Bulunya bisa masuk ke dalam hidungmu dan bisa mengganggu sistem pernapasanmu!"

Aku sedikit memundurkan tubuhku karena kaget mendengar nada suara ibu meninggi. Sakura juga sama, hanya saja dia masih bisa tertawa kikuk sembari menggaruk belakang kepalanya, "Meong!" aku mengeong, sebenarnya aku ingin mengatakan , "Hentikan pertengkaran bodoh ini, aku ingin kembali tidur di bantalku!" tapi... tetap saja aku tidak akan pernah bisa memakai bahasa manusia atau tidak mungkin mereka akan mengerti apa yang ingin kukatakan.

"Kenapa, Sasu?" sepertinya Sakura senang karena akhirnya berhasil kabur dari tatapan maut ibunya. Aku menatapnya malas, "Ah, kau ingin bermain denganku, ya? Ayo! Ayo main! Aku juga sudah tidak ngantuk lagi, ehehe!" tuh kan. Cih, aku ingin tidur, bodoh!

Namun, seperti sebelum-sebelumnya, aku yang memang tidak bisa bahasa manusia akhirnya hanya mengeong pasrah. Kuberi tahu saja, terkadang manusia itu adalah makhluk egois yang selalu merasa semua perkiraannya tepat. Apalagi dalam menebak keinginan binatang peliharaan mereka. Sebenarnya itu sudah bukan rahasia umum lagi, aku sering berkumpul dengan para kucing tetangga dan berbagi cerita dengan mereka dan mereka pun mengalami hal yang sama sepertiku.

Contohnya seperti sekarang ini, aku ingin tidur tapi Sakura malah mengira aku ingin bermain dengannya. Kemarin justru lebih parah, aku mencari air sampai ke kamar mandi karena aku ingin minum dan air di tempat minumku sudah habis, tapi Sakura justru mengira aku ingin mandi. Hebat sekali, padahal dia tahu aku juga sama seperti kucing lainnya yang benci dengan air. Tidak mungkin aku sengaja memintanya untuk memandikanku—sama saja dengan cari mati. Tidak. Mungkin.

Ukh, seminggu sekali aku memang harus dimandikan—begitu kata ibu Sakura. Aku punya kamar mandi kecil khusus di belakang. Jika air sudah dikeluarkan dari kran di kamar mandi tersebut, itu artinya aku akan dimandikan dalam waktu dekat. Secepat mungkin aku akan berlari ke langit-langit rumah dan tidak akan turun sampai esok harinya. Itu juga kalau aku punya kesempatan untuk lari, kalau tidak... neraka akan muncul di depan mataku.

"Meong! Meong!" kembali ke keadaan sekarang, aku mengeong berkali-kali lalu menghindar saat dia berusaha membawaku ke dalam gendongannya. Tapi bukannya mengerti, dia justru menarik kaki depanku dengan cepat hingga aku tak bisa bergerak lalu menggendongku secara brutal, "Meooong!" aaaaah, seandainya aku bisa bahasa manusia!

"Sst! Tenanglah Sasu sayaang," dia ini tidak peka atau bagaimana sih? Sudah jelas aku berontak di dalam gendongannya, harusnya dia mengerti aku sedang tidak ingin diajak main sekarang! "ayo kita main di luar saja, cuacanya lagi bagus!" begitu katanya sembari berdiri dari posisi duduknya lalu berlari keluar dengan aku yang berada di dalam gendongannya.

"Jangan bermain terlalu sore, Sakura!" teriak ibu Sakura dari jauh. Dia tersenyum saat aku menatapnya dengan tatapan memohon agar aku segera diselamatkan dari gendongan anaknya. Cih, ibu dan anak sama-sama tidak peka. Menyebalkan.

"Iya bu!" balas Sakura yang kemudian membuka kunci pintu depan rumahnya. Kami berdua pun keluar dari rumah.

Seiring dengan pintu depan rumah yang Sakura tutup perlahan, aku mengucapkan kata-kata perpisahan dalam hati. Merasa tidak ada kesempatan untuk kembali lagi, akhirnya aku menyandarkan kepalaku pasrah di atas dada Sakura yang masih menggendongku seraya berlari menjauh dari rumah.

Selamat tinggal... tidur siangku.

#

.

.

.

.

#

Kemarin memang benar-benar hari yang buruk. Seharian, bahkan setelah pulang dari jalan-jalan pun, Sakura tak henti-hentinya mengajakku bermain. Setiap aku berusaha menyandarkan kepalaku minimal sebentar saja, dia pasti akan langsung membangunkanku dengan berbagai trik yang membuat insting kucingku meningkat. Huff, aku tidak tahu bagaimana rasanya menjadi manusia, tapi yang jelas menjadi kucing juga cukup melelahkan.

Tapi, kalau diingat-ingat lagi, sudah seminggu ini Sakura terus mengajakku bermain. Padahal sebelum-sebelumnya dia selalu mengabaikanku karena dia fokus dengan pelajarannya semenjak masuk semester dua—setidaknya itu yang kudengar dulu ketika dia berbincang dengan ibunya. Aku malu mengakuinya, tapi jujur saja sebelum seminggu belakangan ini, aku yang sering mengajaknya bermain. Berbagai cara kulakukan agar dia meresponku, mengelus kakinya, lompat ke pangkuannya, menjilat kakinya, dan macam-macam.

"Sasuuu, main lagi yuk!" oh, tidak lagi. Aku membuka setengah mataku yang sebelumnya sudah terpejam. Melihatnya yang sedang tersenyum sesaat sampai akhirnya aku kembali memejamkan mataku, "Tadi ibu menyuruhku membeli telur, aku bosan kalau sendirian, kau pergi temani aku, ya!" kata-katanya itu masuk ke dalam telingaku tanpa perlu kuminta.

Belum sempat aku mengeong untuk menolak, untuk yang ke sekian kalinya Sakura menggendongku lagi. Tubuhku yang sudah lelah, terlalu lemas untuk berontak. Akhirnya yang bisa kulakukan sekarang hanya menatap wajahnya jengkel. Tapi dia tidak peduli, gadis yang memiliki rambut berwarna soft pink tersebut malah bersiul dengan santainya hingga akhirnya kami keluar rumah.

Setelah cukup jauh kami berjalan, Sakura pun menurunkan aku dari gendongannya. Dia berjalan dengan riang mendahuluiku. Aku masih diam di tempatku lalu menoleh ke belakang. Tadinya jika rumah masih dekat, aku akan memilih kembali pulang ke rumah dan melanjutkan tidur siangku. Tapi sialnya, aku bahkan sudah tidak mengenal lagi dimana jalan aku berada saat ini. Setelah mendesah pasrah, akhirnya kuputuskan untuk berjalan mengikuti Sakura yang sudah cukup jauh di depanku.

"Meong! Meong!" sepertinya karena mendengar suaraku, Sakura menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang. Memperhatikanku yang kini berjalan—nyaris berlari—mendekatinya dengan ekor yang bergoyang. Biasanya jika melihat aku seperti ini, Sakura akan memutar tubuhnya lalu menyambutku dengan dua tangan terbuka.

Tapi sekarang... dia hanya tersenyum menatapku sebentar lalu kembali membalikkan tubuhnya untuk berjalan semakin jauh. Melihat reaksinya itu, membuatku menghentikan langkahku. Kenapa? Aneh sekali. Tidak biasanya dia seperti itu. Aku mengeong lagi, tapi tidak mendapat respon seperti sebelumnya. Akhirnya dengan ekspresi bingung, aku berlari kecil mendekati kakinya.

Selama perjalanan kami, dia sama sekali tidak mengatakan apapun. Padahal sebelumnya dia selalu mengajakku bicara meskipun hanya kubalas dengan mengeong. Walau tidak terlalu mengerti bahasa satu sama lain, entah kenapa aku seperti bisa berbicara dengannya. Aku merasa nyaman berada di dekatnya dan aku bersyukur... karena dia lah yang mengambilku dari dalam kardus dua tahun yang lalu. Jika dia tidak ada, mungkin aku tidak akan pernah menghirup udara sampai saat ini.

Lagi-lagi aku merasa aneh. Jalan yang kami lalui terasa semakin sepi. Belum lagi ketika Sakura berbelok masuk ke dalam gang sempit dimana jarang sekali ada manusia atau bahkan binatang yang mau melewatinya. Udara di sini terlalu pengap. Walau tak sedikit juga binatang-binatang liar yang sering ke sini untuk mencari makan karena ada tempat sampah besar di pinggir gang ini.

Aku masih menatap punggung Sakura yang entah mengapa terasa jauh. Aku mengeong dan tidak diresponnya lagi. Sampai tiba-tiba, aku merasakan kehadiran seseorang. Tunggu, bukan. Dua orang. Satu di belakangku lalu satunya lagi muncul di depan Sakura. Sama sepertiku, Sakura juga menatap kaget dua orang yang muncul dengan posisi siap mengepungnya.

"Wah, jarang sekali ada gadis manis yang mau melewati gang ini," Sakura langsung menggerakkan kakinya sebagai isyarat agar aku pindah ke belakangnya. Aku pun menurutinya. Aku memasang kuda-kuda waspada saat salah satu dari mereka mengeluarkan sesuatu dari sakunya, "Beri kami uang jika kau masih ingin hidup, nona!" teriaknya.

Kaki Sakura bergetar. Tidak, bukan hanya kakinya tapi seluruh tubuhnya bergetar. Mengapa? Ada apa dengannya? Apa dia... ketakutan? "Aku... aku tidak membawa uang sepeser pun," begitu jawabnya. Meski sekilas, aku sempat melihat air mata di ujung matanya.

"Hah!? Aku serius, nona!" orang yang mengeluarkan sesuatu itu kini menunjukkan apa yang sedari tadi dia genggam. Apa itu? Benda panjang dengan ujungnya yang tajam seperti kuku-kuku milikku. Dengan insting, aku melangkah mundur perlahan, "Hoy! Periksa sakunya!"

"Aaaaakh! Lepaskan aku!" aku terkejut ketika seseorang yang dari tadi hanya diam tiba-tiba menahan tubuh Sakura dari belakang. Tangannya menyelip masuk ke dalam saku celana yang Sakura kenakan lalu mengambil beberapa lembar uang. Yang kutahu, uang itu nantinya akan digunakan untuk membeli telur yang dipesan ibu.

Sakura didorong hingga terjatuh di depanku setelah orang yang dari tadi diam itu mengambil semua uangnya. Aku berlari menghampiri Sakura yang masih menahan sakit, "Dia punya uang. Gadis ini sudah berbohong pada kita, bos!" begitu katanya. Aku tidak mengerti. Tidak sama sekali.

Tapi masih dengan insting, aku langsung berdiri di depan Sakura kemudian menggeram marah hingga bulu-buluku berdiri mengembang dan ekorku berdiri tegak. Aku memasang ekspresi mengancam, kutunjukkan dua gigi taringku yang besar beserta gigi taringku lainnya. Aku mengeong dalam dan keras, "Grrr... MEOW! MEOW!" aku mengeong berulang-ulang.

"DIAM KAU! DASAR KUCING BERISIK!"

DHUAK

"SASU!" aku tidak sempat mengelak ketika salah satu dari mereka menendangku dengan sadis. Tubuhku menabrak dinding yang tak jauh dari sampingku sebelumnya. Suara Sakura yang berteriak memanggil namaku seakan menggema di kepalaku. Meski hampir pingsan, aku masih berusaha mempertahankan kesadaranku. Samar-samar, kulihat Sakura berusaha berdiri, berniat berlari ke arahku.

Dan aku... menyesal karena telah berusaha mempertahankan kesadaranku.

Harusnya... aku langsung pingsan saat itu juga. Daripada aku harus melihat kejadian naas ini terjadi tepat di depan mataku yang tak bisa melakukan apa-apa.

Ya. Tepat di depan mataku. Seseorang dari dua manusia itu menusuk dada Sakura yang baru saja akan berlari ke arahku. Aku masih tidak mengerti saat itu. Tak pernah terpikirkan olehku bahwa ini adalah saat terakhir aku akan melihatnya menatapku dengan tatapannya yang hangat itu. Aku masih berusaha berdiri ketika perlahan tapi pasti Sakura justru jatuh terduduk dengan lutut yang menahan tubuhnya. Sakura masih menatapku dengan ekspresi yang sulit kuartikan. Orang itu mencabut benda tajam yang tadi menancap di dada Sakura, hingga aku bisa melihat cairan merah keluar dari punggungnya mengenai tubuh orang tersebut.

Tak butuh waktu lama sampai cairan merah juga mengalir keluar dari sudut bibirnya lalu dari lubang di dadanya. Sakura tersenyum lembut padaku sebelum akhirnya jatuh dengan kepala menghadap ke arahku. Dua manusia tadi langsung berlari menjauh. Sementara aku di sini, berusaha berjalan mendekati Sakura dengan kaki pincang karena baru saja terbentur dengan keras.

Sampai saat ini, aku masih belum mengerti apa yang baru saja mereka lakukan pada majikan kesayanganku ini. Aku berjalan pelan, menahan rasa sakit pada kaki kanan belakang dan kaki depan kiri milikku. Setelah sampai di depan wajahnya di atas jalan aspal ini, aku mengeong lirih. Berusaha memanggilnya seperti yang biasa kulakukan. Seperti yang kuharapkan, Sakura langsung membuka matanya walau tidak sepenuhnya. Iris hijau emerald di depanku seakan kehilangan cahayanya dan aku tidak mengerti mengapa.

"Sasu..." bisiknya pelan. Tangannya bergerak mengelus kepalaku lembut. Insting kucingku mengatakan untuk meminta lebih pada belaian lembutnya, dan aku pun melakukannya. Dia tersenyum lagi, "...maaf ya, kau bisa... pulang sendiri, 'kan?" aku menghentikan gerakan manjaku saat dia mengatakan itu. Aku menghampirinya lebih dekat kemudian mendengus hidungnya.

Kedua bola mataku membesar saat dia tertawa lirih karena ulahku. Kenapa dia tertawa seperti itu? Nada tawanya terdengar lebih pelan dari biasanya.

"Kapan-kapan... kita main lagi, ya."

Dan setelah mengucapkan itu, tangan Sakura yang tadi mengelus kepalaku kini terjatuh ke atas jalan ini. Kedua iris hijau emerald yang tadi kutatap sekarang hilang karena tertutup dengan kelopak matanya. Aku memiringkan kepalaku bingung. Dia tidur? Di tempat seperti ini?

"Meong..." aku mengeong untuk membangunkannya lagi. Tapi kali ini berbeda, dia tidak bangun. Baiklah, sekarang aku akan menjilat wajahnya. Aku yakin dia pasti akan bangun lalu memarahiku karena telah mengganggu tidurnya.

Tapi tidak.

Dia masih tidak bangun.

Aku belum mau menyerah. Kujilat lagi hidungnya, sudut matanya, dahinya, hingga kini sudut bibirnya. Aneh. Aneh. Dia sama sekali tidak bereaksi. Kenapa? Lagipula kenapa dia tidur di atas jalan yang keras ini? Dulu, dia selalu bilang bahwa dia tidak suka tidur di atas alas yang keras dan tidak empuk. Karena itu Sakura selalu menarikku yang sedang tidur di atas lantai untuk tidur bersamanya di atas kasur yang nyaman.

"Meong! Meong!" bangun! Bangun! Kenapa dia tidak bangun? Apa yang harus kulakukan? Aku menatap khawatir langit-langit di atasku yang semakin gelap. Ibu bisa memarahi Sakura jika pulang saat langit berwarna gelap. Aku mengelus wajahnya dengan kepalaku lalu kutempelkan tubuhku pada wajahnya... tapi dia masih tidak bangun juga.

Aku lelah. Sekarang... aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Di sini tempat yang asing bagiku. Meskipun aku masih memiliki insting yang bagus untuk kembali ke rumah, aku tidak mungkin meninggalkan Sakura sendirian di sini. Aku mendengkur manja, sebelum akhirnya aku meringkuk di lekukan antara tangan kanan dan tubuhnya. Mencari kehangatan yang biasanya kurasakan saat dia memelukku.

Bahkan dengan perlakuan ini, Sakura masih belum bangun juga. Rasa takut menjalar di sekujur tubuhku. Tidak. Tidak. Sakura pasti kelelahan. Aku yakin itu. Dia sangat lelah hingga tidak bisa bangun saat ini. Mungkin... mungkin dia akan bangun besok. Ya. Pasti. Setelah meyakinkan diriku sendiri, aku pun memejamkan kedua mataku. Aku akan ke alam mimpi bersamanya. Majikan yang kusayangi ini. Gadis yang akan selalu menjadi majikanku satu-satunya sampai akhir hidupku.

Besok... dia pasti bangun.

Dan aku akan mendengar tawanya lagi.

.

.

.

.

.

#

Ah... ini mimpi ya?

Aku terbangun di dalam mimpi.

Dimana ini? Aku tidak tahu. Tempat ini terang sekali. Aku tidak bisa melihat apa-apa, bahkan tubuhku sendiri. Mencari sesuatu yang tidak pasti, aku hanya menolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri. Sampai suatu suara memasuki gendang telingaku.

"Sasu," itu namaku. Seseorang memanggil namaku. Tapi aku yakin, itu bukan suara Sakura. Suara Sakura tidak seberat dan sedalam ini, "tinggalkan gadis itu, dia sudah mati."

Mati?

Aku menoleh lagi, berusaha mencari sumber suara itu. Mati? Apa itu? Seakan membaca pikiranku, suara tersebut kembali menjawab, "Itu artinya... gadis itu tidak akan bisa bermain bersamamu lagi," aku tertegun. Apa katanya? "dia tidak akan pernah kembali tertawa bersamamu. Sekarang adalah saat terakhirmu bersamanya," lanjut suara itu lagi.

"Bohong," ah, ini suaraku? Mengapa aku bisa memakai bahasa manusia? Tapi, sebelum sempat memikirkan alasannya, aku kembali berteriak, "BOHONG! BOHONG! Sakura bilang, kami akan main bersama lagi! Kau berbohong padaku!" begitu kataku. Aku terengah karena berbicara terlalu cepat.

Suara itu diam tidak menjawab. Di saat aku berpikir aku sudah menang karena semua yang dia katakan adalah bohong, dia justru kembali berbicara, "Terserah kau mau percaya atau tidak, yang jelas kalian tidak akan bisa bermain bersama lagi," a-apa? Tidak—"tapi, ada dua pilihan untukmu."

Mendengar itu, aku kembali membuka mata, "Kau adalah kucing hitam. Kucing yang spesial," aku merasa seperti menelan ludah, "kau bisa membawa sial, tapi kau juga bisa membawa keberuntungan. Aku bisa membaca pikiranmu, kau ingin melindungi gadis itu, 'kan?" begitu katanya. Aku tidak mengerti. Tapi akhirnya, aku menggerakkan kepalaku untuk mengangguk. Suara itu terdengar mendengus hingga akhirnya berkata.

"Kau mau menghidupkan gadis itu kembali?"

Aku tersentak kaget. Hah? Dia bicara apa? Entah mengapa tubuhku menegang, "Apa... maksudmu?"

"Dia akan hidup lagi, lalu tertawa lagi, seperti yang kau harapkan," kupejamkan mataku. Mengingat kembali bagaimana senyum dan tawanya yang selalu bisa menghangatkan tubuhku, "tapi sebagai gantinya, kau yang harus mati. Itu artinya, dia akan hidup digantikan oleh nyawamu."

Ah.

Begitukah? Jadi... ini maksudnya kami tidak akan tertawa bersama lagi? Meskipun Sakura akan kembali hidup, aku akan mati. Sama saja. Takdir mengatakan salah satu dari kami harus mati. Lalu bagaimana?

Aku memejamkan mataku erat. Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kupilih? Aku ingin mendengar tawa Sakura lagi, aku ingin bermain bersamanya lagi, aku ingin melakukan banyak hal bersamanya lagi. Tapi... tapi... aku menarik napas sedalam yang aku bisa, "Walau begitu... sama saja, aku tidak bisa mengatakan banyak hal yang ingin sekali kukatakan padanya," begitu kataku.

"Itukah yang paling kau inginkan?" aku membuka mataku. Lalu menatap cahaya di depanku yang tak kunjung redup, "Sudah kukatakan, kau adalah kucing yang spesial. Kau bisa mengabulkan satu permintaanmu yang paling mustahil. Tapi untuk dua permintaanmu itu, aku bisa membantumu dengan syarat," ucapannya itu seakan memberi harapan padaku.

"Be-Benarkah?" tanyaku penuh harap, "Aku bisa... bersama Sakura lagi?"

"Ya. Dengan batas waktu," aku memiringkan kepalaku bingung, "saat gadis itu hidup lagi, dia akan lupa semua tentangmu. Dan kau... akan menemuinya dalam wujud manusia. Jika kau bisa membuatnya mengingat semua tentang dirimu sebelum batas waktu yang ada, kau akan hidup bersamanya sampai waktu kalian akan mati ditentukan lagi berikutnya."

Aku memicingkan kedua mataku sebelum berkata, "Jika aku tidak bisa membuatnya mengingatku?"

"Tubuh manusiamu akan terkikis, lalu kau kembali menjadi kucing hitam..." suara itu memberi jeda, "...dan kau akan mati."

Kugigit bibir bawahku. Baiklah, ini persetujuannya? Aku memang tidak tahu dan tidak berpikir bagaimana caranya nanti aku akan membuat Sakura mengingat semua tentang diriku. Tapi yang pasti, aku tidak akan langsung memaksanya mengingatku. Bagaimana pun juga, itu semua tidak akan ada artinya. Jika dia bisa mengingatku sendiri, aku yakin semuanya pasti akan lebih berarti. Aku kembali menarik napas panjang lalu mengeluarkannya.

Senyum itu, tawa itu, semua ekspresi khas yang dia punya. Pasti akan kulihat lagi. Aku akan melakukan apapun untuk mempertahankan eksistensinya. Semua ini kulakukan untuk membalasnya yang telah membuatku mengerti dengan eksistensiku sekarang.

"Baiklah."

Semoga pilihan ini tidak salah.

"Aku terima syarat itu."

#

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku pernah dengar dari Sakura, bahwa mimpi adalah bunga tidur. Belum tentu semua yang terjadi di mimpi akan terjadi pula di dunia nyata. Dengan pikiran itu, aku membuka mataku dengan setengah hati. Bohong jika aku bilang aku tidak ingin menutup mata selamanya. Karena jika benar Sakura sudah mati, maka aku pun tidak mempunyai alasan untuk tetap hidup di dunia yang fana ini.

Ketika membuka mata, hal pertama yang kulihat adalah langit biru yang cerah seolah menandakan hari sudah pagi. Lalu aku menoleh ke kanan dan kiri, ah aku masih di gang sempit ini rupanya. Kepalaku terasa pusing, tangan kananku bergerak menyentuh kepalaku. Awalnya aku biasa saja, sampai aku menyadari sesuatu. Kuangkat tangan yang baru saja menyentuh dahiku lalu kutatap tangan itu dengan tatapan horror.

Heh? Ini tanganku?

Kenapa seperti tangan manusia?

Dengan panik, aku segera memposisikan tubuhku untuk duduk. Kutatap kedua tanganku, lalu kakiku yang panjang, kemudian tubuhku yang sudah memakai baju dan celana hitam—entah dari mana pakaian itu berasal. Kedua tanganku pun memegang wajahku sendiri. Ini... hidungku? Mulutku? Mataku? Tidak ada... bulu atau kumis sama sekali!

Sekarang... aku mencoba berdiri. Dengan dua kaki. Aku tidak perlu menjelaskan bagaimana dulu aku berjalan saat masih menjadi kucing, 'kan? Aku menelan ludah karena tegang, tubuhku sempat bergetar sampai akhirnya perlahan tapi pasti aku mulai mendapat keseimbanganku. Aku bisa berdiri tegak. Saat kulihat sekelilingku, rasanya semuanya menjadi lebih kecil.

"Aku... jadi manusia..." aku reflek menutup mulutku. Yang tadi itu... aku memundurkan tanganku lagi, "ini suaraku?" tanyaku pada diriku sendiri.

Setelah cukup lama bingung dengan keadaanku sekarang, aku pun tersadar akan sesuatu. Sakura! Dimana dia? Aku segera melihat ke belakang lalu ke depan. Tidak ada. Dia tidak ada dimana pun. Apa yang sebenarnya terjadi? Jika memang mimpiku benar, berarti harusnya sekarang Sakura masih hidup. Perhatianku terhenti ketika sekumpulan gadis yang seumuran dengan Sakura memakai seragam sekolah melewati depan gang ini.

Seragam... sekolah?

Berarti Sakura juga...

Aku mengepal kedua tanganku dengan mantap. Aku menggerakkan kedua kakiku lalu berlari layaknya manusia pada umumnya. Saat keluar dari gang tersebut, aku menabrak sekumpulan para gadis itu. Tadinya kupikir mereka akan marah—terlihat dari ekspresi mereka yang sama seperti Sakura jika akan marah. Tapi, begitu melihat wajahku, entah mengapa wajah mereka justru memerah. Aku bingung tidak mengerti. Tapi akhirnya kuabaikan saja, aku berlari meninggalkan para gadis yang masih mematung di tempat aku menabrak mereka tadi.

Sepertinya insting kucing milikku masih ada. Kuandalkan insting ini untuk kembali ke rumah. Lari dengan dua kaki manusia ini terasa begitu ringan, udara yang mengenai wajahku terasa begitu segar. Ah, aku suka perasaan ini! Tanpa sadar aku tersenyum menikmati udara yang menerpa wajahku. Rasanya menyenangkan. Mungkin menjadi manusia bukan ide yang buruk.

BHUK

"A-Aduduh!" ukh, sepertinya aku terlalu senang. Sampai-sampai aku tidak melihat depanku dan berakhir menabrak seseorang. Aku dan orang itu jatuh terduduk. Aku masih memejamkan mataku dan mengelus pantatku yang terbentur keras ketika orang tersebut kembali berkata, "Hei, jalannya hati-hati dong!" begitu katanya dengan kasar.

Tapi... ini suaranya.

Tidak salah lagi. Aku langsung membuka kedua mataku karena kaget. Ini bukan mimpi. Bukan. Dia tepat duduk di depanku, menatapku jengkel sembari membetulkan roknya. Aku masih tidak bisa berkata apa-apa. Lidahku terasa kelu. Tanpa sadar, aku sudah menahan napasku sedari tadi.

Sampai akhirnya... aku tidak bisa lagi menahan senyumku. Meskipun dia menatapku bingung dengan sebelah alis terangkat.

Kehidupan baru kita akan dimulai dari sekarang—

—Haruno Sakura.

.

.

.

I love you

.

As a cat and maybe one day as a man

.

.

.

.

...

Fortgesetzt Werden

...

.

.

.

Bahasa Jerman :

Frist = Batas Waktu

Kapitel Eins = Chapter Satu

Verboten Schicksal = Takdir Terlarang

Fortgesetzt Werden = Bersambung atau To be Continued

Yo '-')/ #datangdenganmukasantai #dibejek Ahahahaha~ welcome to my new multichapter fiction! Hope you like it xDD

Yup, kali ini saya memakai tema fantasy. Ahaha entah kenapa lagi suka sama genre ini jadinya ya begini hehehe~ pokoknya untuk pembuatan fic ini aku ingin berterima kasih sebesar-besarnya pada temen RL-ku, Sasha. Makasih ya Sha, udah bantu aku nentuin jalan cerita yang pas. Makasih juga ya gara-gara kamu, fic yang tadinya cuma mau satu chapter ini harus jadi lima chapter. Haha, kamu lucu banget deh aw x3 *cubit pipi Sasha sampai melar* #woy

Terus kenapa aku memakai bahasa Jerman ya... karena lagi bosen aja sama bahasa inggris :3 #dibakar wkwkwk tapi nggak banyak kok, untuk quote-nya masih pake bahasa inggris soalnya takut feelnya malah nggak dapet #halah untuk selanjutnya, aku ngasih tahu keterangan bahasa Jerman untuk judul chapter ajaya.

Udah itu aja kayaknya, selanjutnya Insya Allah aku akan update Blind. Semoga feel-nya kerasa dan... mind to RnR? :)