Perempuan-perempuan itu berlarian menuju gue. Mereka terdiri dari para cewek normal, para cewek loli, sampe tante-tante desperate yang belum pernah digrepe tukang bangunan di dalam bus. Rambut mereka macam-macam, ada yang hitam, coklat, pirang, sampe pelangi. Kulit mereka juga macam-macam, ada kuning langsat, putih kemerahan, putih pucat, sampe yang kulitnya kayak rainbow cake. Ada satu yang kulitnya hitam, korengan, panuan pula. Ah, kayaknya yang satu itu bakal gue usir nanti.

Mereka semua meluk-meluk gue, seolah gue adalah boneka teddy bear edisi terbatas yang baru selesai dicuci pake sabun DeadBuoy yang edisi terbatas juga. Ada yang nekat nyium-nyium pipi gue, leher gue, sampe kaki gue juga ada yang nyium.

Gue ngelus-ngelus area bawah hidung gue. Nggak ada darah yang mengalir. Apakah gue udah sembuh? Atau sebenarnya; penyakit gue itu cuma mimpi belaka?

Cahaya putih menyilaukan muncul dari langit-langit. Seperti lampu kamar mandi yang baru dibeli. Cahaya itu menghanguskan sosok-sosok cewek-cewek di sekitar gue. Gue nyaris nangis.

"Jangan pergi... Jangan berakhir..."

Pandangan gue berganti dengan wajah seorang perempuan yang begitu dekat dengan gue.


Disclaimer: Bleach © Tite Kubo.

Warning: AU, OOC, Typo bertebaran, bahasa gaul, humor garing, roman gagal, dll.

~ Jangan Sentuh Gue! ~

~ Chapter Dua: Teman Masa Kecil yang Terlalu Polos щ(ᵒДᵒщ ) ~


Butuh waktu sepersekian detik bagi gue untuk membedakan antara kenyataan dan mimpi. Mimpi adalah ketika gue dikelilingi banyak cewek dari segala ras tadi. Sedangkan kenyataannya adalah, bibir gue sedang dicium oleh seorang perempuan.

BRUSH! Darah yang cukup banyak mengalir dari hidung gue. Perempuan ini mencoba membunuh gue. Gue segera ngedorong dia menjauh. "LO MAU NGEBUNUH GUE, YA?!"

Dia menatapi hidung gue dengan pandangan nanar, lalu nyodorin kotak tisu ke gue. Gue segera ngambil beberapa helai, lalu membentuknya agar bisa menyumbat darah dari hidung gue. Mampus. Telat lima menit aja, gue pasti udah dapet tiket ke surga.

"Apa yang elo lakukan tadi?" ucap gue pelan. Males teriak-teriak. Gue memandang wajahnya sebentar. Gue sadar akan sesuatu: dia ini perempuan yang gue selametin (baca: nabrak gue) tadi. Gue memandang ke sekitar. Ah, ini kamar gue.

"Aku hanya memberimu nafas buatan, Hitsugaya-kun," ucapnya sambil tersenyum ringan. Gue memandangnya dengan tatapan 'Mak-sut-lo?'. Kalo di anime, pada situasi ini, pasti bakal muncul background petir, sambil muncul tulisan gede 'EEEHH?!' di atas kepala gue.

Gue sentil jidatnya dengan cepat (biar gak berefek mimisan). Dia memegang jidatnya, lalu memandang gue dengan tatapan moe, dengan airmata di ujung mata. "Apa yang kamu lakukan, Hitsugaya-kun? Uuh... Jidatku sakit..."

"GUE JATUH KE SELOKAN! BUKAN TENGGELAM, BODOH!" teriak gue kesal. "ELO UDAH NGEREBUT CIUMAN PERTAMA GUE! CIUMAN PERTAMA!"

"Aku akan bertanggungjawab, tenang saja. Aku akan menikahimu. Aku tidak bisa membiarkan janin di dalam kandunganmu lahir tanpa seorang ayah," ujarnya dengan wajah datar.

Ini siapa yang cowok, siapa yang cewek? Gue merasa terjadi disorientasi kelamin di antara kami. Leluconmu buruk untuk seseorang yang baru kau temui.

"Gue-gak-bakal-hamil-cuma-karena-ciuman. Lagian, gue cowok!"

"Tapi, kata Mama-ku, orang yang menerima cairan dari lawan jenis akan hamil; dan tadi, tanpa sengaja ludah-ku menetes ke tenggorokanmu."

"ITU HANYA BERLAKU UNTUK CEWEK! Lagian, kalo cuma ludah gak akan membuat hamil! Dan, apa lo bilang tadi?! L-ludah?! Jadi sekarang di dalam tenggorokan gue ada ludah lo?!" gue segera ngeludah ke arah lantai.

"H-hei! Ludahku bersih, kok! Tadi pagi aku sikat gigi!"

Gue pundung di pojokan. "Mama... Toushiro udah nggak suci lagi... Udah nggak suci lagi... Lebih baik Toushiro mati, Mama..."

"A-aura-mu begitu gelap, Hitsugaya-kun." Ujarnya sambil memandang gue kasihan.

Gue tersadar akan sesuatu. Gue kembali memasang imej keren gue. Gue memasukkan tangan gue ke kantong celana panjang hitam gue, bersandar pada dinding, lalu ngebenerin poni gue yang acak-acakan.

"Kenapa kau tahu namaku?" ujar gue dramatis. Dia memiringkan kepalanya. "Kamu lupa sama aku? Aku Hinamori,"

Memori gue melayang jauh, kembali ke masa TK.

10 Tahun yang lalu. Hitsugaya Toushiro dan Hinamori Momo, 5 tahun. Taman Kanak-kanak tahun kedua.

Gue sendirian. Memakan es krim rasa vanila gue dalam diam.

Gue nggak butuh teman. Teman itu ngerepotin. Teman cuma bisa numpang main PS2 di rumah gue. Mana nggak bayar lagi. Nggak tahu listrik mahal apa.

Di kala itu, seorang murid perempuan dengan rambut dicepol datang menghampiri gue. Gue memandangnya dengan dingin, sedingin es krim yang udah meleleh ke tangan gue.

"Kenapa kamu makan sendirian, Hitsugaya-kun?" tanya gadis itu. Gue tau, namanya Momo Hinamori. Dia teman sekelas gue.

"Aku enggak punya teman," ujar gue sarkatis. "Apa kau kesini mau mengejekku?"

"Enggak. Aku juga nggak punya teman. Temanku semua menjauhiku. Soalnya aku masukin bubuk cabe ke dalam sepatu mereka. Hehe," ujarnya sambil tertawa kecil. Gue juga ikut tersenyum.

"Apa mereka menangis?" tanya gue. "Mereka semua menangis, mengadu ke Mama mereka, kayak anak kecil."

Itu karena mereka memang anak kecil, Hinamori.

"Terus, kenapa kamu ketahuan?" tanya gue lagi.

"Karena, habis aku masukin bubuk sepatu, aku bilang sama mereka, 'Aku masukin bubuk cabe ke sepatumu, lho'. Tapi mereka gak percaya, terus tetep memakai sepatunya."

"Kenapa kamu ngaku?"

"karena Mama bilang, berbohong itu nggak boleh." Ujarnya dengan tangan dilipat di depan dadanya. Gue memandangnya hangat. Gue lalu menyodorkan es krim gue.

"Kamu mau? Aku... Selama ini mencari teman berbagi buat makan es krim," ucap gue. "Tentu!"

Lalu dia memakan es krim gue dengan lahap.

Keesokan harinya, dia minta sosis gue. Esoknya lagi, gue ngasih dia jus semangka gue. Lalu besoknya, gue ngasih dia sepotong ayam goreng.

Setelah seminggu lebih gue ngasih dia makanan gue, dia ngebeliin gue sebuah es krim vanila jumbo size. Dan malamnya juga, gue ditraktir sama orangtua Hinamori makan malam di rumahnya.

Gue memetik apa yang gue tanam.

Gue juga sempet gak sengaja denger, orangtua gue dan orangtua Hinamori ngobrol, "Gimana kalo kita jodohkan saja mereka?" lalu kemudian tertawa. Gue enggak ngerti sisi mananya yang lucu. Gue emang nggak bakal bisa mengerti lelucon orangtua.

"Nee, Hitsugaya-kun," panggil dia dengan nada manja ke gue. Gue cuma bergumam, sambil memakan sepotong semangka.

"Hitsugaya-kun mau nggak menikahi aku kalo udah dewasa?"

Gue mengangguk dengan semangat. Setelah itu, terjadilah serangkaian hal-hal memalukan yang gak mau gue ingat.

Kembali ke jaman sekarang.

Wajah gue memerah mengingat memori sialan itu. Gue memandangi penampilannya sekarang; rambutnya udah nggak lagi dicepol, tapi diikat ekor kuda. Uuh... Dan... Tingginya lebih tinggi dari gue.

"H-hai, Hinamori," ujar gue basa-basi. "Udah kembali dari Hong Kong?"

Ah, iya. Hinamori pindah ke Hong Kong pas kelas 2 SD. Waktu itu gue yang nangis paling kenceng pas nganterin dia di bandara.

"Ya, seperti yang kamu lihat," ujarnya sambil berkacak pinggang. "Kamu nggak nangis terharu? Nggak ingin meluk?"

Gimana ngomongnya, ya. Gue mulai kena penyakit-gak-boleh-nyentuh-cewek ini sejak gue kelas 4 SD. Dia jelas nggak mungkin tau.

"G-gue, sekarang alergi sama sentuhan cewek," ujar gue. Dia mendekat ke arah gue, lalu menyentuh pipi gue. Gue sontak langsung mimisan, dan nyingkirin tangan dia dari pipi gue. "Apa yang elo lakukan?!"

"Hitsugaya-kun, kalo kamu punya penyakit ini, gimana nanti kita mau menikah?"

"Kata siapa kita bakal nikah?!"

"Tapi 'kan, kamu udah janji dulu!"

"Itu 'kan janji gue pas TK! Sekarang udah nggak berlaku lagi!" teriak gue nggak setuju. Hinamori mempersiapkan aba-aba mau nangis.

"Padahal dulu kamu pernah buat undangan pernikahan kita, terus kamu fotokopi diem-diem di toko yang udah tutup, terus kamu sebarin ke kotak pos satu komplek!"

Ini yang gue maksud 'hal memalukan yang gak mau gue ingat'.

"GAK PERNAH!" bantah gue dengan pipi merah. "Gue nggak pernah kayak gitu!"

"Kamu pernah, kok! Kamu bahkan pernah pengen nelpon catering buat pernikah―"

Gue sujud di hadapannya. "Gue mohon, Hinamori. Jangan buat gue mengingat hal memalukan itu lagi."

Dia memandang gue kasihan, lalu duduk di kursi meja belajar gue. Gueberdiri, duduk di sisi kasur gue. "Hitsugaya-kun, kamu di SMA mana?"

Gue memiringkan kepala bingung. "Emang kenapa?"

"Aku mau masuk ke SMA yang sama denganmu," ucapnya dengan senyum bahagia. Gue memasang senyum kecut.

Semoga dia nggak bakal diseret masuk ke golongan ayo-buat-Hitsugaya-mimisan. "Gue sekolah di SMA Karakura. Kelas 10-D. Tolong atur agar kita nggak sekelas."

Dia tersenyum lagi. "Baiklah!"

'Mari pulang, marilah pulang, marilah pulang, bersama-samaaa~'

Gue kira bunyi itu adalah rombongan anak TK yang baru pulang, tapi setelah gue pikir-pikir, mana ada TK yang baru pulang sore-sore?

Gue lihat Hinamori ngebuka HP flipnya, dan menekan tombol hijau. Ah, rupanya itu ringtone HP-nya. Dia berbicara di telpon. Gue nggak tau apa yang dibicarainnya, soalnya Hinamori cuma bilang, 'Ya', 'Baiklah', 'Ok', dan 'Iya-iya'.

Gue memandang wajahnya dengan tatapan 'wat-eppen-beibeh?', dia memasang wajah kebingungan. Lalu gue bilang, "Tadi siapa?"

"Mama. Nyuruh pulang, soalnya udah mau maghrib. Mama bilang, 'kalo abis maghrib belum pulang, nanti diculik hantu di dekat pohon kelapa angker,' gitu."

Hinamori, tolong suruh Mama-mu ngurangin dosis nonton Upin Ipin. Bisa berbahaya kalo nanti dia nyuruh elo motong rambut gaya Upin. Gue menggelengkan kepala gue. Apa yang barusan gue pikirn, sih? Hinamori? Gaya rambut Upin? "GYAHAHAHA~!"

Ah, ketawa gue keceplosan. Emang sulit buat ketawa dalam hati. Gue mengelus-elus dada gue, lalu menawarkan Hinamori, "Mau gue antar?"

"Nggak, aku bawa sepeda, kok. Lagian, pundakmu masih sakit, 'kan?" tanyanya, sambil menunjuk ke pundak gue yang diperban. Gue menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, kok. Gue yang bonceng. Nggak baik perempuan pulang sendiri malem-malem."

Gue tersenyum lembut. Gue pasti barusan keliatan gentlemen. Abis ini pasti Hinamori bakal teriak-teriak gaje ala fansgirl. Dia memandang gue datar, "Ini masih sore, Hitsugaya-kun."

Gue terdiam. Gue cuma bisa ngeluarin senyum kecut andalan gue. "P-pokoknya, biarin gue nganter elo, deh. Sekalian nostalgia pas kita boncengan naik sepeda dulu."

"Oh, yang kaki kamu nggak nyampe ke tanah itu? Atau yang pas kamu jungkir balik akibat mau angkat ban?"

Gue pundung (lagi) di pojokan. "Plis, Hinamori. Jangan pernah ngungkit masa lalu memalukan gue lagi."

"Yaudah, aku pulang dulu, ya. Sayonara, Hitsugaya-kun," ujarnya tersenyum, lalu pergi keluar dari kamar gue. "Oh, ya, aku tadi ngebeliin semangka. Kutaruh di kulkas. Daah~,"

Dia melengos pergi. Gue memandang kepergiannya, melihatnya menaiki sepeda dari jendela kamar gue yang ada di lantai dua. Gue memandang punggungnya yang kian menjauh.

Hinamori adalah cinta monyet gue. Bukan, bukannya kami pacaran sambil nyari kutu, tapi emang begitu istilahnya. Hubungan kami hanyalah omong kosong antara dua orang anak TK. Atau setidaknya begitu.

Tapi gue ragu, apakah dia juga menganggap begitu atau nggak. Seandainya tadi gue nggak ketemu sama dia, mungkin gue nggak bakal ingat pernah janji buat nikahin dia.

Tapi di sisi lain, dia tetap mengingat janji gue. Itu berarti dia tetap mengharapkan gue, dan mengharapkan bahwa cinta monyet yang waktu itu udah berevolusi; menjadi semacam cinta orangutan, mungkin.

Ini rumit. Seandainya gue nggak punya penyakit konyol ini, mungkin gue bakal langsung nge-grepe dia pas dia ngasih 'nafas buatan' tadi. Lalu gue akan bertanggungjawab, kita nikah, lalu ngelakuin malam pertama, terus gue ketemu cewek lain, dan ngelakuin poligami.

Artinya, penyakit ini bisa menahan nafsu bejat gue. Yang untungnya, bisa membuat gue tetap perjaka sampai sekarang.

Gue harus bersyukur. Karena, tau gak? 60% siswa SMP sudah pernah melakukan hubungan seks, dan 80% lebih murid SMA juga sudah pernah melakukannya. Jadi beruntunglah orang yang pacaran sama gue kelak―kayak ada yang mau aja. Lagian, kalo pas SMP gue udah ngelakuin hal begituan, bisa diyakini bahwa kasur gue bukan basah karena darah perawan, tapi darah mimisan gue.

Gue melirik ke jam dinding gue. Pukul setengah tujuh. Ah, kayaknya Bokap-Nyokap nggak bakal pulang hari ini. Jadi gue memutuskan untuk mandi, dan memasak makanan buat gue sendiri.

Saat gue memasak, HP gue bergetar. Gue ngebuka HP gue, membaca pesan. Dari kontak Rukia-Kontet.

[Hei. Lo gak papa? Gue dengar abis pingsan di UKS, elo juga jatuh ke comberan.]

Gue memasukkan mi instan ke dalam panci berisi rebusan air, lalu menaruh bumbu-bumbunya ke dalam piring. Gue juga menaruh telur ke dalam rebusan air, lalu duduk di meja makan. Sekalian nunggu mienya ngelunak, gue memutuskan buat SMSan sama Rukia.

Gue: Iya. Gue gak papa. Cuma pundak gue sekarang mesti diperban.

Rukia: Besok lo masuk sekolah?

Gue: Nggak tau juga. Tergantung mood, deh. XP

Rukia: Apa-apaan itu? =,= . Pokoknya elo mesti masuk. Gak boleh gak.

Gue: Pemaksaan. ==" . Emang kenapa? Kangen kalo gue nggak ada? :D

Rukia: Iya. Sekarang aja lagi kangen sama elo, ^^

Gue melototi HP gue nggak percaya. Apa-apaan kata-kata barusan?! Apakah itu mantra pembunuh?! Seandainya gue lagi minum, pasti sekarang gue udah muncrat. Ini beneran Rukia?! Emang bener, beberapa minggu belakangan ini Rukia rajin bener nge-SMSin gue tiap sudah maghrib, dan biasanya bakal berhenti sampai salah satu di antara kami tertidur.

Tapi kata-kata barusan itu apaan?! Apa jangan-jangan Rukia seorang Tsundere?! Gue memutuskan buat nggak kegeeran, dan memutuskan kalo yang Rukia maksud adalah 'kangen-ngebuat-gue-berdarah'. Jadi gue balas,

[Gue juga kangen sama elo.]

Iya. Kangen menghindar dari Deadly Bloody Touch elo.

Gue taro HP gue di kamar gue, lalu kembali ke dapur. Banyak air di lantai dapur. Ketika gue liat darimana sumbernya, air ini ternyata berasal dari panci buat ngerebus mie gue.

GUKGUK! GUE KELAMAAN!

[Silahkan coba rebus mie instan, lalu tambahkan telur. Tinggalkan selama 10 menit dengan api paling besar, dan lihat apa yang terjadi.]

Gue segera matiin kompor, lalu memindahkan mie serta kuahnya ke dalam mangkuk. Setelah gue rias sedemikian rupa, gue taruh di atas meja. Gue mengambil kain pel (Bukan, kain pel bukan resep dari mienya). Gue ngebersihin lantai dapur gue yang basah.

Ampun, dah. Untung gue sendirian di rumah. Coba kalo Nyokap ada disini, bisa kena smackdown gue.

Gue melirik ke arah mie kuah gue. Asapnya mengepul-ngepul. Daripada lidah gue gosong, akhirnya sekalian gue ngepel seluruh lantai dapur. Sekalian nunggu.

Setelah 15 menit berkutat dengan kain pel dan lantai basah, gue makhirnya bisa memakan mie kuah gue dalam keheningan.

Ya, dalam keheningan. Sendirian. Semoga nggak ada hantu yang mau ngegodain gue malam ini.

Setelah selesai makan mie kuah gue (yang udah kelewat dingin), gue ngebawa semangka pemberian Hinamori yang udah dipotong-potong ke balkon kamar gue. Gue mau makan semangka sambil memandangi bintang.

Uuh, seandainya ada seseorang disini, pasti dia bakal terkagum akan pesona gue.

Bzzzt. Bzzzt. Bzzzt.

Ah, HP gue bergetar. Kayaknya Rukia ngebales SMS gue yang tadi. Gue ngebersihin tangan gue dari biji semangka yang menempel, lalu membuka HP gue. Seperti yang gue duga, SMS dari Rukia. Isinya:

[Kau begitu indah. Rambut putih-mu seperti salju di musim panas,
Wajahmu seperti bulan yang menerangi malamku,

Bau wangimu, tingkahmu, sifatmu, bahkan darah yang mengucur dari hidungmu,
Selalu terbayang-bayang di otakku,

Kapan aku bisa memlikimu?

sendall]

Gue bengong di tempat. Ini-maksudnya-apa. Apa Rukia dirasuki oleh semacam hantu-pembantu-yang-diputusin-kuli-bangunan?! Bahasanya―sumpah, norak banget. Atau otaknya terbentur sesuatu?! Rukia benar-benar menjadi sesuatu yang disebut OOC! Dia... Dia... Jatuh cinta sama gue?!

Gak... Nggak... Gue nggak boleh ge-er... Banyak orang yang berambut putih... Yamamoto-sensei juga berambut putih―eh, itu jenggotnya ya. Berarti... Ah! Atau jangan-jangan dia naksir sama Ukitake-sensei?!

Nggak mungkin. Perbedaan usianya terlalu jauh.

Tapi setelah gue ingat-ingat, Ukitake-sensei punya penyakit paru-paru, lalu gue denger dia sering batuk darah. Ah, pasti Ukitake-sensei nggak sengaja batuk lewat hidung, terus itu membuat Rukia jatuh cinta.

Ah, ya. Pasti begitu. Pasti begitu.

Gue ngebales SMS Rukia,

[Ciye-ciyeeh~! Semoga berhasil dapetin ntu cowok. Gue bosen ngeliat elu jomblo mulu.]

Gue mematikan HP gue, nggak mau mempedulikan nanti Rukia mau balas apa. Gue segera loncat ke kasur gue yang empuk, dan memesan tiket ke dunia mimpi.


Sementara itu, di kamar Rukia.

"Elo liat, 'kan, Inoue?! Dia bahkan nggak sadar kalo gue lagi ngomongin dia! Dia bahkan nggak sadar kalo sebenarnya sendall itu cuma gue kirim ke dia doang!" teriak Rukia histeris sambil menggoyang-goyangkan pundak Inoue. Mereka berdua ada di atas ranjang yang penuh dengan nuansa Chappy. Malam itu, Inoue sedang menginap di rumah Rukia.

"Y-ya... Itu... Dianya kurang peka kali... Hehe..." ucap Inoue sambil ketawa kecil. "Nanti, coba lihat reaksi dia di sekolah. Kalo dia kelihatan cemburu, berarti dia juga suka sama lo. Kalo nggak, yaudah. Cari cowok yang nggak alergi sama cewek."

"NGGAK MAO~! Gue cuma mau sama diaaa~! Cuma mau sama dia~!" ucap Rukia frustasi sambil guling-guling nggak jelas di atas ranjangnya.

"Kalo gitu, kenapa elo malah kayak hobi banget nyiksa dia, gitu?"

"Gue malu kalo bersikap 'biasa aja' ke dia," ucap rukia dengan pipi merah. "Lagian, gimana bisa gue 'biasa aja' kalo dia punya penyakit yang 'nggak biasa' kayak gitu?!"

"H-hahaha..." Inoue hanya bisa menanggapi dengan tertawa. 'Rukia emang punya jiwa Tsundere sejati,' pikirnya dalam hati.


Sreek. Tirai kamar gue dibuka oleh seseorang. Mengakibatkan cahaya yang berasal dari sana menembus kelopak mata gue, memaksa gue buat bangun.

"Hitsugaya-kun, bangun," gue mendengar suara Hinamori mencoba membangunkan gue.

"Tigapuluh menit lagi, Hinamori..." eluh gue. Menaikkan selimut gue sampai menutupi kepala.

Eh, Hinamori? Gue ngebuka selimut gue. "NGAPAIN ELO DISINI?!"

"Ah, semalam Ibumu menelponku, dia memintaku untuk membangunkanmu tiap pagi mulai sekarang," ujarnya dengan wajah tanpa dosa.

Kamu terlalu polos, Hinamori. Bagaimanapun juga, cewek yang masuk ke kamar cowok buat ngebangunin itu cuma ada di anime komedi-romantis.

"Ah, aku pergi duluan, ya. Sudah jam setengah delapan," ucapnya sambil berlalu. Ia lalu menaiki mobil yang dikendarai oleh (kayaknya) ayahnya ke sekolah.

Sudah jam setengah delapan. Pelajaran pertama mulai pukul delapan. Dan gue harus jalan kaki 45 menit. Mampus, dah.

Oh, Ayahku, lain kali kau mau pulang, aku akan memintamu membawakan oleh-oleh mobil. Titik.

Gue segera mandi dan pergi sekolah kayak nggak terjadi apa-apa. Gue males lari. Jadi gue tetap jalan kayak biasa, kayak gue nggak bakal telat.


Gue sekarang sudah ada di depan pintu kelas gue. Gue mengambil air mineral yang gue bawa dari rumah, menumpahkannya sedikit ke tangan, lalu mengusapkannya ke wajah gue.

Gue mendobrak pintu kelas, berakting kayak habis berlari. "Haah... Hah... Sensei... Maaf saya terlambat... Haah..."

Gue melihat guru yang mengajar. Soi Fon-sensei. Kayaknya lagi ada bimbingan penjagaan kesehatan. Gue memandang wajahnya dengan tatapan capek.

"K-Kenapa kamu terlambat?!" tanyanya dengan wajah merah, dan nada bicara gugup.

"Saya bangun kesiangan, Sensei," ujar gue. Dia menatap gue ragu. Lalu dia bertanya lagi, "Kenapa kamu bangun kesiangan?!"

"Karena saya tidur kemalaman," jawab gue males. "Kamu berani nge-troll guru kamu, ya!"

Dia menaikkan kepalanya. Dengan wajah yang masih memerah, dia bilang, "T-temui saya di ruang UKS istirahat nanti!"

Gue menambah panjang masalah gue. Semoga nanti dia nggak nyentuh-nyentuh gue di ruang UKS. "Kamu boleh duduk."

Gue berjalan ke bangku gue. Gue harusnya duduk sendirian di meja untuk berdua, tapi di meja gue sekarang, ada seseorang yang mendudukinya.

Wajahnya familiar di mata gue. Rambutnya diikat ekor kuda. "Hinamori?! Ngapain duduk di bangku gue?!"

"Ah, dia murid baru, Hitsugaya-san. Karena tak ada bangku lain, jadi terpaksa dia duduk disitu," ucap Soi Fon-sensei dengan wajah tidak senang. Gue melihat bangku di depan bangku gue, Rukia. Rukia ntah kenapa menatap ke arah lain, seolah menganggap gue nggak ada. Padahal biasanya dia bakal dengan sengaja nyentuh tangan gue pas gue ngelewatin bangku dia.

Ah, dia sedikit-sedikit mencuri pandang ke arah gue. Wajahnya memerah saat mata kami bertemu, lalu dia langsung membuang mukanya.

Apaan, sih?

Akhirnya gue duduk di bangku gue. Berdua. Dengan Hinamori. Jarak di antara kami cuma 30 cm. Dengan jarak segitu, sentuhan-sentuhan yang tidak sengaja akan sulit dihindari.

Gue menoleh ke murid-murid yang lain. Mereka seperti sedang membicarakan sesuaatu.

"Rukia," panggil gue. Dia nggak menoleh. "Rukia!" panggil gue agak lebih keras. Pipinya memerah lagi. Dia memajukan kursinya, menjauhi gue. Mengacuhkan gue.

Gue menoleh ke arah Soi Fon-sensei. Pipinya juga ikut memerah, lalu juga ikut membuang muka seperti Rukia. Apa yang sebenarnya terjadi?!

Gue menoleh ke arah Hinamori. "Hinamori, lo tau, apa yang sebnarnya terjadi? Kenapa semua jadi kayak ngegosipin sesuatu begini? Apa yang terjadi? Apa Yamamoto-sensei menucukur jenggotnya?"

"Aku nggak tau, Hitsugaya-kun. Tadi, saat ada murid yang nanya, "Hinamori-san, apakah ada orang yang kau sukai?", aku menjawab, "Sebenarnya aku ini adalah calon istri dari Hitsugaya Toushiro,". Lalu tiba-tiba mereka semua jadi terdiam."

"APA-APAAN ITU?!"

Oh, Tuhan. Tolong rubah wajahku sekarang.

~ To Be Continued ~

Catatan Penulis:

Chapter dua selesai. Entah kenapa chapter ini peran Hinamori terlalu menonjol. Maafkan saya. =.=a
Chapter depan akan saya perbanyak unsur 'rebutan'-nya. Hohoho.

Toushiro emang cowok beruntung, meskipun bertubuh pendek dan punya sindrom-mimisan-jika-disentuh-cewek, tapi dia direbutin oleh tiga cewek cantik. Meskipun cewek cantiknya itu aneh-aneh semua, sih.

Yang satu polosnya kebangetan, yang satu tsundere tingkat akut, dan yang satu lagi otaku kelas Chuck Norris―meskipun belum terlalu menonjol, sih.

Terim kasih banyak buat admin FFn yang sudah menambah batas karakter utama menjadi 4 orang. Kebetulan banget bagi saya yang ngebuat fanfic harem. Haha. Meskipun nggak muncul di bawah summary, sih. Yah, ini cuma masalah waktu.

Darimana ide pembuatan fic ini? Dari kekesalan saya terhadap fanfic-fanfic Indonesia yang terlalu banyak mengandung unsur cowok-rebutan-cewek. Saya bosan melihatnya. Karena itu, saya membuat terobosan baru. Coba aja ketik 'threesome' di search engine di atas. Lalu pilih Indonesia. Fanfic threesome hanya terdiri dari 2 cowok-1 cewek ataupun 3 cowok. Saya hanya bisa teriak 'DAFUQ?!' dalam hati.

Jika suatu hari nanti anda melihat banyak fanfic harem, ingatlah saya sebagai Pelopor Harem Indonesia. Hohoho.

Sampai jumpa di chapter tiga! Dengan ini saya menyatakan bahwa, fanfic ini akan apdet paling cepat seminggu sekali. Jika lebih dari itu, mohon maafkan saya.

Review-review dari chapter pertama sudah saya balas di PM.

Jangan pernah insaf buat me-review, tapi tetaplah khilaf untuk me-review.

Intinya, terima kasih yang sudah me-review chapter pertama, dan review-lah lagi chapter ini. #nunduk

Bye-bye~!