Seminggu setelah pertemuan gue dengan Rukia di perpustakaan, Rukia makin sering SMS gue yang nggak penting, kayak, 'elo lagi ngapain?', 'udah makan belom?', sampe yang paling nggak penting, 'Elo udah make deodoran belom?'.

Gue mengendus ketiak gue. Bau kaos kaki sigung yang keringetan habis dikejer pocong. Terus si sigung lupa nyuci kaos kakinya itu.

Gue nyemprot ketiak gue pake deodoran.

Gue memandang diri gue di cermin.

Mantaf. Kalo gini, nenek-nenekpun akan klepek-klepek kayak ikan dehidrasi kalo ngeliat gue.


Disclaimer: Bleach © Tite Kubo

Warning: OOC tingkat akut, AU, typo bertebaran, komedi payah, roman nggak nyentuh. Kalo dijadiin sinetron, mungkin studionya bakal langsung dibakar sama FPI. Khusus chapter ini: full HitsuSoi. XD

Chapter Empat: Berkencan dengan Guruku, Like a Boss. ┐( ̆_̆ )┌


Gue sedang berjalan di jalan setapak. Menuju toko buku. Nggak, gue bukannya mau insap, ini karena Soi Fon-sensei ngajak gue pergi ke toko buku tanpa alasan yang jelas.

Kemarin, tanpa gue tau dia dapet nomor gue darimana, Soi Fon-sensei nelpon gue. "H-halo! Hitsugaya-san?"

"Ya, siapa, neeh?" jawab gue di kala itu. "I-ini Soi Fon. Hitsugaya-san, bisakah kamu menemaniku ke toko buku minggu nanti?!"

"I-iya, kayaknya bis—"

"Kalo gitu, jam sembilan pagi. Toko buku Mediagre. Tunggu di depan pintu, ya!" —tuut.

Dan, sekarang disinilah gue. Di depan pintu toko buku Mediagre. Yang dengan kampretnya, masih belum dibuka. Setelah gue melihat pintunya yang terlihat dari kaca, ada tulisan 'Buka: 10.00 sampai 21.00'.

Gue mengutuk Soi Fon-sensei. Ini maksudnya apaan?! Nyuruh gue nunggu di toko yang belum dibuka?! Pengen ngebuat gue jadi satpam?! Sori aje, gimana kalo malingnya cewek semacam Charlie Angel?! Bisa mati syahid gue.

"Ah, Hitsugaya-san, sudah lama nunggunya?" gue menoleh ke asal suara. Mencari-cari sosoknya, gue menangkapnya dengan mata gue. Soi Fon-sensei make kaos putih bergambar pohon sakura berguguran, dan jaket cardigan selutut belang hitam kuning. Dia make' rok mini setengah paha. Buset. Gue bisa mimisan tanpa disentuh.

Gue ngelus-ngelus bawah hidung gue. Fuuh, untung gue belum mimisan. Tapi suer, dia unyu banget. Saking unyunya pengen gue awetin jadi boneka pajangan rumah gue.

Gue memandang diri gue sendiri: kemeja putih garis-garis tangan panjang, rompi cowboy hitam, celana panjang hitam, sepatu sket putih, dan sarung tangan hitam. Setelah gue pikir-pikir, gue jadi kayak orang yang buta warna.

"Hitsugaya-san, kenapa kamu pake sarung tangan?" tanya Soi Fon-sensei. Gue menjawab dengan ringan, "Buat jaga-jaga kalo nggak sengaja kepegang cewek."

"Hoo," ujar sensei membulatkan mulut. "Kalo gitu, ayo masuk!"

"Dibuka aja belum," ujar gue dengan tatapan kesal. Gue maenin PSP gue yang beberapa hari ini udah jarang gue grepe—sentuh, maksud gue. Tenang aja, gue bukan penderita Piespiphilia. Ketertarikan seksual terhadap PSP.

Gue maen apa? Gue lagi maen galge, judulnya Teacher After School. Intinya, sih, kita dikasih pilihan 4 rute dengan 4 perempuan berbeda; dan keempat-empatnya adalah guru muda yang hobi make pakaian yang kekurangan bahan bahan.

Iya, gue maen galge sebagai wujud kekesalan gue karena nggak bisa nyentuh cewek. Masalah buat lo?

"Hitsugaya-san, saya nggak nyangka kalo kamu juga otaku," uap Soi Fon dengan tatapan terharu. "Saya kira, hanya saya satu-satunya otaku di sekolah itu."

"G-gue bukan ota—"

"Ah, saya tahu game ini. Kamu harus nyoba rute Kiriko. Saya nangis saat movie endingnya. Benar-benar menyentuh. Ah, tapi rute favorit saya adalah Yuriko, karena banyak banget adegan fluffynya. Saya sampai terbawa mimpi," ujar Soi Fon-sensei dengan pandangan riang.

Ini guru apaan, sih. Ngeselin amat, dah. Tapi, tetap aja mulut gue nyerocos begitu ketemu saudara satu hobi. "Hoo, sensei punya yang versi PC? Saya daridulu nyari-nyari buat maen di rumah, tapi selalu sold out."

"Kamu mau?! Nanti gimana kalo ke rumah saya? Flashdisknya saya pinjemin!" Soi Fon-sensei dan gue benar-benar nyambung ngobrolin galge. Tapi setelah gue pikir-pikir, ternyata ada ya, perempuan yang maen game dapetin perempuan.

"Ah, nggak usah. Takut ngerepotin," ujar gue sambil senyum seadanya. Sensei mendekat ke arah gue. Bibirnya mendekati telinga gue, lalu dia membisikkan sesuatu; "Saya juga punya eroge, lho."

Gue langsung ngeSMS Hinamori buat jaga rumah, karena gue mau pulang malem. Cowok maam apa yang nggak suka eroge?! Kalo ada cowok gak suka eroge, kayaknya perlu dibawa ke Dr. Boyke buat diperiksa keaslian otongnya.

Akhirnya, gue sama sensei malah maen galge di PSP gue selama satu jam penuh sambil teriak-teriak gaje.

"Maah, maah! Liat, deh! Ada orang aneh teriak-teriak gak jelas di depan toko!"

"Jangan dilihat, Anakku."

Yah, terserah, deh. Kayaknya kalo otaku udah ketemu otaku, mulut mereka bakal nyerocos sampe bisa mengusir orang awam.

Eh, berarti gue otaku, dong?


Pukul 09.30.

Gue dan Soi Fon-sensei udah ada di dalam buku Mediagre. Tadinya gue ngira Soi Fon-sensei mau nyari semacam buku kesehatan atau buku yang berguna buat pekerjaannya sebagai Pengawas UKS, nyatanya dia—gue juga, sih, langsung lari ke bagian komik.

"Two Piece, Konan, Butler Item, Chestshield 22, Baalzabib, udah terbit semua~! Haah... Nggak sadar ternyata saya udah lebih dari tiga bulan nggak beli yang volume terbaru..." gue ngeliat setumpuk komik di kedua tangan Soi Fon-sensei. Satu tangan megang 5 komik. Kayaknya ini guru ngeborong seluruh komik terbaru.

Parah.

Di tangan gue sendiri cuma ada light novel Middleschool PxP yang langsung gue borong dari volume satu sampe duabelas.

Setelah gue pikir-pikir, gue yang lebih parah.

Gue pergi ke kasir buat membayar. Setelah tukang kasir men-scan barcode buku-buku gue, Mbak-mbak kasir itu ngebungkusnya buat gue. Uuh, Mbak baek banget, deh. Padahal sebenarnya emang itu kerjaan kasir.

"350 ribu lima ratus," ujar mbak kasir. Gue ngasih tiga lembar uang seratus ribu dan satu lembar uang lima puluh ribu. "Mas, uangnya kurang lima ratus."

Gue mengelok seluruh kantong gue. Nihil. "Mbak, gimana kalo Mbak saya traktir permen Kopiko tiga biji?"

"Maaf, Mas. Saya nggak terima sogokan." Saya juga nggak nyogok, kok, Mbak.

Tring tring tring. Uang lims rstus sekeping tiba-tiba jatuh ke atas meja kasir. Gue melihat ke samping gue. Soi Fon-sensei. "Pake aja dulu."

Sankyu, Sensei. Jasamu akan selalu kukenang di dalam sanubariku, wahai pahlawan tanpa tanda jasa. Ingatkan saya buat membelikan anda kopiko tiga biji.

Setelah gue, Sensei membayar komik-komiknya. Akhirnya gue dan dia keluar dari toko buku.

"Ayo kita ke rumah anda sekarang, Sensei," ujar gue dengan semangat. Dia melihat jam tangannya. "Agak sorean aja, sekarang masih lumayan pagi."

"Jadi sekarang anda mau kemana?" tanya gue males. Gue mau seepatnya baca light novel sambil maen eroge galge. "K-Karakura Park. Sudah lama saya ingin kesana, tapi nggak punya waktu."

Gue mengangguk.

Pukul 11.15.

DI Karakura Park, Soi Fon-sensei dengan semangatnya naik wahana-wahana gaje. Dan rata-rata membuat dia ketakutan dan memeluk gue. Dan membuat gue mimisan. Untungnya, gue udah bawa banyak persiapan tisu.

"Ayo kita ke Rumah Hantu!" ujarnya semangat. Gue membuntutinya dari belakang.

Setelah masuk ke rumah bernuansa kastil eropa berwarna hitam itu, yang ditunjukkin bukannya hantu-hantu yang sering muncul di film-film. Tapi... Adegan pembunuhan.

Fak. Adegannya terlalu mendramatisir. Gue hampir muntah karena ngeliat darah, meskipun gue tau itu darah palsu. Yang paling ngebuat gue ngeri adalah adegan pembunuhan dengan cara menusukkan paku akupuntur ke kepala tanpa berpikir.

Soi Fon-sensei lagi-lagi meluk gue dengan seenak jidatnya. Gue cuma bisa nutupin hidung gue pake tisu. Setelah gue pikir-pikir, seharusnya gue nggak cuma make sarung tangan; tapi sekalian aja minjem baju astronot.

Setelah kami keluar, hal pertama yang gue lakukan adalah duduk di bangku panjang buat memulihkan kepala gue yang pusing gara-gara ngeliat adegan berdarah. "Hitsugaya-san, tadi itu menyenangkan, ya?"

Darimananya, nyet. Kerjaan lu cuma mau ngebuat gue kena anemia. "Ahaha. Iya. Menyenangkan sekali."

"Uangmu tinggal berapa?" tanyanya. Memang, sebelum gue masuk ke taman bermain ini, gue sempet ngambil uang dari rekening gue. Yang gue tabung buat beli PS4 kalo udah muncul. Daripada gue kelihatan 'Hitsugaya-cupu-masa-dibayarin-cewek-gyahaha', gue mending ngambil beberapa dari tabungan gue.

"Sekitar lima puluh ribuan," jawab gue singkat. Soi Fon-sensei menjawab dengan bergumam kecil. Beberapa detik kemudian, gue mendengar suara perutnya minta makan. Gue, sebagai lelaki sejati, tentu langsung bilang; "Maaf sensei, saya nggak akan mentraktir anda makan siang. Tolong pake uang anda sendiri."

"Tapi 'kan, kamu ngutang sama saya," ujar sensei sambil nyoba ngejewer telinga gue, yang langsung gue hindari dengan bergerak menjauh. Gue akhirnya menghela nafas pasrah, "Baiklah. Saya traktir. Tapi jangan lebih dari 20 ribu."

Dan disinilah kami sekarang. Rumah Aneka Mie. Disini menyediakan berbagai macam mie, dari mie goreng, mie kuah, sampe Mieyabi—bagi yang punya duit segunung. Gue sama Soi Fon-sensei mesen yang paling mahal: Mie ayam dan air putih.

Kenapa air putih? Karena harganya cuma seribu.

"Naa, Hitsugaya-san," sensei manggil gue. Gue bergumam menanggapinya. "Bisa berhenti memanggil saya sensei? Ini bukan di sekolah."

Gue menelan mie gue lalu menjawab, "Lalu? Soi Fon-chan?"

"Jijik."

"Soi fon-sama?"

"Lebay."

"Soi Fon...-san?"

"Mou," gumamnya sambil ngegembungin pipi, "Cukup panggil saya Soi Fon. Nggak usah pake suffix apapun."

Gue muter-muterin mie pake garpu, lalu gue kunyah searah jarum jam. Setelah terjadi perputaran selama 36 kali kunyahan, gue telan. "Kalo begitu, jangan pake bahasa saya-anda. Lidah saya kelu dari tadi pagi ngomong kayak gitu."

Soi Fon memandang gue bingung. Lalu wajahnya memerah. "L-lalu... Mau pake... Ano... 'Aku-kamu'?"

"Kenapa nggak 'gue-elo' aja? Lagian sensei 'kan masih muda," jawab gue singkat. Mata Soi Fon melayang entah kemana, "Aaah... Udah lama aku nggak pake bahasa gaul..."

"Jadi gimana, sen—"

"Soi Fon," jawabnya motong pembicaraan gue. "Oke, Soi Fon, elo jadi mau pake yang mana?"

Kayaknya, sekarang gelar murid terberani di dunia udah pantas disandangkan ke pinggang gue. Karena gue udah berani manggil guru gue 'elo'. Semoga aja dia nggak ngasih gue tamparan bolak-balik.

"Terserah elo, aja. Gue ikutan elo," jawabnya dengan bahasa gaul yang fasih. Keren.

"Nee, Toushiro-kun—", gue memotongnya sebelum selesai bicara, "Sejak kapan gue ngijinin elo manggil gue pake nama depan?!"

"Rukia-san juga manggil elo 'Toushiro', kok. Tapi elo biasa aja, tuh," cibirnya sambil ngegembungin pipi. "Atau jangan-jangan, kalian ada hubungan spesial?"

Iya, ada. Hubungan pelaku dan korban. "Nggak ada. Cuma hubungan antara pembunuh dan orang yang ingin dibunuh, mungkin."

"Hooh?! Rukia mau ngebunuh elo?!" sewot Soi Fon. Gue cuma mengkerutkan dahi. "Nggak, maksud gue bukan begitu."

Hening. "Baidewei, kenapa elo ngajak gue? Kenapa nggak ngajak cowok elo aja?" tanya gue asal-asalan. Males nyari topik lain. "Gue nggak punya cowok, Toushiro-kun."

"Hooh. Jomblo ngenes," sindir gue. "Toushiro-kun sendiri juga jomblo ngenes, kan?"

"Iya, sih—Eh, NGGAK!" jawab gue cepat. Enak aja, dibilang jomblo ngenes. Mau dikemanain golongan shotacon-pecinta-Hitsugaya-apa-adanya-yang-kebanyakan-kakak-kelas itu?!

Ah, gue lupa. Golongan itu udah pada berkhianat, ya.

"Ah, benar juga. Hitsugaya-san punya Hinamori-san, yaa..." ujarnya datar dengan mata kosong. "Semoga sukses malam pertamanya, ha-ha-ha."

Tadi manggil gue pake nama depan, sekarang malah jadi formal lagi. Ini anak maksudnya apaan, sih. Perempuan memang makhluk yang sulit dimengerti. Lebih sulit daripada memecahkan KPK dari tigapuluh satu.

"Soi Fon, lo gak apa-apa? Mata lo kosong, gitu."

"Ne, Toushiro-kun. Menurutmu kalo guru suka—bukan, cinta sama muridnya sendiri, menurut lo wajar, nggak?" tanyanya dengan tatapan sendu. Gue nggak ngerti maksudnya apaan, jadi gue jawab,

"Wajar aja, kok. Gue lumayan sering maen galge yang MuridXGuru. Lagipula, seru, kok. Soalnya banyak konflik, jadi fluffynya lumayan nyentuh."

Soi Fon tersenyum lebar. Pipinya rada-rada memerah. "Nee, tau, nggak, Toushiro-kun?"

"Apaan?"

"Gue bahagia hari ini. Ini pertama kalinya gue jalan sama orang yang otaknya nyambung sama gue. Makasih banyak," ujarnya sambil tersenyum lebar. Gue cuma mengangguk pelan menanggapinya. Beberapa menit kemudian, terjadi keheningan karena kami lagi konsen makan mie ayam. Soi Fon makan dengan penuh nafsu. Kayaknya tadi pagi dia nggak sarapan.

Sekarang kami berjalan di atas trotoar. Tadinya gue ngajak jalan di tengah jalan, tapi entah kenapa Soi Fon nolak dengan alasan "Gue nggak mau nyoba olahraga ekstrim."

"Naa... Mau ke rumah gue sekarang?" tanyanya. Gue mengangguk. "Naik apaan?"

"Angkot."

"Uangnya?"

"Elu yang bayarin," jawabnya dengan wajah tanpa dosa. Gue mengkerutkan dahi. "Udah keren-keren gini naek angkot?! Ntar kalo sopir angkotnya mau memperkosa gue, gimana?!"

"Toushiro-kun, saya ini setengah fujoshi, lho."

Gue menjauh lima langkah. "Jangan dekat-dekat."

"Ahaha, nggak usah kayak gitu juga, kali," ujarnya ringan sambil mukul pundak gue ringan. Gue mimisan dikit. "Jangan sentuh gue."

Gue menjauh hingga sampai jarak aman. "Maaf, maaf. Tadi refleks."

Kami nunggu di pinggir jalan. Nungguin angkot lewat. Gue jadi kepikiran, cinta itu kayak angkot. Kalo ditungguin terasa lama, giliran dateng malah dapet angkot yang salah. Apalagi kalo angkotnya sampe ngebawa kita nyasar.

Dari filosofi di atas dapat diambil, seperti angkot yang salah dapat membuat kita nyasar, pacar yang salah juga dapat membuat kita nyasar. Biasanya nyasar ke hotel.

Semenit kemudian, gue dan Soi Fon udah ada di dalam angkot. Bangku paling belakang. Berdua. Pegangan tangan.

Pegangan tangan? Pantesan dari tadi hidung gue mau nyembur. Kalo gue nggak make sarung tangan, gue pasti udah nyembur daritadi. Yah, sarung tangan emang nggak bisa negbuat gue nggak mimisan, tapi sarung tangan setidaknya bisa memperlama jangka waktu sampe gue mau mimisan.

"Sensei, tolong lepas tangan saya," ujar gue ketus. "Kenapa elo pake bahasa formal?!"

"Tidak tahu," jawab gue males. Soi Fon ngelepas tangan gue. "Marah, ya?"

"Tidak," jawab gue. "Kalo marah nggak ganteng lagi, lho."

"Sensei, kalimat itu hanya berlaku jika sensei sekarang lagi kencan sama anak TK."

"S-Siapa yang bilang kita kencan?!" ujarnya gelagapan. "K-kamu jangan nggak sopan! Kamu itu murid saya! Kamu nggak pantes buat saya!"

"Oh, begitu," jawab gue singkat. "Kalau begitu, maaf saya menganggu anda selama ini. Lebih baik saya pulang sekarang."

Gue ngehentiin angkot, lalu turun. Gue memutuskan buat jalan kaki ke rumah. "Hitsu—Toushiro-kun!"

Gue menoleh ke belakang gue. Soi Fon berlari ke arah gue, kayak adegan-adegan di anime romance. Kalo gue sekarang ada di dunia anime, pasti sensei bakal ngelompat lalu nyium gue.

Nggak, nggak mungkin.

Kalo dia nyium gue, gue pasti langsung mimisan seliter. Dan menurut perhitungan gue, kalo itu terjadi, gue bakal pingsan. Mana rumah gue masih jauh, lagi.

Soi Fon menggenggam pergelangan tangan gue kuat-kuat. Kepala gue mulai memanas. Darah mulai mengalir menuju hidung gue. "Sensei, lepas—"

"NGGAK!"

... Dia mencoba membunuh gue. Menurut perhitungan gue, kalo begini terus, gue bakal mimisan dalam waktu kurang dari lima menit.

"Sensei—"

"Panggil nama gue, Toushiro-kun."

"Soi Fon, tolong lepas tangan gue," ujar gue cepat. Lepasin. Lepasin. Gue bakal mati. Gue bakal mati. Kalo gue mati siapa yang mau ngurusin kuburan gue?!

"Nee, Toushiro-kun," gue nggak ngedengerin suara dia lagi. Semuanya menjadi nggak jelas di telinga gue. Semuanya menjadi burem di mata gue.

"Maaf soal tadi," mampus. Mampus. Cepat lepasin tangan gue, sialan. Keringat dingin sudah memenuhi leher dan pipi gue. Elo harus lepasin gue sekarang.

'Sebenarnya, gue..." gue udah nggak bisa menahannya lagi. Udah nggak bisa. Abaikan lima menit tadi. Gue bakal mimisan nggak lama lagi. Kalo gue pingsan terus nggak bangun lagi, siapa yang mau ngurusin daily reward game online gue?!

"G-gue..." Gue gak mau mati. Gue mau baca Middleschool PxP gue dulu. Gue gak boleh mati. Kalo gue mati, nggak bakal ada yang mau bacainnya buat gue.

Suara-suara mulai menghilang di telinga gue. Ini tanda-tanda gue bakal mimisan. Bibir Soi Fon kayak bilang sesuatu, tapi suaranya nggak terdengar. Gue nggak mau mati. KALO GUE MATI, EROGE GUE BAKAL GUE KEMANAIN?!

"...Gue suka sama elo," darah mengucur pelan dari lobang hidung gue. Dan di saat yang sama, gue merasakan ada sesuatu di bibir gue, dan...

... Wajah Soi Fon yang begitu dekat dengan gue.

Setelah itu, yang ada di mata gue cuma kegelapan. Seseorang telah mematikan lampu di kesadaran gue. Hal terakhir yang gue rasakan, hanyalah darah mimisan gue yang nggak sengaja kena lidah gue.

... Asin.


Tepat sesaat setelah Soi Fon mencium Toushiro (yang bahkan nggak diketahuinya buat apa), Toushiro pingsan dengan darah mengucur dari hidung. Dengan tatapan penuh iba, Soi Fon memangku kepala Toushiro di pahanya yang nggak ketutup apa-apa.

"Kayaknya emang gawat, kalo gue nyium elo yang punya penyakit begini..." ujar Soi Fon pelan. "Maafin gue..."

"Tolong, maafin gue..." airmata Soi Fon mengalir dari ujung matanya, terus melalui pipinya, bermuara di dagunya, lalu menetes ke pipi mulus Toushiro.

Dua menit setelah itu, Soi Fon ngebawa Toushiro ke rumahnya. Dengan bantuan tukang becak yang kebetulan lewat. Mana tukang becaknya minta duit lagi. Nggak tahu dia lagi kena penyempitan pembuluh dompet, apa.

Akhirnya, dengan penuh muka minta maaf, Soi Fon minjem uang di dompet Toushiro yang lagi pingsan. "Toushiro-kun, gue minjem duit elo, ya... Iya, pinjem aja."

Akhirnya, malam itu, hari itu, Toushiro tidur di ranjang Soi Fon. Berdua. Meskipun Toushironya sendiri nggak sadar, sih.

"Toushiro-kun, wajah elo lumayan moe, ya, kalo lagi tidur..." ujar Soi Fon dengan senyuman tipis. Dia mengelus pipi Toushiro.

Detik itu, dia menyadari sesuatu.

Toushiro nggak mimisan kalo disentuh cewek pas lagi tidur. Lalu artinya apa, Soi?

"Artinya... Ini bukan alergi," gumamnya pelan pada dirinya sendiri. Dia membongkar-bongkar lemari bukunya. Mencari-cari sebuah buku.

"Phobia... Phobia... Phobia..." senandungnya kecil sambil mencari buku. Ketika buku yang dicarinya ketemu, ia langsung membuka ke sebuah halaman.

Ia bergumam kecil, "Phobia tidak akan terjadi jika penderitanya sedang tidak sadarkan diri seperti pingsan, tidur, ataupun telah meninggal."

Ia mencari-cari buku lain. Begitu buku yang diinginkannya ditemukan, ia langsung membaca suatu bagian, "Mimisan diakibatkan pembuluh darah yang pecah akibat suhu yang terlalu panas, stres, ataupun pikiran yang terlalu berat."

Soi Fon tersenyum kecil. "Itu tandanya, Toushiro selalu mengalami stres ataupun beban pikiran yang tiba-tiba saat disentuh perempuan."

Ia mengembalikan kedua buku yang diambilnya tadi, lalu masuk ke dalam selimut, tidur di sebelah Toushiro. Sebelum memjamkan mata, ia mengecup pipi Toushiro agak lama. Menikmati momen yang mungkin nggak akan bisa dilakukannya kalo cowok disampingnya itu sedang sadar.

"Mulai besok, kita akan melakukan terapi penyembuhan. Jadi kita bisa kencan beneran, pelukan, lalu—KYAA!" ucap Soi Fon ala fansgirl, sambil berguling-guling nggak jelas kesana kemari. Ia menghadap ke arah Toushiro, lalu memeluknya seperti saat dia memeluk guling bergambar cowok keren berambut putih lainnya.

Mungkin dia berpikir, "Dapet guling chara anime yang 3D gratis."

"Oyasuminasai, Toushiro-ku."

To Be Continued —

Omake:

Hinamori Momo menggerutu kesal di dalam kamar Toushiro. "Mou... Aku memang mau disuruhnya jagain rumah, TAPI SEKARANG UDAH JAM 10 MALEM! ITU ANAK KEMANA?!"

"Bosen! Bosen! Boseeen~!" Hinamori guling-gulingan nggak jelas di atas kasur Toushiro. Dia membuka HP flipnya. Nggak ada SMS, nggak ada panggilan tak terjawab. Dia membuka inboxnya. Cuma ada SMS Toushiro tadi pagi yang minta tolong jagain rumahnya yang kosong.

Dia sendiri juga heran, padahal keluarga Hitsugaya itu kekayaannya nggak bakal habis tujuh turunan, tujuh tanjakan, dan tujuh tikungan, tapi kenapa nyewa satpam aja nggak mampu?! Ngebeliin anaknya (setidaknya) motor aja nggak mampu?!

Nggak, bukan nggak mampu. Tapi, nggak mampu.

Saking bosennya, sekarang Hinamori lagi ngebongkar-bongkar lemari manganya Toushiro. Ngarep-ngarep aja Toushiro punya manga shoujo. Ketika sedang ngebongkar, dia melihat ternyata lemarinya dua lapis. Lapis keduanya ada di dalam tembok, dan dilapisi kaca.

Hinamori membuka kacanya, lalu membuka kain yang menutupi bagian lain lemari itu.

Dia shock. Wajahnya merah. Ekspresinya tak menentu, seperti wajah tante-tante yang mau melahirkan anak dari brondong simpenannya, tapi yang ada di sampingnya malah suaminya.

Ia mengambil salah satu buku. Hinamori lalu membukanya langsung ke halaman-halaman akhir. Wajahnya tambah merah sekarang.

"Aku nggak nyangka, ternyata Hitsugaya-kun ngoleksi manga hentai..."

Omake: End —

Catatan Penulis:

Ciaossu. Ketemu lagi sama Gue, sama Aku, dan sama Saya. #abaikan

Saya minta maaf telah mengubah sosok Toushiro yang begitu indah menjadi seorang yang mesum. Aku minta maaf telah mengubah Soi Fon menjadi otaku yang juga rada-rada mesum. Gue minta maaf karena chapter ini full HitsuSoi.

Chapter kemarin adalah chapter dengan review paling sedikit: cuma dua. Dan kedua-duanya ngngomongin kontroversi soal Saya ngomong kalo fic ini bakal discontinued. Jangan salahin Gue ataupun Aku, karena ini adalah salah Saya.

Baidewei nabrak baswei karena makan selei, Saya minta banyak review. Gue minta banyak fav, dan Aku minta banyak follow. Mereka bertiga nggak bisa ngetik tanpa ada peningkatan spesifik dalam ketiga hal tersebut. Berbeda dengan Kira, yang bisa ngetik kapan aja tanpa dipengaruhi unsur apapun.

Kalo boleh jujur, Saya suka HitsuRuki, Aku suka HitsuHina, dan Gue suka semuanya. Lalu,kenapa chapter ini HitsuSoi? Karena yang ngetik Kira.

Bingung, 'kan? Bingung, 'kan? Saya, Gue, dan Aku juga bingung.

Oh, ya. Aku, Saya, dan Gue memasang poll di profil akun kami. Tolong ikut ke ngevote demi masa depan fanfic ini. ^^

Makasih yang review chapter sebelumnya, jangan lupa review sebelum pergimeninggalkan chapter ini!

Jangan lupa sikat gigi sebelum buang air besar!