Pairing: Gokudera X Tsuna 5927

Rating: K+

Genre: Angst, Romance.

Summary: Entahlah. Apakah aku bisa menjalani hidup ini tanpamu? Canda tawa yang biasa kita lakukan itu, sekarang sudan tidak ada. Aku hanya bisa menatap ukiran namamu dan mengingat kembali hidup yang kujalani bersamamu.

WARNING! BL, YAOI, SHONEN AI, BOY X BOY!

Di Dunia Dimana Kau Tidak Ada

By : Miharu Midorikawa

Tsuna's POV

Aku terus memandangi langit yang luas tanpa henti dengan tatapan kosong, aku sendiri tidak yakin apa yang aku lihat di langit sana. Apa ada yang aku ingin lihat di sana? Apakah aku menunggu sesuatu? Seribu pertanyaan melintas di kepalaku. Tetapi jawabannya tidak ada di manapun.

Sejak kejadian itu, aku terus menghitung hari… entah kenapa, tapi rasanya aku jadi lebih perhatian kepada hari-hari. Sekarang… Sudah setahun sejak kamu meninggalkan Dunia ini… Meninggalkanku sendirian di Dunia ini… Hari ini aku datang lagi ke tempat peristirahatan-mu, sambil membawa bunga mawar berwarna merah. Karena kau bilang kepadaku, bahwa warna kesukaanmu adalah merah.

Di sebuah padang rumput yang luas, di tengah-tengah situ, terdapat sebuah batu nisan yang indah, dengan beberapa ukiran yang menghiasi pinggiran batu itu. Aku berlutut dan mengelus nama yang terukir di batu nisan itu… [Gokudera Hayato]. Hatiku langsung sesak saat aku melihat nama yang terukir di situ.

Saat aku bimbang dan tak tahu kemana aku harus pergi… Kamu selalu ada di sisi-ku. Kamu selalu bilang, "Tak apa-apa Juudaime, aku akan selalu berada di sisimu." Dengan suara yang lembut dan itu selalu membuatku menjadi tenang. Sangat tenang.

Kamu adalah temanku yang pertama, saat aku bertemu denganmu, dunia ku menjadi berubah… dari yang dulunya berwarna abu-abu. Sekarang menjadi berwarna dna penu dengan tawa.

Sampai sekarang aku masih menganggap kematianmu adalah salahku, kalau saja hari itu aku tidak mengirimmu mengerjakan misi yang berbahaya itu sendirian.. pasti sekarang kamu berada di sisiku.

Tanpa sadar, aku langsung mengingat kejadian malam itu…

Malam itu adalah malam yang terang, karena sedang bulan purnama. Aku dan Hayato sedang berdiri beradapan, sinar bulan masuk kedalam ruang kerja-ku melalui jendela besar yang gorden-nya sedang tidak ditutup. Menyinari muka-nya, membuat rambut silver dan mata hijau emerald itu seolah bersinar.

"Tidak apa-apa Juudaime, aku pasti bisa melakukan misi ini!" Ucap Hayato dengan nada penuh keyakinan. Mesipun begitu aku tetap khawatir.

"T…Tapi., bukankah lebih baik jika kamu ditemani oleh Takeshi?"

"Si 'Yakyuu Baka' itu? Aku tidak butuh, Juudaime." Jawabnya sambil memberikan-ku senyuman, aku merasakan mukaku memanas, walaupun sudah 10 tahun aku berada di sisimu, aku tetap tidak terbiasa dengan senyumannya itu. Hayato lalu berjalan kearahku dan menarikku kedalam pelukan yang hangat.

"Aku pasti akan pulang ke sisimu Tsuna." Mataku langsung berlinang air mata saat ia mengucapkan namaku.

"Ja..Janji ya? Pasti… kamu akan pulang ke sisiku."

"Aku janji Tsuna." Aku melihat ke arah muka Hayato, padanganku agak kabur karena air mata. Hayato mengangkat tangannya dan menyeka air mataku. Mata kami saling bertatapan sebelum akhirnya Hayato mendekat dan menempelkan bibirnya ke bibirku, aku bisa merasakan rokok… rasa yang sangat familiar denganku. Setelah beberapa saat, Hayato memisahkan kita dn akhirnya memelukku dengan erat lagi.

"Aku mencintaimu Tsuna."

"Aku mencintaimu juga Hayato."

.

Sudah 3 hari tidak ada kabar dari Hayato, aku mulai gelisah dan tidak bisa fokus ke pekerjaanku. Aku memutar-mutar pulpen ku di atas meja, meninggalkan setumpuk kertas pekerjaan yang belum ditandatangani di meja. Tiba-tiba Kyoya masuk ke dalam ruanganku.

"Ada apa Kyoya?"

"Si herbivore. Dia mati saat menjalankan misi." Jawab Kyoya dengan nada datar.

"He-herbivore…? Herbivore y-yang ma-mana?" Hyper intuition-ku mulai gelisah dan hatiku-pun rasanya sesak. Dan seperti tidak cukup udara untuk bernafas di dalam ruangan ini.

"Gokudera Hayato."

Dunia-ku langsung hancur.

Aku menatap kepada Kyoya dengan pandangan tidak percaya sambil sesekali menggeleng-gelengkan kepalaku.

"Ka-kau bercanda kan, Kyoya?" Kyoya hanya terdiam menanggapi pertanyaanku.

"N-ne… Kyoya?" Tanyaku sekali lagi.

Kyoya hanya diam saja.. pandangannya sekarang mejadi lebih dingin.

"Satu peluru mengenai jantungnya, dia sempat dibawa ke rumah sakit. Tapi karena kehilangan banyak darah, dia tidak selamat."

Kakiku lemas… aku bahkan tidak punya tenaga untuk berdiri. Aku langsung terjatuh ke lantai… tubuhku lemas… Tubuh ini mulai bergetar hebat, mencoba untuk tidak menerima kenyataan pahit ini.

"PADAHAL KAMU SUDAH JANJI AKAN PULANG KE SISIKU!" Kyoya hanya melihatku dengan tatapan dingin, lalu aku mendengar suara pintu dibuka dan ditutup.

Air mataku mulai mengalir tidak berhenti... Semalaman aku menangis sampai air mataku kering dan suaraku serak. Sampai akhirnya aku tertidur dengan mata yang bengkak di kamarku karena capek menangis.

Di hari pemakaman… semua anggota Vongola Famiglia datang. Millefiore dan Shimon-pun ikut mendatangi pemakaman hari itu. Termasuk Kyoko dan Haru juga… Aku melihat gambar yang terukir di peti mati itu… gambar emblem 'Storm Guardian'.

Saat peti mati itu dikubur…

Dunia ini sepertinya sudah berakhir…

….

Tiba-tiba berbagai kenangan melintas dikepalaku. Kenangan sedih dan senang yang aku lewati bersamamu.

….

"Juudaime, malam mini mau tidak melihat bintang bersamaku?" Tanya Hayato dengan tiba-tiba.

"Tentu saja." Jawabku dengan senyuman, matanya langsung berbinar-binar menanggapi jawabanku. Malam itu kita berdua duduk di tengah taman di Vongola HQ, di hiasi bintang yang bertaburan di langit.

Malam itu sangat dingin. Tapi entah kenapa rasanya tubuh dan hatiku hangat.

….

"Jangan merokok!" Tegurku dan mengambil rokok yang sedang dihisap oleh Hayato.

"Ma-maaf , Juudaime." Jawabnya dengan nada yang sedih. Aku menghelas nafas panjang sebelum aku berjalan ke meja dan mematikan rokok itu di asbak. Setelah itu aku berjalan kea rah Hayato dan memeluknya dengan erat.

"Ju-Juudaime?"

"Aku tidak ingin kamu mati dengan cepat." Hayato hanya memandangku dengan tatapan bingung. "Katanya orang yang suka merokok suka mati cepat." Hayato lalu mengelus-ngelus kepalaku dan memberikanku kecupan di dahi.

Esok harinya Hayato mulai tidak merokok. Para Guardian yang lain heran melihat sikap Hayato, karena pasti minimal sehari sekali dia merokok. Aku hanya tersenyum melihatnya.

….

"Apa yang spesial dari cokelat panas buatanku?," Tanya Hayato heran kepadaku. Aku hanya tersenyum lalu mengambil cangkir bewarna orens dari tangannya dan menghisap aroma khas cokelat dari minuman yang ada dalam cangkirku, "Itu hanya cokelat instan dan air panas."

Aku tidak menjawab dan mulai meminum minuman yang hangat dan manis itu, "Memang, caramu membuatnya tidak berbeda dengan yang lain. Tapi," Gokudera mengangkat alisnya mendengar perkataanku ini, "Rasanya, buatanmu itu spesial,"

"Penuh dengan cinta."

.

Aku melihat sosoknya yang terbaring lemas diatas tempat tidur putih - dengan terbalut oleh beberapa lapis perban di kepalanya dan tanganya, entahlah berapa bagian tubuhnya yang terbalut oleh perban.

Tanpa berpikir panjang, aku pun berlari ke sampingnya. Hatiku serasa hancur saat melihat sosoknya yang seperti itu, seakan-akan aku yang terluka. Aku menggenggam tangannya dengan lembut - dengan tanganku yang agak gemetaran ini.

Pandangan mataku mulai kabur karena air mata yang mulai mengumpul di sisi-sisi mataku. "Hayato…" Kuucapkan namanya selembut mungkin - seakan-akan dia seperti benda yang sangat rapuh jika aku memperbesar suaraku dia akan hancur kapanpun.

Kelopak matanya bergerak sedikit, mata cokelat-ku menatap dengan penuh kecemasan kepada mata emerald yang lama-lama terbuka itu. "Ju-Juudaime…?" Ucapnya, suaranya serak. Aku belum pernah mendengar suaranya yang seperti ini.

"Hayato… kenapa kau melakukan hal yang gegabah seperti ini…?"

Dia hanya memalingkan kepalanya dan terdiam sejenak, "Maafkan aku, Juudaime…" Aku memicingkan mataku kepadanya. "Kau tahu 'kan, kau ini bisa mati!" Gertakku. Mata emerald-nya sekarang penuh dengan penyesalan, aku langsung memeluk dirinya dengan erat.

"Kumohon… jangan bertindak gegabah seperti ini lagi… aku tidak ingin kamu mati sebelum aku…" Air mata ini mulai mengalir membasahi gaun rumah sakit hijau punya-nya. Dia lalu mengelus-ngelus kepalaku dengan lembut, dan membisikkan kata-kata kepadaku.

"Aku janji, Tsuna."

.

Kamu mengingkari janjimu kepadaku.

.

Sekali lagi aku menatap kepada atu nisan yang berada di depanku ini, entah kenapa walaupun hatiku sangat sakit saat melihat batu nisan ini - aku tetap menatapnya dan mengelus-ngelusnya dengan lembut.

Entah sudah berapa ingatan bahagia yang kita alami.

Entah sudah berapa kali kita mengucapkan "Aku mencintaimu."

Entah sudah berapa kali kita berbagi tangisan.

Entah sudah berapa kali aku diselamatkan oleh suara dan setuhanmu yang lembut itu.

Saat kamu pergi dari dunia ini, aku sempat frustasi dan tidak pernah keluar dari kamarku sedikitpun. Tapi berkat dorongan dari para anggota Family yang lain, aku pun akhirnya bisa menerima kenyataan yang pahit ini. Sampai-sampai Reborn berkata begini,

"Vongola tidak butuh Boss yang seperti zombie."

Heh, sedikit senyuman terserat di bibirku. Aku berdiri dari posisiku yang tadi sedang duduk di depan batu nisan-mu dan menatap kearah langit yang luas.

"Hayato…, aku tidak akan pernah melupakanmu. Aku mencintaimu untuk selamanya."

~Fin~

A/N:

Thanks for reading!

Byee~