Sebuah Remake dari novel yang berjudul A Romantic Story About Serena karya Shanty Agatha

.

Disclaimer:
Ide cerita dan sebagian besar plot diambil dari novel aslinya, disertai dengan penambahan dan pengurangan seperlunya dari saya. KyuMin are not Mine!

.

Warning:
OOC, Yaoi, Sex Activity(es), Typo(s), DLDR, de el el

.

Part 5

.

-KyuMin-

.

"Apa tidak sebaiknya kau pikirkan lagi?" tanya Donghae sambil menutup map yang berisi salinan surat kontrak yang sudah ia janjikan untuk Kyuhyun. Ia sudah menjelaskan apa-apa saja isi perjanjian yang tertera di dalam surat kontrak tersebut, tak lupa juga ia menjelaskan bagaimana skenario yang ia susun agar surat kontrak itu benar-benar terlihat tidak cacat hukum. Donghae—nama pengacara itu—juga sudah mengusahakan jalan tengah agar perjanjian itu bisa sah di mata hukum.

"Apa lagi yang harus aku pikirkan? Semuanya sangat sempurna. Aku sangat menikmatinya." Jawab Kyuhyun dengan senyum yang begitu puas dan bangga.

"Seriuslah, Kyuhyun. Ini bukan main-main. Kau mempertaruhkan uang dalam jumlah yang cukup besar di sini."

"Aku serius, hyung. Kau pikir aku main-main? Uang 300 ratus juta itu bukan jumlah yang sedikit, aku sudah memikirkan ini matang-matang. Jadi kau tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja."

Donghae menatap pemuda yang di hadapannya itu dengan gusar, ia harap Kyuhyun tahu apa yang sedang ia lakukan. Semoga saja ia tidak salah mengambil keputusan.

"Ini sudah gila, Kyu. Jumlah uang yang kau gunakan terlalu fantastis untuk ukuran mangsa kecil yang tidak jelas asal usulnya itu. Kau bahkan bisa mendapatkan wanita yang kurasa jauh lebih pantas daripada dia. Dan lagi dia seorang pria, pria yang menurutku tidak ada apa-apanya dengan mereka yang pernah kau gunakan selama ini."

Kyuhyun mendecak tidak setuju, perkataan Donghae yang begitu merendahkan Sungmin ternyata tak sedap didengar oleh telinga. Entah kenapa ia tidak suka jika Donghae berkata seperti itu tentang Sungmin, ia tak rela.

Tetapi kemudian rasa tidak senang itu tertampar oleh kenyataan bahwa selama ini ia juga berpikir seperti itu terhadap Sungmin. Lalu apa bedanya dirinya dengan Donghae saat ini?

"Kau masih punya waktu untuk berubah pikiran sebelum pria itu menandatangani surat perjanjian ini."

"Aku tidak perlu memikirkan apa-apa lagi. Keputusanku sudah bulat, aku akan melanjutkannya. Lagipula perjanjian itu sudah berjalan setengahnya, aku sudah meniduri pria itu. Rasanya akan sangat kurang ajar sekali jika aku tidak memberikan uang yang harusnya sudah menjadi hak miliknya."

Untuk yang satu ini Donghae benar-benar terbelalak kaget, tidak disangka Kyuhyun akan berbuat secepat itu.

"Kau sudah tidur dengannya? Apa kau serius?" tanya Donghae tidak percaya, matanya melebar heran.

"Yeah, begitulah." Jawab Kyuhyun enteng. "Sekarang dia sedang menungguku di kamar."

"Jadi karena itu kau begitu ngotot mengajakku bertemu di hotel ini?"

"Yup. Sudahlah hyung, tidak usah terkejut seperti itu. Kau sudah lama mengenalku, hal seperti ini harusnya sudah biasa bagimu."

"Bagaimana bisa aku tidak terkejut melihat semua tindakanmu ini, Kyuhyun-ah? Kau menghambur-hamburkan uangmu untuk seorang pria yang tidak jelas sama sekali. Kau bahkan sudah tidur dengannya, bagaimana jika setelah ini dia akan terus memerasmu?"

"Hey, hyung aku tidak akan miskin hanya karena ulah tikus kecil itu. Berapa pun uang yang akan aku habiskan rasanya tidak ada masalah, asalkan dia bisa memuaskanku."

"Lagi-lagi itu." desah Donghae frustasi. "Kau selalu bicara masalah kepuasan."

"Wae? Hyung, kau jangan coba-coba menentangku kali ini. Ayolah, ini kesenanganku. Biarkan aku bermain-main sebentar."

Donghae menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Aku tidak melarangmu untuk bersenang-senang, ini hidupmu dan juga uangmu. Aku hanya ingin mengingatkan, kau orang yang gampang sekali bosan. Aku tidak mau kau menyesali semua ini ketika orang itu sudah tidak bisa memuaskanmu. Perlu kau ingat di sini, dia-seorang-pria, Kyuhyun-ah. Sampai dimana pria itu akan sanggup memuaskanmu? Aku rasa tidak akan lama."

Kyuhyun tersenyum tipis, sedikit salut dengan pemikiran pengacara tampan ini. Prediksi Donghae bisa saja benar, ia pun tidak akan bisa menampik jika apa yang dikatakannya itu benar-benar terjadi.

"Well, kita lihat saja nanti, hyung. Bosan atau tidak bagiku bukanlah masalah. Yang terpenting bagiku sekarang adalah aku terpuaskan. Kalaupun setelah itu aku memang akan merasa bosan aku rasa tidak ada yang perlu disesalkan, karena rasa penasaranku sudah terpuaskan di sini."

Setelah itu Donghae hanya mengangguk saja, ia tidak bertanya apa-apa lagi.

"Jika memang begitu aku tidak bisa melarangmu lagi. Kau yang berbuat, kau yang menjalani dan kau jugalah yang akan merasakan bagaimana hasil akhirya. Tapi jujur sebagai seorang teman aku belum bisa menerima kau melakukan hal semacam ini."

"Tenang saja, hyung. Semuanya akan baik-baik saja. Percaya padaku."

"Yeah, aku percaya padamu." Gerutu Donghae sambil memutar kedua bola matanya. "Serahkan surat kontrak ini kepada orang itu. Suruh dia menandatanganinya, beri salinannya, setelah itu serahkan surat kontrak yang asli kepadaku. Kau sudah bisa mentransfer uang itu setelahnya."

"Baiklah. Terima kasih, hyung. Kau memang selalu bisa ku andalkan."

Donghae hanya membalas dengan anggukan ringan lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa.

"Lee Sungmin, aku tidak menyangka kau akan tertarik padanya. Aku tidak melihat ada yang istimewa pada sosoknya."

Kyuhyun menyeringai misterius. Wajar jika Donghae berkata seperti itu, karena pada awalnya dirinya juga mengatakan hal yang sama. Namun belakangan ia pun semakin sadar ternyata Sungmin memang istimewa. Entah itu gender, sikap ataupun perilakunya, Sungmin yang seperti itu benar-benar membuatnya nyaris mati penasaran. Bahkan rasa penasaran itu kian besar setelah ia berhasil memiliki pemuda itu.

"Dia itu pemuda yang kita temui di acara pameran waktu itu 'kan?"

Kyuhyun mengangguk lagi, Donghae memang berada di sana saat ia pertama kali bertemu dengan Sungmin.

"Well, good luck saja dariku Kyuhyun-ah. Semoga kau tidak akan datang dan mengeluh-ngeluh lagi padaku setelah ini. Tuhan memberkatimu."

"Thank You."

.

-KyuMin-

.

"Kau akan pindah ke apartemen barumu malam ini juga." Final, Kyuhyun melangkah keluar dari ruang kecil dengan sofa berwarna krem lembut dan penerangannya yang agak redup. Matanya tidak terbiasa dengan intensitas cahaya serendah ini.

"H-hey, maksudmu apa?" Sungmin mengejar langkah Kyuhyun, agak tertatih mengingat nyeri di bagian belakang tubuhnya yang masih terasa.

"Kau akan pindah ke apartemen baru-mu. Apa kalimatku kurang jelas?"

"Tapi kenapa? Kenapa kau tiba-tiba menyuruhku pindah? Memangnya ada apa dengan tempat tinggalku yang ini?" Tanya Sungmin sambil mengisyaratkan tangannya pada ruangan di sekeliling mereka.

"Kau bilang ini tempat tinggal? Bagiku ini kandang. Tempat ini tidak layak untuk ditinggali." Ujar Kyuhyun menghina, lalu meringis jijik setelah mendaratkan matanya pada keadaan ruangan di tempat tinggal Sungmin yang kelewat sederhana.

"Tapi aku nyaman tinggal di sini." Ujar Sungmin keras.

"Tapi aku tidak." Balas Kyuhyun tegas. "Kau mau apa sekarang, huh?"

Sungmin mengerut kesal lalu kembali ke dalam, meninggalkan Kyuhyun yang masih berdiri di depan pintu.

"Aku tidak akan pindah." Kata Sungmin tegas.

"Sayangnya kau harus pindah, Tuan Lee. Jika aku katakan pindah maka kau akan pindah. Jangan coba-coba membantah ucapanku lagi."

"Tapi—"

"Kemasi semua barang-barangmu. Bawa saja secukupnya. Aku tunggu kau di bawah. Kita akan ke apartemen barumu sekarang."

"Hey, aku tidak—"

"Sekali lagi kau membantah, maka kau harus siap dengan konsekuensinya."

'Shit!'

.

-KyuMin-

.

Kyuhyun benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Sebuah apartemen yang sangat mewah—atau terlalu mewah—dengan ukuran yang tidak bisa dibilang kecil—ataupun menengah—dengan perabot serta desain interior begitu indah dan berkelas bahkan juga terbebas dari kebisingan.

"Apa kau menyukainya?" tanya Kyuhyun setelah mereka tiba di ruangan tengah apartemen itu.

Sungmin mengangkat kepalanya lalu menatap sekelilingnya dengan malas-malasan. Apartemennya sangat bagus, bohong jika ia tidak menyukainya. Namun masalahnya ia tidak terbiasa dengan gaya hidup seperti ini. Apartemen ini begitu asingnya baginya, ia merindukan tempat tinggalnya yang lama.

"Yeah..." jawab Sungmin sambil menyeret kopernya ke tengah-tengah ruangan.

Tidak puas dengan jawaban Sungmin, Kyuhyun pun mendecak kesal.

"Kau tidak suka? Apa perlu aku carikan yang lebih bagus daripada ini? Kita masih punya waktu, aku akan menyuruh orang untuk mencarikan apartemen lain untukmu."

Sungmin berjengit tiba-tiba lalu memasang wajah puas sebisanya. Kyuhyun akan melakukan hal yang lebih gila daripada ini.

"Oh tidak, aku sangat menyukainya. Aku benar-benar suka. Apartemen ini sangat bagus. Bagus sekali."

Kyuhyun awalnya masih belum percaya, ia tahu Sungmin sedang memaksakan dirinya, pemuda ini tidak pintar berbohong.

"Ya sudah. Taruh barang-barangmu di kamar utama."

"Ka-kamar utama? Ta-tapi—"

"Apartemen ini hanya memiliki dua kamar, satu kamar utama dan satu lagi kamar tamu. Kau gunakan kamar utama."

Sungmin menatap Kyuhyun dengan ragu, jika ia tidur di kamar utama, lantas bagaimana dengan Kyuhyun? Apakah pria itu juga akan tinggal di sini?

"Aku akan tetap tinggal di rumahku." Kata Kyuhyun seolah bisa membaca pikiran Sungmin. "Aku tidak mungkin terus-terusan meninggalkan rumah keluargaku. Tapi aku akan selalu berkunjung ke sini, mungkin sehabis pulang kerja atau sebelum berangkat ke kantor. Aku akan selalu mengusahakan untuk mampir ke sini."

"Aku tinggal sendirian di sini?" tanya Sungmin tanpa berpikir terlbih dahulu.

Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya lalu melempar senyum jahilnya kepada Sungmin.

"Kenapa? Kau merasa kesepian? Tenang saja, aku akan sering-sering datang ke sini."

Sungmin mengerutkan keningnya, mati-matian menahan diri untuk tidak membalas ucapan Kyuhyun. Sebenarnya ia tidak terlalu peduli akan sesering apa Kyuhyun berkunjung ke tempat ini. Yang menjadi masalah baginya adalah apakah dirinya akan terbiasa tinggal di tempat yang besar dan mewah seperti ini?

"Sepertinya aku harus pergi. Aku akan pulang ke rumahku. Aku serahkan apartemen ini kepadamu. Kau boleh mengaturnya sesukamu, kau juga boleh menambahkan perabot yang kau butuhkan. Buatlah dirimu senyaman mungkin di sini."

Sungmin memandang ke sekeliling ruangan apartemen itu, sudah terlalu lengkap dan mewah, apa lagi yang mau ia tambahkan?

"Ehmm...sebelum kau pergi. Aku ingin berpamitan sebentar." Kata Sungmin.

"Pamit? Kemana?"

"Aku ada urusan. Kau masih ingat dengan perjanjian kita 'kan? Aku diberi waktu untuk diriku sendiri sampai jam sembilan malam."

Kyuhyun mengangguk ringan, "Oh, yang itu. Hm...tentu saja. Pergilah."

"Uhm...gomawo." kata Sungmin sambil membungkuk rendah.

"Sama-sama." Balas Kyuhyun pelan. Ia pun mengeluarkan dompetnya lalu mengambil sebuah kartu berwarna emas dari dalam sana. Ia menyerahkan kartu itu ke tangan Sungmin.

"Apa ini?" tanya Sungmin heran.

"Itu kartu debitku. Kau bisa menggunakannya untuk membeli semua kebutuhanmu. Untuk sementara kau pakai saja punyaku, besok akan aku buatkan satu atas namamu."

Sungmin tidak terima, ia segera meletakkan kartu debit itu ke tangan Kyuhyun kembali.

"Aku cuma butuh 300 ratus juta itu saja. Kau tidak perlu memberiku apa-apa lagi."

"Tapi aku ingin memberikan ini untukmu. Jangan menolak pemberianku." Kyuhyun menyerahkan kartu itu kembali.

"Maaf, tapi aku tetap tidak bisa menerimanya." Tolak Sungmin sekali lagi.

"Aku sudah tidak bisa menerima penolakan apapun lagi darimu, Lee Sungmin. Kau tidak ingin aku ingatkan apa dan bagaimana posisimu di sini, bukan? Jadi sebaiknya kau ambil kartu ini dan jadilah peliharaan yang baik. Itu bagus untuk keselamatanmu."

Sungmin akhirnya menyerah setelah mendengar gertakan terselubung itu, pada akhirnya tugasnya memang hanya taat dan patuh saja pada perintah sang majikan.

"Ba-baiklah." Dengan terpaksa diterimanya kartu itu.

"Anak pintar." Kata Kyuhyun tersenyum puas. "Kalau begitu aku pulang dulu, aku akan datang lagi nanti malam."

Kyuhyun mendekatkan wajahnya ke arah Sungmin lalu memulai ritual baru mereka.

"Mana ciumanku?" bisiknya menggoda.

Sungmin segera mengangkat wajahnya lalu menatap Kyuhyun dengan sangat enggan. Apakah harus berciuman?

"Ayo, mana ciuman perpisahannya?" tanya Kyuhyun sekali lagi.

Sungmin menelan ludahnya dengan paksa, lalu menjinjitkan kakinya. Dengan pelan dimajukan wajahnya ke arah Kyuhyun dan Chuuuu...

Bibir mereka bersentuhan selama beberapa detik. Sungmin segera menarik wajahnya kembali lalu menatap Kyuhyun dengan perasaan malu.

"Good job." Kata Kyuhyun senang. "Aku pergi dulu."

.

.

.

Setelah Kyuhyun pergi Sungmin segera bersiap-siap untuk pergi juga. Ia segera mengganti pakaiannya lalu mengenakan pakaian yang lebih santai. Usai mengganti pakaian, ia pun segera menghubungi petugas penjaga lobby apartemen agar memesankan taksi untuknya.

"Selamat sore Tuan Lee, taksi anda sudah datang." Sapa penjaga itu setelah ia sampai di lobby.

"Terima kasih banyak, ajushii." Balas Sungmin ramah.

.

-KyuMin-

.

"Sungmin-sshi." Suster Lee segera menghampirinya ketika Sungmin muncul dari ujung lorong rumah sakit. "Kau sudah datang?"

"Selamat sore, suster." Sapa Sungmin sambil tersenyum ramah.

"Apa kau kau baik-baik saja? Wajahmu kelihatan sangat pucat sekali." Kata suster muda itu khawatir.

"Aku memang kurang enak badan. Aku kehujanan saat pulang dari rumah sakit tempo hari. Tapi sekarang sudah agak lebih baikan. Oh iya, aku sudah mendapatkan uang untuk biaya operasi Ji Young."

"Eh? Benarkah? Kau sudah mendapatkannya?" Suster Lee segera mengajak Sungmin untuk duduk di bangku tunggu yang disediakan di sepanjang lorong. Mereka duduk di sana untuk mendengarkan cerita Sungmin lebih detil.

"Aku...aku mendapatkan pinjaman lagi dari perusahaan." Jelas Sungmin memulai ceritanya, ia memulainya dengan kebohongan. Lagipula akan sangat menyedihkan jika ia menceritakan kejadian sebenarnya. Suster Lee tidak perlu mengetahui apa yang terjadi dalam dua hari ini.

"Begitukah?" seru Suster itu tidak percaya. "Mereka memberikan pinjaman itu kembali? Bagus sekali, Sungmin-sshi. Orang-orang di perusahaanmu sepertinya sangat baik padamu."

Sungmin mengernyih, siapa yang baik di sini? Sejauh ini ia belum menemukan orang yang pantas ia sebut baik di sana. yang ia temukan malah seorang iblis berstelan jas dan kelakuannya yang begitu arogan. Pantaskah orang itu ia sebut baik?

"Kalau memang begitu aku sangat lega mendengarnya. Aku pikir kau sudah menyerah untuk mencari biaya operasi tunanganmu. Kau tahu, aku bahkan sengaja menyisihkan uangku untuk menambah biaya operasi Ji Young. Tapi sepertinya kau sudah tidak butuh, kau sudah mendapatkan uang itu, Sungmin-sshi. Aku senang mendengarnya." Kata Suster itu tersenyum tulus.

"Terima kasih suster Lee. Aku sudah tidak sabar untuk menunggu dia cepat-cepat sadar dari komanya. Ji Young sudah terlalu lama tertidur, aku sangat membutuhkannya. Jadi aku pun berusaha untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Aku memohon pinjaman pada perusahaan. Awalnya mereka menolak, tapi setelah aku membujuk mereka dan menjanjikan akan membayar dengan tepat waktu, mereka pun setuju dan memberikan pinjaman itu padaku." Kata Sungmin seolah sedang berfantasi. Ia sedang berbohong, ia bahkan tersenyum dan nyaris menangis bagai terharu seolah apa yang ia ceritakan itu nyata. Karena sejujurnya ia berharap itulah yang terjadi.

Suster Lee tersenyum senang, tampak salut dan terkesima dengan cerita fiktif itu. Ia tak tahu kenyataan pahit di belakang semua cerita itu.

"Sekarang, aku harus giat bekerja. Aku tidak boleh malas dan juga tidak boleh sakit. Makanya aku putuskan untuk istirahat seharian."

Suster Lee tersenyum lagi, agaknya ikut merasa lega jika Sungmin sudah bisa menyelesaikan masalah yang ikut memberati pikirannya itu.

"Syukurlah kalau begitu. Aku ikut senang. Hm, aku akan memberimu beberapa vitamin agar tubuhmu tetap bugar. Aku rasa kau sangat membutuhnya di saat-saat seperti sekarang, kau mungkin akan sering lembur dan pulang malam. Nanti kuambilkan yah?" kata suster itu bersemangat.

"Tidak usah repot-repot suster Lee, aku baik-baik saja."

"Jangan sungkan, aku akan sangat senang sekali jika kau mau menggunakannya. Kau pasti tidak ingin terlihat seperti orang sakit saat Ji Young terbangun dan melihatmu nanti 'kan?"

Hati Sungmin tergerak kembali, Ji Young sebagai motivasi tak pernah gagal membuatnya untuk selalu tegar menatap ke depan. Gadis itu—disaat tak terbangun sekalipun—selalu mendorong Sungmin untuk selalu tegar menjalani hidupnya. Ia memang sendiri menjalani semua ini, tapi ia yakin tangan Ji Young tengah menggenggam erat tangannya kini. Menguatkan, menyemangati, dan mendo'akan agar perjuangannya akan tidak akan pernah sia-sia.

"Ne, aku harus terlihat sehat saat Ji Young bangun nanti."

.

-KyuMin-

.

Sungmin menghempaskan tubuhnya ke sofa lalu meletakkan kedua kakinya di bahu kursi. Tidak sopan memang, toh nyatanya tidak ada siapa-siapa di ruangan ini, selain dirinya tentunya.

"Aku lelah..." gumamnya lemah. Ini lelah dalam artian sebenarnya, lelah secara fisik dan juga lelah secara batin.

Dengan antisipasi seadanya Sungmin memijit-mijit sendiri bahunya, berharap pegal dan penatnya bisa berkurang. Setelah dirasanya pijitan itu sedikit membantu, Sungmin beralih ke kepalanya, dipijitnya keningnya sebentar dengan gerakan memutar yang menyebar di sekitar kening dan pelipisnya.

Setelah itu Sungmin memutuskan untuk meninggalkan ruang tengah lalu mengambil kantong belanjaan yang dari tadi ia letakkan di atas meja. Sungmin membawa belanjaannya ke dapur. Setibanya di dapur ia segera mengeluarkan isi kantong tersebut lalu memisahkannya. Sebagian ia masukkan ke dalam kulkas sebagian lagi ia biarkan tinggal di atas meja dapur.

Puas dengan persediaan isi kulkas yang baru saja diisinya Sungmin segera mengambil bungkusan makanan yang tadi ia tinggalkan di atas meja. Ia membuka isi bungkusan tersebut lalu memindahkannya ke wadah tahan panas yang ia temukan di lemari gantung. Setelah itu ia memanaskan makanan itu ke dalam oven, tak lupa mengatur suhu dan waktunya terlebih dahulu.

Sambil menunggu makanannya dipanaskan Sungmin menyandarkan tubuhnya di kulkas dan mulai mengamati benda-benda di sekelilingnya.

Tadi ia sudah ke rumah sakit, ia sudah mengurus biaya operasi Ji Young. Jika tidak ada halangan operasi akan dilakukan satu minggu lagi. Sungmin akhirnya bisa bernapas dengan lega, setidaknya satu masalah sudah bisa ia atasi dengan baik. Sekarang ia hanya menyerahkan semuanya di tangan Tuhan, berharap Ji Young akan tetap kuat selama operasi berlangsung nanti.

"Hey," Sungmin terkejut mendengar ada suara lain menyapa dirinya, ia pun segera menoleh ke arah pintu dapur. Kyuhyun sudah berdiri di sana sedang menatap dirinya. Pria itu tersenyum padanya lalu berjalan santai menghampiri dirinya.

"Kau melamun." Kata Kyuhyun setelah berdiri di hadapan Sungmin.

Sungmin menegakkan tubuhnya yang sedang bersandar pada kulkas lalu sedikit bergeser untuk memberi jarak antara dirinya dengan Kyuhyun.

"Aku sedang menunggu makananku dipanaskan." Katanya sambil menunjuk oven yang masih menyala.

"Kau beli makanan? Diluar?" tanya Kyuhyun sambil mengangkat kedua alisnya, menunjuk oven itu dengan dongakan dagunya.

"Tadi aku mampir ke supermarket, aku beli beberapa kebutuhan dapur. Aku membeli seperlunya saja. Kulihat kulkasmu masih kosong, makanya kuputuskan untuk membeli beberapa bahan makanan untuk mengisinya. Maaf jika aku tidak minta izin terlebih dahulu."

Kyuhyun tertawa geli, "Sepertinya aku lupa menyuruh mereka mengisi kulkasnya. Kau harus repot-repot belanja karenanya."

"Tidak apa-apa, lagipula bahan-bahan yang kubeli tidak terlalu banyak."

"Lain kali kau cukup tuliskan apa-apa saja kebutuhanmu, nanti akan kusuruh orang untuk belanja."

"Aku lebih suka belanja kebutuhanku sendiri, aku sudah terbiasa melakukannya. Jadi kau tidak perlu menyuruh orang untuk melakukannya." Kata Sungmin tegas. Kyuhyun sepintas memperlakukannya bak seorang 'putri', padahal statusnya lebih pantas disebut sebagai seorang budak. Ia tidak ingin Kyuhyun bersikap baik hanya untuk menutupi kebusukannya. Lagipula ia memang sudah terbiasa melakukan segala sesuatunya sendiri.

Kyuhyun tampaknya sedang tidak ingin berdebat, ia mengalah dan membiarkan Sungmin melakukan apa yang ia suka.

"Lalu sekarang kau sedang memanaskan makan malam untukmu?" tanya Kyuhyun terfokus pada oven yang sudah selesai memanaskan makanan Sungmin yang ada di dalamnya.

Sungmin segera mengeluarkan wadah itu dari dalam oven lalu menyalin isinya ke atas piring.

"Kau sudah makan?" tanya Sungmin mencoba memulai pembicaraan sesantai mungkin, ia sedang berusaha menutupi perasaan gugupnya saat Kyuhyun sudah berada sedekat ini.

Kyuhyun berpindah ke belakang Sungmin, lalu memerangkapkan tubuh mungil itu di antara meja dan tubuh jangkungnya. Sedikit menundukkan kepalanya, ia mendekatkan bibirnya ke ceruk leher Sungmin.

"Memangnya kau punya apa untuk kumakan, hm?" bisik Kyuhyun selembut mungkin, tubuh Sungmin menegang sesaat.

Sungmin berusaha mengalihkan rasa gugupnya, ia meraih sendok lalu membuat kesibukan dengan mengaduk makanannya dengan benda tersebut. Kyuhyun tertawa rendah di telinganya, ia tersentak, suara tawa itu menggetar dan menghembuskan nafas hangat di kulit lehernya. Rasanya benar-benar aneh sekaligus menakutkan.

"Aku masih punya satu lagi. Mau kupanaskan untukmu?" tanya Sungmin yang masih saja gugup, sendok itu nyaris saja terlepas dari tangannya.

"Bukankah kau bilang itu untuk persediaan makanmu? Jika kau berikan itu untukku lalu besok kau makan dengan apa?"

"Aku masih punya telur dan roti untuk sarapan besok pagi. Lagipula aku bisa belanja lagi besok." Jawab Sungmin.

Kyuhyun diam sejenak lalu memindahkan tangannya ke perut Sungmin, ia memeluk pemuda itu dari belakang. Masih dengan posisi kepalanya yang dekat di leher Sungmin, Kyuhyun mengusapkan hidungnya ke kulit Sungmin lalu menyesapi aromanya.

"Kau wangi sekali, Sungmin-ah." Gumam Kyuhyun rendah.

Sungmin tak sadar sudah memiringkan kepalanya, hal itu memberi banyak ruang agar Kyuhyun lebih leluasa menjelajahi lehernya. Kyuhyun menyusuri leher itu dengan ciuman-ciuman lembut dan panas, pelan-pelan ia membawa bibirnya ke rahang Sungmin lalu memberikan sebuah gigitan kecil yang membuat Sungmin berjengit sadar.

Tuukk!

Sendok di pegangan Sungmin terlepas dan membentur meja, Kyuhyun menghentikan kegiatannya lalu menatap ke arah sendok itu sekilas. Setelah itu ia menatap Sungmin kembali, pemuda itu terlihat kaku dan gugup, tangannya mengepal gemetar.

"Kalau begitu panaskan satu untukku. Kebetulan aku tidak sempat makan di rumah. Aku juga lapar." Kata Kyuhyun pelan, berharap itu bisa mengurangi perasaan gugup Sungmin.

Perlahan Sungmin mengendurkan kepalan tengannya lalu menatap lurus ke atas meja, tubuhnya bagai lemas. Ia nyaris saja terperangkap lagi dalam kabut menakutkan itu, ia hampir tidak ingat dengan dirinya sendiri. Apa yang Kyuhyun lakukan tadi teramat berbahaya bagi dirinya, ia bisa kehilangan kendali secara tiba-tiba seperti tadi.

"Aku akan menunggumu di sofa." Gumam Kyuhyun pelan. Setelah itu ia melangkah pergi meninggalkan Sungmin di dapur.

"Urghh..." geram Sungmin setelah Kyuhyun pergi. Ia mengambil sendoknya kembali lalu meletakkannya ke atas piring. Kemudian ia berjalan menuju kulkas, menyiapkan makan malam untuk Kyuhyun.

Tiba-tiba langkahnya terhenti, Sungmin tertunduk menatap lantai tempatnya berpijak, lama sekali. Dan, benteng yang tadinya begitu kokoh itu pun runtuh seketika. Sungmin merosot ke lantai, bahunya berguncang hebat. Sungmin memeluk kedua lututnya dengan erat, ia benamkan wajahnya di sana, mengubur semua tangis kesedihan dalam-dalam.

"Ji Young-ie..." gumamnya menahan isak tangis. "Ji Young-ah...cepat bangun...oppa membutuhkanmu..."

.

-KyuMin-

.

Makan malam mereka berlangsung dalam keheningan. Kyuhyun tampaknya cukup menikmati makan malam yang Sungmin hidangkan untuk dirinya, sementara Sungmin tampak tidak peduli sama sekali. Mereka duduk berjauhan, dari ujung ke ujung mereka berjarak, seolah ada pembatas besar yang memisahkan keduanya.

Sambil makan sesekali Kyuhyun memperhatikan Sungmin dari ekor matanya, mengamati sosok yang kelihatan suka menyendiri itu dari ujung sofa.

"Kau habis menangis?" tanya Kyuhyun tiba-tiba, memutuskan bahwa perutnya sudah kenyang.

Sungmin menghentikan kunyahannya beberapa detik lalu menelannya.

"Apa aku terlihat seperti itu?" Sungmin balik bertanya sambil memasang wajah polosnya.

Kyuhyun tampak tidak suka melihat cara Sungmin mengelak.

"Yeah, aku lihat matamu agak merah dan sembab, seperti orang habis menangis." Sebut Kyuhyun sambil terus memperhatikan Sungmin.

Sungmin mengusap kedua matanya dengan satu tangannya yang masih bebas.

"Mungkin karena aku kurang istirahat, mataku jadi terlihat lelah seperti habis menangis."

Sungmin berbohong, Kyuhyun tahu itu. Siapa pun yang melihat Sungmin sekarang mungkin juga akan berpendapat yang sama dengan dirinya. Kenapa Sungmin tidak jujur saja, toh Kyuhyun sepertinya tidak berminat mencari tahu alasan kenapa ia harus menangis.

"Begitukah?"

Sungmin hanya menunduk tidak menjawab, ia memilih fokus pada makanannya.

"Kau tidak pintar berbohong, Sungmin-ah. Lain kali cobalah berakting yang lebih meyakinkan jika kau ingin berbohong di depanku."

Kyuhyun beranjak dari duduknya, lalu melangkah meninggalkan sofa. Namun sebelum itu ia berkata lagi,

"Satu hal lagi, bagimu aku mungkin seorang bajingan. Tapi adakalanya seorang bajingan bisa menjadi pendengar yang baik. Menangis sendiri tidak selalu menunjukkan bahwa kau itu kuat ataupun tegar. Kau tinggal di sini, kau sudah menjadi tanggung jawabku, apapun masalahmu akan menjadi perhatianku. Jangan bersikap seolah kau tertekan olehku, karena semua ini terjadi bukan karenaku saja. Kau yang menjual dirimu padaku, aku hanya membeli apa yang kau tawarkan."

"Aku hanya tidak terbiasa dengan semua ini." gumam Sungmin membela diri. Ia meletakkan piringnya ke atas meja lalu menatap Kyuhyun lekat.

"Aku lebih suka kau mengatakan 'belum' daripada 'tidak'. Jika kau mengatakan 'tidak' maka kau tidak akan pernah berusaha untuk membiasakan diri dengan apa yang kita lakukan sekarang. Buka matamu, lihat dimana kau sekarang."

"Aku terpaksa melakukan semua ini." kata Sungmin lagi.

Kyuhyun tersenyum sinis, "Bukan kah kau sendiri yang bilang bukan urusanku untuk tahu kenapa kau melakukan semua ini."

Sungmin terdiam kalah lalu menundukkan kepalanya makin dalam, kata-kata dan langkahnya benar-benar sudah terkunci sekarang. Ia tidak akan bisa asal bicara di hadapan Kyuhyun.

"Sudahlah, aku tidak mau pembicaraan seperti ini terulang lagi. Ini terakhir kalinya aku mengingatkanmu, Sungmin."

Setelah itu Kyuhyun pergi meninggalkan Sungmin sendirian di ruangan tersebut.

Sungmin masih duduk diam di sofa, tak bergerak sedikitpun. Kata-kata Kyuhyun sukses menusuk dan menambah dalam luka di hatinya selama ini. Ia tidak bisa membantah ataupun membela diri sama sekali. Kyuhyun benar, sepenuhnya benar. Dia berhak berkata seperti itu karena posisinya yang mengharuskan. Sedangkan posisi Sungmin yang jelas-jelas lemah memang tidak akan diuntungkan sama sekali.

"Menangis sendiri tidak selalu menunjukkan bahwa kau itu kuat ataupun tegar"

Ia ingat tadi Kyuhyun mengatakan hal itu padanya. Jika itu memang benar maka Sungmin semakin tidak berdaya.

'Menangis sendiri, huh? Kau memang mudah berkata seperti itu. Aku sudah tidak punya siapa-siapa.'

Satu-satunya orang tempatnya menangis kini sedang terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit.

"Ji Young-ie..." gumamnya semakin sedih. Perasaannya kian buruk saja. "Aku benar 'kan, chagi?"

'Semua ini untukmu, Ji Young-ah. Kuatkan aku untuk menghadapi manusia itu. Kuatkan aku Ji Young-ie...'

.

Tbc...

Banyak perubahan di sini, tapi g kentara bgt sih. Yang pernah baca novel aslinya pasti tau dimana perbedaannya. ^^

See You Next Chap!

.

NO COPAST KAY!

.

-Mami Ju2E-