Sebuah Remake dari novel yang berjudul A Romantic Story About Serena karya Shanty Agatha

.

Disclaimer:
Ide cerita dan sebagian besar plot diambil dari novel aslinya, disertai dengan penambahan dan pengurangan seperlunya dari saya. KyuMin is not Mine!

.

Warning:
OOC, Yaoi, Sex Activity(es), Typo(s), DLDR, de el el

.

Part 9

Hal pertama yang Sungmin lakukan saat ia terbangun adalah memeriksa jam tangannya.

"Sudah jam berapa ini?" gumamnya panik sambil menyipitkan kedua mata menatap jam tangannya. Pandangannya masih kabur karena terlalu lama tertidur, belum lagi efek pusing dan kondisi badan yang belum stabil membuat tubuhnya terasa berat untuk bergerak.

"Ini sudah jam 8 malam." Seseorang membantunya membaca jam dari arah seberang.

"Huh?" Sungmin mengangkat kepalanya. Ada yang aneh. Ruangan klinik perusahaan kenapa tiba-tiba terlihat seperti kamar apartemennya.

"Kau sudah di rumah." Kata orang itu lagi seolah menjawab rasa keterkejutannya. Sungmin menolehkan wajahnya ke arah orang itu. "Aku yang membawamu pulang."

Sungmin terperangah, bagaimana bisa Kyuhyun membawanya pulang dalam keadaan tidak sadar? Dan yang terpenting bagaimana pandangan orang-orang di kantor saat Kyuhyun membawanya pulang. Oh Tuhan, jangan katakan Kyuhyun melakukannya di depan semua orang.

"Aku meminta bantuan Dokter Kim. Jadi tidak akan ada yang mengira bahwa aku yang membawamu pulang. Kau tenang saja." jelas Kyuhyun di sela-sela kegiatannya.

'Apa yang sedang dia lakukan?' Sungmin menatap Kyuhyun sambil bertanya-tanya. Pria itu berbicara sambil memunggungi dirinya dan tampak sedang mengerjakan sesuatu.

Kemudian Kyuhyun berbalik sambil memegang sebuah gelas berisikan air minum dan sebuah piring kecil yang berisikan empat butir obat di atasnya.

"Duduklah. Dokter Kim sudah menyiapkan obat untukmu. Dia menyuruhku untuk meminumkannya padamu. Sekarang kau minum ini, setelah itu lanjutkan tidurmu."

Sungmin menatap Kyuhyun dan obat yang ada di tangan pria itu secara bergantian.

"Atau sebaiknya kau ingin makan dulu? Kau lapar? Aku sudah menyiapkan bubur untukmu."

Sungmin hanya diam termangu menanggapi perhatian Kyuhyun yang tidak seperti biasanya.

"Kau membuatnya?" tanya Sungmin polos.

Kyuhyun agak terkejut mendengar pertanyaan itu, sesaat kemudian ia menggeleng. Mana pernah ia membuat makanan, meski itu hanya bubur sekalipun.

"Tentu saja tidak. Aku menyuruh orang membelikannya untukmu. Kau tunggu sebentar, biar aku panaskan bubur itu untukmu." Katanya sambil beranjak meninggalkan kamar Sungmin.

.

.

Kyuhyun kembali lagi ke kamar itu sambil membawa satu nampan berukuran sedang dan sebuah mangkuk putih dan segelas air putih di atasnya. Ia meletakkan nampan itu di sebelah piring kecil tadi.

Sungmin segera bangkit dari posisi tidurnya lalu bersandar pada kepala tempat tidur.

"Aku akan menyuapimu." Kata Kyuhyun sambil membawa mangkok yang berisikan bubur itu ke atas tempat tidur.

"Tidak usah, aku masih bisa melakukannya sendiri." Tolak Sungmin halus.

"Tidak apa-apa." Balas Kyuhyun tidak mempedulikan penolakan dari Sungmin. Ia segera mengambil satu sendok bubur itu dengan pelan lalu segera mengarahkannya ke mulut Sungmin dengan hati-hati.

"Tapi aku masih bisa—"

"Satu kata lagi dan aku akan menciummu saat itu juga." Ancam Kyuhyun dengan nada santai, ia masih menahan sendoknya di depan mulut Sungmin. "Ayolah, jangan mempersulit dirimu sendiri. Makan bubur ini dengan tenang maka kau akan hidup dengan damai, oke?"

Sungmin hanya bisa tersenyum dengan masam, disambut dengan tawa rendah Kyuhyun yang begitu khas. Pada akhirnya Sungmin membiarkan Kyuhyun menyuapi dirinya.

"Apakah buburnya enak?" tanya Kyuhyun sambil menunggu Sungmin menelan buburnya, satu suapan sedang menanti di ujung sendok yang ia pegang.

Sungmin mengangguk puas, lalu menyunggingkan satu senyum simpulnya. "Seharusnya enak, tapi aku tidak bisa merasakan apa-apa. Selera makanku jadi buruk ketika aku sedang sakit." Ungkapnya dengan jujur.

Kyuhyun pun mengangguk penuh pengertian. Well, apa yang sedang dialami oleh Sungmin itu memang hal yang wajar.

"Tapi setidaknya bubur ini lebih aman untuk aku konsumsi sekarang." tambah Sungmin. Kyuhyun memberinya satu suapan lagi.

Kyuhyun mengangguk setuju, bubur memang makanan terbaik untuk orang sedang sakit. Untunglah Sungmin menyadari hal itu, sebagai orang yang sedang sakit Sungmin terbilang tidak rewel.

"Aku janji setelah kau sembuh, aku akan mengajakmu makan malam di tempat yang menyediakan makanan yang paling enak di kota ini." kata Kyuhyun tiba-tiba.

Sungmin terperangah dibuatnya, kenapa Kyuhyun mendadak terlalu baik seperti ini?

"Kenapa?" tanyanya tidak habis pikir, seingatnya ia tidak sekalipun mengucapkan hal-hal yang bisa membuat Kyuhyun berpikir untuk mengajaknya makan malam di luar.

"Kenapa apanya?" Kyuhyun bertanya balik.

Sungmin menerima satu suapan lagi dari Kyuhyun, masih dengan tatapan herannya ia menatap pria itu.

"Kenapa tiba-tiba kau ingin mengajakku makan malam?"

"Motivasi...mungkin." Kyuhyun mengangkat bahunya. "Supaya kau lekas sembuh." Jawabnya logis.

"Ohh..." Sungmin mengangguk pelan, menganggap dirinya sudah cukup puas dengan alasan yang terlalu sederhana itu.

"Aku tidak suka melihatmu sakit." Gumam Kyuhyun terdengar samar di telinga Sungmin.

"Huh?"

"Jika kau sakit, aku tidak bisa menyentuhmu." Katanya sambil mengerling nakal ke arah Sungmin, senyuman miring pun tak luput dari bibirnya.

'Dasar manusia mesum!' umpat Sungmin dalam hati.

"Harusnya aku sudah bisa menduganya," ujar Sungmin dengan nada jengkel, namun ia masih patuh menerima suapan dari Kyuhyun.

"Cepat sembuh, Sungmin-ah." Kata Kyuhyun pelan, ia terdengar serius kali ini. Matanya menatap Sungmin dengan lembut dan hangat, tidak seperti tadi yang terkesan bercanda dan hanya menggoda saja.

Sungmin terdiam menatap pria yang ada di hadapannya itu, ia bingung harus berkata apa. Sikap dan perhatian Kyuhyun terasa berbeda dan begitu spesial kali ini.

"Aku tidak suka melihat kau yang seperti ini." kata Kyuhyun sambil mengusapkan tangannya yang bebas ke pipi Sungmin yang masih hangat. "Kau hampir membuatku cemas."

Sungmin terdiam kaku, dirasakannya tangan hangat Kyuhyun yang menyapu pipinya dengan lembut. Ini berbeda, tidak seperti belaian tangan Ji Young—kekasihnya. Seperti inikah rasanya diperhatikan dengan segenap perasaan? Hatinya begitu nyaman diperlakukan seperti ini. Kenapa neraka itu tiba-tiba terasa sejuk?

"Kau masih mau lagi?" pertanyaan Kyuhyun menginterupsi angan Sungmin yang beberapa detik lalu masih terbuai dalam belaian hangat tangan Kyuhyun.

Sungmin menatap mangkuk bubur yang ada di tangan Kyuhyun. Ia sudah menghabiskan setengahnya, namun ia sudah merasa kenyang.

"Aku sudah kenyang," katanya sambil menyingkirkan tangan Kyuhyun dari pipinya.

"Kalau begitu kau minum obatmu."

Kyuhyun meraih piring kecil yang ada di atas meja nakas, lalu mengambil obat yang ada di sana dan menyerahkannya ke tangan Sungmin. "Kau akan merasa lebih baik setelah meminumnya."

Sungmin segera meminum obat tersebut tanpa ada protes sama sekali. Setelah itu ia kembali berbaring, sedangkan Kyuhyun meninggalkan kamarnya sambil membawa nampan yang berisikan gelas dan piring kecil serta mangkuk bubur tadi.

Tidak beberapa lama kemudian Kyuhyun kembali ke kamar itu, ia membawa sebuah tas laptop beserta map yang bertuliskan nama perusahaannya.

"Tidurlah, aku akan menemanimu di sini."

Sungmin hanya diam sambil menatap pria yang sedang sibuk menghidupkan laptopnya tersebut.

"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Sungmin pelan. "Bukankah kau juga butuh istirahat. Besok kau harus masuk kerja."

"Yang sakit itu kau, jadi perhatikan saja dirimu sendiri. Aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda hari ini. Tidurlah."

"Maafkan aku, aku sudah merepotkanmu." Gumam Sungmin merasa tak enak hati. Kyuhyun terpaksa meninggalkan pekerjaannya karena dirinya.

"Kau minta maaf karena sakit?" Kyuhyun menoleh ke arahnya, lengkap dengan ekspresi heran dan tidak menyangka sama sekali. "Aku tidak suka mendengar permintaan maaf semacam itu. Tidak ada yang perlu dimaafkan, lagipula aku adalah salah satu penyebab kenapa kau bisa sakit seperti ini."

Setelah itu Kyuhyun memfokuskan perhatiannya pada layar laptop yang ada di hadapannya. Sungmin yang tanpa harus disuruh dua kali memutuskan untuk menuruti perintah Kyuhyun. Ia merebahkan tubuhnya kembali lalu menarik selimutnya hingga dada, kemudian mencoba untuk melanjutkan tidurnya.

"Selamat malam, tuan Cho. Terima kasih." kata Sungmin singkat sebelum akhirnya ia benar-benar terlelap.

.

-KyuMin-

.

Sungmin terbangun keesokan paginya dengan keadaan yang tidak lebih baik. Demamnya semakin parah,tubuhnya menggigil hebat lantaran suhu di tubuhnya yang cukup tinggi. Ia terus-terusan mengerang tidak nyaman.

Kyuhyun yang kebetulan sudah bangun dan sedang bersiap-siap berangkat ke kantor segera saja menghampiri Sungmin dan mengecek keadaannya.

Panik merayap dengan cepat ketika Kyuhyun merasakan panas tinggi di dahi Sungmin. Ia segera bertindak cepat dan menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas. Ia segera menghubungi Heechul. Sambil menunggu panggilannya tersambung Kyuhyun berjalan ke dapur dan mengambil sebuah wadah cembung lalu mengisikan air ke dalamnya.

"Hyung, kondisinya semakin parah saja. Demamnya tinggi sekali." Teriak Kyuhyun panik setelah Heechul mengangkat teleponnya. "Apa yang harus aku lakukan?"

Heechul pun memberikan instruksi sebisanya, Kyuhyun segera bergegas kembali ke kamar sambil membawa wadah yang sudah berisi air tadi bersamanya. Ia melakukan semuanya dengan cepat dan sesuai dengan apa yang Heechul arahkan.

"39 derajat!" teriak Kyuhyun panik, "Hyung, ini tinggi sekali. Sebenarnya obat macam apa yang sudah kau berikan? Kenapa demamnya bisa setinggi ini?" Kyuhyun semakin uring-uringan. Termometer yang tadinya ia letakkan di mulut Sungmin ia jatuhkan begitu saja. ia semakin cemas, ia tidak pernah berada dalam situasi seperti ini.

Heechul tampaknya masih bisa tenang menghadapi kepanikannya adik sepupunya, ia memberikan instruksi lain. Kyuhyun berusaha mendengarkan dengan seksama.

"Baik, aku akan meminumkannya lagi. Aku harap kali ini obat itu bekerja dengan baik." Ujarnya dengan kesal. "Huh? Apa?" Kyuhyun terbelalak mendengar instruksi selanjutnya, "Hyung, apa kau sudah—. Oke...oke aku akan melakukannya. Tapi aku aku harap kau segera ke sini, aku tidak bisa mengatasi ini seorang diri. Baik...akan aku lakukan. Ku tunggu, hyung."

Kyuhyun segera mengakhiri percakapan dan bergegas menghampiri tempat tidur dimana Sungmin terbaring lemah dengan keadaan menggigil yang cukup parah. Kyuhyun tidak punya pilihan lain lagi selain melakukan apa yang hyung-nya instruksikan. Namun sebelum itu ia menghubungi sekretarisnya dan memberikan sederetan tugas yang akan ia bebankan kepada jajaran direksinya untuk sementara waktu. Ia tidak akan sempat datang ke kantor hari ini, Lee Sungmin benar-benar akan menyita semua perhatiannya mulai detik ini juga.

"Sungmin...Sungmin-ah..." panggil Kyuhyun pada Sungmin yang meringguk sambil memeluk dirinya sendiri di bawah selimut. Rupanya Sungmin sudah tidak kuat melawan suhu tubuhnya.

"Unghhh...kepalaku sakit...tubuhku sakit..." erang Sungmin lemah.

"Aku tahu, aku akan memandikanmu, kau akan baik-baik saja setelah ini, ne?"

"Tidak, aku tidak akan kuat." Tolak Sungmin.

Kyuhyun tidak mempedulikan protes dari Sungmin, ia segera menanggalkan pakaian yang melekat di tubuh Sungmin hingga pemuda itu telanjang dada.

"Kau mau apa?" protes Sungmin sambil berusaha menyingkirkan tangan Kyuhyun yang sedang membuka baju tidurnya.

"Aku harus melepas semua pakaian ini, aku harus memandikanmu. Dokter Kim yang menyuruhku, jadi jangan membantah lagi." Tukas Kyuhyun dengan cepat.

Pada akhirnya Sungmin hanya bisa pasrah saat Kyuhyun memapahnya berjalan ke kamar mandi, Kyuhyun membimbing tangannya dan merangkul pundaknya dengan hati-hati. Setibanya di kamar mandi Kyuhyun mendudukkan tubuh Sungmin di dalam bathub, kemudian menyalakan keran air dingin dan mengisinya.

Sambil menunggu air penuh, Kyuhyun melepas pakaian yang masih melekat di tubuh Sungmin. Sekarang pemuda itu duduk telanjang di dalam bathub tersebut.

Sungmin sempat berjengit saat air dingin itu mengguyur tubuhnya, ia pun menggelinjang hendak keluar dari dalam bathub tersebut, namun Kyuhyun segera menahan dadanya sehingga Sungmin harus terpaksa diam pada posisinya semula.

"Dingin sekali..." erangnya lemah.

"Sabar, sedikit lagi. Ini tidak akan lama." bujuk Kyuhyun sambil menyeka wajah Sungmin dengan air dingin.

"Sudah cukup...ini dingin sekali..." Sungmin semakin tidak tahan berada lama-lama dalam bathub tersebut, bibirnya gemetar menahan dingin.

Kyuhyun segera menarik sebuah handuk dari gantungannya lalu menarik tubuh Sungmin kemudian menutupi tubuhnya dengan handuk tersebut. Dengan gemetar Sungmin mencengkeram bagian depan kemeja Kyuhyun dan berusaha mencari-cari kehangatan di sana. Sungguh ia tidak kuat melawan dingin seperti ini. Ia segera memeluk pinggang Kyuhyun segera setelah Kyuhyun mengeluarkan tubuhnya dari dalam bathub, Sungmin mengeratkan pelukannya dan berharap dinginnya segara berkurang.

"Bawa aku keluar dari sini, please. Aku sudah tidak kuat lagi..." kernyihnya memohon.

Kyuhyun segera saja memapah tubuhnya keluar dari kamar mandi lalu segera membawa Sungmin kembali ke tempat tidur dan membaringkannya di sana. Ia pun bergegas memakaikan Sungmin piyama baru kemudian menyelimuti tubuhnya setelah itu.

"Apakah masih dingin?" tanya Kyuhyun makin cemas, wajah Sungmin memang sudah tidak merah seperti saat ia terbangun tadi, tapi wajahnya yang semakin pucat ditambah lagi dengan keadaan yang masih menggigil hebat malah menimbulkan kekhawatiran baru bagi Kyuhyun. Ia berharap Heechul tidak salah memberikan arahan kepada dirinya.

"Dingin sekali..." gumam Sungmin kian lemah, matanya menatap sayu pada Kyuhyun yang duduk cemas di sampingnya.

"Bertahanlah, sebentar lagi dokter Kim akan datang. Kau pasti akan baik-baik saja, Sungmin. Sekarang kau minum dulu obatmu, oke?" Kyuhyun mengambil obat yang sama seperti kemarin di meja nakas lalu meminumkannya kepada Sungmin. Dengan susah payah Sungmin menelan semua obat itu dan berbaring kembali setelah Kyuhyun memberinya minum.

Keadaan Sungmin sudah agak lebih baik setelah itu, Kyuhyun mencuri waktu untuk mengganti pakaiannya yang basah dengan kaos yang lebih santai. Sungmin memperhatikan kegiatan tersebut dari tempat ia berbaring.

"Kyuhyun..." panggil Sungmin lemah.

Kyuhyun segera berbalik dan melempar kemejanya ke lantai dan bergegas menghampiri Sungmin.

"Kau butuh sesuatu?" tanya Kyuhyun sambil meraih tangan Sungmin lalu menggenggamnya erat.

Sungmin menggeleng, "Kenapa kau masih ada di sini? Kau...tidak ke kantor?"

Kyuhyun tersenyum hambar lalu mengusap-usapkan jempolnya di punggung tangan Sungmin.

"Aku tidak akan bisa bekerja dengan tenang jika keadaanmu seperti ini. Aku bisa mengacaukan semuanya." Jelas Kyuhyun dengan lembut.

"Aku sudah tidak apa-apa. Kau bisa meninggalkanku sekarang."

"Kau masih sakit. Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian di sini. Aku akan menjagamu, aku akan merawatmu, Sungmin."

"Aku sudah merepotkanmu. Maafkan aku, Kyuhyun." Gumam Sungmin dengan suaranya yang terdengar parau.

Tangan Kyuhyun berpindah ke pipinya Sungmin lalu mengelusnya dengan lembut.

"Sudah kukatakan kau tidak boleh meminta maaf padaku dalam keadaan sakit seperti ini. Kau milikku, Lee Sungmin. Apapun yang terjadi padamu sudah menjadi tanggung jawabku, termasuk jika kau sakit seperti sekarang. Aku akan mengerahkan segala cara untuk kesembuhanmu. Kau mengerti?" jelas Kyuhyun sambil tersenyum tulus.

Untuk pertama kalinya Sungmin membalas senyuman Kyuhyun dengan tak kalah tulusnya, ia melakukannya tanpa ada paksaan meski keadaannya sedang lemah tak berdaya. Senyumnya mengembang sempurna, persis seperti senyuman yang Kyuhyun lihat saat pertama kali ia mengenal Sungmin di ruang pameran waktu itu. Jujur ia sangat mendambakan hari dimana ia bisa melihat senyuman itu kembali, dan hari ini ia mendapatkannya.

Kyuhyun menundukkan tubuhnya lalu mendekatkan wajahhya kepada Sungmin. Ia menatap pemuda itu dengan lekat dan membiarkan kekaguman tampil sesaat di wajahnya yang masih diliputi perasaan cemas itu.

Pelan-pelan ia mengarahkan bibirnya ke Sungmin. Seolah meminta persetujuan ia menatap Sungmin, memohon agar bibirnya diizinkan untuk berlabuh barang sebentar saja.

Sungmin menyetujui dalam diamnya, ia memejamkan matanya dan menunggu Kyuhyun meluruskan niatnya. Bibir mereka bertemu melalui sebuah kecupan lembut dan begitu innocent, tidak menuntut dan terkesan begitu hati-hati dan penuh kasih.

Kyuhyun mendesah, refleks memposisikan tubuhnya yang tadinya berada di samping Sungmin kini berpindah nyaris menindih tubuh pemuda mungil yang tengah sedang sakit itu.

Sedikit demi sedikit letupan gairah mulai menyeruak di sekitar mereka, entah siapa yang memulai namun kini ciuman itu berganti menjadi lumatan yang begitu sensual dan mengejar. Kyuhyun menggigit bibir atas Sungmin lalu menariknya sehingga membuat Sungmin tergoda untuk membalas ciumannya dengan intesitas yang tak kalah besar pula. Sungmin dengan tenaga seadanya hanya bisa menggerakkan lidahnya ketika Kyuhyun menginvasi kedalam mulutnya dan mulai mengerjainya dengan liar dan sensual.

Gairah Kyuhyun kian tersulut, tangannya berpindah mengalung di kedua sisi pinggang Sungmin dan menariknya dengan posesif. Dada mereka beradu, nafas keduanya menderu, saling mengejar satu sama lain, panas menyapu wajah mereka dan seketika itu pula Kyuhyun memutus kontak bibir mereka. Ia terengah dalam kecemasan, sedangkan Sungmin terengah dalam kebingungan.

"Ya Tuhan..." desah Kyuhyun memeluk tubuh Sungmin dengan sesal. "Apa yang sudah kulakukan? Kau sedang sakit, dan aku...aku malah...sial!" geram Kyuhyun begitu kesal seraya meremas ujung bantal di kepala Sungmin.

Sungmin masih terengah mengatur napasnya, ia dapat merasakan tubuh Kyuhyun bergetar seperti sedang menahan sesuatu yang ingin menyelesak keluar dari dalam tubuhnya. Pria ini sedang terbakar oleh gairah, dan ia sedang berusaha keras untuk menahan demi dirinya yang sedang sakit ini. Ia tahu Kyuhyun pasti amat tersiksa. Ketika mangsanya ada di depan mata, ia harus menahan diri untuk tidak menyantap mangsanya saat itu juga. Tiba-tiba saja Sungmin merasa kasihan dan iba, ia tidak sampai hati melihat Kyuhyun menahan hasratnya seperti ini. Lagipula...

Sungmin mengangkat tangannya lalu meletakkannya di punggung Kyuhyun.

"Kyuhyun-ah..."bisiknya parau, "Aku masih kedinginan...bantu aku menghangatkan tubuhku." Pintanya dengan lembut.

"Apa?" Kyuhyun terbelalak tidak percaya.

Sungmin menguatkan hatinya, ia tidak boleh mundur. Ini imbalan karena Kyuhyun sudah mau merawatnya selama sakit.

"Hangatkan tubuhku...dengan tubuhmu."

"Kau sedang sakit..." geram Kyuhyun tak tega.

Sungmin tidak mempedulikan semua itu. Ia memindahkan tangannya ke leher Kyuhyun lalu memeluknya dengan erat.

"Aku tahu kau membutuhkanku," ia bicara seperti bukan dirinya, Sungmin tahu ini bukan dirinya. "Begitupun juga dengan diriku, jadi lakukanlah. Aku akan baik-baik saja." bujuknya dengan lembut ke telinga Kyuhyun.

"Sungmin..."

"Tidak apa-apa Kyuhyun-ah. Tidak apa-apa."

Kyuhyun akhirnya tak bisa mengalahkan egonya, ia menyerah dan membiarkan nafsunya memimpin semua pergerakannya di atas tubuh Sungmin yang masih lemah. Kyuhyun melepas semua pakaian yang melekat di atas tubuhnya, ia benar-benar telanjang di hadapan Sungmin. Masih memikirkan keadaan pemuda yang tengah sakit itu, Kyuhyun tidak segera menelenjangi tubuh Sungmin, ia hanya melepas celana piyama pemuda itu saja dan membiarkan baju tidur itu tetap melekat di badannya. Ia tidak mau hal yang lebih beresiko lagi datang setelah ini.

"Ini akan sakit, aku sudah tidak sempat mempersiapkanmu." Jelas Kyuhyun sambil membuka paha Sungmin dan memposisikan kejantanannya di depan sasaran.

Sungmin meringis ngeri membayangkan seperti apa rasa sakitnya kelak. Namun ia tidak bisa menunjukkannya di hadapan Kyuhyun. Pria ini bisa saja urung dan membatalkan niatnya semula. Sungmin sudah menyiapkan dirinya, percuma saja ia bertahan sekuat ini jika pada akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk tidak melanjutkan apa yang sudah mereka mulai pagi ini.

"Aku akan menahannya." Geram Sungmin memantapkan dirinya.

Kyuhyun mengarahkan kepala kejantanannya di pintu lubang Sungmin dan menggesek-gesekkan bagian tersebut dengan sisi terluar lingkaran sempit itu. Sensasi geli namun liar memupuk secara perlahan birahi Sungmin. Dalam keadaan sakit seperti ini pun ia masih tidak bisa menolak bagaimana arus birahi itu menariknya secara konstan dan terus menerus. Lambat laun, ia yakin dirinya akan tergoda. Sungmin sadar dirinya hanya tinggal menunggu waktu saja untuk meledak dan tenggelam dalam pusaran gairah yang Kyuhyun ciptakan untuk dirinya.

"Mhhmmm..." Sungmin mengerang lunak, Kyuhyun menyatukan tubuh mereka secara perlahan dan sabar. Rasa nyeri yang merobek pun datang dengan tidak tanggung-tanggung. Dilawannya rasa sakit itu dengan segenap tenaga tersisa, ia mengerang dan menggigit bibirnya ketika kesakitan tak pelak menuntutnya harus berteriak.

'Sakit sekali...'

"Sedikit lagi, sayang." Bisik Kyuhyun menenangkan. Ia tetap mendorong dengan perlahan, penyatuan mereka begitu terkesan sakral dan hati-hati.

"Unghh..." Sungmin menggeram kesakitan, milik Kyuhyun menghujam dengan tepat di lubangnya yang sempit dan tak siap.

"Ya Tuhan, kenapa rasanya menakjubkan seperti ini..." gumam Kyuhyun ketika mulai bergerak maju mundur secara perlahan.

"Ahhh...h-haa! Unghh!" Sungmin berusaha keras meredam jeritan kesakitannya.

Kyuhyun tak kuasa melihat Sungmin begitu berusaha untuk mendistraksi diri dari rasa sakit yang ia sebabkan. Ia pun tak ingin menikmati semua ini sendiri, Sungmin harus mengecap kenikmatan yang kini tengah ia rasakan.

"Bertahanlah sayang, ini tidak akan lama. Aku akan menemukannya, aku akan membuat kau juga menikmatinya." Bujuk Kyuhyun sambil terus bergerak dengan pelan dan teliti. Ia mencari titik yang tepat dan strategis itu, ia harus menemukannya, menghujaninya dan membuat Sungmin melayang bersama dirinya.

"Ahhh...ouhh...mmhhmm..." Sungmin memeluk punggung Kyuhyun kian erat, panas tubuh mereka menyatu dan saling menyebar ke tubuh masing-masing. Mereka berdua menyatu dalam pelukan yang begitu intim, seolah tak akan ada celah yang bisa diisi di antara keduanya.

Kyuhyun tidak pernah sesabar ini saat sedang bercinta dengan seseorang, namun ia juga tidak pernah segila ini mendambakan tubuh seseorang berada dalam rengkuhannya hingga rasanya sulit untuk ia lepaskan. Sungminlah orang pertama yang membuat dirinya merasakan hal seperti ini.

"Ahh!" Sungmin tersentak, kuku-kuku jarinya menekan kulit punggung Kyuhyun dengan kuat, tangisan penuh kenikmatan lolos sudah dari bibirnya. Kyuhyun sudah menemukan apa yang ia cari, ia menyerangnya lagi dan lagi. Menyudutkan Sungmin hingga di jurang orgasme yang paling dalam.

"Lihat, sayang. Aku menemukannya." Gumam Kyuhyun rendah di telinga Sungmin. Ia pun menyapukan bibirnya ke belakang telinga Sungmin lalu turun ke garis rahang dan dengan sensual mencumbui leher Sungmin yang begitu mulus tak ternoda. Ia akan meninggalkan banyak tanda di sana.

"Mhhm..haaa...ouhh!" Sungmin melengkungkan tubuhnya, kegiatan Kyuhyun di sekitar lehernya membuat libidonya kian membludak dan terus mendesak. Ia sudah berada di ujung, sementara Kyuhyun belum berniat memberikan akhir yang ia harap-harapkan. "Kyuhyun...ahh..."

Kyuhyun terus menggoyangkan tubuhnya, membiarkan kejantanannya keluar dan masuk dengan pelan dan menyiksa.

"Kyuhyun..." panggil Sungmin semakin tak tahan, ia ingin klimaks sekarang juga.

"Sedikit lagi sayang, bersabarlah..." sahut Kyuhyun mulai mempercepat tempo gerakan pinggulnya. Sungmin menggeram frustasi, ia memeluk Kyuhyun kian erat dan membiarkan pria itu terus bermain di lehernya. Ia memilih untuk pasrah, ia tidak peduli entah dimana dirinya akan klimaks nanti, asalkan Kyuhyun tetap seperti ini, menghujaninya dengan kenikmatan yang bertubi-tubi.

"Ahh...h-haah...Kyuhyun...K-kyuhyun—Ahhnn!"

Kyuhyun segera mengunci mulut Sungmin, meredam erangan orgasme pemuda itu dengan lumatannya yang begitu dalam dan bergairah. Sungmin mencengkeram punggungnya dengan begitu kuat, menandakan betapa hebatnya orgasme yang ia ledakkan. Sampai akhirnya sisa-sisa orgasme itu mulai menghilang, tubuh Sungmin pun terkulai. Ia terhempas tak berdaya di bawah tubuh Kyuhyun dengan napasnya yang memburu. Matanya terasa berat dan kelelahan yang luar biasa mulai menyerang. Ia berada pada batas akhir kesadarannya, ia sakit, tubuhnya tidak akan kuat diajak bercinta seperti ini.

"Terima kasih..." gumam Sungmin setengah sadar sambil mengatur napasnya.

"Tidak sayang...akulah yang harus berterima kasih padamu." Bisik Kyuhyun lembut seraya menghujani wajah Sungmin dengan ciuman penuh kasih.

'Apa yang sudah kau lakukan padaku, Lee Sungmin?'

Kyuhyun semakin sadar, keadaan kini malah berbalik. Bukan dirinya yang akan menguasai Sungmin, namun Sungmin lah yang akan—segera—menguasai dirinya. Cepat atau lambat.

"Aku sudah kalah..." bisik Kyuhyun pelan seiring terlelapnya Sungmin dalam pelukannya.

.

.

Tbc

Hayyyyy!

Sedikit lebih cepat dari yg biasanya. Semoga memuaskan.

Terima kasih buat yg udah ninggalin review di chapter sebelumnya.

Love U All!

See You Next Chap! ^^

.

NO COPAST KAY!

-Mami Ju2E-