copyright and disclaimer on chapter 1

...

A/N : keterbatasan pemilihan kata, penggunaan kalimat yang terkesan berulang, typo, abal, alur melewati batas kecepatan maksimal dalam penulisan cerita dan kecacatan lainnya adalah bentuk ketidak sempurnaan saya sebagai Author biasa. Mohon di maklumi dan author akan lebih berterima kasih jika review yang diberikan bisa membangun. (meski saya tidak yakin bisa sempurna 100% tapi tak ada salahnya untuk mencoba.)


Death Liger melangkah santai menembus hutan. Setelah menerima penjelasan dari Kiyoteru sebelumnya, kini Miku dan Kaito memulai perjalanan mereka untuk mencari dua Elemental Beast yang lain. Tetapi sebelum itu, mereka diberi pesan agar mengunjungi kerajaan Limbum dan memperingatkan mereka akan bahaya yang tengah mengintai. Sehingga keduanya mengawali rute mereka bersama Liger menuju selatan, tempat di mana ibu kota kerajaan tersebut berdiri.

"Wah! Kaito! Coba lihat, ada danau!" seru Miku yang kini menempelkan wajah di dinding kokpit yang merefleksikan semua penglihatan Liger secara normal. Manik mata berwarna hijau tosca itu membulat lucu dengan efek berkaca-kaca. Kaito di kursi pilot utama tersenyum saat melirik Miku di belakangnya. Pasti di pikiran gadis itu sekarang adalah ia ingin bermain air. Yah, Miku sangat suka air. Meski dia sebuah mesin, dia sangat menyukai air yang mana pada umumnya mesin-mesin akan mengalami konsleting kecuali mereka yang memang dibuat untuk dipergunakan dalam perang bawah laut.

Untuk sejenak Kaito tetap mengendalikan Liger agar tetap berjalan sesuai dengan jalur rute mereka. Hingga tiba-tiba kucing itu berhenti. Kaito yang heran mencoba menggerakkan tuas kendalinya. Tetap saja, kucing besi itu seperti kehabisan bahan bakar. Pemuda itu menggaruk-garuk kepala sambil keheranan. "Berdasarkan penjelasan paman, Liger bergerak menggunakan energi fusi dari Elemental Beast core miliknya, tapi mengapa sekarang beberapa sistim tiba-tiba mati?"

Rasa penasaran Kaito terjawab saat…

"Grrr… grrr… grrr…" suara geraman mecha itu terdengar aneh.

"Liger… sedang tidur?" tengok Miku yang melongok ke depan dari kursi belakang. Kaito mengernyit, apa mungkin mesin bisa tidur?

"Ha? Tidur? Apa ia bisa tidur?" Miku mengangguk.

"Terakhir kali aku menyatu dengannya, ia berkata selama tiga hari ini ia kurang tidur," pemuda itu menatap Miku dengan alis datar. "ia dan Ayah menikmati acara TV tengah malam, begitu dia bilang." ucap gadis berkuncir dua itu sambil meletakkan telunjukknya di bibir dan melirik ke atas. Butir-butir air pun bermunculan di sudut kening Kaito.

"Mesin juga suka acara televisi?" batin pemuda biru itu.

"Kaito…" Kali ini Miku menatapnya dengan mata membulat, Kaito yang mengerti maksud tersembunyi wajah imut itu melirik Danau tak jauh dari Liger berdiri, lalu kembali ke menatap gadis di sebelahnya. Kaito menghela napas.

"Terserah kamulah Miku, tapi, bagaimana cara kita keluar dari kokpit?" Begitu Kaito berkata demikian Miku, menekan sebuah tombol berwarna merah di samping kanan kursi Kaito sambil menjulurkan lidah dan berkedip. Menyatu dengan Liger membuat gadis itu mengenal seluk beluk kucing ini. Tombol yang tadi adalah tombol pintu darurat, sama seperti semua mesin pada umumnya.

"Kamu pikir aku tidak tahu, ya?" ucapnya saat bagian kepala Liger perlahan terbuka dan kucing besar itu merunduk secara otomatis. Dia pun tertawa riang lalu meloncat keluar dari kokpit. Ia meregangkan tubuh sejenak lalu menghirup udara hutan yang bersih. "Wah! Segarnya! Jaa Kaito!" ujarnya kemudian seraya berlari kegirangan. Kaito yang masih duduk di kokpit menggeleng pelan.

"Dasar Miku." desahnya mengalah pada makhluk berambut teal yang ceria dan terkadang hiperaktif itu.

x-0-x

Miku tampak begitu gembira di tepian danau. Ia mengikat rok dari blouse yang selalu ia kenakan setinggi lutut dan berlari ke sana-kemari. Kadang sesekali ia berhenti sejenak lalu memperhatikan binatang-binatang kecil yang ia temui.

Seperti seekor kepiting air tawar yang ia temukan beberapa menit lalu yang mencubit jemarinya. Ia merengek kesakitan dan Kaito hanya tertawa, yang mana kemudian membuat Miku menjadi kesal. Gadis itu pun menggembungkan pipi lalu melempar binatang berkulit keras dan bercapit tajam itu ke arah wajah Kaito, sukses mencubit hidungnya.

Sekarang sebuah plester melintang di bekas cubitan kepiting tadi. Pemuda itu bersungut sedangkan Miku terkikik geli setiap kali melihat luka itu. Baginya, Luka itu mengingatkannya akan tingkah pemuda berambut biru yang sempat meloncat-loncat sambil berteriak sangat keras sampai burung-burung terbang ketakutan.

"Jangan tertawa!" hardik Kaito di kejauhan saat Miku menoleh padanya sekali lagi. Pemuda itu kini duduk di bawah sebuah pohon, menyangga kepala dengan siku bertumpu di kedua kaki yang duduk bersila.

Langit begitu cerah, angin begitu segar, tempat ini memang memiliki aura damai yang memancar dari setiap sudutnya. Diam-diam Kaito tersenyum menikmati pesona yang memanjakan setiap indera. Ditambah dengkuran Liger, efek dari semua itu pun menjadi sebuah hipnotis yang perlahan-lahan membuat kelopak mata Kaito menjadi berat. Lima menit kemudian, Kaito pun menyusul Liger ke alam mimpi.

X-0-0-x

"Kakak…" pemuda berambut biru mengerjap saat mendengar suara anak perempuan memanggil namanya. Tanpa dia sadari, di hadapannya kini telah berdiri Aoki yang menatap penuh rasa rindu. Kaito tertegun.

"Kakak…" panggilnya sekali lagi. Secara reflek Kaito pun berusaha menghampirinya. Ia mencoba berjalan, tapi saat ia melangkahkan kaki, ia menyadari bahwa ia tak berpindah sama sekali dari tempatnya. Pemuda itu mulai panik, ia mencoba berlari seraya menjulurkan tangan untuk meraih Aoki. Tapi sama saja, ia kini seperti seekor hamster di dalam roda putar tengah mengejar biji bunga matahari yang diletakkan di depannya. Kaito terus berlari tanpa menyerah hingga kedua kakinya terpeleset dan membuatnya tersungkur. Ia mendongakkan kepala lalu mengumpat pada diri sendiri.

Aoki mulai menangis di tempat yang tak satupun terlihat titik cahaya kecuali yang menyelimuti mereka berdua. Mata Kaito terbelalak, ia merasa detak jantungnya terhenti sejenak saat melihat bulir-bulir bening di wajah sang adik berkilauan di udara sebelum menghilang di permukaan tanah.

Saat itulah sebuah suara misterius muncul dan memanggil nama pemuda itu.

"Kaito Shion…" Kaito tersentak. Suara itu sangat tidak asing, itu adalah suara dirinya sendiri "Ha ha ha." suara itu tertawa. Kaito mulai mencari-cari sumber suara itu, ia berdiri dan menoleh ke setiap sudut tapi nihil. Tak satupun sosok lain tertangkap oleh pengalihatannya. Pemuda itu mulai geram, ia hendak berteriak untuk menantang pihak ke tiga di antara mereka agar mau menampakkan diri. Tapi sebelum satu pun suara keluar dari kerongkongan, suara itu kembali terdengar.

"Kau tidak mengenaliku lagi, Kaito Shion?" ucapnya datar tanpa intonasi sedikit pun. "atau kau berpura-pura lupa?" lanjut suara itu. Perhatian Kaito lalu kembali pada sosok Aoki, dan betapa terkejutnya dia saat melihat ada sosok lain tengah memeluknya dari belakang. Dari kedua tangan yang melingkar di perut adiknya itu, Kaito bisa menebak sosok itu adalah seorang laki-laki. Ia memiliki rambut berwarna azure sepertinya dan Aoki, tetapi wajahnya tak terlihat karena ia tengah menenggelamkannya di lekukan leher Aoki.

"Siapa kau! Jauhi adikku!" bentak Kaito yang tidak terima adiknya disentuh oleh pria misterius itu. Aoki tampak seperti menahan ketakutan. Bibirnya bergerak perlahan menyebut nama Kaito.

Sosok itu kembali tertawa, lalu mulai menampakkan wajahnya. "Aku sangat kecewa padamu, Kaito Shion." ujarnya. Kaito terbelalak. Orang itu adalah dirinya sendiri. tapi ada yang aneh, ekspresi dingin di wajah doppelganger itu begitu dingin, seolah-olah ia adalah mayat tanpa jiwa.

"Mustahil!" jeritnya tak percaya.

"Bukan, ini bukan kemustahilan, Kaito Shion." sosok itu menyangkal, "Ini adalah sesuatu yang tak terelakkan. Kau mungkin berhasil mengusirku dari dalam dirimu, tapi asal kau tahu, aku tidak akan mati dengan begitu saja." dan dia mulai mengeluskan wajahnya di sekitar daerah telinga Aoki.

"Jack Frost! Jauhi adikku!" Kaito mengepalkan tinju, kemarahan tampak jelas di wajahnya. Sosok di depannya hanya tersenyum melihat reaksi pemuda itu, lalu dengan tangan kirinya dia menyinggunggan wajah dengan Aoki. Seolah ia ingin membuat Kaito meledak karena kemarahannya sendiri.

"Adik kecilmu ini akan menjadi milikku, Kaito Shion. Dia sudah terlalu lama merindukanmu, tapi lihatlah dirimu. kau terlalu sibuk dengan gadis berambut emerald di sekitarmu itu dan tidak mempedulikan perasaannya sedikit pun." dan dia mencium lembut pipi Aoki. Aoki terdiam dan tak berhenti mengucurkan air mata. Ia menjulurkan tangannya ke arah Kaito seakan meminta tolong padanya, tapi Jack Frost di balik punggungnya meraih tangan itu dan menahannya.

"Lupakan sampah seperti dia. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu, aku akan selalu ada untuk menjagamu, Aoki." ucapnya pada gadis itu sebelum menyeretnya masuk ke area gelap di sekitar mereka. Kaito berteriak memanggil nama adiknya, tapi ia sudah tidak mendapat balasan apapun selain tawa kemenangan penuh dengan penghinaan dari Jack frost untuknya.

x-0-0-0-x

Kaito tersentak dari tidur. Tanpa sadar tubuhnya sekarang telah penuh oleh keringat dingin. Di depannya, seorang gadis berambut teal yang sejak tadi bermain di danau memiringkan kepala dan memberi pemuda itu tatapan penuh tanya. Ia membawa seekor kura-kura kecil seukuran dua kali telapak tangan, yang sekarang juga menjulurkan leher seperti ingin tahu keadaan orang asing berambut biru tersebut.

"Kamu kenapa Kaito?" Kaito tidak menjawab, ia hanya berdiri dengan tidak bersemangat. Miku yang melihat gerak-gerik tidak biasa dari pemuda itu menjadi terheran.

"Tidak," gumam Kaito, lalu berpaling dari Miku menuju kokpit Liger. "Aku hanya mengalami sedikit mimpi buruk." lanjutnya. Kata-kata Jack Frost serta keadaan Aoki di dalam mimpi masih terbayang jelas di kepala pemuda itu. Mencampur aduk semua emosinya. Setelah insiden yang hampir merenggut nyawanya, Miku dan ayahnya telah membantunya untuk mengubur sisi liar dalam dirinya tersebut. Tapi ia sama sekali tidak memikirkan bagaimana mungkin dia bisa kembali bahkan mengklaim sang adik sebagai miliknya? Apakah mungkin ini sebuah pertanda?

Miku yang merasa sedikit khawatir dengan perubahan sikap Kaito, menarik pelan lengan jaket pemuda itu dengan tangan kirinya, sementara tangan yang lain memeluk kura-kura kecil di dada. Pemuda itu menoleh, kemurungannya tak mampu lagi ia sembunyikan dari Miku. Gadis itu memperhatikan si pemuda berambut biru lekat-lekat,

"Kaito." panggilnya kemudian, ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi sejenak ia ragu. Hingga akhirnya ia kembali melanjutkan kata-kata yang menggantung di bibir dengan sedikit rona merah jambu kembali muncul di pipi.

"Jika kau memiliki masalah, jangan kau simpan sendiri, jika ada yang bisa ku lakukan untuk membantumu, aku akan melakukannya dengan suka rela." kata-kata seperti ini bukanlah hal yang pernah ia ucapkan sekali atau dua kali, Miku termasuk gadis yang mudah bergaul di kota asalnya, hanya saja mengutarakan kalimat tersebut kepada Kaito membuatnya sedikit gugup karena alasan yang tidak jelas.

Pemuda itu tersenyum pahit. Pikirannya yang terlalu terbenam pada masalah membuatnya tidak terlalu peka terhadap perubahan wajah gadis di depannya. Ia mengelus pelan kepala Miku tanpa merasa canggung, sedangkan Miku sendiri sedikit terperanjat saat jemari itu membelainya dengan lembut.

"Tidak, Miku. Tidak ada apa-apa. Sungguh, ini hanya sekedar mimpi buruk yang akhir-akhir ini menggangguku saja."

x-0-0-0-0-x

Perjalanan mereka pun kembali berlanjut setelah Liger kembali terbangun. Suasana kokpit yang tadinya penuh dengan suara Miku yang terkesima oleh beragam pemandangan yang tak pernah ia lihat, kini menjadi sepi. Yang terdengar kali ini hanya langkah berat Liger yang mengguncang tanah dan sesekali geraman-geraman kecilnya. Jika ia bisa berbicara, mungkin kucing besi ini akan menggerutu karena atmosfir di dalam kepalanya benar-benar seperti luar angkasa, dingin hampa dan gelap.

Miku masih memikirkan tentang masalah yang disembunyikan Kaito darinya. Ia merasa kecewa dengan sikap pemuda itu yang masih tertutup padanya. Mengapa? Apa hubungan mereka kurang akrab? Apa Miku kurang bisa dipercaya? Gadis itu mengamati sekelilingnya dengan bosan, wajahnya ikut sedikit murung seperti Kaito saat ini. Kaito di sisi lain masih tenggelam akan bayangan Aoki dalam pelukan Jack frost. Pemuda itu terngiang akan semua ucapan monster berwujud dirinya tersebut.

"Adik kecilmu ini akan menjadi milikku, Kaito Shion. Dia sudah terlalu lama merindukanmu, tapi lihatlah dirimu. kau terlalu sibuk dengan gadis berambut emerald di sekitarmu dan tidak mempedulikan perasaannya sedikitpun." dia kembali menggertak gigi dan memejam mata rapat-rapat.

Kondisi seperti ini terus berlangsung selama beberapa waktu, hingga akhirnya sesuatu di radar memancing alarm Liger dan membuat mesin itu mendongak ke langit. Kedua pilot di kepalanya yang sejak tadi diam melamun spontan saja terkejut dengan suara alarm, apalagi ditambah gerakan Liger yang tiba-tiba. Kaito terbentur langit-langit kokpit sementara Miku terjerembab di punggung kursinya.

"Kucing sialan!" bentak Kaito sambil mengusap-usap dahi yang perlahan terlihat memar, sedangkan Miku menggerutu di kursi belakang.

"Liger no Baka!" rengek gadis itu kemudian.

Biasanya Liger akan merespon dengan tawanya yang menjengkelkan, tapi kali ini ia hanya terdiam tanpa mengubah posisinya. Kaito baru sadar bahwa sejak tadi suara alarm radar berbunyi, ia segera memperbaiki letak duduknya lalu memperhatikan layar monitor yang menunjuk sebuah objek asing di atas langit.

Menggunakan pembesaran berkali-kali, Kaito dan Miku pun memperhatikan sebuah objek kecil yang membuat mecha mereka bertingkah demikian. Pemuda berambut biru itu sontak terkejut begitu dia mengenali objek apa itu sebenarnya. Jauh di atas mereka rupanya kapal induk dari pasukan elit Alexandria, dan berarti di dalam sana ada Aoki dan juga anggota pasukan elit lain yang dulu pernah bersama Kaito. Setelah mengamati lebih baik lagi melalui radar, tujuan mereka bisa dipastikan adalah arah selatan. Sama seperti arah tujuan mereka.

Itu berarti Aoki dan lainnya sedang ditugaskan untuk menyerang ibu kota Limbum. Apa mereka sudah gila? ibu kota limbum, menurut yang ia dengar, memiliki pertahanan jauh lebih canggih. Seluruh penjuru kota diselimuti oleh energy shield raksasa yang akan aktif dengan sendirinya saat mendeteksi unit asing mendekat. Ditambah dengan keberadaan Elemental Beast Suzaku, Soul Phoenix milik Luka Megurine, beserta mecha-mecha lain yang jauh lebih canggih di sana, itu sama halnya dengan bunuh diri. Tapi tunggu, Kaito mengenal baik gaya bertempur Alexandria. Mereka tidak akan menyerang dengan gegabah seperti itu kecuali mereka memiliki sesuatu yang bisa membuat mereka jauh lebih unggul di medan perang.

"Miku, apa kau bisa melacak dan mengendap ke dalam sistim transmisi pesawat itu?" Tanya Kaito. Miku terdiam, ia bersinkronisasi sejenak dengan Liger.

"Sepertinya bisa Kaito." jawab gadis itu kemudian. Kaito pun memintanya untuk mengecek beberapa data mobile suit di dalam kapal itu. Miku mengangguk dan mulai melakukan tugasnya.

.,.,.,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,.

Identifying Enemy Unit

.,.,.,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,.

Death Liger Hack System

.,.,.,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,.

F0 Ignis System Connect...100%

• Connect device….. success

• Core model 44A Alexandria System

• Trace Radar F0 Ignis ...100%

• Download Data Core Model 44A Alexandria System 100% succses

.,.,.,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,.

ZX Blitzchen Connect ...100%

• Connect device ...Success

• Core Model 55B Alexandria system

• Trace Radar ZX Blitzchen... 100%

• Download Data Core Model 55B Alexandria Sytem 100% Succses

.,.,.,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,.

GE Echidna Connect...100%

• Connect Device …. Success

• Core model 8BB Alexandria system

• Trace Radar GE Echidna...100%

• Download Data Core Model 8BB Alexandria Sytem 100% Succses

.,.,.,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,.

ALL DATA FILE SUCCES TO DOWNLOAD

.,.,.,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,.

• COMPILE

• ALTERNATIVE DATA

• MOVE TO BATTLE INFO

• DATA SYNC TO BATTLE SYTEM

• ALL DATA COMPLITE

• ERORR... NONE

.,.,.,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,.

Untuk dua unit pertama, Kaito sudah sangat mengenalnya. Ignis adalah mecha milik Yohio, unit tipe strength dengan perlengkapan tempur berat sedangkan Blitzchen adalah unit tipe maneuver milik Oliver. Tapi untuk unit ketiga, ia baru pertama kali mendengarnya. Dia pun mulai memeriksa data yang Miku terima tentang unit itu.

.,.,.,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,.

MOVE TO BATTLE SYSTEM INFO

.,.,.,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,.

Unit : GE Echidna

.,.,.,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,.

General Characteristic

.,.,.,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,.

Head Height : 180.08 meters

Max Weight : 790.44 metric tons

Power plant : Quantum Wave Black Hole Motion Engine

Pilot accommodation : Pilot only, in panoramic/linear-seat cockpit in head

Armor : Adamantium Alloy/Variable Phase Shift Armor

.,.,.,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,.

Armaments

.,.,.,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,.

1x Grim Fang Crusher

2x Nidhogg Scythe

2x Nightmare Grasp

36x High Energy Beam "Armageddon Eyes"

.,.,.,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,.

Special Equipments and Features

.,.,.,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,.

2x Hyper Solar Wing Reactor

.,.,.,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.,.,.,.

"A-Apa ini…." sontak kaget Kaito saat membaca gambaran umum mecha tersebut. Ukuran dan berat mesin itu sepuluh kali lebih besar dari Ingram pada umumnya, dan dari tampilan tiga dimensi di layar monitor unit itu juga memiliki wujud layaknya monster dibandingkan dengan mesin.

Bagian kepala memiliki wajah berbentuk patung perempuan dengan mahkota seperti tengkorak naga. Di dadanya terdapat sebuah wajah monster dengan mulut menganga tepat di perut yang ditunjuk dengan kursor "Grim Fang Crusher". Mesin itu juga memiliki dua lengan yang cukup besar untuk meremas sebuah mobile unit lengkap dengan cakar yang tajam. Tubuh panjang meliuk-liuk terdiri dari dua belas ruas berbentuk tengkorak manusia menggantikan posisi kedua kaki serta sepasang sayap mirip kelelawar terlipat di punggung. Sedangkan "Nidhogg Scythe" yang disebut di bagian armament adalah sepasang sabit mirip belalang sembah yang terletak di pinggang mesin itu.

Belum habis keterkejutan Kaito akan mesin penghancur yang mengerikan tadi, sebuah foto pilot menyembul di sudut monitor dengan nama "Shion Aoki." lengkap dengan sosok berambut azure yang sama sepertinya.

"Aoki… Shion?" gumam Miku yang turut terkejut kali ini. Gadis itu diam-diam melirik wajah Kaito dan mendapati pemuda itu telah memucat.

"Dia… adik perempuanku…"

.

.

.


Thanks for read. n_n

mind to review?


A/N :

Jujur, author bukanlah orang yang paham betul tentang pemrograman atau tampilan monitor dalam fic ini. semua yang ada di sini selama ini hanya mengcopy dari versi asli cerita dengan sedikit penambahan, pengurangan dan perubahan.