Disclaimer:
Of course, Masashi Kishimoto-sensei!

Warning:
OOC, AU, Typo(s), bad plots, and many more!

Pairing:
SasuHina

And

Anonymous Hyuuga Presents:

-
"The Healer"
Sequel of "Cousin"

PART ONE


"Ayo pulang, Hinata-chan. Liburan musim panasmu akan segera berakhir," kata Hyuuga Hiashi kepada anak semata wayangnya yang tengah mengurung diri di dalam rumah pohonnya.

"Aku tidak ingin pulang, Tou-san," sahut Hinata lirih. Ia tetap memunggungi pintu rumah pohon itu, tempat Ayahnya sedari tadi melongokkan wajahnya dari tangga tali itu.

"Tapi—"

"Kalau kubilang tidak, ya tidak!" seru Hinata kesal setengah membentak. Tak terasa air mata jatuh ke pipinya. Ia tidak ingin meninggalkan tempat ini. Tempat ia sudah merajut cinta bersama sepupunya, Hyuuga Neji. Ia sudah menetapkan hati untuk terus berada di sana. Tetap berada pada bayang-bayang Neji. Semua hal yang ada di sini, mengingatkannya pada Neji. Mulai dari pintu rumah itu; tempat Neji meletakkan koper Hinata, hingga membuat Ayah Hinata terjatuh akibat tersandung, beberapa minggu yang lalu; hingga dari harum rumah pohon itu, yang tak pernah lepas dari harum maskulin tubuh tegap Neji.

Hiashi menghela napas ketika mendengar jawaban Hinata. Ia paham betul akan perasaan Hinata saat ini. Ia juga sempat menjadi orang yang mudah emosi ketika istri yang begitu ia cintai pada akhirnya pergi meninggalkannya. Ia mengerti Hinata sangat mencintai sepupunya itu. Dan ia tidak mempersalahkan Hinata akan hal itu. Karena sebenarnya, dari hatinya yang terdalam, Hyuuga Hiashi menginginkan Neji sebagai menantunya. Dan ia cukup kecewa akan kepergian keponakan satu-satunya itu.

Menyerah dengan kekukuhan hati Hinata, Hiashi pun akhirnya turun dari rumah pohon itu dan pergi menghampiri kembarannya, Hyuuga Hizashi.

-000-

"Bagaimana?" tanya Hizashi ketika kembarannya itu datang menghampirinya dengan wajah murung—mengalahkan kemurungannya.

Hiashi hanya menggeleng pelan sebagai jawabannya.

"Tak apa, Hiashi. Aku sangat membutuhkan teman saat ini. Kau tahu... aku begitu kehilangan," ujar Hizashi lirih. Kesedihan terpancar jelas di wajahnya, "Biarkan saja Hinata tinggal di sini. Kalau perlu, kau juga tinggal di sini, Hiashi."

Hiashi terperangah mendengar penuturan adik kembarnya itu. Ia pun menyahut, "Apakah itu tidak memberatkanmu?"

Hizashi memaksakan seulas senyum dan menjawab, "Tidak. Tidak sama sekali. Aku sangat berharap ia bisa menjadi penyembuh lukaku."

Mendengar itu, kakak kembar dari Hizashi pun tersenyum. Ia berkata dengan penuh pengertian, "Kau tak perlu khawatir. Aku akan membiayai kebutuhan Hinata sementara ia tinggal di sini."

"Kau tidak bermaksud pergi kembali ke rumahmu, bukan?" tanya Hizashi—takut Hiashi tidak tinggal juga bersamanya.

"Maaf, Hizashi. Aku harus mengurus perusahaan kita yang sudah terbengkalai cukup lama," kata Hiashi dengan penuh penyesalan, "Tapi aku berjanji akan menemuimu tiap akhir pekan."

-000-

Hinata menatap kepergian Ayahnya. Ia sedikit merasa lega karena akhirnya ia diperbolehkan tinggal di rumah Pamannya. Namun, tak dapat ia pungkiri, sebenarnya ia sangat ingin Ayahnya juga tinggal di sini. Karena ia belum tentu bisa tenang jika Ayahnya tidak ada di dekatnya. Lebih tepatnya, ia takut kembali kehilangan orang yang ia sayang.

"Ayo, Hinata-chan. Kita makan siang dulu. Kau belum makan beberapa hari ini, bukan?" tanya Hizashi dengan senyum ramah dengan sisa-sisa kesedihan di wajah tuanya. Ia merangkul tubuh keponakannya itu, mengajak Hinata masuk ke rumah.

Hinata hanya mengangguk samar sambil tersenyum tipis—sangat tipis.

Mereka akhirnya duduk di depan meja makan. Di hadapan mereka terdapat banyak makanan yang sepertinya cukup enak. Tetapi tentu saja ini bukan masakan Hizashi, karena pria itu sama sekali tak bisa memasak barang sedikitpun. Indera penciuman Hinata sebenarnya cukup tergoda akan harum masakan yang sangat enak itu. Apalagi di sana juga terdapat kari—yang merupakan makanan favorit Hinata. Namun, perutnya tak dapat berbohong. Ia merasakan mual yang amat sangat saat melihat makanan-makanan penggugah selera di hadapannya.

"Maaf Ji-san. Aku tidak lapar," ujar Hinata tiba-tiba. Terlalu mendadak bagi Hizashi. Laki-laki paruh baya itu menatap heran kepada Hinata.

"Kau harus makan, Hinata-chan," kata Hizashi dengan sedih. Bukan hanya sekali ini Hinata tiba-tiba menolak untuk makan. Hampir tiap hari semenjak kematian sepupu sekaligus 'kekasih'nya itu.

Hinata menggeleng pelan. Ia merasakan dadanya terasa sesak. Seharusnya Neji ada di sebelahnya saat ini. Menikmati makan siang bersama Ayah dan Pamannya. Tersenyum kepadanya, membuat gurauan tentang masa lalu mereka yang sangat membahagiakan. Namun Hinata tahu, hal itu tak akan pernah terjadi lagi. Tak akan.

Perlahan, cairan bening hangat turun membasahi pipinya. Hinata mulai terisak. Ia menundukkan kepalanya, menyembunyikan air matanyasekalipun ia tahu bahunya yang bergetar tak dapat menyembunyikan kesedihannya.

"G-gomen ne, Hi-Hizashi-ji. A-aku ti-tidak bisa," kata Hinata terputus-putus dengan suara bergetar. Ia pun berdiri dari bangkunya dan segera berjalan ke kamarnya.

Hizashi menatap punggung keponakannya yang semakin menjauh itu dengan hati perih.

-000-

Hari ini Hinata memulai sekolahnya. Di sekolah yang baru, otomatis harus mencari teman baru. Namun ia tidak berniat untuk memiliki teman. Berulang kali sahabatnya di sekolah lamanya, Sakura, bertanya padanya, 'Mengapa kau pindah sekolah?' melalu telepon, namun hanya dijawab 'tak apa' oleh Hinata. Ia tidak ingin orang lain tahu soal hubungan tabunya dengan Neji, tentu saja selain keluarganya.

Ia melirik ke arah jendela mobil, menatap daun-daun kuning yang mulai berguguran. Hatinya semakin kelabu saat melihat itu. Tak dipedulikannya lagi Pamannya yang tengah mengendarai mobil untuk mengantarnya ke sekolah barunya.

Sementara Hinata masih melamun, Hizashi berulang kali menghela napas. Kesedihannya kini berlipat ganda. Kepergian anak semata wayangnya saja sudah membuat ia tersiksa, ditambah lagi dengan sosok keponakan yang sebelumnya bersemangat—meskipun pemalu—sekarang menjadi seorang gadis pemurung yang tak pernah bahagia.

Ia berpikir keputusannya untuk menerima Hinata di rumahnya adalah kesalahan besar.

-000-

"Ohayou gozaimasu, Jiraiya-sama. Ini keponakan saya, Hyuuga Hinata yang baru saya daftarkan minggu lalu," kata Hizashi sambil menjabat tangan seorang kepala sekolah dari Hoshinoko gakuen yang berbadan besar dan berambut keputihan karena sudah tua. "Adik sepupu Neji," tambah Hizashi dengan lirih. Suaranya tercekat.

Hinata mendengar perkataan pamannya. Ia merasa dadanya kembali sakit saat nama itu kembali memenuhi rongga telinganya.

"Ah, saya turut berduka cita atas kepergian Neji. Saya minta maaf karena tidak bisa datang di acara pemakamannya dua minggu yang lalu," kata Jiraiya dengan penuh penyesalan. Tergambar jelas raut kehilangan di wajahnya. Ia sangat amat membanggakan Neji sebagai salah satu siswa di sekolah itu, karena kejeniusan otaknya, dan terampilnya ia di berbagai bidang ekstra kurikuler.

Pemakaman... kata itu membuat ingatan Hinata kembali pada kenangan beberapa minggu yang lalu.

-000-

"Tidaaak! Neji-kun! Tidak!" jerit Hinata saat peti tempat Neji bersemayam akan ditutup.

Seluruh tamu undangan menatap Hinata dengan miris. Beberapa orang yang sudah tenang kembali menangis saat melihat Hinata meraung-raung.

"Aku t-tidak m-mau Neji dimakamkan! Tidak mau!" teriak Hinata yang berlinang air mata. Wajahnya sudah tak keruan.

"Hinata-chan, kau harus merelakannya," bisik Hiashi dengan sabar ke putri semata wayangnya. Ia mendekap tubuh Hinata, membuat Hinata sedikit lebih tenang—paling tidak, ia sudah tidak sehisteris tadi. Yang terdengar kini hanyalah isakan dari sang Putri Hyuuga. Ia menatap sendu dan pasrah saat peti Neji ditutup, dan dibawa ke pemakaman yang tidak jauh dari rumah kediaman Hyuuga Hizashi.

Pemakaman berlangsung tenang setelahnya. Hinata kini benar-benar tidak menangis. Ia diam. Tak memancarkan emosi apa pun dari wajahnya. Pandang matanya kosong, seakan tak ada nyawa yang mendiami tubuh semampai gadis itu. Orang-orang yang melihat Hinata diam akhirnya merasa lega. Tak tahu betapa hancurnya gadis itu. Kesedihan Hinata pun didukung oleh cuaca mendung hari itu.

Hujan mulai turun. Satu persatu tamu undangan mulai meninggalkan pemakaman, begitu juga dengan si kembar Hyuuga. Mereka membiarkan Hinata sendirian dahulu. Paling tidak sampai ia benar-benar tenang dan kembali lagi ke rumah.

Saat merasa sudah sendirian, Hinata mulai terisak pelan. Tubuhnya berguncang pelan. Ia merasa hatinya benar-benar terpukul, mengetahui bahwa ia tak bisa lagi menyentuh Neji. Mendengar suaranya. Merasakan pelukan Neji yang membuatnya mencintai hujan. Namun kini rasa bencinya pada hujan kembali. Bahkan lebih menyakitkan dibanding yang dulu.

Selain kesedihannya, Hinata tak menyadari sepasang bola mata onyx tengah menatapnya dengan pilu.

-000-

"Hinata-chan?" panggil Hizashi, menyadarkan Hinata dari lamunannya.

"Go-gomen, Hizashi-ji," sahut Hinata singkat saat ia sudah kembali dari bayang-bayang masa lalunya, yang mungkin tak akan pernah jauh-jauh darinya. Hinata pun membuang pandang ke arah jendela yang menghadap ke arah taman di lantai bawah—ruang kepala sekolah ini berada di lantai dua. Hinata kagum akan keindahan taman yang dipenuhi pohon dengan daun-daun kuning yang hampir gugur itu. Indah.

Hizashi menghela napas dan tersenyum getir saat melihat kondisi Hinata yang cukup menyedihkan. Kematian Neji telah menyulap Hinata dari yang semulanya pemalu dan sehat, menjadi sosok gadis remaja pemurung dan kuyu. Hatinya sakit sekali melihat kondisi keponakan satu-satunya itu.

"Hyuuga-san, mulai hari ini kau menempati kelas 3-1," kata Jiraiya akhirnya. Hinata pun hanya mengangguk sebagai balasannya, kemudian ia minta diri dan segera meninggalkan Pamannya bersama dengan Sang Kepala Sekolah di ruangan dingin itu.

Pintu berdebam tertutup saat Hinata sudah melangkah ke luar.

"Ia bukan anak yang pemurung sebelum kematian Neji," kata Hizashi lirih, menjawab segala macam pertanyaan yang sedari tadi menari-nari di dalam benak Jiraiya. Jiraiya pun hanya mengangguk-angguk mendengar pernyataan Hizashi.

-000-

Hinata melangkah di tengah koridor, berjalan di antara jajaran kelas-kelas di kanan kirinya, dengan kepala tertunduk. Ia tak menyadari beberapa siswa dan siswi memandangi dirinya. Sebagian, yang sudah bertemu dengannya di pemakaman Neji, memandangnya dengan iba. Sedangkan yang lain—khususnya siswi—memandangnya dengan iri atau kagum dengan kecantikan Hinata.

Ternyata Hinata benar-benar tidak memperhatikan sekitarnya, termasuk seorang laki-laki bertubuh tegap yang berjalan tepat di depannya—ke arahnya. Dan lebih parahnya lagi, laki-laki berambut emo itu juga tidak melihat ke depan, sehingga tabrakan di antara keduanya tak dapat dielakkan lagi, membuat Hinata terjatuh. Ia meringis kesakitan sambil memegangi kakinya, sedangkan laki-laki yag tadi menabraknya segera berdiri setelah terjatuh.

"Gomen," kata laki-laki tampan itu sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Hinata berdiri.

Hinata mendongak sebentar, namun tidak menyahut. Ia bahkan tidak menyambut uluran tangan laki-laki itu dan hanya hanya mengangguk. Setelah itu ia berdiri dan mengibaskan rok barunya yang sudah agak kotor. Lalu ia mulai berjalan dengan terpincang-pincang.

Laki-laki itu tertegun ketika tadi ia sempat bertemu pandang dengan Hinata. Ia mengenali gadis itu, bahkan sangat mengenalinya. Dengan terburu-buru, laki-laki itu berbalik badan dan segera mengejar Hinata. Setelah cukup dekat dengan Hinata, ia mencengkeram pelan lengan gadis berambut indigo itu, dan membalikkan tubuh Hinata sehingga kini menghadapnya.

Hinata mengerutkan kening dan menatap laki-laki di depannya dengan raut wajah heran.

"Hyuuga Hinata, ya?" tanya orang itu setengah bergumam, sambil menatap dalam-dalam mata amethyst Hinata.

-000-

"Namaku Hyuuga Hinata," kata Hinata di depan kelas dengan suara teramat pelan. Bisik-bisik pun mulai terdengar dari seisi kelas. Beberapa anak laki-laki pun tampak tersenyum jahil sambil menatap Hinata. Sedang anak-anak perempuan berbisik dengan teman sebelahnya. Dan Hinata tahu apa yang mereka bicarakan. "Douzu yoroshiku," lanjut Hinata setelahnya.

Sedari tadi, sejak awal Hinata berdiri di depan kelas untuk memulai perkenalannya, ada sepasang mata hitam kelam yang selalu mengamati gerak-gerik gadis itu sambil tersenyum pilu.

-000-

Hinata berjalan ke luar dari kelas sendirian pada jam istirahat. Seperti yang sudah ia rencanakan sebelumnya, ia tidak ingin mempunyai teman, padahal sudah cukup banyak anak perempuan yang mengajaknya mengobrol, dan banyak anak laki-laki juga yang mendekatinya dan ingin berkenalan dengannya. Namun hanya dibalas dengan anggukan, senyuman, ataupun beberapa patah kata tak berarti oleh Hinata.

Setelah beberapa lama melangkah, Hinata akhirnya sampai di taman yang tadi ia perhatikan dari arah jendela ruang kepala sekolah, taman yang masih bagian dari sekolah itu. Taman itu berada di sebelah selatan gedung dengan banyak pohon yang daunnya mulai berguguran. Hinata menghela napas saat melihat pemandangan indah di hadapannya. Ia tersenyum tipis dan mulai celingukkan untuk memastikan tidak ada orang di taman itu. Dan benar saja.

Ia merasa lega mengetahui bahwa di sana tidak ada orang. Perlahan ia mulai mendudukkan dirinya di atas salah satu dari empat bangku taman yang ada. Hinata kembali menghela napas, dan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya ketika angin berhembus membelai tubuhnya. Dingin. Seharusnya ia memakai jaket.

Tidak.

Seharusnya Neji ada di sini untuk memeluknya.

Hinata pun menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralisir perasaannya, dan mulai menghapus air mata yang sudah menetesi pipinya. Saat ia hendak membuka kotak bekalnya, sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang, membuat Hinata terkejut.

"Boleh aku duduk di sini?" tanya orang itu saat Hinata menoleh ke belakang, dan ternyata ia adalah laki-laki yang tadi pagi menabraknya.

Hinata merasa tidak nyaman akan kedatangan orang itu. Namun, ia merasa tidak enak juga. Biar bagaimanapun, ia 'kan murid baru. Jadi sudah seharusnya ia berlaku sopan di sini. Akhirnya Hinata pun mengangguk, dan laki-laki itu segera duduk di sebelah Hinata.

Mereka berdua pun berdiam diri selama beberapa saat, sibuk bergumul dengan pikirannya masing-masing. Hinata sibuk memakan bento sisa kemarin, meskipun ia merasa perutnya mual—seperti biasanya sejak kematian Neji. Namun, jika ia tidak makan, apa yang harus ia lakukan di sini bersama pria di sebelahnya? Sedang Hinata sibuk memakan bekalnya sendiri, laki-laki berambut hitam raven itu juga sibuk menulis sesuatu di bukunya. Hinata sebenarnya penasaran akan apa yang ditulis oleh pemuda itu, namun ia merasa tidak terlalu penting untuk bertanya, sehingga ia hanya mencuri-curi pandang ke sebelahnya.

"Kau suka di sini?" tanya laki-laki itu membuka pembicaraan.

Hinata hanya mengangguk.

"Aku juga. Tempat favoritku," jelasnya lagi, "Apalagi jika hanya sendirian."

Perkataan laki-laki tadi membuat Hinata menjadi tidak enak. Ia pun segera menutup kotak makannya dan bersiap untuk meninggalkan tempat itu. "Go-gomen. Aku sepertinya mengganggu," gumam Hinata.

"Eh. Aku tidak bermaksud mengusirmu," kata laki-laki tadi cepat-cepat, sambil menarik pergelangan tangan Hinata, sehingga gadis itu kembali duduk di tempatnya semula. "Sepertinya aku harus membuat pengecualian untukmu."

Hinata menatap laki-laki tadi dengan heran.

"Kau lupa padaku, ya?" tanya laki-laki tadi kepada Hinata. Hinata mengerutkan keningnya, karena ia merasa pernah bertemu dengan laki-laki ini. Namun ia benar-benar sudah lupa bertemu di mana dan kapan mereka bertemu. Laki-laki tadi menghela napas saat menyadari Hinata telah melupakannya. Ia pun menjawab pertanyaan dalam benak Hinata, "Aku Uchiha Sasuke."

Sasuke? batin Hinata terkejut. Ia segera terngiang-ngiang perkataan Neji beberapa saat sebelum kematiannya.

'Sasuke-kun, perkenalkan, ia adik sepupu-ku, Hyuuga Hinata. Mungkin kau masih mengingatnya?'

'Moshi-moshi? Ya, Sasuke? Sekarang? Ah! Kenapa tidak besok saja, sih? Hah, yasudahlah. Tak usah lama-lama, ya? Yo!'

'Aku harus pergi, Hime! Aaahh, malas sekali rasanya!'

Pria yang sudah membawa Neji pada kematiannya. Memaksa Neji untuk segera pergi dari sisinya.

Laki-laki itu Sasuke. Laki-laki yang tengah duduk di sebelahnya. Laki-laki berambut hitam raven, kulit seputih kapas, dan bola mata sehitam langit malam.

Hinata seketika itu juga merasa kemarahan dan kebencian merambat di hatinya. Kebencian pada laki-laki di sebelahnya itu. Ia pun berdiri di hadapan Sasuke dan menatapnya dengan geram. Sedangkan Sasuke hanya melihat Hinata dengan heran.

"Kau..." desis Hinata geram.

To be continued.


Aahahahahaaayyee~ Aku kembali dengan SasuHinaaa~ *gotong Sasuke&Hinata* Nih, buat kaliaan! *lempar SasuHina* *ditabok readers*

Ini sequel dari fiction aku yang 'Cousin'. Jadi kalo gak ngerti jalan ceritanya, baca Cousin dulu yah ;)

Yasudah lah, sekian dulu bacotan dariku~ Selamat mereview! Dan terimakasih buat yang sudah membacanya! Arigatooooouuu!

Never stop trying to be better, and better!

-Anonymous Hyuuga-