Banyak orang yang mengatakan kematian adalah hal yang lumrah.

Banyak yang takut pada kematian. Namun bahwasanya, mereka menolak untuk percaya. Banyak dari mereka menganggap kematian, hanyalah sebuah proses menuju dunia lain. Kehidupan setelah kematian.

Terbebas dari neraka dunia dan memberikan mereka kebebasan yang mereka inginkan. Namun tidak juga jarang dari mereka yang merasa takut akan kematian tersebut. Karena kematian hanya akan memberikanmu kehampaan.

Dia tidak tahu berapa lama berada dalam ruang hampa tersebut. Hinata tidak tahu apakah dia sudah mati atau masih hidup. Dia merasa kosong. Tak ada apapun yang bisa ia rasakan. Tidak ada kesakitan, tak ada kekhawatiran, dan tak ada kebahagiaan. Murni perasaan kosong dan hampa.

Gadis cantik berambut indigo panjang itu bahkan tidak ingat bagaimana ia berada disini. Samar-samar ingatannya mengambil alih, dia ingat bertemu dengan Uchiha terakhir itu. Dia mengingat pertarungan mereka berdua. Dimana Sasuke, pemuda Uchiha itu berusaha untuk membunuhnya. Kemudian Madara datang dan menggunakan jurus Tsukuyomi. Lalu senseinya, Kuro datang.

Menyelamatkannya.

Hinata tidak mengerti alasan Kuro melindunginya. Padahal selama ini, tak sekalipun pria tersebut mau menolong ataupun melindunginya dari musuh. Hal terakhir yang ia ingat adalah kegelapan yang mengambil alih dan dia berada di ruang hampa ini sendirian.

Apakah aku sudah mati?

Jika dia benar-benar mati, mengapa dia tidak bisa menyeberang ke alam sana? Mengapa dia masih berada di ruang hampa ini. Jika seandainya ia benar mati, tentu gadis tersebut akan kembali bersatu dengan ibu dan pamannya. Membayangkan dirinya memeluk mereka berdua dan tersenyum. Tidak lagi merasakan kesakitan dan kesusahan seperti di dunia nyata.

Namun kenyataannya tidak, dia masih berada di sini. Di alam antara dunia nyata dengan dunia roh.

Apakah akan ada orang yang merindukannya? Apakah ada yang akan menangis untuknya jika dia mati. Bagaimana dengan klannya, apakah mereka akan meratapi atau malah merayakan kepergiannya. Tidak akan ada lagi pewaris Hyuuga yang lemah. Bagaimana dengan Naruto-kun? Apakah ia akan menjawab pengakuannya? Apakah ia akan menjawab atau malah melupakannya? Atau malah ia akan menolaknya dan mengatakan padanya dia memiliki gadis lain yang jauh lebih berarti dan disayangi melebihi Hinata?

Hinata mulai merasa frustasi. Kenapa dia tidak bisa pergi ke akhirat sana? Gadis itu bahkan tidak peduli jika seandainya dia malah terjerumus kedalam lubang neraka. Baginya itu lebih baik daripada ditempat ini. Disini dia tidak bisa merasakan apa-apa. Kosong dan kesepian dan itu cukup membuatnya menjadi gila.

Kenapa? Kenapa aku tetap disini?

"Karena ada hal yang harus kau lakukan..." Hinata mendengar suara seseorang.

"Apa?" tanya Hinata bingung. Ini pertama kalinya ia mendengar suara seseorang di tempat seperti ini. Namun dia tidak memiliki kesempatan untuk mendengar lebih lanjut karena mendadak ia merasakan sakit yang kuat disekujur tubuhnya.

Rasa sakit yang bergelombang, kekuatan yang kuat menariknya keluar dan dia menjerit kesakitan Tiba-tiba, dia merasakan sakit di setiap bagian tubuhnya dan bayangan putih mengambil alih kegelapan disekitarnya. Rasanya sakit tak tertahankan dan hal berikutnya yang dia ketahui, dia mendengar namanya dipanggil.

"Hinata Hinata!"

Hinata memaksa dirinya untuk membuka matanya. Cahaya lampu menyilaukan matanya tapi dia segera menyesuaikan diri. Tubuhnya masih sakit, napasnya tidak teratur dan kepalanya berputar-putar.

"Hinata! Hyuuga Hinata!"

Dia memiringkan kepalanya untuk melihat orang yang telah memanggilnya. Suara itu dikenalnya, seorang perempuan, salah satu ninja legendaris dari Konoha.

"T-Tsunade-sama?" suara Hinata keluar.

Bisa dilihatnya ekspresi lega yang terpancar dari wajah Godaime tersebut. Hinata merasakan pergelangan tangannya digenggam erat oleh wanita tersebut. Hinata menatap kebingungan.

"Syukurlah, kau sudah sadar." Tsunade berbicara pelan, "Aku khawatir melihat Naruto membawamu pulang dalam keadaan kritis. Aku hampir tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika kau mati sementara bocah Uchiha itu hidup. Sekali lagi terima kasih, Hinata."

Hinata mengerjap beberapa kali, berusaha menyerap kalimat yang dilontarkan oleh sang Hokage kelima. Dia masih merasa bingung namun setelah beberapa saat, gadis tersebut mampu mencernanya. Hinata mengeluarkan beberapa kata, "Aku-aku masih hidup?"

Tsunade tersenyum. "Ya. Kau masih hidup, Hinata." lanjutnya.

(-)

-For once she hath been proven, she shall recieve the crown of life-

-anonymous-

.

.

Inspirasi dari berbagai sumber :

Warning : DANGER ,spoiler, abal, dll

Dont Like Dont Read

Darker than Night by Lightning Chrome

I do not own Naruto

.

xXXxXXx

.

Happy reading

.

xXXxXXx

.

.

.

(-)

"Hinata, kau tidak perlu minta maaf." jelas Naruto memberikan senyuman tulusnya.

"Tapi... karena aku, Uchiha-san..."

Naruto menepuk pundak Hinata, mencoba menenangkannya.

"Tidak apa-apa, Hinata. Ini bukan sepenuhnya kesalahanmu. Aku juga salah tidak mampu melindungimu sehingga kau terluka seperti ini." Naruto memberikan senyuman tulusnya, membuat hati Hinata kembali berdebar.

Disatu sisi seorang gadis berambut pink, melihat semuanya. Dadanya menjadi sesak, Sakura melihat keduanya. Mengingat pernyataan cinta Hinata pada Naruto. Dirinya tahu Hinata, gadis indigo itu menyukai Naruto semenjak akademi. Mulanya dirinya tidak begitu mempermasalahkan, karena laki-laki yang dicintainya hanyalah Sasuke.

Namun semua berubah semenjak kepergian Sasuke dari hidupnya, Naruto-lah yang selalu ada disampingnya. Hingga membuatnya sadar, kalau gadis tersebut mulai jatuh hati pada pemuda berambut pirang tersebut. Namun seperti yang orang-orang katakan, penyesalan selalu datang terlambat.

Apakah mungkin dirinya masih punya kesempatan?

Sakura memandang wajah Naruto dengan mimik yang sedih, "Naruto," bisiknya pelan, namun cukup didengar oleh pemuda bersangkutan. Naruto tersenyum, "Kau memanggilku, Sakura-chan?" pertanyaan dari Naruto suses membuat wajah Sakura dihinggapi warna merah. Buru-buru Sakura memukul kepala Naruto untuk menyembunyikan kegugupannya.

"Nandattebayou, apa yang kau lakukan, Sakura-chan. Ittai..!" rintih Naruto seraya memegangi kepalanya yang benjol. Tidak mempedulikan kesakitan teman baiknya tersebut, Sakura mendekati sang Hyuuga.

"Syukurlah kau sudah sadar, Hinata. Sungguh, aku khawatir sekali melihatmu tidak sadarkan diri." Sakura tampak menyesal, "Maafkan aku meninggalkanmu sendirian disana. Gomen-ne, Hinata."

Hinata sedikit terkejut, namun wajahnya kembali tersenyum. Ia menggenggam tangan murid Godaime tersebut. Meskipun harus Hinata akui, dirinya selalu merasa cemburu pada gadis pink tersebut. Karena Sakura, dia selalu berada disamping Naruto, dan selalu menjadi satu-satunya perempuan yang disukai oleh pemuda pirang tersebut.

Meskipun demikian, tidak pernah sekalipun terbersit dalam pikirannya Hinata merasa benci atau tidak suka pada Sakura, ia justru merasa bahagia ada Sakura di samping pemuda tersebut. Setidaknya Naruto tidak lagi merasa kesepian.

"S-seharusnya aku yang minta maaf, Sakura-san. A-aku sudah banyak merepotkanmu. Sekali lagi g-gomen-ne, dan terima kasih." pernyataan dari Hinata membuat Sakura tertegun. Hinata gadis itu terlalu baik. Semula ia mengira gadis tersebut akan membencinya karena mungkin Hinata mengira Sakura akan merebut Naruto darinya, namun ternyata tidak. Gadis tersebut, tetap bersikap biasa, malah menunjukkan pada semua orang kalau dirinya tidak apa-apa.

Sakura memeluk Hinata. "Arigatou-ne, Hinata-chan. Sekarang kita bisa jadi teman baik kan?" Hinata mengangguk, "Tentu, Sakura-san." Sakura melepaskan Hinata, "Chan- Sakura-chan Hinata, Kau harus memanggilku Sakura atau setidaknya ubah kata -san dalam kalimatmu. Aku tidak ingin menjadi orang asing bagimu."

Hinata sedikit melongo, namun dengan cepat dirinya mengangguk. "B-baiklah, Sakura-sa-eh Sakura-chan." Hinata mengoreksi jawabannya.

Sakura mengangguk, "Begitu, lebih baik."

Naruto terdiam, ia tidak mengerti tentang pembicaraan kedua gadis di depannya. Yah, ingat kan Naruto bukanlah orang yang peka terhadap perempuan. "Ne-hei, bisakah kalian memberitahuku, apa yang kalian tadi bicarakan?"

Mendengar nada kebingungan dari calon Hokage masa depan tersebut, Sakura dan Hinata saling memandang. Mereka pun menjawab seraya tertawa, "Pembicaraan perempuan."

Hah?

Beberapa menit telah berlalu semenjak kedatangan Naruto dan Sakura, yang mengunjungi Hinata kerumah sakit. Kemudian Kiba dan Shino ikut mengunjunginya, menit berikutnya Sai datang beserta Kurenai dan Neji. Hinata sedikit malu pada Sai, pemuda tersebut mau repot-repot menjenguk dirinya. Namun sejak saat itu mereka mulai mengikat tali pertemanan. Meskipun tidak jarang sikapnya yang kelewatan terus terang atau tidak tahu keadaan itu malah memancing emosi dari semuanya.

Kecuali Hinata tentunya.

Ia bahkan tertawa mendengar panggilan dari Sai yang menyebutnya gadis pemalu yang aneh. Sementara Naruto sudah mencak-mencak gak karuan dan berusaha memukul dan mengajak pemuda itu bertarung. Hinata tersenyum dalam diam. Melihat semuanya dari atas ranjang rumah sakit.

Sudah berapa lama, ia tidak sebahagia ini. Semua temannya berkumpul, menjenguk dirinya. Seandainya keluarganya juga ikut tentu pasti ini akan lebih membahagiakan. Pandangan Hinata tiba-tiba teralihkan ke jendela rumah sakit, dari sana ia bisa melihat Kakashi sensei datang sambil membawa sekeranjang buah dan di tangan kanannya menggenggam novel yang sudah tidak asing dilihatnya. Icha-Icha Paradise.

"Lama sekali, sensei!" omel Naruto. Disambut dengan gelengan Sakura, "Kalau mengingat kebiasaan terlambat sensei, kita tidak perlu heran, Naruto." Kakashi tersenyum dari balik maskernya, "Yah, apa boleh buat, aku mencari oleh-oleh yang enak untuk Hinata." ujarnya memberikan Hinata sekeranjang buah.

"A-arigatou-ne, Kakashi-sensei."

Kakashi mengangguk, pandangannya beralih kelainnya. "Aku mau bicara sebentar dengan Hinata, Bisa kalian tunggu di luar?"

Semua pun terpaksa mengangguk, dan meninggalkan Hinata berdua dengan Kakashi. Sebelumnya Kurenai sempat berpesan, "Jangan macam-macam kau dengan anak didikku, Kakashi." yang hanya bisa dijawab dengan garukan kepala dari sang jounin.

Pintupun kembali tertutup.

Mata Kakashi kembali menatap Hinata, Ia menurunkan maskernya, memperlihatkan mata sharingannya. Kakashi menatap Hinata lekat-lekat.

"Hinata, aku ingin kau jujur padaku."

.

xXXxXXx

Sometimes There is a Secret that You Can not Keep it

-kadang-kadang ada rahasia yang kau tidak dapat jaga selamanya-

xXXxXXx

.

Hinata terdiam sudah beberapa menit berlalu semenjak pembicaraannya dengan Kakashi. Hinata tidak bisa menyembunyikan ekspresi bersalahnya. Ia masih tetap memandang pintu keluar yang sudah tertutup, baru saja jounin kelompok tujuh tersebut pergi dari sana.

Teman-teman dan gurunya juga sudah pulang setelah berpamitan terlebih dahulu dengannya.

Kini tinggal dirinya sendiri di ruangan tersebut.

"Kenapa kau menampakkan dirimu pada mereka, sensei?" tidak takut akan dicap gila, Hinata berkata seorang diri.

Dari arah jendela muncul sosok yang selama ini menjadi bayangan gadis tersebut. Seorang iblis sekaligus guru latihannya selama ini, Kuro Maoh.

Bersandar di dinding, pria tersebut perlahan-lahan mendekatkan dirinya menuju Hinata. Hinata bisa mendengar suara sepatunya yang bergesekan dengan lantai. Hinata menaikkan kepalanya. Memposisikan matanya sejajar dengan penghuni lain di ruangannya.

"Kau..." jantung Hinata berdegup kencang. "BODOH!" makian keras dari Kuro membuat Hinata terjatuh dari tempat tidurnya. Untung saja, tidak ada satu orangpun yang bisa melihat atau mendengar suara senseinya tersebut.

Mengumpulkan keberaniannya yang ada, Hinata mulai bangkit dari lantai. Sedikit melirik wajah senseinya yang saat ini dalam mode sangar dan horror. Hinata meneguk ludahnya, berusaha duduk kembali ke atas ranjang.

Kesunyian dan aura menyeramkan mulai memenuhi ruangan tersebut.

Kuro tidak henti-hentinya memberikan death glare andalannya pada gadis malang di depannya tersebut. Ia sungguh tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya saat itu. Menolong seorang manusia. Heh, bahkan dalam mimpi terburuknya sekalipun, Kuro sama sekali tidak berniat untuk melakukannya.

Kuro mengambil langkah maju, "Bukankah sudah kukatakan untuk membunuh bocah Uchiha itu, Hinata? Kenapa kau tidak mengikuti perintahku?" Kuro mencengkram pergelangan tangan Hinata, membuat gadis tersebut meringis kesakitan.

Kuro tidak peduli, "Kenapa kau tidak membiarkan dirimu lepas oleh kegelapan? Buat semuanya tahu, kau saat ini bukanlah Hyuuga yang lemah. Buktikan itu pada semuanya."

Hinata menggigit bibirnya, berusaha mengalihkan pandangannya dari pria iblis tersebut.

Kuro menggeram, dengan kasar, pria tersebut menarik paksa Hinata hingga jatuh dan terlentang di atas tempat tidur. Iblis itu lalu menindihnya. Matanya tajam menusuk, jarak wajahnya dan Hinata tidak kurang dari lima belas sentimeter. Kuro dapat mencium aroma lavender yang menguar dari tubuh sang gadis berambut indigo.

"Kau tahu aku paling tidak suka, ada orang yang tidak melihat wajahku kalau aku sedang berbicara." jemari Kuro bergerak disekitar wajah Hinata, memaksa gadis itu menatap wajahnya. "Katakan, Hyuuga. Apa alasanmu?"

Mata lavender Hinata bertemu dengan mata merah Kuro. Angin kencang berhembus di sekitar keduanya, entah angin tersebut datang dari jendela atau karena efek aura yang dipancarkan oleh kedua orang tersebut. Mereka masih terdiam diposisinya menunggu lawan bicaranya memulai terlebih dahulu.

"A-aku..." Kuro menunggu jawaban dari Hinata, "A-aku tidak tahu."

APA?

Hinata terisak, "A-Aku tidak tahu kalau masa lalu Uchiha-san sedemikian pahit... Dia menanggung beban berat seorang diri -aku-aku tidak bisa membunuhnya...Aku tidak bisa membuatnya lebih menderita lagi...Gomen-ne, sensei, lagi-lagi aku mengecewakanmu..." jawaban yang dilontarkan Hinata membuat Kuro tertegun tidak senang. Lagi-lagi, gadis itu selalu memikirkan orang lain. Tidak tahukah dia, sikapnya itu membuat Kuro benar-benar murka.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Kuro melepaskan Hinata. Namun mendadak langkahnya terhenti karena ia merasa ada yang menarik ujung kemeja hitamnya. Kuro menoleh, gadis Hyuuga itu rupanya.

"Apa yang kau-"

Belum sempat Kuro melanjutkan, tanpa disangka, gadis itu malah tersenyum. Senyum yang tulus dan sangat sederhana ditunjukkannya.

"Arigatou, ne-sensei."

"Walau bagaimanapun sikapmu padaku, terima kasih karena telah bersedia menyelamatkanku."

Mata merah Kuro melebar. Tubuhnya mendadak kaku, tidak dapat digerakkan. Tanpa berkata apa-apa, Kuro membuang mukanya dan segera keluar dari ruangan.

Sosok iblis jelmaan manusia tersebut menyenderkan tubuhnya ke pintu. Satu-satunya penghalang antara dirinya dan gadis tersebut. Kuro terdiam beberapa lama. Tatapannya lurus ke depan dengan raut wajah sedikit menegang.

Dirabanya pelan-pelan dadanya sendiri.

Sebuah emosi aneh tercipta dalam dirinya, membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Pelan-pelan tangannya beralih menutup mata kanannya. Ingatannya kembali mengingat senyum tulus dari sang Hyuuga. Kuro menggigit bibir bawahnya.

"Bodoh." bisiknya pelan, entah pada siapa.

(-)

-What is love? Do you know what the true meaning of this?-

-Kuro The Prince of Demon-

.

.

~Darker Than Night~

Lightning Chrome Present

Chapter Seven : Sasuke Meet Demon

.

xXXxXx

Sudah lama aku menutup mata... Hanya kegelapan yang bisa kulihat.

-Sasuke Uchiha The Last Survivor of Uchiha Clan-

xXXxXXx

.

.

Kegelapan, hanya itulah yang ada dalam dirinya sekarang.

Pria yang bernama Zetsu memberitahu padanya, belum saatnya untuk melepaskan perban yang menutupi kedua matanya. Sasuke semakin jenuh, ingin melepaskan perban itu sendiri.

Setiap malam, Sasuke menyelinap keluar hanya untuk mencari udara segar. Dengan suasana hening dan udara dingin di luar hanya mengingatkannya pada rasa sakit dan kesepian. Kebencian muncul di wajahnya ketika pemuda itu mengingat kenangan terakhir klannya.

Sasuke sangat merindukan mereka semua. Kenangan tersebut selalu hadir dalam mimpi dan ingatannya. Kenangan saat ibunya sedang memasak dan sesekali bersenandung, teringat sekali seperti baru kemarin. Ayahnya yang selalu bermuka kaku namun mencair ketika bersama ibunya.

Lalu Itachi...

Sasuke menggeram, mengarahkan tinjunya ke permukaan tanah. Keluarganya tidak seharusnya mati. Mereka tidak perlu mati. Konoha hanya menggunakan kakaknya sebagai alat. Untuk menyingkirkan klan terkuat di Konoha. Sasuke ingin secepatnya memutuskan segala ikatannya dengan Konoha.

"Siapa yang peduli dengan anak-anak kecil di Konoha, selama mereka adalah penduduk Konoha, aku akan membunuhnya." pikirnya.

Sasuke beranjak dari posisinya, kakinya berjalan menuju ruangan Madara. Perban itu mulai mengiritasi kulitnya. Dengan atau tanpa izin dari Madara, Sasuke akan melepaskannya sendiri.

Ketika dia berjalan di koridor, Sasuke dapat mendengar dari kejauhan ada dua orang pria yang berbicara. Suara itu sudah pasti milik Madara, namun seorang lagi, Sasuke tidak pernah mendengarnya. Karena penasaran, Sasuke Uchiha mendekat untuk mengetahui lebih jauh. Pembicaraan mereka terhenti tepat ketika pemuda Uchiha itu masuk.

"Sasuke, apa kau mau ikut bergabung dengan kami?" Madara bertanya, nada suaranya datar.

"Kapan aku bisa melepas perban ini? Sudah seminggu."

Madara menghela nafas, Sasuke terus-terusan mencercanya dengan pertanyaan. Apalagi kalau bukan seputar perban di matanya. Sudah lebih dari lima kali, ia ditanya mengenai masalah tersebut selama seminggu ini. Pemuda raven tersebut benar-benar tidak sabaran. Seringai muncul dibalik topengnya.

"Perbanmu boleh dibuka sekarang."

Tanpa buang waktu lagi, Sasuke mulai melepaskan sendiri perban dari matanya. Tidak menunggu waktu lama, Sasuke mulai bisa melihat sekelilingnya. Mata Sasuke menyipit mendapat cahaya langsung dari ruangan. Setelah sekian lama berdiam dalam kegelapan, akhirnya ia bisa melihat cahaya lagi.

Matanya kemudian mulai menyesuaikan diri. Perlahan-lahan terbuka, sampai membuka sepenuhnya. Menampilkan sharingan level baru. Mangekyoushi Sharingan.

Bola matanya berwarna merah dengan lambang shuriken di tengahnya yang dipadu dengan pupil berwarna hitam.

"Jadi itu mata barunya."

Mata Sasuke beralih memandang satu-satunya orang asing yang tidak dikenalnya. Dia tidak dapat mengidentifikasi siapa laki-laki itu.

Pria itu cukup tinggi, gayanya arogan dan penuh kepercayaan diri. Mata Sasuke menyipit, tidak senang dengan sikap orang itu yang seolah menantang dirinya. Pria itu memiliki rambut raven gelap, hampir mirip dengannya, pakaian yang dikenakannya berwarna hitam segelap malam. Sesuai dengan aura kelam yang memancar di seluruh tubuhnya.

Tanpa disuruh Sasuke bertanya, "Siapa dia?" Sasuke bertanya pada Madara namun matanya sama sekali tidak lepas dari mata laki-laki asing itu.

"Dia Kuro, dia sudah banyak membantu kita sampai saat ini." jelas Madara.

Kuro memberikan tatapan mematikannya pada Sasuke, dia sendiri harus mengakui bocah laki-laki di depannya ini tidak sama dengan yang ditemuinya kemarin bersama Hinata.

Hanya dalam jarak beberapa meter, dirinya dapat merasakan kekuatan besar yang dimilikinya. Sudah seminggu berlalu semenjak pertemuan Sasuke dan Hinata. Sejak saat itu Kuro semakin gencar melatih Hinata. Metode yang digunakan sangat mengerikan namun gadis itu dapat bertahan lebih baik daripada apa yang ia bayangkan.

Membuang mukanya dari Sasuke, Kuro menoleh pada Madara. "Kau sudah selesai? Aku tidak bisa lama-lama lagi disini." Kuro sama sekali tidak berminat memperlihatkan wajahnya pada Sasuke, iblis itu bisa merasakan pemuda itu muncul karena mendengar suara Madara.

"Kasar sekali, seperti bisanya. Aku yakin Hyuuga itu pasti akan senang sekali terlepas dari dirimu." canda Madara, mengetahui kalau Kuro adalah makhluk yang brutal dan sadis tidak peduli terhadap siapapun.

Tidak jadi pertanyaan lagi apakah ia akan bersikap begitu juga pada orang yang dilatihnya. Meskipun aksi iblis tersebut, tempo hari jauh dari kata brutal dan keji.

Mata Sasuke melebar, ketika mendengar kata 'Hyuuga'. Jika benar orang dihadapannya ini adalah shinobi Konoha, Sasuke akan dengan senang hati membunuhnya langsung di tempat. Namun pemuda tersebut sama sekali tidak melihat ikat kepala simbol Konoha ditubuhnya.

"Apa maksudmu dengan melatih seorang Hyuuga. Apa kau beraliansi dengan Konoha?"

"Sama sekali bukan urusanmu!" bentak Kuro.

Sasuke menggeram, tidak menyukai kalimat yang dilontarkan oleh pria berambut hitam di depannya. Sasuke sudah siap untuk membalasnya sebelum Madara menyela.

"Aku peringatkan padamu untuk tidak berbicara kasar padanya, Sasuke. Kegelapan dalam dirinya jauh lebih besar daripada milikmu. Kalau dia mau, dia bisa saja membunuhmu hanya dalam hitungan detik." Madara memperingatkan Sasuke.

"Hn," mata Sasuke kembali melirik ke arah Kuro.

Dia masih belum mengerti kenapa pria tersebut menjalin kerja sama dengan Madara terlebih lagi orang itu juga menolong melatih seseorang di Konoha. Apa dia seorang pengkhianat? Sasuke tidak ingin menghabiskan waktunya untuk memikirkan hal tersebut, tapi saat ini dia begitu penasaran.

Kuro menatap datar Madara, "Aku pergi sekarang." dalam sekejap iblis itu telah hilang disertai angin kencang.

Setelah Kuro pergi, wajah Sasuke kembali tertekuk, masih kesal dengan sikap Kuro terhadapnya. "Siapa orang itu? Apa maksudmu dia melatih seorang Hyuuga?"

"Kuro dia bukan manusia. Dia adalah iblis, tepatnya seorang tengu pembunuh. Pria itu dipenjara selama beratus-ratus tahun oleh Rikudou Sennin terdahulu. Aku membebaskannya, dengan syarat, dia mau membantuku meraih tujuan akhirku. Dia dipihak kita sekarang namun disisi lain dia juga melatih seorang Hyuuga di Konoha."

Sasuke kembali pada pikirannya. "Siapa Hyuuga yang dimaksud?"

"Kurasa kau sendiri sudah tahu kan?"

"Tidak mungkin..."

"Ya, Hyuuga Hinata. Teman baikmu dan Itachi dulu. Gadis Hyuuga yang hendak kau bunuh tempo hari."

Sasuke membeku. Tangannya mengepal, entah apa yang dipikirkannya. Sasuke berbalik namun suara berat dari Madara menginterupsinya.

"Kau tidak berpikir untuk pergi lagi, bukan?" tanya Madara.

"Apa itu masalah?" Sasuke kembali berjalan hingga sosoknya hilang dari pandangan.

"Anak itu...!"

0-0-0-0

Kuro menatap langit dengan pandangan kosong.

Mata merahnya memandang jauh keluar sana. Semenjak tinggal di dunia manusia begitu lama, Kuro tidak mau mengakui kalau dirinya sedikit rindu pada tempat asalnya.

Di dunia ini begitu banyak aturan, pembatasan, dan hukum yang harus dipatuhi meskipun hal itu tidak menghentikan Kuro untuk melakukan apapun yang dia inginkan.

Berpaling dari menatap awan di langit, pria berambut hitam selegam malam itu menatap ke arah bawah di dasar hutan. Iblis itu tengah duduk di dahan pohon yang cukup tinggi, mengawasi Hinata yang tengah berlatih dengan rekan satu timnya.

Seminggu telah berlalu semenjak pertarungan Hyuuga dengan Uchiha.

Kondisi gadis tersebut berangsur-angsur membaik. Meskipun begitu gadis tersebut dilarang untuk sementara waktu menjalani misi yang berat atau keluar dari kediaman Hyuuga. Namun gadis tersebut bersikeras untuk tetap berlatih, mengingat sebentar lagi perang dunia shinobi akan dimulai. Dirinya tidak ingin lagi menjadi beban semuanya.

Dengan amat terpaksa Hiashi menyetujuinya, dengan syarat gadis tersebut tidak boleh pulang larut malam.

Kembali menatap Hyuuga Hinata. Gadis itu tampak semakin berkembang. Terbukti ketika gadis tersebut bertarung melawan laki-laki anjing bernama Kiba. Gadis itu lebih banyak bertahan. Kuro menekan bibirnya kebawah.

Pria itu menggeram. "Dia tidak akan pernah belajar jika dia terus bertahan seperti ini." Bagi Kuro, Hinata ia akui adalah gadis yang lembut dan cenderung baik kepada teman-temannya.

Tentunya dia sendiri sadar, gadis itu tidak akan mau menyakiti teman-temannya. Meskipun begitu, gadis itu perlu belajar untuk lebih keras dan cenderung lepas melawan siapapun itu termasuk kawannya sendiri. Jika memang gadis itu ingin menjadi kuat.

"Hey, ada apa dengan lenganmu?"

Mata Kuro melebar mendengar suara tersebut. Suara rekan Hinata yang lain. Seorang berkacamata hitam. Kalau tidak salah namanya adalah Shino. Kuro mengingat laki-laki itu adalah orang yang paling diam dan paling tidak banyak bicara di tim Hinata, kecuali kalau ada hal yang penting. Telinganya mendengar dengan seksama, jawaban lembut dari Hinata.

"A-aku jatuh..." ucap Hinata sedikit terbata.

"Kau tidak mungkin terluka seperti ini kalau kau jatuh, Hinata." balas Kiba.

Matanya menurun menjelajahi luka di lengan Hinata.

"Ini seperti bekas cengkraman seseorang." kata Kiba. Dalam hati Kiba bersumpah, jika ada seseorang yang berani melukai temannya, Kiba tidak akan tinggal diam.

Hinata adalah segalanya baginya dan dia tidak akan memaafkan siapapun yang berani mengganggu gadis yang disayanginya tersebut.

Hinata meletakkan tangannya di lengannya yang terluka. "Tidak apa-apa kok. B-bukan luka yang serius. Jangan khawatir Kiba-kun. Aku baik-baik saja."

Kuro tahu, gadis itu benci berbohong pada teman-temannya. Cepat atau lambat, Kuro harus menunjukkan dirinya namun untuk saat ini, iblis itu belum siap untuk melakukannya. Kuro mengawasi kepergian teman-teman Hinata, meninggalkan gadis Hyuuga itu seorang diri.

Melompat dari pohon, Kuro mendarat beberapa meter dari sang Hyuuga. Mata merahnya menatap tajam mata lavendernya. "Kau selalu saja bertahan." ucapnya. "Kalau kau ingin menjadi kuat, kau harus menyerang dan membiarkan kekuatanmu mengambil alih. Aku tahu sekarang kau lebih kuat dibandingkan sebelumnya."

Hinata mengalihkan pandangan darinya.

Memang benar, selama ini, dia selalu menahan diri, dia tidak ingin melukai teman-temannya. Hanya sekali ia lepas kontrol, itupun ketika melawan Uchiha Sasuke. Entah apa yang terjadi padanya, sehingga membiarkan dirinya dikuasai oleh kegelapan. Dalam hati, Hinata menyesal, dia tidak ingin menjadi seperti itu lagi.

Hinata merasa bersalah pada Kuro, senseinya itu sudah repot-repot mengajarinya. Namun Hinata tidak mau menggunakan jurus yang diajarkan olehnya untuk melawan siapapun termasuk musuhnya sendiri. Meskipun Hinata bisa meraih kemenangan dengan cepat, dia tidak mau. Melihat orang-orang mati karenanya.

"Sensei pergi kemana?" Hinata mengalihkan pembicaraan.

"Kau tahu itu masalah pribadi. Bukan urusanmu kemana aku pergi." Kuro melirik dari bahunya memperhatikan Kakashi yang datang dari arah berlawanan. Bagus, dia baru saja menghampiri Hinata dan pria bermasker itu datang.

Sebenarnya, Kuro sama sekali tidak peduli pada jounin berambut putih tersebut. Kuro memliki firasat, pria itu ada feeling dengan Hinata, meskipun itu terlalu cepat untuk disimpulkan. Sudah berapa kali, Kuro memergokinya tengah memandang wajah Hyuuga.

"Siang, Hinata."

"A-ah, siang juga Kakashi-sensei." wajah Hinata sedikit memerah.

Kuro mengerutkan keningnya, melihat dua orang manusia saling memandang satu sama lainnya. Benar-benar hal yang tidak enak untuk dilihat. Manusia yang bodoh. Kuro tidak mengerti bagaimana bisa ada orang yang memiliki perasaan cinta terhadap manusia lainnya.

"Aku ingin mengajakmu untuk makan siang di Ichiraku." tanya Kakashi, sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.

Hinata mengangguk, "Boleh, kebetulan aku juga mau makan siang disana." Hinata melirik Kuro yang juga menganggukkan kepalanya.

Kuro memandang mereka dari kejauhan.

Aku akan melatihnya nanti. Dia perlu waktu untuk istirahat.

Kuro kembali memandang langit.

Pikirannya kembali ke pemuda Uchiha yang ia temui hari ini. Emosi dan sikap dingin di matanya bisa ia rasakan dengan jelas. Sama seperti yang diceritakan oleh Madara. Kekuatannya berbeda jauh dengan tempo hari. Jika ada orang lain yang ia akui kekuatannya selain Madara, maka itu adalah Sasuke Uchiha.

Dengan Madara yang melatih Sasuke, dan dia melatih Hinata, iblis itu tahu, keduanya baik Hyuuga dan Uchiha akan menjadi ninja terkuat sepanjang sejarah.

0-0-0-0

Sasuke bersandar di batang pohon yang besar. Matanya masih terasa sakit. Namun dia mencoba untuk menyesuaikan tubuhnya dengan mata barunya. Sasuke meletakkan telapak tangannya, menutupi mata kanannya. Senyuman keji tersirat di balik wajah rupawannya. Dirinya bisa merasakan kekuatan Itachi yang sekarang menjadi miliknya.

Bayangan Naruto memenuhi pikirannya. Jika ada seseorang yang ingin ia bunuh Naruto-lah orangnya. Obsesinya berkembang sedemikian cepat dari tahun ke tahun.

Saat ini dia tidak lagi memikirkan masa lalu dan persahabatannya dengan pemuda Kyuubi itu. Sebelumnya Sasuke selalu menganggap Naruto sudah seperti saudara baginya, namun kini tidak lagi.

Naruto Uzumaki sudah mati.

Pelan-pelan Sasuke menyingkirkan tangannya. Sasuke menghela nafas. Ingatannya kembali kesaat pertarungannya dengan gadis Hyuuga. Sasuke benar-benar tidak menyangka gadis yang mengalahkannya itu adalah gadis yang sama yang menjadi cinta pertamanya dulu.

Dari yang bisa diingatnya Hinata adalah gadis yang lembut dan baik hati. Selalu memikirkan orang lain dan rela berkorban untuk semuanya. Tidak pernah mementingkan dirinya sendiri.

Tapi, kenapa waktu itu..

Sasuke menggelengkan kepalanya. Bukan urusannya lagi saat ini. Baginya sekarang seluruh ninja Konoha adalah musuh termasuk gadis itu. Pemuda Uchiha berdiri memandang langit. "Saat itu, aku akan membalaskan dendamku."

0-0-0-0

Kakashi tersenyum dari balik topengnya. Kapanpun Hinata bersamanya, Kakashi entah kenapa selalu merasa nyaman. Keberadaan gadis itu membuatnya bahagia.

"Hinata, ada sesuatu dimukamu." Kakashi menunjuk pipinya.

Hinata blushing dan segera menghapus noda makanan yang bersarang dipipinya. "A-arigatou,"

"Apa kau masih berlatih dengan orang misterius itu?" tanyanya penasaran.

Hinata mengangguk. "I-iya. Sensei tidak...menceritakannya pada siapapun, bukan?" Hinata mengangkat wajahnya, memperhatikan wajah Kakashi.

Kakashi meletakkan tangannya di bahu sang Hyuuga. "Aku belum memberitahu siapapun, Hinata. Kau bisa mempercayaiku." Pandangan Kakashi beralih ke bibir Hinata, entah kenapa keinginan mencium gadis itu begitu besar. Logika mengambil alih, buru-buru Kakashi melepaskannya.

"Apa yang terjadi padaku? Menyukai muridku sendiri? Aku bukan seorang pedofil. Tunggu...apa yang kupikirkan?" Kakashi memalingkan muka, tidak ingin Hinata melihat wajahnya yang memerah.

"Kakashi-sensei, arigatou ne-" ucap Hinata memberikan senyum manisnya.

"Tidak apa-apa. Aku senang bisa membantu." senyumnya.

"Oh, rupanya kalian disini!"

Kakashi dan Hinata sontak berbalik dan menemukan wajah calon Hokage berambut pirang dengan senyum matahari di wajahnya. Hinata seketika blushing menyadari kehadirannya sementara Kakashi diam-diam merutukinya.

"Kau tidak akan keberatan aku meminjam Hinata sebentar ne-Kakashi-sensei?" tanya Naruto.

Kakashi menunduk, matanya saling bertatapan dengan mata Hinata. Hinata begitu berharap. Namun jauh dalam hati jounin tim tujuh itu, dirinya ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan Hinata. Namun dia sadar, posisinya saat ini. Naruto akan curiga apabila Kakashi tidak memperbolehkannya.

Kakashi pun mengangguk, membiarkan Hinata pergi dengan Naruto. Namun Kakashi tidak bisa mengenyahkan perasaan cemburu yang timbul tatkala melihat keduanya berjalan berdampingan.

0-0-0-0

Naruto berdiri dalam diam. Saat ini pemuda pirang itu membawa Hinata masuk kedalam hutan. Naruto bisa tahu ekspresi bingung yang nampak jelas di wajah gadis itu.

"Hinata, apa kau mengingat tempat ini?"

"U-um..."

"Aku pertama kali bertemu denganmu disini." bisiknya. Mata biru safirnya memandang lembut Hinata. Naruto bisa melihat ekspresi terkejut dari Hinata. Mungkin gadis itu tidak mengingatnya.

Namun Naruto sangat mengingatnya. Saat itu dia nyaris tidak memiliki teman, pertemuannya dengan Hinata mengubah segalanya. Meskipun Hinata adalah gadis yang pemalu, namun itu tidak menjadi masalah untuknya.

Naruto melanjutkan ceritanya.

"Saat itu aku selalu sendirian. Tidak memiliki teman seorangpun. Tidak ada yang mau berteman denganku. Namun saat itu kau datang. Mengulurkan tanganmu dan menjadi teman istimewaku."

Hinata terdiam, mendengar cerita Naruto. Benarkah demikian, namun seingatnya dia pertama kali bertemu dengan Naruto ketika di akademi. Kenapa rasanya ada yang janggal ya.

"Saat itu aku menemukanmu pingsan disini."

Pingsan?

"Aku terkejut saat itu. Kupikir kau habis diserang oleh beruang." Naruto menertawakan dirinya sendiri. "Aku kaget ada anak perempuan di hutan malam-malam begitu."

Apa yang kau bicarakan, Naruto-kun?

"Namun aku lebih tidak menyangka, kau berteman baik dengan Teme-"

Mata Hinata membulat. Tubuhnya membeku. Siapa teme yang dimaksud, setahunya hanya satu orang yang dipanggil teme oleh Naruto, dan orang itu adalah...

"Sasuke." lanjutnya. "Kita mencari si brengsek itu semalaman suntuk. Namun begitu muncul sikapnya benar-benar berubah. Seolah-olah dia tidak mengenali kita. Benar-benar deh, dia itu!"

Naruto bisa merasakan tangannya digenggam kuat oleh Hinata. Pandangannya teralihkan.

"A-apa maksudmu, Naruto-kun? Apa maksudmu aku berteman baik dengan Uchiha-san?"

Naruto tertohok. Gadis didepannya ini sama sekali tidak ingat peristiwa itu, bahkan Sasuke juga ia tidak tahu. Naruto bertanya dengan hati-hati, "Ka-kau tidak ingat sama sekali, Hinata?"

Hinata membisu.

Pikirannya mengambil alih. Memikirkan kata demi kata yang dilontarkan oleh Naruto. Hinata mencocokkannya dengan ingatannya sendiri. Aneh. Tidak ada satupun peristiwa yang dimaksud oleh Naruto yang terekam diingatannya. Bahkan kenangan dengan ibunya pun sebagian dia tidak ingat.

"Kau tidak ingat padaku?"

Sekilas terbayang pertanyaan Gaara padanya tempo hari. Sampai sekarang Hinata tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Kazekage muda tersebut.

Ada apa dengan mereka, kenapa Gaara bertanya seperti itu, Naruto juga, kenapa mengatakan hal mustahil yang tak ada dalam ingatannya. Sasuke juga... kenapa bersikap seperti itu.

"Hinata..?"

Hinata tersenyum, berusaha menutupi kebingungannya. Dia tertawa, "A-ah yang waktu itu ya, Naruto-kun. Gomen-aku lupa, i-itu sudah lama sekali." Hinata agak panik, sedikit merasa bersalah telah membohongi Naruto.

Naruto terdiam, dia merasakan kejanggalan dari gadis Hyuuga itu.

"Hinata, kau...jangan-jangan..."

Hinata berdeham, berusaha mengalihkan pembicaraan, "K-katanya ada yang ingin kau tanyakan, Naruto-kun?"

"Yah ada..." Naruto kembali kefokus utamanya."Mungkin kedengarannya aneh tapi...Aku khawatir padamu. Bukan hanya aku, Sakura-chan juga."

Hinata menaikkan alisnya. "Memangnya ada apa?"

"Cakramu Hinata. Berbeda dengan sebelumnya. Terasa lebih gelap. Pertama kali aku merasakannya ketika bertemu denganmu, bukan hanya itu tempo hari juga. Aku memperhatikanmu belakangan ini. Kau semakin jarang berkumpul dan lebih sering berlatih seorang diri. Ada apa sebenarnya?" Naruto berhenti, menunggu Hinata untuk menjawabnya.

Hinata menggigit bagian bawah bibirnya.

Dia tidak ingin berbohong pada Naruto namun dia juga tidak bisa menceritakan kebenaran padanya. "Meskipun aku selalu mengagumimu Naruto kun, aku tidak bisa memberitahumu apapun. Tapi percayalah...aku baik-baik saja." ungkap Hinata.

Naruto memasang wajah kecewa. Itu bukanlah jawaban yang diinginkannya. Pemuda itu pikir Hinata akan bersedia memberitahunya. "Begitu." Naruto berjalan melewati Hinata namun berhenti sebentar untuk sekedar memastikan. "Kalau kau butuh seseorang untuk diajak bicara, aku bersedia untuk mendengarkan."

Naruto melambaikan tangannya, "Jaa-ne, Hinata-chan."

Hinata menegang. Perkataan Naruto barusan sama persis yang diucapkan Kakashi padanya. Hinata sadar, Naruto terluka karena dia tidak memberitahu padanya kejadian sebenarnya. Berbalik arah, Hinata segera menyadari keberadaan orang itu disekitar dirinya.

"Kau sudah benar tidak memberitahunya apapun. Bagaimanapun juga itu bukan urusannya."

Hinata mendongak memperhatikan Kuro yang tengah bersandar di dahan pohon dengan kedua tangan dilipat di depan dada. Iblis itu masih setia memandang langit yang sebentar lagi akan gelap.

"Kenapa aku tidak boleh memberitahu siapapun tentang keberadaanmu? Teman-temanku mulai cemas karena aku terus merahasiakannya." Hinata mengerutkan keningnya.

Mata merah Kuro beralih melirik Hyuuga dibawahnya. Ekspresinya melunak untuk beberapa saat namun kembali ke mode biasanya. Kembali tajam dan mengerikan.

"Aku tidak peduli dengan teman-temanmu. Kau juga seharusnya tidak usah peduli pada pandangan mereka." dengusnya.

Kuro melompat turun, mendarat beberapa meter di depan Hinata. Mata merah miliknya menembus seluruh jiwanya, memperhatikan secara baik-baik ketakutan yang timbul dalam diri gadis indigo tersebut.

"Apa kau begitu takut padaku, Hyuuga?"

"A-aku tidak takut padamu."

Kuro menyeringai, "Matamu berkata lain."

Hinata menggelengkan kepalanya. "Kubilang, aku tidak takut!"

Menaikkan tangannya, Hinata menggunakan jyuuken miliknya dan menyerang Kuro tepat di bagian dadanya. Membuat iblis itu terdorong beberapa meter darinya.

Mata Kuro melebar, mendapatkan serangan dadakan.

"Langsung menyerang, huh?" bisiknya, sembari mengambil nafas. Bertahun-tahun dirinya melatih gadis tersebut, namun tidak pernah sekalipun gadis Hyuuga itu berani menyerangnya terlebih dahulu. Ini benar-benar sebuah kejutan untuknya.

Hinata berdiri mengaktifkan byakugan miliknya. Gadis itu sudah siap dalam kuda-kudanya, menunggu Kuro untuk melawannya. Tsk, gadis Hyuuga itu tidak tahu ia berhadapan dengan siapa. Berdiri angkuh Kuro memandang tajam Hinata, sembari meretakkan jari-jari tangannya.

"Jadi, kau ingin membuktikan penilaianku salah, begitu?" Kuro tidak bisa menghapus seringai yang muncul di wajah tampannya.

"Majulah, sensei." tantang Hinata.

Kuro menyeringai licik, tanpa membuang waktu, iblis itu berlari menuju ke arahnya. Tubuh pria itu sekarang sudah terpacu dengan adrenalin, begitu pula dengan gadis bernama Hyuuga Hinata.

Mereka berdua terus bertarung hingga matahari terbenam.

0-0-0-0

"Aku yakin pasti ada yang salah." bisiknya.

Naruto duduk dipohon yang tinggi mengawasi Hinata. Meskipun awalnya, Naruto memutuskan untuk pergi namun kenyataannya pemuda itu masih penasaran dengan gadis Hyuuga tersebut. Akhirnya setelah berpikir sejenak, pemuda berambut pirang itu memutuskan untuk mengikutinya.

Naruto hampir mengira Hinata telah gila, karena gadis itu berbicara sendiri. Namun ada sesuatu yang membuatnya percaya kalau Hinata tidak sendirian.

Cakra gelap yang selalu ia rasakan mulai keluar bahkan semakin meningkat. Naruto membelalak, tubuh gadis itu terjatuh, dan luka memar muncul dari tubuhnya, dan semakin bertambah. Naruto sulit untuk mempercayainya, Hinata bertarung dengan hantu.

"Apa yang terjadi disini?" Naruto dengan cepat menghilang dan pergi dari tempat tersebut. Memberitahu Kakashi dan Sakura apa yang dilihatnya.

0-0-0-0

Tiga jam telah berlalu. Kegelapan mulai menyelimuti seluruh penjuru desa. Tak terkecuali hutan tempat Hinata dan Kuro berlatih. Kuro menunduk, memandang wajah Hinata yang sedang terlelap. Kuro tahu seandainya gadis itu tidak cepat kembali, keluarganya akan mengutus seseorang untuk mencarinya.

"Kau jadi lebih kuat, Hyuuga." bisiknya pelan.

Kuro membungkuk, membawa gadis itu dalam pelukannya. Dengan hati-hati Kuro mulai menggendongnya (bridal style). Mata merahnya bersinar dalam kegelapan malam. Kuro tidak henti-hentinya memandangi gadis yang saat ini berada dalam dekapannya.

Kuro tidak pernah peduli pada manusia manapun. Entah orang itu jahat ataupun baik. Namun terlepas dari seluruh manusia yang ditemuinya, keberadaan Hinata disampingnya membuatnya merasa berbeda. Meskipun gadis itu begitu lemah dan Kuro sangat membencinya, namun mereka tumbuh bersama dari tahun ke tahun.

Jika hal ini terus dilanjutkan, pada akhirnya dirinya akan mulai merasakan perasaan manusia yang amat dibencinya. Suatu hal yang tidak diinginkannya namun sayangnya sudah mulai terjadi. Kuro menyadari dirinya mulai memberikan perhatian yang lebih padanya, terutama ketika gadis itu bersama dengan Kakashi dan Naruto.

Hanya berpikir tentang laki-laki berambut putih dan bocah pirang itu, sudah mampu membuat darahnya mendidih karena marah. Satu hal yang jelas dibenaknya saat ini, dirinya tidak menyukai mereka berdua.

Kuro mengerutkan kening. "Gadis bodoh," gumamnya, matanya melotot mengawasi Hinata.

.

.

Chapter Seven Complete

To be Continued

.(see you next chapter)

.


Author: chapter tujuh akhirnya terbit, wuih, spoiler buat para reader fans Kurohina dan Sasuhina ada disini. Wah saya cengar cengir baca review para reader yang menantikan pertarungan pairing.

Saya akan menyebutnya War of Love, hayo-hayo disudut biru kita sambut Sasuke dengan disudut merah adalah Kuro. Pemenang akan mendapatkan reward utamanya yaitu siapa lagi kalau bukan Hinata.

Promosi mode on*

Kelihatannya bagus, tapi untuk sementara ini kayaknya belum bisa. Karena banyak hal, yah saya juga pengen sih buat yang demikian. Tapi rasanya sayang juga harus ada yang kalah. Bagaimanapun saya suka dengan dua-duanya. Ambil aja dua-duanya, Hin! *author kena bogem dari Kuro dan Sasuke.

Saya masih fokus menampilkan sisi dalam dari keduanya, oh ya jangan lupa disini apa ada fans Naruhina ma Kakahina gak? Parah nieh gak ada yang komen keduanya. Hiks,

Sisanya para reader cuma komment Kurohina, Sasuhina sama Gaahina doang.

Naruto dan Kakashi pundung di pojokan *kalah pamor ma pemain baru.

Jangan lupa kasih review untuk mereka juga *author lebay mode on.

Terima kasih untuk yang bersedia mereview. Duileh, banyak banget yang nanya, bentar saya jawab dulu satu-satu.

Nume : Sip, thx. Tetap follow ya.

Thief Detect : Kuro karakter imajinasi saya, pengennya sih begitu. Fans Kurohina juga? harap senang membaca chapter kali ini.

Via Cho : biasanya terbit sekitar seminggu atau dua minggu sekali, bahkan saya mikirin mau terbit sebulan sekali. Hahahaha. Memang benar, Kuro itu kejam karena dia memang terlahir begitu, tapi nanti ada saatnya reader tahu sisi lain dari dirinya. Ane sendiri mimisan, ngebayanginnya. Kuro vs Sasuke? sip

Desy Dimple : Setuju banget! Benci jadi cinta memang indah. saya lebih seneng buatnya begini, Sasuke yang jahat namun lambat laun melunak karena Hinata, ups keceplosan. Gaahina ya, wah saya lupa nyantumin. Author tidak berguna* death glare dari Gaara. Ok2 nanti pas Gaara muncul baru kebuka.

Sari Lestari: pertanyaan simple, tapi saya susah jawab. Mending cek aja langsung ya, soalnya kalo dijawab sekarang gak seru nantinya.

Bluerose : Benar, sasuhina udh temenan sejak kecil, lebih lengkap akan diceritakan di chapter2 berikutnya.

Akari-chan : Thx berat, ada akari-chan yang selalu membaca.

Yukiazalea : Thx hohoho, chapter ini sdh saya publiskan untuk anda.

Gece : Bingung banget...! Gimana caranya biar masing2 pair itu dapat feelnya.

Haru no Hinaka : Kuro ganteng... wajar,,, berapa malam saya habisin buat tuh wajah. Hahahaha just kidding. Fans Kurohina juga? ckckckckck. Suer Sasu, kali ini lu dapat saingan tangguh! Sumpeh deh.

Momechi Rukika : Kuro mengatakan pada Madara demikian alasannya... saya sendiri juga gak tahu maksudnya apa, ding... gubrakz! Tapi tenang aja, soalnya...

Nanti entah di chapter berapa saya akan nyediain sesi omake wawancara tokoh dalam fic ini. Mumpung belum buat, silahkan reader kalo ada yng mau tanya soal apa aja misalnya ke kuro atau sasuke tanya langsung. Dengan senang hati mereka akan menjawabnya (ancaman author*klo gak, gak bakal gw publish lagi nie cerita).

Twins Shinobi : Good, penggemar omake banyak juga. Salam kenal juga,,

Juev Juen : Sisi gelap Hinata, hmmm. Masih mikir..?

Bonbon : Suit-suit ciee Kuro! *Kuro blushing. Liat-liat itu Kuro-duakkk* benjol

Nachan Tsuki : Sasu mati gak keberatan? beneran nieh, ternyata ada juga fans yg malah seneng liat sasu mati. Apa motif anda? *lightning chrome reporter mode on.

Aira Uchiha : Begitu pula dgn saya. Fufufufu. Sisi gelap hinata baru bisa terlepas sebentar, nanti setelah perang shinobi baru anda bisa lihat yang sesungguhnya.

Moyahime : Nah lo, perhatian. Kurohina warning! Kurohina sweet moment finally appears.

RisufuyaYui : Sasuhina ketemu lagi, masih secret ya. Harap bersabar, hohohoho

Jurig Cai : Ini sdh saya update ya. Thx for ur review.

Anne Garbo : Ow tahu aja. Saya lanjutkan.

Rosecchy : Anda benar2 author sekaligus reader mengagumkan, spekulasi anda hampir bener.

Kali ini, inilah OMAKE untuk para reader sekalian. Sekali lagi kalau ada yang ingin pesen menu omake, silahkan review saya. Hohohohoho.

OMAKE :

Character : Madara, Sasuke, Kuro n'prend

Summary : Uchiha Madara adalah seorang pendiri klan Uchiha. Niatnya hanya satu, menghancurkan Konoha dan membangkitkan Juubi, siluman berekor sepuluh dan menjadi jinchuriki monster tersebut.

Karena niatnya itu, dia mendirikan organisasi terlarang bernama AKATSUKI yang artinya adalah bulan merah. Gak tahu kenapa dinamain begitu. Kata mbah Oro sih, *katanya, Madara itu katarak gak bisa bedain warna. Masa bulan kok dibilang warnanya merah. Digiles sama Madara, makanya si Orochimaru keluar dari organisasi ntu.

Namun untuk informasi akuratnya, kalo reader ada yang penasaran silahkan tanya langsung ke kakek Madara di sesi tanya jawab mendatang* kalo ada yang mau.

Balik ke cerita, bukan hanya mendirikan organisasi tersebut, Madara juga mulai merekrut anak buahnya, mulai dari Pein hingga Itachi dkk. Namun akhirnya semua pada koit.

Hancur total.

Madara menjerit gak karuan dalam hati. Masa iya dia mesti ngurungin niatnya karena gak ada lagi anggota sih? Oh, plis deh ah. Eit, tunggu dulu tapi ingat sekarang masih ada Kuro dan Sasuke bukan.

Mereka berdua masih ada dipihaknya.

Cengir Madara melebar, berhubung disini omake rada OOC, boleh dong berbuat sesukanya.

Madara merogoh kantung celananya, mengeluarkan handphone dan memencet tombolnya. Gak tahu dapet darimana. Nada sambung berkumandang. Detik kemudian ada suara muncul dari sana. "Asalamualakum..." seseorang dari sana menjawab.

"Walaikumsalam,," Madara memberi salam, "Ini gue, Madara. Gua pengen lo ngumpulin anak-anak. Hari ini kita ada rapat penting, mengenai akhir dari dunia. Pastikan elu pade pada datang." Madara menutup telponnya yang dipinjam dari author. Tanpa ngucapin terima kasih lagi.

Awas aja lu.

Beberapa menit kemudian, para kolega datang. Mulai dari Zetsu, hadir. Kemudian Madara, ya hadir dong... masa yang manggil gak datang. Kabuto, berhubung anggota baru juga hadir. Tobi, mendadak terserang flu tidak bisa hadir. Sementara yang lain? Gak ada? pan udah mati semua.

AKATSUKI sekarang makin mengenaskan. Anggotanya banyak yang berguguran.

Terus siapa aja yang belum hadir?

Kuro dan Sasuke belum.

Dengan sunpo kilatnya pinjaman dari Ichigo Bleach, Madara mengambil telpon genggam milik tetangga author yang lagi nangkring di kamar mandi. Selesainya ia pun keluar, "Lha, mana hape gue? Perasaan nyan, tadi taruh disini ,deh." sang doi bingung, author tidak mengerti, Madara tidak ambil pusing.

Tidak menunggu beberapa lama, Sasuke menjawab telponnya. "Hnn." katanya. "Woy, Sasuke. Gua mau elu datang diacara rapat paripurna kita sekarang. Gak pake ngaret. Awas kalo lu gak datang. Itachi gak bakal gua hidupin lagi!" bacot Madara tanpa tedeng aling-aling. Yang hanya dijawab dengan satu kata. "Hah?" dari Sasuke.

Senjata andalan dari Madara terbukti ampuh, beberapa menit kemudian pemuda ganteng berambut ayam kita datang dengan wajah tertekuk persis seperti cucian yang habis dikucek-kucek. Meskipun demikian tidak mengurangi kegantengan dari putra bungsu Uchiha kita sekalian.

"Oke, Sasuke sudah datang. Sekarang giliran Kuro." Madara mencet tombol, canggih bener. "Tiit...titt.." terdengar nada panggil. Madara masih sabar menunggu. "Tiit...tiit..tiiit..." masih sabar.

tit...tit

Masih sabar

tit...tit

Masih sangat sabar

tit...tit...tit

Masih...

3 jam kemudian,

tiiiitttttttt

Udah nggak sabarrrrrrrr

Madara berteriak, semua nutup kuping. "Apaan sih, berisik aja..."

Semua menengok, mendapati iblis seksi kita datang dengan gaya yang aduhai, cool banget. Author gemes jadinya.

"Kau berisik sekali, MANUSIA. Apa kau tidak tahu jam tidurku bisa terganggu karena acara rapat BODOHmu itu!" Kuro berkata dengan penuh penekanan dan wibawa. Membuat semua anggota shock, dan terkagum-kagum.

Jangankan ente, para reader female, para anggota AKATSUKI yang notabene laki-laki juga berbunga-bunga menatap wajahnya. Wajah yang tampan dengan wibawa dan suara berat namun seksiii~ pakaian berwarna hitam gelap yang menyamai pangeran Noctis Lucis Caelum, dan jangan lupa-

Masih single lho.

KYAAAAAAAAAAAAAA

Jeritan dari KuroHina FC berkumandang, gak tahu SasuHina FC juga apa kagak. Semua mimisan dan terkena genjutsu super dari sang pangeran iblis kita. Mata merah Kuro melirik satu-satunya orang yang tidak terkena genjutsu lovely dokey alami miliknya.

Siapa lagi kalau bukan, Uchiha Sasuke.

Mata merah Kuro bertemu dengan mata merah sharingan milik Sasuke. Kedua pria tampan saling berhadap-hadapan. Seandainya author ini adalah seorang fujoshi, penggemar para pria homoseksual, hnn.. sudah dapat dipastikan kan? Apa yang akan saya tulis berikutnya.

Jadi merinding~

Mending gak usah deh, saya masih normal. Lanjut saja, yang suka begono, bayangin sendiri, pan wajah Kuro ente pada tahu. Kita-kita balik ke story.

Mereka berdua berdiri dalam diam. Namun seakan mengerti hanya melalui pandangan mata saja mereka sudah bisa mengetahui isi hati lawan bicaranya. Mari kita lihat adu interaksi antar mata diantara keduanya.

Kuro : Kita bertemu lagi, bocah!

Sasuke : (mata Sasuke menyipit) "Apa kau bilang?"

Kuro : (menyeringai) kubilang kita bertemu lagi, bocah? Apa kau tidak dengar? Dasar bocah t*li!

Sasuke : Heh, (tangan Sasuke mengepal), aku dengar apa yang kau katakan, kakek t*a!

Kuro : (Kuro memberikan death glare) Kau bilang apa barusan?

Sasuke : (memberikan senyum mengejek) kubilang kakek t*a. Sekarang malah kau yang jadi t*li rupanya. Dasar kakek-kakek.

Kuro : (balik mengejek) meskipun umurku sudah ratusan tahun, tapi wajahku tidak akan jadi tua seperti ucapanmu barusan. Lain halnya denganmu, bocah ingusan! Beberapa tahun lagi mungkin malah rupamu yang sudah uzur. Kau sendiri yang akhirnya menjadi kakek-kakek! Dasar pemuda bangkot*n!"

Sasuke : (tidak terima) Sepertinya kau sudah bosan hidup, kakek!

Kuro : (tambah tidak terima) Oh, ya. Sepertinya kau sendiri tidak sabar ingin menyusul keluargamu ke alam sana, bukan, bocah!

What the Pell?

Apa yang terjadi disini? Mendadak kedua tokoh pria kebanggaan author ini saling berdiri dengan tatapan mengancam satu sama lain. Aura gelap dan horror menyelimuti keduanya. Sasuke mengaktifkan sharingan level mangekyoushinya sementara di pihak lain Kuro juga mengaktifkan kekuatan matanya yang mendadak ikut berubah warna menjadi kuning keemasan.

Glek

Semua penonton membisu. Madara dan AKATSUKI bengong. Situasi panas mendadak berubah menjadi sedingin es, namun dilain pihak udara tambah pengap dan semua jadi kegerahan. Penonton bahkan ada yang pesen es serut seraya menyantap pop corn.

Sasuke sudah siap mengeluarkan jurus kebanggaannya 'SUSANOO' sementara Kuro hanya berdiri terdiam memandanginya. Sasuke tertawa bak psikopat, meskipun begitu para fans Sasuke yang melihatnya malah makin terpesona.

"SASUKE~KUN~! WE LOVE YOU~!"

Tawa Sasuke makin meledak, Sasuke makin meremehkan, "Heh, lihatlah semua orang memujaku. Jangan kira hanya karena kau sedikit cakep, kau jadi sombong. NGACA DONG! NGACA!" tawa bangga dari Sasuke berkumandang.

Sejak kapan Sasuke jadi narsis?

"Heh, bocah! Yang suka padamu itu hanya anak ABG doang. Lihatlah aku, semua wanita dari segala penjuru umur menyukaiku." Kuro menunjuk AKATSUKI. "Bahkan anggota organisasi bodoh di belakangku itu juga menyukaiku. Tahu dirilah! Bocah yang tidak lebih tampan dariku!"

JGERRR

Perang narsis antara Kuro dan Sasuke akhirnya tiba. Suara halilintar dan petir berkumandang menandakan mereka berdua telah siap pada posisi bertempurnya. Para penonton menyoraki jagoan mereka masing-masing. Sementara anggota AKATSUKI yang tersisa malah memasang taruhan siapa yang menang nantinya.

Madara yang baru sadar dari lola-loading lamanya, menengahi. "Apa yang kalian lakukan? Mau menghancurkan meeting kita. Ingat kita itu saudara satu misi satu visi satu tujuan satu-"

"DIAM KAU, BODOH!"

Anehnya, satu ini Kuro dan Sasuke bisa kompak paduan suara. Kuro mendelikkan matanya, "Aku tidak suka ada bocah yang mengikuti kalimatku. " Sasuke menanggapi, "Dan aku juga tidak suka ada kakek yang mengikuti gaya rambutku!"

DUARRR

"MAJULAH KAU, BOCAH!"

"SEHARUSNYA AKU YANG BILANG BEGITU, KAKEK!"

dan

DUARRRR,,

Bunyi petasan meledak, disertai dengan jatuhnya korban penonton yang menyaksikan pagelaran acara. Tidak tanggung-tanggung acara rapat tersebut hancur disertai korban tewas berjumlah-tidak dapat diidentifikasi-beserta robohnya markas rahasia yang susah payah dibangun oleh nenek moyang Madara.

Beginilah jadinya kalau ente pade mau melihat seorang iblis dengan manusia yang mirip dengan iblis bertarung. So apa yang akan kau lakukan, Madara.

Tidak ada yang bisa kau lakukan selain.

BANGUUUUUNNNN!

Madara jatuh dari pohon. Kebiasaannya tidur tidak kenal tempat memang sulit untuk diubah. Berterima kasih kepada Tobi sang junior yang bersedia membangunkan sang leader. "Madara-sama, tidur di pohon lagi? Ini sudah jam berapa, sekarang kita ada rapat strategi perang. Semua sudah menunggu." ujarnya tidak habis pikir.

Madara menoleh, "Rapat ya? Unn, siapa aja yang belum datang?"

"Sasuke dan Kuro belum datang. Aku baru mau memanggil merek-"

Madara langsung memotong, "Jangan, jangan kau panggil mereka. Pokoknya mereka nggak boleh ketemu." Apa jadinya kalo dua orang paling bengal dan paling keras kepala yang sejenis itu ketemu di rapat. Malah perang saudara nantinya.

"Sebagai gantinya panggil mereka secara terpisah."

Tobi yang pada dasarnya penurut hanya mengiyakan, "Ngomomg-ngomong jadi gak rapatnya?"

Tobi menatap Madara yang masih memakai kolor.

END OF OMAKE

.

.

Lanjut

.

.

OMAKE 2

Pairing : Kakashi, Hinata and Kuro

Summary : Kisah ini berawal semenjak Hinata yang sudah siuman dari tidur panjangnya selama 2 jam di rumah sakit. Kakashi merasa sangat bahagia mendengarnya. Awalnya dia merasa sangat khawatir. Namun setelah menimbang-nimbang ia pun memutuskan.

Aku akan beli bunga lavender di toko bunga Yamanaka.

dan

Action,,

Terjadi kegemparan di wilayah negara HI. Tepatnya di desa api bernama KONOHA. Situasi ini bermula semenjak sang saksi mata aka' Yamanaka Ino mengabarkan dari lokasi kejadian. Bahwa dirinya mendapati sang pelaku utama garismiring sang tersangka berjalan keluar setelah membeli seikat bunga lavender berwarna lavender.

Nah lo,

Dan, lebih menakjubkannya lagi sang pelaku itu tidak lain adalah guru dari temannya saingannya rivalnya lelaki yang dia sukai yang tidak lain adalah Uchiha Sasuke yang berjenis kelamin laki-laki yang saat ini menjadi ninja buronan yang dulunya memiliki seorang guru bernama Kakashi Hatake.

Catet.

Dan yang lebih mengagetkannya lagi, sang jounin bermasker itu membeli bunga dengan rona merah di wajah.

SIING

Wajar sekarang kalau gadis cantik berambut pirang panjang bernama Yamanaka Ino mengintai diri beliau beserta antek-antek yang cuma sedikit. Yah, cuma kurang lebih 29 orang lah. Mewakili para chunin, genin, sedikit ANBU, sama anak-anak kecil yang ngira lagi main petak umpet.

"Disini, Yamanaka Ino, roger!" bisik sang gadis berponi pirang dengan menggunakan wireless di telinganya. Shikamaru yang mau gak mau -karena dipaksa- juga membalas, "Ya, roger." ujarnya malas sambil menguap. Ino kembali menjawab, "Sudah tahu belum, kemana si K (Kakashi) itu pergi?"

Shikamaru melihat sekelilingnya dengan Chouji, mengintip dari semak-semak, Kakashi yang tengah berjalan sambil sesekali mencium aroma lavender di tangannya.

"Belum, target masih berjalan. Belum pasti siapa korban yang hendak ditemuinya."

"Tetap awasi dia, insting wanitaku mengatakan, Kakashi akan menemui selingkuhannya."

"Haa?"

Ino memutuskan alat komunikasinya, baterainya habis sih-dasar gak modal- lalu mulai mengikuti Kakashi dengan menggunakan jurus shintensin miliknya. Berpindah ke bentuk kupu-kupu. Mulai terbang dan hinggap ke bunga lavender Kakashi biar gak curiga.

Kakashi heran kok ada kupu-kupu yang nyasar ke bunganya. Namun tetap cuek dan melanjutkan langkahnya. Ino sudah senyum-senyum sendiri, "Sebentar lagi aku akan tahu siapa sebenarnya selingkuhanmu, wahai Kakashi-sensei!" inner Ino berteriak.

Beberapa lama kemudian, Kakashi tiba di rumah sakit, Ino dan antek-anteknya menatap bingung. Apa selingkuhannya itu ada di rumah sakit. Apa mungkin seorang perawat, pasien atau- belum sempat berpikir lebih lanjut, Kakashi lebih dulu mengambil kupu-kupu -jelmaan Ino- dan membuangnya jauh-jauh.

Untungnya berhasil ditangkap oleh seseorang secara tidak sengaja.

Mata Ino melebar, tubuh kupu-kupunya saat ini lemas berada di genggaman pria yang tidak dikenalnya. Mata Ino membelalak melihat orang yang menyelamatkannya memiliki tampang setampan malaikat.

Berambut hitam legam, dengan pakaian hitam, gaya maskulin, untuk sesaat Ino tidak percaya bisa menemukan seorang pria yang lebih cakep dibandingkan Sasuke di desanya. Namun kali ini keajaiban telah datang. Asalkan bisa bersama orang ini, Ino akan ikhlas -sangat ikhlas- melepaskan Sasuke untuk Sakura.

"Kupu-kupu yang indah-"

Ino tidak berkedip memandang wajah pria idamannya. Katakan lagi, pangeranku~

"Namun sayang-" Kuro mendelikkan matanya, "Lemah!" dengan satu gerakan, Kuro melempar kupu-kupu jadi-jadian itu ke tempat sampah yang berjarak sekitar tiga ratus meter dari arahnya. Dan strike, lemparannya berhasil mendarat dengan tepat.

POOR INO

Kembali ke Kakashi, dengan seikat mawar coret lavender di tangannya, Kakashi menengok Hinata. Tak ada jawaban, Kakashi memutuskan untuk masuk ke ruangan Hinata. Disana ia bisa melihat gadis indigo berwajah manis itu tengah terlelap.

Kakashi menaruh bunga lavender tersebut ke dalam pot. Kemudian duduk disamping Hinata. Memperhatikan wajah gadis itu yang ternyata lucu ketika tidur. Dengan penuh perasaan Kakashi membelai wajah Hinata.

"Kenapa perasaanku begitu kacau setiap berada di dekatmu?" tidak ada jawaban, ya jelaslah Hinata sedang tidur. "Kau membuatku selalu nyaman Hinata." Kakashi mendekatkan wajahnya, "Kau tahu Hinata sebenarnya aku-"

Belum sempat Kakashi mencium Hinata, Kuro yang marah tanpa sungkan-sungkan lagi mulai mengeluarkan jurus special attack combo-nya dan mem-punch Kakashi yang berani mengganggu miliknya. Hingga terlempar jatuh dari jendela rumah sakit dan menimpa tubuh asli Ino yang mulai sadarkan diri.

POOR KAKASHI

Hinata yang mendengar suara keras, terbangun dari tidurnya. Sambil mengucek-ngucek matanya, ia melihat sekeliling. Heran melihat Kuro berdiri memandang jendela kamarnya yang terbuka.

"Ada apa?"

Kuro menoleh ke Hinata yang telah terbangun. Ia kemudian menghampirinya, "Bukan apa-apa. Sebaiknya kau cepat tidur. Kau harus memulihkan kondisi tubuhmu." Hinata mengangguk, melanjutkan tidurnya.

Tanpa menyadari Kuro yang menyembunyikan bunga lavender pemberian dari sang jounin dan membuangnya -tanpa sepengetahuan Hinata- keluar jendela.

POOR LAVENDER

Sisanya, antek Ino dan Kakashi tepar dan terpaksa dibawa ke rumah sakit di sebelahnya karena kejang akut.

POOR PEOPLE

END OF OMAKE