SideStory#2:

Aphrodisiac

Rated: M

Warning: Lemon, OOC, Typos, Yaoi, BL

Amano Akira

AG [For This Chapter]

"Pa-panas...panas...! panas...!" rengek Giotto terus menerus, Hibari hanya mengacuhkannya. Giotto hanya memukul-mukul meja, menyebabkan beberapa lembar dokumen penting yang seharusnya mereka selesaikan bertebaran tak berdaya di bawah lantai. Hibari hanya bisa mengernyitkan kening melihat tingkah kekanak-kanakan Giotto. Hibari berdiri dan terpaksa mengambil dokumen yang berjatuhan.

"Oi, Hibari-kun...panas sekali..." rengek Giotto sekali lagi, kali ini dengan menarik baju Hibari hingga remaja vampire itu hampir kehilangan keseimbangan.

"Diamlah, Herbivore. Kalau kau tidak tahan, keluar sana!" Hibari dengan cepat kembali duduk ke tempat duduknya.

Giotto merasakan bajunya sudah sangat basah akibat hawa panas yang memenuhi ruangan tersebut. Ia mengutuk-ngutuk tentang rusaknya pendingin ruangan akibat ulah Hibari dengan tonfanya, tentu saja. Giotto hanya dapat bertanya-tanya, mengapa bawahannya ini bisa bertahan dalam hawa yang panas –ralat, sangat panas ini? Giotto saja sudah merasa tubuhnya sebentar lagi akan mengering. Sebagai vampire, Giotto tidak memiliki tenaga yang cukup pada siang hari, apalagi menghadapi matahari yang serasa ada dua. Ha, berhenti membicarakan masalah panas. Giotto makin pening karena terus-terusan memikirkan panas.

'Anak ini...kenapa dia kalem sekali?!' batin Giotto kesal. Giotto datang ke meja Hibari dan mencoba menggoda Hibari.

"Nee, Hiba-kun...bagaimana kalau kita bermain sebentar?" Hibari terdiam, kemudian memasang seringaian andalannya.

"Kau menggodaku, huh?"

"Sekali-kali aku ingin sekali mencobamu" bisik Giotto dengan nada seduktif.

"Oh? Bagaimana kalau aku panggil herbivore itu?"

"He-heh?"

"Hm...tentu saja 'dia' lebih tepatnya kakakku sekaligus teman kecil kesayanganmu itu."

Ancam Hibari. Giotto tentu saja mengurungkan niatnya, Hibari tersenyum penuh kemenangan. Giotto menggeram kesal. Marah-marah dan menggerutu tentu saja membuat tenggorokannya kering.

"Hibari-kun, air, mana air?" tanya Giotto sambil memegangi tenggorokannya. Hibari hanya menunjuk ke arah sebuah kulkas kecil di sudut ruangan. Giotto tersenyum dan segera meneguk air dingin yang baru keluar dari kulkas. Giotto menghela nafas lega ketika merasakan air yang diminum telah mengalir ke dalam tubuhnya.

"Oi! Hibari-kun! Kau ada minuman ringan atau...sejenisnya?" tanya Giotto kepada Hibari yang sibuk berkutat dengan lembaran-lembaran kertas menyebalkan–bagi Giotto–itu. Hibari hanya menunjuk ke arah atas. Giotto segera meraih sebuah botol berukuran ibu jari orang dewasa dan meneguk cairan putih itu.

"Oi Herbivore, jangan sentuh botol kecil itu."

Terlambat.

Giotto sudah meneguk seperempat dari cairan bening itu. Hibari menyadari kecerobohannya. Itu sebuah Aphrodisiac, atau biasa kita sebut obat perangsang milik Alaude Hibari, sang kakak. Hibari harus lari sekarang juga. Sebelum dirinya di perkosa oleh sang ketua OSIS yang sedang di mabuk obat perangsang.

"ngh...Hi-Hibari-kun...lho? Hi-Hibari-kun~?" Giotto menyadari bahwa si bocah tonfa itu sudah menghilang. Giotto berjalan dengan terseok-seok. Giotto memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing. Giotto merasakan sensasi panas yang ada di tubuhnya, namun rasanya berbeda. Bukan panas seperti demam. Apakah ini penyebab cuaca? Sepertinya juga bukan.

Giotto tahu ini bukan gejala panas biasa. Ia seperti menginginkan sesuatu. Sesuatu yang tidak biasa tentunya. Ia merasakan sesuatu yang keras di area sensitifnya. Giotto perlahan-lahan memasukkan dua jarinya ke dalam mulutnya. Mengulumnya hingga liurnya membasahi kedua jarinya. Sementara tangan kirinya meraba-raba kejantanannya yang mulai menegang.

"Engh..." lenguh Giotto sambil menekan-nekan kejantannannya yang masih terbungkus celana.

"Ahn...! ahn...! ehn..." Giotto perlahan-lahan membuka kancing celananya dan menyelipkan tangannya ke dalam. Giotto menekan lubang kecil pada kejantanannya sendiri. Untuk memberikan Service kepada dirinya sendiri. Giotto perlahan menggerakkan kejantanannya naik-turun untuk memberikan sesasi yang lebih.

Desahan Giotto memenuhi ruangan itu. Giotto berusaha untuk menahan desahannya sendiri. Sampai ia mencapai klimaksnya. Giotto menjilati cairan miliknya sendiri dengan rakus. Giotto memasukkan jarinya yang sedari tadi berada di dalam mulutnya, kemudian memasukkannya ke dalam anal miliknya. Merasa kurang puas, Giotto memasukkan ketiga tangannya sekaligus, dan langsung menghantam titik lemahnya. Giotto hampir berteriak. Ia dapat melihat cairan miliknya sendiri membasahi sofa hitam tersebut.

"Heng...eng..." Giotto memasukkan jarinya dan menggerakkannya dengan kasar sehingga menimbulkan sensasi nikmat berlebih pada tubuhnya. Giotto terus menerus menggerakkan jarinya dengan gila, tubuhnya semakin tak nyaman, semakin panas dan menegang. Giotto tetap saja belum puas.

"Egh..." Giotto mencapai klimaks untuk ketiga kalinya.

Giotto merebahkan tubuhnya di sofa dan perlahan-lahan kembali menyentuh lubang analnya yang sudah agak melebar karena jari-jarinya yang masuk. Giotto terus-menerus menghantam titik lemahnya.

"Giotto." Tubuh Giotto membeku. Ia mengenal suara baritone khas Hibari itu, tetapi ini lebih berat dari suara sang carnivore, Hibari Kyoya. Tubuh Giotto bergetar hebat, merasakan tangan besar dan kasar itu perlahan menyentuh rambut pirangnya. Wajah Giotto merah padam karena tertangkap basah.

"A-Alaude..." bisik Giotto dengan suara yang nyaris tak terdengar.

"Kenapa? Lanjutkan saja..." bisik suara baritone itu dengan seduktif dan rendah. Giotto hendak mengeluarkan jarinya, namun pergelangan tangannya di tahan oleh pemuda bertubuh tinggi di belakangnya, Alaude Hibari. Pemuda berambut pirang pucat itu mendorong pergelangan tangan Giotto hingga membuat jari-jari Giotto masuk dan menghantam titik lemahnya. Giotto tersentak.

"Ta-tapi Hi-Hib..hh..ari-khhun bi-bilanghh..., ka-kau ad-ada di Spanyol...hah..." Giotto berusaha mengatur nafasnya. Alaude berbisik kembali di telinga Giotto.

"Ah, kau merindukanku?" Alaude memberikan sebuah kissmark di punggung Giotto. Giotto tidak menjawab, namun tetap mengeluarkan desahan panjang. Alaude melirik sebuah botol kecil yang tergeletak di depan kulkas kecil di sudut ruangan.

"Kau meminum obat perangsang itu? Anak nakal. Tak kusangka reaksinya terhadap tubuh vampiremu sangat cepat." Bisik pemuda itu lagi sembari menghirup aroma mint yang tercium dari pemuda vampire berambut pirang itu.

"Hhhn..." Giotto melenguh saat Alaude menarik jari-jarinya keluar dari analnya. Giotto membaringkan tubuhnya dalam posisi tengkurap. Kedua mata Alaude tampak menelusuri bagian-bagian ruangan yang lumayan besar itu. Kemudian matanya terarah pada sebotol madu di bagian atas kulkas kecil mereka. Alaude melirik Giotto dan mengangkat alisnya. "Kau suka madu? Wao."

"Bu-bukan! Itu pemberian salah satu guru di sini, karena aku merasa tidak enak hati, maka ku terima saja! Lagipula aku tidak suka manis–"

"Baiklah, aku akan membuatmu menyukainya." Alaude melumuri jari telunjuk dan jari tengahnya dengan madu itu dan langsung memasukkannya ke dalam mulut Giotto. Giotto segera memainkan lidahnya dan membersihkan jari-jari milik Alaude dari cairan kuning bernama madu itu.

"Nhh..." Giotto mengeluarkan jari Alaude dari dalam mulutnya. Alaude mengoleskan beberapa tetes ke wajah Giotto dan membersihkan wajah Giotto dengan lidahnya. Setelah bersih, Alaude kembali mengolaskan beberapa tetes ke wajah Giotto dan melakukan hal yang sama. Giotto hanya memejamkan mata. Alaude menuangkan setengah dari isi botol itu ke wajah Giotto. Giotto ingin sekali membuka kedua matanya, namun madu yang Alaude tuangkan ke wajahnya terasa lengket dan membuat Giotto agak susah membuka matanya. Maka, dengan mata setengah tertutup, Giotto mencoba mengintip dari balik kelopak matanya.

"Engh...!" Giotto tersentak ketika Alaude mengunci kedua tangannya dan dengan ganas melumat bibirnya. Giotto memberontak, namun Alaude lebih kuat daripada dirinya. Alaude menikmati rasa manis madu yang menyapa indra perasa miliknya, lidahnya menelusuri setiap sudut mulut Giotto.

"Mhh...mnn..." Giotto berusaha mengikuti pergerakan lidah Alaude, namun entah mengapa, sulit rasanya bagi Giotto.

Alaude menghisap lidah Giotto dan menggerakkan kepalanya naik-turun untuk terus mengulum lidah Giotto. Stok udara dalam paru-paru Giotto sudah hampir habis. Maka Alaude yang mengetahuinya, melepaskan Giotto dan memberinya kesempatan untuk menghirup oksigen.

"Hnnh...ahh..." Giotto segera mengumpulkan oksigen sebanyak-banyaknya. Alaude kembali menuangkan sebagian madu itu ke mulut Giotto, kemudian kembali mengunci mulut Giotto.

"Ngghh...ngghh..." Giotto merasakan lidah Alaude semakin bergerak kasar dan liar. Mulai dari memelintir lidahnya, lalu menjilati dinding mulutnya, dan mengabsen giginya satu per satu. Air liur bercampur dengan madu mengalir melalui sudut mulutnya.

"Bagaimana? Kau mulai menyukai 'manis'?" tanya Alaude sambil menunjukkan senyum seringaian khasnya.

"Haaah...engh...berikan aku...lagi." bisik Giotto. Iris Ice Blue Alaude melebar.

"Haa...kau mulai menyukainya, huh?" balas Alaude dengan nada seduktif. Wajah Giotto merah padam.

"A-aku hanya– Mpphh!" Alaude kembali mengunci mulut Giotto rapat-rapat. Tangannya mencolek madu yang sekarang tinggal seperempat di botol bening itu. Alaude perlahan-lahan mengolesinya ke leher, turun ke nipple Giotto, dan perutnya. Giotto mendesah ketika Alaude perlahan-lahan memelintir nipplenya yang sudah mulai mengeras. Alaude melepaskan ciumannya dan menjilati madu yang menempel di nipple Giotto.

"Nggh...hentikan...argh!"

Hisap, kulum. Hisap, kulum. Terus berulang-ulang. Hingga kejantanan Giotto mulai semakin mengeras dan membesar. Alaude memperhatikan reaksi tubuh Giotto. Alaude menghisap nipple Giotto dengan sangat kuat, dan selingi kissmark. Membuat tubuh Giotto semakin berdenyut-denyut dan membuat Giotto merasa tidak sabar.

"Egh...Alaude...lakukan...sekarang!" perintah Giotto dengan nada yang tak kalah seduktif. Alaude mengelus rambut pirang Giotto.

"Aku ingin bermain sebentar. Bersabarlah, aku yakin ini tidak akan lama." Alaude kembali memainkan kedua nipple Giotto bergantian. Giotto mencengkram rain coat yang di kenakan Alaude. Alaude kembali menggigit dan mengulum nipple Giotto dengan keras. Tanpa disadarinya, Giotto mengeluarkan air matanya. Tangannya mencoba mendorong kepala Alaude.

Alaude menekan kejantanan Giotto dengan lutut kanannya. Giotto meringis kesakitan. Alaude akhirnya menyudahi permainannya dengan kedua nipple Giotto. Giotto menghela nafas.

"He-hei! Tunggu! Apa yang kau–" Giotto berusaha menahan tangan Alaude. Alaude kembali menyeringai dan memijat kejantanan Giotto. Giotto mendesah. Alaude kembali mencolek madu yang ada di botol. Kemudian melumuri kejantanan Giotto dengan madu di tangannya. Giotto berteriak tertahan, dan kemudian mencapai klimaks. Alaude hanya menatap telapak tangannya yang kotor, kemudian menjilatinya.

"Bangun." Giotto berusaha mengangkat tubuhnya. Entah mengapa, tubuhnya terasa sangat berat.

Giotto dapat mendengar suara kancing celana Alaude terbuka. Giotto hanya memandangi Alaude dengan datar. Namun tersirat sesuatu di matanya. Dan, setelah Alaude benar-benar melepaskan celananya yang mengganggu itu, tampaklah kejantanan Alaude yang sudah sangat menegang. Giotto yang mengerti segera menjilati kepala kejantanan Alaude. Alaude mendesis karena merasakan lidah kasar Giotto menari di atas kepala kejantanannya.

Giotto menyeringai dalam hati. Giotto hendak memasukkan kejantanan Alaude ke dalam mulutnya, namun Alaude menghentikannya sejenak. Alaude tanpa mengucapkan sepatah kata pun menuangkan sebagian madu di kejantanannya.

"Sekarang. Lakukan."

Giotto memasukkan kejantanan Alaude ke dalam mulutnya sampai hampir seluruhnya amsuk. Alaude menahan kepala Giotto dengan kedua tangannya, dan menuntun gerakan Giotto.

Pertama, gerakan tangan Alaude masih agak pelan. Giotto merasakan perlahan-lahan gerakan kedua tangan itu semakin gila. Sangat cepat.

"Mphhff–!" Rintih Giotto kesakitan. Alaude menggerakkan pinggulnya dengan cepat. Giotto juda merasakan kejantanan Alaude semakin membesar di dalam mulutnya. Giotto ingin sekali menarik kepalanya saat ini juga, namun Alaude menahan kepalanya dengan sangat erat. Semakin lama kejantanan Alaude semakin besar.

Sampai Giotto merasakan sesuatu mengisi tenggorokkannya. Sakit, dan terasa basah...

Giotto menarik kepalanya. Cairan milik Alaude bercampur dengan madu menetes melalui celah-celah mulutnya. Giotto menatap Alaude kesal.

"Kenapa?" tanya Alaude menyadari bahwa Giotto marah kepadanya.

"Ka-kau tidak perlu sekasar itu, tahu..." Alaude tersenyum tipis dan menarik tangan Giotto. Sehingga Giotto ada di pelukannya sekarang. Alaude sekali lagi mengunci mulut Giotto, tangan kanannya perlahan-lahan menyambar botol madu yang tergeletak di meja dan kembali mencoleknya. Alaude langsung memasukkan tiga digit jarinya ke dalam anal Giotto dengan kasar. Giotto memberontak.

"ENGH! ENGH!" Rintih Giotto ketika Alaude menghantam dinding-dinding analnya berkali-kali. Alaude tetap menelusuri bagian dalam Giotto sampai ia menemukan sesuatu yang di carinya.

Titik kelemahan Giotto.

Giotto mencapai klimaks untuk ke sekian kalinya. Alaude membaringkan tubuh Giotto dan melepas rain coat miliknya. Dan menuangkan seluruh isi botol kaca itu ke tubuh Giotto. Iris biru langit Giotto melebar. Ia hendak memprotes, namun terpotong oleh desahan yang keluar begitu saja dari mulutnya.

"Enghh...! ahh...!"

Alaude menjilati seluruh madu yang menempel di tubuh Giotto. Erangan dan desahan Giotto menggema di ruangan itu. Dan tentunya, akan terdengar sampai keluar. Namun Giotto tidak peduli, yang di pikirannya hanyalah Alaude sekarang.

"A-Ah...Ah..Lauh...de..."

Lidah kasar Alaude kini turun ke arah kejantanan Giotto yang sempat terlupakan tadi. Alaude kembali memasukkan jari-jariinya ke dalam anal Giotto, sementar tangannya yang lain memainkan nipple Giotto. Dan mulutnya bekerja di kejantanan Giotto.

"Ukh...akh...! ja-jangan lama-lama! A-aku–"

"Kau sudah tidak sabar, ya?" tanya Alaude dengan nada seduktif. Giotto mengangguk dengan mata terpejam. Alaude meletakkan kepalanya di pundak Giotto. Giotto dapat merasakan hembusan nafas Alaude di pundak kirinya.

"Aku juga minta sedikit darahmu. Boleh?" pinta Alaude. Giotto yang merasa tidak sabaran mengangguk tanpa berpikir panjang.

Alaude segera mengoyak leher putih Giotto dengan sepasang taring miliknya. Giotto berusaha menahan nyeri yang menjalari seluruh tubuhnya. Alaude mengulum areal luka untuk menghilangkan rasa sakit.

"Alaude..." bisik Giotto.

"Hn?"

"A-Aku..."

"Ya?"

"Tidak ada. Cepatlah!"

Alaude segera memposisikan kejantanannya di depan anal Giotto. Giotto mencengkram pundak Alaude dengan erat dan memeluk tubuh tegap pemuda berambut pirang pucat itu. Alaude hanya berdecak.

"Ini pertama kalinya kau di bawah?"

"Hnnnh..." respon Giotto.

"Bagus." Alaude menggerakkan kejantanannya perlahan. Giotto mengerang kesakitan. Padahal, baru ujungnya saja yang masuk. Alaude membenamkan seluruh kejantanannya dalam sekali hentakan. Giotto merenggangkan tubuhnya. Rasanya sakit luar biasa. Alaude melihat sebuah cairan kental berwarna merah mengalir keluar. Giotto menangis dalam diam. Alaude yang melihat Giotto menangis, hanya membersihkan air matanya dengan kedua ibu jarinya.

Ia perlahan-lahan menggoyangkan pinggulnya, untuk membenamkan kejantanannya lebih dalam. Giotto mendesah kencang. Ah, Alaude menghantam titik lemahnya. Alaude menyeringai dan mulai menghantam titik lemahnya terus menerus. Giotto mencakar-cakar punggung Alaude.

"Hn...! ahh...! ahh...!"

Giotto mulai menggerakkan pinggulnya. Mendominasi gerakan Alaude. Giotto merasakan tubuhnya menjadi sangat panas. Giotto memeluk tubuh Alaude dengan sangat erat. Alaude pun menggerakkan kejantanannya dengan laju cepat. Membuat pandangan Giotto memutih sejenak karena Alaude.

Alaude merasakan dinding-dinding Giotto semakin sempit dan menghimpit kejantanannya. Giotto mencapai klimaksnya. Namun. Tidak dengan Alaude. Alaude mengunci mulut Giotto dan menggerakkan kejantanannya dengan sangat kencang, sampai menimbulkan bunyi. Air mata Giotto semakin deras.

Sampai, Giotto klimaks untuk kedua kalinya. Alaude tersenyum dan membelai rambut pirang itu. Ia menanam kejantanannya semakin dalam dan dalam, Giotto mulai tenggelam dalam dunianya sendiri. Kini hanya Alaude yang ada di pikirannya.

"ALAUDE! AH!" Giotto merasakan kejantanan Alaude membesar.

Alaude merasakan dinding Giotto yang sempit dan lembab itu mulai menghimpit kejantanannya lagi. Alaude sudah mau mencapai klimaksnya. Alaude hendak mengeluarkan 'benih' miliknya di dalam, namun Giotto mencegahnya.

"Kau yakin?" tanya Alaude parau. Giotto mengangguk.

"Heengh!" 'benih-benih' Alaude pun mengisi bagian dalamnya, Giotto melenguh ketika Alaude mengeluarkan kejantanannya. Giotto langsung memeluk Alaude dengan erat.

"Oi! Kenapa kau tidak bilang padaku bahwa kau sudah pulang?! Dasar bodoh!" Omel Giotto pada Alaude. Alaude hanya menghela nafas.

"Ah...itu...sebenarnya aku ingin memberi tahu, tapi rasanya tidak enak." Alaude menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Ah, Herbivore, rapat antar ketua klub akan dimu–" Hibari menjatuhkan tumpukkan kertas yang akan menjadi bahan rapat mereka hari itu.

"Waah! Hardcore Yaoi!" pekik Bluebell Del Millfiore, gadis berambut biru ketua klub berenang muncul di depan pintu dan memotret adegan di depannya.

"Engg...maaf menganggu!" G., Ketua klub memanah berambut merah muda itu berjalan mundur. Sepertinya Giotto dan Alaude belum mencerna apa yang terjadi sampai mereka tersadar sesuatu.

Terlihat banyak orang berdiri di depan pintu, dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun menempel, serta ruangan berbau Sperma yang mengotori lantai, bercampur dengan madu yang tadi Alaude gunakan.

"AHHH!"

"KYOYA!"

"Kami...menyingkir. Selamat menikmati, dan silahkan kau lanjutkan!" terdengar Hibari membanting pintu karena terkejut. Sementara itu, Bluebell, ia terkekeh melihat foto-foto yang tadi di dapatkannya, G. dan Lampo, ketua klub kerajinan tangan hanya menunduk sambil memerah.

'Ah, lupakan-lupakan!' batin mereka kecuali Bluebell.

'Sialan...aku lupa kalau hari ini ada rapat! Pasti mereka akan menatapku seperti orang aneh, besok!' geram Giotto dalam hati.

'Ah...imageku pasti rusak begitu masuk besok...' Batin Alaude.

Mereka hanya saling menghela menatap dengan pandangan kosong, dan kemudian menghela nafas. Tidak tahu apa yang terjadi besok.

OWARI!

Waow! Ini dia SideStory ke-2! AG BRO! AG! Fuuuh, saya harus menyelesaikan fict ini secepatnya! Ngeebuutt! Saya berencana mau bikin Harem dengan tokoh utama Tsuna. Muahahahahahaha! Rated M tentunya! xD

Akhir-akhir ini otak hentai saya menurun. Gara-gara terkuras habis dengan Pekerjaan rumah yang menumpuk, dan tentunya sudah banyak tersalurkan ke fanfiction saya yang lain. (._.)

Aaahhh...saya tau, saya tau. Nih lemon kurang asem, sekaligus penulisannya masih dikit-dikit ancur dengan Typos bertebaran. (;¬д¬)

Oh iya, soal review, soal review...mesti ngobok-ngobok dulu#gaknanya(; ̄Д ̄)

Ah...A/N yang gak penting-penting banget! (ノಠ益ಠ)ノ

Oke, beralih ke balasan review. (¬_¬)

Izuryuu:

Izuryuu-san...saya enggak ngerti apa yang kanda ucapkan! #diteplak

Tapi...MAKASIH SUDAH MAU MEREVIEW! SAYA SANGAT MENGHARGAI DIKAU!#dilempar toa

Black Roses 00:

Iya, saya itu juga tau kok Black-san ._.

Tapi, setiap cerita dalam side story berbeda-beda, dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan cerita di chapter pertama ._.

Ehehehehe...dengan senang hati dan tulus kasih saya menerima omongan anda di review! ^^

DarkLidyaNuvuola Del Cielo:

Yap! Side story ini lebih dari satu! xD

Nee, benarkah? Hoo...#apeh?

Mau AG2718? Saya pikirkan nanti lagi! Please! XD #dicincang

Yosh! Side Story berikutnya tunggu aja! xD

I dont know:

Arigatou! Saya sependapat! Hibari lebih cocok jadi seme! xDb

Sakura:

Yosh! Ini dia yang kedua! Terima kasih atas jawabannya! xD

Chapter 01:

Maaf ya, Gasai-san, Numpang lewat, review anda baru nampak sekitar tanggal 30! Saya enggak lihat! Dx

Sekian! Mind to review?