Seharusnya ini masuk ke dalam mini-seri Love Rain saya. Tapi karena jadinya lebih dari satu chapter, saya pisah aja. Daripada dianggap pilih kasih antara Naruhina dengan pairx Hinata lainnya, ehehehe.

Jadi, saya buatin ini buat ngerayain NaruHina Fluffy Day, ^^ yah, meski nyuri-nyuri kesempatan buat ngetik di tengah capeknya belajar sama angka dan huruf yang katanya adalah ilmu.

Yah, mau gimana lagi, dari awal saya suka kedua orang itu. ^^

Yosh, dozo, minna-san...

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: AU, lil OOC, typo(s)? Hujan. School-life, typo (s)? sorry #ojigi.

Love Rain

Karena Cinta pun bisa datang di saat langit menangis...

Hello Girl: Part I

.

.

.

Aku tak pernah bisa mengerti,

Kenapa "Perbedaan", adalah hal termanis yang kita miliki?

(Naruto x Hinata)

.

.

.

Beberapa tetes air turun begitu saja dari langit yang lima menit lalu menggelap. Menuruni batas-batas udara kosong yang terhimpit suhu dingin musim gugur. Beberapa detik berikutnya, hujan deras sempurna menyentuh permukaan bumi, menggenang di ceruk tanah yang lembek, sesekali beriak ditimpa butiran lainnya.

Warna-warni payung lalu terbuka menyambut seruan angin. Melindungi si pemilik masing-masing yang mengeratkan baju ke tubuh mereka. Pemuda itu hanya bisa mendengus kesal pada langit yang menaungi bulan kelahirannya. Benar, ia tak membawa payung, dan ia benci bajunya basah.

Melintas di pikirannya untuk kembali ke rumah, mengambil payung. Tapi itu sama saja berbasah-basahan di bawah hujan selama lima belas menit. Andai saja pamannya tidak terlalu pelit untuk memberinya uang saku hari ini, ia pasti bisa berlindung di bawah atap bus yang terlihat menggoda.

Mata langitnya mengitari jalan, berharap ada sesuatu yang dapat menjadi solusinya pagi itu.

Lalu, entah bagaimana asalnya, perasaan rindu itu mendekat dan membuka jalan begitu lebar untuknya. Mengacuhkan hujan, ia berlari menuju seberang; halte bus.

Nafasnya kacau, tapi lebih kacau hatinya. Dekat dengannya kini, seorang gadis di masa lalu yang mendongak menyadari keberadaannya. Memakai sweater hangat dan rok selutut berwarna cerah. Naruto tersenyum mendapati bahwa mata langitnya begitu berbinar demi menyampaikan berjuta rindu yang menggebu.

Ia kembali melangkah demi mencium aroma yang ditawarkan tubuh gadis yang masih mematung takjub memandang dirinya.

Gadis itu semakin cantik, Naruto ingin memujinya begitu. Tapi pertemuan ini-setelah sekian lama- ingin ia awali dengan sapaan ramah dari negeri asing yang selama empat tahun belakangan menampungnya berkuliah.

"Hello, Girl"

~Aiko Fusui~

(Flash Back: ON)

Payungnya rusak. Bagian sebelah kirinya tidak mau membuka sepenuhnya. Ada masalah di bagian besi penyangganya. Benangnya putus, dan itu membuat si besi layu tak berdaya.

Hinata berusaha tersenyum, setidaknya ia masih bisa berlindung dari hujan jika ia konsisten berada di sebelah kanan. Jadi, ia tetap berangkat sekolah meski hujan turun begitu derasnya. Tak ada angin kan? Seragamnya tak akan berkibar ria kalau begitu.

Ia melewati halte bus dan sadar tak akan mendapatkan bangku saat melihat kerumunan orang berjejalan memasuk kaleng panjang beroda itu. Ia siap berjalan kaki ke sekolah pagi ini, tapi sungguh ia tidak akan siap jika harus mendapatkan kenyataan bahwa seorang pemuda berlari ke arahnya. Pemuda itu tak meneriakkan namanya, hanya bunyi "HOOOOII!" yang membuat Hinata berbalik dan...

"Hello, bagi payungnya."

Tangannya yang tan bersentuhan dengan pucatnya kulit Hinata. Pemuda itu menariknya mendekat agar tubuhnya terhindar dari basah.

"A-a-apa?"

"Apa?"

"Ke-kenapa kau t-tidak naik bus?"

"Nggak bawa uang. Udah deh, aku benci basah, dan aku nggak mau rekor terlambatku meroket."

Dia hendak berlari, tapi Hinata masih punya kuasa atas payung rusak sebelahnya. Ia bergeming di tempat, membiarkan langkah pemuda tak dikenal itu tertahan dan menciptakan air hujan merembes di lengan kemejanya yang pendek.

"Ah, kuso!" pemuda itu memaki, lalu kembali berdiri di dekat Hinata.

"K-Kau siapa?" mata bulannya menatap wajah yang masih merengut di sampingnya. Ia tak perlu mengenal pemuda ini jika tingkah kekurang-ajarannya membuatnya kebingungan.

"Uzumaki Naruto, dan cepatlah... Kemejaku bisa basah." Mengikuti kalimat itu, sebuah gerakan sederhana menyentak kegugupan gadis bermata amethyst. Peraknya berkilat dan pipinya memanas kala hangat telapak tangan tan itu menggandeng tangannya, secara paksa mengambil alih pegangan payung milik Hinata, memutar bagiannya.

Seragam mereka memang sama, tapi apa seragam sama berarti bebas berkurang ajar seperti itu? Apalagi ketika dia membiarkan bahu kiri Hinata menerima guyuran hujan yang dingin, siapa yang memiliki payung ini sih? Dan pemuda macam apa dia?

Wajar bila Hinata kesal, berhati dongkol, dan merasa marah. Dengan semangat yang ditambah ingatan terhadap pesan sang ayah untuk tidak sembarangan berbaik hati pada orang lain, ia lari. Menembus hujan.

Tentu saja dengan membawa payungnya serta.

Lalu pemuda itu? Ah, biarkan saja dia mencak-mencak di tempat sambil sesekali mengumpat. Bajunya basah. Dan sekali lagi, dia benci bajunya basah.

~Aiko Fusui~

Poor Hinata

Tiba di sekolah, ia menuju papan di tengah aula, memeriksa dimana kiranya tahun ketiganya ditempatkan. Memeriksa 3-A, nihil. 3-B, tidak ada nama Hinata di sana. Semoga tidak 3-D!

Kenapa 3-D? Karena kebanyakan penghuninya adalah laki-laki. Hinata memang membutuhkan teman. Teman yang mempunyai visi dan misi yang sama dengannya, yang bisa diajak pergi berbelanja, makan es krim, nonton bioskop, dandan ke salon, dan tentunya teman curhat. Coret jenis laki-laki dari kriteria 'teman dekat' Hinata.

Tapi sungguh tuhan memang benar-benar jahil. Nama Hyuuga Hinata terpampang di deretan ke sebelas di daftar anggota kelas 3-D. Di bawah nama Hozuki Haruka dan diatas nama...

Eh?

Uzumaki Naruto?

Sepertinya dia mengingat sesuatu yang tidak menyenangkan dengan nama itu. Dan hei! Siapa yang menyebarkan aroma kematian siap membunuh di belakangnya?

"Hei..." tidak mungkin ada hantu di pagi hari, kan? Tapi suara di belakang lehernya yang sukses membuatnya merinding itu milik siapa?

"Hyuuga..." nama marganya dipanggil dengan suara rendah yang serak menyeramkan. Aura siap mencekik dan hawa dingin melingkupi sekitar tubuh Hinata.

Gadis penakut itu lamat-lamat mendengar gumaman yang terasa menggigil. Suara aduan gigi bergemeletuk memecah sunyi. Si mata bulan perlahan menoleh setelah meneguhkan hati akan memukul apa saja yang berani menakutinya.

Nama Hyuuga tidak berarti lemah!

Yang pertama ia lihat adalah cerahnya pirang yang kusut. Lepek dengan aksen tetesan air yang menetes ke lantai. Bersuara. Kepala itu menunduk, aura gelap itu kian menguat, dan Hinata tak bisa mewujudkan kata hatinya; tak bisa memukul sesuatu yang nyatanya malah membuatnya kian tak kuat mempertahankan keberaniannya.

Saat mata berbola perak itu menyentuh kengerian dengan menatap langsung ke dalam kelereng biru yang tajam terluka, ia menjerit.

"KYAAAAAA..."

Lima belas menit kemudian, keduanya berada di klinik sekolah. Mendengarkan Shizune-sensei mengadakan mimbar bahwa betapa pergi ke sekolah sambil bermain hujan itu bukan suatu kedewasaan. Naruto membantah dan menyalahkan Hinata atas kepelitannya berbagi payung. Hinata marah dan memberitahu bahwa merebut payung milik orang lain dan membiarkan pemiliknya kebasahan bukan termasuk perilaku yang dapat dibanggakan. Dan merasa nasihatnya tak akan menemukan titik imbang, Shizune-sensei menyuruh mereka kembali ke kelas.

Di koridor, mereka berjalan berjauhan. Tapi di kelas, hanya tersisa dua bangku yang berdekatan. Hinata yang menyukai air memilih menikmati hujan di bangku dekat jendela. Sisanya diambil Naruto.

Ketika mereka masuk, kelas telah selesai menentukan tim partner di tujuh pelajaran wajib. Satu tim terdiri dari dua orang. Dan karena Uzumaki dan Hyuuga terlambat, mereka berdua menjadi tim terakhir dengan nomor tim 14.

'WHAT? Sekelompok dengan Si Pelit-ttebayo?!' Naruto mengumpat dalam hati.

'Neraka! Kami-sama, kumohon jangan ada yang lebih buruk lagi.' Hinata merutuk dalam benaknya.

Mereka berdua memang berada dalam satu tim yang sama. Namun faktanya, hanya Hyuuga Hinata yang selalu menyatakan kehadiran di tes praktek tim. Dimana si Kurang Ajar? Bersama temannya yang menyukai anjing, bolos di tiap pelajaran wajib, kecuali olahraga dan bahasa inggris.

Tapi tidak di kuis, si Biang Bolos selalu hadir dengan cengiran bak mentari yang sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah karena tak pernah ikut kelas, tak sedih maupun menyesal mendapatkan nilai di bawah empat.

Hanya di bahasa inggris, satu-satunya pelajaran wajib-selain olahraga-yang membutuhkan otak yang bisa ia kuasai meski selalu bolos. Nilai tiap kuis bahasa inggris milik Naruto selalu tertinggi di kelasnya, menimbulkan decak kagum sekaligus beberapa hipotesa yang tak pernah dieksperimenkan.

Hinata tidak pernah ambil pusing dengan nilai bahasa inggris si Kurang Ajar yang selalu tinggi. Yang ia permasalahkan adalah kenapa ia selalu menempati urutan kedua di pelajaran tersebut. Oh, mari kita lupakan pelajaran olahraga, dimana nilai Hinata selalu yang paling rendah disana; tepat menyentuh angka persyaratan.

Gadis itu belajar lebih giat malam ini. Menguji pendengarannya akan kosakata inggris yang terasa menyebalkan untuk disimak lewat radio. Semalam suntuk, dan otaknya yang kelelahan bekerja mengirim sinyal kantuk yang meracuni matanya.

Hasilnya sebanding, di kuis bahasa inggris esok harinya, ia mendapatkan nilai yang sama dengan Naruto. Ia siap menyeringai puas. Tapi tak siap saat satu jam berikutnya mendapatkan makian si empunya mata langit.

"Jangan lemas! TENDANG BOLANYA! BAKA YAROU!" Naruto berteriak di tengah gawang yang ia jaga. Menunggu kaki perempuan menyebalkan yang jadi partnernya dalam pelajaran olahraga untuk bergerak lebih kuat.

Hari itu Guy-sensei mengadakan tes tim materi sepak bola. Tiap siswa harus bisa menendang, menyundul, atau bersalto demi memasukkan bola ke gawang yang dijaga tim-partner lainnya. Semakin indah gaya yang digunakan setiap berhasil memasukkan bola, nilai yang diperoleh semakin besar.

Naruto mau saja menjadi pihak penendang, tapi Guy-sensei berkata bahwa membiarkan wanita menjadi penjaga gawang dan lelaki yang menendang bola itu... er yah 'tidak sopan', you know what i mean lah.

"Stop menyebutku baka, BAKA!" Hinata protes.

DUK!

Hinata menendang di tendangan pertama

Hup!

Sukses di tangkap Naruto dengan satu tangan yang kembali menyebutnya "Bodoh ya Bodoh!"

Sebenarnya bukan salah Hinata juga tidak bisa membobol gawang Naruto. Pemuda itu adalah kapten tim sepak bola sekolah yang artinya jago dalam mengontrol bola pun pemain terbaik di tingkat distrik dalam ajang sepak bola yang diadakan tiap musim yang berarti mengetahui gerak-gerik sederhana seorang amatir yang menendang bola yang dapat disimpulkan bahwa Hinata hanya punya lebih sedikit peluang untuk mencetak gol di gawang Naruto.

Kedutan emosi sama sekali tidak mangkir dari Hinata. Ia kembali menendang, tapi kembali ditangkap dengan mudah oleh si Uzumaki.

Di sisi lapangan, teman-teman 3-D menyemangati dengan antusias. Tontonan menarik. Beberapa meneriakkan nama Hinata, beberapa lagi menyuruh Hinata untuk mengincar muka Naruto. Ah, mereka tidak berusaha menyemangati Hinata kok. Mereka justru berharap tendangan terakhir ini benar-benar mendarat di muka si kapten sepak bola yang katanya tak terkalahkan. Karena dengan itu, mereka bisa melihat pertengkaran seru.

Ahahaha, bukankah sudah menjadi rahasia umum kalau Naruto dan Hinata bagai kucing dan anjing? Lucu sekali. Jadi, mereka berpikir alasan mereka cukup rasional untuk menjadi nyata.

Tapi, dulu sekali ada yang pernah bilang bahwa perempuan bergerak sesuai hati mereka, kan? Disini Hinata adalah perempuan. Disini Hinata punya hati dan perasaan. Jadi, dengan penuh amarah dan tambahan sorakan dari teman-teman kelas 3-D yang ia salah artikan sebagai semangat, ia menendang bola sekuat tenaga, menggunakan kaki kanan terkuatnya yang memberikan tekanan terbesar.

Bola meluncur cepat, bergesakan dengan udara Oktober yang dingin. Terbang dengan kerasnya ke arah Naruto yang teralih perhatiannya oleh sorakan teman-teman 3-D; merasa perlakuan mereka tak adil, ah sebut saja dia iri dengan sorakan yang dilontarkan untuk Hinata. Jadi, ia tak siap menerima ketika bola yang Hinata tendang berlari padanya.

DUAGH!

Katakan terimakasih pada Kami-sama yang mengabulkan harapan 'rasional' milik teman-teman 3-D.

Guy-sensei mengacuhkan pertengkaran mulut yang memang sering terjadi itu. Sambil tersenyum, ia menamatkan nilai di kolom nilai urutan Hyuuga Hinata dan Uzumaki Naruto.

"Tendangan bagus. Sayang tidak gol."

Sebut saja hubungan kedua orang itu bagai minyak dengan air. Keduanya tak pernah cocok, tak pernah terlihat rukun. Tak pernah terlibat dialog akrab, tak pernah bisa bertahan mengobrol normal dan selalu bertengkar mulut. Keduanya amat berbeda; Hinata bersuara lembut, Naruto bersuara berisik. Hinata pendiam, Naruto tak bisa bungkam. Hinata tidak suka menarik perhatian, Naruto adalah pembuat onar.

Tak pernah ada yang menjatuhkan taruhan mereka akan bersatu di kemudian hari.

~Aiko Fusui~

"Siapa teman sekelasmu yang paling ahli hitung-hitungan?" Anko-sensei bertanya kepada Naruto. Cowok itu tentu saja tahu jawaban dari pertanyaan itu, tapi ia selalu malas untuk menyebutkan namanya.

"Tidak tahu."

Anko-sensei mendesah, lalu menilik kembali ke daftar nilai di buku nilai kelasnya. Melewati bagian Naruto yang lebih banyak berangka tiga di pelajran eksak, lalu berhenti di salah satu kolomnya.

"Kau tidak tahu karena selalu bolos, Uzumaki-kun."

Naruto tak membantah.

"Bagaimana kalau Hyuuga Hinata? Dia punya nilai-nilai terbaik, er...yah hampir di seluruh mata pelajaran wajib."

"IIE-ttebayo!" Naruto berteriak. Masa bodoh dengan posisi tempatnya sekarang. Toh ruang guru sedang sepi.

Anko-sensei menelengkan kepala. Si wali kelas tentu bingung dengan penolakan keras muridnya yang jago olahraga ini.

"A-ano, saya mengajukan Inuzuka Kiba." Sergah Naruto senormal mungkin, berkelit dari tatapan menyelidik wali kelasnya yang penuh perhatian.

Anko-sensei tertawa, berkata bahwa meskipun Kiba bisa lulus dalam tes akhir semester namun dengan nilai yang tepat di nilai persyaratan yang artinya bukan tutor yang cocok untuk membimbing Naruto menaikkan nilai.

"Me-mengajukan Haruno Sakura."

"Oh, jangan dia. Aku sudah memberinya tugas lain bersama Shizune-san."

Naruto tak menyerah, ia menyebutkan nama-nama teman-teman 3-D secara berurutan. Anko-sensei mendengarkannya sambil lalu, meneliti tiap-tiap nilai anak didiknya di buku berkolom banyak miliknya. Memusatkan perhatian pada kolom Naruto dan Hinata. Secara tiba-tiba menemukan titik terang.

Nilai Olahraga Hinata perlu mengulang, Naruto yang tertinggi di pelajaran itu. Nilai eksak Naruto perlu perbaikan, dan Hinata memiliki nilai-nilai terbaik di eksak kelasnya.

"Sudah diputuskan, Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata mengulang di kelas tambahan musim dingin."

Anko-sensei merasa keputusannya sudah sangat benar. Ia sama sekali tak mengerti bahwa menjadikan Hyuuga Hinata dan Uzumaki Naruto dalam satu kelas penuh di musim dingin adalah bencana.

Dan bencana itu datang dengan cepat.

Hinata memasuki ruangannya dengan kaki menghentak, terlihat sekali sedang berusaha meredam emosi. Tanpa meninggalkan tata krama sebagai murid teladan, Hinata menghadap wali kelasnya, menjerit dengan suara yang tertahan.

"T-tenang, Hyuuga-chan. Ada apa?"

Tuan putri sedang marah, dan Anko-sensei tak ingin hubungan keluarganya dengan Neji hancur jika gadis ini mengadu kepada kakak sepupunya itu.

"Kenapa tidak Anda saja yang menjadi tutor?" Hinata bertanya, matanya yang sewarna bulan, menyelidik dengan teliti wajah Anko-sensei yang memerah.

"Ara, k-kau pasti tahu lah. Ini akan menjadi li-liburan yang menyenangkan dengan suamiku."

Hinata menghela nafas, mencoba memaklumi dan bertanya apakah tidak ada sensei lain yang bisa meluangkan waktunya untuk menjadi pembimbing di musim dingin nanti. Jawaban Anko sederhana. Katanya hanya ada tujuh guru yang bisa meluangkan waktu di musim dingin yang ketujuh orang itu sudah di rekrut oleh kelas satu dan kelas dua.

Meski Anko-sensei terlihat galak, tapi sungguh ia kini meminta maaf dengan muka lucu di hadapan muridnya-yang juga adik sepupu iparnya- atas sikapnya yang merasa bahwa anak kelasnya tak ada yang bermasalah dengan nilai akhir semester awal kelas tiga.

Ah, alasan sebenarnya adalah sake yang ditawarkan Neji semalam membuatnya lupa untuk merekap nilai murid-muridnya. Tentu itu urusan pribadi. Hanya dia, Neji-sayang, dan tuhan yang boleh mengetahuinya.

"Aku mengajukan Aburame Shino." Hinata berucap lantang. Tegas, dan tidak mau ditolak.

"T-tapi kurasa kau dan Uzumaki-kun akan jadi k-kombinasi yang co-"

"IIE!"

Bayangan tatapan tajam Neji dan ketidakmauannya mendekati Anko di ranjang, muncul.

Hei, keharmonisan rumah tangga perlu dijaga kan? Toh, Jepang bukan negara otoriter yang mendiktekan perintah kepada orang lain. Apa salahnya mengabulkan keinginan si tuan putri manja ini barang sekali?

"Yare-yare. Wakatta. Kau puas?" Anko mengganti nama tutor pelajaran olahraga di kolom Hinata. Segera saja mendapatkan senyuman manis dengan kebahagiaan terpancar terang dari wajah si gadis bermata seperak bulan.

"Arigato, Anko-sensei, betapa beruntungnya Neji-nii mendapatkan Anda."

"Yeah, kembalilah ke kelas. Kau membuat kepalaku pusing."

Hinata keluar dengan riang, bertemu dengan si Kurang Ajar di koridor sekolah. Mulutnya membentuk cibiran dan mengatakan bahwa mereka tak akan menjadi tutor silang di kelas tambahan musim dingin seperti yang diumumkan Naruto satu jam yang lalu padanya.

"Tenang saja, tutor kita sudah diganti." Kata Hinata enteng, lalu pergi berlalu

Hatinya memang terasa enteng. Mungkin ia dan Naruto akan bertemu di kelas, tapi bukan sebagai tutor silang. Mengetahui hal itu, pipi Hinata memerah sendiri.

Naruto menatap rambut panjangnya yang tergerai, semakin menjauh karena langkahnya yang cepat menelusuri koridor, meninggalkan Naruto yang masih terpaku di depan ruang guru.

Mereka tak akan menjadi tutor silang di kelas tambahan musim dingin.

"Yosh-" Naruto seharusnya bisa mengatakannya dengan lebih bahagia, tapi sudut hatinya yang paling kecil, entah kenapa terasa sakit.

~Aiko Fusui~

Tunggu chapter berikutnya ^^

Terima kasih sudah membaca, apalagi kalau mereview, hehehe

Salam Hujan

Aiko Fusui