Ini End. Ini End. Ini END! #Dibekep

Hehehe, yosh! Maaf membuat kalian kecewa dengan update-nya yang sangat amat tidak bertanggung jawab sama sekali.

Tabun, minna-sama tidak ingin mengetahui curhatan saya, jadi langsung saja

Disclaimer: Masashi Kishimoto, but this fict is origin of me.

Warning: AU, lil OOC, Naruhina all the ways, a bit of romance, Hujan,typo(s)? sorry #ojigi. Jika nggak suka, sebaiknya tidak menyakiti diri sendiri. ^^

Ketika bus tepat di depan mereka, Naruto menoleh dan kembali ke sisi Hinata untuk memberikan payung kuning miliknya.

"Jaga ini, kurasa sekarang Kau lebih membutuhkannya, si Pelit."

Hinata memerah. "Bahkan penawaranmu masih dengan ejekan. Dasar si Kurang Ajar."

"Hehehe, sampai jumpa Hinata-chan..." Naruto masuk bus melambaikan tangannya lewat jendela yang ia buka, mengacuhkan protes dari penumpang lain yang merasa kedinginan.

"Aku akan kembali untukmu!"

Senyumnya secerah mentari, semburat merah di pipi keduanya manis seperti puncak delima. Hujan menyamarkan air mata Hinata

Jaa... aku akan menunggumu, Naruto-kun.

(Flash Back: OFF)

Aku selalu bahagia saat hujan turun

Karena aku dapat mengenalmu untukku sendiri...

(Hujan-Utopia)

Love Rain

Hello Girl: Part IV

End

.

.

.

Aku ada karena Kau telah tercipta

Seperti hujan..., kau mendungku yang kucintai

Perbedaan menyatukan kita

Dan membuat tanda di langit bahwa kita tak bisa dipisahkan

(Naruto x Hinata)

.

.

.

Jadi, benar-benar mereka berpisah.

Naruto mengikuti bakat olahraganya dan mengasahnya di bawah naungan latihan keras klub setan merah. Mencicipi hiruk pikuk Manchester dan berkenalan dengan budaya baru yang cepat akrab karena dirinya yang berpembawaan ceria.

Ada banyak gadis cantik yang berkeliaran di sekitarnya. Pirang dan bermata biru. Rambut coklat dengan sikap aristokrat. Kulit putih dan wajah tirus yang mempesona.

Oh, sungguh dia hanya lelaki.

Tapi dia punya 'sesuatu' yang membuatnya menjadi lebih dari 'lelaki'.

Janji bahwa dia hanya menyukai satu gadis. Janji bahwa dia hanya akan menyerahkan hidupnya untuk seorang gadis. Dan janji bahwa dia tak akan menyia-nyiakan kepercayaan yang lama dia kantongi dengan begitu erat.

Empat tahun, dan dirinya letih menanggung rindu. Cinta itu meledak sedemikian rupa dan ia tak mampu untuk mengendalikannya dalam jalur yang sesuai hati nurani. Kalau saja dia punya kekang yang lebih kuat untuk bertahan disana setahun lagi.

Tapi sungguh, ia boleh kan jadi lelaki yang kasmaran?

"Paman, aku ingin pulang ke Jepang."

Iruka menoleh pada keponakannya, menannyakan alasan seperti orang tua pada umumnya.

"Aku rindu seseorang, dan ini menyebalkan jika aku tidak segera menemuinya-ttebayo. Kau paham maksudku kan, Paman?"

"Ahaha, Kau sudah dewasa, eh?" Iruka beranjak dari tempat duduknya. Meletakkan buku yang sedari tadi dibacanya. Pria kelewat matang itu menjajari Naruto, menepuk-nepuk kepala pirangnya yang tinggi. "Pergilah."

"Hontou?"

"Ya, dan kali ini jangan lupa mengatakannya secara langsung."

Naruto mendadak tersenyum kecut. "Aku sudah mengatakannya dua kali di waktu yang sama, Paman."

"Katakan lagi. Kali ini buat dia tak mampu berlari." Iruka tersenyum, sekali lagi menepuk-nepuk puncak kepala keponakan kesayangannya. Sesaat kemudian, dia menjauh sembari menutupi hidung, "Tapi Kau perlu mandi, Naruto."

~Aiko Fusui~

Kelas paginya selesai. Siangnya tidak ada kuliah karena sang dosen memutuskan untuk melahirkan lebih cepat dua minggu dari perkiraan. Jam kosong dan sangat tidak nyaman harus berada di kampus tanpa Sakura yang kini sedang kencan dengan pacarnya.

Hinata dengan segala sifat pemalunya terlalu sulit untuk membuat teman sendiri.

Di luar sedang hujan, sedikit gelap bahkan di jam sesiang ini. Kelabu. Air. Cipratan. Suara tik-tik. Hujan...

Naruto sedang apa hari ini?

"Hh..." Hinata menghela nafas. Rasa rindunya semakin membuncah. Parameter mungkin tak berlaku untuk mengukur seberapa besar perasaan yang membuatnya merasa sulit tidur ini.

Apa di Inggris juga sedang hujan?

Rok selututnya pelan bergerak karena angin yang datang. Hinata merengkuh tas selempangnya, mengambil satu payung berwarna matahari yang ia mekarkan dengan segera. Ia ingin segera pulang.

Ponselnya berbunyi, sebuah email masuk dari teman lelaki yang belakangan melancarkan pendekatan padanya. Isinya mengajak Hinata untuk meluangkan waktu agar bisa diajak minum latte bersama. Ajakan kencan.

Hinata bertekad untuk melewatkan kencan pertamanya nanti bersama Naruto. Jadi dia menolak ajakan minum latte itu dengan halus.

"Satu tahun lagi." Kata Hinata, pada dirinya sendiri. Mengambil nafas dalam lalu melesakkan yang lain keluar, berharap mengurangi eksistensi kerinduannya yang berat.

Langkah yang ia ambil, cepat dan tegas. Meninggalkan fakultas kedokteran yang masih ramai dengan keluh kesah khas mahasiswa-mahasiswa kebanyakan tugas. Ia sendiri ingin mengeluh, tugasnya juga banyak, belum lagi ujian prakteknya. Tapi kehadiran hujan membuatnya merasa nyaman, merasa dipeluk oleh kehangatan tak terlihat.

Naungan payung kuning mengiringi langkahnya. Ia mencengkeram erat gagangnya, masih mencoba mencari sisa-sisa kenangan dari telapak tangan si pemilik asli. Bahkan setelah empat tahun terlewati, kebiasaan itu tak berubah sama sekali.

TAK!

Tiba-tiba benang salah dua gagang putus, melayukan bagian sisi kiri. Meluruh pasrah dihantam hujan.

"Rusak lagi? Oh, Kami-sama..."

Hinata memutuskan berlari, mencari perlindungan yang lebih kokoh dari kanopi halte bus. Nafasnya sudah berembun, dingin udara akibat intensitas hujan mendorong keinginannya mencari kenyamanan lain di dalam bus yang pasti lebih baik.

Payungnya ditutup, tapi masih dia pegangi. Ia memutuskan duduk, tapi segera berdiri lagi untuk mempersilakan seorang tua mengambil tempatnya. Sebagai salah satu mahasiswi kedokteran cemerlang di tingkat akhir, ia bisa memperkirakan bahwa tulang paha dan betisnya masih mampu membuatnya berdiri tegak sampai bus tujuannya datang.

Ia juga memastikan sendi lututnya sehat.

Sampai ia menyadari kedatangan udara lain yang menabrak keberadaannya di sana.

Lututnya lemas, kepastiannya meleset mengkhianatinya.

Tubuhnya menegak, bergetar, dan sulit bagi jantungnya untuk tidak berdegup kencang. Ia tahu, mungkin sekarang ini wajahnya terlihat memalukan karena aliran darah yang membuncahkan warna merah rata.

Rasa rindunya melesak dengan cepat. Membobol semua pertahanan dirinya untuk memaksakan diri mengikat perasaan itu erat dalam hatinya. Nyatanya ia telah kalah dalam pertaruhannya sendiri.

Hinata begitu lemah pada orang yang begitu kurang ajar dalam hidupnya.

Kedua mata perak bagai bulannya melebar, terasa sembab dan hangat. Takjub karena Kami-sama begitu jahil memainkan hatinya. Tanpa takut, ia mencoba mengatakan, lewat pandangan mata, semua rasa sesak dan menyakitkannya menunggu cinta ini pulang.

Ia semakin tampan, Hinata ingin memujinya begitu. "Hello, Girl" dan logat Inggrisnya melebihi dulu.

Tergagap, Hinata menjawab sapaannya; "H-hello..." sembari mengerjapkan matanya. Air matanya tumpah, buru-buru menunduk dan menyekanya.

"K-kau.. ini—mi-mimpi? N-naruto-kun... si...ku..."

"Hei!"

Hinata terpaksa mendongak lagi. Kedua sisi wajahnya ditangkup oleh tangan-tangan basah berwarna tan. Memberinya satu fokus dari wajah tampan yang juga basah. Senyum hampir seperti cengiran itu tetap sehangat dulu, seolah tak peduli bahwa cuaca hari ini begitu mendung.

"Kau ragu padaku? This is ME! Really Naruto-ttebayo! Dasar si Pelit."

"Tapi..k-katamu li-lima... tahun"

"Kupercepat, hehehe."

Gadis Hyuuga itu tercekat, terdiam sejenak sebelum melepaskan tawanya. "Ahahaha, yokatta. Yokatta..." lalu ia menghambur ke dalam dada Naruto yang sedikit basah. Meneruskan tawa yang terurai manis dengan air mata. "Hontou ni Yokatta..."

Lengan Naruto bergerak, balas memeluk tubuh Hinata yang bergetar dalam dekapannya. Jantungnya berpacu sedemikian cepat, hingga mungkin iramanya terdengar mengalahkan rinai air langit.

Keduanya tak peduli, bahkan jika orang satu halte melayangkan protes karena afeksi mereka menganggu kenyamanan orang lain. Ah, yang protes berarti tidak pernah jatuh cinta. Yang protes berarti tidak pernah merindu. Yang protes berarti tidak pernah tahu betapa manisnya si Pelit dan si Kurang Ajar menyatukan hati lewat payung dan hujan.

~Aiko Fusui~

"Kau merusakkan payungku?" Naruto menatap tak percaya pada payung kuning yang rusak sebelah ketika dibuka Hinata.

"Dia rusak sendiri! Aku sudah membawanya ke reparasi payung delapan kali, Stupid!"

Naruto jengkel. "Heh? Who is Stupid?!"

Hinata melotot. "You are!"

Keduanya kini berkacak pinggang, saling men-death glare dan tak ada tanda-tanda dari keduanya yang mau mengalah. Mempertahankan harga diri yang diwakilkan oleh saling bantah karena seonggok payung rusak. Si Kuning masih berada di genggaman Hinata, basah dan meneteskan air hujan di ujungnya, pelan.

"Yang stupid Kamu! Membawanya ke reparasi hanya delapan kali? Oh, Kau sungguh pelit!"

"Heh, Kau-"

"Kalian bisa diam tidak?!"

DUK! DUK!

"Aw..." pemilik mata samudera dangkal dan perak bulan mengaduh bersamaan. Reflek mengelus kepala masing-masing yang baru saja diberi sedikit 'pelajaran' dari seorang tua dengan payung gelapnya.

Tak sempat protes, pria tua itu pergi bersama bus yang baru saja tiba. Orang-orang yang jengah dengan pertengkaran mulut Uzumaki-Hyuuga juga memutuskan segera hengkang dari sana.

Oh, ayolah. Kemana kesan manis dari ekspresi rindu yang pertama kali mereka wujudkan dalam sesuatu yang membuat iri mata? Kemana suara-suara lembut dan kata-kata halus yang baru saja mereka ucapkan karena bahagia bisa bertemu setelah sekian lama terpisah?

Hilang? Hanya karena seonggok payung kuning yang rusak sebelah? Yang benar saja...

Mungkin lelah, mungkin juga emosi negatif dari hujan langit yang menderas, keduanya memutuskan untuk diam. Duduk berjauhan di halte yang sepi dengan saling membelakangi, membiarkan payung kuning yang diperdebatkan tergeletak begitu saja di tengah-tengah. Secara implisit menyebutnya sebagai batas wilayah, mirip anak sekolah dasar kalau sedang ngambekan.

Lama, bus yang ditunggu juga tak kunjung datang. Jalanan terlihat lebih sepi dan itu membuat suara hujan terdengar semakin jelas. Aroma yang diciptakan air langit yang menghantam tanah membuat efek tenang dan rasa lega yang tidak biasa. Hujannya bertambah deras, begitu juga intensitas udara dinginnya.

Dingin... eh? Bagaimana dengan si Kurang Ajar? Dia kebasahan tadi, kan?

Hinata ingin tahu, perlahan menolehkan kepala. Hati-hati sekali karena tak ingin ketahuan bahwa ada kepedulian khusus dalam dirinya. Tingkahnya jadi lucu, mirip stalker.

"Eeee?" suaranya tertahan, terbenam hujan. Matanya yang besar membelalak tak percaya. Kenapa?

Payung kuningnya bergeser dari tempatnya semula, mendekati Hinata, mengurangi wilayah kekuasaannya. Sedangkan Naruto yang awalnya duduk di ujung halte, merapatkan diri kepada si payung yang berjarak kurang dari setengah meter dari tempat Hinata, meski masih membelakangi pandangannya.

Tanpa sadar, gadis itu tersenyum. Hatinya mengembang dan pipinya bersemu merah.

Ia tahu Naruto benci basah karena basah membuatnya mudah kedinginan. Tubuh berbalut jaket baseball itu menggigil, berkali-kali menggesek-gesekkan telapak tangan pada lengannya sendiri. Beberapa bagian tubuhnya kuyup, terlihat lebih gelap. Yang paling basah tentu saja kepalanya. Rambut berwarna cerah itu lepek, tak lagi tegak karena gel rambut yang dipakai sudah kalah terhapus hujan. Bulir-bulir air yang menetes di ujungnya, menapaki jejak wajah Naruto yang sedikit pucat.

Entah darimana keberanian itu datang. Hinata berdiri dan mendekat pelan pada Naruto, menjatuhkan sapu tangan biru di puncak kepala pirang, mengusap-usapnya agar air hujan disana tak lagi membuat si pemuda kedinginan.

Tentu saja Naruto kaget. Kaget setengah mati menemukan kelembutan dan sikap baik Hinata dalam bentuk yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tubuhnya yang gemetar, tegang dalam sekejap. Ia mendongak dan menemukan bahwa wajah Hinata bersemu merah. Sayang, perak bulan Hinata terlalu malu untuk bertemu biru safirnya Naruto.

"J-Jangan memandangku s-seperti itu, Baka!" bahkan suaranya terdengar lucu dan begitu adiktif ketika ia merona. Aih, manisnya...

Naruto nyengir. "Hai' Baka Hime." Memejamkan mata dan mulai menikmati usapan tangan Hinata di puncak kepalanya. Kebahagiaan lain datang dari gerakan sederhana yang kemudian ia lakukan.

Kedua tangan Naruto mengulur di kedua sisi pinggang Hinata. Dalam sekaligerak, ia menyandarkan wajahnya di perut gadis Hyuuga itu, mencari kehangatan rasa yang lebih menjanjikan lewat wangi tubuh Hinata yang ia rindukan.

"Ah!" sapu tangan terlepas, mengikuti sistem motorik majikannya yang ganti mendapatkan serangan kejutan setengah mati.

"A-ap-pa yang..."

"Mencari kehangatan. Aku kedinginan, You know?"

Kalau saja mental Hinata sama persis dengan Hyuuga Hinata di canon, pasti dia akan terkulai tak berdaya. Kehilangan kesadaran dan merepotkan Naruto yang sudah menggerutu karena basah. Hinata di sini hanya menunjukkan tanda-tanda wajar seperti; tubuh kaku, saraf di ujung-ujung jari yang bereaksi menggigil, pandangan mengabur dan kepala memutar lagu manis, muka penuh warna merah, mata membelalak mengerjap-kerjap pelan, debar jantung marathon, perut melilit diserang seribu kepak sayap kupu-kupu ghaib, lutut melemas, dengan telapak kaki yang terasa dingin.

Ia berjengit ketika hidung Naruto menabrak pusarnya yang tertutup sweeter hangat. Gelitik rambut basah pirang itu meninggalkan jejaknya di sana.

"Hug me, please..." suara Naruto merengek manja. Dibarengi dengan pelukannya yang semakin erat. Jelas bahasa tubuhnya jika ia enggan melepaskan gadis ini.

Samar namun semakin kentara rasanya, kedua lengan Hinata dan aroma tubuhnya merengkuh kepala si pemuda Uzumaki. Ia tahu gadis itu gemetar, jadi Naruto memberikan ketenangan lewat usapan di punggung perempuan yang dulu (katanya) selalu jadi musuh bebuyutannya.

Nyatanya, Naruto terperangkap pada cinta orang yang sama.

Oh, Damn! Kenapa gadis ini semakin membuatku jatuh cinta, sih?

Sudah kubilang bahwa aroma hujan itu menenangkan. Aroma terapi manis yang gratis meski bercorak kelabu. Tapi kelabu tak harus berarti muram, kan? Ada banyak hal yang berhias di sekitar rinainya. Berselip-selip, bertabrakan satu sama lain membentuk reaksi baru. Mungkin ada yang tersandung, jatuh, basah, dan kotor karena hujan mencipratkan lumpur. Namun semuanya telah diatur, termasuk hujan bagi si Pelit dan si Kurang Ajar.

Aturannya sederhana; bertemu karena hujan. Saling mengenal karena payung rusak sebelah. Dekat karena ejekan dan adu mulut. Berpisah dengan meninggalkan hati yang siap dengan long distance relationship.

Kemudian sekali lagi siklus itu berulang, tentu dengan sentuhan berbeda. Bertemu di hari hujan. Kembali adu mulut karena payung rusak. Dekat karena suhu dingin dan keinginan mencari hangat. Lalu, sekali lagi jatuh cinta pada orang yang sama, melepas LDR dengan bantuan hati yang dipenuhi rasa rindu.

Aroma hujan itu tenang. Hati Hinata tenang karena memiliki Naruto. Jiwa Naruto tenang karena mempunyai Hinata.

"Nee, Hinata si Pelit." Naruto mendongak, menjauhkan wajahnya meski sebenarnya tak rela melepas kehangatan dari tubuh Hinata.

"Ya, Naruto si Kurang Ajar?" kali ini Hinata menatap lurus pada bulatan samudera dangkal Naruto. Mengulum senyum gugup karena belum bisa mengontrol kadar rona merah di pipinya.

"Hh..." Naruto menghela nafas, memejamkan matanya erat-erat. Mengumpulkan keyakinan di pucuk suaranya agar tak terdengar ada ambigu pada apa yang ingin ia sampaikan.

Ketika kelopak matanya membuka, Hinata dan sorot mata teduhnya menyambut dirinya dengan senyuman. Sekejap, keyakinan datang begitu kuat. Ini yang ia sukai dari Hinata.

Tidak ada tatapan menunggu yang terkesan menuntut ucapannya. Sorot mata perak bulan dan semua gestur wajahnya selalu memberikan 'sambutan' pada Naruto. Tak ada yang menggantung dari sebuah 'sambutan', kan? Hanya ada keramahan istimewa yang terasa begitu menyenangkan karena ini adalah Hinata.

Sekali lagi, Naruto menghela nafas, mengeratkan remasannya di sweeter Hinata. Seperti yang dikatakan Paman Iruka, ia tak akan membiarkan Hinata lari kali ini.

"Menikahlah denganku..."

Ucapannya jelas dan lancar. Selancar air mata bahagia yang menuruni pipi Hinata.

~Aiko Fusui~

Dua tahun kemudian...

Hiashi berjalan pelan bersama tongkat kayunya melewati halaman rumah minimalis berwarna cerah. Di tangannya ada bingkisan kecil. Aromanya manis khas cinnamon, tentu saja ini untuk putri sulungnya tercinta.

Menjejak di teras depan, Hiashi menemukan bahwa pintu rumah membuka celah. Sepatu bola berwarna biru tergeletak sembarangan di samping bola sepak yang terkena lumpur. Pandangannya kemudian beralih ke rak sepatu, sepasang heels putih bersih, dua pasang sepatu sport, dan dua pasang sandal warna-warni berjejer rapi. Mungkin sebentar lagi akan ada sepatu kecil dan sandal kecil tambahan muatan di sana. Hiashi lalu melepaskan sandalnya, meletakkannya di rak sama.

".. BAKA! Mana boleh nama anak seaneh itu?!"

"Lebih baik daripada nama tanaman seperti usulmu!"

Samar, Hiashi yang memasuki rumah itu mendengar debat, ah biasa.

Rumah yang damai, pikir pria tua itu. Mungkin dari arah dapur, tak ada salahnya mengintip sebentar.

Nah, lihatlah air dan minyak itu, saling berkacak pinggang. Menciptakan entah kohesi ataukah adhesi, ikatan mereka unik, tetap saja begitu. Hiashi tersenyum karena putrinya masih bisa marah dengan perut membulat besar seperti itu. Cucunya pasti akan sehat-sehat saja. Menunggu tiga bulan lagi, harus sabar.

"Siapa yang akan percaya kalau nama anak ini sama dengan makanan kesukaanmu, hah!"

"Ramen itu bagus. Kita bisa memanggilnya 'Ram-chan'. Terdengar imut kan? Daripada Ory-chan! Terdengar seperti ular (oro)!"

Hiashi memutuskan untuk menunggu di ruang tamu. Mengistirahatkan tubuh tuanya di sofa panjang berwarna marun. Matanya berkeliling, lalu berhenti pada foto pernikahan yang tergantung besar di dinding.

Hinata dan Naruto terlihat sangat bahagia. Keduanya memakai baju pengantin berwarna sama; putih. Hinata sangat cantik dengan balutan gaun pengantin berhias mawar dari satin yang tersebar di bagian bawah gaun yang menjuntai. Dan menantunya, oh cukup bisa dibanggakan dengan wajah tampan dalam setelan tuxedo putih yang berlist hitam pada kemeja di dalamnya. Di samping Hinata, Hanabi bergelayut manja pada lengan nee-chan kesayangannya. Lalu Hiashi mengisi posisi di sisi Hanabi, berkimono tradisional yang menghadap ke kamera dengan ekspresi wajah kaku-Hinata dan Hanabi sempat meprotesnya karena hal ini. Iruka, paman sekaligus ayah angkat Naruto, berdiri di samping putranya. Wajahnya yang teduh tampak begitu gembira namun tetap berwibawa. Neji dan Anko, beserta anak mereka mengisi bagian kosong di sampingnya.

Kembali, ulasan senyum itu datang dari wajahnya yang menua. Masih segar dalam ingatannya, sekitar dua tahun lalu, Hinata pulang ke rumah dengan muka berurai air mata. Menangis karena uang tabungannya belum cukup untuk membeli mayat yang bagus. Merengek agar diberi uang tambahan demi menyelesaikan ujian prakteknya sebagai dokter.

"Kenapa terburu-buru?" pertanyaan wajar dari seorang ayah sepertinya yang tahu bahwa pendidikan kedokteran itu tidak boleh digesa-gesa.

"Aku dilamar, Tou-san! Dan aku ingin di depan namaku ada gelar 'dokter' di undangan pernikahanku nanti."

Umurnya baru 22 tahun, menjelang 23 tahun kala itu. Hiashi ingin menangis bahagia, tapi terlalu bingung dengan keadaan yang berubah sedemikian cepat. Setahunya, Hinata tidak pernah membicarakan apapun tentang lelaki atau cinta idaman seperti Hanabi yang suka gonta-ganti pacar. Hinata-nya adalah gadis pintar yang independen. Lelaki mana yang sanggup membuat anak gadisnya melumer hingga menangis merengek minta kawin seperti ini?

Jangan bilang Brad Pitt datang dan meminta putrinya jadi isteri kedua. Hiashi tak ingin jadi besan cadangan!

Seminggu kemudian, lelaki itu datang. Memakai atasan berjas dengan bawahan jeans. Yeah, anak muda. Rambut pirang dengan mata biru jernih membuatnya teringat benua eropa. Tapi semuanya terhapus oleh cengirannya yang sangat asia.

Pemuda itu ramah, simpel, dan suka mengajak berbicara memutar topik dengan cara yang menyenangkan. Hiashi hampir saja lupa menanyakan apa pekerjaannya karena tersihir hangat pemuda Uzumaki.

"Pemain sepak bola, masih cadangannya pemain cadangan, Pak. Tapi tahun ini saya dapat promosi." Katanya riang. Hiashi tak langsung terlena hanya karena bocah pirang ini menggeluti profesi di bidang olahraga favoritnya.

"Main dimana?"

"MU, Pak. Manchester United."

"BAGUSS!"

Hiashi girang bukan main. Reflek berdiri, menyalami Naruto dan menepuk-nepuk pundaknya simpati. Berkali-kali mengatakan "Hebat!" dan "Luar biasa!" di sela kegembiraannya.

Naruto cengo, tapi tetap tertawa karena hatinya melambung bahagia mengetahui bahwa calon mertuanya menyukai profesinya. Setidaknya Hiashi bukan orang yang mengharuskan dia bekerja kantoran, mengurus berkas, dan selalu berkutat dengan komputer dan kertas. Hell yeah! Bukan Naruto banget nanti jadinya.

"Aku merestuimu, Naruto-kun. Nah, sekarang panggil aku 'Tou-san'" Hiashi memberikan jalan penuh gegap gempita di hati Naruto. Ia ingin sujud syukur, tapi tetap berusaha jaga imej dengan berkata "Yosh-ttebayo!" sebelum mencoba membuat lidahnya terbiasa dengan kata panggilan baru.

"Hai', Tou-san." Sungguh, Naruto ingin menangis. Ini pertama kalinya ia bisa memanggil seseorang dengan sebutan 'Ayah' semenjak kedua orang tuanya meninggal sewaktu ia masih sangat kecil.

"Nah, Naruto-kun, jaga Hinata baik-baik. Dia sedikit ceroboh, Kau tahu? Ia juga tidak terbiasa dengan suasana ramai. Masakannya kujamin enak, tapi ingatkan dia untuk memberi garam pada masakannya. Dia sering lupa."

"TOU-SAN!"

Kedua pria itu mendongak ke arah tangga. Hanabi yang terkekeh dan Hinata yang habis berteriak dengan muka merah padam, cemberut karena tidak mau disebut pelupa. Setelah itu, dengan cepat berlari menaiki tangga, meninggalkan Hanabi, kabur ke kamarnya. Tapi...

BRUK!

"Aduuuuh..." suara Hinata mengaduh. Sepertinya putri sulungnya jatuh.

"Nah, Kau liat sendiri, Naruto-kun, dia ceroboh."

"TOU-SAN!"

Sebulan setelah itu, Hinata berhasil menyelesaikan studi kedokterannya. Menyabet gelar 'dokter' yang disematkan di depan namanya dengan predikat 'cum laude'. Memuaskan. Foto sarjananya didampingi Naruto yang hari itu mengenakan kemeja lengan panjang berwarna gelap dan tentu saja jeans.

Dua minggu setelah itu, Hinata mendapatkan pekerjaan di sebuah rumah sakit di Tokyo. Bekerja selama enam jam per hari dengan sistem shift. Sisa waktunya ia gunakan untuk bercekcok dengan calon suaminya, mempersiapkan pernikahan mereka yang akan diselenggarakan di musim semi nanti.

Naruto mengabarkan berita bahagianya pada Iruka yang masih di Inggris. Tiga hari kemudian, paman tersayangnya datang. Bertemu sapa dengan Hiashi Hyuuga untuk beramah-tamah sebagai calon besan. Si calon mempelai pria sendiri kembali ke Inggris. Mengurusi administrasi, mengikuti latihan singkat, dan mengambil cuti sementara dari klubnya.

Enam bulan kemudian, di musim yang banyak orang bilang paling bagus untuk menikah, semuanya tertunaikan. Di gereja kecil yang hari itu di sulap menjadi gedung pernikahan, ikrar itu diucapkan dengan khidmat meski tak bohong jika keduanya gugup setengah mati.

Teman-teman 3-D datang. Mengucapkan selamat dan dengan jujur mengatakan bahwa mereka tak percaya sekaligus bahagia jika air dan minyak akhirnya benar-benar menjadi pasangan seumur hidup. Ino dan Shino membuka rahasia, meminta maaf pada pengantin atas kejahilan mereka dulu yang membuat Naruto dan Hinata akhirnya menjadi tutor silang.

Tidak apa-apa, akhirnya semuanya bahagia di hari itu. Tanggal pernikahannya? 3 Maret ^^

Hiashi melempar pandangan ke foto lain; Naruto dan Hinata bergandengan, berdiri dilatar belakangi BigBen, London. Hiashi tak punya kesaksian langsung tentang bagaimana bulan madu putri dan menantunya. Tapi dirinya sangat senang ketika keduanya pulang kembali ke Tokyo, memberikannya oleh-oleh berupa kaos bola berwarna merah dengan lambang kebanggaan setan merah, lengkap dengan tanda tangan kesebelas pemain inti. Kalau tidak ingat umur, mungkin saat itu Hiashi akan berjingkrak-jingkrak di atas meja.

"Ram-chan? Aku tidak mau anak ki—ah! Adududuh..." suara Hinata tertoreh rasa sakit tiba-tiba. Hiashi berjengit, ingin berlari kesana tapi urung saat mendengar Naruto melindungi isterinya.

"Ah? Ada apa, Sayang? Duduk dulu, duduk dulu. Anak kita menendang-nendang lagi?" suara Naruto terdengar khawatir, tapi tetap terkendali dengan emosi kebapakanya yang mulai terasah.

"Eum..."

"Hh... sepertinya si kecil tidak suka namanya diperdebatkan sekarang."

Lalu terdengar kulkas yang dibuka dan air yang memasuki gelas kaca.

"Hinata-sayang, minum ini dulu, ya? Maafkan aku..."

Diam sejenak, sebelum ada suara lagi.

"Peluk aku. Airnya dingin." Rengek Hinata. Manja saat hamil sangat diperbolehkan kok.

"Hehehe, dengan senang hati Isteriku sayang. Sini sini, duh wanginya... padahal belum man-AW! Iya iya, duh... Isteriku yang cantik."

Di ruang tamu, Hiashi tersenyum. Padahal di luar tidak hujan, air dan minyaknya bisa semanis itu tanpa bantuan air langit yang konon tak bisa lepas dari kisah cinta mereka ternyata.

Mata Hiashi terpejam, masih mendengarkan percakapan putri dan menantunya. Kata orang, mereka seperti air dan minyak, berbeda, selalu berdebat, adu mulut. Tapi toh Hiashi selalu yakin perbedaan mereka akan menuntun dan menyediakan jalan bagi mereka untuk kembali akur, seolah cekcok mereka adalah sarana paling efektif untuk mendekatkan diri pada masing-masing pribadi yang berlawanan.

Setelah ini, pasti akan ada banyak pertengakaran yang terjadi. Rumah tangga tidak hanya melulu soal senang dan bahagia. Kehidupan baru bersama orang yang menjadi cinta sejati kita, berbagi setiap perasaan dan pengertian saling memahami. Hinata dan Naruto akan melaluinya dengan baik dan tetap menjaga hati masing-masing, itu harapan Hiashi.

Ah, teringat kebiasaan mereka sebagai air dan minyak, Hiashi berdo'a agar cucunya kelak punya rasa sabar yang lebih agar tidak mudah jengah dengan tingkah laku orang tuanya.

Nah, jadi begitulah cerita ini berakhir.

"Kau sendiri bau, Naruto-kun no BAKA!"

"Hieeee? Kenapa malah aku yang di-BAKA-in? Kau yang pelit tidak membeli sabun kemarin!"

Dan... mulai lagi deh ^^

Owari

~Aiko Fusui~

Guuzen wa sasiho kara, Mou kimatteta mitai ni

We fit so well together, like if it was decided by chance rigth from the start

Kasanatta futari wa unmei tte shinjite iru yo

I believe we are fated to be together

(If-Kana Nishino)

Saya akhirnya benar-benar membuat fic ini tamat #sujud syukur.

Oh, Tuhan terima kasih karena saya masih punya niatan baik untuk menyelesaikan fic ini...

Terima kasih pada:

Bumble Bee: awalnya emang mereka kukasih item air-minyak. Eeh, pas dalam proses penyusunan alur chap 3 kemaren, nonton Ranking 1, weits, bisa dipake tuh sabunnya. Jadi jawabannya: Iya Namikaze Ai: saya juga tidak menyangka Hinata bisa begitu lho #EH? Terimakasih atas pengertiannya #peluk2 93: yosh! : yopyop : iya, ini sudah diburu. Silahkan^^ Yourin yo: OKE :D Sabektigig: saya cewek lho (T.T) bukan om-om Jihan fitrina: wah... terimakasih sudah mau menunggu fic ini ^^ Lia-chan leo-kun: pengennya sih gitu, tapi dari awal fic ini saya dedikasikan untuk NHFD, malah telat banget Jadi ini Ending. Hehehe Nimarmine: iya, beda tipis banget. Sekarang sudah update Terimakasih Nyanmaru desu: tapi jadi ooc hinatanya, hehe#dijyuuken. Menurutmu gimana? Wah Nyanmaru-san suka hujan? Sama kayak Hinata nih, aku juga suka lho ^^ #Gakadayangnannya. Bikin Naruhina lagi? Sip sip sip. ^^ Karizta-chan: maaf karena saya kelamaan apdet #garuk2kepala. Hihihi, Hinata emang keren deh. Hehehe, panggil aja aiko atau fui. Saya belum bisa disebut 'senpai' kok masih amatir. Yosh! Nagasaki: wokeh :D Manguni: yopyop^^ : eh? Sequel? Entahlah. Hehehe. Ya do'akan saja nemu alur yang bagus ^^ Kirei-neko: eh? Kan Naruto pergi buat memenuhi undangan MU yang sudah ia daftarin sejak kelas satu. Di chapter 2-3 ada kok. Asuka Hanako: hehehe, ohya? Wah syukurlah kalau fic saya bisa disukai yosh salam dari aiko fusui juga Ayuzawa Shia: ohya? Wah terima kasih. Oke2 Darren: Terima kasih ^^ : iya, NaruHina emang manis, mau dikasih kisah kayak apapun, bawaan mereka manis mulu. Yosh! Terima kasih Guest: siap! Ini endingnya :D : yopyop^^ DindaHyuga:okeh

Ucap Thank you juga sama silent reader (Ayo Review, dong!). Sankyuu juga pada hujan yang memberikan saya ide cerita ini ^^ dan maaf pada NHFD karena saya begitu tidak disiplin pada diri saya sendiri #pundung

Saya akan mencoba berusaha agar lebih baik dari ini! Yosh! Disiplin disiplin!

Juga masih menunggu REVIEW Review dalam bentuk apapun diterima. Mau cacian, makian, kritik, saran, kesan, pesan, pujian#ngarepbanget, atau flame, semuanya saya terima dengan senang hati. ^^

Akhir kata, Salam Hujan

Aiko Fusui