Prisoner of Love

DISCLAMER : MASASHI KISHIMOTO

STORY BY JURIG CAI

PAIR: SASUHINA

RATED : M

WARNING: AU, OOC, TYPO, BAHASA ANCUR, PLOT BERANTAKAN, DLL.

KUMPULAN FIC PERTAMA AUTHOR YANG BERTEMA DEWASA ( sudah di edit, dikit.). BIASANYA KARENA TERBENTUR MASALAH USIA, AUTHOR HANYA MEMBUAT CERPEN ATAU DONGENG FABEL. MUNGKIN BANYAK KEKURANGAN DALAM FIC INI, JADI MOHON SARANNYA YA….

DON'T LIKE DON'T READ

CHAPTER 2: Prison

Sasuke terpana melihat apa yang tengah terjadi di depan matanya. Dihadapannya, lelaki berambut pirang terang, yang mengaku sebagai sahabatnya, Naruto, tengah menggerayangi payudara telanjang seorang wanita. Bukan sembarang wanita, tapi wanita dari klan Hyuuga. Hinata. Perempuan menyebalkan yang dengan mudah mengacuhkan pesonanya. Ia hendak meninggalkan kedua sejoli itu ketika sebuah ide terlintas dipikirannya. Sambil menyeringai senang, ia kembali memperhatikan keduanya dengan kamera handphone ditangan, merekam semua adegan itu.

Hinata adalah orang pertama yang menyadari kehadirannya, Diikuti Naruto yang setengah berteriak jengkel.

"TEMEEE?!"

"Hn?"

"Apa yang kau lakukan disitu, hah?!"

"Menikmati pertunjukan," sahutnya tenang sambil memasukkan handphonenya kembali ke dalam saku kemejanya.

"Apa?! ka…"

"Si nenek tua mencarimu."

"Tsunade ba chan?" tanyanya heran sambil merapikan kembali pakaiannya, dibelakangnya Hinata juga tengah melakukan hal yang sama. "Ada masalah apa?"

"Kau pikir aku tahu?" sahutnya acuh, perhatiannya masih tersita pada perempuan pemalu yang tengah terburu-buru mengancingkan kemeja sutranya.

"Dasar kau ini, ayo Hinata, kita.."

"Hyuuga," sela Sasuke. "Kau tetap disini, ada yang ingin ku bicarakan denganmu."

"Ta..tapi.."

"Jangan seenaknya teme!"

"Kau masih disini?" Tanya Sasuke dengan wajah sedatar mungkin, padahal di kepalanya terancang rencana-rencana kotor yang melibatkan Hinata Hyuuga sebagai tokoh utama. "Si nenek tua itu sepertinya punya tugas penting untukmu?"

"Siaaal… kalau kau macam-macam pada Hinata… aku akan.."

"Cepat pergi Dobe!"

"Hinata, aku akan kembali secepatnya. Jika si teme ini macam-macam padamu cepat beritahu aku ya." ujarnya sambil berlari pergi. Meninggalkan keduanya dengan tidak rela.

"A..ano, apa yang mau kau bicarakan Uchiha san?" Tanya Hinata gugup setelah kepergian Naruto, ia ingin cepat-cepat meninggalkan tempat ini. Kalau boleh jujur, ia paling takut pada sosok dihadapannya. Dengan kepala menunduk ia menunggu jawaban Sasuke.

"Dada mu besar juga, Hyuuga?" Ujar Sasuke sekenanya sembari memperhatikan handphonenya, yang segera ia keluarkan saat Naruto sudah tidak terlihat.

"A..apa?" Tanya Hinata panik, dan dengan santainya bungsu Uchiha itu memperlihatkan layar handphonenya yang menampilkan adegan mesumnya dengan Naruto beberapa saat lalu.

"Aku tidak menyangka si dobe itu hebat juga."

"To..tolong hapus video itu!"

"Boleh," sahut Sasuke cepat, Hinata yang mendengar hal itu menarik napas lega, terlebih ketika dilihatnya Sasuke yang berjalan kearah pintu. Namun dugaannya salah, bukannya pergi, bungsu Uchiha itu malah mengunci pintunya.

"Buka bajumu." perintah Sasuke tenang, tidak peduli wajah sulung Hyuuga itu sudah pucat pasi.

"Kau mau membuka bajumu atau video ini kusebarkan?"

"A..aku.. itu.."

"Buka bajumu, Hyuuga." Perintahnya lagi.

Merasa tak punya pilihan, Hinata meraih kancing kemejanya dengan tangan gemetar, Sasuke kembali menghampirinya setelah sebelumnya meletakkan handphonenya diatas meja dan dengan lihai mengaktifkan kembali kameranya.

"Bagus." Ujarnya datar, sambil menangkupkan kedua tangannya pada payudara Hinata, yang telah terbebas dari kekangan bra yang menurutnya mengganggu. Kemudian dengan santai memijatnya pelan, membuat Hinata secara refleks mencengkram pergelangan tangan Sasuke. Berusaha menghentikan pria itu.

"Jangan."

Yang mengherankan Sasuke menurutinya, dan melenggang menuju kursi di dekat tempat tidur. Setelah mendapat posisi duduk yang nyaman, ia kembali memusatkan perhatian pada Hinata.

"Kenapa diam? lepaskan yang lainnya."

"Ta.. tapi.."

"Atau videonya kusebarkan." Ujarnya, kembali memotong ucapan Hinata yang kini tampak tidak nyaman. Senyumnya makin kentara saat Hyuuga pemalu itu menuruti perintahnya.

"Kemarilah." Perintahnya lagi, saat tak ada sehelai benangpun yang melekat di tubuh gadis itu, dengan lembut ia mendudukkannya diantara pahanya. Tidak dapat menahan godaan dari tubuh yang feminin itu, ia kembali meremas payudaranya kasar, sementara bibirnya melumat bibir mungil Hinata yang tampak menggoda.

"U.. Uchiha san.. jangan begi.." Hinata segera menggigit bibirnya saat jemari bungsu Uchiha itu membelai kewanitaannya yang telah basah akibat perbuatan Naruto. Sasuke menggeram tak suka, Hinata kembali menjerit saat jemari Sasuke memasuki tubuhnya.

"Diamlah, aku sedang mempersiapkanmu… kau..terlalu sempit."

"to..long..berhen…nggghhhh." Ucapan Hinata kembali terpotong saat Sasuke memagut bibirnya lagi. Dengan kelabakan Hinata menempatkan tangannya di bahu Sasuke, dan dengan sia-sia mencoba mendorong tubuh pemuda itu. Tangan Sasuke yang memeluk pinggangnya erat membatasi gerakannya. Ia hampir tersedak saat Sasuke memasukkan jari ketiga kedalam tubuhnya, mengobrak-abrik bagian sensitifnya. Dan saat ia hampir mencapai klimaks, Sasuke berhenti.

Walaupun bingung, Hinata menarik napas lega sebelum kembali kaku saat Sasuke membaringkan tubuhnya di ranjang yang ada disamping mereka.

"Cu..cukup..Uchiha.."Ujar Hinata mencoba, untuk kesekian kali, menghentikan bungsu Uchiha itu, sebelum terhenti saat bibir pemuda itu kembali membungkam mulutnya. Dengan cepat Sasuke membuka ikat pinggang dan resleting celananya, sebelum bergabung dengan Hinata diatas ranjang. Keduanya bernapas dengan cepat saat ia membuka paha gadis itu selebar mungkin dan mengarahkan kejantanannya yang telah berdiri tegak dibibir vaginanya. Dengan perlahan berusaha menyatukan tubuh mereka. Tiba-tiba ia berhenti ketika mendapati sesuatu yang menghalanginya.

"Kau masih perawan?"

Dan tidak ada hal lain yang membuat Sasuke senang, saat Hinata menganggukkan kepalanya dengan enggan. Ia kembali menggerakan tubuhnya, kali ini berusaha lebih lembut.

Jeritan Hinata kembali membuatnya berhenti saat ia berhasil merobek selaput dara gadis itu dengan satu sentakan. Namun beberapa saat kemudian, ketika hasrat kembali menyerangnya, Sasuke segera menyentakkan lagi tubuhnya kedalam tubuh gadis itu, awalnya perlahan sebelum gerakannya bertambah cepat dan makin cepat. Dibawahnya, Hinata tidak bergerak sama sekali, selain mencengkram sprei tempat tidur dengan kedua tangannya dan bokongnya yang terangkat menyambut setiap hantaman yang diberikan Sasuke.

"Namaku Sasuke." ucap Sasuke dengan napas terengah.

"Aku… tahu…. nggghhh"

"Panggil namaku" ujarnya dengan nada menuntut yang tidak dapat ia tutupi, dan kembali memasuki gadis itu dengan kecepatan yang mengejutkan. Hinata hanya bisa menggigit bibirnya hingga terasa perih dan berdarah, menolak menyebut nama pemuda itu. Sasuke yang menyadari hal itu, menggeram tak suka. Dengan kasar ia meremas payudaranya, sebelum mengarahkan jemarinya kepangkal paha perempuan itu. Menuntunnya ke puncak kenikmatan... yang membuat Hinata terperangah. Tidak perlu waktu lama, pertahanan Hinata runtuh dan dengan suara tercekat ia memanggil nama pemuda itu, sebelum klimaks menyerangnya, yang disusul Sasuke beberapa saat kemudian.

zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz

Saat keringat telah mengering, dan deru napas mereka kembali normal, Sasuke menengadahkan wajahnya yang ia letakkan di antara payudara Hinata, dan menatap wajah wanita itu yang tampak damai, kedua matanya tertutup, seakan tertidur. Perlahan, ia bangun dari posisinya, merapikan pakaiannya, dan beranjak mengambil handphonenya yang masih merekam.

"A.. apa kau sudah menghapus video itu?" Tanya Hinata penuh harap.

"Tentu." Balasnya cepat. Ia memang tidak sudi menyimpan rekaman Naruto yang tengah menggerayangi Hinatanya. "Aku punya yang lebih baik." Ujarnya sembari memperlihatkan rekaman yang menjadi perhatiannya beberapa saat lalu. Senyumnya makin mengembang saat perempuan Hyuuga itu menampilkan ekspresi horor diwajahnya.

Satu hal yang pasti, ia tidak akan kesulitan membawa perempuan itu ke ranjangnya.

Dan tidak ada hal lain yang lebih membuatnya senang selain impiannya yang menjadi kenyataan.

(_)

Author notes: iyyyeeeiiii update.

Terimakasih atas review untuk chapter pertama ya.

jujur aja, lea paling gak bisa nulis ending yang bener-bener ending, jadinya oneshoot pertama agak-agak gantung gitu, gomen ne.

Tapi lea akan berusaha lebih baik lagi kok, makanya saran di tunggu banget.

and last, semoga fic ini cukup memuaskan. see you next.

jangan lupa review, oke.

jaa.