Disclaimer: Square Enix

Author: zephyrus 123

.:Dan Hujan pun Turun:.

Gelap. Awan gelap memayungi Midgar kala itu. Cukup lama awan-awan itu tidak bergerak, tidak pula segera menurunkan rerintikan beningnya. Enggan mungkin, keberadaan Midgar begitu kejam bagi alam.

Tidak lama, pandangan Sephiroth terhadap awan melebur. Dirinya tenggelam dalam pikiran yang selalu mengganggunya. Kenapa hanya ia yang berbeda…?

Dulu, pikiran tentang itu ada. Mereka manusia dan dirinya juga manusia. Manusia dapat lahir begitu saja ke dunia tanpa perantara manusia lain. Ia tidak yakin, namun masih berharap hal itu benar adanya. Pemahaman itu terus dianutnya hingga ia benar-benar sadar telah memiliki interpretasi yang salah.

Awalnya ia tidak langsung menyadari. Pemahaman itu datang mengendap-endap. Hal-hal kecil seperti anak-anak sepantarannya yang tampak begitu bahagia di antara gandengan sepasang orang dewasa, entah mengapa, membuatnya iri.

Orang dewasa di sekitarnya selalu mengeksploitasi dirinya hingga mereka lupa bahwa ia memiliki kebutuhan yang sama dengan anak-anak normal lainnya. Dan rasanya, waktu begitu enggan memberinya kesempatan untuk merasakan perlakuan yang sama.

Berbeda. Itulah kata pertama yang terlintas di pikirannya. Ia berbeda dari mereka.

Kepalanya menggeleng. Ia berharap telah beranggapan salah, sama seperti dulu. Sayangnya ia tidak berhasil mengenyahkan perasaan itu.

Terlalu dini memang, namun Sephiroth kecil telah mengenal kata sakit yang benar-benar berbeda.

.:123:.

Mungkin inilah akhir dari segala perasaan sakit yang selalu mengikuti masa kesendiriannya.

Ia tidak tahu bagaimana siklus alam yang terjadi di luar. Langit-langit reaktor adalah hal terakhir yang ia lihat dan ia sadari.

Mata itu tetap terbuka, namun begitu kabur. Ia tahu irisnya masih tetap setia memantulkan apa saja benda yang ingin ia lihat, tapi ia seperti tidak melihat apapun sekarang. Semua terjadi begitu cepat. Bahkan pikirannya pun tidak sempat merekam kejadian yang baru saja terjadi.

Ia sadar, ada kekuatan super besar yang sedang mengendalikan pergerakannya. Namun ia tidak bisa mengelak. Perlahan ingatan-ingatan masa lalu mulai terhapus dari pusat pikirannya. Jika memang ini jalan terbaik untuk menghapus rasa sakit itu, ia rela menjadi wadah Jenova. Sejak itu, Sephiroth yang sebenarnya telah lenyap.

Gelap. Hampa. Hilang selamanya.

"Ibu—"

Dan hujan pun turun di tanah kelahirannya.

Owari, Fin, Tamat—

A/N: Yang terakhir latarnya di reaktor Nibelheim, waktu Sephiroth mulai 'menggila'. Saya berharap Sephiroth dikendalikan oleh Jenova (seperti cerita di fict ini), jadi ia tidak benar-benar bersalah. Yah, hanya harapan.