Summary :

Itachi diopname. Dia lelah. Dia sakit. Dia butuh perhatian. Karena itulah Itachi memaksa Sasuke membawa 'Bebi Cakuya'-nya untuk menjenguk.

.

.

"AAAAAAAAAAAAAAA!"

"NGGA MAUUUUU!"

"GWAAAAAAAAAAAA!"

Suara histeris itu terdengar dari kamar no 205 RS Akatsunjoyo, kota Konihi. Ketika diselidiki, di sana ada seorang pasien bernama Uchiha Itachi yang sedang diopname—rawat inap. Sayangnya keberuntungan sedang tidak memihak si sulung dari keluarga Uchiha. Karena saat ini ia sedang mengidap sebuah penyakit yang bernama: DBYDBM.

DBYDBM, atau bisa juga disebut Demam Berdarah Yang Dipastikan Bakal Mati, adalah nama penyakit yang sangat berbahaya. Bila tidak cepat diatasi, bisa saja memunculkan hal-hal buruk yang tidak diinginkan.

Namun Itachi adalah pasien yang sangat bandel. Dia tidak mau mengenakan infus. Maka dari itu Dokter Pein dan Suster Konan mencoba mengatasinya.

Sekarang ayo kembali ke kamar no 205.

"JARUMNYA TAJAAM! JANGAN! POKOKNYA JANGAN MENYENTUHKU PAKE ITU!"

"NGGAAAA!

"AAAAAAAAAAAA!"

"ORAORAORAAA!"

"KYAAAAAAHHHHH~~~~~~~~!"

"AAAANGGGHHHH~~~~~~!"

"UHHHMMMM ~~~~~~~~!"

PLAK!

Jeritan-jeritan yang sempat berubah menjadi menjijikkan itu terhenti ketika Konan menampar pipi Itachi. Pria yang sekarang sedang berada di atas ranjang pasien itu terdiam. Jemari tangannya memegang pipinya yang memerah, matanya berkaca-kaca dan bibirnya bergetar.

Pria bersurai panjang itu terisak. "Ka-Kalian kejam... ke-kenapa kalian menamparku?"

Dokter dan suster di depannya menghela nafas perlahan. Sang dokter kembali memandangnya. "Kau butuh diinfus sekarang. Tapi kau terus menjerit-jerit seperti Kakuzu yang lagi diperkosa Nenek Chiyo."

Itachi tidak bisa menahan segala keresahannya. Ia memalingkan wajahnya ke samping.

"Ngga... pokoknya Itachi-chan ngga mau diinfus. Itachi-chan takut jarum... seharusnya kalian mengerti perasaan takut Itachi-chan..."

Berhubung mulai ada suara dangdut yang diputar sebagai backsound dari kalimat mellow Itachi, Konan mendengus malas.

"Dokter..." Suster berambut biru pendek itu berkata pelan. "Sepertinya pasien membutuhkan obat bius."

Dokter Pein menghela nafas, lalu ia mengangguk. "Baiklah. Ngga ada pilihan lain."

Ketika merasakan suasana yang mulai menegangkan, Pria berumur 26 tahun itu menelan ludah. Ia menendangi seprai, lalu merapatkan punggungnya ke sandaran ranjang. "Tu-Tunggu! Kalian mau apa!?"

Sang dokter menatap iris onyx Itachi. Lekat... dan bergairah.

"Membiusmu."

"Aku ngga mau! Dibius kan pasti disuntik juga!"

Sembari memasang senyum dingin, dokter muda itu mengenakan sarung tangan karetnya yang berwarna putih. "Ini ngga memakai jarum suntik. Jadi ngga akan sakit kok."

"Ta-Tapi, Dok—!"

Dzigh!

Dengan cepat, pukulan kencang dari Dokter Pein membuat dua gigi Itachi terlepas dari gusinya. Satu ke kanan; dan satu lagi ke kiri. Itachi pun pingsan.

"Cepat pasang infusnya."

"Baik, Dokter."

.

.

.

YOU ARE SICK

"You Are Sick" punya zo

Naruto by Masashi Kishimoto

[Itachi U. x Sakura H. x Sasuke U.]

Drama, Humor, Family, Romance

AU, OOC, Typos, Garing, etc.

.

.

Dedicated to Shenchan [Shena BlitzRyuseiran]

.

.

Trrrr...

Trrrr...

Trrrr...

Suara getaran dari ponselnya membuat Sasuke yang sedang makan di kantin menjadi terganggu. Dengan malas ia lepaskan sumpit—yang semula ia pegang—ke wadah ekado goreng yang barusan ia pesan. Setelah mengelap tangannya dengan selembar tisu, barulah Sasuke mengambil ponselnya yang berada di saku seragamnya.

Saat ia lihat, ternyata ada pesan dari Mikoto Uchiha, ibunya.


From: Mom

Sasuke-kun, kamu sudah tau belum kalau Itachi diopname? Sepulang sekolah, jenguk kakakmu, ya? Jangan lupa untuk membelikan buah. Kasihan loh, Papa dan Mama belum sempat untuk menjenguknya... :(

Oh, ya. Have a nice day, Sasuke-kun. Mama sayang kamu... :){}


Sasuke mengernyit sebentar. Ia baru sadar kalau kakaknya yang itu sebentar lagi akan mati. Mungkin ia bisa me-booking hotel sebagai perayaan kematian Itachi. Ia berpikir, lalu mengetik balasan.


To: Mom

Iya. Kalo inget. Love you too.


Send.

Trrr...

Trrr...

Belum sampai menunggu semenit, ponsel Sasuke kembali bergetar. Email dari orang yang sama menghiasi inbox-nya.


From: Mom

Apa Sasuke-kun sudah tau Itachi diopname di mana? Mama email Itachi-kun untuk memberitahumu, ya...? :D


Trrrr...

Sasuke mengira orang yang meng-email-nya adalah ibunya, namun nyatanya nama nista itulah yang terpampang. Sambil menghela nafas malas, ia membuka pesan tersebut.


From: Itashit

W0oOoO0eey! Ad3Qque! 4kUe L4Gie Di0pn4m3 NiChz! t4Di aKuw S3mPetz dIpAz4ngIn J4rUm InFoez! H4hAhA! NgGA sKiT! H4hAHaA... 4kU s4mA s3KaLi3 GuGh TacKut.


Dan email itu disertai sebuah gambar, di mana Itachi yang hanya mengenakan lingarie itu sedang striptease di tiang infus.

Sasuke berdecak. Ia mengucek matanya terlebih dulu. Setelah ia membuka mata, ia hapus picture tersebut, dan kemudian mengaktifkan sharingan. Mulailah ia membaca dengan teliti huruf-huruf tagalog di sana. Setelah membacanya, Sasuke kehabisan setengah dari chakra-nya.


To: Itashit

Oh.


Send.

Sasuke meletakan begitu saja ponselnya di atas meja. Ia mengambil soda di sebelahnya dan menenggaknya.

Trrrr...

Lagi-lagi bergetar. Sasuke menjadi sedikit risih dan gatal, ia ambil ponselnya dan memeriksa siapa yang mengirimkannya email lagi.


From: Itashit

B4LezNyuA PanJ4nG dIkit D0ng. NaNti3 'AnU'-mU IckUt p3nDeck LoChz. eh, sAsUk3, NguMunk-nGumUn6z, kAt4 eMaK kAm0eH mW jeNgUkz AkU YaCh? T0loNgz aJ4k B3b3Bz ChAkUy4 uNtHuG m3NjeNguQz aQue. oEkz? NgGGhz, SuCkaLian, aKuz diR4Watz Di siNhi: RS. Ak4tsUnDoYo laNtHai 2 nuMur 205. KuThuGghHU.


Sasuke mengernyit.

Kalau tidak salah... tadi kakaknya sempat menulis 'Bebeb Cakuya', ya?

Hh... menjijikkan.

Sakura saja belum mengenal dia.

Sasuke memejamkan kedua matanya. Dari pada membaca kalimat yang membuat dirinya terancam impoten itu, lebih baik ia menutup ponsel flip-nya dan melanjutkan acara makan. Sesaat pria berambut raven tersebut akan menyumpit ekado terakhirnya, tiba-tiba saja ada seorang siswi yang duduk di sebelahnya. Dia adalah Sakura Haruno.

"Sasuke-kun... kamu lagi ngapain?" Gadis berambut pink itu menyapa. Kedua iris emerald-nya yang indah menatap kedua matanya, berharap Sasuke mau menanggapinya.

"Makan." Jawabnya, singkat. "Ngga liat, hn?"

Mendapatkan kalimat sinis dari sahabatnya itu, bibir Sakura mengerucut. "Aaa, kok Sasuke-kun jahat...? Aku kan hanya bertanya..." Ia bertopang dagu, lalu memperhatikan Sasuke yang sedang menghabiskan makan siangnya.

Karena keheningan mulai terasa, Sakura membuka suara. "Perasaan aku, tadi kamu sibuk deh sama ponselmu. Lagi email-email-an, ya? Sama siapaa?"

"Sama Mama dan..." Sasuke memeriksa ponselnya. Ia lupa siapa yang tadinya mengirimkannya email brengsek tadi. "Itachi."

"Siapa Itachi? Kok Sasuke-kun ngga pernah cerita?"

"Dia kakakku." Dengan berat hati Sasuke harus mengakuinya.

"Eh? Kakakmu? Memangnya dia kenapa sampai mengirimmu email?"

"Sakit. Dia memintaku untuk menjenguknya."

"Kapan? Kalau hari ini, boleh aku ikut?" Pintanya dengan mata berbinar.

Bersama tatapan datar, Sasuke menolehkan wajahnya. Namun belum sempat ia membalas ucapan Sakura, ponselnya bergetar. Ada sebuah email baru yang masuk.


From: Itashit

TuUUcChHHhhHhzzZzzZz! B3b3bZ Ch4kuYa aJyAh MaWu IkUt J3nGuKz! C3PeT J3NgUk AkUh!


Meski heran mengapa Itachi bisa tau, Sasuke tetap menggeram kesal. Ia langsung membuang ponselnya ke tong sampah.

.

.

~zo : you are sick~

.

.

Di lain tempat, seorang pria bernama lengkap Uchiha Itachi itu sedang tiduran di ranjang pasiennya. Di atas perutnya terdapat sebuah ponsel flip. Wajahnya dihiasi oleh cengiran lebar, kedua matanya mengedap-ngedip, dan jantungnya berdegup kencang sampai tubuhnya ikut bergoyang.

Ini semua dikarenakan oleh firasatnya yang mengatakan bahwa Sakura akan menjenguknya di sini. Saking bahagianya dengan posisi telentang tadi, nyaris saja Konan menutupi wajahnya dengan kain putih. Ehm, tunggu. Itachi belum mati.

Bang Ita~! Bang Ita~! Kapan kah engkau pulang~! Adek Caku sudah memanggil-manggil namamu~!

Ponsel Itachi berdering. Ringtone dari lagu Bang Toyib versi suara Itachi itu terdengar keras. Pria yang terbalut dengan baju pasien itu sontak saja langsung terbangun dari posisi tidurnya. Selang infus di tangan kanannya tertarik, tiang infus terjatuh, dan menusuk kepalanya. Tapi itu semua tidak mempengaruhi Itachi yang sedang diliputi oleh sinar-sinar keasmaraan.

Ia menebak. Pasti itu email masuk dari Sasuke.


FR0mz: ImOuTo-ChUaNz

(blank message)


"Hhhhhh~" Itachi menghela nafas bahagia. "Pasti Sasuke sedang bingung mau nulis balesan apa untuk kakak tersayangnya ini~"

Padahal saat ini ponsel Sasuke sudah diambil oleh seorang pengemis yang kebetulan mengorek tong sampah kantin. Mungkin orang itu salah pencet.

"Yang jelas, aku udah tau kalo Bebeb Cakuya akan dateng menjengukku..."

Tok tok tok.

Terdengar suara ketukan dari luar, kedua mata Itachi langsung terbuka lebar. Dengan semangat, ia segera mencatok rambutnya agar tidak terlalu berantakan, lalu bergegas ke depan pintu. Ia buka baju pasiennya sampai dada berbulu dadanya menyembul keluar.

Itachi berdehem dulu, dan kemudian barulah ia mebuka pintu selayaknya seorang host yang menyapa tamunya.

"Selamat datang, Bebeb Caku—"

"Apa?" Seorang wanita berpakaian suster mengernyit.

Dokter berambut jabrik di belakangnya mengernyit. "Kau bilang... bebeb?"

Suster Konan menoleh ke Dokter Pein. "Apa? Bebek?"

"Bebeb."

"Oh, bebek?"

"Bebeb!"

"Be... bek?"

Pein menghela nafas yang cukup keras. "Ya, ya, ya, intinya dia bilang Bebeb."

Hening sebentar.

"Kita lagi membicarakan apa sih?"

Di saat dokter dan suster itu sedang beradu mulut, Itachi hanya berkacak pinggang dan memasang wajah kesalnya.

"Heh, padahal aku sudah ganteng kayak gini. Tapi nyatanya malah kalian yang datang..."

"Memangnya kau pikir kami siapa?" Konan mengernyit. Tak sengaja iris brownies-nya itu menemui dada Itachi yang masih terbuka. Bulu dada itu membuat Konan mengernyit. "Bukannya kita sudah menyuruh Zetsu untuk memotong ilalang yang ada di rumah sakit?"

"E-Enak saja! Ini tuh bulu dada! Padahal aku udah susah payah beli obat penyubur dari Eyang Subur, tapi kenapa malah disamakan dengan rumput!?"

Konan bergidik, apalagi saat Itachi mendekat. "Singkirkan sampah itu dari pandanganku!"

Dengan cepat Konan menjambak dada Itachi.

"AAAAA, SAKIT! LEPASKAN TANGANMU!"

Konan menarik tangannya, tapi semak belukar nan hitam milik Itachi terus menjeratnya.

"Eh!? Ng-Ngga bisa! Tanganku tersangkut! Bulu dadamu mengerikan!"

Itachi menjerit, dan Dokter Pein memutuskan bulu dada Itachi yang menjerat jemari susternya dengan shuriken.

Setelah perkara yang disebabkan oleh bulu dada itu selesai, Itachi dengan lemas terjatuh di atas lantai.

"Ah, dadaku... dadaku yang keren ini lumpuh... dadaku..."

Di saat Itachi sedang meratapi nasibnya, Dokter Pein mendekat. Pria berambut jabrik itu sedikit menunduk agar kedua iris sekelam malam milik Itachi itu dapat melihatnya.

"Kau itu masih sakit, Uchiha-san. Lebih baik Anda tidur di ranjang."

Itachi menatapnya. Pipinya memerah. "Do-Dokter... ke-kenapa Anda begitu baik—?"

Dzigh!

Belum selesai Itachi bicara, Pein sudah menendangnya. Alhasil, Itachi langsung terloncat ke atas ranjang dengan praktis.

Pein melihat wajahnya. Kini wajah Itachi terlihat sudah 20 tahun lebih tua dari sebelumnya.

"Suster Konan, keadaan pasien menjadi kritis. Tolong buka jendela." Kebetulan Pein melihat jarum infus Itachi yang terlepas dari tangan pria itu. "Pantas saja..." Pein menghela nafas.

"Ke-Kenapa, Dok?" Itachi bertanya dengan suara serak.

"Infus Anda harus kami masukan lagi."

"APA?!" Kedua mata Itachi terbelalak. "Ng-Ngga! Jangan! JANGAAAAAAN!"

.

.

~zo : you are sick~

.

.

Sedangkan jauh dari rumah sakit, Sasuke dan Sakura sedang berjalan keluar dari gerbang sekolah. Murid kelas 11 itu baru saja pulang.

"Aku ngga sabar melihat wajah kakakmu, Sasuke-kun~! Aku teramat sangat penasaran!"

"Hn."

"Kira-kira kita harus membawakan apa, ya? Buah-buahan atau kue-kuean?"

"Buku tahlilan."

"Eh?" Sakura menghentikan langkahnya.

Sakura mengernyit, Sasuke menoleh. "Itu cuma candaan." Katanya, lalu ia berjalan.

Sakura menghela nafas lega. "Ahaha, Sasuke-kun. Kupikir kamu seriusss. Padahal aku juga sudah membawa buku tahlilan loh di dalam tasku!"

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Author's Note :

Hai, fict ini kubuat untuk Shena BlitzRyuseiran. Berhubung dia agak-agak Itachi-centric (penggemar pairing Itachi; ItaSaku, ItaHina, ItaIno, ItaKaku, Ita-Itaan, dll), kukasih aja fict ItaSaku ini~ hehehe. Gomen ya kalo garing. Semoga Shenchan mau nulis lagi hihi #maksudterselubung. Oh, iya. Ide ini kudapetin pas hari Jum'at minggu lalu. Pas aku sama temen-temenku lagi ngejenguk temen yang diopname... :')

.

.

Next Chap :

"Mandi atau saya kubur?"

"Uchiha-san, apa itu Sasuke Uchiha, adik kandungmu?"

"Anda... seperti ulat bulu."

"BeBB1 ChAkUyYaaAA! J4ngAn PerGh1!"

.

.

Review kalian adalah semangatku :')

Mind to Review?

.

.

THANKYOU