Previous Chap :

"Aku tidak sabar melihat wajah kakakmu, Sasuke-kun~! Aku teramat sangat penasaran!"

"Hn."

"Kira-kira kita harus membawakan apa, ya? Buah-buahan atau kue-kuean?"

"Buku tahlilan."

"Eh?" Sakura menghentikan langkahnya.

Sakura mengernyit, Sasuke menoleh. "Itu cuma candaan." Katanya, lalu ia berjalan.

Sakura menghela nafas lega. "Ahaha, Sasuke-kun. Kupikir kamu seriusss. Padahal aku juga sudah membawa buku tahlilan loh di dalam tasku!"

.

.

Seperti apa yang kita tau, Itachi Uchiha sedang terkena penyakit yang mencemaskan. Karena itu, saat ini ia sedang berbaring di ranjang pasien rumah sakit. Ia terdiam... sendirian... meriang... dan berdendang.

Oke, coret kata yang terakhir. Kita balik ke kehidupan si uchiha sulung.

Yang jelas saat ini ia sedang mengalami fase-fase yang mengerikan. Kata Dokter Pein, apabila ada pasien yang mendapatkan penyakit DBYDBM—masih tetap Demam Berdarah Yang Dipastikan Bakal Mati—maka tandanya pasien tersebut akan dipastikan die dalam waktu beberapa bulan lagi.

Sungguh malang nasib Itachi Uchiha. Masalahnya, dokter pein sempat salah memberikannya injeksi suntikan. Seharusnya ia diberi suntikan untuk penyakit DBYDBM, tapi sang dokter malah memberikannya suntikan khusus penyakit DUBIDU—Demam Untuk Burung Inside Dalam Underwear.

Sebenarnya itu semua sudah merupakan tindakan malpraktek. Namun karena semua orang yang berniat mengadukannya sudah Pein shinra tensei, maka posisinya sebagai dokter yang menangani kasus Itachi masih aman.

Namun tetap saja, mau bagaimanapun juga Dokter Pein telah membuat angka harapan hidup Itachi semakin berkurang.

Keadaan Itachi menjadi parah. Rambutnya kusam, matanya yang dipenuhi oleh kerak selalu terbuka ketika tidur. Tak jarang dirinya menggumamkan lagu-lagu galau yang sering didendangkan para jombloers ngenes di malam Minggu sambil menggoyangkan pisau dapur di tangannya. Hh, kasihan. Intinya, doi kesepian. Nungguin si bebeb Cakuya kesayangan yang belum nyampe juga ke sini.

Brakh!

Mendadak pintu rumah sakit terbuka.

Itachi langsung menoleh dengan mata melotot. Horor.

Melihat dua orang yang memberi trauma mental kepada Itachi itu, kontan saja si sulung Uchiha kayak abis digosok pake parutan sampai putih. Ia sudah membayangkan tindakan psikopat berkedok kedokteran apalagi yang akan digunakan dokter-bermuka-preman itu kepadanya.

"Tuan Uchiha, Anda harus mandi." Itulah yang diucapkan oleh Dokter Pein kepada Itachi—dengan nada yang seolah nyuruh anjing peliharaannya untuk nyemplung ke kali.

"N-Ngga... ngga mau..." Itachi memelas.

Tatapan Pein menyengit. Dokter Pein tidak suka pria macho yang bandel. Aw.

"Mandi atau saya kubur?"

"MANDI, PAK!" Itachi langsung mengubah posisi duduknya.

.

.

.

YOU ARE SICK

"You Are Sick" punya zo

Collaboration with yukeh

Naruto by Masashi Kishimoto

[Itachi U. x Sakura H. x Sasuke U.]

Drama, Humor, Family, Romance

AU, OOC, Typos, Garing, etc.

.

.

SECOND. Menjenguk

.

.

Akhirnya dengan tubuh yang sudah kurus dan tak bersemangat lagi, Itachi, pria lajang berumur 20 tahunan itu beranjak dari ranjang pasiennya. Sebelum benar-benar ke kamar mandi, diliriknya Suster Konan yang sedang menyiapkan sarapan sehat untuk Itachi. seperti tulang sapi, biji jeruk, dan kulit kentang rebus yang sudah terinjak. Ya... makanan sehat. Meski nanti ia tersiksa dengan menu pagi yang satu itu, setidaknya dokter gila bernama Pein itu sudah pergi.

Itachi menghela nafas. Ia masuki kamar mandinya, lalu ia pun berkaca. Pria berambut panjang itu cemberut. Di saat sakit seperti ini wajahnya jadi terkesan 40 tahun lebih tua; lebih parah dari yang kemarin-kemarin. Dan ketika Itachi baru mau memakai ponds age miracle-nya, mendadak ia mendengar seruan seseorang. Itu seperti suara Suster Konan.

"Uchiha-san, apa itu Sasuke Uchiha, adik kandungmu?"

Itachi langsung keluar sambil menggeret tiang infusnya. Dilihatnya Konan yang berdiri di depan jendela kamar yang terbuka. Terlihatlah sebuah pemandangan tempar parkir RS Akatsunjoyo. Pria bersurai panjang itu mengerjap, lalu ia menggunakan mangekyou sharingan untuk men-zoom dua orang murid sekolahan yang berambut pink dan biru yang sedang berjalan menuju gedung utama rumah sakit.

Itu Sasuke dan Sakura.

Mata Itachi langsung blink-blink. Mereka berdua padahal cuma jalan normal, tapi di mata Itachi mereka terlihat seperti ayam yang sedang menggendong seorang puteri dongeng bersurai merah muda.

"Hiks..." Itachi menyeka air matanya dengan kaus kaki yang masih ia gunakan. "Aku bahagia..."

Ia terharu karena di sana sudah ada Sasuke yang benar-benar membawa Sakura Haruno ke rumah sakit ini—seperti permintaannya. Intinya, cepat atau lambat Sakura akan segera ke kamarnya. Menjenguk dan akan memerhatikannya dengan penuh cinta.

"FUAH..."

Itachi menghela nafasnya keras-keras. Ia pun membalikkan badan dan memandangi sang suster dengan tatapan gentle.

"Suster, bagaimana penampilanku?" Ia serius bertanya. "Apa sudah tampan? Fresh? Gentleman? Atau malah kurang laki?"

Tatapan mata Konan mengernyit. "Anda... seperti ulat bulu."

"Kenapa seperti itu!?" Itachi ngamuk.

"Mungkin karena Anda terlalu suka minum yang rasa-rasa."

Wajah Itachi kembali loyo. "Ah, itu masuk akal. Seharusnya aku tidak kebanyakan minum sunsilk." Katanya. "Tapi untuk hari ini bagaimanapun juga penampilanku tidak boleh terlalu ganteng. Calon istri dan Adik saya akan datang ke sini." Ia menatap Konan lagi. "Jadi supaya mereka makin care, aku harus terlihat seperti orang sakit. Apa Suster punya saran?"

"Uchiha-san mau pura-pura sakit?" Tanyanya. "Tapi itu perbuatan yang—"

"Jangan melarangku, Suster! Ini demi kasih sayang yang akan kudapatkan dari orang yang peduli denganku!" Sergah Itachi. Dengan mata berlinangan iler, ia memandangi Konan.

"Baiklah. Sebenarnya saya juga ngga mau melarang sih." Konan mengangguk datar. Ia langsung memperlebar jendela ruangan. "Kalau begitu silahkan terjun dari sini."

Itachi menolak. "Jangan. Itu terlalu beresiko. Ada saran lain?"

Saat Konan mengeluarkan kapak dari sakunya, Itachi langsung berbalik dengan wajah pucat. "Aku pikir sendiri saja."

"Oke."

Itachi pun berpikir.

"Ah!"

Ide dia dapatkan. Segeralah ia membuka piyamanya, lalu memamerkan bulu dadanya yang sudah botak sebelah akibat ulah Konan yang kemarin.

Dan sebelum Konan menjerit histeris dan kembali menghujamkan gunting rumput ke dadanya, Itachi sudah terlebih dulu merebahkan dirinya di ranjang. Ia menutupi setengah dari badan polosnya dengan selimut rumah sakit yang hangat. "Tenanglah, Suster Konan. Aku hanya ingin mendramatisir cerita ini supaya ala-ala western." Katanya dengan mata yang berkaca-kaca. "Soalnya... hidupku hanya tinggal sebulan lagi, kan?"

"Maaf, sebenarnya karena salah injeksi jatah hidupmu berkurang 85%. Tidak mungkin sampai sebulan."

"Terima kasih atas ralatannya." Muka Itachi nge-flat.

"Maka dari itu aku ingin merasakan indahnya dicintai oleh seseorang."

Suster Konan pun berkaca-kaca walaupun mukanya masih datar. Ia terharu dengan terpaksa akibat tuntutan skrip. "Maaf, tapi mungkin hidupmu akan berakhir dalam waktu beberapa hari lagi..."

"Terima kasih juga atas berita baiknya." Itachi semakin menangis histeris. "Karena itu... sana, pergilah, Suster."

"Mm." Suster Konan mengangguk singkat. "Oh, ya. Apa Anda masih butuh bantuan untuk terlihat lebih menyedihkan? Bukannya Anda ingin mendapatkan perhatian dari mereka berdua?"

"Memangnya bantuan apa yang mau Suster berikan—?"

Kalimat Itachi berhenti saat ia rasakan tangan Konan meraup bulu dadanya—lagi.

Dan jika Konan menariknya, mungkin bulu dada keriting nan lebat itu—berserta nyawa Itachi—akan tercabut sampai ke akar.

"Tolong h-hentikan!" Itachi menangis. "Ini asetku!"

"Oh... aset, ya. Kirain benalu."

Konan pun melepaskan bulu dada jelek itu dan langsung pergi. Namun saat Konan sudah keluar dan hendak menutup pintu kamar, ia berpapasan dengan Sasuke dan Sakura yang baru akan masuk.

"Maaf, Suster. Apakah ini ruangan Uchiha Itachi?"

Hebatnya, suara manis itu ditangkap juga oleh Itachi yang berada di dalam kamar. Itachi pun terbelalak. Ia luar biasa senang. Segeralah ia merebahkan punggung ke kasur pasien. Pria bersurai panjang itu menghela nafasnya panjang-panjang. Ia meraba wajahnya sendiri.

"Bagaimana pun juga, aku harus tampil sakit..." Bisiknya. Dengan penuh perjuangan ia kepalkan tangannya dan memukuli wajahnya sendiri.

Bukh!

Bukh!

"Ini demi mendapatkan perhatian, Bebeb Chakuya!"

Bukh!

Bukh!

Sesudah Itachi nyaris koma karena ulahnya sendiri, pintu ruangan dibuka.

Cklek.

Tepat waktu, di saat kepala Itachi yang sudah bonyok itu mengkaparkan diri ke bantal ranjang, datanglah dua orang ke ruangannya. Ternyata dugaan Itachi benar. Saat ia melihat ke pintu yang terbuka, ia menemukan Sasuke dan Sakura. Seorang pria bermodel rambut pantat ayam kampung jegrik dan rambut pink Sakura yang indahnya bagaikan wig mahal paris. Perbedaan yang kontras.

Tapi sialnya entah mengapa mereka berdua terlihat keren. Itachi yang masih tiduran merasa minder. Kok rasanya kayak melihat Ediwardiman Cullen (poor chicken version) dan Bella Swan (super beautiful version) yang lagi menjenguk seonggok Squidward, ya?

Apalagi Sasuke dan Sakura terlihat sangat akrab. Itachi iri berat nih.

"Halo, Uchiha-san..." Sakura ber-ojigi lalu tersenyum manis. "Aku dan Sasuke-kun datang menjenguk."

Melihat wanita cantik jelita itu mengucapkan salam kepadanya, Itachi terlalu bahagia sampai dirinya peyot mendadak. Dirinya digetarkan oleh aura pink yang membuatnya semakin terjatuh ke lautan cinta yang terdalam ke Sakura.

"Dan, enn... wajahmu kenapa, Uchiha-san? Kok biru-biru?" Sakura semakin mendekat.

"Luka kecil kok. Cuma kepentok pesawat."

Niatan Itachi yang ingin kelihatan jago langsung musnah ketika Sakura malah ber-hah ria sambil memasang tampang cengok. "Ngga mungkinlah."

Sakura tidak seru ya diajak bercanda? Itachi murung seketika. "I-Iya deh. Ini tadi ketabrak capung."

"Oh, ya ampun." Dan bodohnya Sakura malah percaya yang itu. Ngga jadi dapet kesan keren dong. "Ah, iya. Aku lupa. Sebelumnya maaf karena aku telah lancang datang tiba-tiba ke sini..." Gadis itu terlihat malu-malu. "Perkenalkan... aku Sakura Haruno, teman sekelas Sasuke-kun."

"Ya." Itachi mempertegas suaranya seperti roma irama. "Ngga apa."

Lalu Sakura sedikit terkejut saat merasakan kehadiran tangan Itachi yang menggenggamnya dari samping. "Aku selalu senang kalau ada gadis cantik sepertimu yang menjengukku."

Sakura mengerjap. Dirinya melirik Sasuke, sedikit merasa aneh dengan perilaku sang kakak yang sok kenal sok dekat kepadanya. Sedangkan Sasuke sendiri masih memasang topeng smiley terpaksanya.

"Sebenarnya, uhk... uhuk!" Itachi pura-pura batuk di depan muka Sakura sampai wajahnya basah. "A-Aku memang menyuruh Sasuke untuk memintamu ke sini..."

"Eh, kenapa?"

"Karena... aku... a-aku..." Itachi berkedip-kedip mesra. Sakura pun menatapnya dengan tatapan antusias ingin tau. Tapi karena mata onyx-nya sempat melihat Sasuke—yang berdiri di belakang Sakura—tak lupa dengan popcorn di tangan, akhirnya Itachi menendang Sasuke dulu keluar jendela.

Prang!

Ganggu orang PDKT aja.

Setelah Sasuke musnah, ia memandangi Sakura lagi. Ia genggam tangannya erat-erat. "Aku... jatuh cinta pada padangan pertama denganmu..."

"K-Ke-Kenapa?"

"Itu sejak awal menemukan fotomu di gallery hape Sasuke."

"EH?" Sakura terkejut. Ia langsung melotot.

"Aku benar-benar suka. Suka semuanya. Dimulai dari bola matamu yang sehijau kacang polong... kulitmu yang sebersih dan seputih mukena... nafasmu yang sewangi sayur kankung... dan rambutmu yang se-pink soda gembira. Se-Semua itu... mengalihkan duniaku..." Itachi berkaca-kaca. Tangannya yang memegang Sakura bergetar. Sakura juga ikut berguncang (?).

"Ka-Karena itu... aku... aku... a-aku... aku..."

15 menit kemudian.

"Aku... aku... aku..."

Sakura yang bosan menunggu sampai menyempatkan diri menonton televisi yang ada di ruangan.

"A-Aku... a-a-aku..."

Lelah mendengar kalimat Itachi yang diulang-ulang, Sakura akhirnya menghela nafas. Ia segera lepaskan tangan Itachi. "Maaf, Itachi-nii. Tapi kayaknya aku harus mencari Sasuke dulu. Dia sudah terlalu lama keluar. Aku jadi khawatir." Sakura berjalan ke arah jendela di mana Sasuke dibuang Itachi. Ternyata Sasuke nyangkut di semak-semak lantai satu.

Segeralah ia menyusul ke bawah.

Cklek.

Setelah pintu tertutup, Itachi pun memasang wajah bayinya, lalu ia menangis histeris.

"BeBB1 ChAkUyYaaAA! J4ngAn PerGh1!"

.

.

~zo : you are sick~

.

.

Dengan berlari kecil Sakura keluar dari gedung RS Akatsunjoyo. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar sampai dirinya menemukan sesuatu. Terlihatlah sebuah semak-semak tebal yang terdapat kaki orang yang terbalik di sana. Sakura menghela nafas lega.

Ia tarik Sasuke dari sana, dan kemudian membiarkan pria yang masih memasang wajah stoic-nya untuk duduk.

"Kamu ngga apa-apa kan, Sasuke-kun?" Tanyanya.

"Hn."

"Kukira jatuh dari lantai 4 bisa membuatmu mati. Tapi ternyata Sasuke-kun masih hidup, ya. Hebat..."

Sasuke senyum manis saja. Padahal tulang punggung, hidung, leher bahkan giginya sudah banyak yang patah tak berbentuk.

"Ngomong-ngomong..." Sakura berucap lirih. "Aku baru dengar dari Itachi-nii kalau kamu menyimpan fotoku di ponselmu... ngg, apa itu benar?"

Sasuke tidak menjawab—lebih tepatnya, tidak bisa menjawab. Padahal ia ingin jelaskan kalau itu sebenarnya foto Nicky Minaj ber-wig pink yang Itachi kira seorang teman sekelas dari Sasuke; Sakura.

"A-Aku jadi malu..." Sakura tersipu. Dikecupnya pipi Sasuke. "Makasih, ya."

Sebenarnya sih itu momen yang romantis. Tapi anehnya Sasuke malah keringat dingin. Oh, mungkin karena saat ini dia melihat Itachi—yang datang sambil menggeret tiang infus—di hadapannya, kali ya. Apalagi mata elang pria itu yang menatapnya dengan penuh kebencian.

Dapat Sasuke duga... Itachi sempat melihat Sakura yang mencium pipinya.

"Sasukecap Oplosan! Sialan, berani-beraninya kau telah menghianati kakakmu sendiri!?" Itachi mendadak maju dengan tiang infus di tangannya. Dia sodok-sodoki kepala Sasuke. "Kupikir kau adalah adikku yang manis! Tapi nyatanya salah menilaimu! Kau adalah adik busuk bau empang yang berani merebut cinta kakaknya sendiri!" Itachi berteriak sedih. Ia pukul-pukuli udel Sasuke dengan ujung tongkat infusnya.

Sebagai orang yang sedang patah tulang, tentu saja Sasuke tidak bisa bergerak. Ia cuma bisa memasang wajah datarnya dan sesekali berucap aw, aw dan aw.

Namun Sakura tak akan membiarkan hal itu berlangsung lama. Segeralah ia berdiri di tengah Itachi dan Sasuke.

"Hentikan!" Jeritnya. "Itachi-nii, kau itu sudah besar! Jangan menyerang adikmu seperti ini!"

Itachi tersentak. "Ke-Kenapa kamu membelanya, Cakuya-chan!?"

Sakura menggeleng. "Aku membelanya karena aku mencintai Sasuke-kun! Kita saling mencintai! Iya, kan Sasuke-kun?"

Sakura menjambak rambut Sasuke agar bisa mengangguk-anggukkannya. Sedangkan Sasuke tetap keringat dingin dengan wajah stay cool. Dia bisa makin mati kalau begini terus.

Itachi yang menyaksikan itu mulai berkaca-kaca. Ia lempar tiang infusnya, lalu ia lempar jarum infus yang masih menancap di tangannya. Dan berbarengan dengansoundtrack lagu India, segeralah ia berlari dengan gaya dramatis ke ujung tebing kota Konihi. Ia berteriak kencang.

"OAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKH~!"

"SIYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAL~!"

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA~! EKE KESEL!"

Itachi pun guling-guling di sana dan kemudian memandangi hamparan langit yang terbentang luas di atasnya. "Kenapa Sakura-chan lebih mau sama ayam item itu!? Kenapaaaaaaaaaa!?" Tangisannya semakin kencang. "KENAPAAAAAAAAAA—!?"

Refleks Itachi menjambaki bulu dadanya dengan beringas. Terbentuklah sebuah bentuk hati yang patah. Itachi pun jatuh terduduk. Ia sesak nafas, dan akhirnya menghembuskan nafasnya di detik itu juga.

Sepertinya Itachi sakit. Dia harus beristirahat selama-lamanya.

.

.

THE END

.

.

Author's Note :

The end dengan sangat tidak elit. Yah, jangan tanya kenapa. Fict ini emang udah aneh dari chap awal hiks. Dan ngga tau kenapa, kok aku baru sadar ya kalo hints ItaSaku di sini tuh dikit banget? Kayaknya malah lebih ke ItaKonanPein dan SasuSaku deh. Maaf ya hhu. Aku dibuat fokus sama genre humor-nya sih, jadi sempet lupa kalo harus ngebanyakin hints pairing utamanya (tapi toh ini juga bukan fict Romance juga...).

Dan oke, untuk pemberitahuan kecil, chap dua ini aku dibantu sama Uchiha Yuki-chan. Kebetulan beliau—Yukeh—berkenan untuk ngebantu hehe. Jadi kalau chap ini ngga lucu atau terlalu dianggap ngebash, silahkan nikahi kami berdua. Terutama dia #lemparYukehkereaders.

Dan untuk Shenchan, gomen ya fict-nya lama update. Ternyata buat humor itu ngga semudah yang aku kira hiks hiks. Tapi aku tetep berharap semoga Shenchan maupun readers lain tetep suka sama chap ini dan ada inisiatif untuk memperbanyak fict humor di FFn hehe :))

.

.

Thankyou for Read & Review!

Special Thanks to :

akasuna no ei-chan, Shena BlitzRyuseiran, yusagie, Suuki Araku, amerta rosella, Kiki RyuEunTeuk, Permen Caca, Noal Hoshino, kuningkelabu, Guest, mako-chan, resa mizuki, kanon rizumu, Guest, Guest, nina-chan, Nana Bodt, Gumshall Lee, Tania Hikarisawa, Date Kaito, tamu, Utsukushii Haruna, Ribby-chan, stillewolfie, makkichan, Hasegawa Nanaho, D'psyChotic, kikurocchi, Ayaka Aoi, Neko Darkblue, senayuki-chan, Uchiha Yuki-chan, Kaho, Guest, Eky-chan, Lhylia Kiryu, Guest, OraRi HinaRa, Lady Violeka, aam tempe.

.

.

Pojok Balas Review :

Tulisan alaynya susah banget dibaca. Haha. Aku juga nyesel nulis itu. Zo ngga di Fb, ngga di FFn, bikin ngakak. #terjang :') Sasuke-nya cool. Wkwk ngga tau kenapa Sasuke itu lucu kalo dibuat nista dengan sifatnya yang itu. Kok fictnya ada di archive SasuSaku? Kan ini fict ItaSaku. Maaf, dulu aku sempet bingung cara ngatur pairing-nya (soalnya di google chrome selalu ke-set sesuai alfabet dulu tag-annya—ngga bisa sesuai kemauan). Tapi porsi SasuSaku di sini besar kok. Bahasanya terlalu kasar. Terlalu kasar, ya? Ahaha. Menurutku Akatsuki identik sama OOC-ness, jadi kayaknya banyak yang maklum kok. Eh, tapi makasih nasihatnya. Semoga yang kasar-kasar udah agak berkurang di chap ini. Penasaran kenapa Itachi suka Sakura. Makasih pertanyaannya. Ini kumasukin ke cerita :)) Ternyata zo humoris, ya. Jadi maloe :$ Padahal chap 1 cuma 1k, tapi aku bacanya lama karena ketawa terus. Makasihh. Update-nya lama. Humor susah bikinnya :( Ngebayangin Itachi pake kostum bang Roma Irama. Ini juga kujadiin ide fict.

.

.

Review kalian adalah semangatku :')

Mind to Review?

.

.

THANKYOU