Book 1, pages 367: Prelude of The Catastrophe, spell it.


Tokusatsu Gakuran. Salah satu sekolah favorit yang ada di kota Tokyo, sekolah yang menampung ratusan siswa maupun siswi jenius dari berbagai daerah, tenaga pengajarnya juga adalah yang terbaik. Di dalam sekolah ini pun mempunyai gedung dengan fasilitas yang dianggap mewah, namun bukan berarti biaya untuk bersekolah di sini menjadi mahal, karena kemewahan yang tersedia disini dibiayai oleh pemerintah. Tidak peduli kalau kalian orang paling kaya seantero dunia atau gelandangan sekalipun, cukup memiliki otak jenius, kalian akan mendapat tiket emas untuk merasakan sekolah di sini.

Namun yang tidak diketahui oleh masyarakat banyak adalah peristiwa kelam yang pernah terjadi di sekolah ini, yang sampai sekarang hanya diketahui oleh kepala sekolah terdahulu maupun para polisi, bahkan hanya segelintir guru-guru saja yang tahu tentang peristiwa ini. Peristiwa yang membuat sekolah ini menjadi….

.

.

.

.

Disclaimer at Masashi Kishimoto

Characters are Based from His Manga: Naruto

But Story is Mine

"Las Noches de Damned Book"

a Naruto Fanfiction

.

.

.

.

Tiga puluh tiga tahun yang lalu.

.

.

"Hei, buku aneh apa itu yang kau bawa?"

"E-Entahlah Naru-kun, aku menemukan bu-buku aneh ini di lapangan sekolah terbungkus rapih oleh selembar kain hitam yang memiliki bekas seperti terbakar, sangat usang dan juga lusuh." Ujar seorang descendent Hyuuga tersebut menjelaskan. Buku itu berwarna hitam polos, terbungkus kain berwarna hitam dengan lambang aneh di tengahnya.

"Bu-buku ini pun terikat oleh rantai yang me-memiliki lambang aneh di ujungnya Naru-kun." Timpal gadis itu sambil memperlihatkan rantai pengikat tersebut pada sang pirang, sahabatnya. "A-Aku merasa buku ini seperti me-menggilku, itu ju-juga alasannya kenapa aku bisa menemukan da-dan membawa buku a-aneh ini. "

"Ara-ara, kau seperti mengakhayal Hinata, ayolah kita ini murid Tokusatsu Gakuran. Berpikir logislah, mana mungkin ada buku yang dapat berbicara apalagi memanggil." Sanggah sang pirang dengan tegas namun ramah. Ya, Naruto adalah salah satu murid terbaik Tokusatsu Gakuran, selain pintar, ia sering mengharumkan nama Tokusatsu Gakuran karena kehebatannya sebagai seorang ketua ekskul Muay Thai, sebuah beladiri dari Negeri Gajah, Thailand. Ditambah nilai plus karena ia juga memiliki paras yang rupawan, tak heran kalau ia menjadi idola sekolah bahkan terkenal sampai ke sekolah lain.

"Ta-tapi sungguh, aku merasa buku ini seperti be-berbicara kepadaku Na-Naru-kun." Aneh memang tapi harus Hinata akui bahwa buku ini bener-benar terdengar seperti memanggilnya. Ada getaran-getaran aneh saat ia memegang buku itu.

"Apa kau sudah melihat isi dari buku itu?" Naruto merasa buku itu menyimpan hawa yang aneh saat pertama kali melihatnya. Firasatnya berkata buruk tapi ia berusaha mengenyahkan pikiran itu, ia adalah manusia modern, manusia terdidik yang tidak percaya pada hal-hal berbau supranatural.

"Be-belum, aku tidak berani me-melihatnya. Dari luarnya saja su-sudah menyeramkan." Entah kenapa Hinata merasa sangat bersyukur tidak melihat isi buku itu. Tapi disisi lain ia juga penasaran terhadap buku yang seperti 'memanggil'nya itu.

"Baguslah kalau kau belum melihat isinya. Sekarang lebih baik kau taruh buku itu kembali ke tempatnya, siapa tahu buku itu milik orang lain yang mungkin terjatuh Hinata." Saran Naruto yang seketika itu membuat Hinata tersentak, 'Kami-sama, Naru-kun benar… Mungkin saja buku ini tidak sengaja terjatuh ketika dibawa oleh pemiliknya.'

"A-ano, ku-kurasa Naru-kun ada benarnya, a-aku merasa buku ini memiliki sesuatu yang aneh. E-Entahlah aku juga ti-tidak mengert." Lalu sang gadis pun merunduk sambil terus melihat buku aneh itu, tak berani menatap sepasang mata azure milik si pirang.

"Sudahlah tidak usah dipikirkan lebih baik kita segera kembalikan buku itu pada tempatnya." Setelah berkata itu, Naruto segera mengamit tangan Hinata dan berjalan menuju tempat dimana Hinata menemukan buku aneh itu. Walaupun mereka sudah bersahabat sejak lama, namun bagi Hinata, dengan Naruto yang masih menggengam lembut tangannya adalah hal yang tidak bisa membuat jantungnya tidak berdetak lebih cepat. Ah~ kalian memang sangat serasi.

"Nah, dimana kau menemukan bukunya, Hinata?" Mereka sudah sampai di lapangan sekolah, tempat sang Hyuuga muda itu menemukan buku hitam –yang menurut Naruto menyeramkan- itu.

Dengan sedikit tidak rela, Hinata melepaskan tangannya –karena tangannya yang satu lagi ia gunakan untuk membawa buku hitam itu- dari genggaman hangat namun dapat membuatnya merasa aman dari si pemuda bermata azure tersebut, guna menunjuk sudut di lapangan tempat ia menemukan 'benda' yang sekarang ia genggam.

"Ayo Hinata cepat letakkan kembali, aku sedikit merinding." Ujar Naruto sambil memamerkan senyumnya atau lebih tepat cengiran khasnya.

BLUSH!

'Kyaa! Kenapa Naru-kun harus tersenyum –itu menurut Hinata- manis seperti itu. Ayolah hati, tenanglah! Tenanglah!'

"Ba-Baik Na-Naru-kun." Dengan langkah terseok-seok setelah melihat senyum mematikan khas Uzumaki muda itu, Hinata langsung menaruh buku itu kembali ke tempat dimana buku itu sebelumnya berada dan kemudian berbalik menuju tempat sang Uzumaki muda sedang menunggunya.

"Yosh! Ayo pulang Hime-sama!" Ah, Uzumaki-sama, kau mengucapkan kata yang salah.

'A-Apa tadi ka-kata Na-Naru-kun? Hi-Hime-sama?' Inner yang bergejolak bahkan berkata dalam kegugupan yang liar saat kau sedang bersama pemuda menawan yang dapat meruntuhkan dunia mu dalam sekejap adalah sesuatu yang buruk. Benar-benar buruk.

.

.

-Las Noches de Damned Book-

.

.

"Ugh…." Erang sang descendent Hyuuga itu saat ia membuka mata. Kasur miliknya yang nyaman, suasana kamarnya yang indah, selimutnya yang hangat. Ah… tapi tunggu dulu, kenapa ia merasa bahwa 5 menit yang lalu ia masih berada di lapangan muda bersama si pirang?

DEGH!

Ia menyadari kebodohannya dan bergegas ingin pingsan lagi. Namun saat ia akan pingsan lagi, matanya tak sengaja melihat sebuah benda yang berada tak jauh dari kasurnya, benda itu tersimpan rapih di atas meja belajarnya. Ciri-ciri benda itu: Sesuatu yang mirip seperti buku, berwarna hitam, terbungkus dengan kain hitam yang lusuh dengan lambang aneh ditengah-tengahnya dan sedikit ada bekas seperti terbakar, dan diikat oleh rantai yang memiliki lambang aneh di ujungnya.

Tunggu dulu…. Ia merasa pernah melihat buku itu tapi entah dimana? 1 detik ia masih terdiam, 2 detik…. 3 detik… 4 det-

"KYAAAA!"

Dengan kepanikan yang luar biasa, Hinata bergegas mencari handphone kesayangannyadan segera setelah ia berhasil menemukan handphone nya, tanpa ba-bi-bu lagi ia langsung menelpon orang yang selalu ada untuknya, sahabat terbaiknya, sekaligus cintanya. Uzumaki Naruto.

Tuutt…. Tuutt… Tuutt…..

'Ayo angkat Naru-kun, ayo!' Innernya menyeruakan ketakutan yang amat sangat, bahkan mungkin sudah tercetak jelas diwajah cantiknya.

"Nghh, ada apa Hina-

"Buku aneh itu ada di kamarku Naru-kun!" Bahkan Hinata yang terkenal selalu gagap seantero sekolah ketika berbicara dengan sang Uzumaki muda, menghilang begitu saja tertelan oleh ketakutannya.

"Ngg, apa maksudmu Hinata?" Tanya Naruto malas sambil menggeliat di kasur karena ia masih sangat mengantuk. Salahkan Otou-san nya yang mengajaknya beradu atau lebih spesifik memaksanya main kartu hingga dini hari.

"Buku hitam aneh tersebut berada di meja belajarku! Buku itu ada di kamarku Naru-kun! DI KAMARKU!" Teriak Hinata meluapkan ketakutannya, ia tidak peduli jika teriakannya mengganggu tetangganya, masa bodoh dengan tetangganya, pikirnya. Sekarang ia terlalu takut dan bahkan ia tidak dapat berfikir rasional sebagaimana biasanya, terlebih lagi ia sedang sendiri karena kedua orang tuanya sedang pergi keluar kota, adik serta kakaknya sudah pergi dari kemarin ke rumah sang Obaa-san selama 2 hari.

"APA?! Bukannya kita sudah mengembalikan buku itu ke tempatnya?!" Persetan dengan rasa kantuk, teriakan ketakutan Hinata membuat nalurinya bergerak secara alamiah dan memerintahkan otaknya untuk berpikir serta mengirim perintah melalui sarafnya agar ia segera bangkit dan menggerakkan pantat malasnya untuk bergegas ke rumah Hyuuga Hinata.

"Hiks hiks, e-entalah tapi a-aku sangat ta-takut Na-Naru-kun…. Hiks." Naruto dapat mendengar dengan jelas isakan disertai ketakutan yang sangat mendalam pada diri Hinata. Ia menggeram sambil mengepalkan tangannya, ia –Naruto Uzumaki- sudah berjanji akan selalu melindungi putri kebanggan klan Hyuuga –Hyuuga Hinata-.

"Aku segera ke rumahmu, kau jangan kemana-mana dulu!" Ia segera bangkit dari tempat tidurnya, tak peduli walaupun ia hanya mengenakan celana pendek dan kaos, yang jadi prioritasnya sekarang adalah harus segera sampai ke rumah Hinata. Ia berlari sekencang-kencangnya menuju rumah Hinata karena jarak antara rumahnya dengan rumah Hinata tidak terlalu jauh.

BRAK! Naruto membuka pintu kamar Hinata dengan barbar, ia sangat mengkhawatirkan keadaan Hinata karena selama ini ia tidak pernah mendengar Hinata setakut ini kecuali saat mereka kecil dulu. Dan sekarang yang dapat manik azure itu tangkap adalah pemandangan yang memilukan. Hinata sedang meringkuk memeluk lututnya sambil membenamkan kepalanya diantara lipatan tangannya di pinggir kasur. Dengan keadaan yang sangat kacau. Sangat. Kacau.

"Nee, kau tidak apa-apa? Aku disini." Dengan lembut ia mengusap puncak kepala Hinata berusaha menenangkannya.

Penyelamatnya sudah datang. Uzumaki-Sama sudah disini.

"Sudahlah aku disini, sudah tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu kau takutkan." Harus Naruto akui, ia cukup kaget saat tiba-tiba Hinata menghambur memeluknya dengan sangat erat bahkan ia bisa melihat seorang Shinigami melihatnya dengan tatapan buas, menunggunya mati dengan sesak napas.

"A-Aku takut Na-Naru-kun, aku ta-takut." Bahkan saat saat takut pun suaranya terdengar sangat memabukkan. 'Apa yang kupikirkan-ttebayo!' Rutuknya dalam hati.

"Kan sudah ada aku disini, apalagi yang kau takutkan." Ujur Naruto tersenyum lembut, bahkan jika Yugitto-sensei sang guru yang terkenal berdarah dingin melihat Naruto tersenyum sedemikian lembutnya, sudah dipastikan ia akan merona hebat. Untung saja Hinata tidak melihat senyuman paling mematikan yang dimiliki klan Uzumaki tersebut karena ia masih sibuk memendam wajahnya didada bidang milik Naruto, mungkin Hinata akan masuk ke fase mati suri jika ia melihat 'senjata' mematikan khas klan Uzumaki itu.

"Kau mau ikut aku atau ingin diam disini?" Ya, Naruto tiba-tiba mendapat ide untuk membumi hanguskan buku sialan itu karena sudah dengan sangat lancang berada di dalam kamar sang Hime-sama dan membuatnya ketakutan setengah mati!

"Na-Naru-kun mau ke-kemana?"

"Aku akan membakar buku sialan itu" Matanya berkilat murka dan tangannya menggeram sambil melihat kearah buku yang menurutnya menjijikan, kalau dulu ia sempat sedikit ngeri saat melihat buku itu namun sekarang adalah kebalikannya. Tidak ada ampun bagi yang sudah mengganggu Hime-sama nya, bahkan bagi buku sekalipun.

"A-Aku ikut." Hinata yang tidak ingin ditinggal oleh Naruto memilih untuk ikut walaupun ia masih merasa takut bila melihat buku itu. Mereka pun memutuskan membakar buku hitam itu di lapang sekolah, tempat mereka menemukan buku tersebut. Setelah memastikan buku itu sudah menjadi abu, mereka bergegas kembali pulang, namun jika mereka merasa dengan membakar buku itu semua sudah berakhir, mereka salah besar….

'Padahal aku sudah menemukan vessel yang tepat, seorang gadis polos! Awas kalian berdua, terutama bocah pirang sialan itu…..'

Enam hari setelah peristiwa pembakaran buku.

"Nee, apakah kau lihat acara tv semalam Hinata? Itu sungguh film yang luar biasa!" Naruto bertanya dengan semangat dan mengebu-gebu mengenai film yang baru ditonton nya, film dengan title 'I'm Number Fouth'. Film dengan jenis action-fantasy, salah satu jenis film yang paling Naruto sukai dan Hinata hapal betul akan hal itu.

"Be-benarkah seseru i-itu Naru-kun?" Hinata hanya sanggup menanggupi seperti itu karena memang Hinata tidak tahu soal film itu dan semalam ia tidak menonton tv, melainkan sedang belajar. Ciri seorang pelajar Tokusatsu Gakuran memang melekat kuat pada sosok seorang Hinata Hyuuga. Lembut, baik hati, cantik, idaman para pria dan tentu saja pintar, berbeda jauh dengan Naruto Uzumaki, pemuda urakan dan seorang petarung yang ulung. Ia bahkan pernah bertarung dengan 15 orang dari sekolah lain karena berani mengganggu temannya dan ia menang! Tapi tidak dapat dipungkiri ia adalah seseorang yang sangat dikagumi dan dihormati disekolahnya karena sifat baiknya yang tak kenal pamrih.

Yah, setidaknya seorang Hyuuga Hinata tidak salah melabuhkan hatinya pada Naruto Uzumaki, mungkin.

.

.

-Las Noches de Damned Book-

.

.

"Cantiknyaaaaaa!"

"Hey, rumahmu dimanaaa?!"

"Boleh ku minta nomer ponselmu?!"

"Kau sudah punya pacar atau belum?!"

Ya, raungan buas namun norak yang dikeluarkan oleh hampir semua anak laki-laki yang berada disalah satu kelas yang berada di Tokusatsu Gakuran itu berhasil memecahkan keheningan yang menjadi trademark Tokusatsu Gakuran sebagai sekolah elit. Mereka seperti sekumpulan remaja impotent yang seperti baru melihat seorang bidadari turun dari khayangan. Menyedihkan.

BRAK!

"Tenang semuanya! Kalian seperti makhluk menjijikan!" Gaungan buas namun ampuh membuat kelas yang tadinya ricuh menjadi hening, sangat hening. Bertepuk tanganlah dan membungkuklah untuk Yugitto-sensei! All hail Yugitto-sensei!

Si murid baru itu hanya tersenyum manis menanggapi pertanyaan-pertanyaan dari teman barunya. Matanya amethyst nya mengedar mengitari kelas untuk melihat pemandangan kelas barunya. Ah~ kelas yang nyaman dan mungkin teman-teman yang lebih mengasikan daripada sekolahnya yang terdahulu. 'Umm, aku duduk dimana ya?' Gumamnya dalam hati, saat ia sedang asik-asiknya menjelajah seluruh isi kelas melalui matanya, mata indahnya menangkap seorang lelaki yang hanya menatap keluar jendela dengan malas. Mata sang pemuda yang berwarna biru cerah itu seperti merefleksikan hamparan langit biru nan cerah di luar sana. Sejurus kemudian, pipi sang gadis hanya dapat merona. Ia menemukan sesuatu yang dapat menghangatkan sungai hatinya.

Tak jauh dari kejauhan, sang putri Hyuuga hanya dapat meremas bagian ujung rok sekolahnya. Ia sebagai seorang gadis dapat langsung tahu bahwa sang murid baru yang mirip seperti dirinya sedang menatap sang Uzumaki dengan pandangan yang biasa Hinata lakukan jika sedang menatap Naruto. Pandangan gadis yang sedang jatuh cinta pada pujaan hatinya. Entah kenapa matanya memanas.

'Tolong jangan menangis… jangan menangis disini.'

.

.

-Las Noches de Damned Book-

.

.

"Ano, kau yang bernama Naruto ya?" Sebuah suara lembut namun asing menggelitik indra pendengarannya, lantas ia menengok ke arah sumber suara dan didapatinya seorang gadis cantik berambut pirang panjang dengan mata dan postur tubuh yang sangat mirip dengan seseorang yang ia cintai secara diam-diam.

"Ah, kau murid baru itu ya? Watashi wa no name Naruto Uzumaki." Perkenalan yang disertai dengan senyuman tipis namun menawan. Membuat sang gadis hanya dapat mematung dengan pipi merona hebat.

"A-Aaa, na-namaku Shion Taguya, sa-salam kenal Uzumaki-kun." Naruto tersenyum tipis, gadis di depannya benar-benar mirip dengan tambatan hatinya. Pipi merona dengan cara bicara yang tergagap. Namun di salah satu sudut kelas yang sama, Hinata hanya dapat memendam rasa sesak didadanya, ia hapal betul jika si pirang memang mudah akrab bahkan dengan orang baru sekalipun, namun senyumannya barusan, senyuman tulus yang jarang ia lihat.

'Kenapa Naru-kun? Kenapa kau harus tersenyum seperti itu kepadanya?'

Ia tahu, ia sadar betul bahwa ia tidak berhak berkata seperti itu karena Naruto bukan miliknya, tapi jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam…. Ia benar-benar berharap senyuman tulus itu hanya ditujukan kepadanya, bukan untuk sang murid baru.

'Kenapa Naru-kun? KENAPA?!'

'KENAPA KAU HARUS TERSENYUM SEPERTI ITU KEPADANYA?!'

Tes…. Tes….. Tes…. Kristal bening itu meluncur tanpa bisa ditahan, rasa sesak yang menggerogoti hatinya tak mampu ia bendung lagi. Ia merasa benar-benar sesak. Padahal selama ini ia selalu bisa menahan badai kecemburuan dihatinya saat melihat pujaan hatinya dikelilingi gadis-gadis penggemarnya atau bahkan saat gadis-gadis itu menyatakan cinta pada Naru-kunnya, ia masih bisa menahan dan tersenyum manis namun kali ini. Saat ini, ia berpikir….. Bahwa….

Inilah saatnya ia harus merelakan laki-laki yang sudah ia cintai lebih dari 10 tahun, untuk pergi dengan gadis itu.

Inilah saatnya ia harus merelakan cinta pertamanya pergi dari sisinya. Bersama gadis…. Yang sangat mirip dengannya.

.

.

-Las Noches de Damned Book-

"Umm, Uzumaki-kun?"

"Ya, ada apa Shion?" Kembali sang gadis hanya dapat dibuat tertunduk dengan rona merah yang menghiasi wajahnya, tak kaut melawan pesona sang Uzumaki. 'Kenapa aku harus selalu tersenyum saat melihatnya? Bodoh.' Entahlah. Satu kata yang selalu ada di benak seorang Naruto Uzumaki ketika otaknya sedang bertanya kepadanya mengapa ia selalu tersenyum saat melihat Shion? Apa karena sang gadis lavender itu? Yah, mungkin karena itu. Ia pun kembali mengulum senyum saat mengingat sang Hyuuga muda itu.

"A-Aku ingin-

"Shion! Kau dipanggil oleh Kakashi-sensei, beliau bilang kau melupakan sesuatu ditugas yang kau kerjakan tempo hari."

Hmm, tak apalah, ajakan untuk pulang bersama bisa ditunda. Toh, besok ia akan kembali menemui si pirang.

"Aku tinggal dulu, U-Uzumaki-kun." Lantas Shion pun pergi meninggalkan meja yang ditempati oleh si Uzumaki-kun, Naruto hanya membalas dengan tersenyum, melihat Shion mengingatkannya dengan sang gadis Hyuuga itu. Lalu ia torehkan kepalanya ke arah meja si gadis bermaksud untuk melaksanakan kebiasaan mereka saat bel tanda pulang sudah berbunyi yaitu pulang bersama –karena rumah mereka memang berdekatan- namun yang ia harapkan tak terwujud, mejanya kosong. Sang pemilik meja tidak ada ditempatnya.

Naruto pun bergegas pergi mencari Hinata, senyum yang sempat terukir diwajah tampannya sirna tattakala usahanya demi mencari si gadis tak mendapatkan hasil, ia bertanya perihal keberadaan Hinata kepada orang yang kebetulan berpapasan dengannya namun tak kunjung membuahkan hasil. Hinata seperti tertelan bumi.

'Kau dimana Hinata?' Wajah tampan itu menyiratkan kekhawatiran yang kuat. Ia takut jika sang putri Hyuuga mengalami hal buruk. Ia tidak akan bisa memaafkan dirinya jika hal itu terjadi. Ia sudah bertekad pada dirinya sendiri untuk selalu melindungi Hinata, apapun yang terjadi.

"Naruto!" Pemuda dengan tattoo segitiga terbalik menghampirirnya, ia seperti habis berlari maraton bersama Lee dan Guy-sensei. Duet maut penggila masa muda dan duet maut bintang iklan pasta gigi.

"Kau mencari Hinata kan? Ia berada di lapang sekolah yang di belakang, ia seperti sedang menangis dan aku juga me-

Tanpa menunggu kalimat itu selesai, Naruto segera berlari menuju tempat yang pemuda penyuka anjing itu maksud. Ia berlari dengan kecepatan semaksimal mungkin.

BLARR! CTARR!

Petir pun menhujam dunia dengan ganasnya, awan hitam bergumul mengeluarkan gemuruh-gemuruh seperti geraman yang menakutkan. Ini gawat pikir Naruto, Hinata sangat takut terhadap petir. Ia mengepalkan tangannya, ia akan menghajar apapun atau siapapun yang berani membuat Hinata menangis. Langkahnya pun semakin dekat menuju lapangan.

Sedikit lagi ia sampai, ia bahkan bisa melihat siluet seorang gadis yang sedang duduk menyampinginya di salah satu bangku yang tersedia di lapangan itu sambil mengarahkan kepalanya kebawah, ia menunduk. Bahunya bergetar hebat, pertanda yang Kiba katakana benar. Hinata Hyuuga. Gadisnya. Sedang menangis.

Ia perlahan menghampirinya, dengan sangat perlahan dan hati-hati ia semakin berjalan mendekati Hinata.

'Apa yang terjadi padamu Hinata? Kenapa kau jadi begini? Kenapa kau tidak cerita padaku?' Naruto hanya bisa menatap Hinata dengan sendu. Awan yang semakin bergemuruh tidak mereka pedulikan, masing-masing seperti hanyut pada pikirannya sendiri. Naruto tidak tahan lagi, ia tidak tahan melihat Hinata seperti ini, bahkan menurutnya Hinata dengan keadaan seperti ini jauh lebih mengerikan dibanding saat Naruto menemukan Hinata sedang meringkuk ketakutan beberapa hari yang lalu.

GREB!

Hinata membuka matanya dengan paksa saat ada seseorang yang memeluknya dengan kuat sekaligus lembut, aroma citrus pun menguar merasuki indra penciuman Hinata. Ia terkejut, ia hapal betul aroma ini, satu-satunya orang yang memiliki aroma ini hanya Uzumaki Naruto, pemuda dengan senyum mentari yang menghangatkan.

"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau tidak cerita padaku?" Ia tetap saja memeluk Hinata, desiran nyaman dan hangat menyapa relung hati Hinata saat ia dengan jelas menangkap nada khawatir dari mulut sang 'mentari'. Hinata hanya mampu terdiam tanpa bisa menjawab, malahan air mata terus mengalir makin kuat dari dua bongkah permata indahnya dan terus mengalir kebawah hingga bermuara ditangan kekar yang memeluknya.

"Ku-Kumohon, hentikan i-ini Na-Naru-kun hiks…. He-Hentikan."

'Jangan buat aku semakin berharap padamu.'

Namun reaksi yang Hinata dapatkan adalah kebalikannya, Naruto malah memeluknya semakin erat. Semakin menghantarkan desiran-desiran hangat kedalam hatinya. Mulutnya memang berkata untuk berhenti, namun tubuhnya tidak. Tubuhnya tak kuasa menolak dekapan hangat dari Naruto, Hinata terbuai dan terus terbuai semakin dalam. Ia bahkan mengacuhkan butiran-butiran air yang perlahan turun membasahi bumi. Gemuruh-gemuruh dari awan pun tak sanggup mengguncang indra perasa milik mereka.

"Aku akan berhenti memelukmu kalau kau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi padamu, Hime-sama." Hinata semakin terisak saat mendengar Naruto kembali memanggilnya dengan sebutan itu. Emosi yang bergejolak, kecemburuan yang tak bisa ditahan, dan dekapan yang hangat. Saatnya berkata yang sebenarnya, batinnya.

"Hiks, a-aku, aku…. Aku tidak tahan melihat senyuman mu saat menatap Shion! Kau selalu tersenyum lembut kepadanya! Hiks, A-Aku masih bi-bisa menahan cemburuku saat ka-kau bersama gadis lain ta-tapi saat dengan Shion….. Kau, ka-kau berbeda…. Hiks, aku tahu, a-aku tidak berhak merasa sperti ini tapi aku tidak bisa me-menahan sesak dihatiku… Ra-rasanya sakit sekali saat melihat orang yang sangat ka-kau cintai menunjukkan ka-kalau dia menyukai ga-gadis lain, Naru-kun, sakit sekali…."

Naruto hanya dapat terkejut, sangat terkejut atas pengakuan Hinata. Seorang Hinata Hyuuga, gadis ningrat keturan klan terhormat, gadis pintar yang baik hati, gadis pemalu namun idaman para lelaki itu…. Menyukainya? Menyukai orang urakan seperti Naruto Uzumaki?

Hujan pun turun semakin lebat, mengguyur sang tempat fana ini dengan ganasnya, namun seakan menantang, dua sejoli masih tetap saja pada posisi mereka. Tidak menghiraukan sang langit yang sepertinya makin mengganas menghantam mereka.

Gemuruh pun juga dirasakan oleh seorang Naruto Uzumaki, tusukan-tusukan senbon dihatinyaseperti menertawakannya. Terkadang ia merasa si Hyuuga ini memang menyukainya, ditilik dari sikap dan gelagat yang ditujukan kepadanya namun Naruto tidak ingin berharap banyak, tidak ingin terlalu terbawa oleh perasaan semu ini. Ia ingin sekali menanyakan perihal perasaan si gadis terhadapnya tapi ia urungkan, ia tidak ingin merusak persahabatan yang sudah mereka jalin sejak lama. Ia lebih memilih mengorbankan cintanya ketimbang mengahancurkan sesuatu yang sudah mengikat mereka dengan kuat.

Toh, tanpa harus ada kata daisuki atau bahkan aishiteru pun, mereka sudah hangat layaknya sepasang kekasih, atau malah lebih hengat dari sepasang kekasih? Entahlah, ia juga tak mengerti. Karena menurutnya tak ada kata maupun diksi yang tepat untuk menggambarkan hubungan mereka, tapi manusia tetaplah manusia, Naruto tetaplah Naruto, ia terkadang merasa lelah dengan perasaan tak kasat ini. Sekelebat bayangan buruk pun sering datang menghantuinya, semisal jika ada pemuda lain yang dapat memikat Hinata dan membuat gadisnya berpaling darinya dan menyambut pemuda itu tanpa tahu ada seseorang yang sangat menyayanginya, mimpi buruk, eh Naruto?

Tapi lihatlah sekarang, gadis yang ia sukai sedang menangis sesunggukan dengan tatapan mata memohon yang sangat memilukan, dan tatapan serta kristal bening yang Hinata tumpahkan secara sukarela itu hanya untuk Naruto Uzumaki seorang…. Nah, apa yang akan kau lakukan sekarang, tampan?

Ya, kau melakukan tindakan yang benar. Sekarang gerakan anggota tubuhmu dan realisasikan apa yang tadi sudah kau pikirkan, Naruto!

Dengan mantap, Naruto mengangkat dagu mungil Hinata, menghapus sungai kecil yang tercipta diantara sepasang permata indah itu dengan kedua ibu jarinya. Naruto memperlakukan Hinata dengan sangat lembut, terlampau lembut malah bagi ukuran pemuda garang macam Naruto tapi untuk malaikat mungilnya, apa yang tidak akan bisa ia lakukan? Ia akan mati-matian melakukan hal yang diatas kewajarannya. Demi Hinatanya.

"Na-Naru-kun, a-apa yang kau la-lakukan?" Sendu-sedan mata Hinata menatap sang pangeran hati, Naruto membuatnya merasa bahwa ia memliki tahta dihati sang pangeran. Kelembutannya, sorot matanya, serta kelembutannya dalam menghapus air mata Hinata. Makin bergetarlah tubuh mungil itu.

"Apa yang aku lakukan? Hanya menghapus air matamu, Hime." Bahkan Naruto mengucapkan kata Hime tanpa embel-embel sama, dan tak lupa ia menambahkan senyum terbaiknya diakhir ucapannya.

'Senyuman i-itu….. Ke-kenapa terasa le-lebih tulus da-da-dari yang i-ia berikan ke-ke-

"Karena aku mencintaimu, Hyuuga Hinata."

.

.

-Las Noches de Damned Book-

.

.

"Ugh, kenapa harus hujan sih? Mana aku tidak bawa payung lagi, menyebalkan." Sehabis menemui Kakashi-sensei 15 menit yang lalu, Shion berencana kembali ke kelas hanya sekedar melihat apa si pirang masih berada di kelas atau tidak, namun yang ia temui hanya suasana hampa khas kelas dipenghujung pelajaran. Jadi, bisa disimpulkan kalau seorang Shion Taguya begitu menggilai atau bahkan memuja si Gaki -panggilan 'mesra' kepala sekolah Tokusetsu Gakuran untuk Naruto- yang notabene adalah siswa popular kedua setelah sang sempurna dan hebat, Uchiha Sasuke. Lalu ia memutuskan untuk berjalan berbalik arah menuju gerbang timur yang memang paling dekat ke arah rumahnya sambil berteduh menunggu hujan reda.

Jalan. Jalan. Jalan. Jal- DUK!

"Eh? Apa itu?" Shion menundukkan pandangannya kebawah saat kakinya merasa menendang sesuatu dikoridor sekolah yang sunyi ini, bunyinya pun bergema dikorodor ini. Shion pun membungkuk hendak 'memungut' benda aneh yang terbungkus kain hitam dan dililit oleh rantai -yang menurutnya menyeramkan- dengan motif serta lambang aneh di ujungnya.

"Apa ini semacam buku?" Tanya Shion yang tidak mungkin dijawab oleh siapapun karena hanya ia seorang di koridor ini. Tepat 7 cm sebelum ia menyentuh benda aneh itu, ia melihat bahwa buku itu bergetar sebentar sebelum kembali diam seperti benda mati pada umumnya. Sontak Shion menjauhkan dirinya dari buku itu sebelum kembali mendekatinya untuk memegang buku itu.

Dan saat ia memegang buku itu. Buku itu memperlihatkan pemandangan, sebuah pemandangan yang menurutnya mengerikan, amat sangat mengerikan.

"Karena aku mencintaimu, Hyuuga Hinata."

"A-Apa yang ka-kau bil-

"Kau pikir kenapa aku tersenyum jauh lebih lembut padamu ketimbang saat aku tersenyum kepada Shion, kan?

"A-Aku, aku-

"Kau tanya kenapa aku selalu tersenyum lembut pada Shion? Karena setiap melihat Shion, aku seperti melihatmu. Entah kenapa dia terasa sangat mirip denganmu. Bentuk mukanya, postur tubuhnya, bibirnya bahkan mirip sekali denganmu namun yang paling membuatku terenyuh adalah matanya."

"Mata kalian sangat mirip, sama-sama indah tapi kupikir matamulah yang lebih indah"

"Hinata, aku sudah mencintaimu sejak lama, mungkin saat kita pertama kali bertemu. Saat itu kita mungkin sedang berumur 7 tahun, eh, Hinata? Kau waktu itu masih bocah pemalu yang selalu bersembunyi dibalik kaki ibumu, hehe. Mukamu saat memperkenalkan diri padaku sangat lucu, aku bahkan tidak pernah lupa momen-momen itu -ttebayo. Tapi sekarang, lihatlah dirimu."

"Kau tumbuh jadi gadis yang cantik dan menawan, bukan lagi bocah dengan pipi chubby yang menggemaskan. Kau sudah menjadi seorang putri, kau tumbuh jadi kebanggan klan Hyuuga. Kau juga jadi idola sekolah karena sifat dan parasmu. Dan aku sadar, kau sudah terlalu jauh untuk kukejar."

"Aku sempat merasa kau menyukaiku dan aku ingin sekali menanyakannya namun aku tidak ingin salah langkah. Aku tidak ingin merusak persahabatan kita, cukup menjadi sahabatmu saja sudah membuatku senang tapi kadang aku juga merasa takut kalau-kalau…. Kau terpikat dengan lelaki lain dan berpaling dariku, namun aku tepis keras bayangan-bayangan mengerikan itu. Aku benar-benar tidak ingin merusak ikatan ini, aku ingin selalu berada didekatmu, melindungimu, menjagamu, walau harus menahan rasa yang kuat dihati ini, sekalipun harus menjadi sahabatmu dan…."

"Harus mengorbankan cintaku kepadamu."

BUGH!

Buku hitam itu terhempas ke lantai koridor yang dingin, buku yang sudah memperlihatkan sesuatu yang sedang terjadi ditempat lain, ditempat sebaliknya sekarang ia berada. Ia tidak kuat, seluruh tubuhnya bergetar dengan hebat dan tak ayal ia langsung jatuh terduduk dengan hati yang hancur. Mimpi buruk setiap gadis yang sedang jatuh cinta menjadi kenyataan.

Cintanya bertepuk sebelah tangan. Dan yang lebih menyakitkan, senyuman yang membuatnya merona hebat ternyata bukan karena dirinya dan bukan untuknya. Tapi untuk Hyuuga Hinata.

"Kau ingin Uzumaki-kun menjadi milikmu, kan? Kau ingin mereka hancur- ah tidak maksudku, kau ingin gadis itu hancur dan Uzumaki-kun berpaling kepadamu?"

"Aku bisa melakukan itu kalau kau mau."

"Kau hanya perlu membuka rantai itu dan semua akan menjadi indah, Shion-chan."

.

.

Las Noches de Damned Book, continued.


Book 1, pages 367: Prelude of The Catastrophe, close it.

.

.

.

.

.

.

.

.

Wahahaha, akhirnya selesai juga chap 1. Oya, salam kenal semuanya, saya author baru tapi bukan pemain baru di dunia ffn ini :$

Fic ini akan jadi two-shoots dan fic ini terinspirasi dari film H dengan judul *ttuuuuuttt* :D nama 'Las Noches' pun di ambil dari salah satu seri film itu namun buat yang tau dan pernah nonton film ini pasti tau kalo fic ini berbeda 180derajatcelcius dari filmnya, saya Cuma minjem unsur bukunya doang hehehe.

Dan chap 2 nanti, insyaAllah 80% mungkin akan fokus ke arah horrornya, jadi tenang aja bagi yg nunggu bagian horronya tinggal tunggu aja chap 2 *ah kampret laga lu kaya ada yg mau baca aja*

Maaf juga kalau banyak kekurangan di fic ini, entah itu typo, plothole, atau kurang disana sini, maklum lah author baru. Jadi, akhir kata mohon bimbingannya minna~