Book 2, pages 673: The Living Darkness, opened.


DEGHDEGH!

.

DEGHDEGH!

.

DEGHDEGH!

.

"Ayo Shion-chan, buka rantainya. Kau ingin Uzumaki-kun, bukan?" Diawali dengan bunyi jantung yang berdetak dan dilanjutkan dengan sebuah suara atau lebih tepatnya geraman yang dihasilkan oleh sebuah buku, ya oleh sebuah buku yang seharusnya tidak boleh dibuka. Dan buku itu telah menemukan vesselnya, wadah untuk menampung kebangkitannya.

Buku terkutuk yang seharusnya sudah berhasil dilenyapkan ke dimensi lain oleh para manusia Nepalathic, manusia dengan kemampuan magis untuk menghancurkan kekuatan Decoxita yang berniat menyebar benih kekelaman di bumi ini, lalu kemudian menyegelnya dalam buku itu. Buku yang dibuat oleh orang-orang Nepalathic di tempat yang sudah musnah akibat peperangan antar Xentacrogus ribuan tahun yang lalu.

Buku yang mempunyai nama, Cograth Deluxath.

Buku yang dibuat dari ekstraksi pohon Calysion, ditulis dengan tinta hitam dari danau Iganta, dan ditulis di atas kulit Croxath, binatang suci yang dimiliki kaum Nepalathic, ditulis dalam bahasa Xenta, bahasa kaum Nepalathic dijaman itu sebelum kemudian musnah akibat perang antar Xentacrogus. Perang antar manusia suci –Nepalathic- dengan makhluk ciptaan Goroth yaitu Decoxita.

"Apa yang kau tunggu, Shion-chan? Cepat buka bukunya." Geraman mengerikan yang dengan mantap berhasil merasuki pikiran Shion seakan menghipnotisnya, dengan perlahan namun pasti ia mulai melepas rantai yang mengikat buku itu satu persatu.

Rantai bagian atas atau Quoxe yang melambangkan langit, berhasil ia buka. Seakan menyahuti, langit pun bergetar saat Shion berhasil melepas rantai bagian atas. Kemudian ia beralih ke rantai bagian tengah atau Wrothax yang melambangkan bumi telah dengan sukses ia buka, pijakan tempat ia bertahan seperti mengeluarkan hawa yang kuat serta menyengat bagi siapa saja yang merasakannya. Dan yang terakhir adalah rantai bagian bawah alias Decract yang melambangkan dunia kelambu, tempat dimana para orang-orang Nepalathic menciptakan Cograth Deluxath sertaarena peperangan antar Xentacrogus.

"Ah, iya bagus seperti itu Shion-chan. Kau semakin dekat dengan Uzumaki-kun." Seakan gelap mata saat penghuni tunggal buku Cograth Deluxath itu mengatakan nama pemuda yang paling ia sayangi, yang saat 5 menit yang lalu telah menghancurkan hatinya dengan telak. Tak butuh waktu lama, ia berhasil membuka semua rantai penyegel buku hitam itu, kemudian tanpa suruhan atas buku itu, ia melepas kain hitam pembungkus Cograth Deluxath.

Dengan perlahan ia lepas kain itu agar ia dapat melihat dengan jelas rupa dari buku terkutuk itu. Sampul bagian depan nya dihiasi dengan ukiran-ukiran kuno namun mengerikan serta rumit di bagian pinggiran buku itu, bagian tengahnya diukir sebuah lambang dengan 3 titik berbentuk lingkaran yang besar dan dihiasi oleh bercak-bercak hitam yang sudah mengerak. Di sekeliling 3 titik lingkaran itu diukir tulisan-tulisan kuno yang tentu saja tak dapat Shion mengerti.

Kemudian dengan lembut, ia usap permukaan buku itu tanpa rasa ngeri sedikit pun. Rasa takutnya sudah dibutakan oleh sesak dihatinya ketika ia melihat semua pengakuan Naruto pada Hinata beberapa saat yang lalu. Seakan kegirangan, buku itu bergetar dan berdesis seakan senang atas apa yang dilakukan oleh Shion, buku itu senang karena vesselnya sudah tidak dapat merasakan apapun dalam hatinya selain rasa sakit dan…. Benci.

"Nah, sekarang kau buka buku itu dan baca apa yang ada didalam buku itu, maka Uzumaki-kun akan menjadi milikmu." Bisikan gaib itu kembali menghipnotisnya, ditambah ia diiming-imingi akan mendapatkan sang Uzumaki. Semakin kelam dan pekatlah keburukan dalam hatinya. Sekarang ia tak peduli jika ia harus menghancurkan Hinata atau melakukan hal buruk lainnya asal ia bisa bersama cintanya, buku ini memberikan solusi yang hebat namun dengan taruhan setimpal yang tak pernah Shion duga.

Dengan nada datar dan dingin ia berucap, "Apa pun demi Uzumaki-kun."

Le Gorath ux Demo no Garta Delathic

Xactiact Le Ruso go Decoxita Nogarta

Socrath ro Demo Ento lo Briath de Nepalathic

Gotoxa Xubadaro ne Kurathogus

Nomecda Protilath un Troxact de Gramu

O Cograth Deluxath…

Penggalan kalimat atau yang orang Nepalathic sebut adalah ayat penguncian, telah Shion baca dengan dingin dan datarnya. Bedanya jika yang membaca adalah orang yang memiliki darah Nepalathic, ayat itu akan berfungsi untuk mengunci sang Decroxita, tapi jika yang membaca adalah manusia murni dan terlebih sedang diselimuti oleh kemurkaan, bisa kalian tebak sendiri kan?

.

DEGH! DEGH! DEGH!

.

DEGH! DEGH! DEGH! DEGH! DEGH! DEGH!

.

.

BLAR! BLAR! BLAR!
Rentetan ledakan yang dibarengi dengan menguarnya kekuatan gaib yang luar biasa, lembaran demi lembaran dalam buku itu terbuka dengan hebat dan tulisan tulisan berwarna hitam yang terdapat dalam buku itu mencuat keluar dari dalam buku tersebut dan membentuk seperti asap berwarna hitam yang langsung membumbung tinggi ke langit seperti sedang menusuk langit. Tak lama setelah itu, asap hitam itu pun mulai membentuk dirinya seperti ratusan atau bahkan mungkin ribuan jiwa dengan tatapan memilukan. Sepertinya mereka adalah korban-korban yang berhasil Decoxita hisap kebaikannya.

"GRAAHHH!"

"GRRAAOOHHH!"

"GRROOOOHHH!"

Dan auman menakutkan lainnya membahana di dalam koridor sekolah yang sudah hancur lebur akibat kebangkitan para Decoxita.

" Akhirnya aku bisa bebas! Setelah ribuan tahun terpenjara dalam buku laknat itu, akhirnya aku bebas! HAHAHAHAHAHA!" Shion pun tersentak, sebenarnya apa yang baru saja dia lakukan? Hanya demi sebuah cinta semu semata, ia bisa jadi gelap mata dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia mau. Sekarang ia hanya bisa bergetar ketakutan setelah melihat pemandangan mengerikan tersebut.

Tak lama setelah itu asap hitam yang tak lain adalah jelemaan dari Decoxita langsung menyergap masuk melalui setiap pori-pori tubuh Shion, melalui lubang telinganya, melalui matanya, bahkan ada yang masuk melalui lubang hidungnya dan mulutnya pun tak luput dari sergapan asap hitam tersebut. Dan yang Shion bisa lakukan hanya meronta-ronta dengan kuat karena tak tahan dengan rasa sakit yang dialaminya ketika Decoxita itu memaksa masuk ke dalam tubuhnya. Rasa sakit yang tak pernah bisa ia bayangkan.

Rasa sakit itu pun semakin menjadi ketika seluruh organ didalam tubuhnya terasa seperti di tusuk oleh ribuan besi panas, kepalanya terasa seperti dipukul oleh palu raksasa, dan yang lebih menyedihkan lagi adalah Decoxita yang ada didalam tubuh Shion sedang lahapnya memangsa jiwa dan pikiran Shion. Ia tanpa ampun menghisap semua kebaikan yang ada di dalam diri Shion dengan tak beperi, dan memompa semua kejahatan yang ada didiri Shion.

Sungai kecil yang terbuat dari darah pun mengalir dari setiap tempat yang dimasuki oleh Decoxita itu, setelah ia berhasil masuk ke dalam tubuh Shion, darah yang ada di sekujur tubuh Shion berubah mengering menjadi seperti jalaran segel-segel kuno yang berwarna hitam, bukan merah darah. Menjalar ke seluruh permukaan tubuh Shion seperti jilatan api.

Matanya tak lagi indah dan berwarna amethyst, melainkan hitam pekat dengan retina berwana merah menyala dengan titik kornea berwarna hitam, di permukaan wajahnya terdapat seperti garis-garis berwarna hitam yang terlihat seperti urat. Rambutnya tak lagi berwarna pirang, tapi berwarna putih kusut dengan bercak darah di mana-mana.

Kuku-kuku dan gigi-giginya berwarna hitam dan tak lagi berbentuk sebagaimana mestinya, kedua tangannya memanjang melewati batas lutut, jari-jari tangan serta kakinya meruncing. Tubuhnya mengering, atau bahkan sangat kering sampai-sampai tulangnya terlihat menonjol dari dalam bungkusan daging serta kulitnya. Bagian ujung jari-jari tangannya seperti dibaluri oleh lumpur yang mengepulkan asap, hal serupa pun terjadi di bagian telapak kakinya sampai batas mata kaki. Lumpur-lumpur yang ternyata berasal dari tanah Goroth. Tanah dimana sang Decoxita tercipta.

Proses penyatuan antara tubuh Shion dan Decoxita yang berlangsung menyakitkan bagi Shion pun telah membangkitkan monster didalam tubuh Shion yaitu kegelapan yang mutlak. Sekarang ia benar-benar tidak memiliki titik cerah dalam relung hatinya, sebuah kebaikan didalam hatinya sudah berhasil dihisap dan dikonversikan menjadi kegelapan dengan sempurna oleh Decoxita.

"Nah, Shion-chan, bagaiman kalo sekarang kita bermain-main dengan Uzumaki-kun dan Hinata?"

.

.

-Las Noches de Damned Book-

.

.

"A-Apa itu tadi, Na-Naru-kun?" Mereka berdua melihat dengan jelas pemandangan aneh dan bahkan mendengar suara ledakan yang memekakan telinga dari arah koridor utara sekolah mereka, kebalikan dari tempat mereka sekarang berada. Firasat buruk langsung mengerayangi hati mereka. Keadaan sekolah mereka tak pernah lebih buruk dari ini.

"E-Entahlah, Hinata, aku belum pernah meliahat hal yang seperti itu." Harus ia akui walaupun ia adalah seorang pemuda garang ketua eksul Muay Thai, seorang yang sangat ditakuti disekolahnya maupun dari sekolah lain tapi tetap saja saat ia melihat fenomena aneh tersebut, bulu romanya langsung bangkit. Apalagi sekarang waktu hampir sore, dan ditambah langit yang masih gelap karena habis hujan.

Namun, tetap saja ia harus pergi ke tempat itu untuk mengecek keadaan yang sebenarnya, bagaimana pun ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk di sekolahnya. Setidaknya ia bisa melapor atau memberi keterangan pada pihak yang berwajib perihal kejadian aneh tersebut. Membantu sedikit lebih baik dari pada diam dan tidak membantu sama sekali, menurutnya.

"Ayo Hinata, kita lihat keadaan disana." Tanpa menunggu persetujuan dari si gadis, Naruto langsung mengenggam tangan Hinata dan membawanya menuju tempat kejadian perkara.

"Ma-Mau kemana Na-Naru-kun?" Jujur saja, Hinata termasuk gadis yang penakut dan hal itulah yang mendasari Naruto untuk selalu melindungi dan menjaga Hinata. Tidak ada imbalan yang keluarga Hyuuga berikan padanya atas hal heroik yang ia lakukan, namun semua berlandaskan dari hatinya, keinginan kuat untuk menjaga Hinatanya dengan seluruh jiwa dan raganya. Tapi, apakah itu semua bisa terbukti kalau Naruto tahu apa yang akan menanti mereka disana?

"Kita akan mengecek keadaan disana, setidaknya nanti kita bisa memberi tahu kejadian yang terjadi pada pihak yang berwajib, Hinata." Sambil terus mengenggam tangan Hinata, Naruto mempercepat langkahnya menuju koridor sekolah bagian utara. Beberapa meter lagi menuju letak ledakan di koridor utara itu dan mereka akan sampai. Tapi sebelum semua itu terlaksana, Naruto menghentikan langkahnya.

"Kau takut Hinata?" Tanya Naruto dengan lembut, matanya menyiratkan kasih yang mampu menentramkan benaknya, mata azure itu memancarkan kekuatan pada Hinata.

"Kalau kau masih takut, peganglah tanganku dengan erat. Aku tak akan melepaskannya." Imbuhnya sembari tersenyum hangat, tak ada lagi cengiran rubah diwajahnya seperti biasa, yang ada hanya sebongkah senyuman hangat yang menawan. Seakan mengerti apa arti mata serta senyuman yang Naruto maksud, Hinata semakin mengeratkan genggaman tangannya dan balas tersenyum.

"Selama ada Naru-kun, aku tak takut bahaya apa pun." Naruto kembali tersenyum, ia akan selalu melindungi Hinata, tekadnya untuk terus melindungi dan menjaga harta klan Hyuuga tersebut menjadi semakin kuat, tekadnya berkobar semakin dalam, bahkan aura positifnya semakin mencuat berbanding lurus dengan tekadnya.

Kemudian mereka kembali berjalan setelah tadi berhenti tepat 15 meter sebelum mereka sampai di lokasi ledakan yaitu di koridor utara Tokusatsu Gakuran. Mereka menyiapkan napas, semakin mengeratkan genggaman masing-masing, dan berucap di dalam hati masing-masing bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa belum saatnya maut memisahkan mereka, semoga.

.

.

-Las Noches de Damned Book-

.

.

Pecahan kaca berserakan dimana-mana, puing-puing bekas tembok yang hancur akibat ledakan keras, potongan-potongan kayu yang sepertinya adalah pintu-pintu yang berada di koridor itu, asap yang masih mengepul serta debu-debu berbahaya yang berterbangan di udara menjadi pemandangan pertama yang bisa retina mereka tangkap. Koridor itu seperti bekas terkena rudal perang, hancur lebur dan tak berbentuk, koridor yang dulunya adalah koridor indah yang sering mereka lewati kini hanya tinggal kenangan.

"A-Apa maksudnya ini? Kenapa tempat ini seperti habis terkena bom?!" Entah Naruto bertanya kepada siapa, Hinata mungkin? Tapi orang yang dimaksud hanya diam saja dalam keadaan syok, tangan yang gemetar melihat pemandangan itu serta mata yang terbelalak.

Tiga menit mereka habiskan hanya untuk terkejut dan bertanya entah pada siapa atas sesuatu yang sedang mereka lihat, selama itu pula asap serta debu masih setia menggerayangi udara namun dalam kurun waktu tiga menit tersebut, intensitas ketebalan asap serta kuantitas debu semakin berkurang. Pemandangan baru yang akan sesegera mungkin mereka lihat semakin setia menggelitik indra pelihat mereka dan sepertinya Kami-sama tak henti-hentinya memberi mereka kejutan pada hari ini.

Buku sialan yang mereka yakini telah mereka hanguskan menjadi abu 10 hari yang lalu, kini tergeletak begitu saja di tengah-tengah atau bisa dibilang di pusat dari lokasi ledakan itu. Buku yang nampak jelas telah dibuka karena rantai pengikat serta kain hitam pembungkus buku tersebut sudah tergeletak tak jauh dari posisi buku tersebut berada.

"Na-Naru-kun, i-itu i-tiu-

"Aku ju-juga tak tahu, Hi-Hinata." Ini benar-benar seperti mimpi buruk di tengah-tengah perayaan Hanami, kenapa buku itu bisa kembali utuh padahal sudah mereka bakar sampai jadi abu? Bahkan mereka jelas-jelas masih ingat saat mereka membakar buku itu di lapangan sekolah, mereka sendiri juga yang membuang abu dari buku itu tak jauh dari lapangan sekolah.

"Hai, Uzumaki-kun. Hai juga, Hinata." Sepertinya Naruto dan Hinata tidak sendirian di tempat itu, mereka kedatangan sosok yang sangat 'manis' dan menyapa mereka dengan aduhainya. Dengan takut-takut dan gerakan kepala yang sangat perlahan, mereka menengok ke arah di mana suara itu menyapa mereka.

"Ka-ka-kau siap-pa?" Naruto bahkan tergagap lebih mengerikan dari pada Hinata yang sedang melihat dada bidang Naruto dihari yang panas.

"Kau sungguh jahat Uzumaki-kun, baru ku tinggal beberapa menit, kau sudah lupa padaku. Menyebalkan." Jika yang mengatakan itu adalah Shion yang dulu ia kenal dengan wujud yang 'normal', maka ia tak keberatan jika harus atau bahkan dipaksa sekalipun untuk mendengar dan melihat rajukan imut dari Shion, namun sekarang berbeda. Dia tak tahu siapa yang ada dihadapannya saat ini. Lidahnya bahkan kelu untuk berbicara barang sepatah kata saja.

"Coba Uzumaki-kun perhatikan dengan baik, siapa aku? Kan tidak seru jika hendak bermain namun kau tidak tahu siapa yang sedang mengajak mu bermain."

Sungguh ia benar-benar tidak tahu siapa sebenarnya sosok mengerikan yang katanya ingin mengajaknya bermain, ia bahkan punya firasat buruk mengenai permainan yang makhluk itu tawarkan padanya. Bahkan sosok ini mirip Sadako dengan tambahan 'aksesoris' di sekujur tubuhnya, yang sering ia lihat dalam film-film horror milik temannya.

"Hinata juga akan ikut bermain, benar kan Hinata?"

"Be-Bermain? Bermain apa? Apa ma-maksud mu sebenarnya?" Sungguh rasanya ia benar-benar ingin menyeret Hinata dan berlari menjauh sejauh-jauhnya dari makhluk mengerikan ini, tapi apa daya? Makhluk itu mengeluarkan aura yang dapat membuat lawan bicara dihadapannya mematung seketika tanpa bisa menggerakan kakinya seujung jengkal pun.

"Ah, kau tertarik Uzumaki-kun? Bagaiman kalau bermain 'lepaskan kepala mu lalu tertawa sekeras kerasnya seperti ini'."

Syut. Dengan mudahnya kepala si makhluk mengerikan itu terlepas dari tempatnya berasal dan segera mencondongkan kepalanya yang sudah lepas, tepat di depan muka Naruto dan Hinata.

"Hihihihihihihihihihi. Ayo, Uzumaki-kun –ah, tidak, ayo Hinata, sekarang giliran mu."

Dan berteriaklah mereka berdua sekeras kerasnya!

"GYAA!"

"KYAA!"

"AYO, LARI HINATA!" Dengan kecepatan maksimal dan tidak peduli apakah ia sekarang sudah menyeret dan tidak lagi menggenggam lembut Hinata, yang penting sekarang mereka harus segera berlari sejauh mungkin dari tempat terkutuk itu. Persetan dengan mengecek keadaan koridor! Nyawanya dan nyawa Hinatam jauh lebih penting dari sebuah koridor sekolah!

"Nee, kalian mau kemana? Permainan baru saja dimulai." Diakhiri dengan tawa yang sungguh sangat mengerikan dari makhluk yang baru saja dengan mudahnya melepaskan kepalanya sendiri seperti anak berumur 10 tahun yang sedang melepas tutup pulpen saat hendak menulis.

"Ayo, Hinata! Kita harus terus berlari! Jangan bergenti!" Ia lebih memilih harus melawan 20 petarung dari sekolah lain sekaligus ketimbang 1 makhluk yang dapat melepas kepalanya sendiri dengan mudah. Kalau melawan manusia, ada bagaian tertentu yang dapat diserang guna melumpuhkan lawannya, kalau sekarang? Naruto berani bertaruh, bahkan jika ia memberikan tendangan backflip maut andalannya, makhluk ini malah hanya akan kegirangan dan meminta lagi.

Mereka terus belari menuju gerbang sekolah bagian utara, karena memang itu adalah gerbang yang paling dekat menuju arah keluar dari sekolah, mereka terus berlari sekuat-kuatnya, Naruto bahkan sekarang terlihat seperti menyeret Hinata karena memang fisik Naruto adalah fisik seseorang yang tangguh, yang dapat berlari jauh dengan cepat tanpa harus terlalu merasa lelah, berbanding terbalik dengan Hinata yang memang hanya gadis biasa pada umumnya.

"Tahan Hinata! Kita hampir sampai." Tiga meter lagi maka mereka akan keluar dari cengkraman mahkluk itu, tapi…

Dalam sekejap mata, di hadapan mereka terbentuk sebuah kubah berwarna ungu gelap yang membentang sepanjang wilayah Tokusatsu Gakuran dengan tinggi mencapi 20 meter, kubah yang menghalangi mereka menuju jalan keluar. Dengan brutalnya, Naruto menghantam kubah itu dengan tinjunya yang sudah terasah, namun nihil. Kubah itu tidak hancur malah tetap kokoh menghadang mereka.

"Kenapa kabur Uzumaki-kun? Permainan baru saja dimulai." Tanpa menggubris ucapan makhluk itu, Naruto terus menghujani kubah itu dengan tinjunya, terus menerus tanpa henti walaupun ia tahu itu tidak efektif.

Dan tak dinyana, tiba-tiba saat ia masih memukuli kubah itu, dari bawah ada beberapa akar yang ukurannya sebesar badan orang dewasa yang menyeruak dari dalam tanah dan mengikat Hinata serta Naruto. Sontak saja, sebagai seorang petarung ulung yang refleknya sudah terlatih, Naruto langsung menghajar akar itu sampai hancur dan berhasil lepas dari ancaman tapi tidak dengan Hinata. Ia langsung terikat dan tercekik akar sampai-sampai untuk meronta saja tidak bisa, untungnya ia sedang bersama pelindungnya, orang yang sudah berjanji untuk selalu melindunginya. Dengan murka, Naruto meghantam akar itu dengan tinjunya dan menendang akar bagian bawah yang mengikat kaki Hinata sampai hancur.

Setelah berhasil lolos, secepat kilat ia langsung menggendong Hinata ala bridal style dan membawanya masuk secepatnya ke dalam gedung sekolah karena Naruto yakin, Hinata sudah tidak sanggup untuk berlari lagi, kemungkinan besar tubuhnya masih lemas karena lilitan akar tersebut. Ia akan bersembunyi dulu di dalam gedung sekolah dan memikirkan bagaimana caranya mengalahkan makhluk hina tersebut.

Akar itu tak berhenti mengejarnya sampai ia benar-benar telah masuk ke dalam sekolah, bisa di bilang sekarang halaman belakang dekat gerbang sekolahnya sudah bertransformasi menjadi kebun akar.

"Kau memilih tempat bermain yang bagus Uzumaki-kun!"

.

.

-Las Noches de Damned Book-

.

.

'Kuso! Makhluk sialan! Siapa sebenarnya dia! Brengsek!' Rutuk Naruto dalam hati, ini benar-benar keterlaluan, makhluk hina itu benar-benar ingin membunuh Hinata. Kentara sekali kalau akar itu menyerang Hinata lebih cepat dibanding akar yang menyerang Naruto barusan, dengan kata lain serangan akar yang dilancarkan kepada Hinata sengaja dipercepat oleh si brengsek itu, Naruto benar-benar dapat merasakan perbedaannya. Ia bahkan dengan sangat mudah menghindari akar itu dan melayangkan tinjunya.

Naruto terus saja berlari sambil menggendong Hinata, ia tak menggubris permintaan Hinata yang meminta untuk diturunkan. Ia terus berlari semakin dalam, tidak peduli ka arah mana, asalkan sejauh mungkin dari iblis itu. Butuh strategi yang matang melawan makhluk yang tak bisa ditandingi dengan otot.

"Na-Naru-kun, turunkan a-aku disini." Hinata merasa benar-benar payah, selama hidupnya yang baru 17 tahun ini, ia sudah atau hampir selalu ditolong oleh Naruto, terkadang ia merasa ia hanya akan terus merepotkan si pirang jika terus didekatnya. Seperti kasus 7 bulan yang lalu, saat senja hari dimana ia harus pulang sendiri dan diganggu sekumpulan remaja tanggung didekat jembatan menuju rumanya, karena Naruto tidak bisa mengantarnya akibat masih harus menjalankan hukuman dari Tsunade-sama karena dengan beraninya atau bodohnya melihat pakaian dalam yang waktu itu dikenakan oleh kepala sekolah Tokusatsu Gakuran itu, bahkan Naruto sudah memohon-mohon agar diampuni karena ia tak sengaja melihatnya. Saat itu ia hampir dilecehkan oleh para remaja tanggung tersebut ketika Naruto dengan brutalnya menendang wajah dari salah satu remaja mesum itu sampai pingsan dan menggila dengan mengahancurkan mereka semua.

Dan hari ini ia kembali diselamatkan oleh pangerannya, ia merasa banyak sekali berhutang budi pada Naruto. Ia berjanji di dalam hati ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk membalas semua kebaikan Naruto dan berusaha menjadi gadis yang lebih tangguh lagi, tapi itu pun kalau mereka berdua bisa selamat dari terror makhluk yang ia duga Shion karena yang biasa memanggil Naruto di sekolah dengan 'Uzumaki-kun' hanya Shion seorang. Namun ia tak berani menilai lebih dalam lagi, ia tak mau berburuk sangka. Toh, sekarang hati Naruto sudah jelas hanya untuknya, bukan pada Shion, tapi apa salahnya kalau ia sedikit berspekulasi? Uh, membingungkan.

Setelah akhirnya mereka berada di dalam gedung utama sekolah Tokusatsu Gakuran, mereka menyisir area di gedung tersebut yang mereka anggap pas sebagai tempat persembunyian, yang akan mereka lakukan sekarang adalah bersembunyi dan menyusun rencana sambil sedikit –ralat, banyak berharap akan ada bantuan yang datang. Siapa pun itu, entah itu sesama murid atau bahkan musuhnya dari sekolah lain. Selama itu berupa bantuan, ia tak peduli. Mereka akhirnya memutuskan untuk bersembunyi di laboratorium komputer sekolah, karena selain tempat itu yang paling gelap dan menyimpan banyak barang –yang mana berguna untuk menyembunyikan keberadaan mereka- juga terletak paling jauh dari koridur utara sekolah mereka.

"Na-Naru-kun, apa kau me-merasa bahwa makhluk tadi mi-mirip se-seperti….. Shi-Shion?" Ucap Hinata memecah keheningan dengan sangat pelan, tetap saja ia tidak enak jika sudah menuduh gadis lain sembarangan, disisi lain ia hanya ingin mendengar pendapat Naruto.

"Ah, kau berpikir seperti itu juga ya? Yah, memang ku akui ia seperti Shion karena hanya ia yang memanggilku dengan 'Uzumaki-kun', tapi bagaimana caranya ia bisa seperti itu? Apa karena pengaruh buku itu?" Naruto mencoba kembali berspekulasi lebih dalam, dugaannya mengenai siapa sebenarnya wanita itu adalah Shion, ternyata sama dengan yang Hinata maksud.

"La-Lalu apa yang akan ki-kita lakukan sekarang, Naru-kun?" Walaupun otak mereka sama-sama 'encer' bahkan bisa dikatakan Hinata yang lebih mendominasi bila berhubungan dengan IQ tapi tetap saja mereka tidak diberi pengetahuan cara membasmi makhluk yang bisa mencabut kepalanya sendiri, membuat kubah penghalang, dan memunculkan akar dari dalam tanah, otodidak kah? Mustahil. Tapi yang ditanya hanya diam saja, mungkin sedang sibuk berpikir batin Hinata.

Lain Hinata, lain juga dengan Naruto, otaknya sedang berpikir keras bagaimana caranya mengalahkan atau setidaknya kabur dari tempat ini dan meminta bantuan kepada orang lain, ah, iya ingat! Ia membawa ponsel, dengan seksama ia merogoh kantongnya dan mengambil ponselnya tapi naas, batrenya habis dan tidak bisa dinyalakan.

"Kuso!"

"A-Ada apa, Na-Naru-kun?"

"Kau membawa ponsel, Hinata?" Lantas Hinata pun merogoh kantong di dalam blazer hitamnya dan menemukan ponsel kesayangannya.

"I-Ini, Naru-kun."

Naruto pun langsung menuju ke menu kontak dan mencari nama 'Minato-san', setelah menemukan nama yang ia cari, segeralah tombol seperti gagang telephon berwarna hijau ia tekan, namun yang ada sambungan malah langsung terputus tanpa ada nada panggilan sama sekali, ia tetap mencoba sampai tiga kali namun hasilnya sama saja.

"Co-Coba cek sinyalnya, mu-mungkin sinyalnya buruk." Ah, benar juga. Siapa tau memang sinyalnya buruk dan benar saja, tidak ada lambang batang sinyal sama sekali, yang ada malah tanda silang berwarna merah di pojok kanan layar ponsel Hinata, menandakan bahwa tidak ada sinyal sama sekali.

"Sial, kenapa di saat genting seperti ini malah hal seperti ini harus terjadi." Hinata hanya mampu menundukan kepalanya dan berkata maaf, ia merasa tidak berguna. Sangat tidak berguna.

"Sudahlah Hinata, angkat kepalamu. Jangan murung begitu, aku tidak menyalahkan mu." Disaat itu juga ia berani mengangkat kepalanya dan disaat itu juga ia berteriak sekencang-kencangnya.

"KYAAA!"

Karena yang ia lihat bukan wajah Naruto, melainkan wajah gadis dengan rambut berwarna putih kusut yang menjuntai ke bawah dengan bercak-bercak darah dimana-mana, kedua kupingnya seperti habis dicabut dengan paksa dan meninggalkan bekas yang mengerikan. Matanya yang sebelah kiri mempunyai bekas seperti ditusuk-tusuk berulang kali, meninggalkan lubang-lubang kecil yang memperlihatkan daging bagian dalam matanya, dan bagian sebelah kanannya hanya rongga mata saja, entah kemana matanya yang satu lagi. Dan yang paling mengerikan serta membuatnya mual ingin muntah adalah mulutnya yang meiliki luka melintang dari ujung bibirnya sampai daerah kuping, membuat mulutnya menganga dan menampakan giginya yang tidak utuh, dan dia tersenyum kepada Hinata. Tersenyum sangat mengerikan sampai-sampai luka di mulutnya semakin tertarik ke atas.

"Hinata! Hey, Hinata! Apa yang terjadi?! Hinata!" Naruto yang terkaget-kaget karena Hinata yang tiba-tiba berteriak karena melihat wajahnya, memangnya kenapa dengan wajahnya? Seingatnya, ia adalah pemuda tampan yang mampu membuat gadis menjerit kegirangan, bukan menjerit ketakutan seperti tadi. Dengan tetap mengguncang-guncangkan bahu Hinata, ia berharap gadisnya cepat sadar dan tidak menjerit lagi karena takut mereka akan ketahuan. 'Jeritan mu terlalu keras, Hinata!'.

"Na-Naru-kun?" Hinata seolah tersadar dan langsung mengerjapkan matanya berulang-ulang, sekarang yang ia lihat hanya gurat kekhawatiran di wajah tampan kekasihnya, lantas yang tadi ia lihat itu bukannya Shion –maksudnya, makhluk mengerikan itu?

"Kau kenapa, Hinata?"

"A-Aku ta-tadi melihat wajah ma-makhluk mengerikan itu, Naru-kun."

"A-Apa maksudmu?! Kau melihatnya dimana?!" Ini bahaya! Berarti si iblis itu sudah tahu tempat persembunyiannya!

"D-Di-Di wa-wajah mu, Na-Naru-kun." Ucap Hinata terlampau pelan, sangat pelan malah. Ia takut perkataannya akan menyinggung perasaan Naruto dan memperkeruh suasana.

"Apa? Di wajahku?" 'Apa ia sedang bercanda?'.

"Ma-Maaf, a-aku tidak bermaksud me-menyinggung mu. Ta-Tapi sungguh, aku me-melihat makhluk itu di-di wajah mu, Na-Naru-kun."

Wajah tampannya tampak mengerut, sejurus kemudian manik matanya mengedar mengitari ruangan persembunyiannya, memastikan Hinata tidak salah lihat dan iblis itu tidak ada di sini.

"Kau yakin, Hinata?" Pertanyaan retoris sebenarnya, ia hanya sekedar butuh pembuktian saja.

"Te-Tentu saja, Na-Naru-kun. Ta-Tapi sungguh, aku ti-tidak bermaksud be-begitu."

"Apakah ia sedang melancarkan ilusinya?"

"Kalau iya, memang kenapa Uzumaki-kun?"

Sang Uzumaki dan Hyuuga itu pun tersentak. Ini mimpi buruk.

Naruto dengan tercekat menolehkan kepalanya kebelakang, tepat ke arah sumber suara tersebut.

"Shi-Shion?" Wujud itu adalah wujud Shion, bukan iblis mengerikan seperti yang ia lihat di koridor utara sekolahnya. Dugaannya dan Hinata ternyata benar, makhluk mengerikan itu adalah Shion.

"Ah, akhirnya kau ingat juga Uzumaki-kun." Shion mengulum senyum, bedanya dulu ia akan terlihat makin cantik jika tersenyum seperti itu namun sekarang tak ubahnya seperti seringai seekor singa yang menemukan buruannya. Dan sialnya lagi, Shion berada tepat di belakang Naruto.

Dengan menggagas ide yang langsung terbesit dipikirannya, ia kembali menyeret Hinata menjauh dari tempat Shion berada dan kembali lari marathon demi menghindari maut. Ia terus berlari menjauhi laboratorium komputer tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.

"A-Ano, Uzumaki-kun… Kau terlalu kuat memegang tanganku." Kenapa suara Hinata terdengar malu-malu, dan kenapa ia memanggilnya dengan 'Uzumaki-kun'? Dengan cepat ia langsung menoleh dan benar saja, yang ia seret bukan Hinata melainkan Shion!

Tapi anehnya kenapa gesture dan ekspresi Shion tidak seram seperti tadi melainkan kembali seperti Shion yang dulu ia kenal dengan ekspresi malu-malunya? Ia terdiam menatap perubahan Shion yang tiba-tiba dan melupakan bahwa ia malah meninggalkan Hinata di laboratorium komputer sendirian.

Mendadak Shion malah memeluknya dengan erat, membenamkan wajahnya di dada hangat seorang Naruto Uzumaki dan mengatakan bahwa ia sangat mencintai Naruto lebih dari apa pun. Ya, Shion sangat mencintai Naruto. Tapi kemudian….

JLEB!

Mata Naruto terbelalak, Shion menusuknya. Orang yang dua detik yang lalu mengatakan cinta padanya malah menusuknya? Cinta macam apa itu?

Bugh. Naruto jatuh berlutut memegangi perutnya yang mengalami pendarahan hebat akibat tusukan Shion di perutnya. Sengatan listrik seperti menjalar ke seluruh tubuhnya, ia mulai merasa kebas di sekitaran perutnya.

"Ke-Kenapa Shi-Shion?" Naruto pun terbatuk dengan darah yang mengalir dari mulutnya, kemudian ia menengadah dan hanya menemukan tatapan dingin serta menusuk dari Shion.

BUAGH!

Shion menendang muka Naruto sampai ia terjungkal ke belakang, kemudian ia berjalan medekati Naruto, menatap wajahnya sebentar, lalu meilirik luka di perut Naruto.

"GAAAAAHH!" Naruto meraung kesakitan saat Shion menginjak luka yang baru saja ia buat di tubuh Naruto dengan keras, darah pun semakin mengalir dan membasahi lantai tempat Naruto berbaring. Shion kembali menatap wajah tampan yang sekarang sedang merintih kesakitan. Wajah yang sudah menghancurkan hatinya.

"WUUAAAAARGHHH!" Shion kembali menusuk Naruto, namun sekarang tusukannya ia layangankan ke paha kiri Naruto. Tusukan yang lumayan dalam, darah kembali membasahi celana kain hitam milik Naruto. Sakitnya bertambah 2x lipat saat Shion menusuk pahanya. Tubuhnya melemas karena kekurangan darah, wajah tampan itu memucat.

"Ke-Kenapa ka-kau tidak me-merima ajakan Sa-Sasuke sajah? Di-dia lebih tampan da-dari kuh, dia ju-juga seorang U-Uchiha." Ya, Naruto ingat kalau waktu itu Sasuke Uchiha, rivalnya di kelas tengah menyukai Shion namun tak di sangka langsung Shion tolak mentah-mentah. Saat itu bahkan ia tertawa sangat keras, mengetahui seorang Uchiha di tolak dengan tidak elit oleh seorang gadis. Shion adalah gadis kedua yang pernah menolak pesona seorang Uchiha. Orang pertama di Tokusatsu Gakuran yang tidak terbius bahkan menolak seorang Sasuke Uchiha secara terang-terangan adalah seorang gadis pemalu dari klan Hyuuga, Hinata Hyuuga. Gadis yang sudah mencintai Naruto sejak lama.

"Karena hatiku telah memilihmu, Naruto Uzumaki."

Naruto terpekur, sebegitu cintanya kah Shion Taguya padanya? Segila itukah bila seorang gadis tengah jatuh cinta?

"Kalau aku tak bisa memiliki mu, maka begitupun dengan Hinata." Berubahlah wujud Shion kembali menjadi Decoxita. Kembali ke wujud iblisnya.

"Dan juga aku benci pada gadis Hyuuga itu, membusuklah ia di dasar neraka."

Lalu ia pun mengangkat tangannya kemudian merentangkan kelima jarinya dan mengarahkan telapak tangannya ke arah laboratorium komputer, tempat di mana Hinata berada. Naruto pun tercekat, dengan segera ia bangkit dan berlari menuju ke tempat Hinata berada, mengesampingkan rasa linu saat ia memaksa tubuhnya untuk bergerak sesuai perintahnya.

"Kenapa kau masih menolongnya? Kenapa kau begitu mencintainya? Kenapa?!" Raungan pilu terdengar dari mulut Shion yang sudah dirasuki oleh Decoxita. Tak butuh untuk berpikir lama, ia langsung merapal kalimat-kalimat mantra atau segel kuno dan menghentakkan telapak tangannya ke tanah.

ux Daromon go Xanto: VII Xecrux!

Tanah yang berada di lantai dasar itu bergetar setelah ia selesai mengucapkan mantra kuno tersebut. Dari celah-celah lantai itu, keluar semacam percampuran antara debu dengan asap yang berwarna hitam dan secara perlahan-lahan, tujuh orang pasukan hitam buatan Goroth muncul dengan armor perangnya. Tubuh mereka kekar dengan gumpalan otot yang besar, hanya saja dibeberapa bagian, tulang mereka terlihat dengan jelas. Badan mereka memang manusia tapi kepala mereka adalah kepala Folumm, sejenis elang hitam di jaman Nepalathic namun mereka memiliki rambut yang menjuntai sampai ke punggung. Mereka juga memiliki 4 tungkai sayap berwarna hitam legam di punggungnya, dan masing-masing dari mereka menggengam dua pedang besar yang terbuat dari taring Xelo, macan raksasa yang juga berasal dari jaman kaum Nepalathic.

"Ne Ggara si Dexo no Mantha!" Ucap Shion atau lebih tepatnya Decoxita kepada para pengabdinya sambil menunjuk ke arah Naruto yang sedang berlari ke arah tempat Hinata. Seketika itu, para Xecrux yang sudah Shion summon langsung menjalakan perintahnya. Mereka langsung berlari ke arah yang tuannya tunjuk, tanah yang mereka gunakan sebagai pijakan mereka berlari pun menjadi retak dan merembes ke dalam karena kuatnya tenaga magis mereka, bahkan dua diantara mereka ada berlari di tembok koridor barat yang mengarah ke laboratorium komputer.

Disisi lain, Naruto sempat menoleh ke belakang dan langsung memasang tampang ngeri dan menambah kecepatannya saat melihat siapa yang mengejarnya. Keitaka ia sudah sampai tujuannya, ia langsung membuka pintu dengan kasar dan menutupnya kembali dengan kasar juga. Sudut matanya menangkap sosok yang ia cari dan ia gapai setengah mati.

"Hinata!"

"Na-Naru-kun…." Ucap Hinata bergetar, ia tak menyangka kalau Naruto akan kembali, padahal ia sempat berpikir bahwa Naruto sudah pergi meninggalkannya. Tapi kemudian ia dibuat tercekat saat melihat luka dan darah yang terus mengalir dari perutnya. Tak lupa juga darah yang merembes keluar dari mulutnya. Saat Hinata akan berkata lagi, terdengar bunyi tembok yang hancur karena dipukul dengan keras dari luar.

BLAR! JDUAR! BLAR!

Tiga Xecrux sudah berhasil masuk dengan menghancurkan pintu serta tembok laboratorium komputer Tokusatsu Gakuran diikuti dengan empat Xecrux lainnya, mereka dengan perlahan masuk dan berjalan menuju tempat Naruto dan Hinata terdiam ketakutan. Lantai itu terasa bergetar saat para Xecrux sedang berjalan.

"A-Apa itu, Na-Naru-kun?" Hinata bergetar ketakutan saat melihat rupa para Xecrux yang memburu mereka, apalagi saat melihat apa yang sedang mereka genggam. Dua buah pedang raksasa yang digenggam pada masing-masing dua tangan mereka. Di setiap sisi pedang itu terdapak banyak bercak warna merah kehitaman yang sudah mengerak.

Naruto merapatkan tubuhnya ke Hinata. Yang ia lawan sekarang adalah tujuh makhluk kuno dengan dua pedang raksaksa yang siap mengoyak tubuhnya kapan saja. Sehebat apa pun Naruto, tetap saja ia hanya remaja biasa yang tahu batas kekuatannya. Ia melindungi Hinata dibalik punggungnya. Setidaknya ia bisa melindungi Hinata di saat-saat terakhirnya dan meninggal bersama orang yang ia cintai dengan tekad untuk melindunginya. Ia tidak menyesal mati layaknya ksatria yang gugur di medan perang demi melindungi sang putri.

Kumpulan prajurit kuno itu semakin mendekat, 3 meter lagi dari posisi Naruto dan Hinata berada. Mereka sudah mengangkat pedangnya dan siap menebas dua remaja yang saling mencintai ini.

"Hinata Hyuuga, aku sangat mencintai mu."

"Hontou ni aishiteru Naru-kun, hontou."

Dan mereka memejamkan mata mereka rapat-rapat.

.

.

.

Sixth Seal: Gods Hands!

BRAKH! BRAKH! BRAKH!

Puluhan tangan kasat mata berbentuk kayu itu muncul dari bawah dan menahan serta mementalkan pedang kuno raksasa itu berserta pemiliknya, mantra yang diucapkan oleh seorang pria berambut pirang cerah. Salah satu dari beberapa orang yang datang ke tempat itu lalu menghampiri Naruto dan Hinata, wanita yang diketahui sudah dewasa itu memiliki rambut merah marun yang indah.

"Kalian baik-baik saja, Naruto, Hinata?"

Naruto dan Hinata langsung membuka mata mereka, ia hapal betul suara ini. Tak salah lagi, itu adalah suara Kaa-san nya! Kushina Uzumaki!

"Ka-Kaa-san? Benarkah i-itu kau?" Entah harus bersikap apa saat melihat Tou-san, Kaa-san dan beberapa teman orang tuanya yang datang dan menolongnya, senang bercampur kaget. Ia takut kalau itu semua hanya halusinasinya, lagipula sejak kapan Tou-san nya bisa memunculkan dan membuat puluhan tangan yang terbentuk dari kayu hanya dengan sebuah ucapan, eh?

"Tentu saja ini Kaa-san mu –ttebane!" Ya! Itu benar-benar Kaa-san nya!

"Naruto! Hinata! Cepat minggir!" Eh, tunggu? Apa barusan yang berkata adalah Shikato Nara? Ayah dari seorang jenius universal, Shikamaru Nara? Kenapa para orang tua bisa ada di sini?

Para Xecrux itu bangkit, hendak menyerang ke arah para orang dewasa berada, bukan lagi ke arah Naruto maupun Hinata. Dua prajurit kuno itu berlari kemudian mendadak membungkukkan badannya dan meloncat sambil mengayunkan pedangnya tinggi-tinggi.

Twelfth Seal: Gods Barrier!

Minato Namikaze kembali menggumamkan mantra, sedetik kemudian munculah bentangan kayu yang sangat lebar, kayu-kayu itu melindungi Minato dan juga orang-orang yang ada di belakangnya. Tak lama berselang, terdengar bunyi benda yang memukul penghalang kayu itu dengan kuat dari luar.

"T-Tou-san?" Naruto benar-benar heran, sejak kapan Ayahnya jadi sehebat dan sekeren ini? Apalagi kayu-kayu itu, apakah Ayahnya seorang penyihir seperti di film-film?

"Nanti kami jelaskan, sekrang kalian berdua berlindunglah di belakang kami!" Hiashi Hyuuga serta beberapa orang lainnya segera melompat dan berdiri di samping Minato. Sepertinya akan ada pertempuran yang hebat.

Tak butuh untuk disuruh dua kali, Naruto serta Hinata langsung bergegas mundur ke belakang para orang tua.

"Naruto, berbaringlah. Aku akan menyembuhkan luka mu." Tsunade Senju segera menyentuhkan telapak tangannya yang kanan ke arah perut Naruto dan telapak tangan yang kiri ke arah paha kiri Naruto seraya menggumamkan mantra. Cahaya kehijauan segera melingkupi area yang disentuh oleh kedua telapak tangan Tsunade.

'Kenapa Tsunade Baa-san ada di sini?'

Rasa hangat segera menjalar ke seluruh tubuh Naruto saat cahaya kehijauan itu berpendar, luka yang menganga itu perlahan-lahan tertutup dengan sempurna, rasa sakit yang teramat ia rasakan tadi sudah menghilang.

"Kalian berdua tunggu di sini, jangan pergi kemana-mana." Tsunade menambahkan, pelindung kayu yang tadi melindungi mereka perlahan-lahan mulai mengalami keretakan dan sedikit lagi mengalami kehancuran.

"Bersiap-siaplah semuanya!" Minato mengkomandoi mereka, dan tak lama pelindung kayu itu hancur, menampakkan tujuh Xecrux yang menatap mereka dengan murka. Xecrux itu berlari dengan cepat menuju ke arah Minato dan yang lainnya.

Thousand of Spears!

Hiashi segera maju menerjang para Xecrux itu, setelah mengucapkan mantra, ia mengarahkan kedua telapak tangannya kedepan. Tangannya di lingkupi chakra berwarna biru yang membentuk muka macan, dan sejurus kemudian, kedua telapak tangan Hiashi bergerak sangat cepat seperti ribuan tombak yang menerjang ke arah prajurit kuno itu. Dua orang Xecrux segera terpental saat terkena jurus Hiashi.

Setelah Hiashi maju, sekarang giliran Chouza Akimichi yang beraksi, ia mengepalkan salah satu tangannya erat-erat dan berucap…

The Unborn Hand!

Tangannya yang ia kepalkan langsung berubah tujuh kali lipat lebih besar dari tangan manusia normal dan meninju 3 Xecrux sekaligus. Sekalipun mereka menggunakan pedang raksasa mereka sebagai tameng tapi tetap saja tidak bisa melindungi mereka dari serangan tangan maut Chouza.

"Minato! Kushina! Cepat pergi dan cari bukuitu! Biar kami yang urus bagian ini!"

Minato terdiam sebentar, namun tak lama ia mengangguk. Ia percaya teman-temannya sangat tangguh dan bisa di andalkan.

"Baiklah, kami percayakan pada kalian. Kami titip Naruto!" Syut. Minato dan Kushina hilang dalam sekejap, hanya meninggalkan sedikit kepulan asap yang menjadi bekas mereka menghilang tadi.

Naruto menganga, Ayah dan Ibunya bisa menghilang dalam sekejap? Keren sekali pikirnya! Ia berjanji setelah ini semua berakhir, ia akan meminta atau kalau perlu memaksa Ayahnya untuk mengajarinya jurus-jurus keren yang baru saja Minato perlihatkan.

.

.

-Las Noches de Damned Book-

.

.

"Ah, jadi ada orang baru yang ikut bermain ya?"

"Apakah itu orang yang dirasuki Decoxita, Minato? Menyeramkan sekali." Kushina sedikit ngeri saat melihat wujud dari orang yang dirasuki Decoxita tersebut.

"Berhati-hatilah Kushina, dia bisa membunuh kita dalam sekejap kalau kita lengah." Minato adalah tipikal orang yang selalu tetap tenang dan mawas dalam keadaan segenting apa pun. Itulah sebabnya saat masih muda ia selalu di hormati dan selalu dapat di andalkan dalam situasi paling buruk sekalipun, selain karena ia memang kuat.

"Rambut dan wajahmu sangat mirip dengan Uzumaki-kun." Ia senang ia akan menghabisi orang yang sangat mirip dengan orang yang sudah meleburkan hatinya menjadi abu, ia bahkan tersenyum girang saat melihat Minato.

"Kau kenal dengan anak ku?!" Kini giliran Kushina yang menyahut dengan terkejut apalagi saat ia menyebut nama anaknya dengan sebutan yang mesra, iblis di depan nya ini kenal dengan anak nya? Jangan-jangan ia adalah teman Naruto?

"Ara, Uzumaki-kun adalah anak mu? Sugoi-nee! Aku bisa membunuh anak dan orang tuanya sekaligus!"

Segera setelah itu, Shion membuka mulutnya lebar-lebar dan keluarlah ribuan serangga hitam dari mulutnya yang kemudian terbang menuju Minato serta Kushina.

Seal! Dimension of Nothingness!

Kushina merentangkan telapak tangan kirinya lebar-lebar sementara tangan kanannya memegangi pergelangan tangan kirinya. Tak lama, secara perlahan muncul sebuah lubang hitam kecil yang muncul di tengah-tengah telapak tangan kiri Kushina dan menghisap semua serangga laknat itu sampai habis.

"Oh, kau lumayan juga Uzumaki-san." Tatapan Shion yang seakan meremehkan Kushina serta Minato, dia lebih percaya dengan kekuatan gelapnya di banding dua 'matahari' yang sedang ia lawan.

"Jangan remehkan kami." Desis Minato, ia tidak suka jika istrinya di remehkan, sekalipun yang meremehkannya adalah seorang iblis kuno. Shion hanya menyeringai.

"Bagaimana kau akan menghisap ini, Uzumaki-san?" Shion menghentakkan tangannya ketanah, dan terlihatlah lingkaran segel yang menjalar keluar di bawah telapak tangannya.

Kuffe Domn o Juyont!

BUSH! Asap mengelilingi tubuh Shion, dan BRAKH!

Munculah 2 badak raksaksa dengan 4 cula di kepalanya, ia mempunya 3 mata dan ke semua matanya sama seperti mata Shion yang sekarang.

"Kushina, kau cari buku itu! Biar aku yang tahan sampai kau menemukan bukunya!"

"Ta-Tapi Minato, ka-

"Sudah cepat cari! Tempat ini akan hancur kalau kita tidak segera menyegelnya! Kau ingin anak kita bersekolah di tempat yang lain, Kushina?!"

"Ba-Baiklah, Minato.."

BUAGH! Salah satu dari badak raksasa itu terpental dan menabrak tembok pembatas Tokusatsu Gakuran. Hanya Tsunade Senju yang bisa melakukan itu. Wanita dengan tenaga super. Tangannya menguarkan aura berpendar berwarna hijau saat memukul badak raksasa itu. Kemudian Minato menghantam badak yang satunya lagi dengan ribuan kayu yang menyerang tepat di wajah badak kuno itu.

"Aku akan membantu mu, Minato! Sekarang cepatlah cari Kushina!" Kushina mengangguk, Minato kembali merapal segel dan segera tanah yang berada di hadapannya menjadi hancur dan bergelombang membuat pijakan Shion jadi oleng dan kesempatan ini tak di sia-siakan oleh Tsunade. Ia meninju Shion tepat di wajah hingga ia terpental sejauh 14 meter dari tempatnya semula dan menghantam tanah dengan telak.

Seal! Gods Eye!

Kushina menyentuhkan telapak tangannya ke tanah sambil terpejam, ia mulai mencari buku itu dengan kekuatan magisnya. Hup! Ia menemukan buku itu dengan koordinat sebelah utara serta 7 meter dari tempatnya berdiri. Ia segera berlari –karena yang tadi membuatnya bisa menghilang dengan sekejap adalah Minato yang membawanya- ke arah buku itu.

"Kau kira, kau bisa apa dengan buku itu, hah!"

Dengan sekejap mata, Shion sudah berada di depannya dengan tangan mautnya yang hendak menusuk Kushina. Minato tak tinggal diam, ia dengan kecepatan kilatnya segera menendang Shion dan menarik bahu Kuhina agar menjauh dari Shion.

"Kalian sungguh menyebalkan!" Muka Shion terlihat retak setelah tadi Minato menendangnya dengan sekut tenaga dan ditambahkan chakra di kakinya.

Shion kemudian mengamuk dan mengeluarkan aura yang menyakitkan

.

.

-Las Noches de Damned Book-

.

.

"Sial, mereka tak bisa mati." Hiashi mengelap darah yang keluar dari mulutnya dengan punggung tangannya. Hinata melihat Hiashi dengan pandangan khawatir, andai ia bisa membantu Ayahnya. Ia meremas bagian ujung roknya, sedih karena ia tidak bisa membantu orang-orang yang ia sayangi.

"Sudahlah Hinata, tidak ada yang bisa kita bantu. Sekarang kita hanya bisa berdoa kalau mimpi buruk ini cepat berakhir dan kita semua bisa pulang dengan selamat." Naruto menepuk pelan puncak kepala Hinata, ia bisa merasakan apa yang Hinata rasakan karena Naruto juga merasakannya. Ia dan Hinata hanya bisa diam melihat bagaimana gagahnya Hiashi Hyuuga, Shikato Nara, Chouza Akimichi, dan Fuugaku Uchiha melawan para Xecrux itu.

Great Fire Ball!

Dari mulut Fuugaku tersembur enam bola api raksasa yang menghantam dengan telak 3 Xecrux itu sementara yang lainnya bisa menangkis bola api Fuugaku dengan pedangnya masing-masing. Fuugaku tak menyerah, ia kembali mengeluarkan jurus lainnya. Kedua tangan Fuugaku di selimuti api hitam yang membara, namun Xecrux juga tak tinggal diam, mereka sama-sama maju hendak beradu kekuatan dan hasilnya adalah ledakkan kekuatan yang dahsyat, Fuugaku serta Xecrux itu pun terpental.

"Kau baik-baik saja, Fuugaku?" Hiashi segera menangkap tubuh Fuugaku saat berberapa meter lagi tubuhnya akan menabrak tembok. Fuugaku mengangguk lemah, ia sudah mencapai batas kekuatannya. Melawan pasukan yang tidak bisa mati hanya akan membung-buang tenaga.

Celestial Shadow!

Muncullah banyak bayangan hitam yang bercabang, jurus andalan Shikato Nara, bayangan itu segera menangkap semua Xecrux yang ada, mencengkram tubuh mereka kuat-kuat.

"Sekarang, Hiashi!" Teriak Shikato, ia tak bisa lama-lama menahan 7 Xecrux dengan staminya yang tinggal sedikit lagi. Tubuhnya sudah berontak lelah, tapi ia memaksakan, semua teman-temannya juga pasti memaksakan tubuhnya untuk bertarung melawan para Xecrux.

Hiashi mengerti apa yang Shikato maksud, ia segera berlari menerjang para Xecrux yang berhasil Shikato tahan, ketua klan Hyuuga itu memundurkan tangan nya sampai batasnya dan menekuknya. Jurus terkuat yang Hiashi Hyuuga punya, kartu As nya ia singkap. Ia banyak bertaruh pada jurusnya ini, setidaknya I berharap para Xecrux itu akan lumpuh.

Guilty of The Unlimit Flower!

Seperti bunga yang menari indah terbawa angin, Hiashi menyerang 7 Xecrux itu dengan kecepatan yang menakjubkan dan memukul titik-titik yang menurutnya fatal sampai-sampai titik yang barusan ia pukul menjadi berlubang karena dahsyatnya efek pukulan Hiashi. Dan Bingo! Tujuh Xecrux itu terpental menghantam tembok saat Hiashi mengakhiri 'tarian'nya.

Hiashi jatuh terduduk begitu pun Shikato, ini adalah batasnya, kalau sampai iblis itu masih bisa bangkit. Habislah mereka semua. Fuugaku sudah terbaring lemah, Chouza sudah tak bisa bangkit lagi. Apalagi yang bisa mereka lakukan?

"Minato, kenapa kau lama sekali?"

.

.

-Las Noches de Damned Book-

.

.

Minato dan Tsunade bisa menahan amukan dari Shion yang baru saja melepas kekuatan Decoxita nya, sekrang ia benar-benar bukan Shion lagi, ia sudah sepenuhnya menjadi Decoxita.

"Dia sudah berubah sepenuhnya, Minato. Ini semakin gawat." Tsunade adalah seorang kepala sekolah yang tegas, ia tak akan membiarkan siapa pun merusak sekolahnya, tapi untuk kasus ini ia tak peduli jika sekolahnya harus hancur sekalipun, yang penting Decoxita bisa di kalahkan dan mereka semua bisa selamat. Jika Decoxita sudah mengusai sepenuhnya tubuh vessel nya, maka kekuatannya akan sempurna dan jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.

Sementara Kushina terus berlari menuju arah buku itu, Minato dan Tsunade mempercainya. Ia tak ingin mengecewakan semua yang telah mempercayainya, terlebih ini menyangkut masalah nyawa. Kushina tak ingin mati sekarang dan meninggalkan anaknya sendirian.

Ia berhasil menggapai buku itu, ia mulai membalik halamannya ke halaman pertama, di mana terdapat kata-kata untuk menyegel sang Decoxita. Tapi tak di sangka, sang Decoxita sudah berada di sampinya, menatapnya dengan angkuh. Tentu saja, Minato dan Tsunade tak tinggal diam, mereka segera menyerang Decoxita bersama-sama. Namun dengan mudah, serangan mereka dapat di tangkis dan malah di kembalikan kepada mereka sendiri.

Kushina menatap horror atas pemandangan yang baru saja terjadi, dua orang terkuat bisa di hempaskan dengan mudah. Sekarang ia benar-benar takut. Decoxita itu bisa membunuhnya dengan mudah, kapan saja.

"Kushina! Cepat baca ayatnya!" Minato menyemangatinya walaupun dengan tubuh yang babak belur dan darah yang terus menetes dari dahinya. Minato memberinya semangat dan kepercayaan yang penuh. Ia tak akan menyerah! Seorang Uzumaki tak kenal kata menyerah!

"Apa yang mau kau lakukan, bocah? Menyegelku? Jangan buat aku tertawa!" Tangannya terayun, hendak menebas kepala Kushina, tapi Kushina tak gentar.

Le Gorath ux Demo no Garta Delathic

Xactiact Le Ruso go Decoxita Nogarta

Socrath ro Demo Ento lo Briath de Nepalathic

Gotoxa Xubadaro ne Kurathogus

Nomecda Protilath un Troxact de Gramu

O Cograth Deluxath…

Tubuh Decoxita itu kaku, apa ayatnya berfungsi? Apa benar ia tersegel? Tapi hanya orang dengan darah Nepalathic yang bisa menyegelnya, tak mungkin wanita ini berdarah Nepalathic karena semua orang dengan darah Nepalathic sudah musnah ribuan tahun yang lalu akibat perang.

"Aku keturunan murni dari Nepalathic jika itu yang kau pikirkan –ttebane!"

Buku itu begetar, Kushina hanya berdiri dan menatap sang Decoxita itu. Ia tak bergeming, masih tetap dalam posisinya.

Proses penyegelan di mulai. Buku itu mengeluarkan cahaya ke hitaman yang berpendar, tak lama berselang dari dalam buku itu, keluarlah ratusan rantai yang mengikat tubuh Decoxita dan menariknya ke dalam Cograth Deluxath. Jalaran segel yang terdapat ditubuhnya kemudian memudar saat secara perlahan ia tertarik ke dalam buku itu dan berubah menjadi tulisan-tulisan di dalam buku itu.

Ia meronta-ronta, menggapai apa pun berusaha agar tidak tertarik dan tersegel kembali dalam buku itu, ia memegang pergelangan kaki Kushina, namun Kushina hanya diam saja tak terpengaruh akan cengkraman kuat di kakinya. Satu rantai keluar dalam buku itu dan menusuk tangan Decoxita yang mencengkram kaki Kushina dan menariknya hingga ia benar-benar tersegel sepenuhnya ke dalam buku itu dengan bunyi debaman yang keras. Rantai dan kain pembungkus Cograth Deluxath secara otomatis kembali melakukan perkejaannya yaitu mengikat dan membungkus kembali buku itu.

Segera setelah penyegelan berakhir, Kushina mengambil buku itu dan berlari menghampiri suami dan mertuanya. Ia senang semua telah berakhir.

"Buku ini harus segera di lenyapkan." Tsunade menatap buku itu dengan murka, buku yang sudah menghancurkan sekolahnya dan hampir membunuhnya serta orang-orang yang ia sayangi.

"Ayo, kita kembali ketempat yang lain untuk sesegera mungkin menghancurkan dan mengirim buku ini ke dimensi lain." Mereka bertiga segera menyusul teman-teman mereka di laboratorium komputer dan berharap mereka semua baik-baik saja.

Perjalan di tempuh selama 10 menit dari tempat mereka berada sekarang menuju laboratorium komputer. Setibanya di sana, mereka bersyukur karena teman-temannya baik-baik saja, dan yang terpenting anaknya selamat.

"Hampir saja Minato, kalian lama sekali." Ucapan Fuugaku menyambut kedatangan mereka, ia sangat terlihat kepayahan sekali, duduk menyender pada tembok dengan luka di sekujur tubuhnya.

"Kau baik-baik saja, Naruto?" Minato terlihat khawatir sekali dengan kondisi anaknya, terlebih tadi ia sempat melihat luka menganga di perut dan paha anaknya.

"Aku tidak apa-apa, Tou-san. Tapi bisa Tou-san jelaskan, apa yang baru saja terjadi dan kenapa Tou-san bisa melakukan hal keren seperti tadi –ttebayo!"

Berbeda dengan Naruto yang bersemangat, Minato hanya menghela napas, ini akan menjadi cerita yang panjang.

"Dulu di sekolah ini mempunyai satu kelas rahasia, kelas yang isinya hanya untuk orang-orang berkemampuan magis seperti kami." Minato memulai ceritanya dengan prologue yang singkat dan tentu saja, Naruto tidak puas akan hal itu.

"Kelas rahasia? Dan siapa itu yang Tou-san maksud dengan 'kami'?"

"Kelas rahasia yang hanya di ketahui kebenarannya oleh kepala sekolah terdahulu dan juga Baa-san mu. Dahulu kami di kumpulkan oleh kepala sekolah terdahulu yaitu Hashirama-sama karena beliau tahu kekuatan 'spesial' kami dan tentang buku hitam itu, buku yang bernama Cograth Deluxath."

"Hiashi-sama menemukan Cograth Deluxath di gudang sekolah, ia terkejut dengan kehadiran buku itu dan lantas menggunakan kekuatan magisnya untuk mendeteksi siapa saja orang dengan kemampuan spesial yang bisa ia kumpulkan di sekolah ini dan di latih. Tujuannya untuk mengumpulkan kami adalah menjaga agar buku ini agar selalu beraa di tempat yang aman dan menghancurkannya saat kekuatan kami sudah di tingkat teratas."

"Setelah kami semua di kumpulkan, kami di masukan ke Tokusatsu Gakuran dan memulai aktifitas kami seperti biasa tanpa ada orang lain yang tahu siapa kami sebenarnya. Yang Tou-san maksud dengan kami, adalah para orang tua dari teman-teman mu dan beberapa yang sudah pergi ke luar kota."

"Saat itu yang menjadi wali kelas kami adalah Baa-san mu, karena beliau juga memiliki kekuatan magis seperti kami. Kami memang belajar, namun yang sebenarnya adalah kami di latih untuk menyempurnakan kekuatan magis kami oleh Baa-san, guna menahan kebangkitan buku itu kalau sampai terjadi."

Naruto dan Hinata di buat semakin bingung, kening mereka berkerut. Memang mustahil mempercayainya, tapi setelah melihat apa yang terjadi, rasanya tidak ada ala an untuk tidak percaya.

"A-Ano, kalau kalian me-mempunyai kekuatan magis, ke-kenapa kami yang keturuan ka-kalian malah tak punya kekuatan ma-magis?"

"Pertanyaan yang bagus Hinata." Ucap Hiashi sambil tersenyum.

"Alasan kenapa kalian tidak mempunyai kekuatan magis adalah karena kami menyegelnya sebelum kalian lahir. Kami takut kalian tidak sadar dan menggunakan kekuatan magis kalian untuk hal-hal yang buruk, lagipula dulu kami pikir untuk apa kalian butuh kekuatan magis? Toh, kalian tidak akan bertemu buku itu." Hiashi kembali merenung kembali ke masa lalu, ia dulu ingat bahwa ia pernah hampir membunuh orang karena tak sadar telah menggunakan kekuatan magisnya, semenjak itu Hiashi sering di sebut monster dan orang-orang mulai takut mendekatinya. Ia tak ingin anaknya mengalami hal serupa.

"Apakah kelas rahasia itu masih ada sampai sekarang?" Jika masih ada, Naruto hanya ingin tahu siapa pemghuni kelas itu untuk kemudian menandai mereka agar ia tak berbuat onar dengan murid di kelas spesial itu.

"Kelas itu telah kami bubarkan saat Minato dan yang lainnya lulus karena buku itu sudah berhasil di musnahkan, kami tidak punya alas an untuk membuat kelas itu lagi." Tutur Tsunade menguak memorinya yang telah terkubur selama puluhan tahun.

"Kalau memang sudah di hancurkan, kenapa buku itu bisa tiba-tiba muncul kembali?"

Pertanyaan yang sebenarnya mereka juga tak tahu jawabannya, mereka ingat dengan jelas kalau saat itu dia sudah memusnahkan buku itu dan membuangnya ke dimensi lain.

"Sebenarnya dulu ada seorang gadis, ia adalah orang terkuat di antara kami, ia pemilik kekuatan magis terkuat bahkan Baa-san mu pun tak sanggup menandinginya. Namanya Hanami Taguya."

Naruto dan Hinata terperangah, Taguya? Bukan kah itu marga yang sama dengan Shion? Mungkinkah ia saudara jauh atau bahkan Ibunya Shion?

"Ia adalah murid pindahan di kelas kami, saat ia pertama kali menunjukkan kekuatannya, kami semua terperangah. Kekuatannya luar biasa, bahkan saat Hashirama-sama melihatnya. Ia langsung menyukai Hanami karena bakat alaminya. Ia menjadi pemimpin kami, selain karena kekuatannya, sifatnya juga tenang seperti Minato."

"Waktu terus berlalu dan sampailah di malam itu, malam khusus di mana buku itu akan di musnahkan oleh Hanami. Kami melihat dengan jelas bahwa ia sudah menghancurkan buku itu dan membuangnya ke dimensi lain, sendirian tanpa bantuan siapa pun."

"Hanya Hanami yang mampu melakukannya karena di saat itu, kekuatan magis kami belum mencapai puncaknya. Tapi sayang, Hanami meninggal dua tahun yang lalu karena sakit dan ia meninggalkan seorang anak."

"Apakah anak itu bernama Shion?" Tanya Naruto dengan cepat, mereka semua terkejut, bagaimana Naruto tahu tentang anak semata wayang Hanami.

"Dari mana kau tahu Naruto?" Tanya Tsunade, ia memang tahu kalau Shion adalah anak dari Hanami dan bersekolah di tempat yang sama dengan Naruto, namun anehnya kenapa Naruto bisa menyangka kalau Shion adalah anak Hanami?

"Marga Shion dan perempuan yang Tou-san ceritakan sama." Ucap Naruto pelan, ia tak menyangka bahwa Shion adalah anak dari orang yang sudah menghancurkan buku terkutuk yang malah Shion buka segelnya.

"Kau kenal dengannya Naruto?" Tanya Shikato, firasatnya berkata buruk.

"Iya, Shikato-san."

"Sekarang di mana anak itu?"

Naruto menghela napas dan melirik Hinata, Hinata hanya merunduk mendapati tatapan nanar Naruto.

"Orang yang sudah Kaa-san segel adalah….. Shion."

BLAR!

Bagai di sambar petir di siang bolong, semua terperanjat. Firasat Shikato ternyata benar, semuanya hanya bisa membisu terlebih Kushina. Sekarang semua sudah jelas, pantas aja orang yang sudah di rasuki Decoxita bisa mengenal anaknya. Kushina merunduk, ia tak menyangka telah menyegel anak dari sahabatnya sendiri. Bulir-bulir bening pun menetes dari mata Kushina. Minato menenangkan Kushina, mengusap lembut bahu Kushina.

Naruto kemudian menatap Hinata dengan pandangan yang sulit di artikan.

"Nanti malam kita akan menghancurkan buku itu dan mengirimnya ke dimensi lain. Sekarang kita pastikan bahwa buku itu sudah benar-benar lenyap dan musnah dari bumi ini." Perintah Tsunade memecah kebisuan.

.

.

.

Tiga puluh tiga tahun kemudian.

.

.

Seorang wanita berambut gelap berdiri sambil memanjatkan doa di hadapan sebuah makam, makam dari seorang temannya di masa lalu. Ia dan anata nya memang sering berkunjung kemari.

"Kaa-chan, makam siapa itu?" Tanya seorang bocah kecil berambut pirang yang tahun ini genap berumur 7 tahun. Sang wanita hanya tersenyum lembut menatap anaknya seraya mengelus rambut pirang sang anak. Memang baru kali ini ia turut mengajak anaknya saat mampir ke sini. Baru saja ia akan menjawab, suara baritone menyalaknya.

"Itu makam teman Kaa-chan dan Tou-chan." Anata nya datang sambil mengenggam tangan seorang perempuan kecil berumur 4 tahun yang memiliki mata azure warisan sang Ayah. Sang bocah berambut pirang itu mendekati makam, menyipitkan matanya menatap nama penghuni makan tersebut.

"Disini tertulis nama… Shi-on Ta-gu-ya, namanya Shion Taguya, Tou-chan?" Bocah bermabut pirang berkata dengan nada riang, sepertinya sifat riang sang Tou-san benar-benar turun padanya. Si pirang alias sang kepala keluarga mengusap lembut puncak kepala anak pertamanya sambil berkata kepada kedua anaknya.

"Iya Hirumi-chan, sekarang kalian berdua ucapkan salam perkenalan dan berdoalah untuk Shion-neesan."

"Ha'i, Tou -chan!" Kedua anak mereka tampak khusu mengoceh di depan makam Shion dan tak lama kemudian menjadi diam dan memanjatkan doa di dalam hati masing-masing. Lima menit kemudian, mereka selesai melakukan 'ritual' mereka.

"Nah, Shion-chan. Kami pulang dulu, kapan-kapan kami akan mampir lagi. Jaa-nee." Ucap Hinata seraya mengelus makam Shion. Sementara Naruto hanya tersenyum melihat apa yang biasa Hinata lakukan. Mereka berempat pun berbalik menuju mobil mereka untuk melanjutkan perjalan mereka.

'Arigatou, Hinata, Uzumaki-kun.'

Mereka tak sadar jika ada bayangan seorang wanita berambut pirang dan bermata lavender sedang tersenyum kepada mereka sambil melambaikan tangannya.

.

.

Las Noches de Damned Book, end.


Book 2, pages 673: The Living Darkness, sealed.

.

.

.

.

.

.

Huh akhirnya kelar juga fyuh *ngelap keringet

Gilak sampe pegel ni leher ngetik final chap! Gomen-nee kalo misal horrornya ga 80% seperti yang di janjiin

Ha-habis cu-cuma yang a-aku bisa hiks hiks *hinata mode=on

Sebenernya ini kepanjangan ga sih buat satu chapter? Tadinya mau di bagi dua cuma karena udah terlanjur bilang two-shoots jadi ga jadi hahahah

Oya, soal nama-nama aneh yang saya garis miringin, itu sumpah saya aja ga tau artinya. Saya ngarang sendiri demi kebutuhan cerita hahahah

btw dari 253 yang ngeliat, cuma 9 orang yang ngereview T_T sedih sekali, seburuk itukah tulisan saya? T_T

Mangap-mangap juga kalau banyak typo, plothole, dan kekuranag yang bisa merusak mata reader semuanya, gomenasai senpai *membungkuk ala penjaga restoran

.

.

note:

Namikaze abe-san: nah udah ke jawab kan isi bukunya? :D yap, saya setuju kalo Naru-kun only for Hyuuga-sama!

Ayumu Hasegawa: tenang aja, saya juga NHL ko mba :D lagian saya ga tega di awal udah NaruHina tapi di ukung malah NaruShion muehehehe

Fikuri-Sama: Yosh! Happy ending belum tuh? :D

setiadimuhammad: syudah kejawab kan buku apa itu? :D

Amanojaku Miyanoshita: saya ga hapal tanggal NHFD, lagian saya ga kepikiran buat ikutan NHFD hahaha mungkin tahun depan deh insyaAllah saya ikut :D oya, fict rate M update dong senpai, banyakin adegan NaruTsuna nya *ups

Lathifah Amethyst-chan: aduh muup ya kalo misalnya horror nya ga greget T_T malah jadi ga jelas gini hiks hiks *hinata mode=on

Muup buat yang ripiu nya ga saya bales, muup T_T dan terima kasih buat yang sudah mau sudi baca fict nista ini apalagi mau ngeriview *berlinang air mata , Arigatou Gozaimassu Minna! Sekali lagi terima kasih banyak!

Akhir kata, Jaa-nee Minna~