Hari yang biasa di Karakura.

Yah, lagipula ini bukan fanfiksi fantasi, SF, atau perang-perangan, jadi sejak awal tiap hari adalah hari yang biasa. Kalau ingin lihat hari yang tak biasa, silahkan lihat serial lain dari fanfik ini yang tak pernah dilanjutkan.

Ehm, daripada itu.

Hari ini juga, seperti biasa, Hitsugaya Toushiro bangun dari tidur tak indahnya. Deskripsi tidur tak indah itu yang seperti apa, kau tanya? Di atas sofa dengan komik di atas wajah—semoga ilernya tak menempel pada halaman komik.

"Toushiro, bangun."

Tatsuki, sebagai kakak angkat yang baik—naratornya disogok untuk berkata begini—membangunkan adik tercinta yang berusia satu tahun di bawahnya dengan menggoyang pelan bahunya.

"Gak mau... gak mau... sarapan... Indomie Rendang lagi..."

'Gawat. Sarapan pertama yang gue berikan waktu itu kayaknya bakal jadi trauma abadi buat anak ini,' Soi Fon, kakak angkat Toushiro yang lain, berkeringat dingin sambil mendengarkan dari jauh.

"Hari ini bukan Indomie Rendang, kok."

Toushiro membuka sebelah mata.

"... Kak Soi Fon sudah berbaik hati untuk memasakkan Indomie Dendeng Balado buat sarapan hari ini."

Toushiro bersiap-siap untuk mereservasi WC di pagi hari, sambil berdoa bahwa mencretnya tidak akan menimbulkan sensasi panas yang bertahan seharian.


Bleach © Tite Kubo.

Ini epilog yang saya bikin setelah ninggalin fanfik ini selama dua tahun, lol. Maafkan gaya tulis yang rada beda atau tingkat kelucuan yang berkurang. Belakangan saya bener-bener ninggalin genre lawak, sih.

Tadinya pengen bikin sisen tiga... cuma rasanya males mampus. Mungkin beberapa tahun lagi. /woi

Para Pencuri Wifi —
— Epilog:
Akhir Cerita —


Tanggal... ah, tidak penting. Yang penting sekarang adalah hari pertama dari semester dua, tahun ajaran 2016/2017. Di mana matahari tertutup awan (ini plot point yang enggak penting banget), di mana Indonesia sudah menjalankan sistem redonominasi, dan di mana internet... bujug buset mahalnya.

"Jadi... hari ini gue sarapan pake Indomie Dendeng Balado. Mungkin tinggal nunggu waktu hingga mereka ngeganti susu gue dengan jus cabe rawit."

"Masa' sih? Padahal mereka baik banget. Jarang-jarang ada orang yang mau ngajak gue boncengan naik motor. Mereka juga kemaren ngajak gue belanja baju, walau gue tolak, sih."

"Bagus, deh, elu tolak," Toushiro memijat dahi, "Entah apa yang harus gue lakukan kalau elu tiba-tiba berubah jadi cewek beneran."

"... gue emang cewek beneran, bego."

"Buktikan. Sebelum gue memastikan Tower of Babel tak berdiri di Lembah Kematian, gue enggak akan percaya 100% kalo elu adalah seorang cewek."

Krik.

Suara satu kedut yang tercipta di dahi Rukia terdengar.

"Ah, kalaupun elu cewek, paling-paling juga gorila betin—"

"Toushiro, sepatu gue pengen kenalan dengan muka elu," Rukia bersiap mengangkat kaki kanannya sambil tersenyum manis nan mempesona, "Nah, sepatuku, kenalin, ini wajah Toushiro."

"—maaf, maaf! Serius, gue minta maaf! Turunin kaki elu! Iya, elu cewek! Elu cewek tercantik dan terseksi yang pernah gue lihat! Gue percaya setelah melihat enggak ada tonjolan di putih-putih yang terlihat saat rok elu terangk—BGUAHAAHH!"

Toushiro dan Rukia, dua orang tetangga dengan ayah yang sama-sama bertahan hidup dengan berjualan pulsa, hari ini pun sedang berjalan ke sekolah dengan santainya.

Ah, ngomong-ngomong, karena ayahanda Toushiro sedang berbulan madu bersama istrinya yang notabene janda kembang super seksi serta menggoda, saat ini Byakuya—ayah Rukia—sedang laku keras. Kebanyakan pelanggannya membeli paket 'pulsa 5 ribu + senyum tipis om-om tampan' atau 'pulsa 10 ribu + senyum menawan om-om kece'.

Jangan tanya bonus apa yang didapat bila membeli pulsa 100 ribu. Mungkin 'pulsa 100 ribu + perut petak-petak duda keren'. Entah. Kebanyakan gadis yang membeli paket itu tewas akibat mimisan parah, jadi tidak ada yang tahu.

Daripada membicarakan ayah Rukia yang sebenarnya hampir tak pernah muncul di cerita, lebih baik kita langsung menskip waktu hingga kedua anak manusia yang saling suka namun ogah pacaran ini sampai di sekolah.

"Pagi, Renji."

Toushiro, dengan santainya menyapa bos Fraksi Preman Sekolah yang baru saja ingin memasukkan motor Skuupi-nya ke parkiran.

"Ou, pagi," Renji berkata dengan sok keren. Mungkin ia tidak sadar kalau statusnya dan motor yang ia gunakan sebenarnya sangat kontras, "Ah, elu udah buat tugas liburan semester Fisika kemaren? Ntar gue lihat, ya. Ada yang gak gue ngerti."

"Yang mana?"

"Semuanya," pria berambut merah itu mengacungkan jempol, "Elu kayak gak tahu gue aja."

"Oke, oke."

Rukia menatap kejadian ini dengan mata takjub, "Hebat. Sejak kapan elu bisa seakrab itu dengan Renji? Padahal gue pikir elu enggak bakal bisa berteman dengan preman kayak dia."

"Ahahaha," Toushiro tersenyum tipis, "Akhir-akhir ini gue baru sadar... punya banyak temen itu enak. Lagian Renji juga enggak sehina yang elu kira. Kami juga sering tukeran JAV—Japanese Animal Video, lho. Bukan porno."

'... setelah gue pikir lagi dalam hal itu sebenarnya kalian sama hinanya.'

Toushiro dan Rukia kembali melanjutkan langkah mereka menuju kelas 10-AB—ah, kalian pasti bertanya-tanya kenapa SMA Karakura, yang notabene di Indonesia ini tidak memiliki sistem kelas IPA dan IPS. Itu adalah satu dari tujuh misteri SMA ini.

Enam misteri lainnya apa? Sekarang sudah epilog. Siapa yang peduli?

Kembali ke perjalanan menuju kelas yang entah kenapa terasa sangat panjang, mereka kembali mengalami pertemuan takdir. Kali ini dengan Ulquiorra dan Ggio.

"Oi, Gigolo."

Toushiro, seperti yang selama ini ia lakukan pada teman sebangku dadakannya, memanggil nama Ggio salah-salah dengan sengaja. Atau mungkin tidak. Tidak ada yang tahu bagaimana cara membaca 'Ggio'.

"Ggio," si pemilik nama menjawab dengan santai, entah bagaimana dia mengejanya. Mungkin dia sudah terbiasa, "Kebetulan banget. Gue baru ngajak Ulquiorra buat terbang ke Jakarta demi nonton teater Jeketi. Tapi dianya gak mau. Lagi sibuk katanya. Elu gimana? Mau?"

Sepertinya Ggio, yang tidak tahu betapa banyaknya konsol yang terkapar di dalam apartemen Ulquiorra, belum menyadari bahwa apa yang dimaksud si pelajar pindahan dari Spanyol—atau Itali? Atau Meksiko? Entah, narator lupa—dengan kata sibuk adalah mengurung diri di kamar untuk menamatkan game.

"Enggak, enggak. Gue gak punya duit. Lagian gue juga mau berhenti nyembah Jeketi. Waifu gue bisa ngamuk kalau tahu gue juga demen cewek tiga dimensi," Toushiro berkata dengan penuh kebohongan. "Ah, kebetulan juga. Elu mau beli poster generasi lima gue, enggak? Gue lelah nyembunyikan itu dari kakak-kakak gue."

"Poster gue udah banyak. Enggak usah, deh," Ggio mengangkat bahu. "Ngomongin kakak elu, kabar Soi—ehm, Kak Soi Fon gimana?"

"Stop. Punya kakak angkat kayak dia aja sudah membuat kepala gue nyut-nyutan sepanjang hari. Jangan nambah masalah dengan mencoba mendaftarkan diri jadi kakak ipar gue."

"Ahahah, jangan gitu, dong. Orang yang mendukung kapal Ggio x Soi Fon itu lumayan banyak, lho."

'Orang yang mendukung Ichigo x Hitsugaya jauh lebih banyak,' Toushiro menahan diri untuk tidak mengucapkan hal itu. Ia bersyukur ketua OSIS berkepala oranye itu cuma muncul sekejap di fanfik ini.

"Gue enggak ngerti elu ngomongin apaan," Toushiro berdalih. Matanya sekarang menuju ke Ulquiorra, "Ah, Ulquiorra. Lama enggak jumpa. Liburan kemarin ke mana? Balik ke negeri asal?"

"Hn."

"... ini cuma perasaan gue atau karakter Ulquiorra sekarang berubah jadi kayak karakter emo berambut pantat ayam tertentu dari fandom sebelah?" Rukia mencibir.

Ulquiorra, masih dengan sikap sok keren, membalik badannya dan memamerkan tas punggung yang berbeda dengan yang ia kenakan di semester sebelumnya—tas punggung dengan simbol keluarga berbentuk kipas merah putih.

"Oh! Elu nonton Naruto tiap sore dan tiba-tiba terkena virus Uchiha-itu-keren-tauk lagi? Haduh, haduh. Gue mah udah lama lepas dari virus itu bertahun-tahun yang lalu. Mau gue pinjemin komiknya?"

Ulquiorra menggeleng, "Enggak peluru. Gue udah cabai di atas garis."

"..."

"... Toushiro, ini cuma perasaan gue atau kosa kata Ulquiorra makin kacau?" Rukia berkata ringan sambil meneteskan swatdrop.

Untung ia tidak sadar kalau 'cabe di atas garis' itu sebenarnya nyaris merujuk pada sesuatu yang berbahaya. Yah, hanya kalangan tertentu dengan tingkat asam kemesuman melebihi 90% yang mampu menyadari hal semacam ini.

Toushiro, sebagai teman yang baik, memberikan koreksi pada kalimat Ulquiorra yang entah kenapa bertambah parah setelah liburan semester, "Bukan 'peluru', tapi 'perlu'. Terus jangan ubah 'baca' jadi 'cabai'. Elu juga enggak perlu nerjemahin 'online' jadi 'di atas garis'."

"Hn."

Si pemuda berambut putih berkedip beberapa kali, "... entah kenapa sekarang rasanya gue ngerti kalau punya temen pendiam yang sok keren itu nyebelin."


"Selamat pagi, Hitsugaya Toushiro! Setelah berlatih dua minggu di Gunung Katak dan Pulau Keserakahan bersama Wakil Raja Bajak Laut dan Kakek Kura-kura, sekarang aku kembali untuk membalaskan dendam!"

'Uwah, ada berapa coba parodi di kalimat barusan...'

Yukio, dengan sebelah mata tertutup penutup mata, dan rambut yang entah kenapa terlihat sangat liar, beserta topi pelukis yang sebenarnya tidak pantas dipakai oleh orang yang bukan pelukis, melompat ke depan Toushiro dan Rukia dengan gagah.

"Ayo mulai, Toushiro! Hazero, real! Hajikero, Synapse! BANISHMENT! THIS! WOR—"

"K-On enggak akan pernah dapet sisen tiga."

"UWOOOOOHH! KENAPA?! KENAPA ELU NGINGETIN GUE DENGAN KENANGAN BURUK ITU LAGI?! SIALAN! TERKUTUK KAU! Haah... haah... gue harus segera pulang dan nonton ulang dari awal... Sialan, KYOANI! KAPAN KALIAN NGEBUAT SISEN TIGANYA?! "

Yukio pergi. Toushiro mengacungkan jempol. Rukia kebingungan akan apa yang terjadi.

"Apa barusan karakternya berubah? Memang Yukio dari dulu selemah dan semaniak ini, ya?"

"Enggak, kok. Guenya aja yang tambah pinter dalam menangani anak kek dia," Toushiro mengangkat bahu. "Kalau dulu mungkin kalimat barusan bakal jadi pedang bermata dua. Tapi karena sekarang gue sudah mulai melepaskan diri dari anime, itu adalah senjata yang ampuh."

"Masa'?" Rukia mengeluarkan cengir kuda, "Kalau begitu gue tes, ya."

"Tes aja."

"Waifumu lacur, mz."

"..."

"..."

"Gue pura-pura enggak dengar yang tadi, ya."

"O-o-oke. Makasih. Gue juga entah kenapa jadi malu setelah ngomongin kata-kata yang belakangan gue lihat mulu di fesbuk," Rukia dengan segera mengganti topik pembicaraan. "Ngomong-ngomong, gimana dengan bokap elu? Masih belum balik?"

"Masih dalam usaha untuk ngebikin adek baru, kayaknya."

"Oh."

Di tengah perjalanan mereka, pasangan pemuda-pemudi yang sedang berjalan menuju kelas itu berpapasan dengan sang kepala sekolah berkacamata, Pak Sousuke yang tampaknya sedang berjalan-jalan melihat isi sekolah di hari pertama semester genap.

Toushiro dan Rukia, selaku anak sok rajin, langsung mencium tangan Pak Sousuke sebelum diam-diam mengelapnya di balik celana dan rok masing-masing.

"Teruskan perjuangan kalian, anak muda."

Entah apa yang dia bicarakan. Rukia cuma memberikan cengir seadanya. Toushiro membuang wajah dan langsung melengos (perang beberapa waktu yang lalu masih memberikan ras getir di lidah), melanjutkan perjalanan ke kelas 10-AB yang makin terasa panjang.

"Ah, homeless bo—maksud gue Hirako," Toushiro melambaikan tangan, "Hai. Lama enggak jumpa. Walau tiga hari yang lalu kita main bareng, sih."

"...? Tadinya gue yakin elu bakal ngomong sesuatu kayak hissashiburi atau semacamnya," Hirako memasang wajah licik sebelum menyikut Toushiro pelan, "Apa? Apa? Elu akhirnya memutuskan untuk berhenti dari dunia perwibuan? Ah, payah. Bahan tertawaan gue berkurang, dong."

"Ahahaha."

Toushiro tertawa kecil.

Benar. Pemuda berambut putih itu tidak bisa menyangkal perkataan dari anggota tertua dari klub yang ia dirikan. Toushiro sendiri mulai menyadarinya belakangan ini.

... ini... mungkin sudah saatnya untuk berhenti.


Akhirnya, bel berbunyi.

Baik Rukia maupun Toushiro sudah berada di dalam kelas. Bu Rangiku, selaku wali kelas yang besar baik hati maupun dadanya, memberikan salam pertama untuk mengawali semester baru.

"Good morning, oh my lovely students. Bagaimana liburan kalian kemarin?"

"... saya di rumah mulu main gim monopoli 'Ayo Kaya!' di android... dan tahu-tahu liburan udah selesai. Liburan yang menyedihkan..."

"Ah, saya kemarin pergi ke pantai bareng pacar! Eheheh! Tenang aja, saya enggak lupa beli dan pakai kond—enggak, enggak. Saya enggak ngapa-ngapain kok, Bu. Serius."

Sedangkan untuk Toushiro,

"Saya... bermain dengan teman-teman satu klub."

Kecuali Ulquiorra yang pulang ke negeri asal, sih.

"Kami menginap di rumah salah satu anggota (baca: tidur di ruang klub bareng-bareng (minus Rukia)), uji nyali sekaligus kemping di hutan pribadi keluarga Ishida... dan semacamnya."

"..."

Semua orang terdiam.

Tentu. Saat ini, yang ada di kepala semua orang yang mendengar cerita liburan Toushiro adalah sama. Hampir semuanya berpikir bahwa Toushiro akan menjawab 'enggak kemana-mana', 'main komputer sepanjangan', atau sesuatu semacam itu.

Karena itu, begitu mereka mendengar jawaban Toushiro yang diiringi dengan senyum tipis di bibir sang pemuda, semuanya memilih untuk diam sesaat.

Gue tahu kalau Hitsugaya itu dari dulu emang ganteng... tapi apa dulu dia seganteng ini, ya?—para penggemar yang selama ini bersembunyi karena takut akan keberadaan Rukia berdiskusi dengan suara kecil.

Gue suka pas dia bersikap dingin dan sok keren, tapi ini... jauh lebih baik.

Toushiro sudah berubah.

Semua orang memikirkan hal yang sama. Sosok Hitsugaya Toushiro yang mereka lihat saat ini, jauh berbeda dengan Hitsugaya Toushiro yang pertama kali mereka kenal enam bulan yang lalu.

Sok pintar dan memilih-milih dalam berteman.

Sekarang?

Ia bahkan berteman dengan Ketua Fraksi Preman. Ia juga berteman dengan Kak Lisa, si Ketua Fraksi Geng Perempuan yang paling anti dengan laki-laki. Ia juga digosipkan memiliki hubungan tertentu dengan Kak Yukio, anak kelas sebelas kaya raya yang memimpin empat klub sekaligus itu.

Toushiro... benar-benar sudah berubah.

—dan semua orang tahu bahwa itu adalah perubahan yang baik.

Rukia, menatap pemuda yang enam bulan yang lalu hanya memiliki dirinya sebagai teman itu dengan senyum tipis yang hangat.

"Memiliki banyak teman itu... memang sesuatu yang luar biasa, ya, Toushiro?"


Jam istirahat, ruang klub WIFI.

"Hei, hei. Lihat ini! GUE UDAH RANKING SATU DUNIA! AHAHAHAH! Ini adalah hasil perjuangan selama dua tahun labih. Pujalah diriku, manusia rendahan berjari lamban!"

Ishida dengan bangga memamerkan username osu!-nya yang kini berada di urutan paling atas di daftar pemain terbaik dunia permainan musikal tersebut. Tentu, tak ada satu pun di ruang klub yang memuja dirinya. Baik Toushiro maupun Hirako sama-sama berpikir bahwa memuja Haruhi atau Madoka jauh lebih baik.

"Sekarang, rasakanlah kehampaan yang dirasakan oleh seseorang yang telah mencapai puncak," Hirako berkata dengan nada sinis.

"Gue sebenarnya enggak begitu ngerti, tapi apa itu artinya elu bakal mentraktir kami Beng Beng?" Rukia berkata tanpa menahan diri. Sepertinya ia tak peduli kenyataan bahwa harga Beng Beng sudah naik belakangan ini.

"Aku akan segera menyusu."

"MENYUSUL ULQUIORRA! MENYUSUL!"

—Toushiro, seperti biasa, menjadi orang yang berbaik hati untuk memperbaiki lidah Ulquiorra yang sedang eror akibat pulang ke tanah Eropa selama dua minggu belakangan.

Dengan begini, semester kedua dimulai.

Ini bukanlah sebuah awal baru, namun bukan pula merupakan sebuah akhir. Ini hanyalah sebuah bagian dari sekian banyak cerita keseharian yang dialami oleh para remaja labil yang berkumpul di sini.

Masih beberapa bulan sebelum Hirako, sebagai anak kelas 12, harus ikut dalam Ujian Nasional dan lulus dari SMA ini. Masih satu tahun setengah hingga Ishida lulus dari SMA ini, dan masih 28 bulan lagi hingga ketiga anggota termuda juga meninggalkan SMA Karakura.

Waktu mereka masih panjang.

Masih banyak hari yang tersisa untuk menciptakan kenangan. Walau masa depan di mana satu persatu dari mereka akan terpisah menunggu, mereka akan terus berjalan.

Menciptakan kenangan indah, memori masa sekolah yang kelak bisa dibanggakan pada anak dan cucu. Apakah Toushiro akan menikah dengan Rukia di masa depan jelas bukanlah pertanyaan, karena romansa bukanlah genre dari cerita ini.

Bagi kalian yang ingin percaya, silahkan percaya. Masa depan memiliki kemungkinan yang tak terbatas. Walau banyak jalan buntu menunggu, masih ada kemungkinan akan kebahagiaan yang tersedia.

Sudah selesai waktu kita untuk memerhatikan kisah mereka. Kini sudah saatnya kita undur diri, membiarkan mereka berjalan dengan sendirinya, menapaki cerita yang mereka inginkan.

"Gue senang bisa bertemu dengan kalian semua."

Toushiro berkata dengan tiba-tiba.

Tak ada yang tahu apa yang mendorongnya. Meski begitu, para rekan satu klub yang telah bersamanya selama enam bulan belakangan itu hanya mengangguk sambil tersenyum ringan.

"Iya. Berkat elu juga gue bisa beli pulsa setengah harga, jadi kita impas."

"...," Ulquiorra mengucapkan apa yang ingin ia ucapkan melalui pandangan mata. Walau terasa homo, Toushiro mengerti bahwa ia juga merasakan rasa syukur yang sama.

"Yah, gue sebenarnya juga dipaksa ikut klub ini, sih... tapi kalau ujungnya semua senang, enggak ada masalah."

"... kami juga senang bisa bertemu dengan elu, Toushiro."

—dan lalu... tirai dari cerita keseharian panjang yang penuh keanehan dan keajaiban ini... berakhir dengan damai.

— • —

Hitsugaya Toushiro.

Penyendiri, menggunakan anime sebagai alasan untuk melarikan diri.

Berjumpa dengan Kuchiki Rukia sebelum cerita dimulai, dan menjadi satu-satunya perempuan yang bisa ia panggil sebagai teman.

Menginginkan teman dengan hobi yang sama, ia membangun klub pecinta internet gratis, yang awalnya ia duga akan jadi markas dari orang-orang yang sama dengan dirinya.

Namun tidak begitu.

Di sini, ia justru menemukan apa yang lebih berharga dari sekadar teman senasib.

Teman... sahabat... dalam arti sesungguhnya.

Setelah ini, mungkin terkadang-kadang ia akan tetap menonton anime untuk mengisi waktu luang. Namun sekarang, baginya, bermain dan berbicara dengan semuanya jauh lebih menyenangkan.

Jumalh teman yang ia miliki sekarang...
Apa perlu kita menghitungnya?

Sungguh,

mendapatkan teman sebanyak ini adalah kebahagiaan terbesar yang tak pernah bisa ia bayangkan.

— • —
— Selesai —
— • —

Catatan Penulis:

... jadi... akhirnya saya benar-benar menamatkan fanfik ini dalam artian yang sesungguhnya. Walau berselang hampir dua tahun, dan saya gak yakin semua pembaca lama PPW akan menyadari kalau epilog ini muncul.

Tapi, yah, pokoknya... saya ucapkan terima kasih.

Para Pencuri Wifi adalah fanfiksi multichapter terpanjang yang pernah saya buat. Walau enggak pantas disebut sebagai mahakarya, walau masih punya banyak kekurangan disana-sini, ini tetap adalah fanfik yang benar-benar berarti buat keberadaan seorang Elpiji.

(ah, saya jadi teringat kalau dulu saya ganti nama dari Kira Kazuki ke Elpiji hanya demi membuat satu lawakan di fanfik ini)

Tadinya mau nyebut orang-orang yang pernah ngereview satu per satu. Cuma, yah... nyortir 200 review lebih itu menguras tenaga. Dan rasanya curang kalau saya cuma nyebut nama orang-orang yang ngefav.

Oleh karena itu, saya ngucapin terima kasih kepada kalian semua, orang-orang yang sudah membaca fanfik ini. Baik itu yang cuma baca diam-diam atau setengah-setengah.

Akhir kata, sampai jumpa.
Semoga kita bertemu lagi di cerita-cerita saya yang lain.