cyanfive98 di sini! ^^

Setelah gagal dengan fic suspense #kemudian pundung di pojokan#, aku mau coba buat fic dengan genre yang nggak terlalu berat. Berdasarkan pengamatanku, readers FTI lebih suka fic-fic dengan genre ringan, kayak Romance, Friendship, Humor, dan Family (bener, gak? Kalau salah tolong dikoreksi TT_TT). Karena aku nggak terlalu sreg ngebuat fic romance (terutama yang ada kissing-nya), akhirnya kuputuskan buat fic bergenre Family.

Semoga fic ini lebih dapat diterima dari fic-ku yang sebelumnya... #prayseriously


Disclaimer: Fairy Tail jelas bukan punya saya, tapi punya Sensei Mashima

Genre: Family, action, dan... crime, mungkin?

Rate: K+ di chapter ini, kemungkinan T di chapter selanjutnya

Warning: Ashley!sisterhood, AU, OOC, misstypo, abal, diksi maksa, bahasa campuran—kadang resmi, kadang gaul, dll... #kemudian pundung (lagi) di pojokan#

Selamat membaca^^


Hari sudah sore, tapi matahari masih menyinari bumi dengan teriknya. Asap dan suara bising dari kendaraan memperparah keadaan di jalan raya sore itu.

Di trotoar, nampak seorang siswi SMA Fairy Tail berjalan setengah hati. Wajahnya sekusut rambut pirang pendeknya yang tadinya dikuncir satu. Mulutnya tidak henti-hentinya mengumpat kesal pada motor-motor yang seenaknya "mengambil jalan pintas" dan hampir menyerempetnya.

"Bangs*t! Kalo mau kebut-kebutan di jalur lo aja sono, jangan di trotoar! Hormatin pejalan kaki, kek!" teriaknya, pada motor yang telah melesat jauh entah ke mana.

Dia menggerutu. Kalau saja uang sakunya masih cukup, dia tentu memilih naik angkot daripada jalan kaki sambil nyebutin satu-satu nama-nama hewan di kebon binatang begini. Namun, karena dia kalah taruhan bola sama Natsu—teman sekelasnya sekaligus rival abadinya—dia terpaksa memberikannya separuh dari uang sakunya karena tahu orangtuanya pasti gak bakal ngasih dia duit buat alasan seperti itu.

"Emang bangke tuh si Natsu. Ah, tapi lebih bangke lagi Edolas Team! Gila! Masa' iya mereka bisa kalah dari team lekong-lekong narsis macam Trimens?!" rutuknya tanpa peduli dengan tatapan 'ini-anak-masih-waras-gak-sih-kok-ngomong-sendiri? ' dari orang-orang di sekitarnya.

Tak sampai lima menit, dia sudah sampai di depan gang. Orangtuanya—terutama ayahnya—sangat bersikeras melarangnya agar tidak melewati gang itu untuk mempersingkat jalan. Alasannya, gang itu terlalu sepi, bahaya jika dilewati anak gadis seperti putrinya.

Namun, baginya, 'bahaya' melewati gang itu masih mending jika dibandingkan dengan 'bahaya' ancaman stress karena berkali-kali hampir keserempet motor di trotoar. Dengan alasan itulah, dia memberanikan diri memasuki gang yang sempit, gelap, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan dari dalamnya itu.

Toh, gue bisa beladiri. Kalo ada yang niat macem-macem sama gue, berarti nyari mati tuh orang!, batinnya. Dia pun melangkahkan kakinya tanpa takut.

Akan tetapi, baru setengah jalan, tiba-tiba saja telinganya sayup-sayup mendengar suara langkah kaki seseorang—ralat, beberapa orang. Suara langkah itu mengeras, lama kelamaan tidak terdengar seperti suara langkah, melainkan derap langkah kaki yang terburu-buru.

Dia bersembunyi di balik tiang sambil memasang kuda-kuda. Didengarkannya baik-baik derap langkah itu untuk mengambil kesempatan. Suara itu semakin terdengar jelas, tapi bukan hanya suara derap langkah kaki saja yang terdengar, melainkan juga suara tangis seorang anak perempuan.

Walau penasaran, dia berusaha untuk tidak menampakkan diri sebelum 'orang-orang itu' menunjukkan wujudnya.

Tiba-tiba suara derap kaki mereka tidak terdengar lagi setelah terdengar bunyi 'BRUKK!' yang sangat keras. Dia tahu, posisi mereka sudah tepat berada di belakangnya.

"Mau lari ke mana lagi kau, bocah?" tanya satu dari mereka. Sepertinya pria, karena suaranya cukup berat. "Kuakui kau cukup berani, tapi percuma saja! Bocah sepertimu tidak akan bisa lolos dari kejaran kami!"

"Ya, itu benar! Karena itu, kenapa tidak kaukatakan saja apa yang sebenarnya terjadi?" tanya satu orang lagi yang sepertinya juga seorang pria.

Kini, yang terdengar olehnya adalah suara sesenggukan anak perempuan. Lalu, dengan suara bergetar, anak itu membuka mulut, "Kumohon jangan siksa aku... Aku benar-benar tak tahu apa yang terjadi..."

PLAKK!

Dia menutup mulut agar teriakannya tak meluncur dari mulutnya. Kejam sekali orang-orang itu! Teganya mereka menampar anak kecil yang tak tahu apa-apa!

"Kami sudah muak dengan jawaban dan tampang memelasmu itu! Apa kau tak punya jawaban lain?!"

"Aku memang... tak tahu apa-apa..."

"Dasar hipokrit!"

Suara tamparan dan tendangan terdengar lagi di telinganya. Hal ini membuatnya tak tahan. Walau dia bukan penyayang anak kecil, tapi mana bisa dia diam dan hanya melihat kekerasan di dekatnya?

"Masih mau menjawab 'tidak tahu apa-apa'?"

"..."

"Heh, apa menjawab dengan jujur itu terlalu sulit bagi bocah polos sepertimu!?"

"Kalau begitu, apakah tidak menyakiti bocah polos yang tak tahu apa-apa itu terlalu sulit bagi begundal-begundal seperti kalian?"

Kedua pria berpenampilan ala preman itu kontan menengok ke sumber suara. Mereka mendengus kesal ketika mendapati siapa yang menginterupsi proses 'interogasi' yang tengah berlangsung.

"Apa urusanmu, Pirang?!"

"Urusanku? Hem, aku tak sengaja jadi saksi hidup perdebatan kalian karena kebetulan lewat di gang ini," jelasnya, santai. "Dan aku tak bisa menerima cara kalian yang tak bisa menahan emosi ketika berbicara dengan seorang anak kecil."

"Lalu?! Kalau hanya itu urusanmu, lebih kau lanjutkan perjalananmu atau kau juga mau kami siksa sampai mati karena mencampuri urusan kami?!"

"Hei, Bos, lebih baik jangan langsung kita siksa! Lihat bodi-nya, weitsss... Apa gak rugi tuh, kalo kita biarin tubuhnya bopeng-bopeng sebelum kita nikmatin?" tanya yang satunya.

"Hah, kamu tertarik sama cewek preman kayak dia? Seenaknya julukin kita begundal, padahal sendirinya juga—!"

Ucapan sang 'Bos' terputus tepat ketika dirasakannya kakinya sudah tidak menapak tanah. Si gadis pirang, dengan tenaga yang tidak terkira, menarik tangannya hingga tubuhnya terangkat, lalu melemparnya ke arah partner-nya. Keduanya menabrak tiang lalu jatuh tersungkur di tanah.

"Iya, gue emang preman! Gue ngaku gue preman, puas lo?! Emangnya elo, udah jelas-jelas preman tapi gak mau ngaku!" katanya sambil mengacungkan telunjuknya ke si 'Bos'. Pandangannya kemudian dialihkan ke partner si 'Bos' yang langsung gemetaran begitu melihat death-glare cewek pirang itu. "Dan lo! Tarik kembali ucapan lo, br*ngsek! Seenaknya aja lo nganggep rendah gue!"

"Dasar sok berani!"

Si 'Bos' tiba-tiba bangkit, lalu mengalungkan lengan kirinya ke leher si cewek pirang. Sementara tangan kanannya menodongkan pistol ke pelipis cewek itu.

"Huh, pake senjata! Gak aci!" ucapnya dengan santai. Tanpa menunggu respon, ditusuknya rusuk sang pria dengan kedua sikutnya dengan keras. Ketika pria itu hilang kendali, disambarnya pistol yang tadi digenggam pria itu lalu ditodongkannya pistol itu tepat di hadapan kedua preman tadi.

"Pergi, tinggalkan anak ini, atau kau tidak keberatan kalau timah panas ini menembus otakmu?"

Si 'Bos' mendecih kesal, tapi tidak berkata apa-apa. Dia menarik lengan rekannya. Keduanya lantas berlari terbirit-birit ke luar gang itu.

Ketika mereka sudah benar-benar tak terlihat, si gadis pirang mendekati anak perempuan yang kelihatannya masih shock dengan kejadian barusan.

"Tenanglah, mereka sudah pergi," katanya, sambil mengelus surai biru gelap milik anak itu.

"Ma-makasih ya, Kak... A-aku sangat ke-takutan tadi.." kata anak itu terbata-bata.

"Heh, itu sudah kewajibanku, kali! Ngomong-ngomong, siapa namamu? Kamu tinggal di mana? Mungkin, aku bisa mengantarmu pulang."

"We-Wendy Marvell. Kakak siapa..?"

"Ashley! Lucy Ashley H.! Jangan tanya padaku apa kepanjangan H. itu, karena aku tidak akan mau menjawabnya. Baiklah, Wendy! Kamu tinggal di mana? Biar kuantarkan kau pulang."

"Aaa, tidak usah, Kak! Na.. nanti merepotkan..."

"Merepotkan apanya! Justru bahaya kalau kamu pulang sendiri! Bisa-bisa kamu ketemu sama preman-preman itu lagi!"

Wendy sebenarnya ingin mengelak lagi, tapi, karena Ashley memaksanya, dia pun luluh. Dengan malu-malu, dia menunjukkan jalan menuju ke rumahnya. Ternyata, jalannya cukup berliku, tapi karena Ashley hafal betul jalan-jalan di sekitar rumahnya, dia tidak takut tersesat. Ketika mereka sampai di depan kali yang alirannya cukup deras, Wendy memintanya untuk kembali.

"Eeh?! Yakin sampe sini aja? Rumahmu emang udah gak jauh lagi?!" protes Ashley. Maklum, sejauh matanya memandang, tidak ada pemukiman di sekitar kali itu. Yang ada hanya jalan raya, gelanggang olahraga, dan ... ruko-ruko.

Ah, mungkin Wendy tinggal di ruko, batinnya. Akhirnya, Ashley mau meninggalkan Wendy. Dia lalu memutar arah, kembali menapaki jalan menuju rumahnya. Langit sudah mulai gelap. Dia harus cepat sampai di rumah sebelum langit lebih gelap dari ini kalau tak mau berlama-lama mendengarkan 'konser' ayahnya.

Ashley merebahkan dirinya di kasur kesayangannya. Raut wajahnya menunjukkan kalau dia kesal dengan sikap ayahnya yang terlalu protektif padanya.

"Ngambek, Non?" ledek Lucy, kembarannya sekaligus teman satu kamarnya.

Ashley mendelik. Matanya seolah berkata 'menurut-lo-gimana?'

Lucy terkikik geli. "Sabar, ya. Gak cuma lo doang kok, yang ngerasa kayak gitu."

"Yah, tapi tetep aja gue kesel! Gue kan cuma telat nyampe rumah setengah jam, ditanyainnya udah kayak gak pulang dua hari! Lebay banget deh, ih!"

Lucy memutuskan untuk tidak menyahut. Dibiarkannya kembarannya itu berceloteh sepuasnya hingga rasa kesalnya surut. Sedangkan dia melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda; mengetik chapter III dari novelnya.

"Luce! Lo dengerin gue gak, sih?" seru Ashley. Lama-lama dia bosan juga karena ocehannya nggak disahutin teman satu kamarnya itu.

"Iya, iya, gue dengerin, kok," jawab Lucy, dengan mata yang tidak dialihkan dari notebook-nya.

Gemas, Ashley pun melempar bantal berbentuk star kesayangan kembarannya. Keberuntungan untuk Ashley, kesialan untuk Lucy karena lemparan itu hit tepat di kepala calon penulis itu.

Lucy menengok dengan wajah kesal. Baru saja dia membuka mulutnya, satu lemparan Ashley lagi-lagi hit. Kali ini, lemparan itu mendarat di wajahnya yang mulus.

"Sakit, Idiooot! Terima pembalasankuu!" ucapnya, seraya melempar bantal yang tadi dilempar oleh kembarannya. Sayang, bantal itu tidak mengenai bagian tubuh manapun dari si kuncir tengkorak itu.

"Weee, gak kena! Wee—"

PLAKK! Baru saja ngomong begitu, satu lemparan Lucy (untuk pertama kalinya) berhasil mendarat di wajahnya.

"Makanya, jangan lengah!"

"Boleh juga kau, Luce. Tapi selanjutnya tak akan kubiarkan!"

Perang bantal pun terjadi di kamar mewah itu. Kekesalan yang sempat melanda satu di antara mereka seolah lenyap, tergantikan dengan tawa ceria dari sepasang saudara kembar Heartfilia.

Keduanya lalu menghempaskan tubuh masing-masing di kasur ketika sudah merasa kelelahan.

"Heh, Luce, tahu gak, tadi di perjalanan pulang, gue ketemu sama anak kecil. Namanya Wendy Marvell." Cerita Ashley membuka kembali percakapan mereka.

"Terus?"

"Kasihan deh, anak itu. Bayangin aja, dia dipukulin sama preman! Dua orang, pula! Duuh, mana tubuhnya ringkih gitu ... Sumpah, gak tega gue ngeliatnya!"

Ashley pun kembali berceloteh. Lucy hanya bisa mendengarkannya sambil manggut-manggut karena tak mau dilempar bantal lagi. Sebenarnya, dia sudah bosan dengan cerita kembarannya. Memukul preman atau senior-seniornya yang seenaknya mem-bully atau memalak orang-orang lemah sudah merupakan hal yang biasa dilakukan Ashley. Kembarannya itu sampai mendapat julukan 'Setan Heartfilia' karena tingkahnya yang kelewat sangar itu.

Dan Lucy bersyukur dalam hati ketika Ashley menyelesaikan ceritanya.

"Oh ya, ngomong-ngomong, lo belum mandi, kan? Ini udah mau jam 6, lho... Mandi gih sana," ucap Lucy buru-buru, sebelum kembarannya menemukan topik baru dan mulai berceloteh lagi.

"O iya, ya! Untung lo ingetin! Iya deh, gue mandi dulu, ya! Lo tungguin gue sampe selesai mandi, ya, baru ntar makan malem bareng mami papi," ujar Ashley, seraya beranjak ke kamar mandi.

"Iya, iya... Tapi jangan lama-lama lho!"

"Siip!"

Lucy menghela nafas lega ketika kembarannya telah masuk kamar mandi. Dia jadi bisa melanjutkan pekerjaannya. Diraihnya notebook yang sempat ditelantarkannya selama perang bantal tadi. Ketika jemarinya hendak mengetik, tiba-tiba, sebuah pikiran terbesit di otaknya.

"Tunggu. Wendy... Marvell?"

"Hoaaahmm!"

Suara menguap Ashley yang cukup keras mengalahkan suara-suara lain yang sempat terdengar di ruangan itu.

Dia melirik Lucy yang sudah terlelap di sampingnya sedari tadi, lalu melihat jam weker di sampingnya. Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Biasanya, mereka berdua beranjak tidur bersama, tapi karena Ashley lupa mengerjakan PR yang harus dikumpulkan besok, dia jadi begadang sampai selarut ini. Dia sengaja menyuruh Lucy tidur duluan karena tidak mau merepotkannya.

"Sebaiknya aku juga cepat tidur. Jam pertama besok kan, olahraga. Kalau terlambat, bisa-bisa kakiku gempor gara-gara disuruh lari keliling lapangan 5 kali," gumamnya pada diri sendiri. Dia pun memejamkan matanya, lalu berusaha untuk mengosongkan pikirannya.

Namun, baru beberapa detik, sudah ada saja suara yang mengusik. Ketukan seseorang di jendela kamarnya membuatnya tak bisa tidur. Awalnya, dia menganggap itu hanyalah suara ranting pohon yang di luar yang menggesek kaca karena tertiup angin. Namun, ketika suara ketukan itu makin keras, dia pun bergegas.

"Siapa, sih?!" tanya Ashley sambil berkacak pinggang.

Tidak ada jawaban. Ashley yang kesal akhirnya memutuskan untuk kembali ke kasurnya. Namun, baru beberapa langkah, suara ketukan kembali terdengar.

Ashley yang senewen, tanpa pikir panjang langsung membuka tirai jendela kamar mereka. Dan betapa terkejutnya dia ketika mendapati sosok mungil berbaju hitam dan bertelinga runcing, 'nemplok' di jendela kamarnya.

Sosok itu bukan hantu atau kucing, tapi ...

.

.

"WENDY..?"

.

.

#to be continue#


Jadi ... adakah yang mau ngereview chapter 1 ini? #mupengtingkatmaksimum T_Tv