Misteri Lukisan Dua Gadis Bersaudara

Pagi itu adalah pagi yang cerah di mansion keluarga Phantomhive. Para penghuni mansion megah itu sedang bersantai di pagi hari yang cerah itu. Ciel sang kepala keluarga sedang bermain catur bersama pelayan senior Tanaka, sedang "trio pelayan bodoh" Bard, Finian, dan Meyrin bersama Elizabeth, tunangan Ciel bertindak sebagai supporter.

"Skak mat!"Teriak bocah berambut biru dongker itu penuh kemenangan, namun dengan tetap menjaga image-nya yang cool dan elegant.

"Wah.. wah.. Tuan muda memang hebat!" Puji Tanaka kepada tuannya. Begitu pun Bard, Finnian, Meyrin dan Elizabeth.

"Siapa lagi yang ingin melawanku?" Tanya Ciel kepada orang-orang di sekelilingnya menawarkan diri untuk kembali bermain catur. Namun, sebelum ada yang bersedia menerima tantangan Ciel, Sebastian sang butler setia keluarga Phantomhive dating menghampiri tuannya.

"Tuan muda, anda mendapat sebuah kiriman. Saya sudah menyimpannya di ruang tengah, namun belum saya buka. Biar anda saja yang membukanya." Ujar Sebastian sambil membungkuk hormat.

"Dari siapa?" Tanya Ciel

"Maaf. Disana tidak dicantumkan nama maupun alamat pengirimnya." Jawab Sebastian.

"Tuan muda, kita pastikan saja. Kita buka paketnya!" Usul chef amerika muda bernama Bard.

"Hmmm… baiklah." Ciel pun setuju dengan usul Bard yang kali ini dianggap berguna.

~ooo0ooo0ooo~

"Sebastian, tolong buka kiriman itu!" perintah Ciel kepada Sebastian. Semua penghuni mansion sudah sangat tidak sabar aka nisi kiriman itu. Kiriman yang lumayan besar dengan bodi yang tipis. Memang tidak ada alamat pengirimnya, tetapi ada sepucuk surat yang menjelaskan bahwa kiriman itu diberikan atas wujud rasa syukur atas selamatnya Ciel pada tragedy mengenaskan keluarga Phantomhive beberapa bulan lalu.

"Yes, my lord!"

Ketika kiriman itu dibuka, semua orang disana sangat kagum, kaget, dan heran. Bagaimana tidak kaget? Ternyata kiriman itu adalah sebuah lukisan terkenal yang lumayan besar! Kagum, karena lukisan itu sangat indah dan cantik. Heran, karena model lukisan itu adalah dua orang perempuan cantik yang tidak pernah Ciel kenal (pada dasarnya Ciel pasti tahu model-model yang ada dalam sebuah lukisan terkenal).

"Lukisan apa ini?" Cercah Ciel.

Sebastian yang sepertinya sudah mengetahui lukisan apa itu akhirnya angkat bicara.

"Ini adalah lukisan "Princess of Ainsworth". Yang bertopi kecil dengan hiasan pita merah dan bergaun mewah ini adalah Coraline Henrietta Ainsworth, kakak dari gadis yang memakai gaun klasik dan rambut berhiaskan pita merah muda ini, Julianne Lilynette Ainsworth. Mereka berdua adalah putrid Earl Ainsworth. Lukisan ini dibuat oleh putra sulung Earl Ainsworth, Billiam Ainsworth." Tutur Sebastian dengan rinci.

"Waah.. Bagus sekali ya, Ciel! Coba saja aku yang menjadi modelnya. Gaunnya juga cantik-cantik." Timpal gadis manis berambut pirang yang akrab disapa Lizzie.

Ciel yang masih tidak mengerti dengan pemberian lukisan itu semakin tercenung dengan raut wajah yang sangat serius.

"Walaupun lukisan ini cantik, tetapi bagiku ini adalah lukisan yang menyeramkan." Gumam Ciel yang berhasil mengagetkan ketiga pelayan bodoh dan tunangannya.

"Menyeramkan kenapa?" Tanya Bard, Meyrin, Finnian, dan Elizabeth serentak.

"Bukankah semua anggota keluarga Ainsworth meninggal karena dibantai?" Tutur Ciel. Seketika semua orang yang ada disana tercengang –kecuali Sebastian.

"Waktu itu yang mulia Ratu Victoria memberiku tugas untuk menyelidiki kasus itu. Tetapi, entah kenapa yang mulia Ratu menyuruhku untuk menghentikan penyelidikan." Ujar Ciel.

Sementara itu, Sebastian yang sedari tadi merasa curiga dengan lukisan cantik itu, tiba-tiba mendekati telinga Ciel dengan sedikit membungkuk karena tubuh Ciel yang terlalu kecil dibandingkan dengan tubuhnya yang berpostur tinggi tegap.

"Tuan muda, saya merasakan ada seseuatu yang aneh dengan lukisan ini." Bisik Sebastian kepada majikannya.

"Sudahlah. Ini hanya lukisan biasa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Sergah Ciel membantah kecurigaan butlernya.

"Lagi pula ini hanya lukisan biasa. Lihat! Coralline dan Julianne pun tersenyum tanda tidak ada apa-apa." Sambung Elizabeth yang ternyata mendengar bisikan Sebastian sambil menunjukkan telunjuknya kepada Coraline dan Julianne yang tersenyum manis dalam lukisan. Dan sepertinya trio pelayan bodoh keluarga Phantomhive dan Tanaka pun setuju dengan majikannya.

"Hei.. hei! Sudah-sudah! Kenapa kalian malahsibuk memperhatikan lukisan ini? Cepat beres-beres dan bersiap-siap! Tamu-tamuku akan dating hari ini?" Sentak Ciel member perintah kepada para pekerjanya. Dengan sigap mereka –ralat: Hanya Sebastian- langusng melaksanakan titah tuannya.

~oooo0oooo0oooo~

Para tamu undangan sudah dating tepat pukul 18.00. memang, Ciel mengadakan sebuah acara menginap di mansionnya selama beberapa hari. Tidak diketahui dengan pasti apa alasannya. Ia hanya bilang ingin berkumpul bersama "teman-temannya".

Tamu yang dating ke mansion Phantomhive adalah Prince Souma beserta pelayannya Agni, Lau dengan Ran Mao, Nina Hopkins, Frances Midford, dan Arthur Wordsmith

Disinilah suasana yang paling seru. Prince Souma yang muncul dari pintu langsung menggabruk Ciel yang menyambut kedatangan tamu-tamunya. Disana Prince Souma beserta Agni memulai dramanya yang terkesan 'lebay'.

"Huaaa…! Ciel! Apa kabar? Kau baik-baik saja kan? Aku kangen kamu tahu!"

"Ya ampun, Earl! Anda seha? Hu… hu… syukurlah kalau anda baik-baik saja!"

Itulah yang diungkapkan kedua pria berkebangsaan India itu, sambil memeluk Ciel erat-erat sampai dirinya pingsan kehabisan oksigen.

Sementara itu, pertemuan ibu dan anak berlangsung dengan santai.

"Ibu!" sahut Elizabeth penuh kegembiraan. Sementara yang disahut hanya tersenyum

"Lho, ayah dan kakak mana?" Tanya gadis manis yang jago berpedang itu kepada ibunya.

"Ayahmu sedang ada pekerjaan di Liverpool. Kakakmu ada turnamen anggar. Jadi mereka tidak bias dating." Tutur Frances.

Sementara itu, Lau, Ran Mao, Nina dan Wordsmith bersikap biasa-biasa dan menyapa Ciel dengan hangat –walau sebenarnya Nina sedikit heboh.

"Waah, ini barang baru di mansion ini ya? Bagus sekali!" Ujar Nina sambil memandangi lukisan Princess Of Ainsworth yang baru diterima Ciel tadi pagi.

"Ya. Lukisan ini aku terima tadi padi. Dari siapa-siapanya aku tidak tahu." Timpal Ciel dengan wajah cool-nya yang khas.

"Bagus sekali! Tetapi lebih bagusann patung dewa Brahma yang ada di rumahku." Timpal pangeran Souma.

Saat semua sedang asyik mengobrol, tiba-tiba Sebastian datang dengan santai namun penuh rasa hormat memberitahukan bahwa makan siang sudah siap.

"Tuan-tuan, nyonya-nyonya, makan malam sudah siap." Kata Sebastian dengan ramahnya sambil menunjukkan senyumannya yang khas itu.

~oooo0oooo0oooo~

Makan malam sudah selesai. Setelah itu, mereka semua berkumpul di ruang duduk untuk mengobrol dan bersenda gurau.

"Aduuh.. Ciel, Ibu, aku ingin ke toilet dulu ya." Izin Elizabeth kepada ibu dan tunangannya itu.

"Baiklah." Jawab sang ibu

Elizabeth pun pergi ke toilet. Dia sangat tergesa-gesa karena sudah tiak kuat menahan buang air.

Setelah selesai dengan urusannya, Elizabeth bergegas kembali ke ruang duduk. Ketika ia melewati koridor tempat disimpannya lukisan Princess of Ainsworth, ia terkejut!

"KYAAAAAAA…!" Jerit Elizabeth

Elizabeth sangat terkejut ketika melihat wajah Julianne pada lukisan itu berubah dari tersenyum menjadi sangat sedih dan matanya yang meneteskan air mata darah!

Apa yang sebenarnya terjadi?

~TO BE CONTINUED~