Can I Get Pregnant?

Cassiopeia1215

YooSu GS! Yang gamau bisa langsung pergi.

-O-

Happy reading! Enjoy~


.

Yoochun memeluk pinggang istrinya yang tertidur tanpa busana dalam dekapannya. Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi tapi pasangan tersebut masih tertidur pulas dibalik selimut mereka, dalam posisi saling memeluk. Junsu tertidur diatas tubuh suaminya yang mendekapnya dengan erat, dan dibalas sama eratnya oleh Junsu. Kegiatan mereka semalam cukup menguras tenaga sehingga mereka tertidur lebih lama dari biasanya. Tapi toh tak apa, hari Minggu.

Junsu mengerang ketika sinar matahari mulai mengganggunya. Tubuhnya beranjak bangun, kemudian yeoja itu mengucek matanya sendiri dan menguap lebar. Kemudian mengguncang pelan tubuh suaminya yang masih dengan pulas tertidur. Tangan Junsu bergerak membelai rambut Yoochun ketika suaminya itu tidak bangun juga.

"Chunnie-yaaa~" Junsu menyibakkan poni suaminya, kemudian mengecup keningnya. "Irreona, ini sudah jam 7. Kita akan menemui umma kan hari ini?"

"Ngg~" Yoochun mengerang pelan menjawab Junsu yang sudah menyambar handuk, kemudian masuk ke kamar mandi. Yoochun membuka matanya, kemudian menatap sekeliling. Kamarnya kosong. Pintu kamar mandi tertutup. Ah, Yoochun tiba-tiba jadi berniat iseng pagi-pagi.

Yoochun mengendap-endap berjalan kearah kamar mandi, kemudian baru saja hendak membukanya ketika tiba-tiba perutnya terasa mual dan ada sesuatu yang naik ke kerongkongannya. Niat Yoochun yang sebenarnya ingin membuka pintu kamar mandi itu pelan-pelan malah jadi kacau. Yoochun langsung mendobrak pintu kamar mandi—yang menyebabkan Junsu menjerit keras—kemudian langsung menerjang kloset dan memuntahkan seluruh isi lambungnya.

"Oppa!" Junsu yang terlanjur panik langsung menghampiri Yoochun tanpa mengenakan apapun. Yah, namanya juga masih di kamar mandi. ( ._.) Tangan Junsu memijat lembut tengkuk Yoochun, yang malah membuat Yoochun muntah lebih deras(?).

"Huekk! Huekkk!" Yoochun memegangi perutnya sendiri. Muntah di pagi hari menyebabkan seluruh makan malamnya keluar, dan itu membuatnya lapar. Ketika Yoochun selesai dengan muntahnya, pria itu dengan cepat menekan tombol flush toilet, kemudian menghampiri Junsu yang sedang mengenakan bathrobe-nya untuk mencegah Yoochun berbuat macam-macam.

"Yeobo-ah," Yoochun memeluk pinggang Junsu dari belakang, dan mencium tengkuknya. Junsu mengelus rambut Yoochun.

"Ya, oppa?"

Yoochun masih belum berhenti menciumi tengkuk istrinya. "Aku ingin es krim rasa pisang~"

"Rasa pisang?" Junsu kaget, langsung membalik tubuhnya sehingga kini ia berhadapan dengan suaminya. "Tapi kau kan lagi sakit, oppa. Mana boleh makan es krim?"

Yoochun manyun, "Aku pokoknya mau es krim pisang~ Bisa kau buatkan untukku?"

"Tapi kan aku tidak bisa bikin es—"

Kalimat Junsu terhenti begitu melihat puppy eyes yang dilancarkan suaminya. Jelek sebenarnya, tapi toh Yoochun sudah mencoba menggunakan puppy eyes-nya. Junsu menghela nafas panjang, lalu mengangguk.

"Oke, aku akan bikinkan es krim pisang,"

"Yeahh!" Yoochun memeluk Junsu erat-erat, membuat Junsu seolah tenggelam dalam pelukan Yoochun. "Yeobo-baby memang yang paling baik! I love you, baby Su!"

"Nado saranghae, oppa," balas Junsu sambil tersenyum.

"Baby-ah,"

"Ne?"

"Pagi ini aku mau sarapan roti isi kimchi dong..."

.

Umma Kim terlihat tengah membolak-balik buku menu ketika Yoochun dan Junsu masuk ke restoran kecil tempat mereka berjanji untuk bertemu. Mata wanita itu menatap tajam pada putri dan suaminya begitu pasangan itu duduk didepannya.

"Annyeong, umma," sapa Junsu dengan nada ceria yang sedikit dipaksakan. "Ada apa umma memanggil kami kemari?"

Umma Kim belum menjawab. Wanita itu memanggil pelayan, lalu memesan bulgogi, kimchi dan teh. Setelah selesai dengan kegiatannya, wanita itu kembali berhadapan dengan YooSu, dan meletakkan tangannya di meja.

"Bagaimana hasilnya?"

Jantung Junsu nyaris copot begitu mendengar pertanyaan umma-nya. Ia tahu apa yang akan umma-nya tanyakan. Junsu menelan ludahnya dengan gugup sebelum menjawab.

"A-aku belum mengetesnya, umma,"

Umma Kim berdecak. "Mau sampai kapan kau seperti ini, eoh? Kami sangat menunggu sementara kau masih saja bermain-main. Tidakkah kau—"

"Cukup, eomonim. Kami akan mengetesnya siang ini juga. Kau puas?"

Gigi umma Kim bergeletuk(?) mendengar jawaban yang menurutnya cukup kurang ajar dari menantunya. Ditudingnya hidung Yoochun, "Jangan ikut campur urusan kami, Park Yoochun."

Yoochun sedikit gentar. Bagaimanapun, yang dihadapinya sekarang adalah ibu mertuanya. Salah-salah, dia bisa disuruh bercerai. Andwae!

"Jeosonghamnida, eomonim," Yoochun menundukkan kepalanya, berusaha mengalah padahal dalam hatinya ingin sekali melawan. Diam-diam matanya melirik kearah Junsu yang juga sedang menundukkan kepalanya dan menggigit bibir bawahnya.

"Sampai kapan kalian mau bermain-main terus eoh?" suara pelan namun menusuk dari Umma Kim menohok hati Junsu. Yeoja itu meremas rok yang dikenakannya dengan takut sementara umma-nya masih berbicara.

"Kau bahkan sudah kuberi waktu selama satu bulan! Apa itu kurang, eoh?"

"Tentu saja kurang," jawab Yoochun santai, membuat pandangan umma Kim tertuju padanya. "Eomonim kira bikin anak itu gampang?"

"Tentu saja!" jawab umma Kim dengan nada menantang. "Kalian tinggal berhubungan seks sebanyak-banyaknya—"

"Tapi dengan kondisi Junsu seperti ini?" Yoochun merangkul Junsu. "Tentu saja sulit, belum lagi kemungkinan-kemungkinan yang sudah diutarakan dokter kami kalau Junsu hamil. Itu sulit, eomonim."

Umma Kim terdiam.

"Sudahlah, eomonim diam saja dan tidak usah ikut campur. Seharusnya aku yang bilang begitu pada eomonim tadi," komentar Yoochun santai sambil menarik Junsu berdiri. "Masalah anak, nanti kalau Junsu sudah 'isi' pasti eomonim kuberi tahu kok,"

Dan YooSu berjalan kearah pintu keluar restoran, meninggalkan umma Kim yang melongo dan pesanannya baru saja datang.

.

"Oppa," panggil Junsu sambil menyandarkan kepalanya ke jok mobil. "Seharusnya kau tidak bilang begitu tadi,"

"Hm?" Yoochun masih fokus menyetir. "Tapi eomonim sudah keterlaluan, Su. Aku tidak mau kau ditekan olehnya walaupun dia itu ibumu sendiri."

"Tapi tetap saja oppa," rengek Junsu. "Kalau umma lapor ke appa dan kita disuruh cerai gimana?"

"Kita kabur saja ke luar negeri," jawab Yoochun sambil terkekeh pelan. "Aku tidak peduli kemana, pokoknya bisa bersamamu."

Junsu tergelak sedikit, "You're such a sweet-talker," protes Junsu, tapi tak urung wajahnya memerah. Yoochun menghentikan sebentar mobilnya ke tepi jalan, dan mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Tapi, baru saja bibir Yoochun hendak menyentuh bibir istrinya, pria itu tiba-tiba melotot dan menutup mulutnya rapat-rapat dengan tangan, menyebabkan Junsu jadi bingung.

"Yeobo, gwaenchana?"

"Aku..aku—mmph!" Yoochun menutup matanya, membuka pintu mobil secepat mungkin, kemudian berlari ke bawah sebuah pohon dan muntah disana. Junsu yang khawatir ikut keluar, memijit-mijit tengkuk suaminya.

"Oppa, kita ke dokter saja ya?" bujuk Junsu tapi dibalas dengan gelengan kepala Yoochun. Pria itu mengelap bibirnya yang kotor kemudian meraih botol minum yang disodorkan Junsu.

"Tidak perlu, Su. Aku tidak apa-apa," kata Yoochun, berusaha terdengar meyakinkan. Tapi jelas saja Junsu tidak percaya. Junsu memapah Yoochun ke mobil, meletakkan Yoochun di kursi penumpang, sementara ia sendiri langsung masuk ke bagian pengemudi.

"Su? Kok kau yang nyetir? Kan aku masih—"

"Sudah, diam!" kata Junsu sambil menyalakan mesin dan menginjak pedal gas, "Kalau oppa yang nyetir malah jadinya tidak ke rumah sakit. Kita ke rumah sakit sekarang. Sudah beberapa minggu ini oppa muntah-muntah terus."

Mendengar istrinya mendoktrin dengan cara yang lucu, serta melihat ekspresi istrinya ketika menyetir, Yoochun tertawa terbahak-bahak. Membuat Junsu yang disebelahnya menjadi tidak nyaman karena merasa ditertawakan.

"Oppa," Junsu menoleh kearah Yoochun, "Perlukah aku membawamu ke bagian kesehatan jiwa juga?"

"Hahaha.. Tidak perlu, baby. Keep driving."

Dan Junsu-pun melanjutkan acara mengemudinya ke rumah sakit dengan ekspresi bingung terpasang di wajahnya.

.

"Tidak ada yang salah dengan Park Yoochun-ssi," komentar Shin Hyesung—dokter yang memeriksa Yoochun—sambil melihat-lihat hasil laporan kesehatan Yoochun yang baru saja keluar dari laboratorium. Dokter itu meletakkan kacamatanya diatas meja, kemudian duduk di hadapan YooSu yang memandang dokter itu dengan pandangan tak percaya.

"Dia...sehat?" Junsu melongo sambil menunjuk suaminya sendiri. Hyesung mengangguk.

"Benar sekali, Mrs. Park. Suamimu luar biasa sehat. Tidak ada yang salah dengan tubuhnya. Tekanan darahnya, kolesterolnya, kandungan gula dalam darahnya, semuanya normal. Ia termasuk orang yang menjaga gaya hidupnya."

Sementara Junsu hanya bisa melirik bingung pada Yoochun yang senyum-senyum karena dipuji oleh Hyesung.

"Saya sarankan untuk pergi ke bagian kejiwaan saja karena biasanya seseorang bisa merasa sakit tanpa sebab karena stress."

"Heo? Bagian kejiwaan?" Junsu kembali melongo, "Baiklah kalau begitu. Terima kasih banyak, Dokter Shin."

.

"Sekarang, tarik nafas yang panjang, Mr. Park," pinta Yoon Bora, psikolog yang kini membawa sekumpulan kertas di tangannya, sementara Yoochun berbaring di ranjang di depannya. Psikolog muda itu masih mengamati Yoochun yang tampak tertidur, namun sebenarnya tidak. Sesaat lalu, Bora meminta Yoochun menceritakan masalahnya. Dengan jaminan hanya mereka yang tahu. Kini hanya ada mereka berdua dalam ruangan. Junsu setuju untuk menunggu sebentar di luar.

"Yoochun-ssi, coba ceritakan hal yang mengganggu pikiranmu belakangan ini," pinta Bora dengan sopan karena ia tahu Yoochun lebih tua darinya. Yoochun menghela nafas panjang, kemudian mencoba merileks-kan pikirannya seperti yang diperintahkan Bora.

"Aku...melihat...mertuaku," ucap Yoochun lirih, masih dengan mata terpejam. "Kami bertengkar—bukan bertengkar sih, berdebat saja. Hanya saja...masalahnya tidak sesimpel itu."

Bora mencondongkan tubuhnya sedikit untuk meneliti ekspresi Yoochun. Maklum saja, ia baru saja lulus sehingga masih membutuhkan banyak ketelitian dan pengalaman tentu saja. Sesekali dicatatnya perubahan ekspresi Yoochun seiring Yoochun menceritakan masalahnya.

Bora mengangguk-angguk mengerti. Yoochun mulai memainkan tali sepatunya sendiri karena bosan menunggu Bora yang menulis. Tentu saja, karena masih pemula, gadis itu belum menulis selihai psikolog lainnya. Yoochun masih saja memainkan tali sepatunya tanpa tahu bahwa tali sepatunya sudah terlepas sejak tadi."

"Park Yoochun-ssi," panggil Bora sambil menyodorkan selembar kertas pada Yoochun. "Silakan mencairkan resep yang saya berikan ini di apotek. Mungkin obat ini bisa membantu."

Yoochun bangkit berdiri kemudian mengambil resepnya dan membungkuk pada Bora. "Terima kasih banyak Bora-ssi," kata Yoochun, tapi tiba-tiba pandangan Yoochun yang awalnya tertuju pada mata Bora mengarah pada bagian tubuh yang lain.

"Bora-ssi," panggil Yoochun lirih, "Dadamu besar juga ya."

Wajah Bora sontak memerah begitu digoda oleh Yoochun. Gadis itu hanya menundukkan kepalanya, kemudian menunjuk kearah pintu.

"Maaf Yoochun-ssi, tolong keluar sekarang juga."

Yoochun terkekeh seraya mulai berjalan, "Hey, aku seorang pria. Normal kan kalau aku kadang berkomentar seperti it—HUOO!"

PLOK.

"AAAAAAAAAAH!"

BRAK!

Dokbrakan dari pintu langsung terdengar selang beberapa detik setelah jeritan Bora terdengar. Ternyata saat mulai berjalan rupanya Yoochun tersandung tali sepatunya sendiri dan sialnya—atau malah beruntung?—wajah Yoochun terjatuh(?) tepat di dada Bora. -_-

"Bora-ssi! Anda tidak apa-ap—YAK! PARK YOOCHUN! PULANG KAU SEKARANG!" Junsu yang tadinya khawatir langsung berubah meledak. Ditariknya wajah Yoochun cepat-cepat dari Bora yang nampak ketakutan. Terbukti setelah Yoochun diseret pergi, gadis itu terduduk shock dan menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya. Tidak berapa lama kemudian, Junsu masuk ke ruang praktek Bora sendirian. Tanpa Yoochun.

"Bora-ssi, aku benar-benar minta maaf," Junsu membungkuk berulang kali. Sementara Bora menggelengkan kepalanya dengan sungkan.

"Ti..tidak apa-apa, Junsu-ssi. A...aku percaya ini hanya kecelakaan,"

"Tapi ini benar-benar memalukan!" Junsu mengerang dengan wajah memerah. "Oh, aku benar-benar minta maaf, Bora-ssi!" Junsu masih terus membungkuk dan Bora sibuk menenangkan Junsu. Sementara Yoochun terduduk di sofa kecil di luar ruangan dengan dahi dihiasi benjol besar hasil jitakan Junsu.

.

Junsu tengah menggandeng—lebih tepatnya menyeret—Yoochun menuju apotek untuk menukarkan resep obat yang diberikan Bora ketika dilihatnya Jung Yunho tengah berjalan-jalan di taman sambil makan sandwich. Sepertinya sedang menikmati makan siang.

Yoochun menunggu Junsu selesai menukarkan obatnya, kemudian menggandeng tangan istrinya dengan mesra.

"Yeobo-ah, coba lihat kesana," Yoochun menunjuk kearah Yunho yang kini sedang duduk di salah satu bangku taman sambil makan sandwich. Junsu mengikuti arah jari Yoochun dan berkedip.

"Bukankah itu dokter yang menanganiku dulu?"

"Ne," angguk Yoochun. "Dan dokter itu juga yang sudah memberikan sari buah pir itu untuk kita minum setiap hari," tambahnya cepat, tak ingin membuat Junsu mengingat kenangan mengerikan(?) bersama Yunho sewaktu dokter itu memvonisnya.

Mata Junsu membulat excited. "Jinjjaro?" pandangan Junsu berubah semangat. "Kalau begitu ayo kita kesana! Aku harus mengucapkan terima kasih!"

Pasangan YooSu dengan cepat menghampiri Yunho yang sedang memulai bungkus kedua sandwich-nya. Dokter muda itu menelan makanannya kemudian tersenyum kearah YooSu. "Annyeong," sapa Yunho ramah.

"Annyeong!" balas Junsu sambil melambaikan tangannya. Yoochun mengikuti di belakang Junsu sambil mengangguk sopan kearah Yunho.

"Apa yang kalian lakukan disini? Siapa yang sakit?"

"Yoochun," jawab Junsu cepat sambil duduk disebelah Yunho. "Dia terus muntah-muntah belakangan ini. Tapi ternyata sewaktu diperiksa, dia malah tidak kenapa-kenapa." Junsu bercerita sementara Yunho mendengarkan. Sedikit membuat Yoochun merasa cemburu karena istrinya sibuk dengan Yunho.

Yunho mengangguk. "Sudah berapa lama dia seperti itu?"

Junsu berpikir sejenak. "Sekitar...sebulan lalu."

"Sebulan?" tanya Yunho bingung, kemudian berpikir agak lama sebelum akhirnya menyeret Junsu.

"Y-yah, oppa!" kaget Junsu ketika tangannya ditarik tiba-tiba. "Kita mau kemana?"

"Ke ruangan praktekku! Kita harus memastikan sesuatu!" kata Yunho, berlari lebih cepat sementara Yoochun yang tertinggal sibuk mengejar istrinya yang 'dibawa kabur' oleh Yunho.

"Hey! Kembalikan istriku!"

.

.

=TBC=


.

Oke saya tahu ini update-nya lama ( ._.) maaf ya, saya kena WB sih ._. dan juga, makan saya ga karu-karuan sejak saya libur jadi juga lg berusaha diet. Hehehe.

Btw, karena update-nya lama, chapter ini saya kasih agak panjang (tapi tetep ngegantung sih ._.) Please bear with me ya ;_; ntar habis chapter ini diusahain updatenya ga lama lama lagi kok ._.v

Dan maafkan saya karena udah ngebuat Chun jadi terkesan "nakal" banget! _ pake nyungsep ke dadanya Bora pula, enak di dia tuh :/

Oh iya, saya udah baca review-reviewnya :D maaf ga bisa bales satu satu, kebanyakan soalnya ;_; tapi saya suka sm reviewnya muah muah :* makasih banyak lho readers ^^ this fanfic is nothing without you, the active readers :3

So...mind to review? ^^