Note : Chapter ini akan menjelaskan mengapa Sakura memanggil Hinata dengan Bella, tidak ada hubungan sama sekali dengan Bella di Twilight.

...

Obrolan panjang antara Hanabi dengan Fard membuatku menjadi kesal karena mereka selalu saja diselingi dengan ciuman dan juga gerutuan Hanabi kepadaku dengan sinisnya. Aku menghentikan laju mobilku di sebuah mini market yang sepertinya menyediakan beberapa bahan masakan untuk ku masak malam ini.

"Hei, kenapa berhenti?" tanya Hanabi kesal.

"Aku mau membeli bahan makanan tahu," aku keluar dari mobil dengan dengusan dan kekesalan yang memuncak karena ulah adikku.

Tentu saja mini market itu tidak sebesar mini market yang berada di Arizona, selain itu ditempat ini bisa dibilang cukup walaupun di Arizona lebih lengkap daripada bahan-bahan yang ada dan untung saja bahan-bahan pembuatan muffin ada di mini market itu. Aku mengambil dada ayam dan beberapa bumbu lalu menjalankan troliku ke arah mesin kasir yang untung saja antriannya tidak terlalu panjang, seorang wanita dengan anaknya maju setelah pria berkulit hitam selesai dengan belanjanya dan aku akan membayar barangku ketika wanita itu telah selesai dengan barang-barangnya yang banyak. Wanita itu menyelesaikan administrasinya dengan sebuah botol wine yang telah dimasukkan ke barang-barang belanjaannya. Aku menyerahkan barang bawaanku kepada sang kasir dan menghitungnya dengan cepat serta memasukinya ke tas supermarket tersebut.

"Dua ratus dolar," ucap kasir tersebut dengan tersenyum. Walaupun jauh dari Amerika Serikat, mata uang negara ini menggunakan dolar Amerika Serikat yang tentunya sangat memudahkanku yang membawa dolar Amerika Serikat di dalam tasku dan tabunganku.

"Terima kasih miss," kata kasir itu dengan tetap memasang senyuman ketika aku mengangsurkan uang beberapa dolar ke atas meja kasir yang langsung di sambut sang kasir.

Aku membawanya dan menaruhnya di samping kemudiku dengan tatapan dan kernyitan dari Hanabi yang sungguh sangat mengesalkan membuatku memacu mobilku seratus dua puluh kilometer per jam dan berhasil menghasilkan ekspresi ngeri dari wajah Hanabi yang membuatku sedikit tersenyum pshyco sebelum ku memelankan laju mobilku ke angka tujuh puluh kilometer per jam sebelum berhenti tepat di depan rumah yang telah ditunggu oleh mobil polisi ayahku.

"Kau gila," gerutu Hanabi sebelum dia membantingkan pintu mobilku.

"Hei," protesku. Aku membawa barang bawaanku ke dalam rumah yang tentunya dipenuhi oleh sorakkan dari penggemar bola yang super dungu dan bodoh yaitu ayahku dan Haku serta Fard yang menunduk lesu walaupun dia sendiri baru datang tadi.

Aku merebus dada ayam yang ku beli dan mencincang-cincang salad sebelum ku masukkan dan diberikan minyak zaitun untuk sausnya dan tentu saja beberapa spagheti dengan udang yang tadi ku beli dengan merebusnya. Beberapa menit kemudian makanan telah tersaji dengan sedikit berantakan di meja makan walaupun telah ku tata tetap saja aku memakan saladku sendirian karena para penggemar bola sedang semangat-semangatnya mendukung ke dua tim yang untuk melakukan gol dan aku sendiri makan dan minum serta pergi tanpa ketahuan sama sekali dari mereka padahal televisi berada diruangan samping tangga tersendiri yang malah membuatku bersyukur untuk itu.

...

.

.

.

.

.

.

.

Title: My Boyfriend Vampire

Rating : T

Pair : NaruHina and KibaHina

Disclaimer :

Naruto belong to Masashi Kishimoto

My Boyfriend Vampire belong to Nauri Minna –Uchisaso AF KSS

Genre : Romance/Crime

Warning : OOC mungkin, Oc sedikit, Miss Typo mungkin.

Don't Like Don't Read

Selamat Membaca.

.

.

.

.

.

.

.

.

...

Mobil

...

Kau tidak akan bisa tisur nyenyak jika saja es-es kecil tidak menghantam kaca-kacamu dengan keras dan membuat kau menggigil bahkan dengan lima selimut tebal yang menyelimutimu dengan berat badan enam puluh lima kilo dan tinggi badan seratus delapan puluh kau akan tampak sangat kurus dan ceking serta merta suhu itu akan menjilat dirimu dengan senyuman yang mengerikan jika hawa dingin itu berbentuk sebagai mahluk hidup dan sepertiku aku bangun dipagi hari jam tiga yang bahkan kalelawar –kalau ada di Konoha– belum pulang dari pencarian makannya. Aku terbangun dengan kepala yang pusing ditemani kaset dvd film 'Actually' tentang seorang anak remaja perempuan bernama Bella yang memiliki rambut panjang indigo sama sepertiku mengalami beberapa masalah dengan banyak pria, sungguh film yang membuat air mata Sakura dan Ino meleleh ketika kami menontonnya kemarin dulu di hari ketika mengerjakan tugas yang tentunya hanya dihabiskan dengan menonton film 'Actually' dan tugas itu di serahkan kepadaku untuk menyelasaikan film itu serta aku harus sabar karena Sakura akan menyebut diriku dengan nama Bella karena wajah tokoh tersebut mirip denganku walaupun matanya dan kulitnya sama sekali tidak mirip.

Hari itu sungguh dingin membuatku menggunakan air panas untuk mandi yang tetap saja tidak menghilangkan suhu tubuhku yang tetap dingin dan menggigil. Karena hari itu dingin aku memakai pakaian musim dinginku ketika di Finlandia dahulu walaupun agak kesempitan dengan tubuhku yang sekarang ini, tubuhku cukup hangat untuk saat ini dan sebuah Mp3 yang memakai seperti sebuah earphone mengalun suara adele dengan lagunya yang indah selama aku memasak muffin yang kemarin telah ku siapkan bahan-bahannya. Muffin itu telah mengepul menggoda untuk dimakan, untung saja aku mengingatkan diriku untuk menahan memakan kue buatanku itu dan menyisihkan untuk sarapan mereka yang sekarang tidak ku buatkan sereal seperti biasanya, dengan enggan aku memasuki garasi dan menggantikan ban-ban mobilku agar dapat berjalan di atas jalan yang licin terkena badai hujan es, lagu one more night Maroon 5 mengiringiku disaat aku menggantikan ban dari Mp3. Terdengar suara gaduh disaat aku telah selesai menggantikan ban mobilku dari arah dapur yang tentu saja aku tahu siapa yang membuat gaduh selain orang-orang kelaparan dengan mencium aroma muffin itu.

"Hai dad," sapaku pada Hiashi yang telah berseragam lengkap tersebut.

"Hai Hinata," sapa Hiashi terkejut. "Kau bangun terlalu cepat Hinata."

"Hm yeah, mungkin sedikit terlalu cepat," ucapku menggaruk sedikit kepalaku.

"Jadi kau membuat muffin ini, ini sungguh luar biasa," Hiashi memuji masakanku dengan kembali memakan muffin itu.

"Dad," mulaiku.

"Ya," ucap Hiashi memandangku.

"Ka-karena aku mengganti banku dengan uang sakuku jadi," ujarku sedikit ngeri membayangkan kosongnya dompetku.

"Oke, ini," Hiashi memberiku beberapa lembar uang seherga empat ban.

"Terima kasih dad," aku membungkuk kemudian duduk untuk menonton televisi menunggu waktu masuk sekolah dua jam lagi.

Chanel televisi menampilkan pembahasan seorang ahli kesehatan mengenai hal yang membosankan mengenai persendian dan tulang punggung selama hampir satu setengah jam membuatku hampir mengantuk karenanya jika saja tidak ditemani dengan muffin buatanku. Hiashi dan Haku telah pergi lima menit yang lalu dan aku sedang menunggu dua pasangan yang sangat memuakan itu jika mereka tidak keluar dalam lima menit aku akan menggeram dan mengobrak-abrik seisi rumah seperti di salah satu film yang telah aku lupakan judul dari film itu karena sudah hampir empat tahun yang lalu aku menonton film tersebut.

"Jika dalam waktu lima menit kalian tidak keluar," peringatku. "Aku akan memastikan ini hari terakhir kalian," teriakku. Dan teriakan tersebut terbukti manjur karena mereka berdua langsung keluar dengan pakaian dan tas yang lengkap.

"Baiklah silahkan masuk ke mobil, dan tidak ada keluhan," aku meniru Mr. Umino dalam menangani keluhan di kelas bahasa Spanyol kemarin.

"Lalu kau?" tanya Hanabi ketus.

"Aku akan mengambil bekalku," jawabku tak kalah ketusnya.

"Untuk apa?" tanya Hanabi penasaran.

"Piknik," jawabku ketus. "Ya untuk di makanlah," aku berlalu dan mengambil bekalku yang penuh muffin.

"Ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan," ucapku sebelum memacu mobilku dengan cepat.

"Kau gila," keluh Hanabi yang membuatku tertawa.

"Ini kau sebut gila, yang gila itu seperti remaja arab yang membawa mobilnya dengan miring dan bertumpu di dua roda, itu baru gila," ucapku sambil terkekeh geli.

Hanabi hanya dapat bergumam tanpa suara memakiku.

"Tidak usah memakiku Hanabi, ini bagus tahu untuk meningkatkan adrenalinmu," kataku menerawang ke peristiwa lima tahun yang lalu bersama dengan sepupu James di Bulgaria karena dia menertawakanku karena ketakutan setengah mati karena dia mengemudikannya dengan gaya yang sangat menakjubkan.

Aku menghentikan mobilku dengan anggun di halaman sekolah Hanabi yang langsung ditatap oleh murid-murid di sana dengan bingung dan pandangan yang mengerikan yang dapat membuatku tertawa jika saja aku ingat dimana aku berada.

"Sampai jumpa," salam Hanabi dengan wajah masam dan menutup pintu dengan kebiasaannya seperti yang kemarin dengan sedikit pelan.

Aku tertawa lebar sepanjang perjalanan jika mengingat macam-macam wajah dari Hanabi. Mobil ku masukkan ke parkir di seberang dua mobil keluarga Uzumaki yang penuh dengan obrolan mereka mengenai kepergian ke Kebun Botani.

"Kau gila," sungut Fard sebelum menutup pintu mobilku.

"Dasar," rutukku. Aku memasang Mp3 ku yang memutarkan lagu rap yang menghentakkan ditelingaku dengan nadanya tersendiri. Aku mematikan mobilku dan keluar dari mobilku.

Suara ban mobil beradu di jalan mengagetkanku dan datang lagi suara yang sama dari tempat lainnya, ke dua suara ban itu mengarah kepadaku seperti gerakkan slow motion yang biasanya terdapat di film-film laga membuat adrenalinku menjadi naik serta panas tubuhku yang menjadi panas seperti kemarin tetapi bedanya ini bukan rasa kemarahan tetapi rasa menghadapi dan sekejap angin datang berada di sampingku Naruto yang sama denganku akan menghentikan ke dua mobil itu yang sedang berlari dan segera menghantamku.

'Druakh,' suara dari ke dua tumbukkan yang keras mengenai baja mobil itu keluar dari tanganku dan tangan Naruto yang membuatku terkejut karena tangan Naruto persis menempel ke pintu mobil itu seperti cetakan yang sama serta tanganku yang menghantam pintu mobil ke dua membuat Naruto terkejut dan kemudian menarikku dari tempat itu jatuh ke samping mobil berwarna biru, orang-orang pada berlarian dan Naruto telah menghilang diiringi tatapan protes dari saudara-saudarinya karena sikapnya walaupun tampak pada mimik wajah mereka terkejut karena itu.

"Kau baik-baik saja Bella," ucap Sakura panik.

"Oh Sakura jangan sebut aku dengan tokoh Maria Bella di film 'Actually' oke," seruku kesal.

"Maaf Hinata, kau tidak apa-apa, ambulance akan datang ke sini lima menit lagi."

"Aku tidak apa-apa dan yang perlu diperhatikan itu adalah pengemudi van itu dan suv biru itu," kataku dengan nada heran.

"Terus bagaimana kau bia selamat dari dua mobil itu?" tanya Sakura heran.

"Kau tidak mengharapkanku hidup," jawabku kesal.

"Ti-tidak Hinata bukan itu maksudku, tapi kau kan sendirian di dekat pintumu itu dan kemudian kau berpindah ke sini dengan cepat," ucap Sakura menghentakkan ku.

"Tidak, aku bersama Naruto tadi," kataku menginginkanya percaya.

"Hei ada satu disini," teriak Sakura kepada petugas medis.

Dua orang berpakaian putih dengan masker berwarna putih juga menhampiriku yang masih menatap ke sekelilingku dengan heran, kemudian aku meronta kepada petugas medis.

"Ada seorang lagi yang menolongku namanya Naruto dia disana," tunjukku. Petugas medis itu menghampiri dan berkata padanya agar mengikuti mereka untuk di periksa, setidaknya aku tahu bahwa aku tidak gila karena dia mengikuti saran petugas medis itu dan dia harus merasakannya bergalut dalam pikiranku.

"Terima kasih Hinata," ujar Sakura yang mendampingiku di dalam ambulance.

"Untuk apa?" kernyitku.

"Kita tidak jadi ke Kebun Botani men," seru Sakura dengan senyuman bahagianya.

"Kenapa kau tersenyum Sakura?" tanyaku heran.

"Oh Hinata, kau tahu. Kebun Botani itu adalah tempat menjengkelkan yang penuh dengan cacing dan kompos yang sungguh sangat menjijikan tahu," jawab Sakura melihatku tidak percaya.

"Dasar kau ini," senggolku pada Sakura.

"Kan memang betul sih, apa lagi bau kompos, iuh," jijik Sakura membayangkan.

"Kau mau," ucapku membuka tasku dan membuka kotak bekalku dan memberikan muffinku.

"Wow, muffin. Sudah lama aku tidak makan muffin, terakhir ku makan waktu aku berkunjung ke tempat nenekku di Ohio dia milik toko roti disana," cerita Sakura padaku mengambil muffin dari tanganku.

"Syukurlah kau suka," sebenarnya roti itu akan ku makan selama perjalanan ke Kebun Botani.

"Kenapa kau tidak mau ku panggil Bella, Bellakan bagus?" tanya Sakura heran.

"Maria Bella, tidak. Tokoh itu pshyco kau tahu, bahkan dia tega membunuh Daniel yang tampan itu di bagian pantai itu. Memang Daniel adalah calon ayah tiri paling egois yang pernah ku kenal tapi ibunya juga membunuh ayahnya bukan," cercaku memikirkan setiap alur dari film action 'Actually'.

"Aduh Hinata, kau terlalu sekali sih. Diakan bagus juga sih, Bella itu membunuh Daniel kan karena Daniel mau membunuh ibunya, kau tonton sampai akhir tidak sih," gerutu Sakura.

"Tidak, kalian selalu ribut mengenai ciuman Bella dan Andrew di pertengahan ceritanya," ucapku.

"Benarkah?" tanya Sakura.

"Tentu saja, kalian tidak membantuku mengenai pemerintahan yang sangat menyebalkan itu," jawabku.

"Ma-maaf deh," kata Sakura tidak enak.

"Oke ladies, bisakah kalian diam," interupsi petugas medis wanita itu menatap bosan.

"Sudah sampai Rin?" tanya Sakura pada petugas medis wanita tersebut.

"Dari tadi tahu, kalian terlalu asyik mengobrol," jawab Rin menggerutu.

Rin merangkulku dan berjalan memasuki rumah sakit kecil di bandingkan rumah sakit di Raleigh. Warna putih mendominasi ruangan itu, ruangan besar melompong yang di isi beberapa tempat tidur dan tirai putih menjadi penghalang di setiap tempat tidurnya.

"Kau tunggu disini oke, dokter Minato akan memeriksamu lima menit lagi," perintah Rin lalu pergi meninggalkanku di samping Rock Lee yang berdarah di keningnya dan juga seorang pria dengan rambut cepak yang tidak ku kenal yang ku yakin pemilik suv berwarna biru dan mempunai luka yang kebih parah daripada Rock Lee.

Seorang pria berusia sekitar dua puluh lima memasuki ruangan itu dengan senyumannya yang menawan, dia berambut pirang dengan mata kuning yang terang berjalan ke arahku dengan tersenyum.

"Halo Miss Hyuuga, bagaimana keadaanmu?" tanya dokter Minato kepadaku.

"Hinata," teriak Hiashi memasuki ruangan itu membuatku malu.

"Bagaimana kabarnya dokter Minato?" tanya Hiashi khawatir kepada dokter Minato.

"Tenang dulu hiashi, aku akan memeriksanya," jawab dokter Minato menenangkan.

Kemudian dia mulai memeriksaku dengan keseluruhan, mulai dari mataku, mulutku hingga merontgen tubuhku secara keseluruhan.

"Kau baik-baik saja," ucap dokter Minato.

"Bagaimana keadaan Naruto?" tanyaku sedikit khawatir.

"Dia cukup bagus," senyum dokter Uzumaki. "Mh, Hiashi dia cukup oke," ucapnya pada ayahku yang tampak akan menjerit dengan wajahnya itu.

"Syukurlah," peluk Hiashi padaku.

"Dad, aku harus kembali bersekolah dad," ucapku dipelukkannya.

"Sebenarnya Hinata, kau tidak perlu kembali bersekolah," kata Hiashi melepaskan pelukannya.

"Kenapa?" tanyaku heran.

"Kau lihat saja di koridor," jawab Hiashi sambil menatap pintu.

"Baiklah," aku melangkahkan kakiku mengarah ke pintu dan ketikaku membuka pintu pemandangan yang sangat mengerikan menantiku hampir semua orang di sekolah berdatangan di koridor dan itu membuatku kesal, suhu tubuhku meningkat bersamaan ke kesalan yang merambat dihatiku semuanya kemarah berada pada titik yang sama dengan suhu tubuhku, menaik dan terus menaik ingin dikeluarkan tetapi semua itu perlahahn-lahan ditekan dengan keras dari semua aliran padaku.

"Auch," sebuah suara kecil mengaduh keluar membuat Hiashi sedikit terkejut walaupun tidak ada kekhawatiran tampak diwajahnya.

Diseluruh tubuhku mengalir dengan sedikit deras keringat dari tubuhku seperti habis lari marathon dan memainkan skeatboard selama berjam-jam seperti biasa yang dia lakukan di Arizona namun tiga kali di porsir lebih daripada yang biasanya membuat seluruh pakaian yang ku pakai basah kuyup seperti kehujanan.

"Kau baik Hinata?" tanya Hiashi memastikan.

"Yeah," aku menjawab dan kemudian menutup pintu pergi dari koridor tanpa memerhatikan wajah-wajah tertarik dan ingin bertanya kepadanya.

Aku berjalan dengan cepat menyisiri lorong rumah sakit tersebut yang ternyata jauh lebih besar dari dugaanku sebelumnya. Bisik-bisikan seperti nyanyian yang memberitahuku bahwa yang ku cari ada di sana dan aku mendekat berjalan dengan pelan agar tidak dapat menarik perhatian.

"...itu berbahaya," ucap suara yang ku kenali sebagai suara Tayuya.

"Dia benar Naruto, itu membahayakan," suara Karin membenarkan perkataan Tayuya.

"Jangan begitu dengan saudara kalian, lebih baik kita berikan dia privasi dengan Hinata, Hinata muncul saja," suara dokter Minato meninterupsi ke dua orang yang lainnya keluar dengan dokter Minato.

"Hai, ada apa?" tanya Naruto padaku di sudut ruangan itu.

"Ada yang ingin ku bicarakan padamu," jawabku sedikit dingin dan menekan semua kalimat.

"Apa?" tanyanya singkat.

Aku berdecak kesal karena pertanyaannya itu. "Mengapa kau bisa ada di sampingku sedangkan kau ada di seberang?" tanyaku padanya yang kini berada disampingku.

"Aku memang berada disampingmu Hinata," jawabnya sedikit tidak percaya.

"Kau bohong, aku jelas melihatmu diseberangku," aku tahu dia berbohong padaku. "Lalu kenapa kekuatanmu itu dapat meninju pintu mobil itu?"

"Kekuatan emosional, kau juga bukan." Kernyitnya.

"Sama," ketusku.

"Seharusnya kau mengucapkan terima kasih tahu," kesalnya.

"Terima kasih Mr Uzumaki yang terhormat," sindirku.

"Kau seharusnya tidak terlibat dengan ini," keluhnya.

"Dan aku terlibat sekarang Mr Uzumaki," kataku berbalik meninggalkannya.

Hiashi tampak menungguku di pintu depan ketika melihatku dia memintaku untuk ikut menggunakan mobil patrolinya sedangkan mobilku akan dikendarai dengan Fard yang akan menjemput Hanabi membuatku sedikit bergidik ngeri karena mereka pasti akan berciuman menjijikan.

"Masak apa malam ini dad?" tanyaku.

"Sepertinya ikan, kau tahu Freg akan membawa ikan goreng kering hasil memancingnya," jawab Hiashi semangat.

"Siapa Freg?" tanyaku pada Hiashi.

"Kau tidak kenal, dia yang selalu memberimu nasihat bermain yang baik pada kau dan Kiba ketika bermain dulu," jawab Hiashi menatapku tidak percaya.

"Paman gendut itu?" tanyaku lagi yang dijawab Hiashi dengan angukan.

...

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

...

A/N: Kok jadi mirip twilight yeah, gak mirip banget bukan. Oke degh aku kasih sebuah pertanyaan kepada kalian penggemar The Twilight Saga dan yang merhatikan semuanya dengan detail dari awal.

(Hinata itu apa sih bukan siapa loh kalau siapa pasti semuanya bisa jawab Hinata itu adalah manusia tetapi ini apa? Lalu kenapa dia bisa sekuat itu?)

Hayooo para penggemar The Twilight Saga dan juga memerhatikannya silahkan jawab pada kotak review di bawah oke. Mungkin aku akan meminjam beberapa bakat vampir twilight untuk fic ini dan tentu saja teori vampir hibridanya pada sequelnya yep ini ada sequelnya pasti pada teriak senang Iyakan *ditapok sendal. Kalau kenapa aku ngapdet cepat karena sebentar lagi bulan juli yang artinya aku akan bersekolah kembali *nyebelin banget tuh pihak sekolah masa puasa-puasa disuruh sekolah.

Dan satu lagi yang mengatakan kalau ini mirip sama twilight, apa aja kemiripannya dengan novel twilight, bukan filmnya loh tapi novel?

.

Balasan Review:

.

Nararheztycliquers: emh yeah, Sakura manggil Hinata Bella.

.

Tikathequin: yep ini udah lanjut.

.

Ksatriabawangmerah, Chap 3: iya aku cowok, kalau satu suku sepertinya tidak karena ada dua suku disini satu suku quileute dan satu lagi suku minang (si fard ituloh, yang sebenarnya berdasarkan mitos mengenai harimau jadi-jadian yang di chapter ke empat itu) tapi lebih fokusnya ke suku quileute karena ceritanya akan muncul di sequelnya yang sungguh akan sangat jauh banget, gak papa kok mangil km.

.

Ksatriabawangmerah, chap 4: waduh ternyata ada typo juga yah, thanks yeah. Kiba nanti akan di ceritakan di dua chapter lagi.

.

Ksatriabawangmerah, chap 5: tidak di plesetin kok, aku udah tanya sama ibuku ternyata itu Typo, soalnya aku tidak memerhatikan waktu pelajaran Biologi jadi gitu deh. Ada ceritanya di sini. Betul tuh nakal banget sih loh *di deathglare Hanabi.

.

.

.

Rnr please.